Hari yang tidak akan terlupakan (3)

Dulu saya pernah menuliskan sebuah artikel mengenai hari-hari tidak terlupakan dalam hidup saya disini. Yang juga merupakan kelanjutan dari artikel pertama yang bisa kalian dapatkan didalam link tersebut tadi.
Untuk tanggal dari 25 Desember 1980 sampai 7 Mei 2015 bisa kalian baca di link sebelumnya, jadi saya akan melanjutkan tanggalannya dengan tanggal setelah itu 🙂

07 September 2015 – Kami akhirnya berangkat migrasi ke Melbourne.

06 Desember 2015 – Kami, dengan berat hati akhirnya memutuskan jika kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami lebih jauh lagi karena satu dan lain hal. Kami pulang ke Jakarta pada hari ini.

14 Desember 2015 – Saya mulai bekerja di salah satu perusahaan systems integrator terbaik yang pernah saya temui di Jakarta.

15 Oktober 2016 – Saya menerima sakramen Krisma (Penguatan), akhirnya janji yang saya buat saat nikah terpenuhi.

30 Desember 2016 – Saya menerima kontrak kerja dari Melbourne, yeayy… proses mengejar mimpi bisa dilanjutkan lagi.

30 Januari 2017 – Saya pamit kepada team dan semua kawan saya di kantor karena ini adalah hari terakhir saya bekerja di perusahaan hebat ini.

01 February 2017 – Kami berangkat lagi menuju Melbourne 🙂

16 Mei 2017 – Akhirnya saya mendapatkan SIM Australia dan sah bisa mengemudi kendaraan roda empat di Melbourne.

24 Juni 2017 – Di hari ini kami memutuskan untuk melakukan down payment untuk sebidang tanah yang kami inginkan di belahan sebelah barat dari Melbourne.

26 September 2018 – Di hari yang satu ini, akhirnya saya bisa mengenapi salah satu janji yang dulu sempat saya ucapkan pada diri saat melamar istri saya, jika suatu hari saya harus bisa membelikan sebuah cincin tunangan untuk mengganti cincin lamaran yang tidak mampu saya beli saat melamar istri saya.

31 Mei 2019 – Akhirnya setelah penantian panjang, tanah kami titled juga horee…

26 September 2019 – Kami merayakan 10 tahun pernikahan, yeahhh… sudah 10 tahun aja ya… 🙂

23 Oktober 2019 – Rumah kami mulai dibangun, ga sabar pengen cepet-cepet selesai hahaha…

===

Tuhan sungguh baik… kami terutama saya sungguh diberkati oleh-Nya. Memang kejadian di tanggalan yang saya simpen itu ga selalu bagus semua, tapi itulah yang namanya hidup, selalu ada naik dan turun, dan yang paling penting adalah kita mau belajar dari setiap kejadian yang terjadi terlepas dari enak tidak enaknya, maupun bagus tidak bagusnya, karena belajar itu tentang bagaimana kita mengembangkan diri kita, melatih diri kita agar bisa menjadi lebih baik dan saya percaya semua kejadian memiliki artinya sendiri dan bisa membantu kita berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktunya jika kita mau belajar darinya.

Minggu Pertama

1 minggu pun terlewati (dengan cepat) di tempat baru.

Walaupun rada-rada cegukan saat mulai karena laptop belum ada, login belum diminta, kartu akses belum siap apalagi kartu ID, tapi perlahan semua mulai terkendali walaupun masih menggunakan laptop sementara sambil menunggu laptop baru datang, kartu akses dan login setidaknya sudah ada jadi ga bosen-bosen amat lah… bisa browsing dan ubek-ubek dokumen mereka, login ke perangkat-perangkat mereka sambil membuat dahi merengut karena satu sisi saya rada kaget dengan network mereka tapi di sisi lain manggut-manggut juga sambil berkata dalam hati “ga salah juga sih cara deploy nya, tapi…”. Udahlah kalian ga akan nangkep apa maksud saya hahaha….

Suhu di Melbourne masih suka drop ke level dibawah 10 derajat, ya iyalahh… kan masih winter. Dan, minggu ini saya mendapatkan beberapa kabar baik yang menggembirakan, disamping tempat kerja yang bisa dibilang nyaman ternyata kerja di organisasi non-profit memberikan benefit tersendiri yang berhubungan dengan pajak.

Untuk mengusir dingin, seperti biasa tingkah norak saya kambuh, masuk ke toko minuman dan dengan sukses keluar dengan 1 scotch whisky dan 1 whisky ditangan.

Ihh… lu ga takut digosipin umbar-umbar hal beginian jo? Halah… emang klo ga ada jaminan ga digosipin? Sudah kodratnya kalau jadi orang terkenal pasti ada haters nya lah… ups… kita jadi orang apa adanya saja lah, toh hidup juga ga abadi ngapain munafik dan mending minum dirumah daripada diluar kan? ntar ga jelas lagi “botol” nya masuk kemana hahaha…

Dah ah… jadi ngelantur lama-lama, eh… ini pas ngetik belum buka apapun ya, jadi masih lempeng. Selamat menyambut akhir minggu kawan, jangan lupa untuk bahagia.

Dalam satu tulisan

Entahlah kenapa tiba-tiba ingin menulis tentang semua hal ini, karena sebetulnya beberapa hal dari apa yang ingin saya tulis sudah pernah ditulis disini. Mungkin karena saya sedang iseng, atau mungkin karena sedang bosan, atau mungkin karena kangen, atau… atau… entahlah… yang pasti tiba-tiba kepikiran untuk menulis apa yang ada di benak saya ke dalam satu artikel. Yaa… walaupun ga mungkin bisa sih hehehe… tapi setidaknya saya berusaha merangkumnya se-ciamik mungkin agar saat kalian baca di satu artikel, bisa mendapatkan beberapa gambaran sekaligus.

Kepindahan kami ke Australia tidak dilakukan dalam sekejap seperti sulap. Saya menghabiskan waktu 5 tahun untuk mengejar PR Australia, membangun keberanian dan jujur hampir saja saya menyerah saat itu, susah nya itu loh…. belum lagi peraturan berubah setiap bulan Juli setiap tahunnya membuat keinginan untuk menyerah semakin besar dalam setiap langkah saya, rasanya cuaapeeee…. banget waktu itu dan sampai sekarang pun saya masih sering merasakan capenya saat-saat mengejar PR ini ditengah ke-tidak-pasti-an yang akut. Bisa ga yaa.. bisa ga yaa.. adalah pertanyaan yang hampir setiap saat berada dalam benak saya yang tidak seberapa ini. Di saat-saat kami sedang berjuang dan sepertinya semakin mustahil, sempat terpikir untuk mencoba pilihan lain, dan saat itu kami terpikir untuk mencoba Canada maupun New Zealand. Bahkan saya dan istri sudah sampai bersepakat untuk menjual rumah mungil kami di Jakarta (yang sekarang ditempati oleh Mama saya) untuk menjadi biaya kuliah di New Zealand, dan saya akan ikut dengan visa partner agar bisa kerja fulltime, setelah istri lulus baru coba apply PR New Zealand. Saat itu banyak sekali pertimbangan resiko yang tiba-tiba muncul ke permukaan, maklum kami sudah punya si AL saat itu. Bingung… gundah… was-was… pokoknya campur aduk deh saat itu, yang akhirnya kami tunda rencana nya dan melirik Canada sebagai pilihan lain. Setelah beberapa kali bertemu agen migrasi untuk Canada di bilangan Jakarta Selatan sana, kami kembali dihadapkan dengan kendala baru, masing-masing harus deposit minimal 80 juta hahaha… mana ada uang segitu banyakkk… karena kami berdua (anak kecil ga diitung) jadi harus ada hard cash 160 juta untuk deposit, lah terus biaya buat kesana pake dengkul gitu??? ya.. iya kalau boleh pinjem dengkul temen kan…

Kami mulai frustasi… ini mau ngejar sesuatu yang lebih baik (menurut kami) kok kenapa susah bener ya. Kami tetap tidak berhenti berdoa, “kalau memang ini jalan-Mu ya Tuhan, terjadilah apa yang harus terjadi” singkat cerita, kami akhirnya dapat jalan untuk apply PR Australia ini. Cerita tidak singkatnya gimana, itu dilain sesi saja ya agar topik nya tidak bergeser. Yang pasti buat Dia, tidak ada yang mustahil saat Dia sudah berkehendak dan itu benar adanya.

Kami dua kali mencoba migrasi saat mendapatkan PR, yang pertama kami lakukan di 7 September 2015, kami gagal total dan pulang lagi. Banyak hal yang tidak bisa saya jabarkan satu per satu disini (dan ada beberapa hal lainnya adalah wilayah privasi) mengenai kenapa kami sampai gagal saat itu. Satu saran yang bisa saya berikan adalah, datang sendiri dulu untuk membuat segala sesuatunya stabil sebelum membawa keluarga jika dana terbatas dan tidak ada pekerjaan tetap, jangan ulang kesalahan saya ya… Dana terbatas itu berapa sih? Nah, itu pertanyaan yang saya tidak punya jawabannya karena kembali ke gaya hidup kan… susah jadinya. Sebagai patokan kasar saja, disini 1 keluarga 2 orang dewasa 1 anak kecil dan 1 bayi lucu, hidup sederhana, sebulan jalan-jalan sekali ke taman yang gratisan kira-kira butuh sekitar AUD 3000 – AUD 3500 untuk sebulan.

Yang pasti buat Dia, tidak ada yang mustahil saat Dia sudah berkehendak dan itu benar adanya

Setelah kami gagal di 2015, kami pulang kembali ke Jakarta, rasanya sedihhh banget saat itu. Semua lelah, getir, perih, pilu yang sudah saya lewatkan kok dalam 3 bulan semua kandas, tabungan juga kandas, hampir semua kandas kecuali sisa semangat yang ada di diri saya sambil berpegang pada yang di Atas sana, semua ini pasti ada maksudnya. Setelah pulang setahun lebih dikit lamanya, kami akhirnya mencoba lagi pada 1 Februari 2017. Saat ini kami mencoba dengan persiapan yang lebih baik dengan semua kesempatan yang ada di tangan karena bantuan orang-orang baik hati yang ditunjukan oleh-Nya. Saya tidak bisa bercerita terlalu detail mengenai yang satu ini karena berbatasan dengan garis privasi beberapa pihak. Biarlah tetap menjadi rahasia kami sajah yak…. yeahhh… romansss…. sekali…. yaaa…. 🙂

Sampai saat ini pun saya sendiri masih sering mengingat hari-hari menjelang keberangkatan saya. Terutama yang pertama di 2015. beberapa minggu menjelang keberangkatan saya susah tidur, kalut sekali perasaan di dada saya sampai-sampai sempat saya katakan ke istri saya untuk membatalkan rencana kami padahal PR sudah ditangan, yang langsung diplototin istri saya seraya tidak percaya “Sesuatu yang kamu kejar 5 tahun tanpa lelah mau kamu lepaskan saat sudah ditangan???” (sambil megang dahi saya nge-cek kalau saya ga sedang demam tinggi). Saya sendiri saat itu tidak tahu kenapa bisa segalau itu, kaya remaja putus cinta monyet gitulah rasanya hahaha… persiapan demi persiapan pun kami lakukan ditengah kegalauan atas keputusan yang saya ambil saat itu. Ada rasa enggan meninggalkan semua yang ada ditangan saya saat itu. Ada rasa malas dan rasa takut juga membayangkan harus memulai lagi semua dari awal, galau men… bener-bener galauu…. pertanyaa “bisa ga ya…”, “bisa ga ya…” terus berputar di kepala saya… padahal awalnya semangat sangat menggebu-gebu untuk migrasi, eh pas tiket sudah ditangan dan sudah siap digaris start tinggal nunggu bunyi dorrr… malah jiper… aneh kan… iya memang saya kan orang aneh hahaha…. satu hal yang pasti saat itu saya lakukan adalah terus-menerus berkata kepada diri saya sendiri “I don’t want regret something I didn’t do” terlebih itu demi kehidupan yang lebih berkualitas bagi keluarga saya dan impian membawa keluarga saya hidup di kota yang terpilih sebagai kota paling layak hidup selama tujuh kali berturut-turut ikut memompa semangat saya untuk tidak menyerah.

Saya beruntung punya istri tangguh, kalau bukan karena dia mungkin saya sudah nyerah beneran kali. Membanjiri istri dan keluarga kita dengan materi dan harta itu sudah biasa, banyak yang bisa melakukan itu dan ga ada istimewanya dimata saya karena hal itu lebih merusak daripada mendidik. Tapi, membawa istri dan keluarga ke level berikutnya, pindah dan berpetualang ke negara lain bahkan ke negara dan kota yang sama sekali belum pernah kita jamah seumur hidup kami, meletakan dan meninggalkan segala sesuatu yang sudah kami capai dengan susah payah dari nol dan memulai sesuatu yang baru dari awal lagi, itu butuh lebih dari sekadar keberanian dan komitmen terlebih kami bukan dari keluarga berada dan sudah memiliki anak, itu butuh pengertian luar biasa dari kedua belah pihak, butuh kekuatan dan disamping itu juga butuh lebih dari sekadar saling percaya jika kami bisa saling berpegang satu sama lain. Pengalaman hidup jatuh bangun seperti itu akan menjadi kenangan indah kami suatu saat nanti, dan tidak akan pernah bisa terbeli oleh uang dan berlian sebanyak apapun, tidak akan pernah bisa. Kenapa? karena tidak semua orang memiliki keberanian sebesar itu untuk gila dan nekat hahaha…. saya memang suka nekat kalau sudah berhubungan dengan impian saya, walaupun buntut-buntut nya jadi sutris sendiri halahh….. endurance nya musti di tempa lebih kuat lagi kayanya.

satu hal yang pasti saat itu saya hanya berkata kepada diri saya sendiri “I don’t want regret something I didn’t do” terlebih itu demi kehidupan yang lebih berkualitas bagi keluarga saya dan impian membawa keluarga saya hidup di kota yang terpilih sebagai kota paling layak hidup selama tujuh kali berturut-turut ikut memompa semangat saya untuk tidak menyerah

Sepanjang minggu-minggu sebelum keberangkatan, saya sering merasa sedih sebetulnya karena harus meninggalkan si emak yang sudah semakin menua. Tapi beberapa perbincangan dengan Mama semakin menguatkan saya untuk mengambil langkah ini. Terutama saat dia pun merestui langkah saya agar cucu-cucu dia kelak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik (lebih baik nya ga dari segi ekonomi ya). Loh kenapa bukan dari segi ekonomi? Hey… kalian itu ya… dewasa napa? kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga apa dan dari rahim yang mana, tapi kita SANGAT bisa memilih bagaimana kita ingin dikenang saat menghadap Sang Khalik nanti. Tidak ada satu pihak pun yang salah saat kita lahir sebagai orang miskin, tapi kalau kita mati sebagai orang miskin juga ya itu salah kita sendiri karena kita punya pilihan untuk mengubah itu sebisanya, kalau memang ga bisa mati sebagai orang kaya setidaknya sebagai orang miskin plus plus lah. minimal lebih tinggi dikit dari orang miskin doank kan, ya ga? jadi kan ada perjuangan dikit, dan dewasalah untuk tidak menyalahkan siapa pun karena semua ditangan kita, hidup mu ada di tangan mu kawan! itulah kenapa saya berusaha semampu saya menanamkan pondasi ke anak-anak saya, tapi selebihnya ya ditangan mereka mau seperti apa, bijak ga tuh kata-kata saya xixixi….

Jadi ngelantur kan nulisnya, kembali ke mama… iya, dia ternyata mendukung 1000 plus 1 persen saya untuk pindah ke Australia, dah kaya di usir ya… hahaha… ga kok, ini positif, karena dia tahu kalau saya susah dicegah saat sedang mengejar sesuatu, tapi titik lebih beratnya adalah dia tahu apa yang saya kejar itu memang agar bisa memberikan hal yang lebih baik untuk cucu-cucu dia, karena dia juga tahu kalau di Australia lebih terjamin ke-stabilan-nya (bener ga sih nulisnya….) terutama untuk orang seperti saya yang dari minoritas triple bukan double lagi (sudah keturunan Cina, Katolik, dan paling Ganteng se-RT 12 pula upsss… 🙂 ). Selain itu di Australia juga lebih kondusif suasana politik nya, udara yang bersih, air bersih yang berkualitas dibandingkan air galonan di Jakarta, sekolah yang cara belajarnya lebih baik menurut kami, akses pelayanan kesehatan yang profesional walaupun “gratis” iya gratis walaupun diambil dari pajak kita yang produktif, tapi setidaknya kan saat kita sempat menua tidak akan merepotkan anak-anak. Pajak memang tinggi tapi sebagian besar kembali kepada kita dalam bentuk pelayanan, jalan yang di aspal dengan baik, taman-taman yang bagus dan bersih, perpustakaan dimana-mana, dan masih banyak lagi. Setidaknya jadi lebih lega deh… walaupun tetap sedih hiks… ga bisa sering-sering denger kebawelan dia lagi deh… yang sering kali bikin sebal.

Akhirnya kami pindah juga mengejar impian kami, menguji ketahanan dan keberanian kami, dan benar-benar berhasil pindah saat 2017. Hari-hari awal disini benar-benar perjuangan, apalagi saat masa honey moon sudah dadah… dadah… sama saya, dah lewat, semua yang tadinya indah jadi terlihat memang sudah seharusnya yang istilah diaspora sini “kamu sudah lokal” aiihhh…. kemaren masih impor ya sayah…. Saya tahun pertama mengalami culture shock parah, culture shock yang hampir membuat saya menyerah (lagi), mau nyerah mulu ya saya… hahaha…. payah amat…. Culture shock yang saya alami saat itu tidak hanya kangen rumah di Jakarta, kangen cuaca, kangen aroma setelah hujan, kangen sama mama, kangen berbahasa Indonesia setiap saat, kangen sama kehidupan disana, kangen hal-hal yang sebenarnya ga penting tapi saya cari-cari jadi alasan pembenaran dan yang aneh saya malah jadi kangen kemacetannya Jakarta hahaha… bener-bener ga waras ya… orang salah satu alasan saya pindah ya buat menghindari buang waktu ga penting dijalan karena macet kok. Selain itu saya juga mengalami gegar budaya (culture shock dalam bahasa kita) di pekerjaan, ternyata membangun semua dari awal itu tidak hanya dari segi kehidupan, tapi juga dari segi pekerjaan hahaha… ya elah… saya harus mengulang apa yang sudah pernah saya lakukan 10 tahun lalu agar bisa menembus lapangan kerja disini lebih cepat dan agar bisa mulai membangun profile profesional saya disini, ahh… gilaaa…. semua hal-hal detail teknikal itu mana saya inget lagi semuanya, apalagi saya sudah di level manajerial lebih dari 3 tahun sebelum migrasi kan. Hampir gila saya saat itu, sudah setengah mati penyesuian di kehidupan sehari-hari, masih harus berjuang menerima penyesuaian segala level di pekerjaan, mengejar dan gali lagi semua ingatan saya tentang hal-hal detail teknis di IT yang entah sudah ngumpet kemana di otak saya karena terlalu lama di high level design yang tinggal cuap-cuap secara teori dan kelamaan di managerial. Akkhhhh…. pengen pulang saja rasa nya waktu itu, hampir tiap hari saya seperti zombie, tidak ada semangat, tidak ada keberanian, tidak ada apapun kecuali ketakutan tanpa dasar, kecemasan ga jelas, dan paranoid tanpa arah, dan selalu pengen pulang… kaya orang gila ya… Hal itu kemudian mendorong saya kearah alkohol, untung sempet nge-rem sebelum beneran menjadi alkoholik hahaha… siapa lagi yang bantu saya nge-rem, nemenin saya saat galau, suntikan positif tanpa henti, mompa semangat saya terus dan selalu mengingatkan “demi anak-anak kita” kalau bukan dia si bawel nan tangguh yang suka nonton drakor dan menghayatinya dengan sepenuh hati sampai bentar ketawa bentar terisak-isak ga jelas bikin orang takut hahaha… ai lop yu pul Lini 🙂 Tuhan benar-benar baik. Sangking parahnya disaat itu saya bisa loh menghabiskan 1 krat (24 botol 350 ml) Bir dalam 2 hari. Ke-gi-la-an tanpa sebab yang sangat ga patut dibanggakan, semoga anak-anak saya ga inget ya bapaknya pernah gila kaya gitu….

Saya juga beruntung memiliki sahabat-sahabat yang membantu baik yang kenal dari kuliah maupun dari media sosial dan dari Blog. Beberapa kali sahabat saya yang saya kenal saat kuliah mengajak saya berkeliling melihat belahan lain dari Melbourne seperti apa saat kami belum memiliki mobil, apalagi kalau bukan untuk membantu saya bisa cepat berbaur dengan kehidupan disini. Disamping itu ada juga keluarga dari pihak istri saya yang kebetulan pindah ke Melbourne dari New Zealand yang ikut membantu juga terlebih saat kami sedang membutuhkan sesuatu, misalnya informasi, dsb. Selain sahabat dan keluarga, ada juga komunitas Keluarga Katolik Indonesia yang ada di Melbourne yang juga sangat membantu mengobati culture shock saya, karena disamping kami berusaha semakin mendekatkan diri ke Tuhan agar perasaan dan pikiran bisa lebih tenang, berkumpul dengan orang-orang Indonesia yang bicara dalam bahasa sendiri membuat perasaan merasa Homy menjadi lebih cepat terbentuk. Maklum saya kan parah dalam berbahasa Inggris dan yang saya punya adalah bahasa Inggris khas lidah Indonesia yang membuat orang-orang mengernyitkan dahi setiap mendengar saya bicara. Bahkan sampai sekarang pun masih hahaha… semoga bisa semakin baik ya kedepannya.

siapa lagi yang bantu saya nge-rem, nemenin saya saat galau, suntikan positif tanpa henti, mompa semangat saya terus dan selalu mengingatkan “demi anak-anak kita” kalau bukan dia si bawel nan tangguh yang suka nonton drakor dan menghayatinya dengan sepenuh hati sampai bentar ketawa bentar terisak-isak ga jelas hahaha… ai lop yu pul Lini 🙂 Tuhan benar-benar baik

Sampai akhirnya suatu hari saya lulus ujian SIM Australia, yipiii… akhirnya saya sah bisa mengemudi disini, dan kemudian saya memutuskan untuk membeli mobil, disini kalau ga punya mobil juga ga papa sih sebenernya. Tapi… (nah kan pake tapi, banyak alasan emang saya…) eh, tapi ini bener, saat belanja bulanan atau dua mingguan, itu terasa banget antara pakai mobil sama nenteng angkutan umum sambil bawa 2 anak kecil. Okelah saya memang manja hiks… padahal angkutan umum disini juga sudah oke banget, aman, comfy, ga parah-parah amat kalau telat apalagi kereta karena kereta yang paling reliable hehehe…. ya walaupun kadang harus jalan kaki lumayan jaraknya untuk bisa ke tram stop, atau stasiun kereta, atau bus stop. Cuaca disini sebenarnya enak buat jalan kaki selama ga sedang puncak summer atau winter (banyak mau nya ya saya….) dan itu membuat keharusan memiliki kendaraan pribadi ga jadi prioritas sebenernya. Tapi, jujur sih culture shock yang saya derita menjadi lebih baik ketika lulus SIM sini dan bisa memiliki mobil, kenapa? karena hal itu membuat mobilitas saya jadi semakin fleksible dan saya jadi bisa keluyuran kemana-mana setiap minggu melihat pemandangan indah, menghirup udara segar, dan melihat alam dari kota dingin nan cantik ini sembari melepas penat dan sekalian menghibur diri sambil berkata “hey… kamu sudah bawa keluarga kamu tinggal kota paling layak huni sedunia yang terpilih 7 kali berturut-turut loh…” untuk mengobati culture shock saya sekalian mengajarkan saya arti kata bersyukur. Kan saya sudah bersyukur dan selalu bersyukur!! ya sudah biar lebih bersyukur lagi ya… puk… puk… puk…. *sambil elus-elus kepala sendiri.

Masuk tahun kedua saya sudah mendingan jauh… culture shock sudah mulai hilang dikit-dikit, dan sudah mulai terbiasa dengan cuaca disini yang suka ga jelas seperti cewek sedang datang bulan. Sesaat indah ceria ga lama kemudian mendung kelabu lalu ngamuk ga jelas eh cerah lagi, haduhhh…. bikin deg-deg-an saja. Perubahan ga jelas itu yang kadang bikin kagok saat harus berpergian, ini musti pake jaket dingin atau musti pake singlet, ga jelas dah… paling gampang bawa semua aja, dah kaya mau pindahan hahaha…. Nah…. itu juga jadi dasar kenapa lebih enak kalau punya mobil kan… jadi kita bisa menghangatkan atau mendinginkan diri didalam mobil, kalau jalan kaki kan susahh… ya ga… ya ga…. (alasan lagi….)

Masuk tahun kedua saya sudah mendingan jauh… culture shock sudah mulai hilang dikit-dikit

Musim dingin yang kelabu, saya paling sebel sama musim yang satu ini. Karena disamping saya ga gitu nge-fans sama suhu dibawah 10 derajat, apalagi kalau harus jalan kaki dan ini idung sudah seperti Naga kalau napas keluar asep, tau-tau idung mati rasa aja begitu nyampe tujuan karena di belai dingin nya angin yang berhembus, belum lagi kalau harus nunggu tram atau bus atau kereta yang halte atau tempat tunggu nya terbuka gitu, musim dingin juga sering kali suka mendung-mendung ga jelas. Bikin ngantuk, dan membuat perjuangan bangun pagi untuk berangkat kerja dua kali lebih berat dari biasanya. Males nya itu loh… suka kambuh hahaha…. Musim dingin juga suka basah, karena curah hujan meningkat di musim ini. Tapi jujur sih, setelah saya merasakan musim panas disini yang menggigit kulit, apalagi saat sedang puncak-puncaknya yang bisa sampai 45 derajat, horor ga tuh… saya jadi agak nge-fans sama musim dingin hahaha… musim panas disini kalau sedang seksi-seksi nya kadang semua pekerja dan siswa sampai dipulangkan lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih jika berhubungan dengan kesehatan. Saat puncak musim panas, napas saja susah tau sangking panas nya, rasa nya sudah seperti diruang sauna seharian tanpa handuk basah.. engap ga tuh… belum lagi untuk anak-anak bahaya juga karena paru-paru mereka bisa kena impact kalau udara panas masuk ke paru-paru mereka yang masih imut-imut itu. Yang paling saya suka ya musim gugur yang coklat dan musim semi yang mekar, karena suhu paling bersahabat hehehe… tapi itu untuk saat ini ya setelah melalui masa-masa ospek… dulu waktu pertama kali kesini sih sama aja semua musim kecuali musim panas, sama dingin nya buat saya, kalau keluar rumah dah kaya combro pakaiannya hahaha… untung orang sini cuek bebek dan ga kepo, maklum kan kami ini manusia tropis. Musim gugur itu yang nyebelinnya daun-daun yang rontok, suka bikin kotor, untung nya council sini tanggap juga sih, tiap beberapa minggu sekali ada yang datang membersihkan dedaunan yang rontok di jalanan. Tapi biarpun kotor ya… pemandangan nya jadi bagus, saya suka melihat jalanan yang berubah menjadi kecoklatan dan ranting-ranting pohon yang gundul nan gagah menjulang ke atas, yang membuat saya sering berkata ke istri saya jika kami sedang lewat “bagus ya mom, jadi berasa seperti tinggal di luar negeri” sambil senyum-senyum ga jelas… yang kemudian dibalas tatapan bingung istri saya sambil dijawab “kita memang sudah di luar negeri, dasar aneh” hahaha…. iya juga ya, kenapa saya jadi aneh begini? ahhh…. pasti karena kamu ya…. 🙂 🙂 Musim semi disini juga mengasikkan, semua pohon yang tadinya botak dalam hitungan hari tau-tau rimbun hijau lagi, bunga-bunga juga mulai bermekaran dengan cantik nya, dan banyak taman-taman khusus bunga yang bagus-bagus yang bisa kita kunjungi dengan gratis. Ga enak nya saat musim semi itu adalah hay fever nya, semacam alergi yang disebabkan oleh pollen, semacam serbuk sari dari bunga-bunga yang sedang mekar yang ternyata bisa menyebabkan alergi saat masuk ke badan kita. Yang pasti di dua musim itu suhu paling bersahabat dengan kulit kami terutama saya karena rata-rata bermain di antara 22 derajat sampai 28 derajat, sejuk ya….

Bicara mengenai makanan terutama makanan Indonesia, disini ada sih resto-resto Indonesia seperti ayam penyet, rumah makan padang, soto dll. Tapi kita masih kurang bersaing jika dibandingkan resto asia lainnya seperti resto Thailand, Vietnam bahkan resto dari Malaysia. Istri saya sering kali mengolah makanan sendiri, lagi pengen makan apa trus dia eksperimen hehehe… sambil ngobatin kangen sambil berlatih juga, kan siapa tau ntar bisa punya resto sendiri hahaha… untuk bahan-bahan dari Indonesia sendiri banyak terdapat di toko-toko asia (walaupun ga semua ada dan lengkap ya…), kalau mau yang agak lengkap di Melbourne ada toko yang namanya Laguna, mereka buka satu di City tepat nya di QV seberang Melbourne Central, dan satu lagi di jalan Glenferrie, Hawthron. Walaupun resto dari Indonesia saya rasa masih kurang menggigit jika dibandingkan resto dari negara Asia lainnya, tapi rasa makanannya lumayan enak kok, ada yang enak dan sangat mendekati rasa makanan yang diolah di Indonesia sana, ada juga yang so-so-lah rasanya. Nahhh… ada satu nih yang dari kemaren kami cari dan masih ga ketemu, gorengan yang langka (bahkan ga ada). Disini entah kenapa nyari gorengan itu susah banget, kalau ada pun rasa nya beda, ga bisa sama kaya abang-abang yang jualan di Jakarta sana. Mungkin bahan-bahannya juga langka kali ya, singkong jarang banget terlihat, apalagi yang namanya sukun, tempe ada tapi frozen hahaha… tahu juga bukan tahu kuning seperti di Indonesia sana, apalagi cirengg… bule mana ada yang tahu cireng itu apaan (mungkin ada tapi dikit). Selain itu juga kami nyari jengkol dan pete, disini ada pete tapi dalam kemasan dan frozen juga hahaha… kalau jengkol sih belum pernah ketemu, duh jadi nge-cess saya… bayangin semur jengkol…. Hal-hal seperti makanan yang kadang ga jelas tapi ngangenin seperti ini lah yang suka bikin rindu sama tanah air beta, yang tinggal ke pengkolan langsung segala ada, semua gerobak berjejer riang gembira.

Selain itu, keluarga juga suka bikin kangen. Apalagi kalau pas tahun baru, natal, paskah, imlek bahkan lebaran pun membuat melow, karena dulu di momen-momen itulah kami sering berkumpul, makan bareng, canda bareng, takjilan bareng, dll. Disini sepiii hahaha… Paling meriah saat Natal saja, banyak hiasan dan acara gratisan dimana-mana. Paskah ga begitu banyak hiasan walaupun tetep ada acara-acara khusus paskah yang gratis dimana-mana, tahun baru ya rame nya pas kembang api saja, kalau imlek dan lebaran sih ga usah ditanya, ga libur disini dan semua berlalu seperti biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa hahaha… maklum negara bule. Paling kami video call sama keluarga disana, masih okelah masih bisa tatap muka walaupun ga secara langsung.

Hal lainnya yang saya syukuri adalah sekolah anak-anak. Disini, khususnya di negara bagian Victoria dimana Melbourne menjadi ibu kota negara bagian nya, sekolah “gratis” kalau di sekolah pemerintah. Kenapa gratis nya dalam tanda kutip? karena sebetulnya ga gratis, tapi bisa digratiskan jika kita bisa menunjukan dan membuktikan kita ga sanggup bayar karena semua anak wajib sekolah dan sekolah pemerintah akan menampung, asal ga nepu ya… Walaupun bayar, biayanya menurut saya tidak mahal, anak pertama kami si AL bayar untuk level preparation ke atas kurang lebih AUD 550 (5 sampai 6 juta rupiah) per tahun, bayangkan per Tahun loh!! itu saja udah pada bilang mahal, mereka belum tahu di Jakarta untuk level kualitas yang sama bakalan habis berapa hahaha…. dan sekolah disini taraf nya sudah setaraf sekolah international di Jakarta sana dan bahkan mungkin lebih tinggi kali dan disana kalian kan harus bayar lebih mahal, mungkin 5 sampai 6 juta hanya uang sekolah per bulan kali ya hehehe… Disini bayar semurah itu (dan bahkan ada yang lebih murah lagi, tergantung kalian tinggal di suburb mana) hanya untuk level preparation sampai year 12, loh… level preparation? iya, disini sebelum anak-anak masuk kelas 1/ year 1 mereka terlebih dahulu di level preparation selama setahun. Kembali ke biaya, untuk level dibawah preparation, disini disebutnya kindy/ kindergarten. Nah untuk level kindy ini ada 2 level, kindy 3 and kindy 4. Angka 3 dan 4 dibelakang kindy untuk penanda umur ideal masuk kindy, tapi… disini banyak kok yang menunda anak nya satu tahun lebih lama untuk masuk sekolah karena ingin si anak benar-benar siap saat harus belajar di sekolah termasuk saat masuk kindy. Maksudnya? iya, banyak yang baru memasukan anak mereka ke kindy 3 saat umur 4 atau kindy 4 saat umur 5, disini ga masalah. Di sekolah, baik kindy maupun di level Preparation guru akan menganalisa apakah si anak sudah siap untuk naik ke level berikutnya, jika belum siap maka orang tua akan diberi tahu dan diberi saran, keputusan akhir ya tetap di tangan orang tua hehehe…. jadi stress level si anak benar-benar berusaha di jaga. Mengenai biaya, jika tadi level preparation ke atas (untuk sekolah pemerintah) biaya nya sekitar 5 sampai 6 juta bahkan kurang, kindy justru kebalikan, kita diharusnya bayar full yang dicicil jadi 4 kali mengikuti masa belajar disini yang mengadopsi gaya British dimana setiap musim ada break/ libur nya. Untuk biaya kindy sendiri tergantung daerah mana kalian tinggal di Victoria, mungkin ada yang menggratiskan, ada yang murah juga dan kami berada di suburb yang mahal hahaha… ampun deh… untuk anak pertama kami dulu saat kindy 4 setiap term kami bayar AUD 650, jadi total setahun AUD 2600 (atau kurang lebih 27 juta rupiah). Nahhh…. pas si bontot nih yang berasa karena dia mulai dari kindy 3 kan. Untuk kindy 3 kalau ga salah setiap term nya AUD 750 (setahun AUD 3000 = Rp. 31 juta), dan untuk kindy 4 per term nya naik jadi AUD 800 (setahun AUD 3200 = Rp. 33 Juta). Berasa kan hahaha…, kalau ada yang bingung kenapa kindy semahal itu padahal cuman main-main, belajar hal dasar dan belajar sosialisasi saja, itu pun seminggu cuma 3 hari dan per hari 3 jam untuk kindy 3, dan seminggu 3 hari per hari 6 jam untuk kindy 4, itu karena pemerintah ingin mendorong agar orang tua bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama anak-anak mereka selagi anak-anak masih kecil. Hanya saja disini kan banyak juga yang dua-dua nya kerja dan ga ada pembantu/ orang tua yang bisa di titipin jaga, jadi pilihannya yang masukin kindy plus masukin child care atau masukan child care saja. Child care sendiri kebanyakan bayar nya jam-jam-an atau hari-an (per hari kurang lebih AUD 40 – 100 tanpa subsidi dari pemerintah tergantung daerah tempat tinggal) hahaha… walaupun dapat subsidi dari pemerintah, rata-rata per-anak per-bulan untuk biaya child care saja tanpa dimasukan kindy bisa habis AUD 2000 (walaupun tergantung suburb ya, tapi semurah-murahnya minimal AUD 1000 per-anak per-bulan sih dah pasti) hahaha…. maknyus…. makanya bersyukur juga punya istri mau jadi Ibu Rumah Tangga, dan bisa handle stress nya, padahal itu kerjaan paling berat sedunia.

Pilihan lainnya adalah sekolah swasta, untuk yang satu ini tergantung sekolah swasta mana yang kalian pilih, ada yang AUD 6.000 – AUD 10.000 per tahun ada juga yang antara AUD 15.000 – AUD 25.000 per tahun. Pilihan lainnya lagi ya sekolah Katolik yang harga nya lebih bersahabat, kami belum pernah coba sih, tapi dari apa yang saya baca di website mereka dan sharing dari mereka-mereka yang sudah memasukan anak-anak mereka ke sekolah Katolik, hitunganya cukup melegakan walaupun tidak semurah sekolah pemerintah ya, jika dulu sekolah mewajibkan 1 keluarga tidak peduli anak nya berapa hanya perlu bayar setahun misalnya AUD 1.500, sekarang mulai berubah menjadi anak pertama setahun AUD 1.500, anak kedua dan seterusnya cukup nambah per-tahun AUD 350 misalnya. Jadi kalau kita ada 2 anak sekolah disana total per-tahun yang harus kita bayar adalah AUD 1.850. Dan ini besar kemungkinan beda-beda untuk setiap sekolah katolik karena umumnya mereka memiliki kebijakan masing-masing. Ada rasa bangga dan haru saat saya melihat anak-anak saya bisa sekolah disini, sebuah kemewahan yang tidak bisa kami rasakan dulu membuat semua perih yang kami rasakan sejenak sirna. Impian saya tercapai sudah, ingin menyekolahkan anak-anak disini, semoga mereka bisa terus sampai ke jenjang tertinggi dalam hidup mereka. Yang bisa kami lakukan hanya membimbing, mendorong dan berusaha membukakan jalan, selebihnya kami bawa dalam doa dan kami serahkan kepada yang di Atas dan tentunya ke tangan mereka sendiri.

Sejak hidup disini, saya secara tidak langsung mempelajari satu hal mengenai ke-kepo-an. Disini sangat jarang ke-kepo-an terjadi, apalagi kalau sudah menyinggung masalah agama karena disini agama adalah urusan pribadi masing-masing dan sangat tabu jika ada yang ikut campur hehehe… masalah kepo sendiri masih ada tentunya, tapi sangat-sangat minim, umumnya itu terjadi dari orang berlatar belakang asia apalagi Indonesia hahaha… tapi 99.99% kami tidak merasakan ke-kepo-an itu terjadi dalam kehidupan kami. Hidup disini lebih ke lu-lu-gue-gue sampai kita meminta bantuan atau masukan baru mereka mau ikut campur dan itupun jarang orang nyaman untuk ikut campur hehehe… Jadi dengan menjalani kehidupan disini, daerah privasi kita jadi semakin terjaga dan jarang mendengar komentar-komentar seperti “eh… lu gemukan ya” hahaha… bisa-bisa lu dibanting kalau ngomong itu ke cewek yang bisa judo, wataaaa….. hahaha….

Anak-anak juga sangat dijaga disini, jadi untuk kalian yang suka pakai fisik untuk mendidik anak harus hati-hati dan jangan dilakukan didepan umum karena bisa-bisa kalian dilaporkan ke pihak berwajib dan anak kalian diambil dinas sosial sembari kalian diperiksa bahkan bisa sampai didenda. Mendidik anak secara fisik di rumah tanpa diketahui orang juga ga disarankan, karena begitu ketauan guru atau siapa pun diluar sana ada bekas pukulan, sabetan, cubitan yang menurut mereka sudah mengarah ke child abuse, hal itu bisa dilaporkan juga hahaha… sampai pernah ada kejadian si anak di kerik sama ibunya karena masuk angin (disini ga ada istilah masuk angin, yang ada keluar angin alias kentut hahaha….) dan keesokan harinya orang tua si anak dipanggil kesekolah setelah gurunya melihat ada memar-memar dipunggung si anak yang berawal dari memar yang terlihat di leher belakang dan lengan atas, untuk diinterogasi kenapa bisa sampai begitu dan saat itu sudah ada polisi yang stand by hahaha… ngeri ga tuh… untung ga berlanjut ke penahanan setelah dijelasin panjang lebar itu salah satu treatment kalau masuk angin (tentunya setengah mati untuk bisa meyakinkan mereka karena disini ga ada istilah masuk angin dan mereka pun ga serta merta percaya begitu saja) jadi anak-anak disini benar-benar seperti dewa, dijaga banget sampai -sampai sarana bermain untuk anak-anak yang gratis banyak sekali bertebaran dimana-mana, sarana bermain ini jangan dibayangkan seperti timezone ya hahaha… ini berada di taman dengan semua perangkat bermain yang selain melatih otot dan gerak tubuh agar sekalian olah raga juga melatih keberanian, kreatifitas dan cara berpikir untuk beberapa arena bermain, contohnya puzzle. Selain itu perpustakaan juga gratis dan banyak bertebaran dimana-mana. Anak-anak kami salah satu tujuan favorit nya adalah perpustakaan loh hahaha… hebat ga tuh kecil-kecil dah suka ke perpus padahal bapaknya saja sampai setua ini ga pernah ada keinginan ke perpus selain nganter mereka hahaha… jadi malu…, jangan dibayangkan perpustakaan itu membosankan ya karena mereka membangun sesi khusus untuk anak-anak sendiri yang dihias dengan meriah lengkap dengan mainan kreatif seperti puzzle, tempat untuk corat coret menggambar, kursi-kursi malas dan deretan buku anak-anak yang sangat beragam dan buanyak nya bukan main, untuk menarik perhatian si anak agar mau dan betah membaca sambil didukung oleh pemerintah dengan gerakan membaca 1000 buku sebelum memulai sekolah dan akan dikasih penghargaan sederet sticker yang bisa mereka tempel di buku record mereka setiap 20 buku, mereka jadi tambah semangat kan karena bisa tempel-tempel sticker hahaha…. dan semua itu gratis 🙂

Kami saat ini tinggal di daerah Balwyn, daerah yang termasuk mahal menurut beberapa orang (dan memang iya hahaha…), rumah kami tidak terlalu jauh dengan CBD (istilah keren nya City atawa pusat kota) dan dekat juga ke beberapa tempat belanja dan toko asia di daerah Hawthorn sana. Kami saat ini menyewa sebuah unit yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, unit 2 kamar dengan 1 tempat parkiran mobil. Kedepannya jika lancar, kami akan pindah jauh ke arah barat, yaitu daerah South Melton. Cukup jauh dari CBD (Ga denkk… jauh sebenernya hahaha…) dan butuh minimal 45 menit mengendarai mobil. Cerita tentang bagaimana kami bisa berakhir membangun rumah mungil disana ada di artikel lain di blog ini, jadi saya skip ya…

Bagi kami, jarak jauh atau dekat tidak menjadi masalah utama karena dulu saat di Jakarta pun kami tinggal jauh di daerah barat juga, bahkan saya pernah kerja di daerah manggarai, bayangkan tiap hari saya nyetir mobil cengkareng – manggarai pulang pergi ditengah kemacetan yang bikin terharu sendu. Disini, yaa… kadang macet juga tapi semacet-macet nya disini jika dibandingkan di Jakarta sana masih bisa dikategorikan ramai lancar, kecuali ada kecelakaan yang menyebabkan jalan ditutup jarang sekali disini macet sampai dead locked bermenit-menit apalagi berjam-jam. Hidup disini buat kami juga memberikan tantangan dan pengalaman baru, banyak yang kami alami selama ini. Pergi ke tengah kota menikmati deretan bangunan tinggi nan metropolitan, atau ke mall menikmati deretan toko-toko yang memanjakan nyonyah-nyonyah apalagi kalau sudah pasang plank guede-guede dengan nominal diskon yang susah ditolak hahaha…, atau pergi untuk bersentuhan dengan alam seperti pantai, gunung, kebun bunga, tempat-tempat rekreasi gratis yang tetap tertata rapi, terjaga bersih, aman dan bagus, ataupun taman-taman yang banyak sekali bertebaran di kota ini mudah untuk dijangkau dengan mengendarai mobil dan tidak macet adalah sebuah pengalaman yang sangat kami syukuri selama ini. Bahkan untuk merencanakan sebuah perjalanan yang cukup jauh pun bisa kami lakukan secara mendadak di tengah hari dan masih bisa terwujud karena ya itu… tidak macet hehehe…

Udara disini juga menjadi salah faktor yang kami syukuri, memang sih sering kali dingin nya itu ga nahan dan saat napas dah kaya jejelin es batu ke lobang hidung kalian (hahaha.. ga denkk…), tapi so far kami menikmatinya, karena puncak dingin nya itu biasa berlangsung antara 2 sampai 4 minggu saja dan selebih nya sejuk-sejuk empuk (Huayoo…. bayangin apaan…. xixixi…) asal bukan di musim panas. Udara disini juga sangat bersih dan segar karena tingkat polusi yang rendah bahkan sangat rendah ditambah banyak taman hijau dimana-mana dan pohon-pohon rindang juga banyak bertebaran di kota ini, dan efek nya banyak burung-burung liar yang sangat merdeka berkeliaran, berkicau ria dan buang ee dimana-mana. Sempat suatu hari saya bilang ke istri saya “ini burung-burung bahagia amat ya disini, kalau di Jakarta mah sudah antara berakhir di kandang di pasar burung dan dijualin atau berakhir di atas piring ditemani seonggok sambel terasi dan lalap buat jadi lauk”. Bahkan di daerah CBD saja termasuk banyak pohon loh, dan ini pohon beneran bukan pohon plastik kaya yang (dulu) ada di Jakarta sana hasil kreasi Gubernur kreatif tiada tara.

Air disini juga sangat bersih dan kualitasnya sangat bagus sampai bisa kita minum langsung dari keran hehehe… rasanya mungkin akan agak aneh bagi kalian yang tidak biasa, tapi buat kami rasanya jauh lebih segar dari air galon mana pun yang pernah kami coba di Jakarta sana. Jalanan disini pun sangat bagus pengaspalan nya dan pemerintah sini setiap tahun berusaha menjaga dan meningkatkan kualitas jalanan termasuk berusaha memindahkan jalanan kereta agar bisa melewati tunnel sehingga tidak menambah kemacetan karena buka tutup pintu kereta saat akan lewat sekaligus mengurangi resiko terjadinya kecelakaan antara pengguna jalan dengan kereta. Pembaharuan dan peremajaan alat-alat transportasi umum juga terus dilakukan seperti misalnya mengganti tram, bus atau gerbong kereta yang sudah tua dengan yang baru setiap tahun, dan juga peningkatan pelayanan umum dan masih banyak lagi lainnya membuat pajak yang diambil dari penghasilan saya terasa layak dan rela karena sebagian besar kembali kepada kami lagi dalam bentuk lain.

Selain itu, tingkat keamanan yang cukup baik juga menjadi faktor lain yang kami nikmati disini, selain perlindungan kesehatan dari pemerintah melalui kartu Medicare yang hanya bisa dimiliki oleh Penduduk Tetap (pemegang visa PR) dan warga negara. Medicare itu seperti BPJS kalau di Jakarta, bedanya kalau BPJS bisa milih ikut atau ga (sekarang mungkin semua diharuskan) disini tidak peduli semiskin atau sekaya apa semua akan mendapatkan kartu ini. Bedanya lagi adalah Medicare dibiayai oleh para penduduk produktif (dalam artian orang-orang yang memiliki penghasilan diatas garis penghasilan kena pajak) yang dipotong langsung dari penghasilan mereka melalui pajak untuk ikut menanggung orang-orang yang sudah tidak atau belum produktif seperti manula, anak-anak dibawah umur, dan para pengangguran hahaha… jadi semua yang berhak mendapat pelayanan kesehatan akan tetap ditolong saat sakit terlepas dari dia bayar iuran atau tidak. Pelayanannya sendiri pun tidak seperti BPJS loh… tidak ada istilah kamar penuh atau Medicare tidak berlaku atau platform abis selama bukan berhubungan dengan kesehatan Gigi (yang satu ini tidak di cover dalam medicare karena lebih banyak ke kosmetik, umumnya kami mengambil asuransi pribadi untuk mengcover biaya dokter gigi yang memang aduhai mahal nya dan untuk anak-anak di bawah umur 14 tahun mendapatkan subsidi dari pemerintah setiap 2 tahun), jadi setiap yang berhak dan sakit akan tetap dilayani dan pelayanan nya pun ga dibeda-bedain antara yang pakai medicare atau private insurance, tetap dijaga level profesionalnya. Medicare sendiri juga meng-cover tes darah dll, jadi selama kita mendapatkan referensi dari dokter umum kita bisa tes darah gratis, dan disini sangat dianjurkan kita tes rutin setidaknya 2 kali setahun (kami hanya rutin setiap tahun hahaha… males ya….). Oh ya, kenapa dokter umum, karena disini kita tidak bisa langsung ke dokter spesialis tanpa surat rujukan dari dokter umum, bisa sih kalau mau… tapi ya silahkan rogoh kocek sendiri dan itu sangat tidak murah untuk ukuran saya yang pas-pas-an ini, itulah kenapa banyak orang walaupun sudah ada Medicare masih mengambil asuransi kesehatan pribadi untuk bisa motong antrian dan langsung ke spesialis, dan tentunya semua ada platform nya hahaha… toh pada akhir tahun pajak biaya asuransi pribadi bisa diklaim ke pemerintah untuk mengurangi bagian jumlah pajak yang dipotong untuk medicare, fair enough though.

Social welfare, ini nih yang sebetulnya menolong sangat tapi juga tidak mendidik sangat. Menolong karena untuk mereka yang single parent terutama perempuan yang harus banting kaki, tangan, sampe kepala (hahaha… lebay ya…) untuk menghidupi keluarga mereka bisa lebih ringan bebannya karena ada bantuan dari pemerintah setiap 2 minggu yang di transfer langsung ke rekening mereka, selain itu juga sangat membantu orang-orang yang tertimpa masalah seperti kena pecat dll untuk bisa melanjutkan kehidupan sementara mereka berusaha mendapatkan pekerjaan baru, dan masih banyak lagi yang sifatnya bisa membantu warga di negara ini baik warga negara maupun penduduk tetap untuk bisa melewati masa-masa sulit dengan lebih mudah saat berkaitan dengan uang. Yang tidak mendidik adalah hal seperti ini juga sering kali disalah-gunakan oleh mereka-mereka yang otak nya ada di ujung jempol kaki dan terbungkus kaos kaki bertahun-tahun sampai bukan bau terasi lagi tapi sudah menjadi terasi itu sendiri dengan memilih jadi pengangguran baik itu menjadi gelandangan atau tidak, dan mengandalkan tunjangan dari pemerintah untuk bertahan hidup. Loh pengangguran dikasih duit juga? yup… walaupun setiap 2 minggu kita harus lapor ke centerlink untuk membuktikan jika kita memang aktif mencari kerja tapi masih belum beruntung, masalahnya sesulit apa sih membuktikan hal itu, kirim saja cv 20 biji setiap 2 minggu dan kasih liat buktinya. Ya balik lagi ya ke diri masing-masing, untungnya… (masih ada untung ternyata….) orang-orang bermental seperti itu ada tapi tidak banyak, dan kebanyakan karena salah jalan seperti berjudi terlalu serius sampai bangkrut… krut… krut… dan tinggal bakut… atau karena terjerumus ke obat-obat an terlarang dan keenakan berada di zona itu sampai lupa diri hehehe… Masalahnya social welfare ini juga datang nya dari pajak yang kita bayar huaa… kesel deh saat tau dipake untuk orang-orang ga tau diri seperti itu, tapi…. balik lagi sih, kasian juga kalau ga ditolong kan…. apalagi musim dingin dan mereka ga bisa makan, ga tega juga bayangin nya, tau ah gelap… terserah saja selama ga sampai ganggu hidup kami, sebodo amat lah…. hehehe….

Hidup di negara maju seperti Australia, setelah saya melewati masa-masa tidak mengenakan di awal kepindahan kami kesini, sebetulnya sangat nyaman ya… adanya perlindungan kesehatan yang membuat kita tidak was-was kalau sakit bakalan abis berapa dan sebagainya karena semua di support oleh pemerintah melalui pajak yang mereka ambil, lingkungan yang lebih aman dan serba teratur dan tertib, pelayanan masyarakat yang tidak mempersulit, air dan udara yang bersih, level pendidikan yang bagus dan terjangkau untuk semua lapisan masyarakat, tidak macet gila seperti di Jakarta, pelayanan umum yang bagus seperti transportasi umum, pelayanan kesehatan, tingkat korupsi yang rendah dan masih banyak hal lainnya membuat kami sangat menikmati hari-hari kami disini saat ini, dan membuat saya semakin tidak menyesali segala kemapanan yang sudah saya lepaskan untuk mengejar impian ini, tapi ini saya loh ya… anak dari kota kecil bernama Tegal yang berusaha go international halahh… norak…. hahaha….

Migrasi ke negara lain layak nya seperti pohon yg dicabut paksa bersama akar-akarnya dan dipindahkan ke tanah lain. Meninggalkan tempat dimana kita tumbuh besar dan berakar selama 37 tahun itu tidak semudah kalian masak indomie rebus pake telor. Banyak sekali yang harus di kompromikan dan banyak sekali yang harus berani dikorbankan, sekedar keberanian saja tidak cukup walaupun semua diawali dari berani beranjak dari zona nyaman terlebih dahulu. Migrasi ke negara lain itu bisa dikatakan bahkan punya uang banyak pun tidak banyak menolong jika tidak keluar dari diri sendiri tekad nya karena tidak semua bisa di obati dengan uang kan. Dan sekarang, pohon itu mulai ditanam di tanah kangguru dan akar-akar nya kembali berjuang mencari sari-sari kehidupan agar pohon nya bisa tegak kembali. Perjuangan mencari sari-sari kehidupan yang membutuhkan dada yang lapang selapang-lapangnya, yang membutuhkan pengendalian diri yang sebaik-baiknya, yang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, yang membutuhkan kemampuan kompromi yang tinggi, yang membutuhkan doa dan iman yang kuat, dan terakhir membutuhkan kerjasama antara suami dan istri yang kokoh dan erat.

Setelah sejauh ini, dan melewati perih getir yang tidak tertuliskan dalam kata-kata (puitis ga…), saya bisa merasakan jika semua itu layak dipertaruhkan, semua jalan yang tidak mudah itu (yang sampai sekarang pun belum bisa dibilang mudah walaupun sudah tidak sesulit dulu sih) benar-benar memberikan satu level kualitas kehidupan yang tidak pernah terlintas di benak saya mampu kami rasakan dalam hidup kami, dan tidak pernah terpikir bagi saya bisa kami raih di Jakarta. Sebuah kualitas kehidupan yang tidak akan bisa terbelikan oleh apapun selain sebuah pengorbanan yang saya tuliskan diatas tadi. Sebuah kualitas kehidupan yang tidak diukur dari segi materi semata.

Setidaknya saat ini saya merasa (merasa loh yaa….) jika saya (mungkin) sudah berhasil membuktikan jawaban saya ke pertanyaan mendiang Papa, 6 minggu sebelum dia meninggalkan kami semua selamanya. Saat itu saya sempat bertanya kepada dia “Papa sebetulnya takut mati ga sih?”, yang kemudian dia jawab sambil tersenyum “Papa ga takut mati, karena semua orang pasti akan melalui jalan ini. Papa lebih takut bagaimana kalian nanti saat Papa tinggal pergi”, sambil tersenyum (dalam kegetiran karena saya tahu saat itu jika waktu dia tidak lama lagi dan saat dia benar-benar pergi hidup jungkir balik sudah dipastikan ada didepan mata) saya menjawab “Seperti yang sering Papa ajarkan, saya tidak akan menyerah begitu saja, dan Tuhan ga akan membiarkan kita mati di tengah jalan”. Beliau kemudian menatap saya dalam hening kemudian tersenyum dan mengangguk lemah. Menurut saya secara pribadi, membuat orang tua kita bangga tidak semata-mata dengan menjadi orang kaya atau bisa punya rumah segede gaban (segede gaban itu segede apaan sih???) atau punya mobil ter-mewah, tidak kawan… tapi cukup dengan bisa menjadi orang yang bisa bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang kita ambil dan tetap tidak menyerah dalam mengejar cita-cita dan berani keluar dari cangkang yang disebut zona nyaman, terlepas dari berhasil atau tidak, itu sudah cukup untuk membuat orang tua kita merasa tidak sia-sia membesarkan kita dengan susah payah. Karena pada akhirnya, hidup itu ya tidak jauh dari kata berjuang dan bertanggung jawab. Oke…. oke… tidak semua orang tua berpikir seperti itu, tapi saya yakin sebagian besar berpikir seperti itu. Dan saya yakin Papa sedang tersenyum diatas sana melihat apa yang sedang saya coba raih sambil mungkin geleng-geleng kepala melihat saya saat sedang culture shock dan selalu ingin menyerah, saya akui ketangguhan saya belum di level Papa walaupun darah rantaunya mengalir deras di dalam nadi saya. Apapun itu, semoga saya tidak sampai mengecewakan beliau dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip hidup yang sudah beliau ajarkan.

Duh kayanya ga bisa semua dalam satu artikel ya ga… karena ternyata masih banyak yang mau saya tulis disini dan… uannjriittt… sudah sampai 7.068 kata, pantesan jari saya pegel sangat hahaha….

Udahan dulu ahh… kayanya ini tulisan terpanjang saya selama aktif nge-blog deh, semoga ga bosen ya bacanya, sampai ketemu di tulisan berikutnya yang semoga ga sepanjang ini. Selamat memasuki bulan April kawan, sebentar lagi kita akan menyambut Paskah.

Minggu Terakhir

Yey… masuk minggu terakhir, ga terasa ya tau-tau sudah jumat aja.

Setelah minggu lalu lega luar biasa setelah mendengar kabar jika saya akan diberikan offering, senin lalu benar-benar tanda-tangan kedua pihak dan sah deh…

Sebetulnya saya secara pribadi tidak benar-benar ingin meninggalkan apa yang sedang saya jalani, tapi keadaan politik yang tidak memadai lagi membuat saya menikung tajam saat di pengkolan. Setelah nikung eh… malah lebih lega dan tenang, maksudnya saya ya, kalau mereka sih sedang kelabakan karena semua jadwal interkonek dan lain sebagainya langsung ditahan dan dibatalkan karena orang baru yang mereka “percaya” ternyata tidak sesiap yang saya bayangkan.

Yang aneh adalah kenapa mereka harus menahan jadwal, karena mereka sendiri yang bilang ke saya “kita disini tidak butuh orang teknikal yang kuat karena semua akan kita outsource kan ke vendor”. Lah Bos… sebisa-bisanya lu buka pintu gerbang buat orang lain tetep aja butuh orang dalem yang ngarahin kale… bingung saya dengan jalan pikiran mereka.

Tapi ya sudahlah… itu urusan mereka, toh saya sudah berusaha kan, dan saya juga ga mau hidup saya dikendalikan mereka. Semua keahlian ada di kepala saya, ya saya cari jalan lain saja karena saya yakin ga semua tempat seperti itu.

Dan akhirnya dapet juga hehehe… Puji Tuhan, ga ngira sebetulnya bisa dapet secepet ini, emang sudah jalannya kali ya… Tuhan memang luar biasa kalau sedang berkarya.

Ga Afdol kalau ga dirayain ya ga… pulang-pulang bukan red wine lah, buat menyambut weekend yang indah di depan mata.

Tinggal satu minggu lagi dan saya akan bergabung ke team IT salah satu sekolah Katolik terbesar di Negara Bagian Victoria. Wew… mantap ya, masih setengah ga percaya sebenernya.

Dan di depan kantor ada 1 Gereja – Gereja Santo Petrus, lebih mantap lagi dah karena pas istirahat bisa hening sebentar buat mendekatkan diri ke Tuhan, apalagi kalau sedang galau gemulau kan, jam kerja yang seminggu hanya 35 jam sudah termasuk istirahat siang 1 jam setiap hari juga membuat paket yang saya terima terasa lebih besar dan berharga, apalagi ini posisi permanen. Dan yang satu ini juga diluar dugaan, karena saat ditanya minta berapa saya sudah asal sebut aja dan langsung direspon “tinggi sekali…, tapi kita mau ketemu kamu dulu” eh… ujung-ujung nya dikasih juga hehehe…. rejeki memang ga kemana.

Selamat menikmati akhir minggu kawan, jangan keseringan jadi cebong dan kampret karena apapun hasilnya mereka yang kalian dukung akan tetap berteman dan menjalani hidup kok setelah pilpres. Sruput dulu wine nya biar waras…