Penyesuaian sisi lain

Besok, akan menjadi jumat ke 4 saya bekerja yang artinya genap 1 bulan saya bekerja.

Bekerja di Australia membuat saya menghadapi banyak penyesuaian. Dimulai dari penyesuaian sebagai newbie padahal di Jakarta suara saya cukup di dengar hahaha… ahh… itu ga penting lah… 

Lalu ada juga penyesuaian cara kerja, disini kerja tidak seperti di Jakarta (atau mungkin hanya di tempat saya saja ga tahu juga sih…) yang bisa sambil curcol, baca detik.com, chatting, bahkan main game! Disini kerja ya kerja, angkat telp dan jawab WA hanya saat istirahat siang atau saat ada kebutuhan mendesak (asal jangan dikit-dikit mendesak ya…). Tapi, setelah itu diluar jam kerja ya waktu untuk keluarga dan pribadi, ga diganggu kalau tidak (sekali lagi…) mendesak hahaha…

Nah… ternyata semua hal diatas pun belum cukup, saya masih harus menyesuaikan diri untuk menggunakan semua features dan cara yang ada di system. Jadi gini, dulu di Jakarta sebagai Network Engineer kebetulan cara kerja nya adalah bawa kabel console kemana-mana, lalu konfigurasi menggunakan kabel console yang kadang karena saya malas pindah-pindahin kabel dari 1 benda ke benda lain saya buat networking sederhana jadi saya tinggal telnet sana telnet sini. Nah… disini hampir 99% menggunakan remote, baik itu desktop remote atau team viewer atau menggunakan kaseya (sebuah software helpdesk). Mateng dah… saya kan ga pernah jauh-jauh dari hyper terminal dan console. Ya… berasa seperti anak bayi sih… jadi banyak nanya, diketawain lah…, dicibir lah… ya mau gimana lagi namanya juga baru pakai hehehe… terima dan telen saja untuk kebaikan diri sendiri kedepannya. Yang pasti kalau tugas nya seputaran collaboration, monitoring dan networking saya akan buat mereka sulit mengalahkan saya (ciee… nyombong nih ceritanya). Dannn… saat system mereka sudah saya kuasai suatu hari nanti, siapa yang akan lebih luas kemampuannya? Hayoo…

Ya… apapun itu, disini saya harus melakukan banyakkkk… penyesuaian yang tidak mudah, baik di budaya, di cuaca, di jam, di pekerjaan, di bahasa, di… semua hal!

Dan, untuk bisa menyesuaikan diri dengan cepat hanya ada 1 dinding yang harus saya robohkan, yaitu EGO!

Semoga semua ini cepat berlalu dan saya bisa mempelajari apapun yang baru ini dengan cepat. Yang pasti, semua ini tidak akan sia-sia dan tidak akan pernah saya biarkan menjadi sia-sia.

Advertisements

Jumat ke 3

Setelah minggu lalu pusing setengah nungging karena ngebut mempelajari semua hal mengenai system telephony baru yang dipercayakan ke saya untuk di upgrade sekalian dibenahi semua konfigurasinya, pagi tadi akhirnya saya diminta untuk mempresentasikan system tersebut di company meeting yang diadakan setiap jumat pagi.

Ada rasa puas karena bisa berkontribusi, walaupun terus terang hal ini pun masih membuat saya merasa belum melakukan apapun karena bidang utama yang menjadi bisnis perusahaan ini masih belum sepenuhnya saya kuasai. Belum lagi kendala budaya kerja yang sedikit banyak berpengaruh dan membuat saya harus melakukan banyak penyesuaian terutama di “gaya” baik kerja maupun sosialisasi dari orang-orang disini.

Belum lagi saya yang cukup diperhitungkan saat di Jakarta jadi merasa seperti anak bawang saat disini, ditambah lagi 2 keahlian utama saya yang menurut saya tidak mudah untuk dikuasai bukan hal yang dibutuhkan saat ini, ya… saya memang sudah seharusnya siap dengan hal ini karena saat di awal pun sudah diberitahu jika saya harus mempelajari hal baru. Maklum saya masih manusia.

Hahh… semua ini ternyata memang tidak mudah, ya… saya pun tidak bilang ini akan mudah. Banyak hal terlepas dari hal teknis yang harus saya sesuaikan. Hal-hal abstrak tidak berbentuk tapi berpengaruh seperti hal sederhana yang disebut “interaksi”. Cara interaksi yang biasa saya lalui dengan segala “unggah-ungguh” nya selama di Jakarta, tidak berlaku disini. Kadang jadi kikuk dan serba salah sendiri, ya… memang semua butuh waktu dan proses.

Sulit atau sulit semua ini harus bisa saya atasi, demi kedua anak saya, demi keluarga saya, demi istri saya. Saya harus bisa membuat impian saya yang mulai terwujud ini agar bisa mencapai garis akhir yang sebetulnya nun jauh ada di cakrawala sana. Hemm…

Hal-hal baik yang saya lihat setiap hari seperti tertib nya pengguna jalan, budaya malu yang masih mengakar kuat, bersihnya kota ini, hijaunya tempat tinggal dan jalan yang harus dilalui saat kerja, segarnya udara dan air disini, pelayanan kesehatan yang sangat profesional walaupun gratis, dan sekolah yang luar biasa saat harus berhadapan dengan anak kecil membuat saya memiliki banyak alasan baik untuk tidak menyerah dan tidak menyerah.

Ya… saya tidak boleh menyerah, tidak boleh menyerah pada diri saya. Saya harus bisa mengalahkan diri saya sekali lagi seperti yang sudah sudah…

Saya harus bisa… harus bisa…