Karena Dia.. dia.. dan mereka

Hari ini, saya memulai hari baru di tempat kerja baru.

3 bulan penuh perjuangan untuk berbagai penyesuaian yang sangat tidak mudah, baik di budaya, cuaca dan yang paling parah dalam pekerjaan karena banyak sekali yang kurang sesuai.

Dalam kebimbangan… sebuah Novena pun kami panjatkan, kami minta kekuatan untuk bisa melalui semua ini dan kami meminta ada jalan keluar untuk masalah-masalah kami.

Tidak sampai 9 hari Novena kami terjawab, sungguh luar biasa.

Lalu… apakah ini sudah menjadi jawaban untuk semua hal? Belum tentu… tapi saya percaya jika ini setidaknya sebuah jalan lain yang sudah dibuka atau ditunjukan dalam pencarian saya. Yang perlu saya lakukan saat ini adalah melakukan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin dengan semua keahlian yang saya miliki.

Diluar itu, saya beruntung memiliki dia, dialah yang selalu menopang semangat saya selama 3 bulan ini, 3 bulan yang sangat tidak mudah untuk saya, yang membuat saya hampir menyerah dan pulang.

Saat ini… saya mulai mengerti… arti dari sebuah tanaman yang dicabut paksa sampai ke akar-akar nya lalu dipindahkan ke tanah baru dan harus berjuang keras menerobos tanah baru yang kadang bertemu tanah keras, bahkan batu untuk bisa menahan derasnya angin yang berhembus memainkan batang dan daun diatasnya hingga akan merobohkannya.

Migrasi itu bukan hal mudah!!!

Saya merasa mulai berasimilasi, taman, jalan, patung, simbol, gedung dan lain sebagainya yang dulu adalah hal baru, begitu mewah dan indah bagi saya, kali ini sudah mulai terlihat biasa dan seharusnya. Saya mulai menjadi penduduk lokal, yang menjalani kehidupan disini berjuang mencari setitik asa demi cita-cita untuk kedua putra saya dan keluarga kecil saya. Demi cita-cita dan impian saya yang saya percaya bisa memberikan sesuatu yang lebih baik bagi anak-anak kami.

Semua ini bisa saya lalui karena Dia.. dia.. dan mereka..

Dia, yang begitu Maha kuasa, begitu Maha segalanya. Yang tidak pernah meninggalkan saya dan selalu mendengarkan doa saya kapanpun saya butuhkan. Dia adalah Bapa di surga yang begitu baik dan bijaksana. Dia adalah Bunda Maria yang begitu bijaksana. Dia adalah Sang Putra yang mati di kayu salib untuk kita, dan Dia adalah Roh kudus yang menuntun iman kita.

dia… yang begitu tegar, begitu kuat menopang punggung saya setiap saya terpuruk, bahunya yang selalu siap untuk tempat bersandar menitikan air mata saat hati saya sedang sangat gundah, dia yang begitu lembut dan tegas membisik kata-kata penyemangat, jika saya bisa, saya pasti bisa, dan saya harus percaya jika saya bisa. Yang, tidak akan meninggalkan saya apapun yang terjadi dan akan mendukung jika pada akhirnya perjuangan yang saya lakukan berakhir pada kepulangan kembali ke Jakarta, sebuah jalan yang dia yakin tidak akan terjadi karena dia percaya saya pasti bisa melalui semua ini. Dia yang selalu mengingatkan akan Tuhan, dan hidup kita tidak ditentukan siapapun dan apapun tapi oleh kita sendiri dan Tuhan. Dia… adalah istri saya, wanita kuat dibelakang saya yang tidak pernah sekalipun meragukan saya dan mempertanyakan keputusan-keputusan gila saya walaupun saya percaya dia pun pasti berdebar-debar saat saya mengatakan ingin menempuh jalan ini demi kedua putra kami. Terimakasih Tuhan untuk seorang wanita istimewa ini…

Dan mereka, kedua anak saya, yang menjadi alasan saya meninggalkan segalanya yang sudah saya raih di Jakarta, karena saya ingin memberikan apapun yang terbaik yang bisa saya berikan, dan menyiapkan jalan bagi mereka dan menyerahkan sepenuhnya kepada mereka di kemudian hari bagi masa depan mereka. Mereka bebas untuk memilih.

Saya… hari ini bisa berada di titik ini… apapun yang terjadi dalam prosesnya… pahit dan manis… air mata dan tawa… jatuh dan bangun… keberhasilan saya melewati semua ini karena Dia.. dia.. dan mereka…

Advertisements

Tuhan itu nyata…

Tuhan itu nyata…

Saya jatuh entah sudah berapa kali, tidak terhitung… sakitnya? Tidak terkatakan…

Saya berjuang berusaha bangkit pun sudah berkali-kali, tidak terhitung… capenya? Tidak terlukiskan…

Saya termasuk manusia beruntung, setiap saya terjatuh selalu ada seseorang yang menopang semangat saya untuk bangkit, yaitu pacar saya yang kemudian menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya… Seorang wanita yang kuat dan tegar… mau susah, mau berusaha dan mau bersabar…

Selain teman-teman saya, yang juga begitu sabar mau membantu mencarikan jalan keluar, mendengarkan, menjelaskan, dan memberikan semangat…

Dan… saya juga beruntung, setiap saya berada dalam kesulitan, doa saya selalu didengar oleh-Nya, sebagian besar novena saya selalu terkabul, walaupun tidak terkabul dengan cepat, tapi pada akhirnya sebuah jalan bisa saya temukan…

Terkadang, saya merasa malu, sering terjatuh dan sering berusaha bangun, dan sering juga merasakan kehadiran Tuhan ditengah jalan keluar yang saya temukan, tapi saya masih sering merasa kawatir dan mempertanyakan keberadaan Nya.

Hari ini, saya menyadari… Yesus sudah terjatuh berulang kali dibawah salib Nya, tapi Dia tidak menyerah, walaupun akhirnya Dia harus melalui penderitaan yang teramat sangat tidak manusiawi, tapi Dia melewatinya dan Dia menang. Dia membuktikan jika Dia tidak pernah menyerah untuk orang-orang berdosa seperti saya, orang yang masih dan selalu mempertanyakan penyertaan Nya.

Novena saya selama pra paskah, tepatnya saat minggu palma, terkabul untuk kesekian kalinya. Saya mendapatkan jalan, dan tidak lama lagi akan menjalani pekerjaan baru dengan tugas yang lebih jelas dan sesuai dengan keahlian yang saya miliki, walaupun semua itu tetap tidak menjamin hasil akhirnya akan seperti apa, tapi setidaknya saya diberikan jalan untuk mencoba dan berusaha. Dan, mungkin saya ditolong untuk suatu hal yang mungkin kurang baik untuk saya, siapa yang tahu… hanya Dia.

Dengan mendapatkan pekerjaan baru yang saya rasakan bisa lebih baik ini, walaupun harus menempuh perjalanan yang tidak singkat, saya mulai merasa bisa melalui culture shock yang selama ini saya rasakan. Entahlah… rasa percaya diri untuk menatap masa depan untuk kedua putra saya agar bisa tumbuh besar disini mulai muncul lagi, dan semoga bisa semakin besar dan besar…

Tuhan itu nyata…

Selamat menyambut paskah, semoga semangat dan berkah paskah menyertai kita semua seperti menyertai kami saat ini…

My Culture Shock

Culture Shock, sebuah istilah yang bisa dibaca disini, dan bisa dicari di google sana sampai seabrek-abrek informasinya.

Tapi, saya mau bercerita apa itu culture shock dengan versi saya, terutama yang saya alami. Sebuah perjalanan yang tidak mudah dan penuh perjuangan, terutama perjuangan melawan diri sendiri, sulit Bos!

Pindah ke Benua Selatan, seyogyanya sudah pernah saya jalani setahunan lalu di 2015. Saat itu saya mengalami serangan culture shock di antara bulan kedua ke bulan ketiga. Benar seperti yang dikatakan di artikel diatas jika kita akan mengalami masa bulan madu, itupun yang saya rasakan dulu dan sekarang.

Kali ini, seharusnya saya lebih siap siaga, itupun saya masih mengalami serangan culture shock untuk kesekian kalinya. Terus terang mengalami culture shock itu ga enak bingitss… ada rasa campur aduk yang tidak bisa saya gambarkan dengan apapun.

Yang paling awal saya rasakan adalah culture shock waktu dan cuaca. Tapi kedua hal ini masih bisa saya tengahi dengan mencoba menyesuaikan jam biologis dan kebiasaan menerima cuaca sejuk nan dingin disini. Dan semua berjalan baik sampai hari ini, walaupun kadang masih rada kaget juga sih.

Lalu saya juga mengalami culture shock makanan, nah… untuk yang satu ini, untung istri mau bersusah payah masak ini itu sampai bisa dijadikan bekal buat makan siang saya setiap kerja. Ya lumayan lah, selain hemat bisa mengobati sedikit rasa rindu walaupun tidak sampai 70% makanan di Jakarta sana tersajikan di meja makan.

Selanjutnya culture shock bahasa, terus terang saya lebih suka berbahasa Indonesia daripada Inggris. Ada rasa bangga saat berbahasa Indonesia dan percaya diri, ya iya lah… bahasa Ibu geto loh… nah…. disini semua pakai bahasa Inggris, haduh… bukan saya ga mau, tapi selain jarang pakai saya juga belum percaya diri pakai nya. Oke… oke… harus bisa karena mau hidup disini, but come on… saya kan lagi culture shock !!! Dan masih banyak culture shock lainnya.

Baiklah… sebetulnya yang paling parah culture shock di pekerjaan sih.Kenapa begitu, karena saya mengalami double shock disini. Pertama saya mengalami culture shock karena beberapa hal, bedanya skill yang lebih dibutuhkan disini dimana pernah saya tuliskan jika 2 skill utama saya tidak begitu terpakai saat ini (dan saya berdoa juga berharap agar dimasa depan 2 skill saya bisa berkontribusi maksimal) membuat saya merasa tidak bisa berkontribusi banyak, baiklah beda di Jakarta beda di Australia, tapi entah kenapa setelah 1 bulan saya jadi merasa kok ter-asing-kan, bayangkan kalian yang cuma ngerti bikin sayur asem berada di tengah-tengah orang yang sedang sibuk dan diskusi tentang masakan padang. Oke… oke… saya harus belajar dan mempelajari hal baru itu, saya akan lakukan itu semaksimal dan secepatnya, walaupun untuk mengejar hal yang sama seperti 5 tahun lalu saat saya masih seorang engineer tidak akan sama dengan saat ini dimana saya sudah masuk level managerial selama 4 tahun. Belum lagi bicara komunikasi yang 99% menggunakan bahasa Inggris, kebiasaan kita yang dulu apa-apa tinggal nyerocos pakai bahasa Indonesia, lalu harus switch ke bahasa lain menjadi tantangan tersendiri, dan sebetulnya itu hal bagus karena kita dipaksa pakai dan langsung practice di lapangan.

Baiklah itu bukan alasan, apapun itu saya harus mengerti jika disini saya harus open minded dan mau menerima semua hal. Ya… semoga culture shock ini cepat berlalu, karena saya merasa semua ini terjadi karena banyaknya penyesuaian yang harus saya lalui.

Kedua, post power syndrome, ya… itu mungkin sedang terjadi pada saya, sebuah sindrom yang terjadi karena dulu saya berada di posisi atasan, memiliki power, sibuk banget, bisa menentukan banyak hal bahkan boleh tidak nya sebuah design disampaikan kepada pelanggan, tiba-tiba disini semua itu dilepaskan. Saya bukan orang yang gila jabatan, tapi cara kerja yang dulu sudah auto dan sedikit supervisi mendadak berubah menjadi under supervisi membuat saya jadi kagok dalam bekerja. Saya jadi berada di posisi serba salah, banyak tanya takut dibilang bawel dan lambat, tidak tanya di tegur terus karena gaya kerja dan respon ke customer disini ternyata punya gaya sendiri yang jujur bagi saya terlalu ribet, tapi ya beda budaya kan… dimana bumi dipijak ya disana atap dijinjing.

Walaupun saya juga sudah menyelesaikan beberapa proyek selama sebulan, proyek collaboration ehm… ya bisa dibilang collaboration walaupun saat ini masih dipakai teknologi voice nya saja, karena system ini sebenarnya bisa video, chat dan bisa sampai ke mobile device. Selain itu ada beberapa proyek kecil mengganti cisco router dengan cyberoam dan mengaktifkan koneksi VPN IpSec, migrasi link VPN dari 1 provider ke provider lain, membuat multiple SSID untuk customer yang ingin punya koneksi guest mode dan troubleshooting jaringan customer yang mengalami drop out sampai ke kabel-kabel nya (karena saya dulu juga tarik kabel dan terminasi, apalagi saat menjadi engineer Nortel jadi lumayan lah ada pengalaman yang bisa digunakan).

Entahlah… saya merasa mungkin ini karena saya sedang berada dalam keadaan culture shock dan syndrome posisi.

1 harapan saya saat melihat website dari 2 perusahaan lain (karena perusahaan saya adalah hasil merger dari 3 perusahaan) adalah mereka bisa mendapatkan banyak proyek dibidang networking, wireless, dan collaboration karena dengan begitu maka saya bisa meningkatkan kemampuan saya lebih baik lagi di bidang yang sudah saya rintis dari dulu. Apapun itu, keadaan ini harus bisa saya lalui… dan saya harus bisa mengejar skill di bidang Microsoft walaupun hanya dasar dulu.

Tuhan sudah membuka jalan bagi saya untuk impian mustahil yang sudah saya rancang, mungkin semua ini hanya pikiran dan perasaan saya saja yang merasa kurang banyak berkontribusi dan berguna di pekerjaan ini, padahal atasan saya justru berpikir saya adalah salah satu kartu As untuk mengembangkan bisnis mereka ke arah yang lebih lebar dan luas lagi. Mungkin semua ini hanyalah my culture shock yang harus bisa saya kalahkan dan lalui.

Jumat ke 4

Lama kelamaan judul blog saya bisa-bisa berubah menjadi jumat dan jumat hahaha…

Entahlah, ada rasa ingin menulis setiap jumat tiba, tapi bingung ingin diberi judul apa, jadi diberi judul jumat kesekian saja.

Jumat ini, entah kenapa ada 1 perasaan yang tiba-tiba datang dan menyelinap disela-sela relung hati saya dan membuat saya merasa…. ya begitulah…

Mungkin ini yang disebut dengan¬†culture shock¬†atau apapun itu bahasa dan istilah nya. Yang pasti, beribu rasa bercampur menjadi satu… dan membuat saya berpikir mungkin…

Ya… mungkin nanti saat sudah tiba saatnya… entahlah…

Kadang apa yang kita inginkan agar bisa lebih cepat menuntut kita untuk bersabar…

Inilah hidup… tidak ada yang bilang hidup itu mudah, tidak ada yang bilang semua ini akan mudah…

Karena kita sebagai manusia sering dan cenderung membuat segala hal menjadi tidak mudah…

Seperti menulis, tidak mudah kawan, karena kita membuat nya tidak mudah…

Selamat hari Jumat dan menyambut akhir pekan.