Berburu pekerjaan di Melbourne

Kali ini saya akan coba menulis ulang sebuah topik yang sudah pernah saya tulis disini beberapa waktu lalu tapi lebih ke pendekatan manusiawi karena setelah saya baca-baca ulang tulisan yang lalu kok rasanya pendekatannya lebih ke keadaan pribadi saya dan lebih menekankan doa untuk mendapatkan pekerjaan di Australia. Saya tidak sedang berusaha mengatakan jika kita tidak perlu berdoa ya… jadi jangan salah paham, kita tetap harus membawa apapun keinginan kita dalam doa selama kita masih orang beriman, itu hal yang saya percaya, jadi yang kali ini ingin saya tuliskan akan lebih kepada tips dan triks nya yang sejauh ini sudah saya dapatkan selama berburu pekerjaan disini agar lebih real dan mudah-mudahan bisa menjadi panduan bagi kalian yang baru saja mendarat di tanah kangguru dan ingin membangun kehidupan disini. Sharing ini lebih kepada mereka yang memang datang dengan keinginan menetap ya, jadi memang sudah memegang visa PR (Permanent Residence) agar lebih klop dengan keadaan saya yang memang menulis ini dengan latar belakang visa PR. Mencari pekerjaan profesional atau biasa disebut decent job atawa kerja kantoran itu sulit-sulit-mudah, yang paling sulit adalah bagaimana menembus pasar tenaga kerja disini. Setelah kita berhasil mendapatkan pengalaman kerja disini setidaknya minimal 1 tahun, selebihnya relatif lebih mudah saat kita mau pindah kerja ke tempat lain. Nah, kali ini saya coba tuliskan apa saja sih yang biasa kita lakukan disini saat mencari pekerjaan.

Pertama mari kita mulai dengan bagaimana menyusun CV model Australia yang sering membuat kita bingung saat pertama kali menginjakan kaki di benua ini, di Australia cara kita menyusun CV bisa dibilang sangat berbeda dengan di Indonesia. Salah satu yang berbeda adalah CV kita tidak membutuhkan foto 3×4 close up dengan background warna tertentu yang biasa kita sematkan di CV kita saat berburu pekerjaan di Indonesia, CV disini juga tidak membutuhkan tempat/ tanggal lahir, agama kita apa, apalagi sampai status kita kawin atau single. CV model Australia lebih menekankan sisi profesionalisme seperti apa dan kemampuan yang kita miliki sampai dimana, sebanyak apa pengalaman yang kita miliki, sampai apa saja portfolio yang pernah kita kerjakan jika ada, seperti misalnya proyek apa saja sih yang pernah kita kerjakan jika kita bekerja di IT. Lalu contoh bentuk CV nya seperti apa? saya coba bagikan cara saya membangun CV saya ya, tapi ini lebih ke IT karena saya bidangnya IT dan ini adalah salah satu model CV saja karena jika kalian melamar pekerjaan di bidang lain mungkin butuh model yang berbeda karena ingat yang saya tulis diatas tadi? harus menonjolkan kemampuan kita di bidang yang kita lamar 🙂 . Coba klik disini untuk melihat model CV yang saya bangun selama di Australia, saya tidak memberikan semua informasi ya seperti nomor mobile phone saya, alamat rumah dll untuk menghindari hal-hal yang kurang diinginkan.

Menyusun CV ini cukup tricky ya karena kita sebisa mungkin harus bisa menonjolkan pencapaian kita yang tentunya harus bisa kita pertanggung jawabkan juga saat sesi interview baik untuk pekerjaan permanent maupun contract, jadi jangan ngarang tapi ga bisa jelasin ya hahaha… untuk semua interview yang sudah saya lewatkan selama berburu pekerjaan IT disini, 80% dari sesi interview saya selalu berakhir dengan whiteboard interview yang artinya saya diminta menjelaskan salah satu proyek yang sudah pernah saya lakukan sambil coret-coret di papan tulis seperti dosen lagi ngajar sembari dibombardir pertanyaan seputar teknis kenapa begini dan begitu baik dari segi desain, teknis maupun dari sisi strategi yang pernah saya terapkan saat menjalankan proyek tersebut, yang juga berarti jika kita berbohong di CV ya akan ketangkep juga pada akhirnya hahaha… Saat menyusun CV juga masukan semua pengalaman kerja baik yang kita dapatkan di Indonesia maupun yang di Australia. Ya memang sih….pengalaman kerja kita di Indonesia sering kali ga dianggap, tapi biasanya mereka juga mau tau kita ngapain aja sebelum migrate. Nah, yang enaknya disini adalah, jika kita tidak bekerja dalam waktu tertentu karena harus jaga anak, atau ada anggota keluarga yang sakit, atau mencoba merintis usaha, atau misalnya sedang jadi relawan, hal itu juga bisa dimasukan kedalam CV dan tidak akan dianggap point minus untuk pengalaman kerja. Hal lain yang beda di Australia adalah ijazah sering kali tidak menjadi acuan tunggal, mereka selain melihat dari sisi ijazah juga melihat dari sisi pengalaman, sertifikat teknis misalnya CCNA dari Cisco System, atau JNCIA dari Juniper, atau MCSA dari Microsoft, dan juga skills yang kita miliki. Jadi biarpun kita lulusan SMA tanpa sertifikat apapun ditangan, tapi kita mengerti, paham dan bisa mengerjakan hal-hal teknis secara mendalam, kesempatan kita sama besarnya dengan mereka yang punya ijazah dll.

Oke, bagian CV kurang lebih sudah ada bayangan lah ya… sekarang kita bahas tempat nyari nya. Nyari apaan ya? ya nyari lowongan lah… 🙂 di Australia umumnya orang mencari lowongan kerja di sebuah platform online lowongan kerja terbesar dan paling terkenal disini, yaitu http://www.seek.com.au, inget pakai .au belakangnya ya… karena kalau .nz itu list lowongan di New Zealand. Nah… di Seek ini juga kita harus fokus kepada tempat pencariannya di negara bagian mana untuk mempermudah kita dalam mencari lowongan kerja yang memang dibuka di kota atau daerah kita tinggal agar tidak perlu waktu lama dalam menuju tempat kerja. Lucu tapi ini memang terjadi sih, di Australia kalau mereka melihat kita tinggal terlalu jauh sama tempat kerja biasanya tidak akan diprioritaskan, jadi usahakan mencari kerja di tempat yang tidak lebih dari 1 jam waktu tempuh perjalanan menggunakan public transport.

Australia kan ada 8 bagian tuh (NSW (Sydney), ACT (Canberra), VIC (Melbourne), WA (Perth), SA (Adelaide), Tazmania (Hobart), QLD (Brisbane), dan NT (Darwin)). Jadi biar lebih gampang kita pilih dulu kita nyari di negara bagian yang mana, tentunya berdasarkan tempat tinggal  ya… tapi bisa juga kalau kalian willing buat pindah ke negara bagian lain (seperti kawan saya pindah dari Sydney – NSW ke Perth – WA) karena dapat pekerjaannya disana ya silahkan nyarinya global saja, Untuk mencari pekerjaan juga nyari nya based on key word, nah… bicara soal key word itu juga penting, jangan nyari kerjaan IT tapi key word nya kitchen hahaha… Di Seek ini juga kita bisa bangun profile kita secara online, profile ini seperti CV online kita, dan pencari tenaga kerja baik perusahaan maupun agen pencari kerja bisa nyari kandidat yang mereka butuhkan berdasarkan key word juga, misalnya skill tertentu. Itu kenapa saat bangun profile di Seek juga perhatikan cara menuliskan skill yang kita kuasai, misalnya saya pakai kata networking, voice, wireless. Bisa juga memasukan  vendor spesifik yang kita kuasai seperti misalnya Cisco. Hal lainnya adalah disarankan kita bikin profile berdasarkan pengalaman kerja juga karena hal itu juga dijadikan acuan key word saat mereka mencari kandidat, saya sering kok dihubungi langsung karena profile saya di Seek, padahal saya sedang ga nyari kerja. Oh ya… jangan lupa untuk upload CV kalian yang sudah kalian buat dengan susah payah tadi di Seek ya, karena selain profile online di Seek itu biasa untuk screening awal dan mereka akan coba download CV kita dari Seek untuk lebih detail nya sebelum mencoba menghubungi kita.

Selain nyari di Seek, saya beberapa kali juga langsung nyari di web nya company atau organisasi yang bersangkutan, tapi ya untuk yang satu ini kalian harus tahu dulu nama tempat atau organisasinya ya… bisa dari kawan atau bisa dari browsing di internet, pakai cara yang satu ini juga sering kali membantu karena beberapa perusahaan mereka punya tempat buat posting lowongan ditempat mereka sendiri (karena kalau di Seek kan bayar hahaha… tapi tenang itu kalau untuk posting lowongan, kalau seperti kita yang hunting pekerjaan 100% gratis kok…). Selain di web company nya langsung, cara lainnya yaitu membangun hubungan dengan para agen. Bisa dengan beberapa cara, bisa dengan kirim CV melalui web mereka, atau bikin profile di web mereka sama seperti Seek gitu, atau bisa juga dengan kenalan saat mereka menawarkan suatu peluang kepada kita, atau bisa juga dengan menambahkan mereka ke jaringan Linkedin kita yang memang sudah ada profile profesional online kita juga.

Nah… selanjutnya adalah data pendukung, seperti apa itu? salah satunya adalah profile online seperti Linkedin, membangun profile di Linkedin sedikit banyak ikut membantu kita promosi, karena system kerjanya seperti facebook yang bisa menambahkan kawan, hanya saja disini lebih ke tujuan secara profesional walaupun beberapa pengguna mulai posting-posting berita sampah seperti politik lah, curhat lah, bahkan ada yang posting CV segala hadehh… itu profile kalian di linkedin sudah seperti CV ngapain posting CV lagi? contoh profile linkedin mungkin bisa lihat punya saya disini, ya walaupun ga sempurna tapi sejauh ini cukup ok sih… karena saya sering di kirim tawaran kerja lewat inbox di Linkedin sama agen ataupun HRD dari perusahaan yang posting pekerjaan langsung. Profile seperti Linkedin ini juga bisa dibuat di Seek atau website dari agen pencari kerja seperti yang saya tuliskan diatas tadi. Sejauh ini saya sih bikin 2 profile saja dan saat ini kedua profile itu dalam posisi “tidak mencari kerja”. Bingung ya itu apa? oke, di Linkedin dan Seek kita memiliki pilihan untuk mengubah pengaturan di profile kita, kalau di Linkedin namanya “let recruiter know you are looking for job” sedangkan di Seek namanya “make your CV visible to recruiter”, kira-kira begitulah kira-kira…

Kalau semua sudah dilakukan, selanjutnya adalah semangat pantang menyerah, ini penting loh… karena menembus pekerjaan di tanah Kangguru ini ga gampang walaupun bukan berarti susah juga. Jadi semangat pantang menyerah itu penting buat menjaga pikiran kalian tetap jernih saat wawancara. Kalau kita stres atau depresi itu terlihat banget dari bahasa tubuh kita saat di wawancara, dan hal itu membuat peluang mendapatkan pekerjaan menjadi semakin tipis. Setelah pantang menyerah hal satu lagi yang menurut saya tetap harus dilakukan adalah berdoa, percaya deh… berdoa itu membantu banget, selain membuat hati dan pikiran lebih tenang, dengan berdoa juga membuat kita lebih dekat dengan Tuhan kan. Ya kecuali kalian atheis, itu diluar kuasa hahaha… Balik lagi sih, sebetulnya kalau kalian mau kerja apa saja, pasti bisa hidup kok disini, cuman ya itu tadi… pekerjaan nya mungkin ga sesuai dengan latar belakang keahlian kita, dan bisa juga bayarannya kurang memadai. Karena kerja casual itu, apalagi di restoran, haduh-haduh…. lebih baik dihindari jika buat berkeluarga ya, kalau masih mahasiswa atau single sih oke-oke aja, tapi ga rekomen untuk yang sudah berkeluarga.

Terakhir tapi sama pentingnya, kita juga butuh jaringan dan kawan, kenapa? karena disini sering kali diminta referensi, jika kita baru mulai kerja di Australia biasanya referensi dari kawan masih bisa diterima karena mereka masih maklum jika kita baru sampai di Australia, tapi setelah punya pengalaman kerja lebih dari satu atau dua tahun disini, biasanya referensi kerja yang diminta adalah mantan atasan atau kawan kerja di tempat sebelumnya. Jadi ya, lakukan yang terbaik saat bekerja, masalah atasan dan kawan kita bakal baik juga saat memberikan referensi ya itu misteri ya… karena hal itu diluar kuasa kita. Tapi rata-rata disini sih orang-orang nya sangat profesional ya, mereka jarang banget mau mencampur antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Selama kita melakukan yang terbaik saat kerja dan tidak melakukan hal-hal kurang terpuji seperti penggelapan uang misalnya, seharusnya sih tidak masalah hehehe…

Saya sejauh ini sih cukup banyak pindah-pindah kerja, dalam 3 tahun saya sudah pindah 4 kali karena pertama saya mencari pekerjaan yang statusnya permanent tapi disisi lain saya juga ga mau dapat pekerjaan permanent yang tantangannya ga ada karena kan maunya stay agak lama. Yang kedua saya nyari satu level income yang menurut saya sesuai dengan keahlian yang saya miliki dan cukup memadai untuk men-support keluarga saya disini. Terakhir saya mencari yang dekat dengan Public Transport karena nanti kan saya bakalan tinggal rada jauh di Barat sana dan kemungkinan besar saya malas nyetir hahaha…. jadi pilihannya adalah menggunakan kereta listrik (V/line atau Metro). Saat ini saya sudah mendapatkan pekerjaan yang memenuhi apa yang saya inginkan, kita lihat lah sejauh apa langkah nya karena selain apa yang saya inginkan masih ada hal-hal lainnya yang menjadi pertimbangan kan, karena ga semua diukur dari materi saja.

Jadi… selamat berjuang ya… jika masih punya dana memadai jangan mudah menyerah saat mencari kerja kalau sudah sampai di Australia karena migrasi kesini semakin sulit sekarang.

Dua Setengah

Bulan ini, kami menginjak dua setengah tahun pindah ke Melbourne dari Jakarta. Masih seumur jagung, tapi sudah cukup membuat kami jungkir balik beberapa kali. Hidup di rantau seperti ini, sudah pasti suka tidak suka ikut mengubah diri saya. Saya berubah dari minder menjadi lebih percaya diri sekarang, saya minder bukan karena kemampuan teknis saya jelek, tapi lebih karena bahasa inggris saya berantakan. Sekarang bukan berarti saya sudah lancar berbahasa inggris ya… tapi setidaknya sudah lebih mendingan jauh dibandingkan dulu pertama kali menginjakan kaki disini.

Semakin kesini, entah kenapa saya semakin sering terjaga di tengah malam. Saya masih selalu mencari tahu apa sebetulnya yang mengganggu pikiran saya. Memang, saya ada beberapa hal di tempat kerja yang cukup mengganggu yang tidak bisa saya ceritakan disini karena kurang etis. Dan, ada satu pikiran juga yang mengganggu karena ijin mendirikan bangunan kami tidak kunjung diberikan sehingga kami tertahan untuk memulai membangun rumah mungil kami nan jauh di barat sana.

Banyak orang bertanya kepada saya kenapa begitu cepat memutuskan untuk membeli rumah di daerah yang cukup jauh dari Melbourne City, entahlah…. mungkin karena saya orang yang malas pindah-pindah, tapi lebih jauh lagi saya hanya ingin memiliki tempat tinggal permanen, itu saja. Karena saya tidak memiliki apapun selain apa yang saya hasilkan dari kedua tangan saya, yang tidak seberapa itu, ya salah satu pilihan nya harus mau kompromi dengan keadaan dan jarak. Saya sendiri nekat beli tanah bersama bangunan rumah diatasnya walaupun kecil bukan karena sedang berusaha menimbun harta, tidak sama sekali, ya…. memang saya masih punya rumah mungil di Jakarta sana, tapi ini murni karena saya ingin punya tempat tinggal permanen saja, tidak lebih tidak kurang, dan ini bukan juga karena saya kuat secara finansial loh ya…. karena hal ini menguras hampir seluruh tabungan saya.

Walaupun tabungan saya hampir habis, setidaknya saya bisa lebih tenang sedikit (saat rumahnya sudah jadi) karena istri dan anak-anak saya sudah punya atap yang hanya perlu mereka jaga jika terjadi sesuatu pada saya (seperti pada Papa saya dulu). Membawa mereka melintasi samudra ke benua lain mengikuti kegilaan yang ingin saya capai secara tidak langsung membuat saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Harapan saya sebetulnya sederhana, saya hanya ingin hidup tenang dan tidak merasa terlalu banyak kawatir (walaupun itu sulit karena iman saya masih rendah). Saya pun belajar ilmu ikhlas yang susah nya minta ampun, disamping ilmu pasrah yang tidak kalah sulitnya.

Dua setengah tahun…. perkembangan kami disini cukup baik, dan sangat baik malah dibeberapa kesempatan. Pekerjaan yang lebih baik dari waktu ke waktu pun turut memberikan andil, pekerjaannya ya yang lebih baik bukan lingkungannya hahaha… (yang ini hanya saya dan istri saya yang tahu, semoga istri saya tidak mudah menceritakan hal ini ke orang lain, karena saya berharap ini tidak dikonsumsi umum…..). Apapun itu, terutama perkembangan anak-anak cukup membuat saya lega. Si AL anak saya yang besar sudah memliki beberapa kawan dekat, si JD yang kecil malah punya banyak teman. Ya… setidaknya mereka sudah mulai “lokal” dibandingkan kedua ortunya. Saya menatap dua setengah tahun berikutnya, yang entah kapan kami bisa mudik bersama.

Minggu Pertama

1 minggu pun terlewati (dengan cepat) di tempat baru.

Walaupun rada-rada cegukan saat mulai karena laptop belum ada, login belum diminta, kartu akses belum siap apalagi kartu ID, tapi perlahan semua mulai terkendali walaupun masih menggunakan laptop sementara sambil menunggu laptop baru datang, kartu akses dan login setidaknya sudah ada jadi ga bosen-bosen amat lah… bisa browsing dan ubek-ubek dokumen mereka, login ke perangkat-perangkat mereka sambil membuat dahi merengut karena satu sisi saya rada kaget dengan network mereka tapi di sisi lain manggut-manggut juga sambil berkata dalam hati “ga salah juga sih cara deploy nya, tapi…”. Udahlah kalian ga akan nangkep apa maksud saya hahaha….

Suhu di Melbourne masih suka drop ke level dibawah 10 derajat, ya iyalahh… kan masih winter. Dan, minggu ini saya mendapatkan beberapa kabar baik yang menggembirakan, disamping tempat kerja yang bisa dibilang nyaman ternyata kerja di organisasi non-profit memberikan benefit tersendiri yang berhubungan dengan pajak.

Untuk mengusir dingin, seperti biasa tingkah norak saya kambuh, masuk ke toko minuman dan dengan sukses keluar dengan 1 scotch whisky dan 1 whisky ditangan.

Ihh… lu ga takut digosipin umbar-umbar hal beginian jo? Halah… emang klo ga ada jaminan ga digosipin? Sudah kodratnya kalau jadi orang terkenal pasti ada haters nya lah… ups… kita jadi orang apa adanya saja lah, toh hidup juga ga abadi ngapain munafik dan mending minum dirumah daripada diluar kan? ntar ga jelas lagi “botol” nya masuk kemana hahaha…

Dah ah… jadi ngelantur lama-lama, eh… ini pas ngetik belum buka apapun ya, jadi masih lempeng. Selamat menyambut akhir minggu kawan, jangan lupa untuk bahagia.

Hari pertama (lagi…)

Hahhh… pindah lagi?

Iya senin depan saya mulai bekerja di tempat baru lagi hehehe… keinginan punya pekerjaan permanent on going yang tidak mengharuskan saya menjaga status CCIE saya tetap aktif (tetap dalam emeritus status) tapi juga tetap memberikan tantangan (yang artinya tidak membuat saya berada di posisi under pay) membuat saya tetap membuka profile Seek dan Linkedin saya (yang sekarang sudah saya tutup untuk sementara).

Bulan lalu, tiba-tiba salah satu head hunter menghubungi saya dan menawarkan kesempatan yang satu ini. Setelah dikirim job description nya, saya baca pelan-pelan, dan saya timbang-timbang sambil semedi (ga denk…) saya cukup yakin ini bukan posisi yang mudah dijalanin yang artinya tetap memberikan tantangan yang berarti. Saya iyakan dan semua berlanjut ke sesi wawancara.

Sesi wawancara awalnya di set 2 kali, yang ternyata di babat 1 sesi oleh customer itu sendiri. Head Hunter sendiri kaget waktu saya beri tahu wawancara sudah di borong jadi satu kali wawancara. Singkat cerita saya akhirnya mendapatkan pekerjaan ini. Yang lebih mengagetkan lagi adalah, gaji yang saya minta ternyata tidak diberikan, tapi malah ditambah, seumur-umur saya kerja baru kali ini minta gaji malah ditambah hehehe… jujur saja yang membuat saya senang itu bukan semata-mata gaji saya justru ditambah, tapi dibalik semua itu menandakan mereka menghargai kemampuan yang saya miliki dan tidak aji mumpung ingin eksploitasi saya hanya karena saya sedang butuh, ini yang namanya fairness and respect.

Apapun itu, saya kerja tidak semata-mata mencari gaji sih… buat saya yang paling penting adalah tantangan nya karena saya model yang cepat bosen dan selalu iseng pengen tahu hal baru. Dan, yang lebih penting lagi adalah bisa tenang dan memiliki waktu buat mikirin rumah dan isinya. Hal yang sangat mahal saat ini, dan selama saya masih bekerja sebagai kontraktor, hal itu agak susah dicapai karena otak saya sibuk memikirkan bagaimana memperbaharui kontrak kerja yang akan berakhir agar tidak ada masa dimana saya menjadi nganggur (walaupun Puji Tuhan belum pernah terjadi karena tenaga usang saya masih terus bisa terpakai sampai saat ini), maklum kami single income dan anak-anak makin hari makin mahal kebutuhannya hahaha…

Kali ini, saya benar-benar berharap bisa bekerja untuk jangka waktu yang lama, kalau bisa pensiun disini sekalian (ngarep…) hahaha… karena selain ini dikelola oleh organisasi Katolik dimana seiman dengan saya (halah…. bawa-bawa seiman… penting gitu yang se iman? yang penting bisa kerja ups…), ini juga organisasi non-profit yang artinya membuat saya membayar pajak lebih ringan (halah…). Diluar semua itu, teknologi yang mereka gunakan juga termasuk advance dan menantang, dan posisi saya termasuk di posisi senior yang akan melibatkan proses desain disamping teknis yang sudah akan menjadi makanan sehari-hari, bakalan belajar banyak disini sepertinya karena ini adalah organisasi dengan jumlah karyawan diatas 7500 orang, wow…. Lokasi juga cukup mendukung karena didekat stasiun kereta dan tram stop (aihh.. ini yang bikin renyah…), ya setidaknya saya ada pilihan lain kalau sedang malas bawa mobil hehehe…

Masuk tahun ketiga di Australia membuat saya belajar banyak hal, yang tentunya membuat saya juga berubah di banyak hal. Jadi ga heran kalau dalam beberapa kesempatan ada yang bilang “lu sekarang beda, berubah” Hahaha… Satria Baja Hitam donk pakai berubah. Ada yang bilang perubahannya positif, ada yang justru bilang perubahannya negatif (misalnya saya dibilang sombong sekarang oh nooo…). Saya berubah, itu sudah pasti, hidup di negara lain dengan budaya dan kehidupan yang jauh berbeda dengan Indonesia sedikit banyak menuntut saya untuk menyesuaikan diri.

Beberapa hal yang saya sadari berubah dari diri saya antara lain, sadar tidak sadar saya belajar untuk tidak “kepo”, setidaknya mengurangi lah… dimulai dari mengurangi posting komentar di sosial media mengenai kehidupan pribadi siapa saja, baik itu kawan, publik figure atau politikus. Kenapa? karena saya belajar menghormati garis privasi orang lain dan ber-empati, susah loh…. coba aja kalau ga percaya. Selain itu, saya juga semakin to-the-point, maklum disini orang-orang bule sedikit banget yang suka “drama”, hidup itu sendiri sudah merupakan “drama” jadi ga perlu ditambah “drama” lagi karena kebanyakan jadi pusing, mereka sering straight forward jika sedang diskusi sesuatu atau ingin menegur atau apapun, jadi jangan heran dan kaget kalau saya pun pelan-pelan mulai mengikuti budaya yang satu itu. Perubahan lainnya adalah mental untuk malu, loh… berarti dulu ga punya malu gitu? bukan, maksudnya mental untuk malu disini adalah kesadaran untuk mau antri, tertib dijalan, patuh pada aturan dan lain sebagainya, karena jika kita tidak melakukan hal-hal itu ya paling tidak akan ditegor atau paling parah di denda. Jadi disini rata-rata orang ikut aturan bukan semata-mata takut sama dendanya, tapi mereka lebih kepada kesadaran untuk malu dan sadar jika semua ini untuk kepentingan bersama. Perubahan lainnya yang saya rasakan adalah berusaha untuk memiliki empati, empati? iya empati, saya mulai mengurangi (jika bisa berhenti) posting pencapaian-pencapaian terutama yang berbau materi di sosial media saya, dan mendorong istri saya juga ikut melakukan hal yang sama. Loh emang kenapa? bukan kenapa-kenapa, saya tidak takut dibilang pamer atau sombong, tapi saya percaya tidak semua suka dengan postingan saya karena mereka mungkin saja sedang berjuang dengan kehidupan mereka yang berat, dan saya berusaha untuk tidak memamerkan sesuatu yang bisa membuat mereka berpikir “hidup saya kok tidak seberuntung dia” setidaknya melakukan sesuatu karena tidak bisa menolong banyak, karena pada dasarnya tidak ada yang lebih beruntung dan tidak ada yang lebih tidak beruntung dalam kehidupan, yang ada hanya kita memang berjalan di jalan masing-masing dan apa yang mewah pada kehidupan orang lain mungkin tidak akan terasa mewah jika terjadi pada kehidupan kita. Beda ya sama disana, hayo siapa yang mulai gelisah baca artikel ini hahaha….

Apapun itu, yang paling penting adalah jangan lupa untuk bahagia. Bisa hidup di negara sehebat Australia dan di kota se-cantik dan se-bersih Melbourne merupakan anugrah tersendiri bagi saya dan keluarga. Mengingat latar belakang saya, semua ini benar-benar mukjizat bagi kami terutama saya. Tidak akan terjadi jika tanpa campur tangan Dia. Perjalanan ini juga mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan kepada saya. Saya belajar untuk tidak mengejar kekayaan tapi belajar menikmati kehidupan itu sendiri, karena tidak ada yang tahu sampai kapan perjalanan ini akan berakhir. Saya juga belajar untuk tidak mengejar kebahagiaan karena sejatinya kita sudah hidup didalamnya, hanya saja kadang kita lupa bersyukur sehingga tidak menyadari jika kebahagiaan itu sendiri sudah menjadi bagian dalam hidup kita. Saya belajar untuk tetap bermimpi tapi tidak lupa bangun dan melangkah untuk merajut impian saya. Saya belajar untuk lebih tidak mudah menyerah karena saya belajar untuk tidak menerima hasil tapi menerima proses.

Saya juga belajar untuk mengurangi rasa kawatir, karena sudah terbukti berkali-kali dalam kehidupan saya jika hal-hal yang baik bahkan yang terbaik justru terjadi diluar dugaan dan rencana saya, di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, dan dalam keadaan yang diluar nalar saya, karena semua terjadi di waktu yang Dia tentukan. Saya juga belajar untuk lebih sabar, maklum saya orang yang keras dan tidak sabaran (yang butuh diubah sebisa mungkin dan akan menjadi bagian tanpa akhir dari perjalanan seumur hidup saya), perjalanan ini mengajarkan banyak hal kepada saya tentang arti bersabar dan melunak terutama terhadap keadaan. Hal ini, sedikit banyak membuat saya menjadi lebih baik dalam mengontrol emosi saya. Saya juga belajar untuk bersyukur untuk keluarga kecil saya, saya akui jika istri saya mungkin memang bukan yang tercantik, bukan juga yang terseksi, dan jauh dari kata sempurna, tapi dia adalah pilihan yang terbaik yang saya pilih dan terpilih bagi saya, yang saya pilih dengan sadar dihadapan Tuhan. Begitu juga kedua anak saya yang juga jauh dari kata sempurna, tapi merupakan berkat Tuhan yang bernilai buat saya dan sudah dipercayakan kepada kami. Karena justru di dalam ketidak-sempurnaan mereka, saya belajar tentang arti dari kata mengalah, arti dari kata memahami, arti dari kata tidak egois, arti dari kata setia, arti sebuah tanggung jawab, arti kata berjuang dan arti dari kata kedewasaan.

Jika ada kata-kata yang aneh, harap maklum karena ini ditulis karena kebangunan dini hari dan dengan whisky di tangan untuk mengusir dingin.

Selamat menjalani akhir pekan yang luar biasa kawan, ingat… jangan lupa untuk Bahagia.