Bentar lagi

Hore… bentar lagi tanah kami title, yang artinya sudah bisa settlement dan dipindah namakan ke kami dan rumah mungilnya bisa mulai dibangun.

Hari ini juga baru dapet kabar dari mortgage broker kami kalau evaluasi Bank terhadap tanah kami bagus, dan kemungkinan aplikasi pinjaman kami disetujui cukup bagus juga.

Lega deh dengernya karena kalau sampai kami gagal mendapatkan pinjaman Bank artinya kami bisa saja kehilangan seluruh down payment kami hikss… (amit-amit jangan sampai ya…)

Entah kenapa saya belakangan ini sering banget terjaga di jam 2 pagi. Jam biologis saya kayanya mulai ngaco lagi deh… biasanya sih karena saya sedang ada yang dipikirin, mungkin iya juga sih, soalnya beberapa hari atau minggu lalu sempat ada drama yang cukup menguras tenaga karena saya dihadapkan pada keputusan akan mengambil tawaran pekerjaan yang menggiurkan atau mengutamakan rumah yang sebentar lagi harus masuk proses Bank untuk pinjaman sehingga tawaran itu harus di drop.

Dua hal ini datang hampir bersamaan dan ingin saya dapatkan keduanya jika bisa, terus terang sangat menguras tenaga dan pikiran saya karena kawatir dengan aplikasi Bank kami. Karena begitu saya pindah kerjaan, semua harus di submit ulang lagi dengan kondisi kerjaan baru dan butuh waktu proses nya, sedangkan tanah bentar lagi title kan, kalau sampai delay aplikasi Bank nya bisa-bisa kami masuk kategori gagal bayar dan pembelian kami di batalkan yang artinya down payment bisa saja melayang.

Akhirnya setelah ditimbang cukup keras, saya merelakan tawaran itu melambaikan tangan kepada saya hiks…. kecewa sih karena entah kenapa saya merasa tawaran yang satu ini cukup nge-klik sama apa yang mau saya kejar. Jarang-jarang loh saya bisa punya intuisi seperti ini selama di Australia.

Ya sudahlah, toh semua ada waktunya. Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat dan kita hanya perlu percaya dan berserah. Pekerjaan yang sekarang sebetulnya enak, posisi senior, jam kerja 7 jam perhari sudah termasuk jam istirahat 1 jam. Sistemnya memang acak kadut tapi cukup reliable yang artinya kerja di weekend dan after hours hampir tidak pernah terjadi. Hanya saja untuk jangka panjang sepertinya kok kurang gimana gitu hehehe…

Ga terasa ketik punya ketik jam sudah mau jam 4 pagi. Suhu juga sedang turun karena sudah mendekati musim dingin, dan ini mata ga ngantuk-ngantuk juga, haduhh… mana wine sudah abis hahaha… udah ah… mau coba rebahan lagi sambil ngebayangin itu taman kalau rumahnya sudah beres ntar mau diapain soalnya mau coba saya kerjakan sendiri (itung-itung belajar jadi garderner hehehe…), siapa tau jadi ngantuk kan ya.

Advertisements

Kenapa saya migrasi ke Australia

Yaelah… ini lagi ini lagi topiknya, basi ga sih judulnya ??? hayo bilang ga basi…. batal nulis nih… hahaha…. pasti iyalah basi karena saya sudah beberapa kali menuliskan alasan kenapa saya migrasi dalam artikel yang terpisah-pisah dan waktu yang terbeda-beda halah… berbeda-beda maksudnya. Duluuu…. jauh sebelum saya mendapatkan PR, banyak yang bertanya sebetulnya baik dari kawan, handai taulan sampai keluarga, kenapa sih saya ngotot sekali mengejar PR ???

Pertanyaan yang satu itu sulit saya jawab sebetulnya karena saat itu saya pun ga tahu kenapa bisa se-ngotot itu., karena meninggalkan zona nyaman itu jujur kacang ijo buerattt sekali lohh…. Yang saya ingat saat itu hanya membayangkan jika saya ingin sesuatu yang lebih baik buat keluarga kecil saya, dan pengennn pakai banget anak-anak saya bisa sekolah di luar negeri. Begitulah kira-kira jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan sebelum saya migrasi waktu itu lebih mengarah ke kenapa sih saya mau meninggalkan semua yang sudah saya raih dan pindah ke negara baru untuk mengulang lagi semua dari Nol? padahal sebagian dari mereka yang bertanya tahu kalau apa yang sudah saya raih saat itu tidak didapatkan dengan mudah, lah kok sekarang mau dilepasin…. ga waras ini orang (mungkin begitu kali ya dalam hati mereka hahaha…) sudah gitu pindahnya ke negara yang belum pernah kami kunjungin lebih dari 1 minggu dan ke kota yang bahkan belum pernah kami kunjungi sama sekali, huahh… hororrr….

Saya memilih Australia di list pertama saat mengejar PR, karena sistem pendidikannya adalah salah satu yang terbaik di dunia. Ya bukan berarti yang lain ga bagus yaaaa… karena baik New Zealand di urutan kedua list saya dan Canada di urutan ketiga juga pasti bagus, dan saya bisa sampai memilih 3 negara ini sebagai top list saya ya karena alasan sistem pendidikan itu tadi dan itu menurut hemat saya loh yaa… kalau situ mau boros-boros ya monggo…. Selain pendidikan ada faktor lainnya juga seperti adanya jaminan pendidikan dan kesehatan dari pemerintah. Jadi anak-anak saya pasti bisa sekolah dan bisa di sekolah yang cukup bagus seandainya bapaknya ini ga sanggup nyekolahin, dan tetap akan tertolong saat butuh pelayanan kesehatan disaat bapaknya ga sanggup bayar, duh… duh…. amit-amit mata ijo jangan sampe ya…. ketok aspal 3 kali sambil mulut komat kamit kaya dukun kolor ijo….

Alasan lainnya yang sebetulnya tidak penting-penting amat adalah karena disini Negara 4 musim walaupun tidak bersalju hahaha… norak ga sih, ya ga papa deh norak dikit… dulu saat saya kecil setiap bermain hujan selalu berangan-angan untuk mencoba kehidupan negara 4 musim karena penasaran sama perubahan-perubahannya yang ternyata cukup menyengat saya di awal-awal kepindahan kami kesini dulu, sampai kaget ini badan apalagi pindahnya kan langsung ke Melbourne yang terkenal suka berubah-berubah cuacanya dalam satu hari, satu hari booo… bukan satu bulan atau setiap 3 bulan. Sudah gitu negara ini kan juga bisa dibilang negara 4 musim yang termasuk dekat sama Indonesia secara jarak, jadi kalau lagi kangen bombay bisa lebih mudah untuk cap cus dan balik lagi walaupun sampai sekarang belum kejadian karena berat ongkos nya hikss…. ga kukuh deh buat saya (hayo yang tau istilah ini ketauan angkatan berapa hahaha…).

Nah sedangkan pertanyaan sesudah migrasi justru lebih banyak yang mengarah ke kenapa sih Melbourne? kenapa bukan Sydney yang lebih ramai atau Perth atau bahkan Darwin yang lebih deket sama Indonesia? Apalagi kan kami belum pernah ke Melbourne sebelumnya, dan ini serius… kami migrasi ke kota yang sama sekali belum pernah kami kunjungi seumur hidup kami (ya sebenernya sih semua kota di Australia belum pernah sih hahaha…. ga papa deh drama dikit) dan tanpa clue sama sekali. Bingung juga sebetulnya kenapa dulu bisa berani ya ha ha ha… (garuk-garuk kepala). Dulu saat kami sudah mendapatkan PR, kami mulai menimbang kota mana yang akan menjadi tujuan kami, setelah browsing-browsing ke om gugle, pada akhirnya pilihan kami jatuh kepada kota ini dan sepakat mufakat untuk memilih Melbourne sebagai pelabuhan kami selanjutnya. Kami memilih Melbourne karena kota ini disebut juga kota sejuta taman, karena memang banyak banget tamannya, dan ini sesuai dengan keinginan kami untuk bisa hidup di kota yang lebih hijau secara susah ya di jakarta nyari tempat tinggal nyaman yang hijau. Kota ini juga tidak terlalu metropolitan dengan banyak gedung tinggi dimana-mana, gedung tinggi tetap ada tapi ter-konsentrasi di pusat kota atawa bahasa keren nya CBD (bacanya si-bi-di yee… bukan ce-be-deh…). Selain itu kota ini juga merupakan kota kedua terbesar di Australia yang artinya kesempatan untuk mencari pekerjaan di bidang IT termasuk cukup banyak, walaupun untuk nembus pasarnya itu haduh jubilee susahnya. Diatas semua itu, kota ini juga pernah terpilih sebagai kota paling layak huni sedunia sebanyak 7 kali berturut-turut, keren ga tuh… hal yang membuat saya sering ngelamun “duhh… kalau bisa membawa keluarga saya hidup di kota yang katanya paling layak huni selama 7 kali berturut-turut rasanya seperti apa ya…”, ternyata rasanya seperti ini… 🙂

Selain apa yang saya tulis diatas, ada beberapa alasan lain yang turut mendorong saya si penakut ini untuk belajar berani. Pertamax, (ngulang dikit yak) seperti yang sudah saya tulis diatas tadi yaitu pendidikan, alasan satu ini menjadi top of the list saat saya memutuskan untuk hijrah. Pendidikan di Indonesia emangnya jelek? ga juga, cuma buat saya kurang cocok saja. Gaya mendidik yang meng-dikte, meng-hafal, dan menitik beratkan pada akademis dari awal sehingga melupakan dasar-dasar ajaran hidup seperti misalnya etika dan budaya malu saat ga antri, membuat saya berusaha membawa anak-anak agar bisa bersekolah ditempat lain. Apalagi anak saya anak otak kanan dominan yang mana sangat sangat klik sama sistem pendidikan yang ada disini, suerr… deh. Loh kan di Jakarta juga ada sekolah model begitu ?!? bener, tapi… ada tapi nya nihh…. biayanya murah ga? hayoo… saya kan bukan orang berduit hehehe… belum lagi perjuangan anter jemput dan menembus macet, haduh… ga deh hahaha…

Lingkungan juga menjadi pertimbangan, tingginya tingkat polusi di Jakarta karena kepadatannya yang sudah makin akut ditambah kebiasaan buang sampah sembarangan membuat udara dan air menjadi kurang sehat, hal itu turut membuat saya mencari jalan ke daerah yang udaranya lebih bersih dan airnya bisa diminum tanpa rasa kawatir yang berlebihan. Lah… kenapa ga ke kota lain? saya tidak berusaha pindah ke kota lain karena keahlian yang saya miliki membuat saya harus bertahan di Jakarta karena semua terpusat disana dan terjebak ditengah kemacetan yang semakin menggila setiap hari nya. Belum lagi melihat tingkah laku para pengguna jalan yang sering kali merasa hanya mereka lah pengguna jalanan sedangkan yang lainnya hanya ngontrak.

Jaminan kesehatan juga menjadi salah satu faktor yang mendorong saya ke Australia, maklum pengalaman setengah mati saat ditinggal (alm) Papa membuat saya secara otomatis mencari jalan terbaik agar keluarga saya sebisa mungkin tidak perlu pusing pala barbie saat harus berhadapan dengan yang namanya penyakit (semoga tidak….), di Australia kami sebagai pemegang visa PR mendapatkan pelayanan yang sama dengan Citizen, dan kami pun berhak mendapatkan kartu Medicare. Dengan kartu ini 99% kami akan dicover walaupun harus antri kalau tidak sampai mengancam nyawa sakitnya. Medicare itu seperti BPJS kalau di Indonesia, bedanya disini semua pemegang visa PR dan Warga Negara berhak dapat layanan Medicare tapi tidak wajib bayar jika tidak memiliki penghasilan diatas batas bawah penghasilan kena pajak, kenapa harus diatas batas bawah penghasilan kena pajak karena iuran Medicare itu diambil dari sebagian pajak yang kita bayar, eitss… bukan berarti kita bisa main kucing-tikusan seperti disana ya, disini semua sudah online dan akan ketahuan jika punya penghasilan memadai tapi tidak bayar Pajak, dan siap-siap kena denda saat tertangkap basah.

Ketenangan (apalagi kalau sedang pilpres atau pilkada, haduehh…) juga menjadi salah satu bensin saya selain ketertiban dan tidak adanya pungli, pengalaman hidup sebagai minoritas (pakai ganda) membuat saya sudah kenyang dengan yang namanya “uang rokok” setiap butuh sesuatu yang berhubungan dengan surat-surat yang sebetulnya sudah menjadi hak saya sebagai warga negara. Disini, saat kita butuh surat atau apapun, tidak berbelit seperti disana, semua jelas dan transparan. Dan tidak gaduh seperti disana walaupun sedang pemilu. Dan disini, setiap calon saling adu program kerja ga saling lempar hoaks, ditambah lagi warga negara nya juga sudah lebih beradab ya, jadi ga gampang dikomporin hahaha… Hal seperti ini selain membuat pikiran tenang juga membuat hati tentram.

Seperti apa sih kehidupan kami di Melbourne selama ini? nah ini nih yang sepertinya belum pernah saya tulis hehehe… bener ga sih? saya sendiri lupa-lupa ga inget juga pernah ga nulis yang satu ini. Hidup di Melbourne ya ga jauh beda sama hidup di Jakarta, jiahh… ga seru amat ya…, oke-oke tadi kan yang ga jauh beda, sekarang kita bahas yang dekat beda (bingung kan bacanya…). Kita mulai dari kerja dan family time, kenapa dua hal ini penting buat saya? karena saya harus bekerja untuk menuaikan kewajiban saya sebagai kepala keluarga, dan saya juga ingin bisa memiliki waktu yang berkualitas untuk keluarga saya. Yang sering kali menjadi masalah adalah bagaimana membuatnya seimbang, ya kan. Kalau bicara bikin kedua hal itu benar-benar seimbang impossible lah ya… namanya juga manusia kan, mana ada sih yang perfecto. Tapi setidaknya, kita bikin beti lah (beda-beda tipis), dan kenyataannya jika tetap tinggal di Jakarta hal itu sulit diwujudkan kecuali saya horang kayah yang bisa ongkang-ongkang kaki dirumah tau-tau duit jatuh seperti daun di musim gugur karena ga perlu ber-jibaku dengan macet atau saya punya rumah deket sama kantor yang mana lebih mustahil bin mustajab lagi untuk terwujud kan. Nahh… kalau disini, saya bisa membuat kedua hal itu menjadi dekat selisih nya karena saya tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam sampai bego di jalan karena kemacetan yang selalu bertambah parah karena tingkah laku blo-on pengguna jalannya termasuk saya sendiri, dan disini dunia kerja juga sangat mendukung family time sampai-sampai yang namanya lembur itu sebisa mungkin dihindari. Gaya kerja yang bisa dibilang bikin shock saya awal-awal kepindahan kesini sekarang sudah makin saya nikmati hehehe… gimana ga dinikmati coba, kalau public holiday jatuh di sabtu atau minggu diganti hari kerja terdekat berikutnya jadi libur, cuti 20 hari setahun, belum minimal 10 hari care dan sick leave, dan beberapa perusahaan bahkan baik hati memberikan 10 hari tambahan sebagai care leave. Itu semua belum termasuk bisa bekerja dari rumah jika dibutuhkan untuk beberapa perusahaan, cuti khusus kalau anggota keluarga ada yang meninggal, dsb. Keadaan jalanan yang tingkat kemacetan nya rendah secara tidak langsung membuat saya menikmati sekali nyetir di Melbourne karena selain tidak macet gila seperti Jakarta, pengguna jalanan disini juga tertib dan saling ngalah sehingga kalau pun sampai macet tetap cepat terurainya, sehingga jarak kerja yang kadang jauh kalau saya pindah kantor terasa lebih ringan untuk dijalanin. Ada sih beberapa yang brengsek juga ngelanggar seenak jidat mereka, tapi jarang banget lah… apalagi kalau dibandingkan disana, kecil hampir ga ada jumlahnya.

Nahhh…. karena waktu tidak banyak terbuang dijalanan, saya kan jadi lebih cepat sampai rumah, biasanya setiap hari kamis setelah pulang kerja kami masih bisa menyempatkan untuk belanja barang-barang kebutuhan dapur seperti sayur, daging, makanan kecil, susu, roti dll di pusat jualanan groceries, disini ada COLES, Woolworth atau ALDI. Kadang kalau kami sedang kangen ikan laut segar, atau istri sedang mau beli daging sapi khusus seperti has dalem atau buntut, atau bahkan lemak babi dan jeroan ayam atau sayuran segar tertentu, kami belanjanya hari sabtu atau minggu di pasar traditional (pasar traditional sini bersih lohh… mirip supermarket hehehe…). Selain itu kami juga sering belanja di toko Asia, apalagi kalau lagi cari-cari bumbu atau krupuk hahaha… kegiatan ini biasanya dilakukan setiap 2 mingguan, atau kadang kalau lagi kalap belanjanya jadi belanja bulanan, kerasa deh bayarnya dan gotong-gotong belanjaan apalagi dulu waktu awal-awal disini dan belum ada mobil, sudah bawa belanjaan beratnya minta ampun sambil ngeteng kendaraan umum, belum kalau duo unyils kecapean dan minta di gendong nahhh…. bingung kan gimana caranya. Pengalaman seperti itu yang sering bikin kami senyum-senyum sendiri kalau mengingat saat-saat itu terjadi sambil garuk-garuk kepala ga percaya kok bisa ya kami lewati hahaha….

Bermain di alam terbuka juga menjadi salah satu kegiatan kami disini, sebuah kemewahan yang jarang kami dapatkan di Jakarta karena nge-mol mulu kan. Disini banyak taman yang ramah anak-anak, ada tempat bermainnya, ada tempat BBQ nya, bahkan ada keran air minum. Selain ke taman, kami juga sering ke Perpustakaan, anak-anak kami senang sekali kalau ke Perpustakaan, aneh bin ajaib ya… perasaan Bapaknya sampai setua ini belum pernah segirang itu kalau ke Perpustakaan hahaha… dan kalau sedang bosen biasanya kami sekadar keluar mencari makan, atau pergi ke tempat-tempat yang agak jauh untuk menikmati alam Melbourne yang masih asri sambil mengisi paru-paru dengan oksigen yang segar dan bersih sembari mendengarkan kicau burung yang hidup bebas di Negara ini, yang tentunya sebisa mungkin tetep kami cari tempat yang gratisan hahaha…. karena disini banyak tempat wisata yang tidak memungut biaya masuk.

Kegiatan kami lainnya adalah ramah-tamah dan acara lingkungan, kebetulan di Melbourne ada KKI (Keluarga Katolik Indonesia), dan KKI punya lingkungan juga seperti paroki di Indonesia. Walaupun kami tidak terlalu aktif dan turut bergabung dalam struktur organisasi mereka, beberapa kali kami ikut acara mereka sambil ramah tamah dan bersosialisasi dengan orang-orang Indonesia yang sudah berada disini terlebih dahulu maupun yang baru pindah seperti kami. Acara-acara seperti ini juga sangat membantu culture shock yang saya derita di awal-awal kepindahan kami ke Melbourne yang pernah saya tuliskan di beberapa artikel sebelumnya.

Kalau masih ada waktu luang, biasanya saya mengajak istri diskusi tentang apa yang mau kami raih kedepannya, merencanakan masa depan bersama itu asik loh… selain itu juga memupuk ikatan agar makin erat dan kuat karena memiliki tujuan yang sama dan direncanakan bersama. Ga semua sih kami sepakat seiya sekata, kadang kami debat juga mengenai apa yang mau kami lakukan, dari hal kecil seperti mau beli perabot apa dulu pas sudah bisa punya rumah sampai nanti tua mau kemping dimana hahaha… ga denk… istri saya ga suka kemping, dia mah sukanya se-pa sambil nonton drakor (halah….).

Sering juga saya memantau keadaan tanah air lewat berita-berita online yang sepertinya bisa dipercaya (kok sepertinya? iya donk, kan ane ga tau ada apa dan siapa dibalik berita itu turun, kalau pesenen gimana? emangnya martabak aja yang bisa dipesen), saya termasuk orang yang jarang cek lini masa saya di facebook, kenapa? karena isi nya banyakan sampah, apalagi postingan-postingan manusia “haus perhatian” yang teriak hidup nya susah ga lama kemudian pamer beli tas Hermes atau jalan-jalan ke luar negeri hahaha… basi!!! Sekali-sekali saya komen juga sih, terutama kalau ada postingan temen yang keluar di paling atas (karena saya males turun kebawah) yang isinya dia sedang jalan-jalan bersama keluarga (tapi ga pakai drama “saya orang susah” sebelumnya) ya saya kasih jempol dan komen hahaha… biar ga dibilang sombong, padahal mah dah banyak yang bilang saya sombong apalagi setelah migrasi, ga papa deh karena saya mah memang gitu orang nya…. xixixi… berteman ga sebatas tukeran jempol di facebook mas bro dan mba sis….

Bersyukur, nahh… ini nih aktifitas berikutnya yang selalu kami lakukan. Kami bersyukur banget bisa punya jalan ke titik kami sekarang, sesuatu yang sebetulnya mustahil bisa kami dapatkan jika melihat latar belakang kami. Tapi karena saat itu kami sudah bertekad untuk berhasil atau mati !!! huaahhh… ga kok, kami ga se-ekstrim itu hahaha…. walaupun awalnya berdarah-darah tapi kami tetap berusaha bertahan dan Tuhan selalu menyertai langkah kami baik saat naik apalagi sedang turun. Setiap pagi saya selalu berdoa mengucap syukur, syukur atas semua yang sudah terjadi dalam hidup kami, untuk yang baik maupun pembelajaran.

Saya secara pribadi tidak memiliki impian yang muluk seperti misalnya mau punya rumah yang ada kolamnya 3 (kolam renang, kolam ikan dan kolam susu) atau punya ferarri sepuluh (miniatur semua hahaha…), tapi cukup sebuah tempat tinggal permanent walaupun kecil ga papa karena toh sanggup nya beli sekecil itu saat ini. Saya juga memiliki impian ingin melihat anak-anak lulus kuliah disini, ingin melihat mereka mengenakan Toga dan lulus dari Universitas disini, duh rasanya semua jerih payah saya lunas tuntas saat hal ini terjadi walaupun saya juga tidak akan memaksakan kehendak itu kepada mereka tapi lebih kepada menuntun mereka agar mau menuju ke titik tersebut, maksa-maksa dikit nuntunnya hahaha… itu mah sama ajaa !!!

Ada satu impian yang ingin saya wujudkan sebetulnya, hanya saja saya tidak tahu apakah bisa kesampaian atau tidak, saya ingin merasakan white christmas bersama istri saya sebelum napas ini berhenti, entahlah… mungkin karena saya lahir di hari Natal sehingga moment seperti itu lekat sekali di benak saya, rasa nya gimana gitu berdiri diatas salju dibawah rintikan salju dan dikelilingi salju di dekat pohon natal sambil mendengar lagu natal sambil memeluk istri saya aihhh….. Impian yang satu ini saya simpan dulu saja setelah rumah sudah jadi milik sendiri, anak-anak sudah selesai sekolahnya dan mandiri semua, dan utang janji saya ke istri saya sudah terwujud hahaha… entah kapan…. tapi lebih baik berharap daripada hanya berimpi kan, emang bedanya berharap dan bermimpi itu apaan sih?

April 2019

Mood untuk menulis entah kenapa ngumpet dimana saat ini, pusing kan bacanya hahaha….

Tapi ini bener, entah kenapa kadang ga denk… sering hahaha… keinginan untuk menulis tiba-tiba hilang padahal di kepala sudah beredar beberapa ide yang bisa dituangkan kedalam tulisan, yang akhirnya malah nguap entah kenapa dan kemana, dan berakhir dengan satu tulisan panjang.

Saya biasanya menuliskan sebuah artikel (biasanya??) saat si mbarep dan si mbontot ultah, tapi entah kenapa kemaren bisa kelupaan karena ditunda lalu ditunda lagi sampai akhirnya bener-bener ga inget dan sudah terlewat jauhhhh sampai sekarang.

Ya sudahlah, setidaknya sekarang saya inget hahaha… saat mikirin tentang duo bocil yang sudah gede sekarang, saya sering merasa waktu terbang cepat sekali. Masih jelas banget di ingatan saya saat-saat saya mengendong mereka pulang dari RS Family Pluit ke rumah mungil kami di Citra satu sana. Eh… sekarang dah sak meter tinggi nya, kaya mimpi hahaha…

Dengan migrasi ke Australia, saya menemukan (banyak) hal-hal positif yang terjadi di masa-masa pertumbuhan anak-anak saya. Gaya pendidikan disini yang begitu saya sukai karena sangat mendukung dan mendorong anak-anak saya untuk bisa lebih berani, percaya diri, menghormati orang lain, mengerti jika antri itu sebuah keharusan, dan masih banyak ajaran etika dan norma kehidupan lainnya yang sejak kecil sering ditanamkan melalui kegiatan belajar mengajar. Jadi ga melulu menghafal, didikte, ngejar angka dan juara ya.
Kehidupan kami disini bisa dibilang baik, waktu yang berkualitas dengan keluarga yang bisa dicapai hampir setiap hari plus sebotol beer dingin halahh…., kualitas kehidupan yang meningkat tajam walaupun kami bukan orang berduit banyak membuat kami sangat bersyukur karena memiliki jalan ini. Kami tidak berasal dari orang-orang dengan latar belakang ekonomi yang kuat, tapi kami benar-benar merasa cukup saat ini, kami bisa hidup layak dan masih bisa nabung dikit buat masa depan.

Ga lama ini kami sekeluarga baru saja merayakan Paskah ketiga kami disini, yang kebetulan kali ini kakek nenek anak-anak sedang berada di Melbourne, yeahh… jadi rame deh… sebuah keadaan yang sering kami rindukan sejak kami migrasi ke Australia 3 tahun lalu. Maklum dulu sering ngumpul dengan keluarga besar istri, dan hal itu menjadi salah satu yang hilang saat kami memutuskan untuk hijrah ke negeri Kangguru mengejar impian kami terutama untuk kedua anak kami, walaupun saya harus bargain dan kompromi dengan banyak hal, tapi semua itu terasa layak, bahkan sangat layak.

Melbourne sudah mulai kembali normal, setidaknya dalam beberapa hari ini. Suhu kota ini sudah mulai kembali ke suhu dimana seharusnya dia berada (yaelahhh… norak ahh… mentang-mentang sudah kuat dingin tapi abis itu kerokan hahaha…), setelah beberapa minggu ini disko dangdut panas dingin panas dingin ga tentu seperti ABG sedang jatuh cinta monyet. Suhu yang enak ini membuat kami bisa jalan kaki dengan jaket ringan tanpa harus berkeringat seperti saat kita jalan di jalan Sudirman di CBD Jakarta di tengah siang bolong. Emang suhu nya berapa seh? Kisaran 15 sampai 19 derajat, ouchh… itu kan dingin?? Iya sih, awalnya kami juga merasa seperti itu, tapi setelah beberapa kali kami dicolek panasnya Negara ini saat musim panas, kami mulai sukak pake banget sama dingin hahaha…

Suhu yang cukup panas sampai bulan April bukan sebuah pertanda yang bagus juga sebenernya, karena pola seperti ini biasanya menjadi pertanda jika musim dingin akan menjadi lebih dingin dari biasanya, brrrr… bisa-bisa minus tahun ini (semoga ga ya…). April sebentar lagi akan menuju peraduan, dan bulan Mei sudah mengintip di perempatan. Bulan dimana seluruh penantian kami selama 2 tahun untuk sebidang lahan mungil yang kami beli waktu itu akan selesai disiapkan oleh developer dan bisa dipindah namakan kepada kami agar builder kami bisa mulai membangun rumah mungil kami diatasnya. Saat ini kami sedang pontang panting dengan pengajuan pinjaman Bank, yang untungnya kami dibantu seorang mortage broker yang kompeten jadi lega deh…. semoga semua proses nya lancar dan Natal tahun ini harapannya kami bisa pindah dan merayakannya dirumah kami sendiri, semoga ya…. Selain itu, beberapa kesempatan di dunia kerja yang belakangan ini tiba-tiba terbuka juga cukup membuat pusing karena hal ini bersangkutan dengan aplikasi mortage kami. Pertimbangan demi pertimbangan mulai coba kami putuskan dan pada akhirnya kami serahkan saja semua kepada Dia karena waktu Dia lah yang akan paling tepat bagi kami sekeluarga.

Minggu ini adalah minggu malas, hahh…. Minggu malas? Iya, hahaha… karena minggu ini efektif hanya 3 hari dengan bolong di hari senin dan kamis, senin libur paskah dan kamis adalah ANZAC day, seperti hari pahlawan kalau di Indonesia. Tadinya mau ambil cuti tapi setelah dipikir-pikir cuti yang belum seberapa itu mendingan saya simpan untuk yang lebih penting. Yang lebih penting itu apa, nanti saya tulis ya setelah benar-benar kejadian, tapi ga sekarang.

Ngomong-ngomong soal libur Paskah, kok bisa hari senin libur Paskah? Di Indonesia kan hanya Jumat sampai Minggu saja? Iya benar, disini pun begitu, libur benerannya mulai dari Jumat dan berakhir di hari minggu, nahh…. ini nih bedanya, libur paskah itu kan sebetulnya Jumat Agung dimana itu hari jumat dan Minggu Paskah dimana itu hari minggu. Karena hari minggu itu adalah hari libur, jadi pemerintah sini mengganti hari itu ke hari senin karena minggu itu memang sudah jatahnya menjadi hari libur, aihh… baiknya… masih bingung? Oke saya jelasin pakai libur natal yak. Natal itu kan tanggal 25 Desember (semua juga tau ya…) dan pasti tanggal merah kan yang artinya libur atau public holiday, jadi kalau tanggal 25 Desember itu jatuh di hari sabtu atau minggu, maka senin berikut nya akan jadi tanggal merah untuk mengganti libur natal yang jatuh di hari sabtu atau minggu yang memang sudah seharusnya libur. Jadi jatah libur (weekend) diganti jika ternyata ada public holiday jatuh di weekend, dan jatah cuti tetap 20 hari setiap tahun tidak berkurang hakhakhakhak… senang nya….

Nah sekarang saya bingung mau nyambung tulisannya gimana hahaha… gini nih kalau ngerjain sesuatu ga pokus, halah… fokus maksudnya. Semua jadi setengah sepatah begini.

Dah deh… nanti kita sambung lagi ya di tulisan berikut hahaha… caoo….

No Caption

Autum yang panas, iya… entah kenapa tahun ini walaupun sudah masuk ke bulan Maret bahkan bentar lagi April, suhu tidak kunjung menjadi dingin seperti tahun sebelumnya. Sempet sih awal Maret kemaren seminggu bermain diantara belasan sampai maksimal 23, tapi tidak bertahan lama karena sudah dua minggu ini suhu bermain diatas 25 terus dan matahari seakan tidak lelah memanggang bumi kangguru ini. Terik nya itu loh… secara benua ini ada di selatan dan condong ke arah matahari.

Tidak lama lagi daylight saving akan berakhir dan benua ini akan masuk ke waktu normal lagi. Daylight saving itu apaan ya? googling saja ya hahaha… yang pasti setelah daylight saving berakhir kami-kami disini akan ketambahan waktu tidur 1 jam karena yang tadinya jam 7 pagi mundur ke jam 6 pagi, dan otomatis merubah perbedaan waktu antara negara bagian Victoria di Australia ini dari 4 jam menjadi 3 jam dengan Jakarta.

Beberapa waktu lalu, istri sempat bercerita mengenai pengalaman dia konsultasi dengan speech therapy anak pertama kami. Loh… si AL dapat speech therapy? iya, tapi tenang ini bukan hal berbahaya, dia mendapatkan terapi ini karena lafal pengucapan beberapa huruf yang kurang tepat sehingga disarankan untuk menemui speech therapy yang mahal nya ampun di-je-mak… untung dibantu hampir 50% sama centrelink (pemerintah). Lumayan jadi berkurang hampir separo biaya nya hahaha… ok balik ke topik, jadi ceritanya istri habis sesi terapy berakhir ngobrol-ngobrol dengan profesional yang menerapi si AL, singkat cerita obrolan mengarah kepada sekolah dan belajar. Yang membuat kaget adalah saat istri ditanya setiap hari si AL yang sebentar lagi umur 7 tahun belajar nya gimana, dan dengan bangga pede empat lima karena mikirnya dah jadi Ibu yang baik hati dan tidak sombong, istri menjawab dengan mantap setiap malam belajar 2 mata pelajaran dan setiap mata pelajaran 15 menit saja! cieee…. keren ga tuh… cuman 15 menit ! kurang baek apa coba??? bandingkan dengan jaman kite dulu yang ditemenin sabetan dan minimal bisa-bisa 1 jam !

Si profesional itu dengan tenang berkata, itu kelamaan. Tanpa dosa tanpa rasa bersalah karena sudah membanting istri kebawah dengan pandangan datar sedatar-datarnya. Akhhhh…. yang bener ajaaaa??? jadi berapa menit harusnya? setiap hari 2 mata pelajaran sudah benar, tapi cukup 10 menit saja setiap mata pelajarannya. Haaa… saya sampai bengong pas di ceritain. 10 Menit belajar apaannnn???

Ya, mungkin karena saya yang udik kali ya, terbiasa di gembleng dengan cara yang beda hahaha… tapi singkat cerita, kami ikut apa yang disarankan, ya itung-itung biar si AL ga stress dan cape kan (kurang baek apa coba ortunya hahaha…) dan juga yang membuat kami tidak kawatir adalah, kurikulum belajar negara ini juga mendukung sehingga pihak sekolah pun tidak mempersulit dengan “kalau mau masuk kelas 1 harus sudah bisa ca-lis-tung” buset dah… disini mah yang dicek bukan ca-lis-tung nya, tapi anak ente pake celana ga karena kan ga mungkin kan anak ente jadi tarzan saat di kelas kan ya…

Saya sendiri minggu ini bulanan di tempat kerja baru, ya… secara garis besar pekerjaan yang ini cukup santai sih, saya diminta mendokumentasikan jaringan IT mereka yang amburadul, dan diminta membuat blue print untuk meningkatkan kemampuan jaringan IT mereka untuk 5 tahun kedepan. Selain itu juga pekerjaan harian yang jarang ada seperti ada yang rusak dibenerin, ada yang minta diubah ya diubah… kerjaan-kerjaan maintenance seperti biasa. Yang bagusnya dari apa yang saya kerjakan saat ini adalah memiliki ruang untuk bisa memberikan ide-ide untuk merancang jaringan ini untuk beberapa tahun ke depan, ya… hitung-hitung sekalian latihan jadi perancang lagi seperti waktu kerja di Jakarta dulu sekalian latihan bahasa inggris hehehe…

Hal lainnya mengenai sertifikasi yang saya pegang, tahun ini saya putuskan untuk menonaktifkan sertifikat expert saya setelah dijaga aktif selama 10 tahun. Kebetulan Cisco sendiri menyediakan jalan untuk menonaktifkan sertifikat level expert setelah 10 tahun agar tidak suspend dan bisa diaktifkan kapan saja dengan mengambil dan lulus ujian written yang disebut program emeritus. Sebetulnya saya agak sedih sih waktu login ke sertifikasi tracking saya, semua level associate dan professional masuk masa expired karena program emeritus tidak mencakup sampai level dibawah expert. Hikss… semua nya expired sekarang dan saya harus mengambil dan lulus semua module nya kalau mau certified lagi, dan itu mahal sekali. Saya mengambil program emeritus yang lebih murah jauh walaupun tidak gratis ini lantaran untuk menjaga agar semua sertifikat tetap aktif, saat ini semakin mahal biayanya, disamping itu karena saya bekerja lebih banyak di end user jadi ga bisa klaim biaya ujian ke kantor, ya berat buat saya kalau harus bayar 10 jutaan setiap tahun untuk ujian saja. Sebetulnya point nya bukan di berat keluar uang nya, tapi lebih ke relevan tidaknya hal itu bagi saya, karena teknologi saat ini menurut saya sudah tidak relevan lagi dengan sertifikat yang saya pegang itu. Entahlah, saya tidak begitu tertarik lagi belajar hal-hal itu karena lebih menarik belajar teknologi yang sedang hit saat ini seperti cloud misalnya. Dan belajar hal seperti itu juga ga murah loh… maklum saya bukan dari keluarga berada, jadi uang segitu berarti banget buat saya hehehe… itulah kenapa setelah saya timbang-timbang akhirnya saya putuskan untuk menggunakan uang tersebut ke teknologi lain, jadi sekalian update keahlian baru juga belajar hal baru, ya mudah-mudahan langkah ini tidak salah.

Sesuai judul, tulisan ini sebetulnya tidak ada topik khusus, entahlah… tiba-tiba saya ingin saja menulis lepas tanpa harus di kerangka dan menentukan topik. Lebih seperti orang lagi curhat ga jelas yang cerita ini dan itu tanpa arah hehehe… ya mungkin lantaran saya sedang kangen kali dengan kampung halaman atau masih agak culture shock walaupun sudah ga seheboh dulu ya…

Migrasi itu ternyata ga semudah yang saya bayangkan, ya mungkin bagi beberapa orang gampang ya, tinggal pindah tempat, tapi bagi saya perjuangan banget. Banyak sekali yang harus saya kompromikan dan saya relakan untuk bisa mencapai titik ini. Kalau bukan karena ingin memberikan yang terbaik yang mampu saya raih ke keluarga saya terutama anak-anak, saya sih males ambil jalan seperti ini, cape lahir batin nya itu yang ga tahan… bahkan sampai sekarang saja saya sering ngelamun ngebayangin jika seandainya saya tidak segila ini sekarang seperti apa ya… tapi terlepas dari semua itu, saya bersyukur bangett.. bisa migrasi dengan semua keterbatasan yang kami miliki. Karena ga semua orang bisa seperti ini, bahkan yang bisa dan mampu pun belum tentu bisa mendapatkan jalan ini.

Tuhan benar-benar baik banget sama kami, masuk tahun ketiga kami disini banyak banget kejadian-kejadian yang tidak kami sangka sebelumnya akan terjadi. Contohnya saya bisa menuaikan janji saya ke diri saya sendiri yang dulu saya bikin saat melamar istri saya dengan lamaran seadanya. Akhirnya tahun lalu janji itu terpenuhi, saya bisa membelikan sebuah cincin tunangan yang lebih layak buat dia dengan uang saya sendiri. Terus, ada lagi yang lain seperti tanah plus rumah yang sudah kami beli mulai masuk ke proses title sebentar lagi, jadi rumah kami pun sudah bisa mulai dibangun dan kalau lancar awal tahun depan kami sudah bisa pindah ke rumah sendiri, duh… ini benar-benar ga terbayangkan sebelumnya, boro-boro beli rumah di Melbourne ya… bisa beli rumah di Jakarta saja sudah senang bukan kepalang walaupun kecil rumahnya. Hal lainnya lagi, saya dapat kerjaan yang lebih mapan dalam segi status karyawan juga hal lain yang patut di syukuri, karena saya butuh status ini untuk memproses pinjaman ke Bank untuk rumah kami. Maksudnya KPR? iyalah, belum sanggup kami beli kontan hahaha… Harapan kami, tentu saja bisa membangun rumah kami dengan lancar dan juga unit yang kami sewa ini tidak mempersulit saat kami harus mengubah metode sewa kami dari tahunan ke bulanan, semogaa…

Eh… balik lagi ke sertifikasi yang saya bahas diatas, hari senin tanggal 20 Maret 2019 kemaren saya baru dapet email dari Cisco, isi nya mengatakan kalau saya akan mendapatkan plakat atas 10 tahun memegang CCIE, yeyy… dan saya juga berhak menggunakan 2 logo baru, yaitu 10 Years CCIE dan CCIE Emeritus, kira-kira seperti ini logo nya,

Wuihh… keren juga loh hahaha…. bangga juga bisa megang sertifikat langka ini 10 tahun, ga gampang dan melelahkan yang pasti hahaha…

Artikel ini sebenernya diketik di sela-sela kebosanan saya saat di kantor, karena lama-lama begah juga bikin dokumentasi yang tidak sedikit itu, apalagi cara mereka konfigurasi barang-barang mereka berada di titik dimana ketidak-umuman terjadi sangat dominan, duh… pusing… Masalahnya, kalau saya tidak membuat dokumentasi itu, nanti nya saya juga yang akan repot saat sedang merencanakan upgrade jaringan mereka agar mumpuni untuk menyongsong tantangan IT 5 sampai 10 tahun kedepan, ya elahh… bahasanya ketinggian yaa…

Hal lainnya yang terjadi adalah….. saya memasang modem dengan kapasitas 500 Giga wahahaha… sebenernya tadinya saya mau ambil yang 300 Giga saja, tapi masalahnya harga yang harus dibayar beda AUD 15, ya elah… tanggung amat ya… ya udah saya ambil saja yang paling gede kapasitasnya. Sebulan ini saya tes udah anak-anak hampir setiap hari streaming reading eggs, mathlatic dan youtube, belum lagi bini netflix-an ditambah saya main game onlen ehh… ternyata baru kepake ga sampe 100 Giga huuu…uuuu…uuu…. sisa banyak bangettt…

Betewe ngomong-ngomong soal Netflix, tadinya sih iseng karena istri perjuangan banget nyari-nyari drakor di youtube, belum lagi kalau kepotong-potong kan ya, mana seru coba, baru air mata mau berlinang ehhh…. ga ada lanjutan nya, jiahhh… ga jadi mewek deh… abis itu bilang kesaya “nyebelin nih, lagi seru-seru nya ga ada lanjutan video nya!” Nah,…. KODE KERAS INI!!! 🙂

Ya sudah, saya langganin Netflix biar puas nonton drakor nya, walaupun awalnya bilang “ga” terus setiap ditanyain “mau langganan netflix ga?”, eh ternyata oh ternyata… begitu Netflix dapet langsung serius belajar cara nonton nya, jiahhh…. dasar wanita…. suka bener ditebak-tebak isi kepala dan hati nya, emang nya ane dukun neng!!

Dann…. Netflix sukses membuat bulu kuduk beberapa kali berdiri, bukan karena nonton film horor, tapi keadaan suka tiba-tiba horor, gimana ga horor coba, malem-malem lagi enak-enak molor tiba-tiba ada yang nangis sesengukan atawa ngakak sendirian haduh… haduhh… bisa copot ini jantung abang neng….. Ga apa lah, happy wife happy live, iya ga? istri yang bahagia membuat hidup menjadi lebih mudah hahaha… norak ya…

Hari ini saya pulang cepat, eitss… ntar dulu, ini pulang cepet gegara ada yang lupa bawa kunci pas anter anak-anak ke sekolah. Bikin repot saja, faktor “U” kayanya, masa bisa lupa bawa kunci orang tiap hari anter anak sekolah ck…ck…ck… saya jadi harus ijin pulang lebih awal deh karena ga tega anak-anak ntar ga bisa masuk rumah setelah pulang sekolah karena bisa sejam lebih nunggu diluar nungguin saya sampai rumah. Kalau si mamak e mah saya ga worry, ga bisa masuk rumah dia malah ke Mall jalan-jalan seharian sama temen nya wakakakak…. emang dasar garis hidup harus rilex yeee…

Apapun yang terjadi selama ini, saya tetap bisa merasakan kehadiran Tuhan ditengah-tengah kami, apapun itu… baik itu sesuatu yang baik, sesuatu yang mengajar, maupun sesuatu yang menyedihkan, Dia selalu ada buat kami. Kami bisa sampai sejauh ini hari ini, tidak semata-mata karena kehebatan kami, sama sekali tidak… tapi lebih kepada Dia yang membimbing kami. Jatuh bangun kami disini, dan selama mengejar impian kami ini tidak akan pernah terlupakan dalam hidup kami dimasa mendatang, semua ini adalah berkat.