Mengusir Jenuh

Sudah beberapa minggu ini saya kerja dari rumah, istilah kerennya WFH (Work From Home) karena adanya level 3 shutdown di Negara Bagian Victoria yang salah satu pointnya adalah jika kalian bisa bekerja dari rumah harap dilakukan. Nah… berhubung kerjaan saya juga semua ada ditempat lain dan tetap harus di remote walaupun ada di kantor, jadilah ngungsi meja kerja nya ke sebelah kasur.

Dulu, sebelum ada wabah ini, saya sering membayangkan enaknya kerja bisa dari rumah saja. Selain ga perlu di jalanan abisin waktu, bangun pagi juga bisa siangan, plus mandi ga perlu pagi-pagi apalagi pas winter. Bener sih, karena itulah yang selama ini terjadi semenjak saya kerja dari rumah. Kadang mulut masih bau jigong laptop sudah nyala dan saya sudah gerak kesana kemari macam orang sudah rapi siap kerja hahaha… Nahhh… pas tau-tau ada panggilan video conference yang suka terjadi tiba-tiba sama team, baru pontang panting cari jaket buat nutupin baju tidur, apalagi sekarang sudah mulai dingin jadi gampang alasannya, asal ga lupa matiin conference nya sebelum berdiri karena masih pakai celana tidur wakakakak…

Kerja dirumah juga ada tantangan lain, yaitu rasa bosann… beneran deh kerja di kantor itu ternyata bisa membuat kita lebih ga bosan karena orang yang ditemuin beda, masalah yang dibahas juga suka beda, sampai kadang saya suka jalan-jalan sebentar keliling blok perumahan sekedar lurusin kaki dan ngusir rasa bosan. Udah gitu mana saya tinggal di unit dan lantai 2, ga banyak ruang gerak kalau di dalam rumah juga, apalagi anak-anak semua saya suruh belajar online juga dari rumah. Kerja dari rumah juga membuat ruang gerak jadi longgar, nih buktinya saya jadi lebih aktif chat di group WA sampai bisa nulis blog sambil dengerin lagu-lagu dari Youtube.

Walaupun membosankan, sebetulnya banyak sih yang bisa dilakukan buat ngusis bosan, kalau lagi ga chat atau nulis, biasanya saya becanda sama anak-anak sebentar, klo ga bantuin istri menyiapkan bahan buat masak, atau sekedar mondar mandir kaya strikaan, atau sekedar main game online di HP atau main Facebook hahaha…

Ternyata banyak cara mengusir jenuh ya, jadi yang bermasalah bukan jenuh nya tapi jenuh nya sudah di usir berkali-kali tetep balik lagi balik lagi… huhh… bandel ya…

Bosan…

Saat tulisan ini sedang kurawi, sebetulnya saya sedang dalam kondisi yang membosankan. Entahlah… di tempat kerja juga sedang tidak banyak proyek baru, keadaan rumah juga masih tersendat sendut pembangunannya, dan setiap hari lewat begitu saja secara monoton. Dulu ada yang bilang tinggal di Australia itu sebetulnya membosankan karena terlalu tertib, kurang deg-deg-an, dan monoton. Well… itu ada benarnya kalau kita berpikir seperti itu ya… tapi buat saya yang punya pandangan yang selalu beda dan aneh sendiri, justru semua itu bikin ga bosan.

Dari sisi pekerjaan, di Australia memang sedikit berbeda dengan di Indonesia. Disini bisa dibilang sebagian besar tempat kerja rasa nyantai itu terlalu kebangetan, rileks banget seperti tidur siang. Memang sih, saat ada masalah atau ada yang jaringan yang jatoh saya bakalan hiruk pikuk empat lima sampai semua kembali seperti semula, tapi ya justru disitulah masalah utamanya, mana ada sih orang yang mau jaringan nya jatoh dengan mudah, iya ga… jadi ya kita pakai berbagai macam jurus kung fu agar jaringan tidak jatoh dengan mudah atau setidaknya sudah kasih kedipan mata genit ke kami-kami ini sebelum beneran jatoh. Nahhh… disitulah yang bikin kami-kami yang bekerja dibelakangnya jadi mati gaya karena sebagian besar waktu kami dihabiskan untuk memantau dan memantau saja hemmm…. ujung-ujung nya apa coba? ya bosan lah hahaha… itu kenapa saya ngetik blog kalau sedang ga ada yang dikerjain dan sedang tidak berusaha mempelajari sesuatu.

Dari sisi kehidupan itu sendiri, semenjak kami masuk tahun ke 3 tinggal disini, kami mulai masuk ke dalam arus dan alur cara menjalani hidup disini. Sering kali saya mati gaya saat sedang dirumah, itulah kenapa sering keluyuran (alibi hahaha…), tapi beneran loh… disini saya sampai cari-cari kegiatan mau ngapain saat sedang berada di rumah. Sampai-sampai saya paksain beli rumah disini karena pengen dandanin rumahnya biar ada yang dikerjain kalau sedang liburan dan duit cekak buat pergi halan-halan-halahhh…. ya gitulah…. Untuk anak-anak sendiri mereka fun-fun saja so-far-ya… mereka selalu bisa mendapatkan kesibukan dengan cara mereka, entah bikin sesuatu, berkreasi sesuatu, main sesuatu atau gangguin satu dengan lainnya trus teriak-teriak, ketawa-ketawa, nangis-nangis trus ketawa-ketawa lagi…. dasar bocah emang… cepat berantem cepat baekan…

Trus apa lagi ya… ya paling kami coba planning ini itu yang jelas sampai yang ga jelas sekedar biar kepala kami tetep mikir hahaha… ga denk… kami planning karena kami ingin punya target dan rencana saja sih, seperti misalnya akhir tahun ini mo kemana dan ngapain. Rencana sementara sih kami pengen road trip ya ke bagian Australia lainnya, ya liat-liat lah di belahan lain ada apaan. Selain itu kami juga suka diskusi mau ngapain setiap minggu nya sampai kadang bingun mo ngapain lagi… ini serius loh… dulu kami cekak jarangggg banget makan di luar, sekarang setelah rada ada duit dikit biasalah keluar gayanya kebanyakan jadi sering makan diluar dan hasilnya sekarang bingung kalau mau makan diluar mau makan dimana dan makan apa…. mampus ga tuh… makanya saya bilang ke istri saya memang paling enak jadi orang ya cukupan saja, karena kalau sudah tajir melintir dan hampir memiliki semua, hidup rasanya bakalan plat deh…. dan biasanya kalau sudah plat begitu keluar lah yang aneh-aneh yang secara tidak sadar ada buat mengusir rasa bosen, tul ga….

Kalau ga tul ya sudah ga papa, berarti belum aneh situnya hahaha….

Berburu pekerjaan di Melbourne

Kali ini saya akan coba menulis ulang sebuah topik yang sudah pernah saya tulis disini beberapa waktu lalu tapi lebih ke pendekatan manusiawi karena setelah saya baca-baca ulang tulisan yang lalu kok rasanya pendekatannya lebih ke keadaan pribadi saya dan lebih menekankan doa untuk mendapatkan pekerjaan di Australia. Saya tidak sedang berusaha mengatakan jika kita tidak perlu berdoa ya… jadi jangan salah paham, kita tetap harus membawa apapun keinginan kita dalam doa selama kita masih orang beriman, itu hal yang saya percaya, jadi yang kali ini ingin saya tuliskan akan lebih kepada tips dan triks nya yang sejauh ini sudah saya dapatkan selama berburu pekerjaan disini agar lebih real dan mudah-mudahan bisa menjadi panduan bagi kalian yang baru saja mendarat di tanah kangguru dan ingin membangun kehidupan disini. Sharing ini lebih kepada mereka yang memang datang dengan keinginan menetap ya, jadi memang sudah memegang visa PR (Permanent Residence) agar lebih klop dengan keadaan saya yang memang menulis ini dengan latar belakang visa PR. Mencari pekerjaan profesional atau biasa disebut decent job atawa kerja kantoran itu sulit-sulit-mudah, yang paling sulit adalah bagaimana menembus pasar tenaga kerja disini. Setelah kita berhasil mendapatkan pengalaman kerja disini setidaknya minimal 1 tahun, selebihnya relatif lebih mudah saat kita mau pindah kerja ke tempat lain. Nah, kali ini saya coba tuliskan apa saja sih yang biasa kita lakukan disini saat mencari pekerjaan.

Pertama mari kita mulai dengan bagaimana menyusun CV model Australia yang sering membuat kita bingung saat pertama kali menginjakan kaki di benua ini, di Australia cara kita menyusun CV bisa dibilang sangat berbeda dengan di Indonesia. Salah satu yang berbeda adalah CV kita tidak membutuhkan foto 3×4 close up dengan background warna tertentu yang biasa kita sematkan di CV kita saat berburu pekerjaan di Indonesia, CV disini juga tidak membutuhkan tempat/ tanggal lahir, agama kita apa, apalagi sampai status kita kawin atau single. CV model Australia lebih menekankan sisi profesionalisme seperti apa dan kemampuan yang kita miliki sampai dimana, sebanyak apa pengalaman yang kita miliki, sampai apa saja portfolio yang pernah kita kerjakan jika ada, seperti misalnya proyek apa saja sih yang pernah kita kerjakan jika kita bekerja di IT. Lalu contoh bentuk CV nya seperti apa? saya coba bagikan cara saya membangun CV saya ya, tapi ini lebih ke IT karena saya bidangnya IT dan ini adalah salah satu model CV saja karena jika kalian melamar pekerjaan di bidang lain mungkin butuh model yang berbeda karena ingat yang saya tulis diatas tadi? harus menonjolkan kemampuan kita di bidang yang kita lamar 🙂 . Coba klik disini untuk melihat model CV yang saya bangun selama di Australia, saya tidak memberikan semua informasi ya seperti nomor mobile phone saya, alamat rumah dll untuk menghindari hal-hal yang kurang diinginkan.

Menyusun CV ini cukup tricky ya karena kita sebisa mungkin harus bisa menonjolkan pencapaian kita yang tentunya harus bisa kita pertanggung jawabkan juga saat sesi interview baik untuk pekerjaan permanent maupun contract, jadi jangan ngarang tapi ga bisa jelasin ya hahaha… untuk semua interview yang sudah saya lewatkan selama berburu pekerjaan IT disini, 80% dari sesi interview saya selalu berakhir dengan whiteboard interview yang artinya saya diminta menjelaskan salah satu proyek yang sudah pernah saya lakukan sambil coret-coret di papan tulis seperti dosen lagi ngajar sembari dibombardir pertanyaan seputar teknis kenapa begini dan begitu baik dari segi desain, teknis maupun dari sisi strategi yang pernah saya terapkan saat menjalankan proyek tersebut, yang juga berarti jika kita berbohong di CV ya akan ketangkep juga pada akhirnya hahaha… Saat menyusun CV juga masukan semua pengalaman kerja baik yang kita dapatkan di Indonesia maupun yang di Australia. Ya memang sih….pengalaman kerja kita di Indonesia sering kali ga dianggap, tapi biasanya mereka juga mau tau kita ngapain aja sebelum migrate. Nah, yang enaknya disini adalah, jika kita tidak bekerja dalam waktu tertentu karena harus jaga anak, atau ada anggota keluarga yang sakit, atau mencoba merintis usaha, atau misalnya sedang jadi relawan, hal itu juga bisa dimasukan kedalam CV dan tidak akan dianggap point minus untuk pengalaman kerja. Hal lain yang beda di Australia adalah ijazah sering kali tidak menjadi acuan tunggal, mereka selain melihat dari sisi ijazah juga melihat dari sisi pengalaman, sertifikat teknis misalnya CCNA dari Cisco System, atau JNCIA dari Juniper, atau MCSA dari Microsoft, dan juga skills yang kita miliki. Jadi biarpun kita lulusan SMA tanpa sertifikat apapun ditangan, tapi kita mengerti, paham dan bisa mengerjakan hal-hal teknis secara mendalam, kesempatan kita sama besarnya dengan mereka yang punya ijazah dll.

Oke, bagian CV kurang lebih sudah ada bayangan lah ya… sekarang kita bahas tempat nyari nya. Nyari apaan ya? ya nyari lowongan lah… 🙂 di Australia umumnya orang mencari lowongan kerja di sebuah platform online lowongan kerja terbesar dan paling terkenal disini, yaitu http://www.seek.com.au, inget pakai .au belakangnya ya… karena kalau .nz itu list lowongan di New Zealand. Nah… di Seek ini juga kita harus fokus kepada tempat pencariannya di negara bagian mana untuk mempermudah kita dalam mencari lowongan kerja yang memang dibuka di kota atau daerah kita tinggal agar tidak perlu waktu lama dalam menuju tempat kerja. Lucu tapi ini memang terjadi sih, di Australia kalau mereka melihat kita tinggal terlalu jauh sama tempat kerja biasanya tidak akan diprioritaskan, jadi usahakan mencari kerja di tempat yang tidak lebih dari 1 jam waktu tempuh perjalanan menggunakan public transport.

Australia kan ada 8 bagian tuh (NSW (Sydney), ACT (Canberra), VIC (Melbourne), WA (Perth), SA (Adelaide), Tazmania (Hobart), QLD (Brisbane), dan NT (Darwin)). Jadi biar lebih gampang kita pilih dulu kita nyari di negara bagian yang mana, tentunya berdasarkan tempat tinggal  ya… tapi bisa juga kalau kalian willing buat pindah ke negara bagian lain (seperti kawan saya pindah dari Sydney – NSW ke Perth – WA) karena dapat pekerjaannya disana ya silahkan nyarinya global saja, Untuk mencari pekerjaan juga nyari nya based on key word, nah… bicara soal key word itu juga penting, jangan nyari kerjaan IT tapi key word nya kitchen hahaha… Di Seek ini juga kita bisa bangun profile kita secara online, profile ini seperti CV online kita, dan pencari tenaga kerja baik perusahaan maupun agen pencari kerja bisa nyari kandidat yang mereka butuhkan berdasarkan key word juga, misalnya skill tertentu. Itu kenapa saat bangun profile di Seek juga perhatikan cara menuliskan skill yang kita kuasai, misalnya saya pakai kata networking, voice, wireless. Bisa juga memasukan  vendor spesifik yang kita kuasai seperti misalnya Cisco. Hal lainnya adalah disarankan kita bikin profile berdasarkan pengalaman kerja juga karena hal itu juga dijadikan acuan key word saat mereka mencari kandidat, saya sering kok dihubungi langsung karena profile saya di Seek, padahal saya sedang ga nyari kerja. Oh ya… jangan lupa untuk upload CV kalian yang sudah kalian buat dengan susah payah tadi di Seek ya, karena selain profile online di Seek itu biasa untuk screening awal dan mereka akan coba download CV kita dari Seek untuk lebih detail nya sebelum mencoba menghubungi kita.

Selain nyari di Seek, saya beberapa kali juga langsung nyari di web nya company atau organisasi yang bersangkutan, tapi ya untuk yang satu ini kalian harus tahu dulu nama tempat atau organisasinya ya… bisa dari kawan atau bisa dari browsing di internet, pakai cara yang satu ini juga sering kali membantu karena beberapa perusahaan mereka punya tempat buat posting lowongan ditempat mereka sendiri (karena kalau di Seek kan bayar hahaha… tapi tenang itu kalau untuk posting lowongan, kalau seperti kita yang hunting pekerjaan 100% gratis kok…). Selain di web company nya langsung, cara lainnya yaitu membangun hubungan dengan para agen. Bisa dengan beberapa cara, bisa dengan kirim CV melalui web mereka, atau bikin profile di web mereka sama seperti Seek gitu, atau bisa juga dengan kenalan saat mereka menawarkan suatu peluang kepada kita, atau bisa juga dengan menambahkan mereka ke jaringan Linkedin kita yang memang sudah ada profile profesional online kita juga.

Nah… selanjutnya adalah data pendukung, seperti apa itu? salah satunya adalah profile online seperti Linkedin, membangun profile di Linkedin sedikit banyak ikut membantu kita promosi, karena system kerjanya seperti facebook yang bisa menambahkan kawan, hanya saja disini lebih ke tujuan secara profesional walaupun beberapa pengguna mulai posting-posting berita sampah seperti politik lah, curhat lah, bahkan ada yang posting CV segala hadehh… itu profile kalian di linkedin sudah seperti CV ngapain posting CV lagi? contoh profile linkedin mungkin bisa lihat punya saya disini, ya walaupun ga sempurna tapi sejauh ini cukup ok sih… karena saya sering di kirim tawaran kerja lewat inbox di Linkedin sama agen ataupun HRD dari perusahaan yang posting pekerjaan langsung. Profile seperti Linkedin ini juga bisa dibuat di Seek atau website dari agen pencari kerja seperti yang saya tuliskan diatas tadi. Sejauh ini saya sih bikin 2 profile saja dan saat ini kedua profile itu dalam posisi “tidak mencari kerja”. Bingung ya itu apa? oke, di Linkedin dan Seek kita memiliki pilihan untuk mengubah pengaturan di profile kita, kalau di Linkedin namanya “let recruiter know you are looking for job” sedangkan di Seek namanya “make your CV visible to recruiter”, kira-kira begitulah kira-kira…

Kalau semua sudah dilakukan, selanjutnya adalah semangat pantang menyerah, ini penting loh… karena menembus pekerjaan di tanah Kangguru ini ga gampang walaupun bukan berarti susah juga. Jadi semangat pantang menyerah itu penting buat menjaga pikiran kalian tetap jernih saat wawancara. Kalau kita stres atau depresi itu terlihat banget dari bahasa tubuh kita saat di wawancara, dan hal itu membuat peluang mendapatkan pekerjaan menjadi semakin tipis. Setelah pantang menyerah hal satu lagi yang menurut saya tetap harus dilakukan adalah berdoa, percaya deh… berdoa itu membantu banget, selain membuat hati dan pikiran lebih tenang, dengan berdoa juga membuat kita lebih dekat dengan Tuhan kan. Ya kecuali kalian atheis, itu diluar kuasa hahaha… Balik lagi sih, sebetulnya kalau kalian mau kerja apa saja, pasti bisa hidup kok disini, cuman ya itu tadi… pekerjaan nya mungkin ga sesuai dengan latar belakang keahlian kita, dan bisa juga bayarannya kurang memadai. Karena kerja casual itu, apalagi di restoran, haduh-haduh…. lebih baik dihindari jika buat berkeluarga ya, kalau masih mahasiswa atau single sih oke-oke aja, tapi ga rekomen untuk yang sudah berkeluarga.

Terakhir tapi sama pentingnya, kita juga butuh jaringan dan kawan, kenapa? karena disini sering kali diminta referensi, jika kita baru mulai kerja di Australia biasanya referensi dari kawan masih bisa diterima karena mereka masih maklum jika kita baru sampai di Australia, tapi setelah punya pengalaman kerja lebih dari satu atau dua tahun disini, biasanya referensi kerja yang diminta adalah mantan atasan atau kawan kerja di tempat sebelumnya. Jadi ya, lakukan yang terbaik saat bekerja, masalah atasan dan kawan kita bakal baik juga saat memberikan referensi ya itu misteri ya… karena hal itu diluar kuasa kita. Tapi rata-rata disini sih orang-orang nya sangat profesional ya, mereka jarang banget mau mencampur antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Selama kita melakukan yang terbaik saat kerja dan tidak melakukan hal-hal kurang terpuji seperti penggelapan uang misalnya, seharusnya sih tidak masalah hehehe…

Saya sejauh ini sih cukup banyak pindah-pindah kerja, dalam 3 tahun saya sudah pindah 4 kali karena pertama saya mencari pekerjaan yang statusnya permanent tapi disisi lain saya juga ga mau dapat pekerjaan permanent yang tantangannya ga ada karena kan maunya stay agak lama. Yang kedua saya nyari satu level income yang menurut saya sesuai dengan keahlian yang saya miliki dan cukup memadai untuk men-support keluarga saya disini. Terakhir saya mencari yang dekat dengan Public Transport karena nanti kan saya bakalan tinggal rada jauh di Barat sana dan kemungkinan besar saya malas nyetir hahaha…. jadi pilihannya adalah menggunakan kereta listrik (V/line atau Metro). Saat ini saya sudah mendapatkan pekerjaan yang memenuhi apa yang saya inginkan, kita lihat lah sejauh apa langkah nya karena selain apa yang saya inginkan masih ada hal-hal lainnya yang menjadi pertimbangan kan, karena ga semua diukur dari materi saja.

Jadi… selamat berjuang ya… jika masih punya dana memadai jangan mudah menyerah saat mencari kerja kalau sudah sampai di Australia karena migrasi kesini semakin sulit sekarang.

Dua Setengah

Bulan ini, kami menginjak dua setengah tahun pindah ke Melbourne dari Jakarta. Masih seumur jagung, tapi sudah cukup membuat kami jungkir balik beberapa kali. Hidup di rantau seperti ini, sudah pasti suka tidak suka ikut mengubah diri saya. Saya berubah dari minder menjadi lebih percaya diri sekarang, saya minder bukan karena kemampuan teknis saya jelek, tapi lebih karena bahasa inggris saya berantakan. Sekarang bukan berarti saya sudah lancar berbahasa inggris ya… tapi setidaknya sudah lebih mendingan jauh dibandingkan dulu pertama kali menginjakan kaki disini.

Semakin kesini, entah kenapa saya semakin sering terjaga di tengah malam. Saya masih selalu mencari tahu apa sebetulnya yang mengganggu pikiran saya. Memang, saya ada beberapa hal di tempat kerja yang cukup mengganggu yang tidak bisa saya ceritakan disini karena kurang etis. Dan, ada satu pikiran juga yang mengganggu karena ijin mendirikan bangunan kami tidak kunjung diberikan sehingga kami tertahan untuk memulai membangun rumah mungil kami nan jauh di barat sana.

Banyak orang bertanya kepada saya kenapa begitu cepat memutuskan untuk membeli rumah di daerah yang cukup jauh dari Melbourne City, entahlah…. mungkin karena saya orang yang malas pindah-pindah, tapi lebih jauh lagi saya hanya ingin memiliki tempat tinggal permanen, itu saja. Karena saya tidak memiliki apapun selain apa yang saya hasilkan dari kedua tangan saya, yang tidak seberapa itu, ya salah satu pilihan nya harus mau kompromi dengan keadaan dan jarak. Saya sendiri nekat beli tanah bersama bangunan rumah diatasnya walaupun kecil bukan karena sedang berusaha menimbun harta, tidak sama sekali, ya…. memang saya masih punya rumah mungil di Jakarta sana, tapi ini murni karena saya ingin punya tempat tinggal permanen saja, tidak lebih tidak kurang, dan ini bukan juga karena saya kuat secara finansial loh ya…. karena hal ini menguras hampir seluruh tabungan saya.

Walaupun tabungan saya hampir habis, setidaknya saya bisa lebih tenang sedikit (saat rumahnya sudah jadi) karena istri dan anak-anak saya sudah punya atap yang hanya perlu mereka jaga jika terjadi sesuatu pada saya (seperti pada Papa saya dulu). Membawa mereka melintasi samudra ke benua lain mengikuti kegilaan yang ingin saya capai secara tidak langsung membuat saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Harapan saya sebetulnya sederhana, saya hanya ingin hidup tenang dan tidak merasa terlalu banyak kawatir (walaupun itu sulit karena iman saya masih rendah). Saya pun belajar ilmu ikhlas yang susah nya minta ampun, disamping ilmu pasrah yang tidak kalah sulitnya.

Dua setengah tahun…. perkembangan kami disini cukup baik, dan sangat baik malah dibeberapa kesempatan. Pekerjaan yang lebih baik dari waktu ke waktu pun turut memberikan andil, pekerjaannya ya yang lebih baik bukan lingkungannya hahaha… (yang ini hanya saya dan istri saya yang tahu, semoga istri saya tidak mudah menceritakan hal ini ke orang lain, karena saya berharap ini tidak dikonsumsi umum…..). Apapun itu, terutama perkembangan anak-anak cukup membuat saya lega. Si AL anak saya yang besar sudah memliki beberapa kawan dekat, si JD yang kecil malah punya banyak teman. Ya… setidaknya mereka sudah mulai “lokal” dibandingkan kedua ortunya. Saya menatap dua setengah tahun berikutnya, yang entah kapan kami bisa mudik bersama.