Salju

Dari dulu saya selalu memimpikan bisa memegang salju (norak yak… hahaha…), satu hal karena saya lahir di bulan Desember dimana identik dengan salju yang sayangnya disini justru ga ada white christmas karena Desember jatuh di musim panas, hal lainnya karena emang saya pengen aja hahaha…

Hari ini, setelah diskusi pendek dengan istri dipagi hari (kalau di Jakarta sih boro boro… ga bakalan ada hal begini karena kemacetan yang menggila dari hari ke hari sampai bikin kami males pergi hahaha…) akhirnya kami putuskan ke Lake Mountain. Sebuah kawasan nun jauh di timur Melbourne sana, kurang lebih 110 Km yang ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit, yang masih diselimuti oleh salju setebal kurang lebih 20 cm. Ya mayanlah karena pertama kali jadi kami anggap ini sebagai pengalaman untuk kunjungan selanjutnya agar lebih baik persiapannya.

Perjalanan kesana, yang melewati kota kecil nan klasik, melewati jalan berkelak kelok membelah hutan yang cantik, juga melewati kebun anggur yang luas dan peternakan yang bagus dan cantik pemandangannya.

Setelah sampai disana, suhu 1 derajat langsung menyambut kami. Kami pun langsung menambah perlengkapan seperti jaket, sarung tangan dll sebelum menuju hamparan salju yang sudah menggoda.

Setelah sempat keplarak (keplesetbeberapa kali karena tidak menggunakan sepatu yang sesuai, saya pun mengajak anak-anak membuat manusia salju yang ampun dj susah ternyata hahaha…

Setelah makan siang disana yang ditutup dengan segelas coklat panas, kami pun turun gunung dan menuju satu tempat lagi yang memang sejalur dengan perjalanan kami, Yarra Glen Chocolaterie, sebuah cafe yang menyediakan es krim dan spesialis di coklat. Karena perut mulai gaduh, kami pun menikmati dessert disana, setelah selesai makan kami ajak anak-anak jalan-jalan dan main disekitar yang terdapat peternakan dan kebun.

Hari ini… sekali lagi membuat saya sangat bersyukur untuk apa yang sudah kami lewati, yang jujur saja kadang saya masih ga percaya bisa sampai di titik ini. 

Dan saya selalu berdoa agar kami bisa mewujudkan impian kami untuk kedua anak kami, dan juga impian-impian saya yang lainnya.

Terimakasih Tuhan untuk semuanya.

Advertisements

Lampu Taman

Malam ini, kami pergi mengunjungi Central Park John Landy Oval Malvern East, berawal dari ide istri saat mengetahui adanya taman yang dihias dengan lampu di malam hari dalam batas waktu tertentu.

Tamannya bagus, dengan hiasan lampu taman beraneka bentuk dan warna yang berubah-ubah membuat malam menjadi menarik, dan beberapa pohon disinari dengan lampu warna warni menambah indahnya taman tersebut.

Anak-anak pun kegirangan melihat pemandangan baru ini, walaupun berada ditengah suhu 10 derajat yang masih menusuk kulit, mereka berlari kesana kemari melihat pemandangan disana.

Saya pun mengambil beberapa foto dan video, hasilnya ga begitu maknyus karena menggunakan kamera handphone dan kurang sinar, tapi lumayan lah hahaha…

Yang menyenangkan lagi adalah tanpa biaya, semua gratis untuk dinikmati pengunjung dan ada petugas yang berpatroli. Bebas asap rokok dan tertib, hal yang sulit ditemui di Jakarta tentunya.

Hal-hal seperti inilah yang kami kejar, kualitas hidup dan kualitas waktu bersama keluarga. Beberapa kawan bahkan saudara pernah mempertanyakan keputusan saya meninggalkan semua yang sudah saya raih di Jakarta untuk migrasi ke Melbourne, karena menurut mereka tinggal di luar negeri itu susah untuk bisa menjadi orang kaya.

Saya tidak mengejar hal itu kawan, bagi saya hidup berkecukupan bersama keluarga sudah lebih dari cukup. Saya tidak mengejar hidup berlebihan. Karena saya tidak mau mengorbankan salah satu harta paling berharga hanya untuk mengejar uang, harta itu adalah waktu bersama keluarga. Sesuatu yang tidak akan bisa kalian dapatkan lagi saat sudah berlalu, sebanyak apapun harta kalian.

Saya masih ingat di salah satu wawancara Jack Ma pendiri Alibaba yang fenomenal itu, saat ditanya apa yang paling dia sesali, dia menjawab jika dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membangun bisnis dia, sampai-sampai istri dia berkata jika dia adalah milik alibaba bukan keluarga.

Jawabannya yang kurang lebih sama dengan (alm) Papa saat dia akan pergi selamanya, saat itu saya bertanya apakah ada yang dia sesali selama hidup, dan dia menjawab jika dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membangun bisnis daripada bersama anak-anak dan mama saya.

Apapun itu, setiap manusia berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing bukan? Apapun pilihannya, semua akan berhadapan dengan resiko, besar kecilnya resiko yang akan kita dapat kembali kepada besar kecilnya keberanian kita menghadapi resiko itu sendiri.

Satu hal yang pasti saya tidak mengejar predikat orang kaya, saya mengejar kehidupan yang bebas dan seimbang agar memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga tanpa melupakan tugas saya sebagai kepala keluarga dan memberikan hidup layak kepada keluarga saya semampunya. Hidup yang layak itu harus di dasari rasa syukur dan kata cukup bukan berarti harus berlebihan kan? 🙂

Itu menurut saya…

Ough… empat rasa dua

Pagi ini saya bangun dengan suasana agak berbeda, dinginnya beda. Padahal baru masuk ke musim dingin dan awal-awal itu biasanya ga langsung turun sampai serendah ini. Iseng saya buka aplikasi di handphone saya dan…

Ternyata empat rasa dua!

Pantesan dingin bener, mau bangun tadinya buat nyeduh kopi panas, tapi males banget karena udah kebayang diluar kamar seperti apa dinginnya. Langsung menuju heater di kamar dan saya nyalakan level kecil agar kamar agak hangat karena 2 unyils susah banget disuruh selimutan, sambil duduk disebelah heater juga menghangatkan diri sendiri sebelum keluar kamar hehehe…

Hari ini kami akan ke daerah barat dari Melbourne untuk mengikuti misa pentakosta dari KKI yang diadakan disana. Cukup jauh (eh… jauh beneran sih) dari rumah kami yang ada di daerah timur, sekitar 35 menit sejauh 30-35 KM.

Kami belum pernah misa disana, jadi mau sekalian melihat daerah barat seperti apa mumpung ada kegiatan juga disana. Melbourne itu guede dan luas banget, jadi butuh waktu lebih buat mengelilingi kota cantik ini, memang sih ga semua jadi tempat wisata, tapi setidaknya kalau sudah dijelajahi nanti saat kami akan cari tempat tinggal permanent lebih gampang membuat list bidikannya.

Beberapa hari lalu saya dapat pesan di email, “mas, kok sudah jarang nulis? Jarang keluar di FB lagi”

Hehehe… jarang nulis mungkin iya, karena kemaren saya sedang dalam tahap melawan culture shock yang sampai sekarang masih saya lawan hanya saja sudah lebih bisa dikendalikan, jadi mood untuk nulis naik lagi. Bukan ga mau sering nulis, tapi lebih ke mencari waktu yang enak buat nulis. Kenapa harus seperti itu, karena tulisan saya bisa jadi dibaca banyak orang, jadi saya berusaha sebisa mungkin menulis sesuatu yang (semoga) bisa berguna bagi pembaca.

Seperti beberapa yang saya bisa share disini (maaf saya samarkan untuk privasi).

Kalau masalah ga posting di FB lagi, memang saya tidak mengaktifkan auto share dari blog saya ke FB, saya biasanya manual share nya. Karena saya bukan tipe orang yang suka share banyak hal seperti beberapa orang lain, dan sudah ga terlalu aktif juga sekarang di FB hehehe…. lebih ke silent reader saja kadang-kadang.

Baiklah, sekarang saatnya bangun untuk siap-siap ke gereja.

Have a nice weekend, Mate!

Pict source: from private twitter, email, and unknown (the last).