Minggu Pertama

1 minggu pun terlewati (dengan cepat) di tempat baru.

Walaupun rada-rada cegukan saat mulai karena laptop belum ada, login belum diminta, kartu akses belum siap apalagi kartu ID, tapi perlahan semua mulai terkendali walaupun masih menggunakan laptop sementara sambil menunggu laptop baru datang, kartu akses dan login setidaknya sudah ada jadi ga bosen-bosen amat lah… bisa browsing dan ubek-ubek dokumen mereka, login ke perangkat-perangkat mereka sambil membuat dahi merengut karena satu sisi saya rada kaget dengan network mereka tapi di sisi lain manggut-manggut juga sambil berkata dalam hati “ga salah juga sih cara deploy nya, tapi…”. Udahlah kalian ga akan nangkep apa maksud saya hahaha….

Suhu di Melbourne masih suka drop ke level dibawah 10 derajat, ya iyalahh… kan masih winter. Dan, minggu ini saya mendapatkan beberapa kabar baik yang menggembirakan, disamping tempat kerja yang bisa dibilang nyaman ternyata kerja di organisasi non-profit memberikan benefit tersendiri yang berhubungan dengan pajak.

Untuk mengusir dingin, seperti biasa tingkah norak saya kambuh, masuk ke toko minuman dan dengan sukses keluar dengan 1 scotch whisky dan 1 whisky ditangan.

Ihh… lu ga takut digosipin umbar-umbar hal beginian jo? Halah… emang klo ga ada jaminan ga digosipin? Sudah kodratnya kalau jadi orang terkenal pasti ada haters nya lah… ups… kita jadi orang apa adanya saja lah, toh hidup juga ga abadi ngapain munafik dan mending minum dirumah daripada diluar kan? ntar ga jelas lagi “botol” nya masuk kemana hahaha…

Dah ah… jadi ngelantur lama-lama, eh… ini pas ngetik belum buka apapun ya, jadi masih lempeng. Selamat menyambut akhir minggu kawan, jangan lupa untuk bahagia.

Advertisements

Bentar lagi

Hore… bentar lagi tanah kami title, yang artinya sudah bisa settlement dan dipindah namakan ke kami dan rumah mungilnya bisa mulai dibangun.

Hari ini juga baru dapet kabar dari mortgage broker kami kalau evaluasi Bank terhadap tanah kami bagus, dan kemungkinan aplikasi pinjaman kami disetujui cukup bagus juga.

Lega deh dengernya karena kalau sampai kami gagal mendapatkan pinjaman Bank artinya kami bisa saja kehilangan seluruh down payment kami hikss… (amit-amit jangan sampai ya…)

Entah kenapa saya belakangan ini sering banget terjaga di jam 2 pagi. Jam biologis saya kayanya mulai ngaco lagi deh… biasanya sih karena saya sedang ada yang dipikirin, mungkin iya juga sih, soalnya beberapa hari atau minggu lalu sempat ada drama yang cukup menguras tenaga karena saya dihadapkan pada keputusan akan mengambil tawaran pekerjaan yang menggiurkan atau mengutamakan rumah yang sebentar lagi harus masuk proses Bank untuk pinjaman sehingga tawaran itu harus di drop.

Dua hal ini datang hampir bersamaan dan ingin saya dapatkan keduanya jika bisa, terus terang sangat menguras tenaga dan pikiran saya karena kawatir dengan aplikasi Bank kami. Karena begitu saya pindah kerjaan, semua harus di submit ulang lagi dengan kondisi kerjaan baru dan butuh waktu proses nya, sedangkan tanah bentar lagi title kan, kalau sampai delay aplikasi Bank nya bisa-bisa kami masuk kategori gagal bayar dan pembelian kami di batalkan yang artinya down payment bisa saja melayang.

Akhirnya setelah ditimbang cukup keras, saya merelakan tawaran itu melambaikan tangan kepada saya hiks…. kecewa sih karena entah kenapa saya merasa tawaran yang satu ini cukup nge-klik sama apa yang mau saya kejar. Jarang-jarang loh saya bisa punya intuisi seperti ini selama di Australia.

Ya sudahlah, toh semua ada waktunya. Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat dan kita hanya perlu percaya dan berserah. Pekerjaan yang sekarang sebetulnya enak, posisi senior, jam kerja 7 jam perhari sudah termasuk jam istirahat 1 jam. Sistemnya memang acak kadut tapi cukup reliable yang artinya kerja di weekend dan after hours hampir tidak pernah terjadi. Hanya saja untuk jangka panjang sepertinya kok kurang gimana gitu hehehe…

Ga terasa ketik punya ketik jam sudah mau jam 4 pagi. Suhu juga sedang turun karena sudah mendekati musim dingin, dan ini mata ga ngantuk-ngantuk juga, haduhh… mana wine sudah abis hahaha… udah ah… mau coba rebahan lagi sambil ngebayangin itu taman kalau rumahnya sudah beres ntar mau diapain soalnya mau coba saya kerjakan sendiri (itung-itung belajar jadi garderner hehehe…), siapa tau jadi ngantuk kan ya.

The Rock

Hari ini, saya mengajak keluarga kecil saya makan siang di sebuah restoran yang letaknya “kurang jauh” dari Melbourne, The Rock.

Dari namanya saja sudah serem kan, kaya aktor smack down yang banting setir jadi aktor layar lebar hehehe…

Restorannya ga semewah itu kok… bangunan yang terlihat tua tapi tetap terawat yang sebagian besar bahannya berasal dari kayu, mereka menyajikan makanan yang bahannya sebagian besar adalah hasil laut.

Ga heran sih, karena resto ini terletak di ujung dan dekat dermaga di daerah Mornington Peninsula sana. Bersebelahan dengan tempat parkir perahu layar milik pribadi yang suka dipakai buat mancing.

Makanannya termasuk enak, walaupun gayanya bule abis karena ga ada satu pun yang ada tulisan “nasi”, maklum orang besar di Indonesia kalau belum sentuh nasi katanya belum makan.

Walaupun jauh dan harganya juga ga termasuk murah, tapi momen yang kami dapatkan itu yang tidak ternilai. Bisa menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang yang kita sayang adalah salah satu harta saya yang tidak ternilai karena saya tahu waktu itu tidak terbeli dan terbayar.

Setelah makan, kami sempatkan jalan-jalan disekeliling resto dan merasakan angin kuencang luar biasa, ini bener-bener angin ngajak ribut loh… kenceng bener sampai saya bisa merasakan badan saya bergeser waktu berusaha nahan tiupannya, gilingan bener dah hahaha…

Karena angin nya terlalu kencang, dan anak-anak sudah mulai minta main ke taman, kami mulai pindah ke taman didekat sana. Taman itu mengingatkan kami saat baru berada disini tahun lalu, saat itu sedang libur Queen’s Birthday, dan salah satu kawan kami Joe Yohan mengajak kami ke Mornington dan mampir ke taman itu setelah makan siang didekat sana.

Permisi kami mau selfie dulu hehehe…

Saya, selalu merasa kurang membuat cewek yang saya peluk diatas itu merasa bahagia walaupun dia selalu mengatakan cukup dan cukup. Bisa memiliki dia yang selalu mendukung langkah yang saya ambil, walaupun sering kali beresiko membuat saya sangat bersyukur kepada Dia karena memberikan seorang istri yang kuat disamping saya.

Terlebih jika saya mengingat saat-saat dulu ketika kami pacaran dan kemudian menikah, saat dimana saya masih luntang lantung ga jelas dan ga punya apapun tapi dia tidak menyerah terhadap saya, ahh… semoga ga ada yang mengira saya memelet dia dengan minyak si-nyong-nyong karena dia tetap sabar menunggu dan menerima pinangan saya walaupun saya lamar dengan sebuah SMS saja karena tidak punya apapun yang bisa dijadikan sebuah cincin ataupun seikat bunga agar romantis dikit, duh… bener deh, sakit rasanya jika kegantengan saya dicoreng dengan pitnah tersebut, halah….

Setelah puas kami pun pulang, dan tidak lupa saya mampir untuk membeli beberapa Asahi untuk dinikmati saat sudah selonjor di rumah sambil menikmati sisa hari ini, sisa hari yang sangat saya syukuri ini.

Apapun itu, bagi saya, seorang pria sejati tidak akan lari meninggalkan istri nya untuk alasan apapun. Begitupun seorang wanita yang benar tidak akan lari meninggalkan suami nya untuk alasan apapun.

Selamat berakhir pekan kawan. Semoga kita tetap waras dan tidak menjadi cebong atau kampret ya…

MERDEKA!!! Jangan Golput !!!

Acland

Mirip nama si AL ya hehehe… hari ini kami jalan-jalan ke daerah St. Kilda. Ke salah satu jalan yang namanya mirip nama anak pertama kami, Acland Street. Di jalan ini, di ujung nya berderet cafe dan restorant, ada juga toko-toko lain walaupun di dominasi tempat nongkrong yang bisa sambil makan berat ataupun ngemil ringan sampai berat (ngemil besi kale berat…)

Tadinya hari ini kami mau dirumah saja karena ada yang mau dateng antara jam 11 sampai 12 untuk melakukan inspeksi detektor asap di rumah yang kami sewa. Tunggu punya tunggu kok tuh menungsa kaga nongol-nongol, kami makan siang sudah selesai masih aja belum nongol, eh… ternyata sedetik sebelum kami melangkah keluar rumah dia tiba-tiba nongol seperti sihir (biar dramatis dikit hehehe…)

Iseng karena matahari bersinar cukup terik dan sangat menggoda kaki kami yang memang sudah gatel akhirnya membuat kami memutuskan untuk jalan ke suatu tempat. Timbang punya timbang, akhirnya kami memilih ke daerah st. Kilda karena beberapa waktu lalu ada kawan yang kesana dan mereka merekomendasikan tempat itu kepada kami.

Sesampainya disana, kami jalan menjelajahi kedua sisi jalanan itu sambil lirik sana sini melihat jajanan yang dipajang untuk menggoda mata dan lidah kami agar mau mampir untuk mencoba.

Akhirnya pilihan kami pun jatuh pada sebuah kafe yang namanya diambil dari nama jalan itu sendiri, Acland Cafe.

Kami mengambil meja dipinggir jalan, sambil menikmati beberapa kudapan dan secangkir kopi ala Melbourne, kami bersenda gurau sambil ngobrol ngalor ngidul ra genah yang sangking serunya sampai sekarang saya masih bingung sebetulnya apa sih yang kami obrolin hahaha… itulah nikmatnya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang-orang yang kita sayang.

Selesai menikmati matahari dan suasana disana, kami beranjak ke Coles karena ada yang sedang demam mengumpulkan mini Coles, semacam mainan yang berupa barang-barang yang dijual di Coles tapi dalam bentuk mini, contohnya Odol mini hahaha…

Selesai belanja kami pun pulang, sesampainya dirumah waktu masih berada diangka empat dan matahari masih menggelayut malas di tepi peraduan menunggu datangnya senja.

Saya pun membuka sebotol Asahi dan selonjor menikmati sisa sore sambil membayangkan betapa berkualitasnya waktu yang kami miliki disini karena tidak perlu mati gaya ditengah kemacetan tiada tara tanpa otak seperti disana.

Dulu saat saya memutuskan untuk melepaskan segalanya demi mengejar impian saya untuk keluarga dan anak-anak disini, sempat merasakan kebimbangan karena banyak yang meminta saya untuk menimbang ulang, menurut mereka saya terlalu gila saat itu.

Sekarang, saya tidak merasakan penyesalan sedikitpun bahkan semakin bersyukur karena kehidupan yang kami miliki disini apalagi melihat perkembangan dan kehidupan yang dirasakan anak-anak yang benar-benar diluar dugaan saya bisa sampai sejauh ini.

Sampai-sampai setiap orang yang bertemu saya dan menanyakan beberapa hal yang menurut mereka bisa membuat saya kesini yang saya jawab dengan jawaban “tidak” yang membuat mereka geleng-geleng kepala kenapa saya senekat itu, karena kami belum pernah ke kota ini sebelumnya, tidak pernah sekolah diluar negeri (yang artinya bahasa Inggris kami berdua pas2an kebawah kalau ga mau dibilang hancur lebur), bukan berasal dari keluarga berada sehingga harus menguras seluruh tabungan yang ada dan membawa seluruh keluarga untuk berjudi dengan nasip di kota asing ini hanya bisa membuat mereka terdiam tidak percaya setelah mengucapkan 2 kata “Wow, unbelievable”, karena mereka lupa 1 hal, jika saya masih memiliki Dia saat berani mengambil jalan nekat.

Udara yang bersih, air yang sehat, lingkungan dengan polusi sangat rendah dan kehidupan yang berkualitas karena memiliki waktu lebih yang bisa dihabiskan bersama keluarga untuk menikmati kehidupan yang singkat dan semakin stabil ini membuat saya tidak hentinya mengucapkan syukur kepada Dia.

Terimakasih Tuhan, terimakasih untuk kehidupan dan perjalanan yang luar biasa ini…