BBQ di Taman

Salah satu yang menarik dari hidup di Australia adalah taman. Disini (terutama di Melbourne) taman merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Taman pun dibuat se asri dan se ramah mungkin terutama buat anak-anak dan anjing, hahh… anjing??? iya anjing, disini anjing merupakan sahabat dan sudah di-manusia-kan secara tidak langsung. Jadi jangan heran jika dibeberapa fasilitas umum ada slot atau tempat khusus untuk binatang menggonggong ini.

Hari ini, kami terlibat dalam sebuah acara lingkungan katolik disini (kalau bingung googling ya lingkungan itu apa dalam agama Katolik), kami kebetulan tergabung di lingkungan Santo Antonius berdasarkan tempat tinggal kami. Santo yang sama seperti Santo pelindung anak pertama kami si AL. Acara ini diadakan untuk mengucap syukur kepada Dia sekalian merayakan Natal bersama dan menutup tahun 2018 yang luar biasa, dan memohon berkat untuk tahun 2019.

Kami pun mengadakan acara BBQ di salah satu taman yang sudah dipilih. Taman nya bagus dan asri, juga luas dan ada play ground nya. Kami pun berbagi tugas, ada yang nge tag meja dan area BBQ, ada yang bantu masak, ada yang bantu bawa barang, dll. Kebetulan tugas kami kebagian menyiapkan salah satu bahan buat BBQ yaitu sate ayam sebanyak 6 kilo hahaha… selain nasi putih dan masakan mie sagu ala korea yang disebut jap je (entahlah bener kaga nulis nya).

Acara berlangsung seru dan meriah, diselingi senda gurau dan perbincangan ringan tidak terasa waktu bergerak cepat ke jam 2 siang. Setelah makan sampai kenyang dan mengikuti beberapa acara permainan, kami pun mulai berkemas dan membersihkan area BBQ yang semua nya gratis… tis… tis… uenak yo rek…. hahaha…, setelah selesai berkemas sambil membagi-bagi makanan yang kelebihan banyak, kami pun beranjak, tidak lupa saya mampir membeli satu (satu doank loh yaa…..) DUS bir (halah…) sebelum pulang ke rumah.

Bisa mendapatkan visa PR dan hidup di negara seperti Australia merupakan impian di awang-awang yang tadinya sempat saya percaya hanya akan ada di impian selamanya. Lah gimana ga coba, saya tidak pernah sekolah ataupun kuliah di Australia, juga ga pernah dapet working and holiday visa di Australia, juga ga pernah kursus singkat di Australia, punya modal juga ga, bukan dari keluarga berada dan yang paling parah adalah bahasa Inggris saya itu benar-benar amburadul sampai-sampai istri saya pernah ragu begitu saya bilang “saya mau bawa kita dan anak-anak ke Australia” karena ke-amburadul-an bahasa Inggris saya yang bahkan susun grammar saja bingung…. ini serius…

Itu kenapa, sampai detik ini saya masih dalam posisi yang setengah tidak percaya setengah terkesima bisa berada di negeri ini. Terlepas dari saya yang berusaha setengah mati mengejar ketinggalan saya dalam hal bahasa yang sangat pas-pas-an dan mengejar kemampuan teknis yang sudah tertinggal lumayan jauh, kehebatan Dia lah yang membuat kami tetap mampu berdiri disini dari awal hingga hari ini.

Saya benar-benar bersyukur untuk semua hal ini, dan berusaha sebisa mungkin untuk bisa meningkatkan kemampuan bahasa saya agar bisa semakin baik setiap waktu nya.

Selamat tinggal 2018 yang sebentar lagi akan berakhir dan selamat datang 2019, semoga kami bisa semakin baik lagi kedepannya.

1 minggu lagi

Yey… seminggu lagi Natal, hawa liburan sudah begitu menyengat walaupun saya sendiri ga ambil libur terlalu panjang.

Mendekati Natal, ada beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Hal-hal yang benar-benar menguji kesabaran dan iman. Entahlah… saya kok jadi merasa ngambang sekarang.

Setiap pagi saat saya berdoa, selalu ada 1 permintaan yang saya panjatkan. Mungkin saya harus menunggu sampai waktu nya tiba, mungkin juga yang lain. Entahlah, saya jadi semakin kawatir padahal seharusnya tidak perlu jika saya percaya kepada Nya ya…

Natal tahun ini, yang kedua bagi kami disini, harapan akan selalu dipanjatkan dan semoga di tahun depan segala sesuatu nya bisa menjadi lebih baik lagi.

Emeritus?

Gerahnya malam ini, membuat saya terjaga sekarang. Suhu yang sudah mulai naik ke angka diatas 35 derajat hari ini turut meng-katrol suhu malam ke level yang lebih tinggi dari biasanya. Iya, musim panas sudah datang.

Musim panas di Melbourne, bisa menjadi sangat ekstrim, dulu sempat sampai menyentuh 40 keatas, ditambah udaranya yang kering (tidak lembab seperti di Indonesia) membuat kita sering kesulitan untuk napas, bayangkan kalian di ruang sauna tanpa handuk basah, engap-engapan kan napas nya.

Suhu setinggi itu bisa bertahan selama seminggu, dan setelah nya akan bermain di angka rata-rata 35 keatas. Duh, mudah-mudahan tahun ini ga separah itu (ngarep.com).

Tadinya kepikiran “apa saya nge-wine aja ya, karena ada satu saya taro di lemari pendingin” tapi saya urungkan niat itu karena kalau nge-wine kan makin panas ya badannya… ah… ga papa deh (Hahaha….) akhirnya nge-wine juga, lagaknya banyak kali ya saya ini, maap…

Iseng, saya buka web saya di seksi rating, eh… mata saya tertuju pada 1 artikel yang pernah saya tulis mengenai CCIE, tepatnya 5 tahun menjadi CCIE. Dalam beberapa bulan kedepan, saya akan masuk tahun ke 10 menjadi CCIE aktif. Sempat terbersit untuk memperpanjang masa aktif salah satu sertifikat mentereng yang saya pegang itu. Tapi…. kok rasanya ga begitu bermanfaat seperti sebelumnya ya. Belum lagi biaya perpanjang yang semakin mahal saat ini, kurang lebih 6 jutaan rupiah (alamak….) dan saya ga bisa klaim ke kantor tempat saya kerja karena saya tidak bekerja di Partner sekarang.

Nah, itu juga jadi alasan berikutnya, saya sudah tidak bekerja di partner lagi kan, karena lebih banyak di end user saat ini. Ada plus minus nya sih kerja di Partner dan di End User yang ga akan saya jabarkan disini karena terlalu panjang sedangkan kepala mulai menari gemulai akibat pengaruh wine! parah emang…

Balik ke bahasan semula tadi, karena sempat terbersit tadi, saya berpikir untuk meng-emeritus-kan CCIE saya tahun depan karena setelah 10 tahun seharusnya kita entitled untuk masuk program Emeritus dari Cisco untuk level CCIE. Dengan meng-emeritus-kan CCIE, kita bisa tetap membuat CCIE kita aktif dengan mengambil salah satu ujian tertulis kapan saja, jadi semacam membekukan status CCIE kita bukan meng-nonaktif-kan, kekurangan nya adalah saya ga tau apakah level profesional ikut beku atau malah nonaktif, karena saya pegang level profesional lumayan banyak jadi rada sayang juga, tapi ya sudahlah… toh ga begitu efek lagi saat ini, apalagi di negara seperti Australia.

Disini, saat bekerja mereka hanya memerlukan level kita di CCIE tanpa harus menjadi seorang CCIE aktif (banyakan begitu) kecuali posisi-posisi tertentu ya, dan juga tempat-tempat kerja tertentu seperti partner misalnya. Lebih jauh lagi, perkembangan dan pergeseran teknologi yang sekarang sudah mulai software centric membuat sertifkat semacam CCIE tidak benar-benar mentereng seperti 10 tahun lalu apalagi 20 tahun lalu. Ya…. orang-orang yang memiliki CCIE tetap memiliki ke-esklusif-an nya sendiri sih… hal itu tidak terbantah kan walaupun di Negara seperti Australia sering kali malah keluar pertanyaan “Ohh… you are CCIE, so what?” Hahaha….

Apapun itu, meng-emeritus-kan nomor registrasi sertifikat seperti nya akan menjadi jalan yang saya ambil, karena bayar nya lebih murah… toh, jika suatu hari saya kembali ke jalur partner, saya tinggal mengaktifkan nya lagi kan (mudah-mudahan bisa).

Kalau mau tahu apa itu CCIE, bisa dibaca disini.

Saya termasuk beruntung karena saat ini terlibat dalam sebuah proyek transisi dari hardware ke software base, di tempat kerja saya sedang melakukan transformasi jaringan mereka ke platform ACI/ SDN, dan saya menjadi salah satu bagian yang mengawal proses tersebut. Hal ini membuat saya jadi belajar banyak sekali hal baru yang tentunya nanti akan sangat berguna untuk port-folio saya kedepan.

Apapun itu, saya akan melihat apa yang akan terjadi kemudian. Bisa saja tiba-tiba dapat tawaran yang lebih baik kan hehehe…. kita tidak akan pernah tahu kejutan apa yang akan datang kepada kita. Yang kita perlukan hanya menyiapkan hati dan mental agar bisa lebih siap untuk hal yang mengejutkan tersebut.

Baiklah… sekarang saatnya menghabiskan wine saya dan mencoba untuk kembali tidur lagi, karena dalam beberapa jam lagi saya harus memenuhi janji saya ke anak-anak untuk membawa mereka mengunjungi salah satu musium terkenal di Melbourne.

A Gift…

Selamat datang Desember… bulan penuh hikmah bagi kami pengikut Kristus karena di bulan ini dipercaya (bagi kami kaum Kristiani) sebagai hari dimana Yesus dilahirkan ke dunia untuk menebus dosa manusia dengan darah-Nya.

Bulan yang penuh dengan hari libur juga walaupun saya hanya mengambil libur 1 hari ditanggal 24 karena tanggal 25 dan tanggal 26 adalah hari libur nasional, loh kenapa cuma ambil 1 hari? karena…. saya kerja jadi kontraktor hahaha… kerja jadi kontraktor itu kalau ga kerja ya ga dibayar bang… tanggal 25 dan 26 sudah pasti ga dibayar kan karena tanggal merah… jadi kalau saya ambil 3 hari lagi di tanggal 24, 27 dan 28, berarti 1 minggu saya ga gajian sedangkan ada dapur yang musti dibuat ngepul terus…

Sebetulnya ga juga sih, saya bisa saja ambil off 1 minggu kalau mau dan masih bisa mengendalikan keadaan kami, emang dasar saya nya aja yang ga mau rugi karena hour-rate nya sayang kalau dibuang xixixi….

Di bulan ini juga, saya memiliki beribu kenangan, baik bersama (alm) Papa, (alm) Kakak, maupun kenangan-kenangan semasa di Tegal, Kos yang pernah saya tinggali selama 8 tahun lebih selama kuliah dan masa-masa saya pacaran dengan si Dia yang sekarang sudah berdiri disamping saya ikut berjuang mengejar impian kami bagi kedua anak kami di Tanah Selatan yang mulai tidak se-asing dulu lagi.

Di bulan ini juga, saya merayakan hari lahir yang membuat saya banyak merenung karena umur sudah bertambah tua dan jarak pun sudah semakin mendekat dengan Sang Khalik, untuk melakukan banyak instropeksi diri dan merangkum hal-hal baik dan positif yang harus saya pertahankan begitu juga banyak hal kurang baik dan negatif yang harus saya koreksi atau jadikan sebagai pembelajaran agar kehidupan yang saya miliki (semoga) bisa semakin baik kedepannya.

Perayaan kali ini pun akan menjadi yang kedua bagi saya, jika tahun lalu Si Dia membelikan 6 pasang kaos kaki di Target sebagai kejutan, tahun ini agak berbeda. Bermula dari celotehan saya saat kami sedang menghabiskan waktu muter-muter kaya gasing di salah satu pusat pembelanjaan disini tentang keinginan untuk membeli tas kerja baru (setelah gajian) membuat istri saya memilih sebuah tas anti maling sebagai kejutan tahun ini. Anti maling? iya, begitu ditulis di iklannya, anti maling karena ga bisa dipotong atau robek, anti air merembes kalau keujanan dan ada port untuk nge-cas HP kita melalui powerbank yang kita hubungkan dari dalam tas, unik juga ya (atau saya aja kali yang udik karena baru tahu ada tas model begitu hahaha…)

Tas nya bagus, walaupun lebih kecil sedikit dari yang saya pakai saat ini, tapi tidak mengapa karena saya tinggal mengurangi beberapa bawaan saya yang sebetulnya banyak yang tidak begitu berguna juga, maklum mantan engineer yang menjadi engineer lagi membuat saya punya obeng dan tang segala di tas hahaha…

Karena tas ini dibeli online, unik juga cara sampainya. Tadinya kita mengira bakalan dikirim ke rumah langsung kan ya kaya waktu di Jakarta… trus di taro di deket kotak surat unit yang kita sewa seperti biasanya, atau dianter ke depan pintu unit kami dan di taro disana jika sedang tidak ada orang di rumah. Eh, ternyata beda loh… yang dikirim ke kotak surat kami itu hanya sebuah surat yang memberitahu jika paket barang yang kami beli sudah sampai di kantor pos terdekat (diberi tahu di suratnya di kantor pos yang mana) dan kami diminta mengambil sebelum 30 hari (kalau tidak salah) dengan membawa surat tersebut sebagai pengantar. Lah… baru tahu ternyata disini begitu cara belanja online nya jika barang yang kita beli cukup besar ukurannya. Untung tuh kantor pos deket rumah. Unik ya hahaha… (padahal mah saya aja kali yang udik karena di Indonesa beda)

Terimakasih ya sayang… apapun yang kamu belikan selalu berguna untuk menunjang aktifitas saya, jadi ga sia-sia 🙂

Nah… yang lebih menarik lagi adalah, lewat pembelian tas itu, saya mendapat voucher wine A$100, setelah saya login untuk melihat apa saja yang bisa saya dapatkan, ternyata minimal pembelian harus 12 botol, dan bisa semua red wine, atau white wine, atau bisa campur. Saya memilih yang campur 6 red wine dengan review rating tertinggi, dan 6 white wine dengan review rating tertinggi juga. Dari apa yang tertulis sih katanya total itu sekitar A$250-an dan karena ini pembelian pertama saya dapat diskon kurang lebih A$100-an dan ditambah voucher A$100, jadi total saya hanya bayar kisaran A$65 sudah bersama pajak. Saya sendiri sebetulnya tidak ngerti masalah wine-wine-an, tahun nya pun terbilang muda jadi saya ga ngerti deh apakah itu mahal atau murah ya. Saat saya sudah bayar lewat online, langsung dikasih notifikasi jika wine sudah meluncur, dan akan tiba kurang-lebih 3 hari, dan unik nya kita bisa milih wine itu akan ditaro didepan pintu, atau di kantor pos terdekat, atau diumpetin diatas pohon (ga denk….) jika kita sedang tidak ada dirumah. Unik ya, baru tahu ada beginian di Australia hahaha…. cara nya beda lagi untuk belanja online kalau yang dibeli fragile.

Dan, akhirnya wine saya sampai, yipiii… bisa dijadikan pelengkap sajian di hari Natal nanti sembari merayakan rasa syukur yang begitu besar di dalam hati kami karena memiliki kesempatan menjalani petualangan nan seru di Negeri Kanguru ini. Sebuah petualangan yang dulu hanya berada dalam impian kami karena keterbatasan yang kami miliki, yang ternyata dinyatakan oleh-Nya dengan cara yang tidak pernah terlintas dan mampu dihitung oleh kepala fana kami. Itulah yang kemudian membuat kami semakin memahami apa yang disebut dengan percaya dan ikhlas melalui sebuah iman.

Tahun kedua ini, kami pun sudah semakin stabil, saya sendiri sudah mulai kerasan dan tidak sering mengalami gegar budaya lagi (walaupun kadang masih ada sedikit getaran nakal yang mengganggu). Kami pun tetap berharap dan berdoa, dan banyak pasrah juga kepada-Nya, hidup didalam impian yang menjadi kenyataan itu sebuah hal yang harus kita syukuri tanpa henti, karena saya pribadi percaya jika semua ini bukan semata-mata karena kehebatan kami, kemampuan kami, ataupun karena saya tidak mudah menyerah, semua ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Dia.

Terlepas dari kerasnya jalan yang pernah saya jalani dan lewati, semua jatuh bangun yang tidak hanya memberi rasa perih tapi juga pengalaman, dan semua hal yang sudah terlewati dengan sangat tidak mudah, kehidupan dan pertualangan yang kami jalani saat ini adalah – A Gift… Thank God, You always good.