Faith

Oktober pun sebentar lagi akan berlalu, pergi (untuk kembali lagi) meninggalkan kita semua bersama dengan suhu dingin yang beberapa hari ini tetap menggoda kulit saya yang tetap tropis ini.

Belakangan ini, saya sering merenung, berusaha menggambarkan kembali hal-hal yang berlalu dibelakang saya sembari melambaikan tangan yang berusaha saya rangkai menjadi sebuah pembelajaran.

Kawatir, kata yang paling sering mampir dalam kehidupan saya. Terlebih saat berada disini yang lucu nya malah semakin menjadi-jadi perasaan itu. Rasa kawatir yang belakangan ini semakin menghilang entah karena saya nya yang sudah kebal atau memang sudah dalam posisi pasrah.

Kejadian yang datang dan pergi, yang kemudian membuat saya menyadari 1 hal, jika kawatir itu tidak menolong. Kenapa? Karena toh pada akhirnya apa yang harus terjadi tetap akan terjadi bukan, dan apa yang tidak terjadi ya tidak akan terjadi juga. Disitulah saya semakin merasakan keberadaan Dia.

Suasana disini, mulai terasa menuju Natal. Ornamen kelap kelip khas Natal pun sudah mulai bertebaran. Ahh… rasanya damai sekali saat melihat hiasan tersebut ditambah lagu Natal yang merdu. Tidak pernah saya menyangka akan merayakan Natal bersama keluarga di Negara ini. Tuhan sungguh baik…

Natal yang sudah mengintip manja di tikungan, seakan ingin memberi pesan jika hidup ini akan selalu penuh dengan kejutan dan kawatir tidak akan menolong. Itulah kenapa kita diminta bisa menyandarkan diri kepada Dia yang maha kuasa ketimbang pada materi dan perasaan yang timbul karena ketakutan.

Susah ya…. memang susah…. karena itulah sebuah keyakinan tidak mudah dipupuk apalagi dikendalikan.

Semoga Dia selalu menjaga kami, kita, kalian…. amin.

Advertisements

Pesisir

Sehari yang lalu (maksudnya kemaren hahaha….) kami mengunjungi sebuah pantai yang terkenal sampai ke ujung sana, namanya Brighton Beach. Pantai ini bisa dipastikan menjadi salah satu ikon yang akan dipamerkan di setiap pamflet wisata yang dibuat travel agen untuk tujuan Melbourne, Australia.

Pantai ini sebetulnya ga ada bedanya dengan pantai lainnya kecuali deretan rumah warna warni dengan corak beraneka ragam yang menjadi pembeda. Maklum, kreatifitas orang-orang disini membungkusnya dengan hal-hal marketing sehingga melambungkan nama pantai ini menjadi salah satu ikon yang wajib dikunjungi jika berlabuh di kota Melbourne karena, konon katanya kalau belum kesini kalian belum ke Melbourne hahaha… semua tempat wisata perasaan menggunakan jargon yang sama deh…

Pantai sendiri, sering kali mengingatkan saya akan (alm) Papa. Karena dulu Papa bekerja tidak jauh dari air laut membuat pantai menjadi begitu dekat dengan masa pertumbuhan saya sewaktu di Kota Tegal yang memiliki julukan Kota Bahari dengan salah satu ikon Pahlawan yang diusung yaitu Kom. Yos Sudarso yang dikenal dari perang perebutan Irian Barat dan tewas di laut aru (semoga benar ya hahaha…).

Saya paling suka menyisir pesisir pantai, entahlah, dengan menyisir pesisir pantai yang sering saya lakukan bersama mendiang kakak saya dengan kaki telanjang membuat saya mengingat mereka sekaligus bersentuhan dengan alam melalui telapak dan jari-jari kaki yang terbenam manja kedalam butiran pasir pantai yang halus.

Hidup kita, sering kali harus berada di pesisir, sebuah garis yang memisahkan kita dari air laut yang asin dengan daratan yang berat karena beralaskan pasir yang tidak stabil, layak nya hidup manusia. Kita bisa memilih untuk berbasah air laut nan asin sekaligus mendinginkan kulit kita yang terbakar matahari, atau kita bisa memilih untuk lebih menuju daratan yang lebih aman tapi tidak mengurangi perjuangan kita agar bisa tetap melangkah maju walaupun tidak seberat melangkah di dalam air yang berombak, atau kita bisa memilih jalur aman dengan tetap berada di pesisir walaupun kadang ada kulit kerang yang siap merobek telapak kaki kita jika kita lengah.

….atau, kita juga bisa memilih untuk tidak berada di pesisir dengan tidak mengejar impian ataupun mengambil resiko.

Hidup hanya sekali, saya pribadi tidak mau menyesali hal-hal yang tidak atau terlambat saya coba saat akan menutup mata. Karena saat itu tiba, pesisir akan menjadi perjalanan terakhir kita dengan semua telapak kaki kita dibelakang yang akan menjadi kenangan indah jika tidak terhapus oleh ombak yang kadang bisa begitu ganasnya menerjang setiap saat.

Terimakasih Tuhan, untuk selalu berserta saya di pesisir hidup saya saat berusaha mengejar apa yang ingin saya capai bagi keluarga saya dalam kehidupan saya yang singkat ini.

Selamat berhari minggu kawan…

September (ceri[t]a)

September pun masuk ke pertengahan, suhu yang sedari beberapa bulan lalu tidak mau kalah sama kulkas pun sedikit demi sedikit sangking irit nya mulai naik ke angka dua-puluhan, ahh… suhu yang nyaman buat kami yang masih terbilang manusia tropis ini.

Bulan ini ditandai beberapa hal yang sudah berlalu dan akan datang, loh akan datang? Kok kamu sudah tahu? Iya, karena memang sudah direncanakan dan sudah berulang terjadinya, yaitu kakek dan nenek (orang tua dari istri saya) dari anak-anak yang akan datang berkunjung akhir bulan ini, yang sudah selalu ditanyakan anak-anak kami “kok grandma/ grandpa belum datang, mom?”, hari jadi kami untuk secara sah dan sadar berkontribusi atas datangnya kedua unyils ke dunia ini, dan rencana kami lainnya yang tidak akan saya ulas ditulisan kali ini.

Yang akan saya sadur disini adalah yang sudah berlalu. Yang pertama adalah pindahnya saya ke pekerjaan baru (lagi) karena beberapa hal yang sudah saya tulis disini, terwujudnya salah satu janji tidak terucap saya 10 tahun lalu yang akan ditulis secara terpisah dibulan ini juga tapi tidak disini dan hari ini, sampai terakhir adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri untuk hari ini.

Malam ini, saya memutuskan mengajak istri dan anak-anak saya ke sebuah mall yang cukup jauh di daerah Knox sana, jarak yang harus ditempuh kurang lebih 25 Km dari tempat tinggal kami. Sebetulnya saya tidak ada rencana untuk kesana sebelumnya, sampai istri saya nyeletuk “kata Adel, di Westfield Knox sana ada outdoor resto bagus-bagus”. Kalimat itu membuat saya langsung berpikir untuk melihat seperti apa sih suasananya disana.

Kami pun sampai disana, muter-muter nyari posisi restonya, pindah dari satu resto ke resto lain sambil mengamati menu mereka dan akhirnya memilih sebuah restoran bergaya Thai, setelah jari puas menelusuri baris demi baris di menu mereka dari atas ke bawah lalu pindah halaman lalu ulang lagi dari awal sampai 10 kali (ga denk… hehehe…), pilihan saya jatuh pada seporsi Pork Ribs bakar yang rasanya enak banget sampai bikin orang lupa kolestrol dan Sebotol Crown Lager yang membuat orang yang makan lupa ingatan sesaat secara tiba-tiba (awhh.. double-haram deh daku…). Makanannya termasuk ok (ga pake oc) buat saya, yang pasti suasananya yang bikin kepincut. Gaya makan diluar ruangan ditemani pemanas buatan yang disebar di beberapa titik karena suhu yang mulai menurun saat mentari masuk ke peraduannya sambil berbincang ringan bersama istri ditengah keramaian celoteh pengunjung lainnya adalah sebuah hal yang dulu hanya ada di impian saya setiap melihat hal itu di televisi ataupun film-film drama ala barat.

Tidak pernah sekalipun saya berani memimpikan hal itu, bener deh… kuliah saja dulu hampir putus ditengah jalan karena biaya mana berani mimpi bisa menikmati makan malam bersama keluarga di suasana seperti itu dan apalagi di luar negeri. Haduh… jauh itu… jauh…, bahkan saat pindah kesini pun kami sudah siap untuk 2 sampai 5 tahun pertama tidak menikmati hal-hal seperti itu yang cukup menyita isi tabungan.

Tapi, Tuhan berkata lain. Pelan tapi pasti saya mulai dibantu masuk ke dunia kerja disini dengan lumayan cepat. Tawaran-tawaran kerja mulai berdatangan sampai saya kewalahan menjawabnya. Tanpa bermaksud sombong tapi beberapa minggu ini saja hampir setiap hari ada yang menghubungi saya menawarkan peluang kerja baru dengan gaji yang tidak rendah. Apa boleh dikata saya ga mungkin langsung pindah lagi kan saat baru masuk. Jadi lebih banyak saya belokan ke temen-temen yang memang sedang mencari peluang baru. Dengan masuknya saya kedalam dunia kerja disini, secara tidak langsung juga mengangkat pendapatan saya, dan hal itulah yang kemudian membuat kami bisa lebih banyak mencoba banyak hal disini, salah satunya ya itu tadi, jadi kebanyakan gaya pakai makan di luar ruangan kaya bule, ga papalah sekali-kali ya… kapan lagi menimati hidup bersama orang-orang yang kita sayang…

Dalam perjalanan pulang, saya mengucapkan syukur mendalam kepada Dia. Karena semua ini mustahil tanpa Dia, mustahil… jika saya hitung secara logika pakai kalkulator, angkanya ga ketemu, ga akan pernah ketemu. Saya tidak bisa berkata apapun selain mengucap syukur untuk semua ini, bener-bener ga percaya tapi terjadi.

Terimakasih Tuhan, untuk semua yang sudah terjadi, untuk September ceria yang penuh dengan cerita ini, yang masih akan berlanjut untuk setengah jalan lagi, yang saya percaya akan penuh dengan berkat lainnya bagi keluarga saya.

Semi

Hari ke 8 musim semi, hari ini akhirnya suhu mulai naik sedikit demi sedikit, hemat banget intinya. Suhu dan udara nya mulai menghangat dan bunga-bunga mulai bermekaran saling berlomba mempertunjukan keindahan warna dan bentuk masing-masing, sebuah pemandangan yang sangat saya sukai karena bisa merasakan kuasa Tuhan dan indahnya ciptaan Dia.

Semi kedua kami di Melbourne, tidak terasa sudah 20 purnama kami hidup di kota ini. Kota yang dulu hanya mampu kami nikmati melalui YouTube dan berita-berita. Kota yang pernah meraih predikat kota paling layak hidup sedunia sebanyak 7 kali berturut-turut yang tahun ini jatuh ke kota lain, kalau ga salah Vienna di Austria.

Apapun itu, bisa hidup disini menjadi berkat tersendiri yang tidak terbantahkan. Kualitas kehidupan yang lebih baik (tanpa ada hubungannya dengan uang ya) karena udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih aman, jalan yang baik dan bagus, dan kota yang lebih tertata dan tertib menjadi hal yang tidak terbelikan oleh apapun.

Disisi lain, pelayanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya menjadi point-point tersendiri yang sangat patut kami syukuri. Terlepas dari besarnya pajak yang harus saya bayar, saya rela karena sebagian besar kembali kebentuk yang lebih nyata kepada kami sebagai pembayaran pajak.

Semi kedua, kami menatap kearah barat dimana rumah masa depan kami akan dibangun. Harapan kami sederhana, semoga semua lancar dan baik sehingga kami bisa memiliki tempat tinggal permanen dan bisa lebih mantap melangkah kedepan.

Selain itu, saya juga memiliki harapan agar di profesi yang baru nanti saya bisa bersaing (pasti bisa!) dan harus bisa, dan kedepannya bisa berkembang dan naik-naik ke puncak rantai.

Semua kami kembalikan kepada Dia Sang Maha.