Masa depan seorang engineer

Sering kali gue merenung, mau jadi apa ya gue ke depan nya?

Seseorang yang ingin berkarir di posisi engineer, yang mencintai dan ingin berkarir di dunia engineer, pada suatu saat akan berada pada posisi dimana karir dia sudah tidak bisa naik lagi, dan biasa nya untuk bisa mencapai karir yang lebih tinggi lagi dia harus merubah arah yang dia tekunin dengan menjadi seorang manajer teknik atau manajer yang lain nya yang sudah tidak banyak berkutat dengan bidang teknikal karena sudah lebih memikirkan budget, source man power, overhead, schedule dll.

Lalu bagaimana nasip para engineer yang tetap ingin berada pada jalur karir dia sebagai engineer?

Sebelumnya apa yang akan gue utarakan ini murni dari pemikiran gue, gue tidak bermaksud untuk menyinggung orang lain dengan apa yang gue tulis ini.

Menurut gue, jika kita ingin tetap berada pada jalur teknikal, tentunya kita menyadari bahwa setiap bidang ilmu pasti ada batas nya dalam hal karir, misalnya, seorang engineer yang benar-benar ingin tetap berada di jalur engineer paling tinggi memiliki kesempatan menjadi seorang kepala engineer atau senior engineer atau seorang consultant teknikal karena dia seorang CCIE “seperti gue”, karena saat seorang engineer sudah tidak di jalur teknikal, katakanlah menjadi seorang marketing/ pre-sales/ consultant desain, dia akan lebih banyak berkutat dengan teori-teori, dasar pemikiran, dan konsep. Tentunya pada posisi tersebut seorang “mantan” engineer akan lebih sedikit berkutat dengan troubleshooting dll yang biasa di temui oleh seorang post-sales, walaupun untuk posisi consultant lebih banyak digabung antara teknikal dan desain. Atau jika menjadi seorang manager, hal tersebut pun pasti akan terjadi, dimana dia sudah tidak berurusan dengan bidang teknikal.

Sebenarnya dari apa yang gue perhatikan, semua nya ada batas nya, selalu ada batas nya, baik menjadi engineer maupun menjadi seorang manajer, perbedaan nya hanya pada cara berkerja, jika seorang engineer lebih banyak berkerja di malam hari menjelang pagi, sedangkan seorang manager lebih banyak berkerja di pagi hari menjelang malam. Jika seorang engineer mengejar cepat tidak nya sebuah masalah selesai, kemampuan sebuah network berfungsi dengan benar, sedangkan seorang manajer mengatur kerja team, mengejar omzet dan income.

Jika saat kita menjadi seorang engineer yang memiliki sertifikat seperti missal nya CCIE, salary kita pun sebenarnya tidak kalah dengan level manajer. Begitu pula jika kita menjadi seorang manajer, beda nya hanya jika kita di bidang engineer kita akan lebih banyak di komando oleh seorang manajer, harus selalu up to date, harus mengasah kemampuan teknikal dll. Sedangkan seorang manager walaupun dia juga di perintah, setidaknya dia bisa merintah orang di bawah nya, selalu bisa mengembangkan kemampuan sosialisasi, leadership, human skill dll.

Semua ini adalah pilihan kita dalam menjalani pekerjaan kita, apakah kita ingin tetap berada di jalur teknikal, meniti karir di jalur teknikal, atau kita ingin merubah arah kita ke jalur managerial, atau bahkan kita ingin menjadi entrepreneurship. Dan menurut gue apapun yang kita pilih selalu mencapai sebuah titik batas suatu saat nanti, baik itu diakibatkan kemampuan kita yang menurun, atau usia kita yang terlalu pendek, atau mungkin keberuntungan kita yang kurang. Semua pasti menemui batas nya. Jadi apapun pilihan kita yang perlu kita lakukan hanya melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Menurut gue untuk bisa membuktikan sesuatu kita perlu menjaga sebuah konsistensi kerja, kita boleh saja melakukan sesuatu yang wah di satu proyek, tetapi di proyek lain kita setengah hati dalam mengerjakan nya, akan tetapi hal ini tentu kurang baik, karena jika kita perhatikan, sebuah ilmu networking pun tidak mengajarkan sebuah network yang reliability, scalability, dan redundancy nya hanya pada suatu waktu tertentu saja, akan tetapi jika bisa sepanjang waktu terus menerus, setidak nya itu yang menjadi kekuatan CISCO dalam bersaing di market.

Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup ini, akan tetapi hidup selalu mengajarkan kepada kita jika kesempatan kedua itu jarang datang, oleh sebab itu lakukan lah yang terbaik setiap hari nya seakan-akan esok tidak akan pernah datang kepada kita.

Regards

SWD

Advertisements

Gaji dan Kemampuan

Gue termasuk salah satu orang yang bekerja di perusahaan orang lain, setelah bekerja beberapa tahun, gue mulai meneliti beberapa hal yang ada di dunia kerja. Dari semua hal yang gue perhatikan, ada satu hal yang paling gue minati untuk di teliti, yaitu masalah gaji/ income.

Banyak di antara karyawan di perusahaan gue yang memiliki impian punya gaji besar, tidak bisa dibantah jika hal itu memang menjadi tujuan utama kita bekerja, yaitu uang. Akan tetapi kenapa hanya sedikit orang yang bisa mencapai sebuah titik dimana gaji mereka sudah benar-benar cukup untuk memenuhi kehidupan mereka?

Ada banyak pembicaraan antara sesama rekan kerja dengan gue, gue ambil salah satu contoh, ada temen yang mengatakan ke gue sebesar apa gaji dia seharusnya, dengan beberapa opini yang dia katakan kepada gue dan opini tersebut cukup masuk akal, salah satu nya adalah dia lulusan gelar master dari luar negeri dengan hasil cum laude. Jika gue perhatikan, perusahaan sekarang ini tidak terlalu memikirkan dari mana kah pendidikan formal kita berasal, perusahaan umumnya lebih memandang kepada hasil kerja dan kemampuan kita saat sudah berada di tengah-tengah dunia kerja. Seseorang boleh merasa dirinya adalah seorang professor atau seorang pemegang gelar master atau seorang yang ahli di bidang tertentu apalagi merasa “gue pegang banyak certificate”.

Semua hal itu tidak akan berguna jika tidak bertemu dengan kebutuhan akan hal itu, kalau gue perhatikan perusahaan jaman sekarang lebih mengarah ke arah kebutuhan terlebih dahulu, apakah sebuah perusahaan memang membutuhkan orang seperti kualifikasi tadi atau hanya butuh lulusan SMA saja. Oleh sebab itu, banyak sekali karyawan yang terlalu sempit dalam berpikir sehingga langsung mengambil sebuah kesimpulan “perusahaan nya jelek karena tidak bisa memberikan gaji sesuai dengan apa yang gue punya”, padahal jika mau untuk dipikirkan kembali, apakah memang apa yang kita punya di butuhkan oleh perusahaan tersebut?

Selain itu, kita juga harus bisa berpikir dari sisi lain, misalnya, seandainya gue menjadi seorang atasan apalagi seorang pemilik perusahaan, sudah tentu gue tidak keberatan memberikan gaji besar kepada seseorang, selama orang tersebut bisa memberikan kontribusi yang besar pula untuk perusahaan, akan tetapi apa jadi nya jika ternyata orang tersebut tidak mampu memberikan apa yang gue harapkan? Apakah gue tetep akan memberikan gaji sesuai yang dia tuntut hanya karena dia seorang lulusan luar negeri dengan nilai cum laude atau hanya karena dia memegang beberapa certificate international?

Hal tersebut tidak akan pernah terjadi, karena bagaimanapun juga yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan adalah sebuah kemampuan dalam bekerja, cara bekerja, dan tentunya hasil dari bekerja. Dan untuk mencapai semua itu tidak cukup dengan hanya mengandalkan certificate atau ijazah, tetapi juga dibutuhkan sebuah sikap yang baik, dewasa, kemauan untuk belajar, tanggungjawab, dan mampu untuk bekerja sama dengan baik. Hal-hal terakhir ini yang sering dilupakan oleh karyawan dalam bekerja, dan tentunya juga harus sesuai kebutuhan perusahaan yang bersangkutan atas kualifikasi seorang karyawan saat itu.

Dari kejadian yang ada dan semua input yang gue dengerin, gue mengambil sebuah kesimpulan (secara pribadi) bahwa untuk bisa mencapai sebuah titik penghasilan yang memuaskan, tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat walaupun kita memiliki segala ijazah dan certificate karena kita masih harus membuktikan jika kita memang pantas untuk di gaji lebih, sesuai dengan hasil yang sudah kita capai dan berikan ke perusahaan.

 

Thanks and regards

SWD

Pre-Sales dan Post-Sales (on my mind)



Di dalam dunia networking ada dua posisi yang umumnya selalu ada, yaitu pre-sales dan post-sales. Apa yang membedakan kedua posisi ini dan dimanakah posisi ideal kita dalam dunia networking?

Dalam pendapat gue (kebetulan karena gue ada di posisi pre-sales dan post-sales sekaligus) kedua posisi ini memiliki keunikan masing masing, akan tetapi ideal nya seorang pre-sales harus memulai karir networking dia di posisi post-sales terlebih dahulu.

Mengapa?

Untuk posisi post-sales kita selalu di tuntut untuk bisa solving sebuah problem di lapangan dengan cepat, bukan hanya sampai disitu, ideal nya seorang post-sales harus mampu menjelaskan mengapa sebuah problem terjadi dan bagaimana menyelesaikan nya ke customer, seorang post-sales di tuntut untuk bisa bekerja under pressure (karena rata rata bekerja di customer itu selalu di push) dan mampu mengendalikan situasi di lapangan dengan baik, dan tentunya mampu berhadapan dengan customer dengan sejuta penjelasan teknikal yang njelimet. Seorang post-sales umumnya memiliki spesialisasi di bidang tertentu.

untuk posisi pre-sales lebih di utamakan sebuah kreatifitas, seorang pre-sales harus mampu membuat sebuah solusi yang bisa di pertanggungjawabkan, memenuhi ekpetasi customer dan harus bisa di presentasikan ke hadapan customer, seorang pre-sales tidak di anjurkan mengerti satu hal saja, tetapi lebih di tuntut untuk bisa mengerti beberapa hal dengan baik dalam menyusun sebuah solusi, tidak jarang seorang pre-sales mengerti beberapa brand sekaligus. Seorang pre-sales juga harus mampu membuat prosedur dalam instalasi maupun migrasi, disini tentunya dibutuhkan pengalaman yang tidak sedikit jam terbang nya agar bisa memprediksi segala kemungkinan yang bisa terjadi di lapangan.

Dari kedua ringkasan singkat ini dapat gue ambil 1 kesimpulan kenapa seorang pre-sales lebih baik pernah berada di posisi post-sales terlebih dahulu. Hal ini lebih di sebab kan seorang pre-sales lebih ke arah solusi total daripada berkutat dengan teknikal yang lebih spesifik, akan tetapi tetap membutuhkan kemampuan teknikal untuk menciptakan sebuah solusi yang bisa memenuhi keinginan customer sesuai dengan keadaan di lapangan.

 

Regards

SWD

Site Migration – Almost Finishing

Yup… sebentar lagi jika tidak ada problem maka site customer akan selesai di migrasi, itu tanda nya gue bisa konsen ke hal lain setelah ini, kemaren gue baru saja paraf beratus – ratus lembar commissioning report untuk jakarta dan balikpapan dan akan terulang lagi untuk yang site setelah selesai di migrasi.

So far network customer masih stabil sampai saat ini, untuk di core maupun di site yang baru di migrasi sebagian.

Mudah mudahan (dan seperti nya memang tidak akan terjadi) tidak terjadi apa – apa agar proyek yang satu ini bisa close, setelah ini gue harus mulai konsen ke hal lain nya,  ada satu proyek (bisa di bilang mega proyek) yang sudah menunggu, saat nya mendalami konsep – konsep networking untuk area – area sekitar service provider. Jika proyek yang akan selesai ini lebih berat ke konsep enterprise, maka untuk proyek berikut nya akan lebih berat ke service provider.

Regards

swd