Rembulan….

Semalam…. tanpa disengaja mata saya menatap rembulan saat akan menutup tirai pintu geser di belakang rumah. Rembulan bulat sempurna yang begitu indah membuat saya (tanpa sadar) menghela napas panjang, bukan karena sedang sesak napas karena corona tapi karena rembulan penuh mengingatkan saya pada awal kami berada disini. Tanpa terasa sudah lebih dari 30 purnama kami berada di kota cantik ini, keadaan yang semakin membaik setiap waktu nya membuat kami memanjatkan syukur yang tiada tara, karena semua ini tidak akan ada tanpa Dia yang membimbing langkah kami walaupun sering kali kami dibimbing dengan cara-Nya yang khas dan elegan, yang terasa getir di awal tapi menghasilkan madu di akhir.

Keadaan disini secara umum pun sebetulnya tidak bisa dibilang baik atau lebih baik dari disana (plus enam dua) dalam hal keadaan ekonomi negara nya, karena Australia resmi masuk kedalam resesi ekonomi sekarang akibat kebakaran hutan ditambah pandemic yang sukses membuat negara yang sebetulnya memiliki ekonomi yang termasuk kuat ini akhirnya goyah. Saya masih termasuk beruntung (setidaknya untuk sampai saat ini) karena bekerja di organisasi sektor kesehatan dan pelayanan non-profit, setidaknya bisnis yang digeluti oleh organisasi tempat saya bekerja tidak terkena imbas terlalu kuat oleh pandemik ini, dan posisi saya di team IT termasuk salah satu team yang tidak berada di urutan awal jika harus terjadi pengurangan karyawan, apalagi dengan hampir 80% karyawan bekerja dari rumah yang tentunya membuat support yang dibutuhkan dari team IT justru akan lebih instens dari sebelumnya, membuat saya bisa lebih rileks dalam menghadapi resesi ini, walaupun sebetulnya saya pun khawatir.

Apapun itu… cara negara ini menangani pandemik termasuk manuver pemerintah sini mendorong atau mempertahankan keadaan ekonomi bisa dikatakan luar biasa. Kucuran dana yang dikeluarkan untuk membantu bisnis dan warga (baik warga negara maupun pemegang visa penduduk tetap) Australia (mungkin) termasuk 5 besar yang terjadi di Dunia dalam keadaan pandemik ini. Hal yang kemudian secara tidak langsung membantu ekonomi negara ini secara umum tidak terperosok kedalam resesi yang lebih dalam. Kita semua hanya bisa berdoa, berdoa agar vaksin bisa segera ditemukan dan semua ini bisa cepat berlalu. Terus terang saya pribadi sudah kangen jalan-jalan melihat pemandangan di belahan lain negara bagian Victoria, bahkan ada rencana ingin road trip ke negara bagian lain. Belum lagi ada keinginan buat mudik sebentar bersama keluarga, sekedar menegok rumah mungil kami di Jakarta, menjenguk orang tua dan saudara sampai melepas kangen terhadap hal-hal yang tidak ada disini seperti makan sate ayam atau bakso di pinggir jalan contohnya… semoga perut kami masih kuat ya….

4 Bulan….

Tidak terasa… 4 bulan lagi sudah Natal, biasanya saya menulis tentang September Ceri(t)a setiap masuk bulan ke 9, tapi saat ini bingung harus menulis tentang apa. Covid-19 kok rasanya sukses amat memporak-porandakan tidak hanya ekonomi dunia tapi juga kesehatan mental yang saat ini dijadikan hal “keren-kerenan” di dunia +62 sana hanya karena sedang viral, menyedihkan…

Saya secara pribadi mulai merasa jenuh dengan semua lockdown ini, rasa stress kadang datang tanpa saya sadari walaupun sampai saat ini saya masih berhasil menemukan cara mengendalikannya, entah dengan mengerjakan lahan belakang yang sekarang nyaris berhenti karena lockdown dan sekalian mengatur perputaran keuangan, karena di bulan-bulan seperti sekarang banyak pengeluaran lumayan besar yang harus dibayar. Selain itu biasa saya juga mengusir stress dengan minum segelas whisky hahaha… maaf saya ga suka belagak suci, minum ya minum saja toh saya beli secara legal minumannya. Selain itu saya juga coba mencari ingin belajar hal baru apa di seputaran dunia kerja.

Untuk yang satu itu, saya masih bingung sebetulnya ingin kearah mana. Kemaren setelah diskusi dengan beberapa teman, saya putuskan akan belajar dan memperdalam cyber security saja, karena selain menunjang apa yang sudah saya miliki saat ini, pengetahuan tentang cyber security juga bisa menjadi modal untuk menunjang pekerjaan yang saya tekuni kedepannya. Memang sih ga bisa cepat belajar yang satu ini dan butuh modal ga sedikit, tapi kalau kita tidak pernah mau invest dan mulai, ya sampai kapanpun ga akan terjadi kan…

Hemm… masih ada 1 yang harus saya putuskan sebetulnya, kapan mau ambil ujian sertifikasi nya, karena dengan menentukan kapan saya mau maju ujian ikut membantu saya mengejar bahan dan mempelajarinya. Semoga saya masih memiliki energy untuk mengejar hal itu ya…

 

Gloomy…

Cuaca di Greater Melbourne sedang mendung kelam, keadaan cuaca untuk beberapa hari ini benar-benar tidak bersahabat karena selain hujan terus menerus, angin juga bertiup cukup kencang akibat gelombang yang datang dari antartika yang sukses membuat kota yang cantik nan dingin ini menjadi semakin dingin.

Keadaan cuaca yang seperti ini membuat pekerjaan landscaping saya harus terhenti sementara karena kan ga mungkin kerja dibawah hujan plus suhu dibawah 10 derajat. Setidaknya, tanah belakang rumah yang kemaren membuat saya menemukan beberapa “harta karun” seperti balok kayu, genteng, dan terakhir pasak besi sepanjang 75 cm, sudah berhasil saya ratakan dan padatkan dengan road base. Saya mengambil beberapa gambar selama proses nya yang bisa dilihat dibawah ini.

 

 

Begitu juga tanah di samping rumah disebelah retaining wall yang saya buat pakai papan kayu setebal 5 cm. Retaining wall yang kemudian saya bongkar dan pasang ulang di beberapa bagiannya agar bisa agak lurus, yang cukup memakan waktu dan tenaga akhirnya terlihat rada mendingan lurus sekarang. Ini keadaan yang lama,

dan ini setelah saya bongkar pasang beberapa bagian sekaligus memadatkan tanahnya pakai road base.

 

Selain tanah belakang dan samping, saya sempat membersihkan tanah depan kami dari rumput liar. Setidaknya sekarang kelihatan rada rapian karena saya belum ada waktu buat mengerjakan taman depan walaupun sudah ada beberapa gambaran mau dibuat seperti apa. Dari yang tadinya seperti dibawah ini, bahkan lebih parah karena saya lupa ambil gambar sebelum dibersihkan jadi pakai gambar lama pas serah terima 2 bulan lalu.

Jadi seperti dibawah ini, rumput liar nya yang sudah tergali masih saya kumpulkan dan tumpuk di beberapa titik karena sudah terlalu lelah untuk buang ke tempat sampah, jiahh… norak nya hahaha….

Sekarang tinggal nunggu keadaan cukup bersahabat untuk dilanjutkan dengan kerjaan berikutnya.

Walaupun… keadaan mendung kelam seperti ini, sehingga membuat proyek kecil saya untuk taman sekitar rumah mungil kami jadi terhenti sementara, tapi percayalah jika semua selalu ada hikmah dan syukur dibaliknya. Hikmah yang pertama saya rasakan adalah setidaknya saya bisa istirahat sebentar hahaha… norak ya, tapi bener loh… saya kalau bukan karena cuaca susah berhentinya karena mau cepet-cepet selesaiin kerjaan ini. Hikmah kedua, perputaran keuangan kami juga jadi lebih longgar dan lega karena punya waktu untuk nunggu gaji masuk dan melakukan budgeting lagi, ya maklum lah kami kan bukan berasal dari kalangan berada jadi semua harus kami hitung dan atur agar cukup.

Ada beberapa kawan yang bertanya ke saya kenapa kok mengerjakan landscaping sendiri. Sebetulnya awal dari semua ini karena saya ga rela membayar jasa landscaper professional yang menurut saya terlalu mahal (yang setelah saya lakukan sendiri ternyata memang ga gampang hahaha….). Setelah saya mulai mengerjakan dan mulai menyadari jika memang jasa landscaper professional wajar jika mahal (asal tidak terlalu mahal…) saya sudah terlanjur basah dan sayang kalau berhenti jadi saya lanjutin saja terus kerjaannya. Melakukan pekerjaan landscaping sendiri ternyata membuat saya belajar banyak hal loh… setidaknya 1 pelajaran yang saya dapat adalah perencanaan dan itu naik level terus selama prosesnya.

Level pertama adalah saya belajar merencanakan ingin dibuat seperti apa tanah itu, saya mulai gambar-gambar, drafting, cek barang sana sini, dan yang paling utama belajar cara membuatnya menjadi kenyataan lewat youtube, tulisan dan lain sebagainya. Setelah kebayang ingin bikin seperti apa saya harus mulai merencakan keuangan saya untuk membeli semua bahan dan alat yang saya butuhkan, dan itu ga gampang loh ternyata… karena saya ga mungkin donk beli alat mahal dan besar karena tidak berprofesi sebagai landscaper yang artinya setelah semua selesai alat-alat itu terus mau diapakan? jadi saya harus agak tricky mencari alat pengganti, cara mengerjakan, sampai arus keuangan memadai atau tidak untuk mendapatkan semua itu, naik lah ilmu saya ke level 2 dimana saya harus menghubungkan apa yang sudah saya rencanakan di awal tadi dengan yang sekarang.

Setelah semua sudah terbagi dan menjadi sebuah daftar kerja beserta kapan beli ini dan kerjain apa. Timbul masalah berikut nya, yaitu cara membawa bahan-bahan itu ke rumah. Tadinya mau pakai jasa kirim saja tapi balik lagi, saya kan masih baru jadi kalau kira-kira nya pas ga masalah, tapi kalau kurang? saya jadi harus keluar dana lebih, kalau kelebihan? jadi ga kepake kan. Jadi mau ga mau saya pergi sendiri ambil sebagian demi sebagian (itu saja masih kelebihan walaupun ga parah…) yang artinya harus bolak balik ke toko dan secara finansial harus di susun ulang karena ada beberapa bahan yang terlalu panjang atau berat sehingga harus saya ganti dengan yang lebih terjangkau untuk dimasukan kedalam mobil. Naik lagi level saya ke level 3 hahaha…. duh pusing deh…. beneran memusingkan walaupun menyenangkan ya…

Yah… apapun itu, kita sudah sewajibnya bersyukur kan ya… karena Tuhan menyediakan ikan berlimpah untuk kita makan tapi Dia pun menyediakan pancingan untuk kita gunakan, yang artinya kita juga harus berusaha kan… dan saat kita berusaha tentu tidak bisa berharap matahari bersinar terang dan sejuk sepanjang proses nya kan… tapi balik lagi, Dia juga tidak mengajarkan kita bagaimana harus menghindari hujan kan, tapi lebih kepada bagaimana menari dibawah hujan dan hadiahnya adalah sebuah pelangi yang indah setelah itu.

Apapun yang terjadi selama proses kehidupan saya yang akan mendekati paruh baya ini, baik itu pahit maupun manisnya, saya akan selalu ingat untuk mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Karena tanpa kedua hal itu secangkir kopi tidak akan terasa nikmat, begitupun kehidupan manusia. Sebuah perjalanan hidup itu menurut saya bukan diukur dari apa yang kita capai dan bagaimana kita meninggal, tapi lebih kepada bagaimana kita berproses sepanjang perjalanan hidup kita dan didalamnya. Jangan lupa bahagia ya…. 🙂

“Harta Karun”

Selama proses mengerjakan lahan mini yang kami miliki di rumah baru kami yang juga ga besar, sering kali saya mendapatkan barang-barang tidak terduga tertanam di dalam tanah saat sedang menggali, meratakan atau membuat lubang untuk memasang kayu penahan. Barang-barang tidak terduga ini (yang saya sebut “harta karun”) benar-benar kadang membuat saya geli sendiri, gimana ga coba… kadang saya nemu batu bata utuh tertanam didalam tanah, pipa PVC utuh, batu segede kepala muda, dan kayu balok utuh!

Entah sudah berapa kali saya menemukan barang-barang aneh tersebut (yang sayang nya ga sempat saya foto) dan saya sempatkan foto yang barusan saja saya dapatkan saat sedang meratakan tanah belakang rumah bagian lainnya, sebatang balok kayu utuh.

Sebetulnya ga buruk juga sih, karena sebagian besar dari apa yang saya temukan bisa saya gunakan kembali buat melengkapi apa yang sedang ingin saya buat atau kerjakan. Yang nyebelin itu kalau ternyata ga bisa digunakan dan harus dibuang, karena disini buang barang-barang sisa bangunan seperti itu ga seenak dan seluwes di Indonesia yang tinggal kasih ke tukang rombeng yang lewat atau sekedar di taro di depan pagar. Disini ada aturan-aturan yang harus kita ikutin dan itu merepotkan buat manusia yang dulunya tinggal di Indonesia dengan segala budayanya selama 36 tahun!

Tetap harus bersyukur donk ya…. repot sedikit tidak masalah kan kita dapat pelajarannya. Setidaknya kita belajar sesuatu kan dan hari kita tidak lewat begitu saja secara sia-sia. Semenjak pindah ke Australia, terus terang hari-hari saya semakin banyak yang terpakai buat belajar hal-hal baru. Entah karena disini saya tidak perlu membuang waktu percuma di jalanan karena macet atau sisi pekerjaan yang memang lebih mendukung family time, tapi beneran saya merasakan waktu saya bisa lebih berkualitas dan bisa digunakan untuk belajar hal-hal lain diluar IT atau yang berkaitan dengan pekerjaan, lebih mirip ke hobby lah ya… saya memang hobby bikin-bikin sesuatu, hobby benerin sesuatu, dan hobby bikin kebun. Semua hobby ini dulunya ga kesampaian saat masih tinggal di Jakarta, selain energi sudah habis di jalanan dan pekerjaan, juga karena dana kan pasti lebih mepet karena harus nabung untuk anak sekolah.

Tanpa mengurangi hormat saya kepada kota dimana saya pernah tinggal lebih dari 10 tahun lamanya, tapi memang harus saya akui jika tinggal di Melbourne tingkat kualitas hidup nya jauh berbeda.