Apa yang sebetulnya membuat kita”merasa” hidup?

Harta dan ketenaran, jika bisa membuat orang bahagia, saya yakin tidak akan ada artis terkenal yang bunuh diri karena mereka memiliki kedua hal itu…

Saya hanya pria biasa yang pernah tersesat masa mudanya. Hampir semua dosa dunia pernah saya coba saat itu, kecuali minuman beralkohol yang ternyata kambuh nya saat ini walaupun masih berada dalam kontrol. Jika bukan karena istri saya yang saat itu menjadi pacar saya, mungkin saya sudah tersesat entah dimana saat ini. Itulah kenapa…. saya tidak pernah bermimpi untuk kehilangan dia… karena saya tidak mau kehilangan kehidupan saya…

Saya tidak malu mengakui jika saya bukan manusia baik-baik dulu, hidup sendirian jauh dari keluarga terlebih sepeninggalan Papa, membuat saya menjadi cukup gila jika tidak ingin dibilang gila beneran, lalu siapa yang membuat akal saya tetap berada ditengah? dia adalah pacar saya yang sekarang menjadi istri saya.

Perjalanan kehidupan saya, membuat saya menyadari satu hal dalam kehidupan… bukan sebanyak apa uang yang kalian miliki yang membuat kalian bahagia, bukan juga sebagus apa barang yang kalian miliki yang membuat kalian bahagia, bukan juga secantik apa pasangan apa yang membuat kalian bahagia, bukan juga setinggi apa pencapaian kalian yang membuat kalian bahagia, tapi hanya bersyukur yang membuat kalian bahagia.

Terlebih lagi lebih jauh dari itu…. empati dan rendah hati menjadi dua hal penting dalam proses kita bersyukur dan berbahagia.

Apakah saya saat ini bahagia? ya… saya bahagia, terlepas dari materi duniawi yang saya miliki, tapi saya merasa hidup saya mengalir dan berkembang pada ritme nya. Seperti yang saya bilang tadi jika harta dan ketenaran bisa membuat orang bahagia tidak akan ada artis terkenal yang bunuh diri.

Ingat… apa yang kalian lempar ke sosial media ibarat kalian melempar batok kelapa muda yang sudah kalian nikmati air nya di pantai, yang kemudian akan kembali sambil dibawa ombak besar kepada kalian, siapkah kalian menerima ombak besar itu? yang di identikan dengan respon mereka diluar sana dalam sosial media kalian? jika tidak…. kalian mungkin akan berakhir seperti mereka yang mengambil jalan singkat dengan mengakhiri hidup mereka….

Tulisan ini ditulis dengan whisky ditangan dan house music di telinga…. seperti yang saya bilang…. hidup saya dulu tidak sempurna bahkan cenderung rusak… dan kadang bernostalgia dengan hal itu membuat saya semakin menyadari jika kehidupan saya saat ini…. luar biasa…. kenapa? karena saya berani berhenti dan menjalani kehidupan yang puji Tuhan masih bisa dibilang normal. Rusak jangan sampai telat….

Jadi… ?

Jadi sudah betah nih? sudah ga mau pulang ke Indonesia lagi?

Semenjak migrasi sampai sekarang, kedua pertanyaan diatas beberapa kali dilontarkan kawan-kawan maupun keluarga. Pertanyaan yang sebetulnya sulit-sulit-gampang untuk dijawab. Kenapa? karena mau dibilang sudah betah juga ga tapi dibilang pengen balik juga ga hahaha…

Saya itu sebetulnya tipikal orang termasuk malas pakai banget pindah-pindah seperti kucing beranak, hal itu kelihatan dari 7 tahun berada di kamar kos yang sama (padahal mah karena ga ada duit aja buat pindah ke kos yang agak besar hahaha….), 10 tahun bekerja di perusahaan yang sama, bahkan 17 tahun bersama 1 cewek yang sama yang walaupun nyebelin tapi ngangenin. Itulah kenapa saat saya memutuskan untuk migrasi itu sebetulnya perang batin sangat loh… antara sudah malas karena sudah rada enak hidup di Jakarta dan tabungan kami saat itu juga ga seberapa, akan tetapi di lain pihak saya juga masih penasaran kepengen mengejar cita-cita saya yang rada-rada gila. Apalagi saat itu kehidupan kami di Jakarta bisa dibilang ga jelek juga loh… kami hidup berkecukupan walaupun tidak berlimpah ruah. Itulah kenapa, saat kami gagal saat pertama kali migrasi, finansial kami langsung goyang dangdut ga karuan, yang sebetulnya entah kenapa setahun kemudian kami bisa nabung dan nyoba migrasi lagi yang kedua kali, bener-bener diluar akal sehat saya sih… itu kenapa saya selalu bilang jika perjalanan kehidupan saya itu penuh dengan mukjizat, ga bisa dihitung pakai kalkulator manusia, ya setidaknya kalkulator saya pribadi. 🙂

Seperti yang sudah pernah saya bagikan disini sebelumnya jika kami saat memutuskan migrasi ke Australia itu sebetulnya demi anak terutama pendidikan, karena kami ingin anak-anak kami bisa menikmati ruang terbuka ga harus nge-mall lagi nge-mall lagi, tapi ga harus berkutat dengan keamanan, polusi dan asap rokok, dan juga agar mereka bisa tumbuh besar di daerah yang udara nya masih bersih, terlebih yang lebih penting lagi adalah anak-anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas dan masih banyak hal lainnya yang bagi kami lebih positif dari keadaan di Jakarta. Sekolah disini bagi kami juga jauh lebih baik walaupun tidak 100 persen baik ya… setidaknya disini cara mendidiknya lebih kearah kreatifitas dan attitude, tidak menekankan hafalan terus menerus, dan juga tidak ada materi pelajaran ga terlalu dibutuhkan tapi tetap dipaksakan, kalau ambil contoh disana ya semacam menghafal plat kendaraan seluruh Indonesia, atau membaca peta buta halah…. sekarang apa-apa tinggal googling ternyata.

Selain pendidikan, faktor lain seperti kesehatan juga menjadi salah satu dasar kenapa saya memilih Australia, disini selama kita megang visa Permanent Residence, kita mendapatkan hak yang sama dengan Citizen untuk semua pelayanan baik itu kesehatan, pendidikan, sosial dan keamanan. Ini hanya untuk pemegang visa PR saja ya, bukan yang lain. Sering kali mereka-mereka yang sedang berjuang mendapatkan PR beranggapan biaya berobat disini gratis seluruhnya (sama seperti saya dulu) yang sebetulnya kurang tepat juga. Yang benar-benar digratiskan adalah yang termasuk dalam list PBS Scheme. Apa itu PBS Scheme silahkan baca disini dan disini. Di link kedua kita bisa melihat semua obat yang ditanggung Medicare (sama seperti BPJS kalau di Indonesia) yang bisa kita cari berdasarkan nama obat, penyakit, dsb. Jadi, ini artinya obat-obat umum seperti panadol, flu umum, sakit kepala, mencret dsb yang dikonsumsi umum ya harus bayar, walaupun harus bayar tapi sebagian besar masih di subsidi oleh pemerintah jadi ya lumayan lah, bisa lebih murah dikit.

Hal lainnya adalah keamanan, bagi kami keamanan itu penting. Di Australia kami dilindungi oleh hukum dengan lebih jelas, yang dimaksud dengan lebih jelas disini adalah hukum bekerja melindungi seluruh warganya tanpa pandang bulu, jadi ga hanya mereka yang tajir apalagi sampai tajir melintir saja yang dilindungi atau sengaja dilindungi walaupun salah. Bukan hanya hukum, tapi pelayanan pemerintah lainnya juga sama, contohnya Ambulance dan Pemadam Kebakaran. Disini jika ada yang nelpon 000 nomor emergency disini tanpa menyebutkan membutuhkan layanan polisi, pemadam atau ambulance, maka ketiga instansi tersebut akan datang semua ke lokasi tanpa ba-bi-bu nanya “wani piro” terlebih dahulu dan akan sampai secepat mungkin, rekor yang pernah saya alami tidak sampai 5 menit salah satu dari mereka sudah tiba dilokasi, dan ini tidak terlepas dari mental pengguna jalan yang mau mengalah dan memberi jalan kepada mereka saat sirine sudah menyalak (ga pakai ada yang ngekor dibelakang kaya disana ya….) mau semacet apapun jalanan yang ada. Mental pengguna jalan ini juga menjadi salah satu yang bikin betah karena ga perlu ngurut dada ngeliat rombongan beruk berakrobat di jalanan seperti disana. Yang perlu diingat adalah, untuk pemadam kebakaran dan ambulance akan ada tagihan yang menyusul (alias tidak gratis), itu kenapa penting untuk memiliki asuransi ambulance dan bagi yang sudah ada properti punya asuransi kebakaran. Dan yang lebih penting lagi untuk panggilan palsu akan ada denda juga, itu kenapa hati-hati dengan nomor atau tombol emergency karena disini hal itu ditanggapi sangat-sangat serius. Mengenai denda juga ada bagusnya karena untuk memberi efek jera, jadi kan ga ada yang iseng dan mengakibatkan orang lain yang memang sedang membutuhkan emergency malah jadi ga tertolong atau terlambat tertolong. Yang ingin saya garis bawahi sebetulnya adalah kesigapan mereka datang menolong terlebih dahulu bukan nanya biaya dulu seperti yang biasanya terjadi disana. Walaupun ada biaya yang harus dibayar saat memanggil layanan mereka (selain polisi) tapi untuk kejadian yang terjadi di jalan tidak pakai biaya alias gratis karena semua sudah secara otomatis ditanggung oleh VicRoad melalui biaya memperpanjang registrasi kendaraan yang kita bayarkan setiap tahun (semacam perpanjang BPKB kalau disana). Jadi, tetap diingat ya, kalau sudah dapat PR dan pindah kesini lebih baik setidaknya punya asuransi ambulance karena biaya ambulance tidak ditanggung oleh pemerintah kecuali untuk kecelakaan dijalan. Dan bagi yang sudah punya rumah, lebih baik ambil asuransi rumah yang cover sampai pemadam kebakaran atau setidaknya untuk cover kebakaran buat jaga-jaga saja dan itu pun kalau mau.

Pelayanan masyarakat adalah hal lainnya yang bikin kami betah, disini kalau mau perpanjang surat-surat misalnya SIM atau Visa PR kami, itu sangat mudah, bisa dilakukan sendiri dan tidak berbelit. Informasinya jelas, tidak ada istilah “seikhlasnya”, dan tidak dipersulit padahal kami hanya pemegang Visa PR loh bukan warga negara. Masalah informasi contohnya, pernah ada diskusi cukup hangat di group facebook diaspora Indonesia di Melbourne mengenai informasi perpanjang passport yang berbeda antara yang tertulis di Web KJRI dengan apa yang disyaratkan, hal seperti ini kan nyebelin ya… apalagi untuk orang-orang yang bekerja seperti saya dan harus ambil cuti tapi kemudian jadi sia-sia hanya karena informasi di Web tidak sepenuhnya benar. Tapi kan kalian dapat cuti banyak kalau kerja disana? Ya ga gitu juga keless… inget kalau kami disini sendirian, ga seperti disana yang tinggal telpon keluarga saat butuh sesuatu, disini semua dilakukan sendiri dan saat hal itu dibutuhkan, ya yang namanya cuti akan sangat membantu. Jika dibandingkan dengan warga negara sini yang perpanjang Passport bisa kapan saja bahkan bisa dilakukan di kantor Pos tanpa harus pakai seabrek dokumen, pelayanan negara kita ke masyarakat sih menurut saya masih banyak yang harus dibenahi, termasuk dari mental petugasnya. Contoh lainnya adalah masalah masuk sekolah, disini masuk sekolah sangat mudah dan tidak harus menyiapkan seabrek dokumen seperti di Indonesia, apalagi kalau sudah masalah pindah Negara. Disini cukup fotocopy Passport, Visa, dan list imunisasi dan anak kami pun bisa langsung mulai masuk sekolah walaupun pindahan dari Indonesia dan mulai nya di tengah tahun ajaran, coba kalau dibalik, kami bakalan perlu menyiapkan dokumen pindah sekolah, dokumen dari KJRI, dan lain sebagainya yang entah apa saja, itupun belum tentu bisa langsung sekolah dan harus menunggu pergantian semester atau ajaran baru atau entah apalah itu.

Ga kepo! nahh…. yang ini juga penting nih, kenapa? karena kita jadi lebih bebas untuk menjadi diri sendiri, ga perlu muna atau berusaha caper (cari perhatian) baik dengan kekonyolan, kekepoan atau dikit-dikit pamer hanya untuk menunjukan kepada orang lain kita seperti apa (walaupun kadang bertopeng). Hidup di negara seperti Australia jauh berbeda dengan hidup di Indonesia, disini orang-orang sudah mengerti batas tertentu yang tidak seharusnya mereka langgar terutama kalau sudah berhubungan dengan masalah privasi. Jadi ga ada tuh disini yang asal komentarin orang lain, apalagi ngurusin agama orang lain apa, sudah nikah atau belum, kenapa ga mau punya anak, bahkan sampai LGBT juga ga dikepoin dan dikomentarin, ya ga semua sih ada juga beberapa yang masih seperti itu apalagi yang dari Indonesia hahaha… ga gampang euy ngubah kebiasaan yang sudah mengakar ya. Bahkan disini kalau lagi summer sudah biasa kalau bukan lagi hanya belahan dada yang bertebaran tapi sudah tambah puting njeplak yang bertebaran, ini beneran loh (hayoo… ga perlu mupeng apalagi ngecess… tuh lap dulu sudut bibir nya), dan ga ada yang ngurusin atau kepo ngomongin dan sebagainya, palingan juga adanya saya saja yang matanya cape karena dipaksa jangan sampai berkedip hahaha… (norak ah…), maklum cowok norak… eh normal. Disini saat musim panas cewek-ceweknya untuk segala ukuran dan bentuk payudara sudah terbiasa tidak menggunakan bra saat menggunakan kaos ketat sehingga kedua putingnya sampai terlihat njeplak dan mereka pede saja jalan-jalan tanpa harus kawatir ada yang ngomongin atau bahkan merkosa mereka, kenapa? karena otak nya ga menceng kaya layangan singit seperti orang-orang disana yang lihat paha diatas dengkul dikit saja sudah horny, dan lebih parah lagi abis itu yang disalahin paha si cewek, halah… bagaimana kalau mereka hidup disini yang celana atau rok nya sudah bukan diatas paha lagi tapi sudah dibawah pinggul, kebayang kan tuh paha mulus keliatan 5 centi dari selangkangan sampai dengkul, bisa-bisa ayan kalian kumat disini trus kejang-kejang dijalan hahaha….. Disini orang-orang bebas memilih apa yang mereka inginkan selama masih dalam batas-batas umum dan tidak mengganggu orang lain. Dan batas-batas ini pun bukan ditetapkan oleh segelintir orang atau ormas yang merasa mereka adalah penjaga pintu surga, tapi oleh badan berwenang dari Negara sehingga tetap netral dan sah secara hukum.

Jadi, lu udah ga bakalan balik lagi nih ke Indonesia untuk menetap? saya belum tahu sampai detik ini dan bahkan sampai detik akan datang. Kenapa? karena saya sendiri sampai saat ini belum memiliki rencana pensiun nanti mau seperti apa. Inget, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya jika kami migrasi karena ingin anak-anak kami mendapatkan kesempatan yang lebih baik disini baik untuk pendidikan maupun hal-hal lainnya. Sampai saat ini pun kami masih mempertahankan rumah mungil kami di Jakarta, kami pun masih mempertahankan status warga negara kami walaupun kami pada akhirnya akan memberikan kewenangan secara penuh kepada kedua anak kami untuk memilih ingin menjadi warga negara Australia atau tetap sebagai WNI. Kami tidak tahu apakah kami akan menutup mata di tanah air beta atau di tanah asing beta, sama hal nya kami pun belum tahu akan kembali ke Indonesia lagi atau tidak saat kedua anak kami sudah mandiri dengan kehidupan mereka. Untuk saat ini, kami hanya berusaha dan berjuang untuk bisa bertahan disini selama mungkin sampai kedua anak kami berhasil menyelesaikan pendidikan mereka sampai jenjang tertinggi yang bisa mereka capai.

Sampai sekarang, saya pribadi masih berpikir untuk suatu hari nanti mau pensiun di Indonesia saja, apalagi dollar yang saya tabung disini bisa saja jadi begitu banyak rupiah nantinya jika ditukar, dan tinggal dibawa ke kota kecil dan hidup tenang disana sambil jualan gorengan di depan rumah. Tapi hidup kan ga bisa mikir yang normal-normal dan sehat-sehat saja, coba bayangkan kalau kita saat tua sakit-sakitan, ya iya kalau langsung mati, kalau sakit-sakitan dan ga mati-mati trus gimana? jelas di Australia akan lebih terjamin pelayanan dan biayanya karena ada medicare. Bicara hidup enak, sebetulnya selama kita mau planning dan saving, menurut saya dimana saja akan sama karena biaya di Indonesia pun ga bisa dibilang murah loh… saat ini saya bisa bilang murah karena membandingkan dengan Australia, ya jelas lah lebih murah…. coba nyari duit disana dan hidup disana ya podo wae struggling nya. Di Australia pun saya juga membayangkan nanti saat kami pensiun, berdua dengan istri mau mengembangkan kulineran, bikin makanan-makanan unik terus kita jualan hehehe… tapi itu kan rencana ya, masalah bisa ga nyampe ke titik itu ya kita ga tahu, karena rahasia itu hanya milik Tuhan.

Jadi… ?

Apapun jawaban maupun rencananya, nikmati saja yang kita hadapi saat ini. Bermimpilah dan jangan lupa bangun dan mengejarnya, nikmati prosesnya bukan hasilnya karena sejatinya proses itulah yang mendewasakan kita dan memiliki arti kata bahagia. Hidup tanpa mimpi itu seperti ayam goreng tanpa sambel lalapan, mungkin masih enak tapi kurang lengkap, dan hidup dengan mimpi tapi hanya menjadi impian itu seperti ayam goreng lengkap dengan sambel lalapan tapi yang dimakan cuman timun nya saja, hambar booo…

Hari yang tidak akan terlupakan (3)

Dulu saya pernah menuliskan sebuah artikel mengenai hari-hari tidak terlupakan dalam hidup saya disini. Yang juga merupakan kelanjutan dari artikel pertama yang bisa kalian dapatkan didalam link tersebut tadi.
Untuk tanggal dari 25 Desember 1980 sampai 7 Mei 2015 bisa kalian baca di link sebelumnya, jadi saya akan melanjutkan tanggalannya dengan tanggal setelah itu 🙂

07 September 2015 – Kami akhirnya berangkat migrasi ke Melbourne.

06 Desember 2015 – Kami, dengan berat hati akhirnya memutuskan jika kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami lebih jauh lagi karena satu dan lain hal. Kami pulang ke Jakarta pada hari ini.

14 Desember 2015 – Saya mulai bekerja di salah satu perusahaan systems integrator terbaik yang pernah saya temui di Jakarta.

15 Oktober 2016 – Saya menerima sakramen Krisma (Penguatan), akhirnya janji yang saya buat saat nikah terpenuhi.

30 Desember 2016 – Saya menerima kontrak kerja dari Melbourne, yeayy… proses mengejar mimpi bisa dilanjutkan lagi.

30 Januari 2017 – Saya pamit kepada team dan semua kawan saya di kantor karena ini adalah hari terakhir saya bekerja di perusahaan hebat ini.

01 February 2017 – Kami berangkat lagi menuju Melbourne 🙂

16 Mei 2017 – Akhirnya saya mendapatkan SIM Australia dan sah bisa mengemudi kendaraan roda empat di Melbourne.

24 Juni 2017 – Di hari ini kami memutuskan untuk melakukan down payment untuk sebidang tanah yang kami inginkan di belahan sebelah barat dari Melbourne.

26 September 2018 – Di hari yang satu ini, akhirnya saya bisa mengenapi salah satu janji yang dulu sempat saya ucapkan pada diri saat melamar istri saya, jika suatu hari saya harus bisa membelikan sebuah cincin tunangan untuk mengganti cincin lamaran yang tidak mampu saya beli saat melamar istri saya.

31 Mei 2019 – Akhirnya setelah penantian panjang, tanah kami titled juga horee…

26 September 2019 – Kami merayakan 10 tahun pernikahan, yeahhh… sudah 10 tahun aja ya… 🙂

23 Oktober 2019 – Rumah kami mulai dibangun, ga sabar pengen cepet-cepet selesai hahaha…

===

Tuhan sungguh baik… kami terutama saya sungguh diberkati oleh-Nya. Memang kejadian di tanggalan yang saya simpen itu ga selalu bagus semua, tapi itulah yang namanya hidup, selalu ada naik dan turun, dan yang paling penting adalah kita mau belajar dari setiap kejadian yang terjadi terlepas dari enak tidak enaknya, maupun bagus tidak bagusnya, karena belajar itu tentang bagaimana kita mengembangkan diri kita, melatih diri kita agar bisa menjadi lebih baik dan saya percaya semua kejadian memiliki artinya sendiri dan bisa membantu kita berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktunya jika kita mau belajar darinya.

Pesan Terselubung

Beberapa minggu ini saat saya coba baca-baca ulang lagi semua tulisan yang pernah saya tulis disini, mata saya terpaku pada beberapa artikel yang berisi 1 kalimat tentang pesan dibalik peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu antara kami mulai migrasi yang pertama, lalu kami harus pulang lagi dan kemudian kami bisa mencoba migrasi lagi yang kedua kalinya. Bacaan itu membuat saya kemudian merenung lama dan mencoba menggali lebih dalam kedalam ingatan saya yang pas-pas-an ini untuk mencari tahu dan berusaha merasakan pesan terselubung yang secara tidak sengaja mulai saya lupakan tersebut.

Setelah lama merenung, saya menyadari hal pertama yaitu mengenai kesempatan saya mengenal kawan-kawan baru, memang sih saya mungkin tidak perlu mengalami proses tersebut hanya untuk mengenal kawan-kawan baru, tapi disini saya sulit menjelaskan semua alasan dibalik ini, yang bisa saya rasakan hanyalah jika peristiwa itu tidak terjadi mungkin saya tidak akan beranjak dari tempat saya dan memiliki kesempatan bekerja di salah satu perusahaan system integrator terbaik dan mengenal team luar biasa didalamnya. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan mengenal banyak orang baru lainnya sepanjang proses itu terjadi, dan banyak di antara mereka masih keep contact dengan saya sampai hari ini. Mendapatkan kawan baru itu sebuah anugrah karena menambahkan orang-orang luar biasa dalam kehidupan kita.

Hal kedua yang saya sadari adalah sakramen krisma, jujur saja sih… kalau kemaren itu saya tidak gagal lalu pulang, mungkin sampai sekarang saya masih belum menuntaskan sakramen krisma yang merupakan salah satu janji saya kepada Romo saat akan menerima sakramen nikah di gereja. Kepulangan saya memimpin langkah saya ke perusahaan baru yang saya sebutkan sebelumnya, yang kemudian membuat saya mengenal 1 orang yang kemudian secara tidak sengaja menarik saya ikut persiapan sakramen krisma yang saat itu dilakukan setiap kamis malam di gereja. Tuhan sungguh luar biasa ya saat bekerja dan berkarya atas diri kita, sesuatu yang benar-benar berada diluar pemikiran saya dan sampai saat ini pun tetap membuat saya terkagum-kagum dengan prosesnya.

Hal berikutnya yang saya sadari adalah belajar hal baru, kepulangan saya saat gagal migrasi yang pertama kali memimpin langkah saya menjadi bagian dari perusahaan tersebut diatas, ini juga sebuah proses yang tidak terpikirkan oleh saya karena kesempatan ini selain membuat saya mengenal banyak orang-orang hebat juga membuat saya belajar banyak hal baru termasuk salah satunya ilmu manajerial. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu manajerial justru di perusahaan terakhir di Jakarta sebelum saya mencoba migrasi lagi untuk kedua kalinya, padahal saya hanya 1 tahun 1 bulan loh di posisi manajer, luar biasa ya jika kita berada ditengah-tengah orang hebat maka dengan sendirinya kita pun akan terbawa arus, yang perlu kita lakukan hanyalah menjadi spons dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

Satu hal lain yang juga berada dibalik pesan ini adalah Tuhan mau saya belajar untuk sabar, pasrah dan bersyukur. Ini ga gampang loh… terutama saat saya gagal dan pulang saat itu, pikiran dan hati saya bertanya-tanya untuk waktu yang lama mengenai semua kejadian yang terjadi begitu beruntun dalam kehidupan saya saat itu dan masih tidak menemukan jawaban yang bisa menjawab semuanya. Jawaban yang kemudian datang saat satu per satu peristiwa setelah nya sudah terjadi dan membuat saya sadar. Bagaimana saya tidak mencari-cari jawaban atas semua yang terjadi saat itu, keadaan kami yang hampir mustahil mendapatkan visa PR yang kemudian secara mukjizat bisa kami dapatkan tapi kemudian berakhir dengan gagal migrasi tentunya membuat saya bertanya-tanya ada apa dibalik semua itu. Pada akhirnya kemudian saya menyadari jika saya bukan digagalkan langkahnya, tapi sedang diuji untuk hal lainnya dan sedang diarahkan untuk melakukan hal lainnya terlebih dahulu, hal-hal yang kemudian sangat banyak menolong saya saat migrasi lagi untuk kedua kalinya ke Australia.

Saat ini, keadaan kami terutama saya sudah jauh lebih baik. Anak-anak dan istri sih sudah betah dari lama ya, yang menjadi masalah malahan saya sendiri karena mengalami culture shock yang cukup parah saat itu. Tapi sekarang semua sudah membaik, culture shock saya bisa dibilang sudah hampir 100% sembuh dan hilang. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang yang sudah merantau duluan ke Negara lain ada benarnya, culture shock itu umumnya akan berlangsung selama 2 tahun dan setelah itu akan sembuh dengan sendirinya. Yang setengah mati itu adalah melawan culture shock itu sendiri karena orang-orang sekitar kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu selain memberikan semangat dan pendampingan karena semua harus dilawan dari diri kita sendiri, dan saya berhasil melawannya walaupun hampir gila juga awalnya hahaha….

Selamat memasuki bulan November kawan… bulan yang sudah semakin mendekatkan kita semua ke penghujung tahun….