Pasrah itu….

Hari ini, tiba-tiba istri meminta untuk pergi makan di salah satu restoran Indonesia di dekat kantor saya karena beberapa hari lalu saya godain dia dengan foto bebek goreng yang sedang saya santap untuk makan siang. Sambel ijo dan sambel merahnya haduh-haduh… uenak poll dah… nama resto nya Jokamz, entahlah artinya apa dibalik nama itu tapi saya dengar-dengar latar belakang nya dari Jawa Timur rek… Lele Goreng, Iga Bakar, dan Bebek Goreng pun menjadi sajian siang itu.

Setelah makan, kami lanjut ke Werribe Mansion di barat Melbourne sana, setelah puas berputar-putar didalam kompleks sekalian mengambil beberapa foto, kami pun beranjak pulang. Di tengah perjalanan keluar dari area parkir, istri lagi-lagi nyentil “kemana lagi ya… kan matahari sampai jam 9 malam, kita ke pantai yuk” begitu pintanya. “Ok” sahut saya, dengan permulaan dia minta ke St. Kilda, sebuah daerah per-pantai-an, halah… ngarang-ngarang aja yak bikin kosa kata sendiri hahaha… maksudnya daerah pantai, saya pun iseng membelok kan mobil ke arah selatan, menuju Geelong – kota kecil di selatan Melbourne yang memang sering kami kunjungi sebelumnya.

Setelah puas bermain di daerah waterfront yang memang menjadi favorit kami ditambah naik kincir ria yang membuat saya bergetar karena takut ketinggian hahaha…

Kami pun beranjak ke salah satu restoran lainnya di Geelong yang tentunya Indonesia lagi donk… Kami pun memesan beberapa makanan khas Indonesia, Sebotol Bir Bintang, Nasi Bakar dengan Paru bakar pedas, Ayam Goreng Kremes, dan Sate kambing pun menjadi sajian malam itu ditambah istri bungkus es teler dan es campur buat dibawa pulang, Indonesia banget dah….

Restoran yang kali ini namanya Podok Nasi Bakar, rasanya… begh… juara mak!!! sambel ijo nya nendang banget, belum lagi nasi bakarnya haduh… haduh… serasa makan di Jakarta hahaha… ngilani boo… kapan ya mereka mau nge-cabang di Melbourne… Setelah puas mengisi perut sampai ga mempan dijejelin lagi, kami pun beranjak menuju Melbourne. Begitu sampai di rumah, sebotol Corona dingin pun menyambut dahaga yang memang sengaja dibuat-buat ini hahaha…

Sambil menikmati Corona yang memang enak ini, pikiran saya melayang ke beberapa kejadian yang sudah lalu. Saya mulai merasa jika sebuah kepasrahan itu ternyata memang bisa menenangkan, dan hanya bisa terwujud saat kita bisa bersyukur dan mengurangi rasa kawatir kita. Eitss…. sebentar, apa yang saya tulis barusan tidak berarti kita harus berhenti berjuang dan bermimpi loh… tapi lebih kepada kita bisa menyeimbangkan kedua sisinya.

Saya termasuk orang yang susah sekali santai, selalu membuat target, ingin mencapai sesuatu dan tidak pernah berhenti kawatir setelahnya. Entahlah, pengalaman hidup yang sudah lalu secara tidak langsung membentuk saya seperti ini, untuk selalu waspada. Ada bagusnya sih, tapi kadang menyiksa juga. Disitulah saya mulai menemukan jawaban bagaimana menyeimbangkan kedua sisi saat ini, terlebih beberapa berita duka dari kawan-kawan seumuran saya yang sudah dipanggil Sang Khalik terlebih dahulu membuat saya semakin menyadari, jika kekuatan di atas sana tidak akan bisa kita lawan.

Saya mulai bisa belajar woles (kalau istilah orang jawa), lakukan sebisa yang saya bisa lakukan, tidak lupa berdoa, tetap tidak mudah menyerah, tapi juga harus bisa menikmati saat-saat yang berkualitas bersama keluarga dan mengurangi kawatir dengan menikmati hari ini. Kan seperti apa yang dikatakan orang-orang jika masa depan itu adalah misteri, masa lalu adalah sejarah dan masa kini adalah berkat.

Lebih jauh dari itu, saya percaya jalan akan selalu ada dan akan diberikan saat kita memang sudah di waktu yang tepat untuk menerimanya. Jadi nikmati saja proses nya dan belajar sabar karena hal itu membuat hati menjadi lebih tentram dan damai.

Semoga kedepannya saya bisa semakin baik menguasai ilmu yang satu ini, ilmu pasrah.

Advertisements

2019

Akhirnya kita masuk ke tahun baru, tahun 2019, tahun yang tentunya sama-sama kita harapkan bisa menjadi tahun yang baik, penuh sukacita dan menjadi tahun dimana harapan-harapan kita terwujud.

Ada beberapa harapan yang saya susun untuk tahun ini, selain harapan agar bisa mendapatkan posisi dan status (bukan semata-mata dollar ya…) pekerjaan yang semakin baik lagi, harapan agar rumah pertama yang kami beli 1,5 tahun lalu bisa mulai dibangun tahun ini, jadi itung-itung tahun depan sudah bisa tinggal di rumah sendiri, kan lebih nyaman ya daripada nyewa… dan diatas segalanya tentu harapan agar keluarga kecil ini tetap berada dalam lindungan dan bimbingan Nya.

Untuk pekerjaan sejauh ini ada 4 opsi ditangan saya yang merupakan kelanjutan dari tahun lalu yang masih terbuka untuk tahun ini, hal ini karena mereka melakukan initial interview di akhir tahun dan sudah mendekati libutan, diluar dugaan sebetulnya bisa mendapatkan panggilan wawancara di bulan sepi seperti ini, nanti akan saya lihat mana yang lebih baik dan cocok dengan keadaan saya dan keluarga saya. Semoga Dia menuntun saya ke arah terbaik (pasti donk… kita harus percaya…)

Selamat Tahun baru 2019 ya… semoga di tahun ini kita semua semakin baik, selalu sehat dan bisa mencapai harapan-harapan kita, tetap semangat dalam berjuang ya… jangan kasih kendor, apalagi berjuang untuk impian kita. Hidup tanpa impian itu layaknya makan nasi putih ga pakai lauk, hambar…

Terimakasih 2018, terlepas dari jatuh bangun yang terjadi, 2018 sudah memberikan banyak sekali pelajaran dan bekal bagi kami sekeluarga terutama bagi saya untuk bisa melangkah kedepan dengan lebih mantap. Semoga, semua ini bisa membantu saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa berkarya lebih baik lagi.

Menghabiskan waktu di rumah sambil menikmati pesta kembang api di televisi tetap menjadi pilihan kami karena anak-anak masih kecil. Dengan ditemani wine dan beer (halah….), dan tentu mereka yang selalu menyemangati saya agar tidak menyerah, kami berkumpul dan bercanda ria menjelang kepergian 2018 dan kedatangan 2019. Apapun itu, rasa syukur untuk apa yang sudah lewat, yang sekarang ada di tangan kami dan untuk apa yang sudah didepan mata tetap kami panjatkan kepada Dia yang sudah begitu baik menjaga dan melindungi kami disini.

Perjalanan hidup ini, benar-benar luar biasa, tidak terlupakan dan akan tertoreh dalam lembaran-lembaran perjalanan kehidupan saya yang pernah menukik tajam dan penuh kejutan, yang suatu hari nanti saat saya sedang iseng melihat kebelakang… saya bisa berkata kepada diri saya sendiri “You were walking on your dream, and you made it”

Sehingga saat waktu nya tiba nanti, saya bisa duduk bersama (alm) Papa menceritakan pengalaman hidup yang sudah saya jalanin ini sambil menyeruput kopi bersama dia.

Selamat Natal 2018

Hari Natal pun sedikit lagi tiba, yang jika menurut waktu Melbourne akan tiba dalam waktu 2 jam lagi, tidak terasa kami sudah natalan yang kedua disini. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, rasa syukur tetap kami panjatkan dan ucapan terimakasih atas penyertaan-Nya selama ini tetap kami lantunkan.

Tahun ini, agak mirip seperti tahun sebelumnya. Banyak pengalaman yang memberikan banyak pelajaran. Apapun itu, saya hanya bisa berusaha sebisanya, karena saya percaya jika kuasa yang diatas akan lebih menentukan daripada segalanya.

Yang menjadi pembeda adalah kali ini saya merusaha mengontrol keadaan karena saya belajar dari tahun lalu untuk tidak dikontrol oleh keadaan. Dan juga karena saya yakin jika saya masih bisa melakukan sesuatu dan Dia tidak akan meninggalkan kami jika hal terburuk sampai harus terjadi (semoga tidak).

Kembali kepada hari Natal, hari dimana saya menambah jarak saya semakin mendekat kepada sang Khalik, bukan mendekat secara iman (karena masih harus berusaha keras) tapi lebih kepada secara umur, iya… saya bertambah tua sebentar lagi. Umur yang tidak bisa dibilang muda lagi walaupun juga tidak bisa dibilang sudah tua juga (xixixi…). Terlepas dari tua dan muda, satu hal yang pasti adalah kita harus tetap berkarya untuk kehidupan dan berusaha semakin dewasa.

Disaat mereka masih banyak yang sibuk membuktikan sesuatu kepada dunia, dan sibuk mengejar hal duniawi sampai melupakan hal-hal mendasar dalam kehidupan seperti bersyukur ataupun menikmati waktu bersama keluarga, saya sendiri justru tidak lagi memiliki ambisi besar yang terletak pada hal-hal duniawi, karena keinginan untuk memiliki keadaan yang lebih stabil sudah mulai menjalankan perannya. Sejak pindah kesini ambisi saya mulai bergerak kearah lain, bukan lagi ingin punya penghasilan besar, atau jabatan tertentu, bukan lagi ingin punya hal-hal mewah. Bukannya saya menolak, tapi saya sudah tidak meletakan fokus saya ke titik tersebut.

Harapan-harapan yang saya susun dan kejar pun sudah berubah bentuknya.

Kami pun merayakan Misa Malam Natal bersama KKI di Box Hill, setelah selesai kami pun melaju ke salah satu restoran Korea yang menyajikan BBQ sambil ditemani Soju yang seksi. Rasa syukur pun memuncak karena seburuk apapun keadaan yang sedang saya alami, setidaknya saya masih bisa merayakan malam sebelum Natal bersama keluarga menikmati saat-saat yang begitu berharga dan tidak tergantikan sedangkan masih begitu banyak dari mereka diluar sana yang masih harus bekerja, berjuang dan berjibaku dengan kehidupan mereka yang tidak seberuntung saya.

Yang saya inginkan sekarang hanya bisa hidup tenang dan melihat anak-anak saya menjadi sarjana disini, setelah itu saya bisa bersantai menikmati sisa hidup saya bersama istri secara sederhana, bersyukur dan penuh tawa jika masih diberi napas oleh-Nya.

Terimakasih Tuhan, untuk kehidupan dan perjalanan yang luar biasa ini, untuk hal-hal yang baik maupun cobaan-cobaan yang terjadi, untuk pengalaman yang menjadi pelajaran, dan untuk perlindungan yang luar biasa.

Saya menatap ke tahun berikut nya, yang tentu saya harapkan bisa menjadi tahun dimana salah satu harapan saya bisa terwujud.

Selamat Natal kawan, semoga damai berserta mu dan kita.

Picture source : https://goo.gl/images/MAANJT

Dan…

Dan… ini bukan judul lagu Sheila on Seven, tapi lebih kepada karena saya bingung mau kasih judul apa untuk artikel ini. Saya hanya ingin bercerita jika apa yang dijanjikan di awal ternyata tidak terjadi karena politik menang atas segalanya. Posisi yang sudah disusun di pelintir sedemikian rupa oleh pihak-pihak tertentu sehingga membuat hasil jadi meleset jauhh sekali…

Tidak mengapa, setidaknya satu kebenaran terlihat jelas di mata saya pada akhirnya. Apakah saya kecewa? Yaelah… saya masih manusia kali… kecewa sudah pastilah, tapi apakah kecewa mengobati luka? tentu tidak kawan… jadi mari kita mencari jalan keluar.

Saya percaya dan yakin dan pasrah juga, jika segala sesuatu sudah ada jalannya dan ada alasannya, jika memang sesuatu akan menjadi milik kita maka hal itu akan menjadi milik kita bukan. Saya berusaha untuk santai sesantai mungkin menghadapi semua ini, karena semua ini belum berakhir.

Semua ini belum berakhir….

3 hari menjelang Natal, saya berusaha untuk tidak merusak momen ini dengan pikiran-pikiran tidak berguna, beberapa opsi masih terbuka bagi saya dan tentunya saya sangat berharap bulan depan bisa mendapatkan beberapa titik terang.

Dan… kita akan tahu apa yang akan terjadi kemudian…