Hadiah AL

Hari ini, kami sepakat untuk pergi ke salah satu mall di daerah serpong sana. Selain kami ingin menikmati dim sum di salah satu restorant disana, kami juga ingin membelikan hadiah ulang tahun untuk anak pertama kami yang sempat tertunda cukup lama.

Kami pun memutuskan untuk memberikan keleluasaan kepada anak kami untuk memilih yang berakhir dengan 1 set binatang-binatangan hutan seperti gajah, badak dll, entah kenapa anak pertama kami sangat suka dengan Gajah.

Setelah itu, kami pun mampir ke salah satu gerai penjual es krim yang cukup terkenal, sambil menikmati 1 porsi banana split di out door menikmati cuaca yang sayu-sayu cukup dingin karena sedang hujan lebat, pembicaraan pun mengalir kepada topik akankah kita mencoba pindah ke Australia lagi.

Pembicaraan hangat bersama istri yang diselingi dengan candaan-candaan tentang enaknya hidup disini yang tidak bisa didapatkan di Australia dan renungan-renungan lainnya sore ini, membawa memory kami menari liar kebelakang menggali semua ingatan baik yang indah maupun yang tidak untuk dijadikan beberapa landasan dalam diskusi kami.

Memang, jika dilihat lagi disana kami tidak bisa menjalani hidup seperti yang kami jalani disini, mungkin bukan tidak bisa tapi tidak langsung bisa. Hal itu, membuat kami menimbang dengan sangat dalam saat ini dan jika sampai kami mengambil keputusan untuk mencoba kesana lagi, maka keputusan itu tentunya harus lebih matang dari keputusan kami yang pertama tahun lalu. Setidaknya strategi kami harus lebih baik.

Jujur kami katakan, enak nya ada pembantu pulang hari yang membantu membersihkan rumah saat ini, lalu jasa katering yang membuat istri tidak perlu melakukan akrobat-akrobat untuk tetap menyediakan masakan sambil menjaga kedua bocah, pijatan dari ibu pijat yang biayanya tergolong terjangkau yang bisa dipanggil jika badan pegal-pegal dan jasa laundry kiloan yang memanjakan membuat istri sudah mulai enggan untuk melakukan migrasi karena hal-hal enak seperti ini tidak bisa didapatkan disana dengan harga terjangkau, walaupun enggan bukan berarti tidak mau ya hehehe…

Belum lagi bisnis kue kering yang sedang dirintis oleh istri yang mulai berkembang saat ini, dan dia pun sedang semangat-semangat nya melakukan bisnis ini.

Lalu saya pun bertanya “jika saya mencari pekerjaan dari sini, lalu mendapatkan nya, lalu saya pergi dulu mempersiapkan segala sesuatu setelah itu baru kamu dan anak-anak menyusul, bagaimana?”

“Berapa lama?” tanya istri ku.

“Mungkin 3 bulan, mungkin 6, mungkin lebih”

“Mau ke Melbourne lagi?” tanya istri ku.

“Bisa ke Melbourne, Sidney, atau Brisbane, tergantung mana yang dapat”

Dijawab dengan pandangan teduh yang berkata di antara “saya tidak ingin berpisah lama dengan kamu, tapi saya juga tidak sampai hati menahan impian mu, jawaban apa yang harus saya lontarkan??”

Sebuah tatapan yang menjawab segala nya walaupun tidak tegas ke salah satu sisi.

Saya bisa saja egois dan langsung memutuskan, tapi… itu bukan cara yang baik dalam berkeluarga.

Biarkan waktu yang menjawab…

Advertisements

Opera

Hari ini, tepat 1 tahun yang lalu adalah hari dimana saya baru saja mengirimkan scan passport terbaru saya yang baru diperpanjang ke Imigrasi Australia disana, pengiriman yang saya imbangi dengan doa yang meminta agar perjuangan kami bisa di kabulkan, yang kemudian berakhir dengan terkabul nya doa itu bulan berikut nya, pada tanggal 7 Mei.

Hidup, bagai sebuah opera, terkadang kita dihadapkan pada adegan-adegan yang sedih, kadang pada adegan bahagia, terkadang justru kita dihadapkan pada sebuah harapan yang tercapai yang kemudian kita ditempatkan di persimpangan yang membingungkan yang membuat kita jatuh ke tengah ragu saat dipaksa harus mengambil keputusan terlebih untuk melepaskan harapan yang sudah tercapai itu. Dan tidak jarang kita justru dihempas kedalam adegan misteri yang “mungkin” tidak akan pernah ada jawaban selama nya.

Dunia ini sebuah opera kawan… yang adegan demi adegan nya berubah begitu cepat dan menyampaikan candaan demi candaan yang kadang tidak bisa kita mengerti arti sesungguhnya dibalik itu semua.

Apapun itu, kita hanya butuh sebuah rasa syukur untuk menjaga agar kita bisa tetap waras dan terjaga.

Banyak kawan yang menyayangkan keputusan saya yang sudah mendekati titik dimana saya akan lepas PR saya sekeluarga (walaupun belum tentu terjadi karena saya belum mengatakan jika saya sudah menyerah) setelah begitu gigih nya saya berjuang sampai mendapatkannya. Hidup ini misteri kawan, setidak nya penuh dengan misteri. Jujur, saya pun sangat berat saat memikirkan untuk melepaskan hal itu, bukan hanya karena uang yang sudah saya keluarkan (yang saya kumpulkan sepeser demi sepeser dengan susah payah), bukan juga hanya karena tenaga dan pikiran yang sudah terkuras, tapi juga impianyang sudah saya bangun sedemikian panjang dan mulai saya pikir untuk dilepas karena saya merasa impian tersebut terbangun tidak dengan sebuah fondasi yang kuat dan berada di waktu yang tidak tepat saat itu, mungkin sulit bagi kalian untuk mengerti…

“ahh… itu hanya alibi mu jo, mencari pembenaran saja kamu…”

 

360a80dd68cb1f86086005bc661130d0

 

Ya… apapun itu, mungkin strategi saya yang salah, mungkin langkah saya yang salah, mungkin saya bertemu orang yang salah, mungkin juga saya berada di tempat yang salah bahkan waktu yang salah. Apapun itu, semua terasa salah saat kita menyadari kita sudah salah langkah dan membuat pintu semakin tertutup akibat efek yang terjadi saat kita salah menempatkan langkah kita (walaupun belum skak-mat), karena hal itu membuat semua dana yang sangat terbatas itu sekarang bukan terbatas lagi tapi malah menjadi habis…

1 hal yang pasti, Opera belum selesai…

“Walaupun langit disini tidak sebiru disana, akan tetapi kami memiliki kehidupan dan masa depan yang tidak kalah cerah nya saat memilih untuk tetap berjuang disini”

 

Arti “Masa Depan”

Pagi ini, entah kenapa perut saya memberontak, dari jam 3 pagi sampai sekarang tidak berhenti minta mengeluarkan isi nya, yang menjadi masalah adalah isi yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan membuat perut melilit terus, menyebalkan sekali karena saya jadi harus bolak-balik WC setiap 30-45 menit. Saya ingat-ingat dan ngobrol dengan istri, kira-kira apa yang membuat perut ini tiba-tiba memberontak, setelah diurut-urut ada 2 kemungkinan, kemungkinan pertama adalah saya makan sandwich dengan isi daging mentah di acara yang saya ikuti kemaren, kemungkinan kedua karena saat pulang (karena sudah kalap setelah terperangkap macet parah) saya langsung menyambar cap cay yang ternyata sudah basi, dan saya sadar saat selesai makan, parah ya…

Untuk melupakan rasa melilit di perut yang suka datang dan pergi tanpa diundang ini, saya mencoba menulis dan update blog ini. Ada 1 kalimat yang dikirimkan seseorang kepada istri saya melalui aplikasi WhatsApp, yang tiba-tiba teringat oleh saya saat dulu saya memutuskan untuk pulang ke Tanah Air.

“Too shame your husband choose his pride than his family FUTURE!”

Sekilas saya mencoba untuk mencari tahu apa arti sesungguh nya dari kata tersebut. Future atau dalam bahasa kita diartikan sebagai Masa Depan, adalah sesuatu yang akan dicari oleh setiap insan di dunia selama masih hidup. Sebetulnya kalimat dari salah satu manusia itu cukup menggelitik pikiran saya.

Jujur, saya memang berusaha migrasi ke Australia demi masa depan anak-anak saya (yang sempat saya pikir akan jauh lebih baik daripada tetap berada disini) yang kemudian saya koreksi lagi (dan saya tidak malu untuk mengatakan saya tidak sepenuh nya benar dengan pandangan itu) karena saya akhirnya bisa melihat dengan jelas beberapa hal yang saya rasa kurang sesuai jika diterapkan pada anak-anak saya dari umur dini seperti sekarang, tapi ini menurut saya.

Apa saja hal itu? bagi yang ingin mengetahui nya kita offline saja karena jika tidak halaman blog ini akan menjadi novel, drop email saja jika ingin mengetahui itu (ada di blog ini email saya).

Jadi, bicara mengenai masa depan, saya kemudian mengkoreksi persepsi saya. Masa Depan itu adalah masa dimana kita bisa mencapai impian-impian kita, untuk bisa mencapai impian kita, baik bagi diri sendiri maupun keluarga maupun anak-anak kita, apakah hanya bisa dilakukan di 1 tempat? jawaban nya tidak.

Semua kembali ke apa yang kita kejar, beda tempat akan beda cara. Jika saya berhasil bertahan disana saat itu, maka saya (mungkin) tidak perlu memikirkan tentang pensiun, tentang bagaimana membuat anak saya bisa tetap sekolah bahkan kuliah, tentang bagaimana agar kami bisa memiliki perlindungan saat sakit dsb. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti tidak bisa kita raih saat di Tanah Air, bisa. Hanya saja cara nya berbeda, jika kita hidup di Tanah Air kita harus rajin menabung dan yang paling penting adalah rajin investasi. Kebetulan, saat ini investasi bisa dilakukan dengan nominal yang sangat minimal (menurut saya) yaitu Rp. 100.000,- setiap bulan. Pilihan investasi nya pun beragam, dari yang resiko rendah sampai resiko tinggi (dan tentunya return nya pun mengikuti tingkat resiko nya), dan jangan salah… resiko tinggi itu jika jangka waktu investasi nya pendek (dibawah 5 tahun), jika kita buat investasi tersebut untuk 10 – 15 tahun bahkan 20 tahun, maka resiko nya pun menurun dengan pertumbuhan rata-rata 17 – 19 % pertahun, investasi itu adalah Reksa Dana Saham.

Jadi, masa depan bagi saya bisa dikejar dimana saja, tinggal cara kita dan kemauan kita yang menentukan hal itu kemudian. Hidup di Australia maupun di Indonesia hanya dibedakan 1 hal secara garis besar, yaitu bantuan pemerintah. Sisa nya ? Hampir sama, bahkan untuk beberapa hal lebih enak hidup di Indonesia. Tapi di Indonesia khususnya Jakarta kan macet bro? Yup… itu benar, dan jangan berfikir jika disana tidak macet ya. Seperti yang pernah saya tuliskan di artikel sebelumnya, perbedaan macet nya hanya 1 yaitu disana macet karena tertib disini sebaliknya.

Tapi kan disana ada bantuan kesehatan. Betul, tapi jangan mengira enak ya jika sakit, disana selama tidak mengancam nyawa secara langsung, maka silahkan antri. Contoh, jika kalian kena Hernia, karena tidak mengancam nyawa secara langsung maka kalian akan diberi pain killer sampai antrian kalian sampai baru di operasi. Contoh lainnya, misalnya kalian patah tulang di kaki maupun tangan, jangan harap langsung di operasi jika sedang ada antrian, kalian hanya akan diberi pain killer sampai kesempatan kalian tiba. Lalu bagaimana agar bisa cepat ditangani? Asuransi kesehatan. Ya, disana bukan berarti kalian tidak butuh asuransi kesehatan, tetap butuh jika ingin hidup kalian lebih nyaman, atau siapkan dana tidak sedikit jika tidak mau antri dan tidak punya asuransi pribadi. Untuk menyiapkan dana sendiri, disini maupun disana, podo wae… Dannn… 1 lagi, tidak 100% gratis untuk obat-obatan nya, banyak obat yang kita harus bayar juga, dan tidak murah (untuk ukuran saya) hehehe….

Jadi, lu masih mau kesana ga mengejar masa depan? Hehehe… sekali lagi itu belum ada jawabannya, yang pasti 1, saya akan mulai mengejar masa depan saya dimana pun saya berada. Untuk urusan akan kesana lagi atau tidak, saya serahkan kepada yang di atas, Dia yang maha tahu apa yang terbaik untuk saya dan keluarga.

Loh kenapa? karena saya sekarang sudah tidak melihat jika disana memiliki kelebihan yang benar-benar significant jika dibandingkan disini. Untuk beberapa hal iya, tapi tidak massive.

Dan ini pendapat saya saat ini, apakah mungkin kedepan nya pendapat saya berubah dan bisa melihat nya lagi dengan sudut pandang berbeda, saya tidak tahu. Saya hanya bisa berusaha, dan tentunya jika kalian selalu mendapatkan sharing yang bagus-bagus mengenai kehidupan disana, saya justru akan melakukan yang sebaliknya, saya akan mengupas apa saja yang kurang bagus disana (menurut saya) agar kalian bisa memiliki 2 sisi pandangan saat akan memutuskan migrasi.

Perasaan ini…

Hari ini, entahlah… tiba-tiba ada sebuah perasaan yang berkecamuk didalam dada.

Berada di ambang antara dua sisi yang berbeda, yang membuat hati benar-benar bimbang. Yang kemudian membawa titik ini kepada satu tahapan untuk memilah mana yang baik mana yang buruk, mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk, yang ternyata berakhir pada tidak ada satu yang lebih buruk dari yang lainnya, begitu pun sebaliknya.

Yang ada kemudian adalah, apa keinginan yang ada sebenarnya, apa yang dicari, apa yang ingin dicapai.

Sebuah pengakuan itu sederhana akan tetapi terasa penting. Sebuah hal yang bisa membuat sebuah insan memacu diri sampai ke maksimal, ya… permainan perasaan memang paling menyebalkan dan memusingkan.

Bersyukur itu ternyata lebih dari sebuah nilai “penting”, karena hal itulah yang membuat seseorang bisa tetap berada di jalur nya, dan tetap bisa memandang kedepan dengan optimis.

Apakah pada akhirnya semua ini bisa memberikan sebuah jawaban yang memiliki arti, entahlah… sampai saat ini pun rabaan tetap berjalan dan sebuah kebimbangan tetap memegang peran.

Jadi bingung kan baca nya…

FB_IMG_1453729090351