Ikhlas

Jumat lalu genap saya bulanan di tempat kerja baru, sebulan yang rada aneh menurut saya karena ada beberapa hal kurang biasa yang belum pernah saya alami baik kerja di Indonesia maupun di Australia. Apapun itu, sebulan pun berhasil saya lalui dengan sedikit “cigukan”, dan… masih berusaha membiasakan diri dengan budaya di tempat baru ini yang karyawan nya berjumlah lebih dari sepuluh ribu kepala.

3 minggu kerja saya, tiba-tiba ada kabar jika manager payroll and benefits meninggal secara mendadak karena serangan jantung, dada saya rasa nya pengen copot karena baru beberapa hari sebelumnya kami baru saja diskusi mengenai superannuation dan benefit bagi karyawan yang bekerja di organisasi ini. Saat itu, sesaat mendengarkan kabar duka yang datang tidak terduga itu, saya merasa sangat tidak nyaman, entah kenapa saya merasa benar-benar kawatir. Kawatir jika hal itu terjadi pada diri saya, mungkin… pengalaman ditinggal papa dulu membuat luka batin saya kembali terusik saat mendengar kabar itu.

Menjelang sore, saya menyendiri di pantry (yang besarnya lebih dari unit yang saya sewa), saya duduk di pojok sambil menikmati secangkir teh hangat saya merenung. Saya merenung kenapa saya merasa begitu tidak nyaman dan kawatir. Di satu titik akhirnya saya mendapatkan jawaban nya, saya belum bisa ikhlas.

Belum bisa ikhlas untuk banyak hal, baik kepergian Papa maupun sesuatu yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.

Ikhlas, ilmu yang sangat sulit dipelajari apalagi diterapkan, ilmu mengenai menerima dan melepaskan, ilmu meletakan Iman diatas segalanya, ilmu berani menyangkal diri sendiri.

Ikhlas, sebuah ilmu yang harus terus dilatih dan dipelajari seumur hidup kita. Ilmu tentang tidak menuntut balik apa yang kita perbuat bagi orang lain. Ilmu yang membuat kita tidak akan merasa sakit hati karena masih menuntut timbal balik atas apa yang kita lakukan bagi orang lain.

Saya… masih harus banyak belajar, bagaimana menerapkan ilmu ini dalam kehidupan, walaupun saya sudah belajar mengikhlaskan beberapa hal, yang dimulai dari hal kecil, ternyata tetap tidak membuat langkah saya menjadi lebih mudah dan ringan, karena ego saya masih dominan dan sisi manusia saya masih terlalu berperan.

Advertisements

Dan Yeahh…

Akhirnya, kontrak itu pun dikirim dan diterima.

Masih ingat beberapa waktu lalu saya update sesuatu tentang kegalauan saya karena melepas satu kesempatan dalam pekerjaan yang menurut saya bagus? ternyata inilah jawabannya.

Kita, sebagai manusia sering kali merasa lebih mengerti dari Tuhan terlebih jika berurusan dengan diri kita sendiri. Lah wong saya lebih ngerti kebutuhan saya kan…. iya ga?? tidak ada yang salah sih dengan hal itu, tapi sesungguhnya pengalaman yang saya alami justru sering kali mengajarkan kepada saya jika apa yang saya pikir baik dan cocok itu belum tentu baik, apalagi yang terbaik.

Kejadian yang ini salah satu contohnya. Setelah bergalau ria karena terpaksa melepas satu kesempatan emas demi tanah yang kami beli 2 tahun lalu yang sedang masuk ke tahap serah terima karena akan beresiko terhadap aplikasi pinjaman kami ke Bank, ternyata tidak sampai satu bulan Tuhan memberikan sebuah jawaban yang mendekati sempurna, ahh… indah nya…

Saya mendapatkan kesempatan lain setelah itu, di organisasi non-profit yang artinya gaji tidak kena pajak lebih besar dari organisasi profit yang ujung-ujung nya bermuara pada uang yang dibawa pulang tentu lebih besar, lalu lokasi yang dekat dengan stasiun kereta dan tram stop kurang lebih 10 meter, mengingat jika kami pindah ke barat sana tentu mempermudah dibandingkan tempat sebelumnya yang saya drop karena yang terdekat dengan kantornya hanya ada halte bus, dan itu pun termasuk jauh, belum lagi bus yang suka PHP in orang kalau disini, belum lagi jarak yang sekarang ini hampir setengah lebih dekat dari yang saya tolak dulu yang artinya kalau saya bawa mobil waktu dan jarak tempuh langsung berkurang setengah hahaha… apalagi kalau pakai public transport lebih berasa lagi lebih dekatnya. Lalu bekerjanya di end-user yang artinya saya tetap bisa mempensiunkan sertifikasi saya dan mulai menggunakan waktu yang ada untuk belajar hal lain, dan di tempat ini juga mengaplikasikan cloud computing yang mana juga mendukung rencana upgrade skill saya. Nah… ada lagi nih yang indahnya, pekerjaan ini permanent on going, jadi ga ada batas waktunya sampai antara saya pensiun, diberhentikan atau resign. Sudah begitu, gaji yang saya minta ternyata di upgrade sama mereka hahaha… kurang nikmat apalagi coba?

Saya terus terang saat menerima kontrak kerja mereka, sempat berpikir dan merenung mengenai apa yang sudah terjadi sebelumnya. Semakin saya merenung saya semakin bergidik karena Dia ternyata lebih tahu apa yang cocok dan bagus bagi saya, terutama untuk keadaan sekarang dan akan datang.

Luar biasa bukan? itulah kenapa saya sering merasa malu karena iman saya ternyata masih tipis dan rapuh sehingga mudah terkoyak oleh rasa superior ego-manusia saya. Sekarang saya sudah masuk masa resign dari tempat saat ini, tinggal seminggu lagi, lalu libur dulu kurang lebih seminggu, dan mulai ditempat baru yang semoga bisa awet sampai lama karena saya sudah cape sebenarnya pindah-pindah terus seperti kucing beranak.

Satu hal yang pasti, Dia paling mengetahui apa yang paling pas buat kita dan kapan saat yang tepat untuk hal itu terjadi atas kehidupan kita.

Kakak ku

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya mengantar jenazah Kakak saya dari Jakarta ke Tegal.

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya menemani tubuh kakak ku yang telah terbujur kaku di rumah duka cembengan di Tegal, dengan semua letih lesu yang sudah tidak bisa kurasakan lagi, selain rasa kehilangan yang amat sangat karena dia salah satu panutan ku dalam hidup, ternyata telah berpulang lebih cepat dari yang ku duga.

Yohanes Karyono Djais, itulah nama kakak ku, nama yang tidak akan pernah saya lupa dalam sisa hidup ku, karena begitu banyak kenangan yang ada dalam pikiran ku.

Berbaring diatas rumput ditepi pantai di Tegal saat liburan tiba adalah salah satu kegiatan yang sering kami lakukan saat dia pulang ke Tegal, sembari berbaring, sering kali kami berkhayal tentang masa depan yang ingin kami capai dan banyak hal lainnya sembari menikmati mentari yang pelan tapi pasti turun ke peraduan nya yang setelahnya kami baru beranjak pulang.

Hemmm… masih hangat tersimpan dibenak ku, kesukaan dia saat mencium aroma padi dari sawah di tepi kanan dan kiri jalan dua antara Tegal – Banjaran, yang sering kami lewatin saat malam karena saya tahu dia suka menikmati aroma itu yang menurut dia tidak bisa ditemui di Jakarta.

Pondok sate ayam di pokanjari Tegal, lesehan pisang bakar di alun-alun Tegal (yang entah masih ada tidak sekarang) dan warung soto Pak Madi saat masih di jalan teri Tegal menjadi tempat kenangan yang tidak akan pernah hilang dari benak saya saat mengenang dia.

Belum sawah-sawah di dekat perumahan Nanas yang saya yakin saat ini sudah tergusur oleh bangunan baru, juga menjadi kenangan lain karena kami dulu sering memancing belut sawah yang kemudian kami bakar di kebun-kebun dekat sana dengan perapian seadanya, menyantap belut bakar (yang sudah pasti dianggap masih kotor oleh kalian yang tinggal dikota) sambil bercengkerama tentang cita-cita yang ingin kami kejar kelak. Ahhh… indah nya saat-saat itu… tidak lupa motor yamaha F1ZR yang selalu setia menemani kami kemana saja.

Apa kabar Kak? Doa ku selalu dan akan selalu bersama mu Kak, damai lah disana Kak, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, salah satu impian yang pernah saya katakan dulu sudah berhasil saya raih, nanti ya saya ceritakan saat kita sudah bersua, dan seperti biasa… kita bisa memilih sambil berbaring diatas rumput sambil memandang jauh ke arah cakrawala melewati gulungan ombak yang tiada hentinya mendebur tepi pantai, seperti yang sering kita lakukan dulu, atau… sembari menghirup kopi kapal api kesukaan kita sembari menyantap pisang bakar coklat hahaha… what a great memory Kak.

Salam untuk Papa ya….

Sukses?

Oii… wah… sudah sukses ya lu sekarang!

Well, kalimat itu sering saya jumpai jika sedang terlibat chat “seru” dengan beberapa handai taulan.

Ga aneh sebenarnya, karena typical manusia yang sering kali melihat sebuah kesuksesan itu hanya dari kacamata yang ingin mereka lihat (termasuk saya hahaha…)

Apa sih sebenarnya ukuran sebuah kesuksesan?

Nah, ini adalah pertanyaan yang sulit sekali dijawab atau dicari jawabannya. Kenapa? karena ukuran sukses setiap orang itu beda-beda bro… ada yang menganggap kalau punya bisnis besar itu bisa disebut sukses, ada yang menganggap kalau anaknya bisa lulus dari Harvard adalah sukses, ada juga yang sekadar bisa beramal itu sudah sukses.

Jadi, apa itu sukses sebenarnya?

Oke, jika menurut saya, sukses adalah saat kamu berani keluar dari zona nyaman dan mengejar impian kamu dan kamu berhasil meraih nya. Nah, itu sukses menurut saya.

Hasilnya? bisa macam-macam, tergantung apa yang jadi ukuran impian kamu? materi kah, kualitas hidup kah (ini saja masih banyak cabang nya hahaha…), atau yang lain kah.

Jadi lu sudah mencapai impian?

Mencapai impian? hemm… ini sudah dijawab, jika dibilang sudah atau belum, jawabannya ya pasti sudah, toh impian saya banyak walaupun saya kere ya hahaha… tapi kalau dibilang sudah tercapai semua, ya belum sih… karena ga nyeni banget kalau sudah tercapai semua, trus sisa hidup nya buat apa donk? jalanin saja gitu? waduh… saya cepat bosan kalau harus begitu, jadi saya sering bikin impian baru (halah…. sombong nya keluar… hahaha….), eh tapi bener… impian kan ga perlu wah… seperti misalnya pengen bangun menara eipel…. halah…. cukup bisa menjaga kehidupan cinta kamu se-romantis menara eipel itu sudah lebih dari cukup hahaha… walaupun itu ga mudah…

Atau, belajarlah bersyukur, bersyukur masih sehat, nah…. itu penting loh… karena kesehatan ga bisa dibeli pakai apapun! tapi bisa kita jaga. Dan…. lebih jauh lagi jangan lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, karena pada dasar nya bukan kuantitas yang kita miliki yang membuat kita bahagia tapi kuantitas bersyukur kita yang bikin kita bahagia kan.

Eh… bener ga sih nulis kuantitas nya???

Ah… sudahlah, syukuri saja masih bisa nge-blog walaupun dilakukan mendekati jam 1 malam hahaha….

Yuk kita tidur….