Berani ambil resiko?

“Enak ya… lu bisa hidup di luar negeri… pengen deh seperti lu”

Semenjak pindah dan menetap di Melbourne, saya kerap kali mendapatkan komentar seperti diatas dari mereka yang menghubungi saya baik keluarga, kawan maupun yang baru kenal. Tidak ada yang salah sih… dengan kalimat itu, hanya saja apakah mereka mengetahui semua hal yang terjadi dibalik “enak karena bisa tinggal di luar negeri” itu sendiri? Dan apakah mereka bisa menerima semua hal yang harus dikompromikan saat kita sudah memutuskan untuk pindah dan menetap di Negara lain? Dan lebih jauh lagi apakah mereka sadar dan tahu apa itu arti menjadi seorang perantau? untuk sampai ke titik dimana mereka lihat dan anggap “enak” itu tadi yang pada dasarnya tentu saja sangat relatif seperti saat mereka melihat kami disini.

Jalan yang kami tempuh ini, terlebih karena kami bukan berasal dari keluarga dengan latar belakang berlimpah yang siap mendukung dan menampung jika terjadi sesuatu dalam setiap langkah perjalanan kami atas apa yang kami putuskan, membuat apa yang kami lakukan ini benar-benar penuh dengan resiko dan banyak sekali kompromi yang harus kami terima dengan pilihan yang benar-benar sangat terbatas, hal itulah yang kemudian membuat kami mengambil jalan ini dengan modal nekat, nekat untuk sesuatu yang kami percaya bisa lebih baik bagi kami sekeluarga. Hidup di luar negeri itu, terutama di Melbourne, Australia itu memang enak, saya tidak membantah hal itu, tapi… ada banyak cerita yang (mungkin) tidak enak buat kalian untuk sesuatu yang dianggap enak itu tadi. Terutama jika kalian berada di posisi seperti kami ya.

Pernah juga ada yang nyeplos ke saya dengan kalimat “lu mah dah enak lah… gaji lu aja dah berapa disana”, haduh…. haduh… hidup di luar negeri itu, tidak semata-mata hanya karena mengenai materi, gaji lebih besar memang tidak akan saya bantah walaupun living cost disini untuk beberapa pos juga tidak murah ya terutama untuk sewa rumah, bayar air, listrik, bensin, dan beberapa hal lainnya yang tidak bisa saya jabarkan satu persatu dan tentunya sangat bisa dikurangi atau diakali agar bisa lebih hemat dengan mengubah gaya hidup. Tapi balik lagi ke point utama tadi jika jangan menilai hidup dan bekerja di luar negeri itu hanya dari segi materi, walaupun benar disini kita tidak perlu menjadi orang kaya baru bisa menikmati hidup layak, walaupun kembali lagi seperti “enak” itu sendiri, hidup layak itu sendiri pun tentu saja juga sangat relatif. Banyak hal yang tidak bisa diukur dengan materi disini yang tidak bisa kita dapatkan di Jakarta (menurut saya), karena entah kenapa saya percaya jika hanya ukuran materi di Jakarta pun kita masih ada kesempatan untuk mendapatkan nilai segitu. Hal-hal seperti kualitas hidup, waktu bersama keluarga, udara yang bersih, air yang layak pakai (sampai bisa diminum langsung dari keran), keamanan yang lebih terjamin, tertib, ketenangan, situasi politik yang juga lebih stabil, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas yang tidak hanya menjadi milik mereka yang berkecukupan, dan masih banyak lagi hal lainnya justru adalah barang mewah yang sulit kami dapatkan saat hidup di Jakarta dan bisa kami dapatkan disini setiap hari. Dan hal itulah yang kemudian mengubah salah satu cara pandang saya mengenai sebuah pencapaian dalam kehidupan yang tidak semata-mata hanya diukur dari segi materi saja, karena masih banyak yang lebih berharga dari materi itu sendiri. Memnag betul hidup membutuhkan uang, tapi uang bukan segalanya agar kita benar-benar bisa menjalani kehidupan kita.

Disamping itu, hidup diluar negeri juga secara tidak langsung membuat wawasan kita menjadi lebih terbuka karena mau tidak mau kita harus berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan negara yang berbeda-beda juga. Apalagi di kota seperti Melbourne yang sudah dikenal sebagai meeting point hampir seluruh ras/ bangsa dari seluruh dunia. Hal itu, secara tidak langsung pun mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan itu sendiri dan tentunya mengubah cara saya menjalani kehidupan itu sendiri pula. Hal seperti ini, yang tentunya (saya percaya) tidak mungkin bisa kita dapatkan jika kita tidak beranjak dari tempat kita dan mencoba merantau atau minimal mencoba mengunjungi tempat-tempat yang berbeda dan berinteraksi dengan berbagai masyarakat dari belahan dunia lainnya selain pengalaman hidup yang pernah kita lalui dalam kehidupan kita.

Perjalanan kami dalam mengejar impian kami di Australia ini tidak terjadi begitu saja karena seperti yang saya bilang diatas tadi, banyak sekali kompromi yang harus kami terima dalam prosesnya yang akan saya coba kupas sedikit disini walaupun tidak semuanya karena akan menjadi buku kalau saya tuliskan semuanya.

Kompromi pertama yang harus kami terima adalah, melakukan segala sesuatu/ semua sendiri. Semenjak kami sudah sepakat untuk mengejar impian kami hidup di negara maju seperti Australia, saat itu juga kami belajar melakukan semuanya sendiri. Saya salut sama istri saya, dia mau belajar mengurus anak dan rumah tanpa bantuan baby sitter dan pembantu, dan mau belajar masak karena membayangkan kami akan sangat membutuhkan hal itu di masa-masa awal (yang bahkan bisa selamanya yang puji Tuhan ternyata tidak benar-benar terjadi karena saat ini kami cukup berkecukupan untuk bisa makan diluar sekeluarga sekali-sekali sambil menikmati ketenangan kota cantik ini) saat berhasil pindah nanti untuk menghemat pengeluaran karena makan di luar tentu butuh biaya lebih dan yang namanya punya pembantu atau baby sitter jauh dari jangkauan kami karena mahal sekali untuk negara maju seperti Australia, jadi kalau kalian ga mampu handle semua sendiri entah karena males atau memang ga kredibel ya lebih baik jangan jauh-jauh dari Indonesia karena kemewahan itu sulit kalian dapatkan disini. Kompromi hal seperti ini tidak mudah loh… ga percaya? coba tes sendiri… terutama untuk istri ya, ngurus rumah masih bisa istirahat sebentar, tapi ngurus 2 anak sendiri itu cerita lain. Hal ini sudah kami lakukan jauh hari sebelum kami berhasil mendapatkan visa Permanent Resident kami, yang artinya kami sudah berusaha menyiapkan diri sedini mungkin agar tidak kaget saat sudah bisa migrasi ke Australia walaupun visa kami masih dalam impian dan tidak ada jaminan akan kami dapatkan, yang tentunya kompromi pertama ini tidak akan berhasil bagi orang yang malas dan terlalu banyak alasan (ga usah merah kupingnya hehehe…).

Kompromi kedua yang harus kami lakukan adalah, jauh dari keluarga. Ini serius, tidak semua orang mampu melakukan hal ini karena ini adalah salah satu hal terberat yang harus kalian hadapi walaupun kalian sering perang puputan selama bersama disana. Kami di Australia bisa dibilang hampir sendirian (jika tidak menghitung segelintir kawan di awal kepindahan kami, 1 keluarga saudara jauh dan komunitas yang kami ikuti). Yang artinya, kami harus siap bahu membahu dan kerjasama menghadapi segala macam tantangan didepan kami yang entah apa dan bagaiman, dengan tetap berusaha untuk saling mengerti, mengalah, membantu, mau mengatur strategi bersama, dan banyak hal lainnya agar anak-anak dan rumah tetap bisa terurus tanpa ada bantuan siapapun terlebih saat salah satu dari kami sakit atau harus kerja atau sedang ada masalah atau lainnya, menjadi team yang solid adalah sebuah syarat mutlak dan keharusan bersama pasangan kita agar kita tidak menjadi gila. Hal seperti ini yang di Jakarta bisa diakali dengan memiliki baby sitter, pembantu bahkan handai taulan yang bisa diminta datang membantu jika kita sedang sakit atau sibuk dengan hal lainnya, menjadi hal yang sangat mahal disini. Tapi dibalik semua itu, kemampuan untuk mengatasi “kesendirian” ini pelan tapi pasti dan tanpa kami sadari sudah mengasah kemampuan, daya tahan dan daya juang kami juga yang sebetulnya sangat berguna untuk menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Kompromi ketiga yang harus kami lakukan adalah, memulai segalanya dari awal lagi. Kepindahan kami ke Australia membuat kami harus mau menerima jika kami mundur ke 10 tahun yang lalu (mungkin tidak benar-benar 10 tahun ya, tapi kami tetap harus membangun segala sesuatunya dari awal lagi) dan meninggalkan semua kenyamanan yang sudah kami bangun dan raih selama di Jakarta. Sulitkah hal itu? bukan sulit lagi… tapi perihh… perjuangan kami membangun kembali apa yang sudah ada selama 10 tahun untuk saat ini tidak semudah kami memulai 10 tahun lalu walaupun waktu yang dibutuhkan mungkin tidak sampai 10 tahun kemudian. Tapi prosesnya itu sangat-sangat tidak mudah, apalagi yang harus kami ulang tidak semata-mata kehidupan yang kami jalani tapi juga disisi pekerjaan yang harus saya hadapi dimulai dari beratnya menembus dunia kerja IT disini sampai mendapatkan pengakuan jika saya ini mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Walaupun kompromi untuk hal yang satu ini sudah mulai stabil tapi pada awal prosesnya sukses membuat saya mengalami culture shock parah diawal kepindahan kami kesini dan membuat saya hampir menyerah.

Kompromi keempat yang harus kami lakukan adalah, belajar beradaptasi (lagi) dengan semua hal baru. Kompromi yang satu ini mungkin yang paling menyenangkan bagi kami, menghadapi hal-hal baru dan menantang juga membuat penasaran membuat kami menjelajahi satu-per-satu kebiasaan yang ada disini dan berusaha mengerti dan menyaring mana yang memang baik bagi kami dan mana yang bisa kami hindari atau akali karena kurang sesuai. Hal ini juga sukses mengubah cara kami menjalani hidup, menghadapi hidup dan memandang kehidupan itu sendiri. Itulah kenapa jika ada yang bilang kami sekarang berubah, ya tentu saja itu terjadi, karena kami harus beradaptasi dengan apa yang kami hadapi disini agar bisa bertahan. Walaupun hal ini adalah salah satu kompromi yang menyenangkan, bukan berarti tidak ada yang kami tidak suka tapi tetap harus belajar untuk menerima. Contohnya cara anak-anak di didik agar mandiri dan kritis disini, kami suka dengan kurikulum dan cara sekolah disini mendidik anak-anak dalam hal edukasi formal, tapi tentunya kita tidak bisa memilah mana yang kita ingin mana yang tidak donk… disamping cara mendidik yang kami suka terselip juga efek samping yang kurang cocok bagi kami tapi kami harus belajar dewasa karena sudah ingin membesarkan anak disini. Contohnya tentang diajar untuk kritis itu tadi, disini anak kami yang berusia 3 tahun saja sudah bisa nego dengan kami loh… untuk hal yang dia inginkan, dan kadang apa yang kami minta agar dia lakukan dicuekin sama dia karena dianggap ga make sense yang membuat kami harus mengubah strategi kami jika sedang menjelaskan sesuatu kepada dia. Hal yang jika di Jakarta sana tinggal ambil sabetan disini tidak bisa benar-benar diterapkan, masih bisa sih… asal ga ketahuan ya… karena konsekuensinya panjang dan rumit jika tertangkap kita main fisik ke anak kecil, bisa masuk ke ranah child abuse.

Kompromi kelima yang harus kami lakukan adalah, berdamai dengan cuaca. Seriusan disini cuaca nya itu naik turun dan berubah-ubah ga karuan sampai lekat dengan sebutan kota dengan 4 musim sehari. Untuk badan tropis seperti kami yang besar disana, tantangan yang satu ini cukup menohok dan meluluh lantakan badan kami (biar hiperbola dikit hahaha….) di awal kami tinggal disini. Belum lagi saat itu kami belum memiliki mobil dan harus jalan kaki plus public transport kemana-mana. Pernah satu kali kami salah kostum karena menggunakan jaket musim dingin, ternyata setelah keluar rumah matahari bersinar ngeledek dari atas dan sukses membuat kami merasa konyol dan kepanasan dengan yang kami kenakan, beruntung disini ga suka nyinyir seperti disana jadi ga ada yang peduli juga. Lalu yang lebih konyol lagi adalah tiba-tiba beberapa jam kemudian udara berubah dingin dan hujan guede pake buanget. Kami untungnya membawa payung tapi ya apa mau dikata ya… istilah kalau bukan payung Melbourne ga akan bisa menahan angin di kota ini terbukti benar dan sukses menghancurkan kedua payung yang kami bawa dari Jakarta. Kami saat itu sampai berteduh di pagar tembok salah satu rumah sambil berusaha mempertahankan payung sebisanya agar anak-anak tidak basah karena kehujanan, kebayang donk kena air hujan klebes ditengah suhu yang tiba-tiba bertengger di 12 derajat dengan imutnya dari suhu 34 derajat secara tiba-tiba tanpa rasa bersalah dan rumah masih sejauh 20 menit jalan kaki. Tinggal di negara 4 musim itu tidak seindah bayangan kita yang sedang menjadi turis, yang lucunya selama saya menjadi turis ke negara 4 musim dan pada musim dingin justru malah ga betah dan mau cepet-cepet balik ke Jakarta, eh… sekarang malah tinggal di negara 4 musim.

Kompromi keenam yang harus kami lakukan adalah, mau berdarah-darah dulu. Ini kompromi paling menyebalkan buat saya kalau mau jujur kacang ijo yang paling ijo. Gimana ga coba, salah satunya adalah dari yang dulu di Jakarta kemana-mana pakai mobil, mau belanja tinggal belanja dan tinggal di angkut pakai mobil. Nah begitu sampai sini kan dana terbatas ya, rumah juga di isi seadanya boro-boro punya mobil, hal yang paling “menyenangkan” adalah saat kami belanja kebutuhan rumah tangga. Sudah kami pakai public transport, jalan kaki, sambil gendong si kecil karena saat itu anak kedua kami belum genap 2 tahun, anak yang paling besar juga belum terbiasa jalan jauh, belanjaan banyak karena kami mau menghemat biaya transport yang bagi kami masih mahal saat itu, sukses membuat punggung kami berdua bonyok pegal-pegal karena sambil gendong anak, nenteng belanjaan yang bisa 1 koper gede plus jalan kaki dan naik turun public transport, dan itu berlangsung cukup lama loh… kalau ga gimana cara istri bisa masak dan saya bisa makan sampe naek 10 kilo hehehe…. nah…. enak kan tuh prosesnya… bahkan saat ini saja setiap saya membayangkan apa yang sudah kami lalui di awal kepindahan kami kesini masih suka merasa ngilu gimana gitu ini punggung. Kami bukannya mau manja ya, tapi apa yang kami lalui itu sempat kami remehkan sebelumnya saat di Jakarta (yang dengan semangat 45 berkata kepada diri sendiri – Pasti bisa!!!) ternyata setelah sampai disini dan kami benar-benar menjalaninya baru kami sadar kalau kami itu sangat kurang olah raga alias hidup terlalu nyaman selama di Jakarta (makanya jadi manusia jangan kepedean – kalau kata orang bener). Selain itu, kami juga datang kesini tidak dengan segala sesuatu sudah tersedia seperti kebanyakan orang yang sudah ada tempat tinggal nyaman beserta isinya, atau minimal punya dana cukup yang bisa dipakai untuk membuat hidup lebih nyaman. Tidak loh… kami datang dengan dukungan dana pas-pas-an (bukan pas mau belanja pas ada duit ye…) sampai mau beli sofa saja kami mikir dua tiga kali. Awal-awal kami disini rumah yang kami tempati hanya ada kasur queen dua buah, meja makan dan 4 kursi, 1 vacum cleaner, plus kulkas dan 4 koper baju plus sprei seadanya yang kami bawa dari Jakarta, dah itu saja karena kami harus menjaga dana cash yang tidak seberapa itu untuk hal-hal tidak terduga yang membutuhkan dana segar dengan segera, contohnya butuh beli obat turun panas untuk anak. Ga mahal juga sih obat nya, tapi kalau duitnya mepet ga mahal juga bikin deg-deg-an. Dan semua hal ini hanya sebagian kecil dari proses berdarah-darah itu tadi yang tidak bisa saya jabarkan satu per-satu disini.

Keadaan kami di awal kepindahan kami kesini benar-benar bagaikan bumi dan puncak gunung himalaya, kenapa bukan langit karena tidak 180 derajat berbeda tapi cukup berbeda sampai membuat kami benar-benar harus ber-perih-perih dahulu. Separah itukah keadaan kami saat itu? yup… itu kenapa we ran through a hard time. Lalu kenapa masih mau melakukannya? karena kami tidak ingin menyerah pada keadaan dan merelakan impian kami terbang yang hasilnya kemudian membuat kami (terutama saya) dibilang orang gila dan nekat oleh hampir semua kawan yang mengetahui langkah yang saya ambil ini. Entah kenapa saat itu, yang ada dipikiran saya hanya satu, Tuhan tidak akan meninggalkan kami. Disamping itu, saya juga tidak mau menyesal di kemudian hari, seperti yang pernah saya katakan kepada istri saya “berhasil atau gagal urusan nanti, yang penting kita coba dulu agar nanti saya ga mati penasaran”, bikin was-was juga sih kalau sampai gagal kami bakalan jatuh lebih dalam lagi karena 2 kali gagal migrasi, dan hal itu juga yang membuat kami berusaha bertahan dan maju terus sebisanya, stress ga? pakai banget hahaha… Cape ga? tentunya walaupun exciting juga ya…

Semua cerita diatas hanya mengenai beberapa kompromi yang harus kami hadapi dan terima, belum termasuk cerita jatuh bangunnya saya saat mengejar visa itu sendiri yang juga menjadi salah satu cerita menarik dalam kehidupan saya karena semua proses itu pun sama tidak mudahnya. Saya selama proses mengejar visa sendiri saat itu sebetulnya hampir menyerah, walaupun pada akhirnya saya berusaha bangkit lagi dan melangkah lagi karena penasaran dengan impian yang ingin saya kejar ini, bandel ya saya hahaha…

Lalu apakah saya menyesal sekarang? absolutely not, apa yang kami capai dan jalani sampai saat ini, pada akhirnya benar-benar setimpal bahkan lebih dari yang kami inginkan dan bayangkan. Kami benar-benar bersyukur diberi jalan ini walaupun harus berdarah-darah dan terseok-seok saat memulai karena jalan ini jika dilihat dari latar belakang ekonomi kami memang tidak gampang dan penuh dengan duri ya… tapi apa yang kami dapatkan benar-benar menjawab semua perih dan tantangan yang kami lalui dulu.

Percayalah cerita seperti ini tidak akan (sulit) kalian temukan di cerita orang lain karena pada umumnya mereka hanya membagikan hal-hal menyenangkan saja. Kenapa saya berani menuliskan semua pengalaman saya ini karena saya ingin kalian (terutama yang hanya melihat bagian enak nya saja) tahu jika proses yang saya lalui itu ga mulus seperti paha kambing. Jadi, terlepas dari latar belakang ekonomi kalian, masih berani untuk migrasi?

Ikhlas

Jumat lalu genap saya bulanan di tempat kerja baru, sebulan yang rada aneh menurut saya karena ada beberapa hal kurang biasa yang belum pernah saya alami baik kerja di Indonesia maupun di Australia. Apapun itu, sebulan pun berhasil saya lalui dengan sedikit “cigukan”, dan… masih berusaha membiasakan diri dengan budaya di tempat baru ini yang karyawan nya berjumlah lebih dari sepuluh ribu kepala.

3 minggu kerja saya, tiba-tiba ada kabar jika manager payroll and benefits meninggal secara mendadak karena serangan jantung, dada saya rasa nya pengen copot karena baru beberapa hari sebelumnya kami baru saja diskusi mengenai superannuation dan benefit bagi karyawan yang bekerja di organisasi ini. Saat itu, sesaat mendengarkan kabar duka yang datang tidak terduga itu, saya merasa sangat tidak nyaman, entah kenapa saya merasa benar-benar kawatir. Kawatir jika hal itu terjadi pada diri saya, mungkin… pengalaman ditinggal papa dulu membuat luka batin saya kembali terusik saat mendengar kabar itu.

Menjelang sore, saya menyendiri di pantry (yang besarnya lebih dari unit yang saya sewa), saya duduk di pojok sambil menikmati secangkir teh hangat saya merenung. Saya merenung kenapa saya merasa begitu tidak nyaman dan kawatir. Di satu titik akhirnya saya mendapatkan jawaban nya, saya belum bisa ikhlas.

Belum bisa ikhlas untuk banyak hal, baik kepergian Papa maupun sesuatu yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.

Ikhlas, ilmu yang sangat sulit dipelajari apalagi diterapkan, ilmu mengenai menerima dan melepaskan, ilmu meletakan Iman diatas segalanya, ilmu berani menyangkal diri sendiri.

Ikhlas, sebuah ilmu yang harus terus dilatih dan dipelajari seumur hidup kita. Ilmu tentang tidak menuntut balik apa yang kita perbuat bagi orang lain. Ilmu yang membuat kita tidak akan merasa sakit hati karena masih menuntut timbal balik atas apa yang kita lakukan bagi orang lain.

Saya… masih harus banyak belajar, bagaimana menerapkan ilmu ini dalam kehidupan, walaupun saya sudah belajar mengikhlaskan beberapa hal, yang dimulai dari hal kecil, ternyata tetap tidak membuat langkah saya menjadi lebih mudah dan ringan, karena ego saya masih dominan dan sisi manusia saya masih terlalu berperan.

Dan Yeahh…

Akhirnya, kontrak itu pun dikirim dan diterima.

Masih ingat beberapa waktu lalu saya update sesuatu tentang kegalauan saya karena melepas satu kesempatan dalam pekerjaan yang menurut saya bagus? ternyata inilah jawabannya.

Kita, sebagai manusia sering kali merasa lebih mengerti dari Tuhan terlebih jika berurusan dengan diri kita sendiri. Lah wong saya lebih ngerti kebutuhan saya kan…. iya ga?? tidak ada yang salah sih dengan hal itu, tapi sesungguhnya pengalaman yang saya alami justru sering kali mengajarkan kepada saya jika apa yang saya pikir baik dan cocok itu belum tentu baik, apalagi yang terbaik.

Kejadian yang ini salah satu contohnya. Setelah bergalau ria karena terpaksa melepas satu kesempatan emas demi tanah yang kami beli 2 tahun lalu yang sedang masuk ke tahap serah terima karena akan beresiko terhadap aplikasi pinjaman kami ke Bank, ternyata tidak sampai satu bulan Tuhan memberikan sebuah jawaban yang mendekati sempurna, ahh… indah nya…

Saya mendapatkan kesempatan lain setelah itu, di organisasi non-profit yang artinya gaji tidak kena pajak lebih besar dari organisasi profit yang ujung-ujung nya bermuara pada uang yang dibawa pulang tentu lebih besar, lalu lokasi yang dekat dengan stasiun kereta dan tram stop kurang lebih 10 meter, mengingat jika kami pindah ke barat sana tentu mempermudah dibandingkan tempat sebelumnya yang saya drop karena yang terdekat dengan kantornya hanya ada halte bus, dan itu pun termasuk jauh, belum lagi bus yang suka PHP in orang kalau disini, belum lagi jarak yang sekarang ini hampir setengah lebih dekat dari yang saya tolak dulu yang artinya kalau saya bawa mobil waktu dan jarak tempuh langsung berkurang setengah hahaha… apalagi kalau pakai public transport lebih berasa lagi lebih dekatnya. Lalu bekerjanya di end-user yang artinya saya tetap bisa mempensiunkan sertifikasi saya dan mulai menggunakan waktu yang ada untuk belajar hal lain, dan di tempat ini juga mengaplikasikan cloud computing yang mana juga mendukung rencana upgrade skill saya. Nah… ada lagi nih yang indahnya, pekerjaan ini permanent on going, jadi ga ada batas waktunya sampai antara saya pensiun, diberhentikan atau resign. Sudah begitu, gaji yang saya minta ternyata di upgrade sama mereka hahaha… kurang nikmat apalagi coba?

Saya terus terang saat menerima kontrak kerja mereka, sempat berpikir dan merenung mengenai apa yang sudah terjadi sebelumnya. Semakin saya merenung saya semakin bergidik karena Dia ternyata lebih tahu apa yang cocok dan bagus bagi saya, terutama untuk keadaan sekarang dan akan datang.

Luar biasa bukan? itulah kenapa saya sering merasa malu karena iman saya ternyata masih tipis dan rapuh sehingga mudah terkoyak oleh rasa superior ego-manusia saya. Sekarang saya sudah masuk masa resign dari tempat saat ini, tinggal seminggu lagi, lalu libur dulu kurang lebih seminggu, dan mulai ditempat baru yang semoga bisa awet sampai lama karena saya sudah cape sebenarnya pindah-pindah terus seperti kucing beranak.

Satu hal yang pasti, Dia paling mengetahui apa yang paling pas buat kita dan kapan saat yang tepat untuk hal itu terjadi atas kehidupan kita.

Kakak ku

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya mengantar jenazah Kakak saya dari Jakarta ke Tegal.

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya menemani tubuh kakak ku yang telah terbujur kaku di rumah duka cembengan di Tegal, dengan semua letih lesu yang sudah tidak bisa kurasakan lagi, selain rasa kehilangan yang amat sangat karena dia salah satu panutan ku dalam hidup, ternyata telah berpulang lebih cepat dari yang ku duga.

Yohanes Karyono Djais, itulah nama kakak ku, nama yang tidak akan pernah saya lupa dalam sisa hidup ku, karena begitu banyak kenangan yang ada dalam pikiran ku.

Berbaring diatas rumput ditepi pantai di Tegal saat liburan tiba adalah salah satu kegiatan yang sering kami lakukan saat dia pulang ke Tegal, sembari berbaring, sering kali kami berkhayal tentang masa depan yang ingin kami capai dan banyak hal lainnya sembari menikmati mentari yang pelan tapi pasti turun ke peraduan nya yang setelahnya kami baru beranjak pulang.

Hemmm… masih hangat tersimpan dibenak ku, kesukaan dia saat mencium aroma padi dari sawah di tepi kanan dan kiri jalan dua antara Tegal – Banjaran, yang sering kami lewatin saat malam karena saya tahu dia suka menikmati aroma itu yang menurut dia tidak bisa ditemui di Jakarta.

Pondok sate ayam di pokanjari Tegal, lesehan pisang bakar di alun-alun Tegal (yang entah masih ada tidak sekarang) dan warung soto Pak Madi saat masih di jalan teri Tegal menjadi tempat kenangan yang tidak akan pernah hilang dari benak saya saat mengenang dia.

Belum sawah-sawah di dekat perumahan Nanas yang saya yakin saat ini sudah tergusur oleh bangunan baru, juga menjadi kenangan lain karena kami dulu sering memancing belut sawah yang kemudian kami bakar di kebun-kebun dekat sana dengan perapian seadanya, menyantap belut bakar (yang sudah pasti dianggap masih kotor oleh kalian yang tinggal dikota) sambil bercengkerama tentang cita-cita yang ingin kami kejar kelak. Ahhh… indah nya saat-saat itu… tidak lupa motor yamaha F1ZR yang selalu setia menemani kami kemana saja.

Apa kabar Kak? Doa ku selalu dan akan selalu bersama mu Kak, damai lah disana Kak, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, salah satu impian yang pernah saya katakan dulu sudah berhasil saya raih, nanti ya saya ceritakan saat kita sudah bersua, dan seperti biasa… kita bisa memilih sambil berbaring diatas rumput sambil memandang jauh ke arah cakrawala melewati gulungan ombak yang tiada hentinya mendebur tepi pantai, seperti yang sering kita lakukan dulu, atau… sembari menghirup kopi kapal api kesukaan kita sembari menyantap pisang bakar coklat hahaha… what a great memory Kak.

Salam untuk Papa ya….