Bentar lagi

Hore… bentar lagi tanah kami title, yang artinya sudah bisa settlement dan dipindah namakan ke kami dan rumah mungilnya bisa mulai dibangun.

Hari ini juga baru dapet kabar dari mortgage broker kami kalau evaluasi Bank terhadap tanah kami bagus, dan kemungkinan aplikasi pinjaman kami disetujui cukup bagus juga.

Lega deh dengernya karena kalau sampai kami gagal mendapatkan pinjaman Bank artinya kami bisa saja kehilangan seluruh down payment kami hikss… (amit-amit jangan sampai ya…)

Entah kenapa saya belakangan ini sering banget terjaga di jam 2 pagi. Jam biologis saya kayanya mulai ngaco lagi deh… biasanya sih karena saya sedang ada yang dipikirin, mungkin iya juga sih, soalnya beberapa hari atau minggu lalu sempat ada drama yang cukup menguras tenaga karena saya dihadapkan pada keputusan akan mengambil tawaran pekerjaan yang menggiurkan atau mengutamakan rumah yang sebentar lagi harus masuk proses Bank untuk pinjaman sehingga tawaran itu harus di drop.

Dua hal ini datang hampir bersamaan dan ingin saya dapatkan keduanya jika bisa, terus terang sangat menguras tenaga dan pikiran saya karena kawatir dengan aplikasi Bank kami. Karena begitu saya pindah kerjaan, semua harus di submit ulang lagi dengan kondisi kerjaan baru dan butuh waktu proses nya, sedangkan tanah bentar lagi title kan, kalau sampai delay aplikasi Bank nya bisa-bisa kami masuk kategori gagal bayar dan pembelian kami di batalkan yang artinya down payment bisa saja melayang.

Akhirnya setelah ditimbang cukup keras, saya merelakan tawaran itu melambaikan tangan kepada saya hiks…. kecewa sih karena entah kenapa saya merasa tawaran yang satu ini cukup nge-klik sama apa yang mau saya kejar. Jarang-jarang loh saya bisa punya intuisi seperti ini selama di Australia.

Ya sudahlah, toh semua ada waktunya. Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat dan kita hanya perlu percaya dan berserah. Pekerjaan yang sekarang sebetulnya enak, posisi senior, jam kerja 7 jam perhari sudah termasuk jam istirahat 1 jam. Sistemnya memang acak kadut tapi cukup reliable yang artinya kerja di weekend dan after hours hampir tidak pernah terjadi. Hanya saja untuk jangka panjang sepertinya kok kurang gimana gitu hehehe…

Ga terasa ketik punya ketik jam sudah mau jam 4 pagi. Suhu juga sedang turun karena sudah mendekati musim dingin, dan ini mata ga ngantuk-ngantuk juga, haduhh… mana wine sudah abis hahaha… udah ah… mau coba rebahan lagi sambil ngebayangin itu taman kalau rumahnya sudah beres ntar mau diapain soalnya mau coba saya kerjakan sendiri (itung-itung belajar jadi garderner hehehe…), siapa tau jadi ngantuk kan ya.

Advertisements

No Caption

Autum yang panas, iya… entah kenapa tahun ini walaupun sudah masuk ke bulan Maret bahkan bentar lagi April, suhu tidak kunjung menjadi dingin seperti tahun sebelumnya. Sempet sih awal Maret kemaren seminggu bermain diantara belasan sampai maksimal 23, tapi tidak bertahan lama karena sudah dua minggu ini suhu bermain diatas 25 terus dan matahari seakan tidak lelah memanggang bumi kangguru ini. Terik nya itu loh… secara benua ini ada di selatan dan condong ke arah matahari.

Tidak lama lagi daylight saving akan berakhir dan benua ini akan masuk ke waktu normal lagi. Daylight saving itu apaan ya? googling saja ya hahaha… yang pasti setelah daylight saving berakhir kami-kami disini akan ketambahan waktu tidur 1 jam karena yang tadinya jam 7 pagi mundur ke jam 6 pagi, dan otomatis merubah perbedaan waktu antara negara bagian Victoria di Australia ini dari 4 jam menjadi 3 jam dengan Jakarta.

Beberapa waktu lalu, istri sempat bercerita mengenai pengalaman dia konsultasi dengan speech therapy anak pertama kami. Loh… si AL dapat speech therapy? iya, tapi tenang ini bukan hal berbahaya, dia mendapatkan terapi ini karena lafal pengucapan beberapa huruf yang kurang tepat sehingga disarankan untuk menemui speech therapy yang mahal nya ampun di-je-mak… untung dibantu hampir 50% sama centrelink (pemerintah). Lumayan jadi berkurang hampir separo biaya nya hahaha… ok balik ke topik, jadi ceritanya istri habis sesi terapy berakhir ngobrol-ngobrol dengan profesional yang menerapi si AL, singkat cerita obrolan mengarah kepada sekolah dan belajar. Yang membuat kaget adalah saat istri ditanya setiap hari si AL yang sebentar lagi umur 7 tahun belajar nya gimana, dan dengan bangga pede empat lima karena mikirnya dah jadi Ibu yang baik hati dan tidak sombong, istri menjawab dengan mantap setiap malam belajar 2 mata pelajaran dan setiap mata pelajaran 15 menit saja! cieee…. keren ga tuh… cuman 15 menit ! kurang baek apa coba??? bandingkan dengan jaman kite dulu yang ditemenin sabetan dan minimal bisa-bisa 1 jam !

Si profesional itu dengan tenang berkata, itu kelamaan. Tanpa dosa tanpa rasa bersalah karena sudah membanting istri kebawah dengan pandangan datar sedatar-datarnya. Akhhhh…. yang bener ajaaaa??? jadi berapa menit harusnya? setiap hari 2 mata pelajaran sudah benar, tapi cukup 10 menit saja setiap mata pelajarannya. Haaa… saya sampai bengong pas di ceritain. 10 Menit belajar apaannnn???

Ya, mungkin karena saya yang udik kali ya, terbiasa di gembleng dengan cara yang beda hahaha… tapi singkat cerita, kami ikut apa yang disarankan, ya itung-itung biar si AL ga stress dan cape kan (kurang baek apa coba ortunya hahaha…) dan juga yang membuat kami tidak kawatir adalah, kurikulum belajar negara ini juga mendukung sehingga pihak sekolah pun tidak mempersulit dengan “kalau mau masuk kelas 1 harus sudah bisa ca-lis-tung” buset dah… disini mah yang dicek bukan ca-lis-tung nya, tapi anak ente pake celana ga karena kan ga mungkin kan anak ente jadi tarzan saat di kelas kan ya…

Saya sendiri minggu ini bulanan di tempat kerja baru, ya… secara garis besar pekerjaan yang ini cukup santai sih, saya diminta mendokumentasikan jaringan IT mereka yang amburadul, dan diminta membuat blue print untuk meningkatkan kemampuan jaringan IT mereka untuk 5 tahun kedepan. Selain itu juga pekerjaan harian yang jarang ada seperti ada yang rusak dibenerin, ada yang minta diubah ya diubah… kerjaan-kerjaan maintenance seperti biasa. Yang bagusnya dari apa yang saya kerjakan saat ini adalah memiliki ruang untuk bisa memberikan ide-ide untuk merancang jaringan ini untuk beberapa tahun ke depan, ya… hitung-hitung sekalian latihan jadi perancang lagi seperti waktu kerja di Jakarta dulu sekalian latihan bahasa inggris hehehe…

Hal lainnya mengenai sertifikasi yang saya pegang, tahun ini saya putuskan untuk menonaktifkan sertifikat expert saya setelah dijaga aktif selama 10 tahun. Kebetulan Cisco sendiri menyediakan jalan untuk menonaktifkan sertifikat level expert setelah 10 tahun agar tidak suspend dan bisa diaktifkan kapan saja dengan mengambil dan lulus ujian written yang disebut program emeritus. Sebetulnya saya agak sedih sih waktu login ke sertifikasi tracking saya, semua level associate dan professional masuk masa expired karena program emeritus tidak mencakup sampai level dibawah expert. Hikss… semua nya expired sekarang dan saya harus mengambil dan lulus semua module nya kalau mau certified lagi, dan itu mahal sekali. Saya mengambil program emeritus yang lebih murah jauh walaupun tidak gratis ini lantaran untuk menjaga agar semua sertifikat tetap aktif, saat ini semakin mahal biayanya, disamping itu karena saya bekerja lebih banyak di end user jadi ga bisa klaim biaya ujian ke kantor, ya berat buat saya kalau harus bayar 10 jutaan setiap tahun untuk ujian saja. Sebetulnya point nya bukan di berat keluar uang nya, tapi lebih ke relevan tidaknya hal itu bagi saya, karena teknologi saat ini menurut saya sudah tidak relevan lagi dengan sertifikat yang saya pegang itu. Entahlah, saya tidak begitu tertarik lagi belajar hal-hal itu karena lebih menarik belajar teknologi yang sedang hit saat ini seperti cloud misalnya. Dan belajar hal seperti itu juga ga murah loh… maklum saya bukan dari keluarga berada, jadi uang segitu berarti banget buat saya hehehe… itulah kenapa setelah saya timbang-timbang akhirnya saya putuskan untuk menggunakan uang tersebut ke teknologi lain, jadi sekalian update keahlian baru juga belajar hal baru, ya mudah-mudahan langkah ini tidak salah.

Sesuai judul, tulisan ini sebetulnya tidak ada topik khusus, entahlah… tiba-tiba saya ingin saja menulis lepas tanpa harus di kerangka dan menentukan topik. Lebih seperti orang lagi curhat ga jelas yang cerita ini dan itu tanpa arah hehehe… ya mungkin lantaran saya sedang kangen kali dengan kampung halaman atau masih agak culture shock walaupun sudah ga seheboh dulu ya…

Migrasi itu ternyata ga semudah yang saya bayangkan, ya mungkin bagi beberapa orang gampang ya, tinggal pindah tempat, tapi bagi saya perjuangan banget. Banyak sekali yang harus saya kompromikan dan saya relakan untuk bisa mencapai titik ini. Kalau bukan karena ingin memberikan yang terbaik yang mampu saya raih ke keluarga saya terutama anak-anak, saya sih males ambil jalan seperti ini, cape lahir batin nya itu yang ga tahan… bahkan sampai sekarang saja saya sering ngelamun ngebayangin jika seandainya saya tidak segila ini sekarang seperti apa ya… tapi terlepas dari semua itu, saya bersyukur bangett.. bisa migrasi dengan semua keterbatasan yang kami miliki. Karena ga semua orang bisa seperti ini, bahkan yang bisa dan mampu pun belum tentu bisa mendapatkan jalan ini.

Tuhan benar-benar baik banget sama kami, masuk tahun ketiga kami disini banyak banget kejadian-kejadian yang tidak kami sangka sebelumnya akan terjadi. Contohnya saya bisa menuaikan janji saya ke diri saya sendiri yang dulu saya bikin saat melamar istri saya dengan lamaran seadanya. Akhirnya tahun lalu janji itu terpenuhi, saya bisa membelikan sebuah cincin tunangan yang lebih layak buat dia dengan uang saya sendiri. Terus, ada lagi yang lain seperti tanah plus rumah yang sudah kami beli mulai masuk ke proses title sebentar lagi, jadi rumah kami pun sudah bisa mulai dibangun dan kalau lancar awal tahun depan kami sudah bisa pindah ke rumah sendiri, duh… ini benar-benar ga terbayangkan sebelumnya, boro-boro beli rumah di Melbourne ya… bisa beli rumah di Jakarta saja sudah senang bukan kepalang walaupun kecil rumahnya. Hal lainnya lagi, saya dapat kerjaan yang lebih mapan dalam segi status karyawan juga hal lain yang patut di syukuri, karena saya butuh status ini untuk memproses pinjaman ke Bank untuk rumah kami. Maksudnya KPR? iyalah, belum sanggup kami beli kontan hahaha… Harapan kami, tentu saja bisa membangun rumah kami dengan lancar dan juga unit yang kami sewa ini tidak mempersulit saat kami harus mengubah metode sewa kami dari tahunan ke bulanan, semogaa…

Eh… balik lagi ke sertifikasi yang saya bahas diatas, hari senin tanggal 20 Maret 2019 kemaren saya baru dapet email dari Cisco, isi nya mengatakan kalau saya akan mendapatkan plakat atas 10 tahun memegang CCIE, yeyy… dan saya juga berhak menggunakan 2 logo baru, yaitu 10 Years CCIE dan CCIE Emeritus, kira-kira seperti ini logo nya,

Wuihh… keren juga loh hahaha…. bangga juga bisa megang sertifikat langka ini 10 tahun, ga gampang dan melelahkan yang pasti hahaha…

Artikel ini sebenernya diketik di sela-sela kebosanan saya saat di kantor, karena lama-lama begah juga bikin dokumentasi yang tidak sedikit itu, apalagi cara mereka konfigurasi barang-barang mereka berada di titik dimana ketidak-umuman terjadi sangat dominan, duh… pusing… Masalahnya, kalau saya tidak membuat dokumentasi itu, nanti nya saya juga yang akan repot saat sedang merencanakan upgrade jaringan mereka agar mumpuni untuk menyongsong tantangan IT 5 sampai 10 tahun kedepan, ya elahh… bahasanya ketinggian yaa…

Hal lainnya yang terjadi adalah….. saya memasang modem dengan kapasitas 500 Giga wahahaha… sebenernya tadinya saya mau ambil yang 300 Giga saja, tapi masalahnya harga yang harus dibayar beda AUD 15, ya elah… tanggung amat ya… ya udah saya ambil saja yang paling gede kapasitasnya. Sebulan ini saya tes udah anak-anak hampir setiap hari streaming reading eggs, mathlatic dan youtube, belum lagi bini netflix-an ditambah saya main game onlen ehh… ternyata baru kepake ga sampe 100 Giga huuu…uuuu…uuu…. sisa banyak bangettt…

Betewe ngomong-ngomong soal Netflix, tadinya sih iseng karena istri perjuangan banget nyari-nyari drakor di youtube, belum lagi kalau kepotong-potong kan ya, mana seru coba, baru air mata mau berlinang ehhh…. ga ada lanjutan nya, jiahhh… ga jadi mewek deh… abis itu bilang kesaya “nyebelin nih, lagi seru-seru nya ga ada lanjutan video nya!” Nah,…. KODE KERAS INI!!! 🙂

Ya sudah, saya langganin Netflix biar puas nonton drakor nya, walaupun awalnya bilang “ga” terus setiap ditanyain “mau langganan netflix ga?”, eh ternyata oh ternyata… begitu Netflix dapet langsung serius belajar cara nonton nya, jiahhh…. dasar wanita…. suka bener ditebak-tebak isi kepala dan hati nya, emang nya ane dukun neng!!

Dann…. Netflix sukses membuat bulu kuduk beberapa kali berdiri, bukan karena nonton film horor, tapi keadaan suka tiba-tiba horor, gimana ga horor coba, malem-malem lagi enak-enak molor tiba-tiba ada yang nangis sesengukan atawa ngakak sendirian haduh… haduhh… bisa copot ini jantung abang neng….. Ga apa lah, happy wife happy live, iya ga? istri yang bahagia membuat hidup menjadi lebih mudah hahaha… norak ya…

Hari ini saya pulang cepat, eitss… ntar dulu, ini pulang cepet gegara ada yang lupa bawa kunci pas anter anak-anak ke sekolah. Bikin repot saja, faktor “U” kayanya, masa bisa lupa bawa kunci orang tiap hari anter anak sekolah ck…ck…ck… saya jadi harus ijin pulang lebih awal deh karena ga tega anak-anak ntar ga bisa masuk rumah setelah pulang sekolah karena bisa sejam lebih nunggu diluar nungguin saya sampai rumah. Kalau si mamak e mah saya ga worry, ga bisa masuk rumah dia malah ke Mall jalan-jalan seharian sama temen nya wakakakak…. emang dasar garis hidup harus rilex yeee…

Apapun yang terjadi selama ini, saya tetap bisa merasakan kehadiran Tuhan ditengah-tengah kami, apapun itu… baik itu sesuatu yang baik, sesuatu yang mengajar, maupun sesuatu yang menyedihkan, Dia selalu ada buat kami. Kami bisa sampai sejauh ini hari ini, tidak semata-mata karena kehebatan kami, sama sekali tidak… tapi lebih kepada Dia yang membimbing kami. Jatuh bangun kami disini, dan selama mengejar impian kami ini tidak akan pernah terlupakan dalam hidup kami dimasa mendatang, semua ini adalah berkat.

2 tahun di Melbourne

Tidak terasa sudah 2 tahun kami disini, sebuah perjalanan yang berawal dari sebuah impian yang cukup liar saat itu. Ga pernah nyangka sebenernya bisa sampai sejauh ini, terlebih kalau melihat background kami saat itu.

Keputusan ini terlalu berani sebetulnya (kalau ga mau dibilang terlalu nekat, nekat by default). Menjadi diaspora dengan kemampuan Bahasa Inggris dibawah pas-pasan itu tidak pernah terlintas dalam benak saya, dan hal itu kemudian menjadi salah satu hal yang harus saya hadapi dan atasi saat berusaha migrasi kesini karena ingin mengejar impian saya yang kadang ga masuk akal sehat. Loh… dibawah pas-pas-an? iya dibawah, Bahasa Inggris saya saat itu hancur lebur deh… baru belakangan ini saja rada mendingan. Itu saja masih sangat sering lawan bicara dahi nya berkerut saat dengar saya bicara hahaha… Selain itu, adaptasi budaya, cuaca dan sosial juga sangat menantang. Tapi, karena ada tekat (yang entah datang dari mana) ingin melihat anak-anak bisa sekolah disini, akhirnya membuat saya memberanikan diri yang sebetulnya ga pede-pede amat ini untuk nekat dan berani bergerak.

Sedikit demi sedikit tantangan yang ada coba saya coba tutup dengan belajar dan berlatih, semua itu mutlak diperlukan jika masih ingin bersaing di dunia kerja jaman sekarang, terlebih ditengah ketatnya dunia kerja disini. Puji Tuhan, sejauh ini kemampuan yang tidak seberapa ini masih bisa digunakan buat mencari sesuap nasi asal kita mau mengesampingkan ego dan gengsi. Loh… maksudnya? Disini, kerja menjadi tukang itu tidak lebih buruk dari kita menjadi seorang manajer. Tukang?? iya tukang, engineer itu kan terjemahan di Bahasa Indonesia ya tukang. Tinggal profesi tukangnya saja yang beda kan, ada tukang ngutang, tukang nagih, tukang IT, tukang kayu dll halah….

Semua rasa lelah itu terbayarkan saat melihat anak-anak bisa sekolah disini, perkembangannya benar-benar diluar dugaan dan melebihi ekspektasi yang sebelumnya ada di kepala saya. Ada rasa syukur yang begitu kuat dalam dada saya saat melihat semua itu, Tuhan sungguh baik. Setidaknya, saya berhasil memberikan jalan buat mereka agar bisa mencicipi bagaimana rasanya sekolah di luar negeri dan membangun jalan mereka agar bisa memiliki masa depan yang lebih baik dari kami (masa depan yang lebih baik di mata kami tidak serta merta berkaitan dengan materi ya), sebuah kemewahan yang dulu kami berdua tidak bisa mengalaminya (untuk bagian sekolah di luar negeri), walaupun akhirnya menjalaninya (untuk bagian merantau di luar negeri).

Kehidupan disini adalah kehidupan yang damai dan menenangkan walaupun tetap harus berjuang ya. Sempat beberapa kali mendapatkan sentilan sentilun jika saya masih memiliki niat untuk kembali ke Indonesia, bukan saya tidak mau, tapi saya belum menemukan alasan untuk itu yang lebih kuat dari alasan saya kemari. Terlepas dari jargon membangun Negeri yang pada kenyataannya untuk bikin KTP saja masih “di-anu-anu-in”, dan saya disini tidak lalu serta merta lupa dengan jati diri saya sesungguhnya, semua rekan kerja tahu darimana saya berasal, dan saya tidak pernah tidak bangga dengan hal itu.

Disini kami sekarang, where we called it our “second” home. Kota yang cantik nan dingin, yang identik dengan suhu nya yang rollercoaster ga jelas. Hidup di Melbourne itu tidak serta merta lalu indah dan keren semua loh… ada hal-hal yang tidak enak juga hahaha… beberapa sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya, jadi saya tidak akan kupas tuntas lagi (halah, lagaknya macam bisa kupas tuntas saja ya…). Hal yang pernah saya singgung tentang enaknya hidup disini adalah tidak bising mengenai Agama. Disini itu tidak ada tuh yang teriak-teriak agama dia paling benar, masing-masing mengerti batasnya masing-masing dan budaya malu yang sangat kental. Lucu ya… di Negara seperti ini yang dianggap sekular, haram dan terlalu terbuka terutama dalam hal berbusana, justru memiliki budaya malu saat melanggar sesuatu yang sudah menjadi aturan.

Selain itu, ranah politik pun bukan hal yang menjadi ladang pertempuran seperti di Indonesia. Disini saat ada pemilihan tidak seperti apa yang terjadi di Indonesia sampai ada team khusus buat bikin hoaks dan penangkal hoaks, hadeuh… disini Valak ga laku bro…. mungkin karena itu dia migrate kesana kali ya… soalnya disini jualan agama kaga laku sih… manusia nya dah lebih cerdas sedikit apalagi di provokasi pakai video editan, yaelah disini dah ga mempan…

Selain itu, disini enaknya lagi saya bisa minum Bir, Wine, atau Cider tanpa takut di demo hahaha… eitss… jangan salah ya…. biarpun kita bebas minum asal bertanggung jawab, hal itu tidak serta merta membuat kita mudah membeli minuman beralkohol loh… jualannya itu dijaga ketat, ga main-main denda nya kalau sampai ketauan berani menjual ke anak dibawah umur, dan ini adalah aturan dari pemerintah, ga kaya disana yang diatur sama salah satu ormas dengan pemaksaan. Jadi setiap hari saat pulang kerja kadang dijalan sudah terbayang “ahh… enak nih panas-panas bisa minum Bir dingin sesampai dirumah” halah… hahaha….

Trus ga enak nya apaan donk? Banyak juga sebetulnya, salah satu nya adalah Negara ini diwajibkan PBB untuk nerima pengungsi. Nah, hal ini lama kelamaan menjadi masalah sosial disini dan yang lebih parah nya lagi para pengungsi itu kadang ga tau terima kasih, sudah ditolong eh… beberapa dari mereka meneror dengan nabrakin mobil ke para pejalan kaki di pusat perbelanjaan lah, bakar mobil lah, dan mulai ada geng peranakan dari Afrika sana yang suka brutal dan merusak. Bagusnya, para petugas disini sangat responsif jadi ketolong dikit lah pengendalian situasi nya.

Terlepas dari itu tidak dapat saya pungkiri jika migrasi ke Australia adalah salah satu hal terbaik yang terjadi atas keluarga kami terutama saya, ada rasa syukur yang begitu mendalam yang membuat kami tidak menemukan jawaban bagaimana Dia bisa membuat ini terjadi jika dihitung dengan kalkulator kami, ini benar-benar ajaib kalau ga mau dibilang ajib ya… Dia benar-benar luar biasa, sangat luar biasa, terlepas dari kekuatan impian yang saya genggam dan jaga seperti orang kesurupan.

Dan, kami pun menatap dengan pasti ke tahun ketiga.

Menetapkan Hati

Hari ini, akhirnya kami putuskan untuk tandatangan kontrak jual beli sebidang tanah di kawasan perumahan Atherstone yang terletak di suburb Melton South (38 km dari CBD Melbourne). Keputusan yang terbilang cukup nekat karena keputusan ini membuat saya harus mengosongkan seluruh sisa tabungan saya disini dan Indonesia agar bisa membayar down payment sebesar 5% dari harga tanah dan rumah yang akan dibangun diatasnya kelak.

Keputusan ini bukan tanpa resiko, walaupun kami sudah mendapatkan pre-approval dari Bank untuk 95% pinjaman agar bisa membayar total harga yang harus kami lakukan kepada developer, hal itu tidak menjamin kami akan mendapatkan full-approval kelak saat tanah tersebut sudah bisa dipindah nama kepada kami pada bulan September tahun depan (jika tidak mundur).

Lalu, bagaimana jika sampai full-approval kami ditolak? Ya… kami kehilangan 5% down payment yang sudah kami bayarkan saat ini, dimana itu adalah seluruh tabungan kami yang tersisa. Memang sangat beresiko, akan tetapi jika kami tidak berani mengambil langkah ini, kami tidak tahu kapan bisa mendapatkan tempat tinggal permanen yang sesuai dengan keinginan dan budget kami (sesuai dengan budget yang paling sulit karena biasanya berawal dari sesuai keinginan dulu untuk lingkungan sekelilingnya, semakin establish akan semakin mahal bukan?), dari apa yang kami analisa selama berkeliling mencari tempat yang sesuai selama ini, harga disini naik rata-rata 7% – 10% setiap tahunnya. Untuk harga sekarang saja, kekuatan tabungan kami sudah nyaris tidak tercapai. Puji Tuhan masih ada 1 bidang tanah plus bangunan yang harganya masih bisa masuk dengan sangat… sangat… mepet, dan untuk kesekian kalinya kami merasakan kembali campur tangan Tuhan dalam hidup kami. Karena itu kami putuskan untuk mengambil resiko ini, karena tanah yang kami beli ini sudah sesuai dengan lingkungan yang kami inginkan baik itu fasilitas, sekolah dll, baik untuk saat ini maupun kedepannya sesuai master plan yang mereka tunjukan dan jelaskan kepada kami.

Disinilah (kira-kira) nanti akan dibangun sebuah rumah sederhana, tempat kami berlindung dan membesarkan kedua putra kami. Perkiraan tanah ini mulai bisa dibangun rumah diatasnya pada bulan September 2018, dan perkiraan bisa selesai Februari 2019. Jadi kami bisa mulai pindah setelah itu.

Tanahnya tidak besar, sekitar 260 meter persegi (16 x 16,5), eits… ntar dulu… jangan dibandingkan dengan Jakarta, disini rata-rata tanah 350 – 600 meter persegi. Diatasnya rencana akan dibangun rumah dengan 3 kamar, lokasi kami tepat berada di pojok dan akan dibangun tanpa pagar, ga kebayang nanti akan seperti apa. Yang pasti 1 hal adalah Tuhan selalu menyediakan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan kita dan sesuai kebutuhan kita.

Setelah tandatangan kontrak untuk tanah, kami lanjut ke builder yang akan kami pilih untuk membangun rumah kami, istri yang lebih ngerti mulai ngobrol dan diskusi dengan builder nya mengenai denah rumah, apa saja yang kami dapat dengan harga yang harus kami bayar dsb nya.

Lalu bagaimana dengan kerja yang harus saya jalani? Lumayan jauh… karena saya kerja di utara Melbourne dan akan tinggal di barat Melbourne hal itu membuat saya harus menempuh kurang lebih 42 km 1 kali jalan, jadi kira-kira 85 km per hari pulang pergi. Lama perjalanan berkisar 45 menit – 65 menit (tergantung kepadatan jalan). Saya pribadi tidak keberatan dengan jarak karena waktu tempuh hampir sama dengan saat ini yang hanya berjarak kurang lebih 30 km. Terlebih lagi saya juga sudah terbiasa kerja ditempat yang jauh, dulu di Jakarta saya pernah kerja di Manggarai selama 5 tahun dan saya tinggal di Cengkareng, macetnya itu loh… ga nahan…

Kami saat ini menyerahkan semuanya kepada Tuhan, kami pasrah… kami sudah melakukan apa yang bisa kami lakukan, merencanakan apa yang bisa kami rencanakan, dan melakukan yang terbaik bagi impian kami disini. Untuk seorang yang hampir putus kuliah karena biaya, makan 3 kali sehari pun setengah mati, bisa melangkah sampai sejauh sekarang ini tidak mungkin terjadi tanpa 1 kekuatan dari atas, Tuhan sangat berperan dalam perjalanan ini selain kekuatan impian yang selalu saya jaga dan kejar.

Bagi saya pribadi, selama istri dan anak-anak saya sehat dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Karena saya tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya yang bergelimang uang permata. Yang selalu saya inginkan hanyalah melihat senyum di wajah mereka setiap pagi, melihat wajah mereka yang tertidur dengan pulas dan nyaman dimalam hari, dan melihat kedua anak kami bisa melangkah ke setiap jenjang pendidikan sebaik mungkin dan setinggi mungkin.

Sekarang kami menunggu dan berusaha menabung lagi secepat yang kami bisa. Dan kami hanya berharap dan berdoa agar semuanya bisa baik dan lancar sampai selesai. Jika rumah ini benar-benar terwujud nanti, 1 hal yang kami tidak sangka adalah kami justru mendapatkan rumah impian kami di Melbourne bukan di Jakarta. Tuhan sungguh Maha segalanya.