Pagar

Pagar oh pagar…

Akhirnya pagar kami pun terpasang untuk memagari tanah mungil yang kami beli 2 tahun lalu yang kemudian title dan bisa dipindah ke nama kami.

Drama pagar ini yang dibarengi salah pasang plang nomor tanah kami akhirnya selesai, happy ending deh… walaupun sukses bikin saya bolak balik ke Melton selama 2 hari berturut-turut karena pada hari pertama hujan deras sehingga tidak bisa menyelesaikan pemasangan pagar, jadi ya kami tetap kesana karena ingin memastikan jika nomor tanah yang kami komplain karena salah sudah dibenerin, dan…. akhirnya bener, lega deh…

Hari kedua saya kesana lagi untuk melihat status pagar yang dipasang sekalian memasang kunci yang ada kode nya agar builder kami saat ingin akses tanah itu tinggal kami kasih saja kode kuncinya, dan…. akhirnya beres, lega dua kali deh…

Sekarang, kami menunggu kapan builder kami bisa mendapatkan building permit mereka dan bisa memulai pembangunan karena kami memiliki harapan bisa natalan disana tahun ini, semoga ya…

Sambil menunggu perkembangan yang ada, saya mulai baca-baca tentang landscaping karena kami harus menyelesaikan landscaping kami dalam 6 bulan untuk klaim AUD 1000 kami dari developer, dan saya ingin mengerjakan landscaping sendiri hahaha…. sok-sok-an ya, tapi entah kenapa saya bener-bener ini mengerjakan taman kami agar lebih fleksible dalam mendesain dan (semoga) bisa lebih murah juga.

Akhir minggu ini di Australia akan long weekend karena hari senin adalah hari libur ulang tahun ratu Elizabeth (ratu di UK). Kami pun merencakan liburan, sekadar menginap satu dua malam di tempat wisata yang agak jauh ke selatan, sekalian merehatkan otak yang mulai jenuh karena terlalu santai (lohhh….)

Advertisements

Mei K’labu

Sebentar lagi Mei akan berlalu dan Juni sudah mengintip nakal di depan pintu. Bulan Mei tahun ini menjadi salah satu bulan yang penuh dengan update-update yang mendebarkan dan sangat menguras baik tenaga dan pikiran, terutama saya ahh… selalu… drama ah…

Tapi ini bener, dimulai dari tawaran pekerjaan dari salah satu perusahaan yang sudah ditangan dan sangat ingin saya ambil, tapi akhirnya terpaksa saya lepas dengan berat hati karena pertimbangan tanah yang kami beli sudah sangat dekat dengan settlement dan mereka tidak mau menunggu lebih dari 2 minggu untuk notice period nya. Hiks… benar-benar nyesek, tapiii… saya percaya Tuhan tahu apa yang terbaik bagi saya dan keluarga.

Kejadian yang satu ini benar-benar menguras energi saya karena satu sisi saya sangat menginginkannya melihat apa yang akan saya kerjakan dan teknologi yang mereka usung tapi disisi lainnya saya juga tidak mau tanah yang kami sudah beli 2 tahun lalu jadi berantakan dan berakhir dengan dibatalkannya proses pembelian kami (yang bisa membuat kami kehilangan seluruh DP yang sudah kami bayar) karena Bank tidak bisa mengeluarkan dana tepat waktu karena saya ganti pekerjaan di detik terakhir saat settlement akan terjadi yang membuat saya harus mengulang seluruh proses KPR ke Bank dengan menyiapkan lagi semua dokumen yang dibutuhkan satu per satu dari awal, dan akan berakhir jadi drama telenovela yang lebih heboh bagi kami. Agak susah sebenernya jelasin bagian yang satu ini karena satu dengan lainnya berhubungan dan ruwet duwet mak…. itulah kenapa sangat menguras energi dan pikiran.

Kejadian lainnya adalah proses dari settlement itu sendiri, setelah semua dipersiapkan baik dokumen maupun dana yang harus kami miliki, kami pun akhirnya mendapatkan tanggal title kami yang kemudian berlanjut ke tanggal settlement kami, lalu entah kenapa seminggu sebelum settlement, kami harus mengulang tanda tangan beberapa dokumen karena saya saat tanda tangan seminggu sebelumnya ternyata mengisi tanggal tanda tangan dengan tanggal lahir saya haiyahh… jeng… jeng… jeng…. akhirnya semua beres. Laluuuu… 3 hari kemudian, kami mendapatkan email dari conveyancer kami jika settlement akan segera terjadi pada tanggal 31 Mei tapiii…. jumlah dana yang harus kami siapkan ternyata kok jauh lebih banyak dari apa yang sudah tertera di dokumen KPR ya??? alamak… panik mode on, mau cari kemana duit tambahan nya secara kami aja sudah pas-pasan sekarang, langsung kami koordinasi dengan mortgage broker kami agar dia bisa dorong pihak bank agar segera meng-update system mereka sesuai dokumen yang sudah ditanda-tangan. Setelah panik reda, akhirnya saya telp dan diskusi dengan mortgage broker kami dan bilang lebih baik settlement nya di tunda kalau harus menyiapkan dana lebih (karena seharusnya ga perlu) akibat pihak bank nya yang masalah. Puji Tuhan, akhirnya semua lancar dan tanah kami pun per hari ini sudah settle yang artinya sudah menjadi milik kami. Hore…. joget-joget dangdut….

Lalu drama berikutnya, karena sudah menjadi milik kami, itu tanah musti kami kerangkeng atawa pagarin kaya perawan. Kenapa? karena di Australia rada beda aturannya (bukan rada tapi emang beda), saat tanah sudah jadi milik kami, builder (yang akan membangun rumah kami) baru bisa mulai mengajukan building permit dll ke council dan instansi terkait, semacam IMB lah kalau di Indonesia. Nahh… hal itu ternyata bisa makan waktu sampai berbulan-bulan lamanya, paling tidak 1 sampai 2 bulan. Nahhh…. (lagi) selama mereka belum mendapatkan building permit, kebersihan tanah itu menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya, yang artinya saat mereka sudah dapat permit dan akan membangun, keadaan tanah harus bersih, bersih dari sampah, batu, celana dalem, rumput dll. karena mereka ga mau bantu buang sampah yang ada diatas tanah kami. Ihh.. rese ya… bikin sakit kepala saja, ya sebetulnya mereka ga salah juga sih karena buang sampah itu ga murah disini. Dan masalahnya disini banyak juga builder yang nakal, mereka daripada buang tuh sampah jauh dan mahal, dan dideket mereka eh… ada tanah kosong nganggur ya mereka buang aja disana (selama ga ketangkep basah karena dendanya mahal kalau ketangkep), karena rumah kami berada di komplek perumahan baru yang artinya dikelilingi tanah kosong semua dan semua berakhir dengan bangun membangun, jadi bisa saja ada builder yang nakal dan buang sampah ditanah kami kan, baik itu batu-batu gede yang tergali dari bawah tanah, sampah bangunan, dll. dan itu akan butuh dana sampai ribuan untuk menyewa pihak ketiga membuang semua sampah tersebut ke tempat yang seharusnya agar builder kami bisa memulai pembangunan, akhirnya sukses membuat kami memutuskan untuk menyewa pagar sementara untuk menjaga agar tanah kami tidak disusupin pihak-pihak tidak bertanggung jawab seperti demo 22 Mei kemaren di Jakarta, ups…. Setelah melalui pertimbangan bersama, langsung sewa 3 bulan saja deh…

Drama banget ya… dan ini ga nyambung sama judul sebetulnya hahaha… oke, sudah selesai curhatnya sekarang saya mau nulis blog yang sebenarnya.

Bulan ini, diawali dengan suhu yang sejuk-sejuk berangsur menjadi semakin dingin diakhir bulan. Mungkin karena sudah mulai masuk ke musim dingin kali ya. Yang membuat lebih galau itu sebetulnya cuaca yang mendung dan basah karena suka hujan, bikin bener-bener males gerak. Bahkan beberapa kali saya sampai menghidupkan heater karena entah kenapa suhu menunjukan angka 7 tapi feels like 3 derajat dan ujung-ujung jari rasanya kok kebas-kebas kaya kelamaan megang es batu gitu.

Perubahan-perubahan suhu seperti ini, terlebih saat sedang ekstrim-ekstrim nya, sering membuat saya nyengir kuda terlebih saat ada yang komen “enak ya hidup di luar negeri” hahaha…

Hidup diluar negeri juga ada ga enak nya (walaupun buat kami/ saya lebih banyak enaknya). Seperti hidup manusia, mana ada yang hidup tanpa ada masalah dan enak semua? semua sama saja, selalu seperti dua mata koin, kalau ada enaknya pasti ada ga enaknya juga karena itulah kehidupan.

Yang membedakan hanya batas kompromi yang bisa kita bentangkan selebar apa untuk menerima segala sesuatu yang bagi kita tidak mengenakan itu dan membuat nya menjadi sesuatu yang enak, ahh… bagian paling susah ini.

Hidup di luar negeri, terutama di Australia, bagi saya banyak enaknya dan layak diperjuangkan. Tapi itu buat saya ya, orang yang suka dengan tempat yang tidak terlalu ramai, suka dengan yang tertib dan tenang, suka dengan udara dan air yang bersih, suka dengan yang hijau-hijau, suka dengan pendidikan yang bagus, dan suka dengan pelayanan kesehatan yang profesional walaupun itu dilakukan secara gratis. Apalagi disini ga macet gila seperti di Jakarta, kerja juga family time sangat dijaga, ga heboh saat pemilu seperti beberapa waktu lalu, lebih aman, ga ada ormas jagoan dan yang pasti agama menjadi ranah pribadi masing-masing individu. Sejauh ini, kami merasakan disini kami jadi lebih bisa membuat rencana kedepan, lebih leluasa mengatur finansial kami, merasa kualitas kehidupan kami pun meningkat jauh dibandingkan saat tinggal di Jakarta, walaupun saya hanya seorang tukang pekerjaannya. Tukang IT.

Terlepas dari itu, jauh dari keluarga menjadi tantangan tersendiri terutama saat salah satu dari kita sedang sakit, kangen dengan makanan lokal juga menjadi tantangan lidah walaupun bisa dijembatani dengan masak sendiri atau restoran-restoran Indonesia walaupun rasanya ga se-identik dengan apa yang kita miliki disana. Bahasa dan budaya juga menjadi tantangan lain, mungkin tidak bagi anak-anak kami karena mereka akan besar disini dan pada akhirnya akan kami beri kebebasan jika mereka ingin menjadi warga negara Australia. Belum bentang jarak dan waktu yang sedikit banyak bisa diobati dengan kemajuan teknologi seperti video call dll.

Jadi, enak ga hidup di luar negeri? Jawabannya enak-enak saja hahaha….

Akhirnya Titled

Yeahh…. akhirnya kami mendapatkan berita yang sudah kami tunggu selama 2 tahun, tanah yang kami beli titled!

Dan saya juga sudah ditelpon conveyancer kami dan dipertegas oleh pihak developer sendiri.

Berita ini pun langsung kami teruskan ke builder yang sudah kami pilih 2 tahun lalu agar mereka bisa segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bisa mulai membangun rumah mungil kami.

Semoga semua lancar yaaa… sudah ga sabar kami ingin memiliki tempat tinggal permanen agar ga pusing pindah-pindah alamat setiap masa sewa tidak diperpanjang oleh yang punya.

Dokumen pun langsung minta disiapkan oleh mortgage broker yang kami pilih dan minta di legalisir. Duh, beruntung kami berada di Australia yang sudah lebih tertib dan rapi, kalau di Jakarta di hari sabtu tiba-tiba minta dokumen terlegalisir sih bisa-bisa habis uang menyan banyak secara disana apa-apa dibuat drama serumit mungkin.

Disini, saya hanya perlu membawa dokumen asli ke Officeworks lalu fotocopy, dan bawa keduanya ke kantor pos mana saja dan minta di legalisir dokumen fotocopy dengan menunjukan dokumen asli dan biaya legalisir nya gratis hahaha… ga sampai 30 menit semua beres sudah termasuk waktu perjalanan karena disini kan ga macet juga.

Habis makan siang rencana nya kami ingin menengok tanah kami untuk melihat apakah siap atau tidak untuk dipindah-namakan, dan setelahnya akan menemui kawan di city disaat makan malam yang kebetulan datang dari Indonesia dan Singapura hari ini.

Bentar lagi

Hore… bentar lagi tanah kami title, yang artinya sudah bisa settlement dan dipindah namakan ke kami dan rumah mungilnya bisa mulai dibangun.

Hari ini juga baru dapet kabar dari mortgage broker kami kalau evaluasi Bank terhadap tanah kami bagus, dan kemungkinan aplikasi pinjaman kami disetujui cukup bagus juga.

Lega deh dengernya karena kalau sampai kami gagal mendapatkan pinjaman Bank artinya kami bisa saja kehilangan seluruh down payment kami hikss… (amit-amit jangan sampai ya…)

Entah kenapa saya belakangan ini sering banget terjaga di jam 2 pagi. Jam biologis saya kayanya mulai ngaco lagi deh… biasanya sih karena saya sedang ada yang dipikirin, mungkin iya juga sih, soalnya beberapa hari atau minggu lalu sempat ada drama yang cukup menguras tenaga karena saya dihadapkan pada keputusan akan mengambil tawaran pekerjaan yang menggiurkan atau mengutamakan rumah yang sebentar lagi harus masuk proses Bank untuk pinjaman sehingga tawaran itu harus di drop.

Dua hal ini datang hampir bersamaan dan ingin saya dapatkan keduanya jika bisa, terus terang sangat menguras tenaga dan pikiran saya karena kawatir dengan aplikasi Bank kami. Karena begitu saya pindah kerjaan, semua harus di submit ulang lagi dengan kondisi kerjaan baru dan butuh waktu proses nya, sedangkan tanah bentar lagi title kan, kalau sampai delay aplikasi Bank nya bisa-bisa kami masuk kategori gagal bayar dan pembelian kami di batalkan yang artinya down payment bisa saja melayang.

Akhirnya setelah ditimbang cukup keras, saya merelakan tawaran itu melambaikan tangan kepada saya hiks…. kecewa sih karena entah kenapa saya merasa tawaran yang satu ini cukup nge-klik sama apa yang mau saya kejar. Jarang-jarang loh saya bisa punya intuisi seperti ini selama di Australia.

Ya sudahlah, toh semua ada waktunya. Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat dan kita hanya perlu percaya dan berserah. Pekerjaan yang sekarang sebetulnya enak, posisi senior, jam kerja 7 jam perhari sudah termasuk jam istirahat 1 jam. Sistemnya memang acak kadut tapi cukup reliable yang artinya kerja di weekend dan after hours hampir tidak pernah terjadi. Hanya saja untuk jangka panjang sepertinya kok kurang gimana gitu hehehe…

Ga terasa ketik punya ketik jam sudah mau jam 4 pagi. Suhu juga sedang turun karena sudah mendekati musim dingin, dan ini mata ga ngantuk-ngantuk juga, haduhh… mana wine sudah abis hahaha… udah ah… mau coba rebahan lagi sambil ngebayangin itu taman kalau rumahnya sudah beres ntar mau diapain soalnya mau coba saya kerjakan sendiri (itung-itung belajar jadi garderner hehehe…), siapa tau jadi ngantuk kan ya.