Menetapkan Hati

Hari ini, akhirnya kami putuskan untuk tandatangan kontrak jual beli sebidang tanah di kawasan perumahan Atherstone yang terletak di suburb Melton South (38 km dari CBD Melbourne). Keputusan yang terbilang cukup nekat karena keputusan ini membuat saya harus mengosongkan seluruh sisa tabungan saya disini dan Indonesia agar bisa membayar down payment sebesar 5% dari harga tanah dan rumah yang akan dibangun diatasnya kelak.

Keputusan ini bukan tanpa resiko, walaupun kami sudah mendapatkan pre-approval dari Bank untuk 95% pinjaman agar bisa membayar total harga yang harus kami lakukan kepada developer, hal itu tidak menjamin kami akan mendapatkan full-approval kelak saat tanah tersebut sudah bisa dipindah nama kepada kami pada bulan September tahun depan (jika tidak mundur).

Lalu, bagaimana jika sampai full-approval kami ditolak? Ya… kami kehilangan 5% down payment yang sudah kami bayarkan saat ini, dimana itu adalah seluruh tabungan kami yang tersisa. Memang sangat beresiko, akan tetapi jika kami tidak berani mengambil langkah ini, kami tidak tahu kapan bisa mendapatkan tempat tinggal permanen yang sesuai dengan keinginan dan budget kami (sesuai dengan budget yang paling sulit karena biasanya berawal dari sesuai keinginan dulu untuk lingkungan sekelilingnya, semakin establish akan semakin mahal bukan?), dari apa yang kami analisa selama berkeliling mencari tempat yang sesuai selama ini, harga disini naik rata-rata 7% – 10% setiap tahunnya. Untuk harga sekarang saja, kekuatan tabungan kami sudah nyaris tidak tercapai. Puji Tuhan masih ada 1 bidang tanah plus bangunan yang harganya masih bisa masuk dengan sangat… sangat… mepet, dan untuk kesekian kalinya kami merasakan kembali campur tangan Tuhan dalam hidup kami. Karena itu kami putuskan untuk mengambil resiko ini, karena tanah yang kami beli ini sudah sesuai dengan lingkungan yang kami inginkan baik itu fasilitas, sekolah dll, baik untuk saat ini maupun kedepannya sesuai master plan yang mereka tunjukan dan jelaskan kepada kami.

Disinilah (kira-kira) nanti akan dibangun sebuah rumah sederhana, tempat kami berlindung dan membesarkan kedua putra kami. Perkiraan tanah ini mulai bisa dibangun rumah diatasnya pada bulan September 2018, dan perkiraan bisa selesai Februari 2019. Jadi kami bisa mulai pindah setelah itu.

Tanahnya tidak besar, sekitar 260 meter persegi (16 x 16,5), eits… ntar dulu… jangan dibandingkan dengan Jakarta, disini rata-rata tanah 350 – 600 meter persegi. Diatasnya rencana akan dibangun rumah dengan 3 kamar, lokasi kami tepat berada di pojok dan akan dibangun tanpa pagar, ga kebayang nanti akan seperti apa. Yang pasti 1 hal adalah Tuhan selalu menyediakan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan kita dan sesuai kebutuhan kita.

Setelah tandatangan kontrak untuk tanah, kami lanjut ke builder yang akan kami pilih untuk membangun rumah kami, istri yang lebih ngerti mulai ngobrol dan diskusi dengan builder nya mengenai denah rumah, apa saja yang kami dapat dengan harga yang harus kami bayar dsb nya.

Lalu bagaimana dengan kerja yang harus saya jalani? Lumayan jauh… karena saya kerja di utara Melbourne dan akan tinggal di barat Melbourne hal itu membuat saya harus menempuh kurang lebih 42 km 1 kali jalan, jadi kira-kira 85 km per hari pulang pergi. Lama perjalanan berkisar 45 menit – 65 menit (tergantung kepadatan jalan). Saya pribadi tidak keberatan dengan jarak karena waktu tempuh hampir sama dengan saat ini yang hanya berjarak kurang lebih 30 km. Terlebih lagi saya juga sudah terbiasa kerja ditempat yang jauh, dulu di Jakarta saya pernah kerja di Manggarai selama 5 tahun dan saya tinggal di Cengkareng, macetnya itu loh… ga nahan…

Kami saat ini menyerahkan semuanya kepada Tuhan, kami pasrah… kami sudah melakukan apa yang bisa kami lakukan, merencanakan apa yang bisa kami rencanakan, dan melakukan yang terbaik bagi impian kami disini. Untuk seorang yang hampir putus kuliah karena biaya, makan 3 kali sehari pun setengah mati, bisa melangkah sampai sejauh sekarang ini tidak mungkin terjadi tanpa 1 kekuatan dari atas, Tuhan sangat berperan dalam perjalanan ini selain kekuatan impian yang selalu saya jaga dan kejar.

Bagi saya pribadi, selama istri dan anak-anak saya sehat dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Karena saya tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya yang bergelimang uang permata. Yang selalu saya inginkan hanyalah melihat senyum di wajah mereka setiap pagi, melihat wajah mereka yang tertidur dengan pulas dan nyaman dimalam hari, dan melihat kedua anak kami bisa melangkah ke setiap jenjang pendidikan sebaik mungkin dan setinggi mungkin.

Sekarang kami menunggu dan berusaha menabung lagi secepat yang kami bisa. Dan kami hanya berharap dan berdoa agar semuanya bisa baik dan lancar sampai selesai. Jika rumah ini benar-benar terwujud nanti, 1 hal yang kami tidak sangka adalah kami justru mendapatkan rumah impian kami di Melbourne bukan di Jakarta. Tuhan sungguh Maha segalanya.

Advertisements