Kok kecil?

Hem… semenjak kami memutuskan untuk membeli sebidang tanah mungil untuk dibangun rumah kami yang tentunya ga kalah mungil, tidak sedikit respon yang kami terima tentang “kenapa belinya tanah yang kecil?”, tidak ada yang salah sih dengan hal itu, mungkin mereka hanya penasaran dan ingin memberikan masukan jika tanahnya lebih besar nantinya lebih mudah dijual atau disewakan dan sebagainya.

Tanah yang kami beli memiliki luas 16 meter x 16 meter, untuk di Indonesia khususnya Jakarta, ukuran ini sudah cukup besar lah ya, tapi untuk di Australia ukuran segini termasuk kecil karena ukuran tanah disini apalagi di suburb kisaran 450 sampai 600 meter persegi, guede ya hehehe… rumah kami yang dibangun diatasnya tentu tidak akan sebesar itu karena harus ada taman dll sesuai aturan pemerintah disini. Rumah kami memang tidak terlalu besar, saat itu kami menimbang ukuran tersebut sudah cukup terlebih karena dana segar untuk DP yang saya miliki tidak banyak dan kemampuan mengajukan KPR ke Bank juga terbentur pendapatan saya saat itu yang single income dengan 3 tanggungan. Setelah dihitung bareng mortgage broker (semacam pialang KPR) ternyata hanya punya batas atas pinjaman ke Bank sebesar harga rumah yang kami beli saat ini. Kan bisa jual rumah di Jakarta? memang sih, tapi saya pribadi ingin menjadikan rumah itu sebagai salah satu aset investasi kami di masa depan, terlebih Mama saya masih ada dan dia sayang banget sama rumah itu, anggap saja kasih ke Mama buat singgah setiap akhir pekan sekedar melepas lelah dan bersantai. kalau memang tidak butuh-butuh amat, sepertinya itu rumah bakalan kami keep saja deh hehehe….

Kami secara pribadi tidak masalah sih dengan ukuran rumah dan tanah yang kami beli sih… karena kami berpikir toh nanti pada akhirnya anak-anak kami akan melanjutkan hidup mereka dimana pun mereka inginkan saat mereka sudah besar, dan saat hal itu terjadi kedua manula ini akan kerepotan mengurus rumah jika terlalu besar, jadi saat kami memutuskan membeli rumah ini, kami sudah memikirkan 20 tahun kedepan hahaha… lebay ya… padahal mah ga ada duit aja. Alasan kedua, kami tidak mau memiliki taman terlalu besar karena males ngurusinnya, disini ngurus taman itu bisa menjadi penderitaan tanpa akhir. Bisa sih panggil orang untuk beresin taman tapi itu ga murah hahaha… saya ga rela bayarnya. Memang sih masih bisa dijadikan kolam renang lahannya, tapi inget, disini itu punya kolam renang artinya harus dirawat dan dibersihkan, dan melakukan hal itu ga bisa sembarangan loh… karena kalau sampai ketauan council, siap-siap kocek jebol hahaha…. terlebih dari itu saya sendiri sangat ga rela bayar biaya maintenance nya yang tidak murah itu terlebih untuk sesuatu yang tidak selalu dipakai oleh kami, mubazir buat saya kalau tujuannya hanya untuk status sosial dan bragging. Toh saya memutuskan beli rumah karena ingin punya tempat tinggal tetap yang bisa saya buat senyaman mungkin bukan buat diadu sama orang lain. Karena kalau rumah sewa agak ribet ya buat didandanin, salah-salah kena denda sama landlord ntar.

Alasan lainnya adalah cara berpikir kami yang kebetulan sama, saya dan istri memiliki pola berpikir yang mirip, kurang lebih seperti ini “jika sudah cukup, lebih baik kelebihan uang nya digunakan di hal lain”. Maksudnya begini, bagi kami rumah tidak perlu besar tapi harus hangat, maksudnya hangat disini adalah rumah harus menjadi tempat dimana kami bisa berbagi dan saling merangkul setiap hari baik untuk hal menyenangkan maupun tidak, jadi rumah harus menjadi pusat interaksi. Selain itu selama rumah bisa ditempati dengan nyaman (walaupun ukuran nyaman tentunya berbeda untuk setiap orang, tapi saya percaya kebanyakan dari mereka hanya mengukur tingkat nyaman dengan sudut pandang level kompetisi bukan dengan bagaimana merasakan tinggal dan hidup didalamnya) bagi kami sudah lebih dari cukup, mengingat kedua anak kami laki-laki, jadi saat ada orang tua kami sedang datang berkunjung, kami masih bisa menyatukan mereka dalam 1 kamar dan menjadikan 1 kamar lainnya sebagai kamar tamu, jadi 3 kamar sudah cukup buat kami. Lalu kalau lebih dari 1 keluarga yang datang gimana? ya silahkan ke hotel lah hahaha…

Sama seperti mobil, saya terus terang rada kaget dengan cara berpikir istri saya yang polos, setiap saya tanya “eh… mom, gimana kalau kita upgrade mobil ke yang ini?” yang biasanya lebih besar atau mempunyai versi lebih bagus dan harga sudah pasti langsung mengikuti, jawaban dia ternyata ga terduga dan bikin saya mikir akhirnya “Mobil semua sama saja, selama bisa dipakai jalan-jalan dan saat nyetir mommy bisa dengerin musik (sekarang lagi suka sama lagu-lagu drakor kesukaan dia), itu sudah cukup” Whatt??? sesimple itu?? ternyata buat istri saya bahagia karena memiliki mobil se-sederhana itu… bukan kinclongnya body mobil, bukan kerennya merek atau seberapa mahal harganya, bukan prestisenya tapi hanya fungsinya saja yang penting as simple as that. Disamping itu biaya perawatan juga akan membengkak untuk mobil dengan merek lebih bagus, contohnya biaya ganti rem buat 4 ban BMW bisa sampai AUD 2000, sedangkan untuk Hyundai Accent kami ga lebih dari AUD 500. Jauh kan… padahal pas dipakai ya sama saja, sama-sama ga kepanasan, keanginan atau kehujanan dan sama-sama nyampe juga ke tujuan. Dan itu ternyata berlaku sama untuk rumah, buat dia dan saya, rumah terlalu besar itu akan jadi nightmare buat kami karena harus dirawat dan biaya merawat rumah tidak murah loh…, belum lagi dibersihin dll secara disini menyewa tenaga buat bersih-bersih itu sangat tidak murah, dan tenaga kami ada batasnya. Jadi rumah bagi kami tidak perlu besar, yang penting cukup, hangat dan nyaman buat ditinggalin.

Jadi, kami memiliki satu visi yang sama sejauh ini. Memiliki sesuatu itu tidak diukur dari gengsinya, tapi diukur dari fungsinya dan lebih penting lagi diukur dari kesanggupan kami menjaga dan merawat karena kami bukan dari kalangan “duit tinggal metik” entah metiknya dapat dari orang tua atau dari warisan hahaha… apapun itu, yang pasti kami melangkah sampai sejauh ini bisa dibilang seluruhnya karena kekuatan kaki kami dengan dibantu arahan Tuhan, dan itu sangat tidak mudah kecuali kalian tidak memiliki pilihan seperti saya dan berani nekat, karena apa boleh buat semua harus saya usahakan dan lakukan sendiri demi mengejar cita-cita kami. Walaupun cape dan stress nya ga ketolongan tapi saya cukup bangga dengan apa yang saya capai saat ini, walaupun jujur sering kali saya merasa benar-benar berat sampai ingin berhenti dan menyerah saja.

Rumah kami walaupun kecil, tapi kami sangat senang dan bersyukur bisa memilikinya, terlebih kami membeli rumah ini di Australia yang sebelumnya, bermimpi pun kami tidak berani karena kami mengerti mahalnya harga rumah disini dan sekuat apa kemampuan finansial kami, semua ini kalau bukan karena campur tangan Tuhan, ga mungkin bisa terjadi. Itu juga kenapa kami harus mau berkompromi dengan jarak dan ukuran karena yang kami ingin capai adalah punya rumah sendiri agar selain kami punya tempat tinggal milik sendiri, kami juga bisa sambil investasi. Kami pribadi sangat tidak keberatan dengan lokasinya, bahkan kami suka dengan lingkungan nya, apalagi saya yang memang punya impian ingin punya rumah di pinggiran yang lebih tenang dan damai. Tuhan sungguh baik…. Target kami sekarang adalah menunggu rumah kami selesai dibangun dan bagaimana menyelesaikan KPR secepat mungkin agar kami bisa menyusun rencana kami selanjutnya.

Menyongsong November

Hari ini seperti biasa karena sedang memantau 1 kejadian yang tiba-tiba sekarang stabil setelah saya ubah pengaturannya di salah satu perangkat kami, membuat saya menjadi bosan karena tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Kerja kok bisa sesantai itu sih? iya donk, kerja jangan dibawa stres, apalagi menuju akhir tahun begini, selain proyek sudah banyak yang selesai dan sesi planning juga sudah terlewati, sisanya ya kita hanya standby dan monitor service yang kita miliki agar tidak jatuh.

Waktu benar-benar cepat sekali ya… besok sudah akhir Oktober yang artinya sebentar lagi akan masuk ke November. Karena sedang tidak begitu sibuk, saya coba baca-baca lagi tulisan-tulisan saya yang dulu dan terpaku pada tulisan pertama saat kami mencoba migrasi lagi ke Melbourne untuk kedua kalinya. Membaca tulisan itu (klik disini) membuat saya jadi tambah bersyukur karena kami ternyata tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali ke posisi kehidupan kami di Jakarta (yang tadinya sudah kami persiapkan setidaknya 3 sampai 5 tahun pertama bakalan berdarah-darah terlebih dahulu) yang saat ini kami merasakan bahkan sudah diatas tingkat kehidupan yang kami miliki di Jakarta, padahal kami belum genap 3 tahun disini. Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga. Saya sendiri sering kaget sebetulnya jika mengingat lagi semua yang sudah lewat, kesempatan demi kesempatan ditunjukan oleh-Nya dengan cara-Nya yang elegan sembari memaksa saya untuk belajar sabar dan berserah diantara prosesnya, yang kemudian membawa saya tanpa sadar ke sebuah posisi yang bahkan lebih dari yang ingin saya capai. Luar biasa bukan….

 

Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga.

 

Besok, kami akan genap 2 tahun 9 bulan berada di Melbourne. Kehidupan yang kami jalanin disini bisa dibilang luar biasa karena begitu banyak kejadian yang terjadi selama ini yang tidak pernah kami sangka sebelumnya. Anak-anak kami pun sudah mulai seperti orang lokal sini, tahan dingin, si kecil manggil kakak nya langsung nama, semakin kritis, semakin kreatif, dan mulai susah diajak berbahasa Indonesia walaupun kami tetap tidak menyerah dan berusaha terus menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Kami sendiri pun sudah merasa betah, kehidupan yang kami miliki saat ini yang tidak pernah terlintas dipikiran kami sebelumnya membuat kami tidak henti-hentinya bersyukur karena lebih dari cukup. Kami pun sudah membeli sebuah rumah mungil jauh di belahan barat dari Melbourne, dan sudah mulai dibangun saat ini. Kalau memang sesuai jadwal, prediksi kami seharusnya sudah bisa selesai awal tahun depan sekitar bulan April atau Mei 2020, yang artinya kami sudah bisa mulai pindah ke rumah kami sendiri setelah itu. Hal ini secara tidak langsung juga membuat kami berhasil mewujudkan impian kami berikutnya yang tadinya kami prediksi akan sulit tercapai disini mengingat mahalnya rumah disini walaupun untuk ukuran yang mungil plus daerah yang cukup jauh dari CBD (pusat kota) jika melihat latar belakang ekonomi yang kami miliki. Tapi Tuhan berkata lain, kami diberi jalan untuk bisa membeli rumah impian kami, rumah yang tidak terlalu besar (tapi 3 kali lebih besar dari rumah kami di Jakarta yang berukuran 4 x 15 dua lantai) dengan taman di depan dan belakang, yang sebetulnya adalah salah satu tipe rumah yang saya impikan selama di Jakarta (karena rumah kami di Jakarta tidak memiliki taman hahaha…). Sesuatu yang belum tercapai di Jakarta karena harganya yang aduhai ternyata malah kami dapatkan di Melbourne, kurang baik apa coba Tuhan kepada kami.

Jika ingin dibilang, terlepas dari status tempat tinggal yang masih sewa (karena saya lebih suka punya sendiri agar tidak pusing pindahan terus) bisa dibilang jika kehidupan kami sudah mulai stabil dan mapan saat ini, kami sudah bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, di level yang jauh berbeda, dan tentunya kualitas yang jauh lebih baik dari kehidupan kami dulu. Kehidupan yang saya maksud tidak diukur dari banyaknya materi yang kami miliki ya, tabungan kami sih ga banyak apalagi sampai beratus-ratus, aset yang kami miliki pun ga limpah ruah sampai milyaran, tapi kami punya hal yang lebih berharga dari itu semua, kami punya keluarga yang sehat dan baik, kami punya anak-anak yang sehat dan membuat hidup kami tetap sibuk, kami punya kehidupan yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, kami punya kehidupan yang berkualitas, dan kami pun memiliki rasa syukur yang besar. Semua itu, bagi kami…. memiliki nilai yang lebih diatas segala materi yang ada di dunia.

Sebentar lagi kita akan masuk bulan November, bulan dimana kota ini mulai sibuk berhias untuk menyambut Natal yang sudah semakin mendekat. Bulan dimana kami mulai mengeluarkan baju-baju tipis karena mulai masuk ke musim panas yang terkenal dengan suhu ekstrim nya. Bulan dimana sisi pekerjaan pun mulai sepi dan tenang karena setiap orang mulai merencanakan liburan mereka. Bulan dimana kami pun mulai berdiskusi ingin bagaimana melewati Natal tahun ini. Tadinya saya berharap bisa merayakan Natal di rumah sendiri tahun ini, tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, setidaknya tahun depan seharusnya keinginan saya bisa tercapai (mudah-mudahan ya…). Saya punya rencana untuk BBQ an di taman belakang rumah saat Natal bersama istri dan anak-anak, bercengkerama sambil bakar ikan, udang, cumi, yang dibaluri bumbu pedas dan manis plus nasi putih panas tidak ketinggalan sambal terasi dan makan sembari lesehan diatas rumput, sambil minum bir untuk mengimbangi suhu panas bulan Desember, ahhh… nikmat bukan? Di sisi lain, saya pun bisa mewujudkan salah satu impian dari saya masih kecil dulu yang belum terwujud sampai sekarang, yaitu menghias pohon Natal sambil mendengarkan lagu-lagu Natal diputar sekaligus menghias rumah dengan dekorasi Natal sederhana. Ahh…. jadi ga sabar nunggu tahun depan 🙂

Merumput

Seperti kambing aja ya judulnya merumput, tapi itu benar loh… kami memang merumput hari minggu lalu. Tapi, merumput disini bukan makan rumput seperti kambing melainkan membersihkan rumput alias nyabutin hahaha…

Seperti yang pernah saya tuliskan di artikel sebelumnya jika kami membeli sebidang tanah kecil yang akan kami bangun rumah mungil diatasnya. Nah… di Australia itu aturan nya beda sama di Indonesia, builder tidak akan mulai membangun rumah jika tanahnya masih kotor dan rumputnya tinggi. Kami bisa sih minta builder untuk membersihkannya, tapi harganya buat kami mahal, jadi alhasil olahraga deh, nyangkul-nyangkul sambil nyabutin rumput. Dan ternyata, ga gampang loh, terlebih kami termasuk manusia yang jarang olahraga ya… langsung berasa ada yang aneh-aneh gitu setelah selesai nyabutin rumput yang tinggi-tinggi dan menyerah pada yang sisanya, tanah yang kelihatan ga besar itu ternyata cukup bikin kami berdua ngos-ngosan hahaha…

Ya… jadi pengalaman lah buat kami, jadi seru kan nanti-nanti ada cerita bagaimana perjuangan kami membangun rumah mungil itu nanti hehehe…

Lalu, saya juga sudah mendapatkan kabar jika proposal kredit saya untuk mobil yang saya incar ditolak, ya sudahlah… itu saya percaya sudah rencana yang diatas agar kami ga babak belur saat harus pindah ke rumah kami karena butuh biayanya juga ga dikit. Sempet ditawarin untuk mengajukan ke perusahaan pinjaman lain sih sama showroom nya, tapi saya tolak karena males nunggu kabarnya dan sudah kehilangan minat karena terlalu lama prosesnya. Jadi saya minta deposit saya dikembalikan saja.

Minggu ini kami kedatangan keluarga lain dari Surabaya, 12 orang hahaha… rame ya… seneng deh ada keramaian begitu karena kami disini kan sendiri, jadi pas ada keluarga yang datang langsung excited gitu karena bisa ngobrol-ngobrol seru. Waktu benar-benar cepet loh ya… sekarang tau-tau 1 minggu sudah lewat untuk Oktober dan semakin dekat ke November kemudian akhir tahun. Keinginan merayakan Natal dirumah sendiri pun belum terwujud tahun ini, ga papa deh ya… yang penting masih bisa merayakan Natal bersama keluarga dan sehat, dan semoga bangun rumahnya lancar walaupun ada libur 5 minggu selama Natal, jadi kan tahun depan sudah bisa hias-hias pohon Natal di rumah…

September Ceria

Entah kenapa suka saja mengucapkan september ceria, terasa cocok antara kata ceria dan september hahaha…

Melbourne sudah masuk ke musim semi, musim yang syukurnya mulai menghangat sedikit, ya setidaknya pakaian tebal seperti jaket rumah sudah bisa diparkirkan dan heater juga sudah bisa diistirahatkan sejenak.

Suhu mulai berada di angka belasan sekarang, mudah-mudahan (bukan sulit-sulitan ya) bisa semakin naik kedepannya dan bertahan di angka kisaran 20 sampai 23 untuk waktu yang cukup lama karena di rentang suhu itulah terasa paling cocok sama kulit tropis saya.

Seperti biasa saya terjaga di tengah malam begini, mungkin karena faktor U kali ya, mungkin juga karena tidur terlalu cepat karena jam 9 malam kemaren saya sudah mulai selonjoran eh ketiduran. Atau…. mungkin juga karena pikiran yang suka jahil di kepala saya terutama progres pembangunan rumah mungil yang kami beli ga maju-maju haiyahh… sekarang lagi nunggu ijin bangun (semacam IMB lah klo disana) di keluarkan oleh instansi terkait. Tanah kosong yang kami beli terpaksa kami perpanjang pagarnya agar bebas dari sampah.

Itu rumah setengah jadi yang di gambar bukan rumah kami ya hahaha… ga sebesar itu, itu tetangga 2 rumah dari kami.

Ya semoga saja bulan ini bisa keluar ijinnya, karena setelah ijin keluar builder masih butuh sampai 3 minggu untuk mulai membangun, yang artinya kalau ijin nya keluar bulan ini, maka bangunnya paling cepat bulan depan, sepertinya belum bisa deh Natalan di rumah sendiri tahun ini. Semoga tahun depan kesampaian ya…

Setidaknya nanti kami ada tempat tinggal permanent, ya… maklumlah kalau jauh rumahnya hehehe… karena di lokasi itu yang sesuai sama kemampuan kami. Terlebih kami datang tidak dengan bantuan modal dari orang tua maupun saudara, juga tidak ada aset disini yang bisa tinggal kami gunakan. Jadi kami harus bisa melakukan kompromi yang lebih lebar dari kalian pada umumnya saat sedang mengejar sesuatu yang kami inginkan. Tidak mengapa kok, kami tidak iri dan kami menikmatinya karena itulah warna hidup kami, dan dari sanalah kami belajar the science of achievements and the art of fulfillment, tentu… tidak lupa bersyuku juga untuk semua mukjizat yang terjadi dalam hidup kami.