Sing ngangeni

Hampir 19 purnama sudah saya membawa keluarga kecil saya migrasi dan merantau ke Melbourne, Australia.

Selama ini pula saya sering membayangkan hal-hal yang membuat kangen, apalagi kalau ada kawan yang sedang memposting hal tersebut baik yang sedang ada disana atau yang sedang jalan kesana.

Yang pertama, es teh. Yaelah… bikin sendiri aja jo!

Beda bung, entah kenapa minum es teh di warung makan itu beda sama bikin sendiri walaupun saat saya tinggal disana.

Yang kedua, buah salak! Ini adalah buah kesukaan CEO perusahan saya bekerja sebelum saya migrasi kesini. Entah kenapa lah kok kesukaan nya sama hahaha… setiap meeting sama beliau sampai malem, pasti diusahakan ada buah salak. Disini, selama ini saya ubek-ubek semua pasar traditional sampai shopping centre, sampai saya bela-belain ke utara dan barat, tetep tidak ketemu buah satu ini. Kalau rambutan saya masih pernah ketemu, tapi kalau salak haduh-haduh… belum sampai sekarang.

Yang ketiga, ketidak-tertiban. Nah aneh kan… tapi bener loh… saya sering kali kalau sedang terburu-buru suka kangen dengan jalanan disana yang bisa asal terobos. Disini… harus jaga kelakuan kalau ga mau SIM nya di cabut hiks…

Selanjutnya, suasana lebaran lengkap dengan takjil, kolak, dll. Dan juga suasana imlek lengkap dengan makanan manis, angpao, dll. Disini kedua perayaan itu biasa saja, datar-datar saja. Terlebih ga ada keluarga seabrek-abrek seperti imlekan disana membuat perasaan semakin mengharu biru…. halah… hahaha…

Sebetulnya masih banyak sih hal-hal lain yang bikin kangen, misalnya aneka rujak-rujakan, rujak buah, rujak juhi, hadalah… jadi ngeces saya. Trus aneka buah tropis yang belum ada disini atau susahnya minta ampun untuk ditemukan seperti salak itu tadi, trus bangkuang hahaha…

Hidup disini, karena saya sebelumnya menghabiskan 30 tahun lebih disana, kadang membuat rasa kangen ini meledak-ledak. Memang… banyak hal baik yang bisa didapatkan disini, seperti metode mendidik yang buat kami lebih masuk bagi anak kami terutama si mbarep ya. Belum lagi kehidupan disini yang lebih teratur dan menenangkan. Dan kalau dari sisi pekerjaan buat saya lebih baik karena dari sisi family time dan apresiasi nya benar-benar beda sama disana. Tetep saja disana ada hal-hal yang bikin kangen kan…

Keputusan untuk migrasi dan merantau itu bukan hal mudah untuk diambil, sangat sulit loh… terlebih saat kita sudah mulai mapan. Kalau bukan karena saya punya impian mau anak-anak saya sekolah di luar negeri dari kecil, kemungkinan besar sekarang kami masih disana.

Ya… normal sebagai manusia untuk merasa kangen terhadap sesuatu. Terlebih saya menghabiskan lebih dari 30 tahun disana.

Saya tetap bersyukur dan memang sudah seharusnya bersyukur, untuk kehidupan yang kami jalani disini. Sebuah kehidupan yang jauh lebih baik menurut versi kami terlebih untuk kedua anak kami.

05.14 sekarang dan hari ini sebetulnya libur karena Melbourne Cup. Tapi entah kenapa saya justru terjaga dari jam 4 pagi dan ga bisa tidur lagi. Mungkin karena proyek besar yang sebentar lagi mulai dan cukup mengganggu pikiran saya. Mungkin juga karena akhirnya posisi semi permanent yang akhirnya dipublish walaupun saya pun sudah nothing to lose.

Entahlah…

Satu yang pasti, hidup disini ada tantangan-tantangan tersendiri juga. Tapi kami tidak menyesal saat memutuskan untuk migrasi dan meninggalkan semua yang kami miliki disana. Terlebih saat melihat perkembangan anak-anak kami.

Advertisements

Akan ada saat itu tiba

Minggu ini, minggu yang penuh dengan kegiatan. Dimulai dari kepindahan saya kembali ke organisasi semula, perayaan hari jadi kami sampai ke kedatangan kakek dan nenek anak-anak yang sudah begitu ditunggu-tunggu oleh mereka.

Untuk kepindahan saya sudah pernah saya tuliskan di blog sebelumnya. Jadi saya akan menuliskan tentang hal lain.

Kami merayakan hari jadi tahun ini dengan cara agak berbeda, pertama saya ajak keluarga makan malam di daerah city saat pulang kerja karena hari itu tepat tanggal 26 dan istri kebetulan sedang mengajak anak-anak main ke daerah Port Melbourne yang kemudian mampir ke State Libray di seberang Melbourne Central. Karena hari itu saya juga menggunakan public transport jadi saat pulang saya mampir ke city untuk menemui mereka. Dan kami berakhir di sebuah restoran Thailand untuk mengenyangkan perut kami.

Yang kedua, kami merayakan nya di daerah Yarra dan hanya berdua saja. Maksudnya biar mesra dan romantis gitu hahaha… karena kebetulan mertua saya sedang datang jadi anak-anak bisa kami tinggal bersama mereka. Istri memesan tempat melalui groupon dan makanan yang dipesan luar biasa banyak, dan sudah paket jadi ga bisa di pilah-pilah lagi.

Dengan ditemanin segelas Cider untuk istri dan segelas Carlton Draught untuk saya, kami berjuang keras menghabiskan seafood platter yummy yang sudah menunggu dengan sabar di meja kami, huffhh… sampai susah jalan saya saat selesai makan…

Malamnya, sebelum tidur saya iseng memperhatikan lini masa sosial media saya, mata saya tertuju pada sebuah postingan yang cukup menggelitik karena melihat seseorang yang saya cukup kenal tersenyum bahagia karena sebuah promosi yang baru saya diterimanya. Saya mengenal pribadi itu cukup dekat dulu dan saya tahu dengan sangat bagaimana dia menyebar kata dan kalimat untuk menghadang orang-orang yang ingin kembali karena mungkin dia merasa hal itu akan menjadi ancaman buat dia. Dan saya tahu jika itu pun salah satu yang terjadi pada saya juga pada akhirnya. Dan mungkin juga hal itu juga yang membuat dia berada diposisi dia saat ini kan, bersama sekumpulan manusia-manusia setipe lainnya yang saya tahu memang cukup banyak disana.

Ga heran sih, dan apakah saya kemudian menjadi dendam? Tidak sama sekali. Tidak, saya malah memaafkan. Bukan karena saya mengenal mereka, dan bukan juga karena saya tidak suka sama mereka. Saya memilih untuk tidak mengubris hal seperti itu karena saya sadar jika menjadi orang yang terbukti kompeten sudah tentu akan dihadang orang yang tidak kompeten agar tidak terjadi persaingan (lagi mau nyombong dikit boleh donk hahaha…) dan hal itu harus disyukuri, karena secara tidak langsung kita diakui kehebatannya walaupun dengan cara tidak terpuji.

Lalu apakah hal itu membuat hidup saya jadi lebih suram, oh tidak… tidak sama sekali hahaha… justru sebaliknya saya malah mendapatkan jalan yang lebih baik, jauh lebih baik, belajar lebih banyak, mengenal leboh banyak orang hebat lainnya dan tentunya jadi tahu lebih banyak (salah satunya ya tahu seperti apa mereka itu).

Saya percaya jika semua di tangan Tuhan, dan saya juga percaya jika apa yang kita tabur akan kita tuai kemudian hari karena saya percaya karma. Kerja atau pekerjaan bagi saya (apalagi setelah hidup di negara seperti Australia) hanyalah sebuah alat. Kita bisa menggunakan alat itu agar menjadi berkat maupun tidak hal itu kembali kepada kita sendiri. Orang-orang yang sadar mereka tidak memiliki kemampuan hakiki tentu akan menggunakannya sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain karena hanya itu cara mereka mempertahankan pekerjaan mereka dan mendapatkan promosi.

Kerja itu bagi saya seperti orang pacaran saja. Kalau memang cocok ya diteruskan, kalau sudah tidak cocok ya toh masih bisa jadi teman kan. Ga perlu drama, ga perlu lebay, ga perlu jilat sana sini, ga perlu jatuhin orang lain. Tapi itu saya loh ya… karena saya percaya pada kemampuan saya dan saya percaya tidak akan jatuh miskin jika kalian memperlakukan saya seperti itu.

Dan tentu hal lainnya, saya selalu berusaha agar bisa selurusnya dalam bekerja. Karena saya tahu jika hasil yang saya dapatkan dari jilat menjilat, atau karena saya dekat dengan atasan tidak akan pernah membuat saya lebih bangga dari mendapatkan apa yang saya dapatkan karena memang murni kemampuan kerja saya. Dan hal itu juga secara tidak langsung mendorong saya untuk bisa lebih baik lagi setiap hari nya agar bisa tetap bertahan di dunia persilatan kan.

Dan saya percaya jika apa yang kita lakukan suatu hari akan ada saat itu tiba dan terjadi pada kita sendiri.

Ya tapi itu kalau saya loh…

Setangkup sukses, Segenggam harapan.

Belakangan ini saya sering melihat postingan di lini masa sosial media yang saya miliki. Banyak diantaranya datang dari kawan-kawan yang dulu saat kami masih sama-sama remaja sering di cap “anak nakal” tapi saat ini mampu membangun kehidupan yang baik, bahkan sangat baik, terlebih beberapa diantara mereka bukan berasal dari keluarga mampu.

Memang, semua ini hanya terlihat dari kulit luarnya saja, apa yang saya anggap baik belum tentu sama artinya dimata mereka apalagi di kehidupan yang mereka jalanin. Maksud saya disini adalah, saya menilai berdasarkan rasa salut saya karena mereka mampu bangkit dan menunjukan hasil dari keuletan mereka walaupun berada dalam keterbatasan dengan menunjukan apa yang mereka capai di sosial media. Memang, kadang terkesan kok sombong ya pamer-pamer… tapi saya berkeyakinan jika semua itu hanyalah masalah sudut pandang.

Saya secara pribadi salut dan respect kepada mereka, terlebih mereka yang saya tahu memulai benar-benar dari nol dimana tidak ada campur tangan orang tua ataupun mertua dalam memulai bisnis mereka, tentunya tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka yang meneruskan kerajaan bisnis ortu atau mertua nya atau yang membangun sesuatu dari hasil suntikan mereka karena hal itu pun saya yakin memiliki tantangannya sendiri.

Saya secara pribadi termasuk orang yang membangun dan mengejar impian saya tanpa dukungan modal (dalam hal ini uang) dari kedua orang tua saya maupun mertua saya, dan dari situlah saya bisa merasakan pahit getir nya saat kita harus jatuh bangun mempertahankan keyakinan kita atas apa yang ingin kita kejar. Kalian sah-sah saja menilai sebuah kesuksesan itu dari berbagai sudut pandang, karena setiap insan berhak menentukan arti dari kesuksesan itu sendiri. Ada yang mengukur dari besar nya bisnis, ada yang dari banyaknya materi, ada yang dari tingginya posisi, ada juga yang dari hal-hal tidak terlihat seperti kebahagiaan dan impian.

Saya sendiri mengukur kesuksesan itu dari kebahagiaan dan impian. Karena bagi saya hidup di dunia yang fana dan penuh kegalauan ini, belum lagi waktunya yang singkat dan sering tiba-tiba mendapatkan kejutan di tikungan membuat kebahagian dan impian yang berhasil kita raih berada diatas segalanya, jika gagal sekalipun setidaknya kita sudah berani mencoba sehingga tidak menyesal kemudian.

Saya secara pribadi tidak berusaha mencoba mengatakan saya sudah sukses, walaupun beberapa impian saya sudah tercapai ya… seperti impian saya ingin menyekolahkan anak-anak saya dari kecil di Australia (yang dikenal memiliki salah satu pendidikan terbaik di dunia) tercapai, impian saya untuk bisa memenuhi salah satu janji tidak terucap saya juga terwujud, impian untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga saya yang tentunya berdasarkan versi kami juga terwujud, dan masih banyak lagi. Kesuksesan itu tidak harus selalu diukur dari uang dan materi karena dalam kehidupan ini banyak hal yang ternyata jauh lebih penting dan berharga dari semua itu.

Banyak orang mati-matian sampai mengorbankan keluarga dan waktu mereka hanya untuk mengejar 1 kata yaitu kekayaan materi, kekayaan yang fana yang tidak akan berarti apapun tanpa mereka yang kita sayang dan tidak akan membuat kita dikenang. Ga percaya? Sebanyak apa kalian mendengar orang membicarakan orang terkaya di dunia maupun di negara atau di keluarga kalian yang sudah tiada dibandingkan mereka-mereka yang sudah berbuat sesuatu yang lebih berarti seperti memberi inspirasi atau mengajarkan arti bahagia itu sendiri?

Memberanikan diri untuk merantau jauh ke tanah selatan ini mengajarkan banyak hal kepada saya, perjalanan ini menambahkan bilur-bilur pembelajaran dalam hidup saya yang sudah banyak belajar dari perjalanan sebelumnya, sebelum saya berkeluarga. Merantau itu tidaklah mudah, sangat tidak mudah, tetapi hal itu memberikan banyak hal dan pembelajaran bagi kita mengenai arti dari sebuah kehidupan.

Dengan merantau, kami jadi bisa belajar lebih menghargai hal-hal yang dulu sering kami sepelekan, misalnya menjaga agar lingkungan kami tetap bersih dengan buang sampah ditempatnya, bahkan disini sampai dipisah-pisah antara recycle dan tidak. Selain itu kami juga belajar menghargai keberadaan pengguna jalan lain saat kami sedang dijalan dan masih banyak hal lainnya terutama yang berkaitan dengan keluarga.

Disinilah kami saat ini, mencoba mengejar setangkup sukses yang kami rancang, dan berusaha sebisa mungkin menjalani kebahagiaan dalam proses nya, sambil tetap berpegang dalam iman dan doa serta segenggam harapan.

Macet…

Hari ini bukan hari saya, jangan bingung ya karena itu adalah salah satu ungkapan orang-orang sini kalau lagi mendapatkan kesulitan dalam hari itu.

Dimulai dari pagi hari kena macet hampir 35 menit karena ada jalan ditutup sampai tanggal 15 September nanti yang membuat waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit jadi molor ke 65 menit, haiyahhh….

Udah gitu, seharian diisi miting seharian sampai kepala rasanya muter sendiri seperti gasing. Miting yang harus saya rangkum sebaik-baiknya karena harus saya alihkan kepada pengganti saya sebelum hari Jumat ini.

Waktu pulang rasanya lega sekali karena perut lapar dan udah pengen pulang rasanya. Ehh… begitu belok ke Alexandra Parade kok macet nya ga biasa. Setelah 45 menit ga bergerak terlalu jauh, akhirnya saya buka radio dan ada berita jika Alexandra Parade ditutup beberapa ruas dan yang ditutup 2 arah sebelum dan sesudah freeway M3, semacam jalan tol tapi gratis yang merupakan jalan arah pulang saya.

Haduh mules rasa nya, usah laper, kena macet pulak, itu kombinasi yang tidak mengenakan, dan tinggal ditambah kebelet pipis maka rasanya dah komplit pake telor.

Tapi… dibalik kemacetan itu saya melihat hal yang tidak saya temui di Jakarta. Semacet-macetnya, saya tidak melihat ada perempatan yang ke blok karena kami tetap saling mengalah dan menjaga agar tidak membuat kemacetan semakin meluas walaupun ga ada Polisi yang menjaga dan mengatur (tingkat penempatan otaknya benar-benar beda ya…). Yang lainnya, tidak ada yang berusaha berdesak-desakan saling menyalip atau memotong di jalur yang lain demi memuaskan ego birahi mereka.

Semua tertib di jalurnya masing-masing sambil sekali-sekali berusaha ganti jalur ketika diberi kesempatan untuk masuk oleh kendaraan dijalur lainnya. Benar-benar tertib walaupun kemacetan hari ini benar-benar menjengkelkan apalagi untuk mereka yang tidak sering kena macet seperti saya di Jakarta. Saya aja dah jengkel hehehe…

Yang ada tanda strip digambar diatas itu adalah jalan yang ditutup paksa secara tiba-tiba sore tadi.

Terpaksa saya musti muter-muter cari jalan bergabung bersama mereka-mereka yang senasip dengan saya karena jalan pulang utamanya tertutup tiba-tiba (biasanya karena ada kecelakaan). Setelah 2 jam akhirnya saya berhasil melepaskan diri dari kepungan mobil dan masuk ke freeway lagi dari titik lain horeee… yeyy… rasanya itu bagaikan kita sedang kebelet dan nahan pipis yang sudah sampai di ujung lalu ketemu toilet dan sampai ke urinal nya, buka resleting celana tepat sebelum kelepasan mancur dan aahhhh…. legaaa sekali rasanya kan… (udah ga usah lu bayangin beneran sambil nahan napas… hahaha….)

Setelah masuk freeway, saya cuma butuh 15 sampai 20 menit untuk duduk di bangku makan dirumah sambil menikmati sebotol Corona untuk mengusir haus dan melepas lelah.

Ahh… seger rasanya… ga perlu takut dikafir-kafirin hanya gegara sebotol Corona. Hidup di Negara seperti ini benar-benar santai dan memiliki perasaan aman. Tidak hanya aman dari kriminal dan kejahatan tapi juga aman untuk privasi masing-masing, aman untuk tidak terintimidasi oleh kaum mayoritas, aman untuk tidak takut menjalani ibadah, aman untuk tidak takut ditutup atau dibubarin paksa saat Ibadah dsb.

Dan yang pasti aman dari otak-otak setengah kosong yang nuntut untuk harus di mengerti terus menerus karena merasa jumlahnya lebih banyak dan empunya tanah leluhur tanpa mau mengerti dan berbagi dengan pihak lainnya.

Dah ahh… jadi ngelantur kan saya, malam ini entah kenapa saya terjaga padahal badan sudah cape sebenernya. Mungkin karena saya mikirin handover yang harus saya lakukan sebelum Jumat ini dan itu tidak mudah, sangat tidak mudah karena kompleksitas nya tapi tetap harus diusahakan sebaik mungkin, sekarang mending buka corona lagi ahh… sambil nunggu ngantuk.