Gagap Budaya

Saya tergelitik untuk menulis hal ini, tadinya sih males sebenernya tapi jari-jari saya merasa gatel untuk merekam hal ini di blog.

Malam ini kami memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran yang menyajikan makanan Indonesia untuk makan malam, nama restoran nya saya sembunyikan hahaha… seperti biasa istri saya mendapatkan bagian memesan makanan ke kasir sedangkan saya menunggui meja sambil menemani anak-anak yang tidak berhenti bercanda lalu berantem lalu bercanda lagi tanpa lelah, udel mereka mungkin ada batere alkaline kali ya, ga abis-abis tenaganya ampun dah…

Sembari menunggui meja, saya iseng memperhatikan sekeliling dan tergelitik saat memperhatikan meja-meja yang sudah ditinggalkan oleh penggunanya setelah mereka selesai makan, iseng saya foto satu per satu keadaan meja nya dan saya tahu persis siapa yang tadinya duduk disana dari bahasa yang mereka gunakan.

Meja nomer satu adalah meja yang sebelumnya digunakan tiga orang bule, sedangkan meja nomer dua dan tiga adalah meja yang digunakan oleh orang… orang… err… saya sebut saja orang yang terbiasa memiliki pelayan, karena itu mungkin mereka merasa setelah makan ya tinggalin saja meja nya berantakan, toh nanti ada yang akan membersihkan, ya ga?

Ga salah dan ga benar sih, tapi balik lagi kita itu hidup di negara ini bukan di tanah negara asal dan lebih jauh lagi budaya disini beda karena satu atau banyak hal. Di Australia tenaga kerja itu mahal loh… itu kenapa kadang satu pekerja bisa merangkap pelayan, kasir, anter makanan, dll.

Lebih jauh dari itu saya pribadi pernah merasakan kerja di restoran itu seperti apa di Australia. Bujug cape nya, sumpah deh… sebisa mungkin saya ga mau balik kesana lagi. Hal itu yang kemudian membuat saya berusaha mengikuti budaya orang sini dimana berusaha membersihkan dan merapikan meja setelah makan seperti menumpuk piring bekas, mengelap ceceran makanan dll sekadar membantu meringankan tugas mereka dengan berempati sekalian memberi contoh ke anak-anak, bahkan banyak orang sini yang sampai mengantarkan piring dan alat makan bekas mereka makan ke dapur belakang agar pelayan resto bisa tinggal mengelap meja jika diperlukan.

Lebih jauh lagi toh membereskan meja setelah makan tidak akan mengurangi kegantengan saya yang memang sudah akut dari orok ini kan hahaha…

Ini bukan masalah gengsi atau ga, atau benar dan salah sih, tapi lebih ke masalah belajar berempati dan belajar untuk menghormati budaya dimana kita berpijak. Terlebih jika kita sedang menjalani hidup disini. Kan seperti kata pepatah dimana bumi dipijak disana langit dijunjung. Ya sah-sah saja mau jadi orang kaya yang ga rela tangan halusnya kotor tapi balik lagi kalian itu sedang ada dimana, itu dulu.

Advertisements

BBQ di Taman

Salah satu yang menarik dari hidup di Australia adalah taman. Disini (terutama di Melbourne) taman merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Taman pun dibuat se asri dan se ramah mungkin terutama buat anak-anak dan anjing, hahh… anjing??? iya anjing, disini anjing merupakan sahabat dan sudah di-manusia-kan secara tidak langsung. Jadi jangan heran jika dibeberapa fasilitas umum ada slot atau tempat khusus untuk binatang menggonggong ini.

Hari ini, kami terlibat dalam sebuah acara lingkungan katolik disini (kalau bingung googling ya lingkungan itu apa dalam agama Katolik), kami kebetulan tergabung di lingkungan Santo Antonius berdasarkan tempat tinggal kami. Santo yang sama seperti Santo pelindung anak pertama kami si AL. Acara ini diadakan untuk mengucap syukur kepada Dia sekalian merayakan Natal bersama dan menutup tahun 2018 yang luar biasa, dan memohon berkat untuk tahun 2019.

Kami pun mengadakan acara BBQ di salah satu taman yang sudah dipilih. Taman nya bagus dan asri, juga luas dan ada play ground nya. Kami pun berbagi tugas, ada yang nge tag meja dan area BBQ, ada yang bantu masak, ada yang bantu bawa barang, dll. Kebetulan tugas kami kebagian menyiapkan salah satu bahan buat BBQ yaitu sate ayam sebanyak 6 kilo hahaha… selain nasi putih dan masakan mie sagu ala korea yang disebut jap je (entahlah bener kaga nulis nya).

Acara berlangsung seru dan meriah, diselingi senda gurau dan perbincangan ringan tidak terasa waktu bergerak cepat ke jam 2 siang. Setelah makan sampai kenyang dan mengikuti beberapa acara permainan, kami pun mulai berkemas dan membersihkan area BBQ yang semua nya gratis… tis… tis… uenak yo rek…. hahaha…, setelah selesai berkemas sambil membagi-bagi makanan yang kelebihan banyak, kami pun beranjak, tidak lupa saya mampir membeli satu (satu doank loh yaa…..) DUS bir (halah…) sebelum pulang ke rumah.

Bisa mendapatkan visa PR dan hidup di negara seperti Australia merupakan impian di awang-awang yang tadinya sempat saya percaya hanya akan ada di impian selamanya. Lah gimana ga coba, saya tidak pernah sekolah ataupun kuliah di Australia, juga ga pernah dapet working and holiday visa di Australia, juga ga pernah kursus singkat di Australia, punya modal juga ga, bukan dari keluarga berada dan yang paling parah adalah bahasa Inggris saya itu benar-benar amburadul sampai-sampai istri saya pernah ragu begitu saya bilang “saya mau bawa kita dan anak-anak ke Australia” karena ke-amburadul-an bahasa Inggris saya yang bahkan susun grammar saja bingung…. ini serius…

Itu kenapa, sampai detik ini saya masih dalam posisi yang setengah tidak percaya setengah terkesima bisa berada di negeri ini. Terlepas dari saya yang berusaha setengah mati mengejar ketinggalan saya dalam hal bahasa yang sangat pas-pas-an dan mengejar kemampuan teknis yang sudah tertinggal lumayan jauh, kehebatan Dia lah yang membuat kami tetap mampu berdiri disini dari awal hingga hari ini.

Saya benar-benar bersyukur untuk semua hal ini, dan berusaha sebisa mungkin untuk bisa meningkatkan kemampuan bahasa saya agar bisa semakin baik setiap waktu nya.

Selamat tinggal 2018 yang sebentar lagi akan berakhir dan selamat datang 2019, semoga kami bisa semakin baik lagi kedepannya.

Emeritus?

Gerahnya malam ini, membuat saya terjaga sekarang. Suhu yang sudah mulai naik ke angka diatas 35 derajat hari ini turut meng-katrol suhu malam ke level yang lebih tinggi dari biasanya. Iya, musim panas sudah datang.

Musim panas di Melbourne, bisa menjadi sangat ekstrim, dulu sempat sampai menyentuh 40 keatas, ditambah udaranya yang kering (tidak lembab seperti di Indonesia) membuat kita sering kesulitan untuk napas, bayangkan kalian di ruang sauna tanpa handuk basah, engap-engapan kan napas nya.

Suhu setinggi itu bisa bertahan selama seminggu, dan setelah nya akan bermain di angka rata-rata 35 keatas. Duh, mudah-mudahan tahun ini ga separah itu (ngarep.com).

Tadinya kepikiran “apa saya nge-wine aja ya, karena ada satu saya taro di lemari pendingin” tapi saya urungkan niat itu karena kalau nge-wine kan makin panas ya badannya… ah… ga papa deh (Hahaha….) akhirnya nge-wine juga, lagaknya banyak kali ya saya ini, maap…

Iseng, saya buka web saya di seksi rating, eh… mata saya tertuju pada 1 artikel yang pernah saya tulis mengenai CCIE, tepatnya 5 tahun menjadi CCIE. Dalam beberapa bulan kedepan, saya akan masuk tahun ke 10 menjadi CCIE aktif. Sempat terbersit untuk memperpanjang masa aktif salah satu sertifikat mentereng yang saya pegang itu. Tapi…. kok rasanya ga begitu bermanfaat seperti sebelumnya ya. Belum lagi biaya perpanjang yang semakin mahal saat ini, kurang lebih 6 jutaan rupiah (alamak….) dan saya ga bisa klaim ke kantor tempat saya kerja karena saya tidak bekerja di Partner sekarang.

Nah, itu juga jadi alasan berikutnya, saya sudah tidak bekerja di partner lagi kan, karena lebih banyak di end user saat ini. Ada plus minus nya sih kerja di Partner dan di End User yang ga akan saya jabarkan disini karena terlalu panjang sedangkan kepala mulai menari gemulai akibat pengaruh wine! parah emang…

Balik ke bahasan semula tadi, karena sempat terbersit tadi, saya berpikir untuk meng-emeritus-kan CCIE saya tahun depan karena setelah 10 tahun seharusnya kita entitled untuk masuk program Emeritus dari Cisco untuk level CCIE. Dengan meng-emeritus-kan CCIE, kita bisa tetap membuat CCIE kita aktif dengan mengambil salah satu ujian tertulis kapan saja, jadi semacam membekukan status CCIE kita bukan meng-nonaktif-kan, kekurangan nya adalah saya ga tau apakah level profesional ikut beku atau malah nonaktif, karena saya pegang level profesional lumayan banyak jadi rada sayang juga, tapi ya sudahlah… toh ga begitu efek lagi saat ini, apalagi di negara seperti Australia.

Disini, saat bekerja mereka hanya memerlukan level kita di CCIE tanpa harus menjadi seorang CCIE aktif (banyakan begitu) kecuali posisi-posisi tertentu ya, dan juga tempat-tempat kerja tertentu seperti partner misalnya. Lebih jauh lagi, perkembangan dan pergeseran teknologi yang sekarang sudah mulai software centric membuat sertifkat semacam CCIE tidak benar-benar mentereng seperti 10 tahun lalu apalagi 20 tahun lalu. Ya…. orang-orang yang memiliki CCIE tetap memiliki ke-esklusif-an nya sendiri sih… hal itu tidak terbantah kan walaupun di Negara seperti Australia sering kali malah keluar pertanyaan “Ohh… you are CCIE, so what?” Hahaha….

Apapun itu, meng-emeritus-kan nomor registrasi sertifikat seperti nya akan menjadi jalan yang saya ambil, karena bayar nya lebih murah… toh, jika suatu hari saya kembali ke jalur partner, saya tinggal mengaktifkan nya lagi kan (mudah-mudahan bisa).

Kalau mau tahu apa itu CCIE, bisa dibaca disini.

Saya termasuk beruntung karena saat ini terlibat dalam sebuah proyek transisi dari hardware ke software base, di tempat kerja saya sedang melakukan transformasi jaringan mereka ke platform ACI/ SDN, dan saya menjadi salah satu bagian yang mengawal proses tersebut. Hal ini membuat saya jadi belajar banyak sekali hal baru yang tentunya nanti akan sangat berguna untuk port-folio saya kedepan.

Apapun itu, saya akan melihat apa yang akan terjadi kemudian. Bisa saja tiba-tiba dapat tawaran yang lebih baik kan hehehe…. kita tidak akan pernah tahu kejutan apa yang akan datang kepada kita. Yang kita perlukan hanya menyiapkan hati dan mental agar bisa lebih siap untuk hal yang mengejutkan tersebut.

Baiklah… sekarang saatnya menghabiskan wine saya dan mencoba untuk kembali tidur lagi, karena dalam beberapa jam lagi saya harus memenuhi janji saya ke anak-anak untuk membawa mereka mengunjungi salah satu musium terkenal di Melbourne.

Sing ngangeni

Hampir 19 purnama sudah saya membawa keluarga kecil saya migrasi dan merantau ke Melbourne, Australia.

Selama ini pula saya sering membayangkan hal-hal yang membuat kangen, apalagi kalau ada kawan yang sedang memposting hal tersebut baik yang sedang ada disana atau yang sedang jalan kesana.

Yang pertama, es teh. Yaelah… bikin sendiri aja jo!

Beda bung, entah kenapa minum es teh di warung makan itu beda sama bikin sendiri walaupun saat saya tinggal disana.

Yang kedua, buah salak! Ini adalah buah kesukaan CEO perusahan saya bekerja sebelum saya migrasi kesini. Entah kenapa lah kok kesukaan nya sama hahaha… setiap meeting sama beliau sampai malem, pasti diusahakan ada buah salak. Disini, selama ini saya ubek-ubek semua pasar traditional sampai shopping centre, sampai saya bela-belain ke utara dan barat, tetep tidak ketemu buah satu ini. Kalau rambutan saya masih pernah ketemu, tapi kalau salak haduh-haduh… belum sampai sekarang.

Yang ketiga, ketidak-tertiban. Nah aneh kan… tapi bener loh… saya sering kali kalau sedang terburu-buru suka kangen dengan jalanan disana yang bisa asal terobos. Disini… harus jaga kelakuan kalau ga mau SIM nya di cabut hiks…

Selanjutnya, suasana lebaran lengkap dengan takjil, kolak, dll. Dan juga suasana imlek lengkap dengan makanan manis, angpao, dll. Disini kedua perayaan itu biasa saja, datar-datar saja. Terlebih ga ada keluarga seabrek-abrek seperti imlekan disana membuat perasaan semakin mengharu biru…. halah… hahaha…

Sebetulnya masih banyak sih hal-hal lain yang bikin kangen, misalnya aneka rujak-rujakan, rujak buah, rujak juhi, hadalah… jadi ngeces saya. Trus aneka buah tropis yang belum ada disini atau susahnya minta ampun untuk ditemukan seperti salak itu tadi, trus bangkuang hahaha…

Hidup disini, karena saya sebelumnya menghabiskan 30 tahun lebih disana, kadang membuat rasa kangen ini meledak-ledak. Memang… banyak hal baik yang bisa didapatkan disini, seperti metode mendidik yang buat kami lebih masuk bagi anak kami terutama si mbarep ya. Belum lagi kehidupan disini yang lebih teratur dan menenangkan. Dan kalau dari sisi pekerjaan buat saya lebih baik karena dari sisi family time dan apresiasi nya benar-benar beda sama disana. Tetep saja disana ada hal-hal yang bikin kangen kan…

Keputusan untuk migrasi dan merantau itu bukan hal mudah untuk diambil, sangat sulit loh… terlebih saat kita sudah mulai mapan. Kalau bukan karena saya punya impian mau anak-anak saya sekolah di luar negeri dari kecil, kemungkinan besar sekarang kami masih disana.

Ya… normal sebagai manusia untuk merasa kangen terhadap sesuatu. Terlebih saya menghabiskan lebih dari 30 tahun disana.

Saya tetap bersyukur dan memang sudah seharusnya bersyukur, untuk kehidupan yang kami jalani disini. Sebuah kehidupan yang jauh lebih baik menurut versi kami terlebih untuk kedua anak kami.

05.14 sekarang dan hari ini sebetulnya libur karena Melbourne Cup. Tapi entah kenapa saya justru terjaga dari jam 4 pagi dan ga bisa tidur lagi. Mungkin karena proyek besar yang sebentar lagi mulai dan cukup mengganggu pikiran saya. Mungkin juga karena akhirnya posisi semi permanent yang akhirnya dipublish walaupun saya pun sudah nothing to lose.

Entahlah…

Satu yang pasti, hidup disini ada tantangan-tantangan tersendiri juga. Tapi kami tidak menyesal saat memutuskan untuk migrasi dan meninggalkan semua yang kami miliki disana. Terlebih saat melihat perkembangan anak-anak kami.