Macet…

Hari ini bukan hari saya, jangan bingung ya karena itu adalah salah satu ungkapan orang-orang sini kalau lagi mendapatkan kesulitan dalam hari itu.

Dimulai dari pagi hari kena macet hampir 35 menit karena ada jalan ditutup sampai tanggal 15 September nanti yang membuat waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit jadi molor ke 65 menit, haiyahhh….

Udah gitu, seharian diisi miting seharian sampai kepala rasanya muter sendiri seperti gasing. Miting yang harus saya rangkum sebaik-baiknya karena harus saya alihkan kepada pengganti saya sebelum hari Jumat ini.

Waktu pulang rasanya lega sekali karena perut lapar dan udah pengen pulang rasanya. Ehh… begitu belok ke Alexandra Parade kok macet nya ga biasa. Setelah 45 menit ga bergerak terlalu jauh, akhirnya saya buka radio dan ada berita jika Alexandra Parade ditutup beberapa ruas dan yang ditutup 2 arah sebelum dan sesudah freeway M3, semacam jalan tol tapi gratis yang merupakan jalan arah pulang saya.

Haduh mules rasa nya, usah laper, kena macet pulak, itu kombinasi yang tidak mengenakan, dan tinggal ditambah kebelet pipis maka rasanya dah komplit pake telor.

Tapi… dibalik kemacetan itu saya melihat hal yang tidak saya temui di Jakarta. Semacet-macetnya, saya tidak melihat ada perempatan yang ke blok karena kami tetap saling mengalah dan menjaga agar tidak membuat kemacetan semakin meluas walaupun ga ada Polisi yang menjaga dan mengatur (tingkat penempatan otaknya benar-benar beda ya…). Yang lainnya, tidak ada yang berusaha berdesak-desakan saling menyalip atau memotong di jalur yang lain demi memuaskan ego birahi mereka.

Semua tertib di jalurnya masing-masing sambil sekali-sekali berusaha ganti jalur ketika diberi kesempatan untuk masuk oleh kendaraan dijalur lainnya. Benar-benar tertib walaupun kemacetan hari ini benar-benar menjengkelkan apalagi untuk mereka yang tidak sering kena macet seperti saya di Jakarta. Saya aja dah jengkel hehehe…

Yang ada tanda strip digambar diatas itu adalah jalan yang ditutup paksa secara tiba-tiba sore tadi.

Terpaksa saya musti muter-muter cari jalan bergabung bersama mereka-mereka yang senasip dengan saya karena jalan pulang utamanya tertutup tiba-tiba (biasanya karena ada kecelakaan). Setelah 2 jam akhirnya saya berhasil melepaskan diri dari kepungan mobil dan masuk ke freeway lagi dari titik lain horeee… yeyy… rasanya itu bagaikan kita sedang kebelet dan nahan pipis yang sudah sampai di ujung lalu ketemu toilet dan sampai ke urinal nya, buka resleting celana tepat sebelum kelepasan mancur dan aahhhh…. legaaa sekali rasanya kan… (udah ga usah lu bayangin beneran sambil nahan napas… hahaha….)

Setelah masuk freeway, saya cuma butuh 15 sampai 20 menit untuk duduk di bangku makan dirumah sambil menikmati sebotol Corona untuk mengusir haus dan melepas lelah.

Ahh… seger rasanya… ga perlu takut dikafir-kafirin hanya gegara sebotol Corona. Hidup di Negara seperti ini benar-benar santai dan memiliki perasaan aman. Tidak hanya aman dari kriminal dan kejahatan tapi juga aman untuk privasi masing-masing, aman untuk tidak terintimidasi oleh kaum mayoritas, aman untuk tidak takut menjalani ibadah, aman untuk tidak takut ditutup atau dibubarin paksa saat Ibadah dsb.

Dan yang pasti aman dari otak-otak setengah kosong yang nuntut untuk harus di mengerti terus menerus karena merasa jumlahnya lebih banyak dan empunya tanah leluhur tanpa mau mengerti dan berbagi dengan pihak lainnya.

Dah ahh… jadi ngelantur kan saya, malam ini entah kenapa saya terjaga padahal badan sudah cape sebenernya. Mungkin karena saya mikirin handover yang harus saya lakukan sebelum Jumat ini dan itu tidak mudah, sangat tidak mudah karena kompleksitas nya tapi tetap harus diusahakan sebaik mungkin, sekarang mending buka corona lagi ahh… sambil nunggu ngantuk.

Advertisements