Enak ya….

3 tahun belakangan ini, semenjak migrasi ke Australia saya sering banget dengar kalimat “enak ya bisa tinggal di Melbourne, pengen deh kaya lu”, ya sebetulnya ga salah juga sih sama kalimat ini, hanya saja jika latar belakang pengucapannya untuk membandingkan kehidupan kalian dengan saya, ya itu kutang halah…. kok malah kutang, maksudnya mau ngetik kurang hahaha… iya itu kurang bijak ya. Kenapa begitu? gini loh…

Alasan yang paling dasar adalah kalian kan ga tau seperti apa proses yang saya lalui untuk sampai ke titik ini. Kalau kalian tahu, bisa jadi kalian akan lebih bersyukur untuk kehidupan yang kalian miliki ketimbang bermimpi memiliki kehidupan yang saya jalani saat ini hahaha… ini serius loh, proses yang saya lalui itu tidak melalui karpet merah dan hujan dollar. Disamping itu alasan lainnya adalah saya percaya kehidupan setiap manusia itu tidak ada yang lebih baik dibandingkan lainnya dan sebaliknya juga begitu. Karena saya percaya setiap manusia itu hidup menurut kecepatan dan waktunya masing-masing yang unik dan sesuai bagi ya mereka sendiri.

Sering kali kita itu hanya menggunakan segala sesuatu yang terlihat dan silau saja sebagai ukuran, dan melupakan hal lainnya dalam kehidupan yang sebetulnya jauh jauhh jauhhh lebih berharga dari setumpuk uang maupun sekarung berlian, bahkan ada yang tidak terbeli oleh apapun loh… Itu lah kenapa kita kurang bijak ya kalau membandingkan kehidupan yang kita jalani dengan orang lain, karena kehidupan yang mereka jalanin belum tentu pas jika diterapkan di kehidupan kita kan. Selain itu, kita juga tidak tahu apa sebenarnya keadaan di dalam kan, walaupun dari luar terlihat silau dan cetar, tapi siapa yang tahu dalam hati dan pikirannya seperti apa, iya ga… mana ada orang yang mau pamer aib nya ke umum… yang ada juga pamer harta dan pencapaian yang bagus-bagus, ya kan… ya kan… itulah kenapa kita bisa saja melihat jika kehidupan seseorang itu cetar tapi belum tentu didalamnya mereka lebih cetar dan bahagia dari kita.

Saya sering berkata kepada mereka yang suka membandingkan kehidupan mereka dengan saya tanpa mengetahui sejarah dan latar belakang yang sudah atau sedang terjadi di belakang layar kehidupan yang mereka anggap “sudah enak” tadi, dengan satu kalimat tanpa bermaksud menggurui mereka karena saya sendiri pun tidak tahu apa latar belakang mereka melakukan hal itu. Kalimat itu adalah “percayalah jika kehidupan saya tidak lebih enak dari miliki kamu dan sebaliknya, dan percayalah diluar sana banyak yang ingin menukar kehidupan mereka dengan yang kamu miliki”

Disamping itu, hidup di Australia itu ga semua enak tahu… di setiap tempat pasti ada enak dan ga enak nya. Selain jauh dari keluarga, hidup disini juga harus siap dengan cuaca ekstrem. Mau tahu bisa se ekstrem apa? disini itu kalau summer bisa sampai 45 derajat panasnya, walaupun saat winter paling banter -2 derajat sih…. tapi yang jadi masalah bukan summer atau winter nya bro…. tapi naik turun ekstrem nya yang kaya yoyo, pernah terjadi pagi 20 derajat, menjelang siang naik ke 35 derajat, pas siang 43 derajat lalu sore drop lagi ke 32 derajat, pas jam 6 sore turun ke 20an lagi dan malam 9 derajat doenkkk… hahaha… Selain suhu yang naik turun seperti itu (yang sejauh yang saya tahu paling parah di Melbourne) ada juga ancaman bencana bush fire (kebakaran hutan) yang setiap tahun mengintai. Tahun ini malahan ga mengintai lagi tapi sudah terjadi dan menyebabkan banyak sekali kerugian dan korban jiwa baik dari manusia maupun hewan. Yang ga disangka itu adalah saat sedang kebakaran hutan tiba-tiba ada badai hujan es batu, mantap ga tuh…. benar-benar diluar nalar ya, dan semua ini salah satu akibat dari pemanasan global yang mengubah iklim jadi ga karuan. Walaupun ga semua daerah di Australia kena kebakaran hutan, tapi asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan itu nyebar kemana-mana loh, kemaren saja sampai ada warning dari pemerintah jika kualitas udara di kota Melbourne memburuk karena asap dan memang kota ini benar-benar tertutup asap yang bikin sesak napas, sampai di anjurkan menggunakan masker saat harus keluar rumah.

Hidup di Australia memang saya akui lebih enak dari di Indonesia jika berdasarkan sisi keamanan, pelayanan umum, kesehatan, pendidikan, polusi yang rendah, tertib dan sebagainya (untuk saat ini). Tapi kedepannya kan kita tidak tahu akan seperti apa, apalagi dengan banyaknya imigran dari negara lain ikut menyumbang ketidak tertiban yang semakin sering terjadi belakangan ini, dan tingkat keamanan pun semakin turun walaupun belum separah di Indonesia yang bisa sampai orang sedang ibadah dibubarin paksa, atau tawuran antar ormas dll.

Jadi…. ayo belajar menggunakan kehidupan orang lain sebagai motivasi agar kita bisa lebih baik lagi bukan sebagai acuan ukuran perbandingan siapa yang lebih baik, karena ingat setiap manusia itu unik dan memiliki kehidupan nya masing-masing dengan kecepatan dan waktu yang paling sesuai dengan diri mereka masing-masing.

Summer (again)

Setelah beberapa minggu terakhir berjibaku dengan suhu yang naik turun dengan ekstrim dan badai asthma (yang ternyata juga terjadi 3 tahun lalu) yang membuat penderita atau carrier asthma seperti kami sekeluarga setengah mati karena harus berhadapan dengan alergi yang tidak terduga yang disini dikenal dengan istilah hay fever, benua ini pun mulai masuk ke musim panas di hari ini. Suhu “seksi” yang menyengat kulit pun mulai kembali mengawali musim Desember ini dan menjadi bagian dalam proses persiapan menyambut hari Natal dimana suhu nya beranjak naik sedikit demi sedikit sampai pada puncaknya yang biasa terjadi di bulan Januari nanti.

Musim panas tahun ini akan menjadi musim panas ketiga kami, musim yang 3 tahun lalu kami tunggu-tunggu apalagi saat musim dingin yang sekarang tidak kami tunggu lagi setelah merasakan sengatan panas nya yang aduhai itu. Suhu panas yang tahun ini bertahan cukup lama sampai bulan April membuat kami semakin merindukan musim dingin hahaha… manusia memang tidak ada puasnya ya… semoga musim panas kali ini tidak bertahan terlalu lama, walaupun kalau saya lihat pergerakan naik turun suhu yang ada kok rasa-rasanya bakalan lama lagi panas nya sekarang, entahlah…

Desember juga identik dengan sibuk tidaknya sebuah pekerjaan, ga tau juga sih kalau kerjanya di partner atau service provider ya, tapi kerja di end user most or less kesibukan juga benar-benar menurun jauh… orang-orang disini cenderung santai kalau sudah masuk ke bulan di akhir tahun, dan mereka cuek-cuek saja browsing berita bahkan bermain sosial media, toh ga banyak yang dikerjain juga kan… gaya kerja yang kemudian mempengaruhi gaya kerja saya juga secara tidak langsung. Gaya kerja yang awal-awal membuat saya cukup nervous karena tidak terbiasa mengingat dulu di Jakarta kan lembur-lembur ga karuan hahaha… tapi sekarang mulai saya nikmati. Ya moga-moga tidak membuat penilaian saya menjadi jelek ya… mustinya ga sih…

Saya memindahkan ambisius saya ke tempat lain saat ini, dan itu yang menjadi landasan impian-impian saya berikutnya

Masuk ke bulan Desember juga berarti waktu bagi kami untuk melakukan medical check up, kami (selalu) berusaha rutin medical check up paling tidak setahun sekali, toh gratis ini kan… malah kami sebetulnya dihimbau oleh dokter umum sini untuk melakukan medical check up paling tidak setahun dua kali, tapi masih belum kami lakukan karena malas hehehe…. (padahal mah saya sebenernya takut ma jarum… abis atit…). Di bulan ini juga biasanya saya melakukan instropeksi diri untuk apa saja yang sudah lewat dalam setahun, hal yang baik-baik saya pertahankan dan yang kurang-kurang saya coba perbaiki atau setidaknya tidak diulang, begitu juga dibulan ini biasanya saya membuat rencana atau impian baru yang ingin saya kejar di tahun berikutnya, baik buat saya sendiri maupun buat keluarga kecil saya.

Saya sekarang mulai belajar mengejar hal-hal yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang, hal-hal yang hanya bisa di mengerti oleh mereka yang mampu bersyukur dengan mengatakan cukup dan juga sudah selesai dengan dirinya sendiri

Sempat tergelitik beberapa saat lalu mengenai enak tidak nya menjadi orang kaya. Saya secara pribadi tidak menolak jika diberi berkat menjadi orang yang berkelimpahan oleh-Nya, tapi jauh diatas hal itu saya tidak ingin menghabiskan hidup dan waktu saya untuk fokus mengejar uang dan menjadi budak uang hanya untuk mengejar status dan kekayaan materi belaka. Saya sudah pernah berada di titik terbawah dan melewati fase jungkir balik dalam kehidupan saya, dari semua pengalaman itu saya belajar banyak hal tentang kehidupan begitu juga cara saya memandang hidup itu sendiri. Bisa memiliki kehidupan yang berkecukupan dan sehat sudah menjadi berkat luar biasa bagi saya dan keluarga, tidak perlu harus mati-matian dikejar sampai harta yang kami miliki sisa-berlimpah-ruah yang bisa digunakan untuk menghidupi anak cucu kami sampai tujuh turunan.

Bukan karena saya tidak ambisius ya…, tapi saya merasa sudah selesai dengan diri saya sendiri dan ingin mengejar hal lain dalam sisa waktu hidup saya yang mungkin saja lebih singkat dari yang saya bayangkan. Saya memindahkan ambisius saya ke tempat lain saat ini, dan itu yang menjadi landasan impian-impian saya berikutnya. Saya sekarang mulai belajar mengejar hal-hal yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang, hal-hal yang hanya bisa dimengerti dan dirasakan oleh mereka yang sudah mampu bersyukur dengan mengatakan cukup dan juga sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sudahlah… membahas tentang hal yang satu ini memang tidak pernah ada habisnya karena semua kembali kepada tujuan hidup yang ingin dicapai oleh setiap manusia yang saya percaya pasti berbeda-beda dan selalu berubah seiring waktu dan menua 🙂 .

Bulan ini juga identik dengan bulan persiapan penyambutan Natal, hiasan-hiasan khas Natal sudah mulai bertebaran saling bersaing mempercantik kota ini, duh adem sekali lihatnya… disini ada rasa damai yang tidak terungkap saat merayakan Natal. Terlepas dari Kristiani adalah mayoritas disini, semua agama dan keyakinan di Australia dilindungi hukum yang sama dan adil, dan saling menghormati satu dengan lainnya tanpa memandang siapa mayoritas dan siapa minoritas. Selain itu Negara sendiri pun hadir ditengah-tengah mereka sebagai penyeimbang, jadi tidak ada tuh disini lembaga/ kelompok tertentu yang bisa mengatur surga neraka sesuka mereka apalagi sampai memaksakan aturan surga neraka mereka ke kelompok lain atau melangkahi kedaulatan Negara itu sendiri, mungkin hal itu yang justru membuat damai ya… Seandainya hukum di negara kita bisa lebih tegas dan benar-benar bisa hadir, saya percaya semua yang radikal itu terlepas dari latar belakang agama dan kepercayaan yang ada, pasti dapat diberantas habis dan Indonesia bisa lebih tenang dari semua kegaduhan yang ada selama ini karena sebagian kelompok yang bukan hanya merasa paling suci tapi juga memaksakan kesucian mereka diterima oleh lainnya.

Ijazah

Belakangan ini dunia maya sedang hebring (ga heboh-heboh amat sih…) video tentang penting atau tidak nya selembar Ijazah yang dibawakan salah satu pesulap terkenal Indonesia Bang Deddy C, yang beredar luas di Facebook.

Dalam video itu sampai dikatakan oleh dia jika perusahaan sekelas Google dan Facebook saja ga nanyain ijazah atau lulusan mana saat menerima pegawai. Yang pada akhirnya keseluruhan isi video itu jadi kontroversi (menurut saya) karena cara orang menanggapi isi video itu jadi berbeda-beda (termasuk saya).

Saya secara pribadi tidak melihat isi video itu secara substansi karena memang tidak bisa dilihat dari satu bagian saja tapi harus keseluruhan, dan saya berusaha menangkap apa yang sedang ingin disampaikan oleh pembicara di video itu (yang semoga tidak melenceng terlalu jauh) secara keseluruhan.

Apakah saya termasuk yang pro anak tidak perlu sekolah tinggi? tidak juga, karena hal itu adalah motivasi saya migrasi ke Australia, yaitu ingin anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang lebih baik (menurut saya).

Lalu apakah saya termasuk orang yang pro jika anak tidak perlu menguasai semua mata pelajaran? iya juga, itu juga yang menjadi motvasi saya migrasi ke Australia, karena kurikulum disini tidak mengenal rangking untuk naik kelas.

Apa yang saya tangkap dari video itu adalah kita sebagai orang tua tidak perlu memaksakan anak kita harus bisa menguasai semua mata pelajaran di sekolah apalagi sampai untuk mengejar nilai terbaik, juara dan sebagainya. Hal ini yang juga sering salah kaprah dan membuat si anak stress (yang belajar si anak yang kompetisi orang tuanya), seperti yang dikatakan dalam video itu jika guru masing-masing mata pelajaran saja berbeda kenapa si anak harus menguasai semuanya. Isi video itu sedang berusaha memberitahu kita jika setiap individu memiliki kekuatannya masing-masing, dan daripada kita berusaha meningkatkan apa yang menjadi kekurangannya, sebaiknya kita meningkatkan kekuatan si anak itu sendiri karena akan lebih berguna untuk masa depan dan psikologis si anak, dan itu juga tidak salah.

Masalah Ijazah itu sendiri, saya secara pribadi ga mendengar pembicara sedang melakukan doktrin jika kita tidak perlu mengkuliahkan anak kita atau tidak perlu memiliki Ijazah. Yang sedang dia sampai kan adalah, kita tidak perlu memaksakan anak kita untuk bisa lulus dengan IPK luar biasa dan dari Universitas Unggulan hanya karena kita ingin merasa bangga punya anak pintar secara akademis, karena kembali lagi ke masing-masing individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Saya termasuk orang yang ingin anak-anak saya sekolah setinggi mungkin, kalau bisa sampai S3, 4, 5, 6 dan seterusnya hehehe… tapi saya juga tidak setuju jika ijazah yang kita dapatkan di dunia pendidikan itu dijadikan alat untuk menyaring saat kita mencari pekerjaan, kenapa? karena ijazah hanya menunjukan jika kita sudah sampai ke tahap tertentu dalam berfikir, hanya itu. Dan membentuk kerangka berfikir tidak serta merta hanya bisa didapatkan di bangku sekolah atau kuliah loh…, tapi bisa didapatkan dari banyak hal terutama pengalaman hidup itu sendiri.

Seperti yang kemudian saya bagikan kembali ke lini masa saya sekaligus saya komentar jika selama saya mencari pekerjaan di Australia tidak pernah ditanya Ijazah saya apa, dan saya tidak sedang bercanda karena itu yang terjadi. Sangat berbeda dengan di Indonesia, selama saya mencari pekerjaan jangankan ditanya lulusan mana dan ijazahnya apa, bahkan fotocopy ijazah itu sendiri harus dilampirkan sebagai bukti saat melamar pekerjaan. Hal ini yang menurut saya menjadi bola salju yang kemudian menggerakan para orang tua untuk mendorong anak-anak mereka agar bisa mencapai pendidikan tertinggi agar mereka mudah mencari pekerjaan (yang nyatanya tidak mudah juga kan…). Dan konsep itu juga akhirnya membuat semua yang hidup di Indonesia memiliki pola pikir jika kita tidak memiliki ijazah maka kita akan sulit mendapatkan pekerjaan. Salahkah itu? ga tuh… karena yang kalau mau hidup di Indonesia dan tidak ingin menjadi pengusaha, ya harus punya ijazah agar lebih mudah saat mencari pekerjaan, karena itu lah apa adanya di Negara kita.

Lulusan universitas terkenal apalagi dari luar negeri dan dengan IPK tinggi bukan hal yang tabu untuk dikejar, karena hal itu membantu kita membangun cara pandang kita, mengenal hal lain, dan memiliki kerangka berfikir yang lebih baik selain membuat kita menjadi lebih jeli dan bijak (semoga) dalam melihat sebuah masalah. Tapi, semua itu bukan sesuatu yang konsepnya hidup-mati dimana kalau tidak tercapai maka hidup akan suram dan sebagainya. Kita boleh bangga jika anak-anak kita mampu sampai ke tahap itu dan bisa membuat mereka membangun kehidupan mereka sendiri sampai ke level yang mereka inginkan, tapi jangan membuat hal itu menjadi beban untuk mereka karena jalan itu bukan satu-satunya jalan untuk mencapai impian mereka dan berbahagia dalam kehidupan mereka.

Karena bangga itu sifatnya sementara dan bukan syarat untuk menjadi bahagia…

Salam……………..

Tantangan tinggal di Melbourne

Minggu pertama November pun lewat sudah, cepet ya… sekarang sudah masuk minggu kedua dan tahu-tempe sudah masuk Desember. Jadi pengen makan mendoan gara-gara ngetik tempe hahaha… ngomong-ngomong kalian tahu ga sih kalau tempe mendoan itu adalah tempe yang digoreng pakai tepung tapi setengah matang? bahkan tepungnya saja setengah matang alias masih putih-putih gitu loh… makanya saya suka bingung kalau mesen tempe mendoan di Jakarta bahkan di Melbourne yang datang tempe goreng kaya gorengan abang-abang gitu, kriuk-kriuk hahaha… lah itu mah tempe goreng biasa.

Selama tinggal di Melbourne saya lumayan sering nulis tentang kehidupan kami disini baik itu suka maupun duka nya, maupun gambaran umum seperti sekolah, keamanan, bahkan sampai taman disini seperti apa. Nah… entah kesambet apaan dan emang karena lagi ga banyak yang dikerjain (atau memang ga banyak dikasih kerjaan karena masih anak bawang nan unyu-unyu hehehe….) tiba-tiba jadi kepengen nulis apa saja tantangan yang kami dan saya hadapi selama disini karena kok kayanya saya belum pernah nulis ya….

Oke, apa saja sih tantangan yang kami hadapi selama pindah dan tinggal disini?

Suhu ekstrim, wew… ini seriusan loh… di melbourne yang namanya suhu benar-benar bisa dan sering ekstrim banget jungkir baliknya, apalagi kalau pas winter dan summer. Tidak hanya itu, saat menjelang winter atau menjelang summer juga sering sadis naik turunnya, dalam satu hari suhu itu bisa naik dari angka 12 di pagi hari sampai 38 di siang hari lalu dibanting lagi ke 14 di malam hari. Ga sering sih… tapi walaupun cuma terjadi 3 sampai 4 hari dan sebulan beberapa kali ya remuk ambrol juga badan kalau ga biasa kan… Saat pas musim dingin, suhu bisa drop sampai nol derajat bahkan kadang sampai minus satu atau dua, ga separah di rusia sih yang bisa minus tiga puluh, tapi buat manusia tropis yang kulitnya masih norak seperti saya, awal-awal kena begituan amsyiong juga booo… saya sampai pakai baju 10 lapis buat nahan dingin sampai keliatan kaya combro, ga denk… cuman pakai tiga lapis plus jaket tebal doank kok waktu belum kenal yang namanya heattech (hahaha… maklum saya kan ndeso). Sekarang sih sudah mulai terbiasa ya… jadi ga separah dulu, paling pakai baju dua lapis plus jaket. Nah… beda lagi kalau lagi summer, itu suhu bisa nyampe ke 42 derajat loh…. ga setiap hari sih tapi walaupun terjadinya tiga hari juga lumayan, karena selebihnya suhu bermain di angka tiga puluh sampai tiga puluh tujuh, ditambah udara disini kering, jadi klop deh tuh…. dah kaya tinggal di sauna berhari-hari. Nah kalau selama winter saya bisa sampai berlapis bajunya, beda lagi kalau summer, saya biasa telanjang kemana-mana deh upss… ga denk…. (hayo bayangin apaan…), ga sampai telanjang kok kan maluu… saya biasa cuma pakai baju/ kaos tipis plus celana pendek komplit sama sandal jepit, jadi berasa seperti di Jakarta deh…, dan di musim ini juga tuh cewek-cewek mulai deh… menguji imron dengan pakaian mereka yang setengah telanjang itu… hadeh… Eh satu lagi, disini selama musim panas, walaupun sepanas itu tapi anehnya kami jarang keringetan loh… ya mungkin karena udaranya kering itu tadi kali ya. Yang pasti selama musim dingin dan panas, kita harus banyak minum biar ga dehidrasi, ini serius karena bisa pengsan loh… kalau ga banyak minum.

Bahasa, nah… ini juga jadi salah satu tantangan saya, ya gimana ya…. namanya kita bukan pengguna bahasa inggris aktif plus disini punya gaya bicara sendiri plus banyak slang plus suka gugup jadi kombinasi yang sukses membuat saya banyak aaa… eee…. aaa…. sambil muter-muter biji mata sembari mencari apa sih bahasa inggris nya kata ini atau itu, sampai dahi lawan bicara mengkerut sambil mikir ini “ini orang lagi mau ngomong, baca mantra atau sedang kesurupan ya…”. Menggunakan bahasa inggris secara aktif sebelum migrasi ke Australia itu sangat membantu loh, setidaknya kita belajar untuk tidak meng-inggris-kan bahasa indonesia saat sedang komunikasi dengan orang lain. Hal paling sulit disini yang saya rasakan sebenarnya bukan bahasa inggris itu sendiri, tapi lebih kepada istilah yang digunakan dalam percakapan terlebih kalau sudah menggunakan bahasa slang Australia, haduh bingungnya ga ketulungan deh… Saya sampai saat ini pun masih suka aa ee aa ee kalau ngobrol sama kawan kerja, terlebih kalau ngobrolin masalah umum yang tidak ada kaitannya dengan teknikal ya…. karena kadang cara mereka menggunakan kata nya diluar dugaan saya. Contohnya apa ya, oh… cara mereka bertanya apakah kita berhasil menyelesaikan sesuatu atau mendapatkan sesuatu saat kita sedang mengunjungi suatu tempat atau sedang bekerja disebuah masalah, coba tebak kata apa yang mereka pakai? begini cara mereka nanya “did you WIN something?”, WHATTTT???? win kan memenangkan sesuatu saat kompetisi, itu yang saya tahu yang ternyata salah hahaha….

Tantangan berikutnya adalah parkiran, haduh-haduh… untuk yang satu ini benar-benar tricky. Salah baca penanda jalan, atau salah parkir di tempat yang tidak seharusnya, atau melewati batas waktu parkir yang diperbolehkan, atau lupa bayar parkir ditempat yang tidak boleh parkir tanpa bayar bisa berujung kita kena denda yang aduhai nominalnya bahkan bisa sampai berakhir di derek nya kendaraan kita. Saya sendiri sudah pernah di denda gara-gara lupa bayar parkir hahaha…. sakit hatinya itu disini… gimana ga coba, biaya parkir cuman 2 dollar untuk 2 jam berakhir jadi bayar 89 dollar untuk 30 menit. Itu kenapa disini banyak orang memilih menggunakan public transport daripada pakai kendaraan pribadi kecuali terpaksa, contoh nya seperti kami ini nih yang sueerrriingggg banget terpaksa nya hahaha…. padahal sih males aja karena kebiasaan di Jakarta yang kemana-mana pakai mobil pribadi mululu.

Selanjutnya mata uang, kalau bicara dollar itu relatif lebih mudah hitung nya, tapi kalau sudah bicara sen nah…. kadang dapat kembalian saja jarang saya hitung kalau sudah sen-sen-an, bukan ga mau ngitung tapi bingung ngitung cepet nya karena tidak terbiasa, apalagi kalau dibelakang sudah ada yang antri mau bayar sambil melotot karena saya sudah bayar kok masih berdiri depan kasir mulu…

Mencari pekerjaan (baru) menjadi tantangan berikutnya dalam list saya. untuk hal yang satu ini mustinya dijadikan 1 tulisan tersendiri yang sudah pernah saya tuliskan disini. Tapi dari sisi lain, saya ingin memberikan gambaran tentang apa yang menjadi tantangan saat kita mencari pekerjaan disini apalagi saat baru migrasi kesini. Sebetulnya kalau bicara pekerjaan itu sendiri tanpa dipilah-pilah jenis pekerjaannya apa, relatif lebih mudah loh… tapi ya itu harus mau kerja apa saja dan biasanya casual. Pekerjaan casual itu artinya gaji mungkin tidak dilevel yang kita inginkan, tidak ada cuti, mungkin tidak ada superannuation (dana pensiun), dan masih banyak benefit lainnya yang tidak kita dapatkan. Jadi tantangan yang ada sebenarnya ada dua ya, yang pertama tantangan kalau kita kerja casual itu tadi, dan tantangan berikut nya adalah saat kita kerja decent atau biasa disebut kerja profesional. Yang ingin saya ulas disini adalah tantangan mencari kerja profesional, mencari pekerjaan profesional disini terlebih yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau pengalaman kita sangat tidak mudah apalagi untuk pekerjaan pertama, karena selain kita bersaing dengan orang-orang lokal, kita juga bersaing dengan mereka yang datang dari negara lain yang sering kali memiliki kemampuan bahasa inggris diatas kita yang dari Indonesia. Sebetulnya yang namanya pekerjaan pertama memang selalu yang paling sulit sih dimanapun kita berada, bedanya dulu saat di Indonesia kita kan baru lulus dan masih muda hahaha… jadi lebih luwes, nah begitu migrasi kesini kan sudah di level tertentu dan maunya kan ga jauh-jauh amat turunnya kalau dapat kerjaan lagi dan biasanya itu yang jadi ganjalan lain. Saya pribadi akhirnya memisahkan antara posisi dan gaji, saya merelakan posisi yang harus turun ke engineer pemula lagi walaupun dulu sudah di level manajer, tapi untuk gaji saya coba berjuang agar jangan parah-parah amat lah… (walaupun disini lebih fair tapi jangan berpikir disini sudah pasti dapat gaji sesuai kemampuan loh… karena itu tergantung kita kerja “dimana” dan sama “siapa” – tahu donk kenapa saya beri tanda kutip hihihi…) itu saja setengah mati, tapi akhirnya saya berhasil mengembalikan hampir semuanya ke posisi sebelum saya migrasi sih…. posisi sudah di level senior walaupun masih engineer dan gaji sudah di angka lumayan lah karena sudah bisa buat beli daging steak yang rada gedean klo lagi ngidam (apaan coba…).

Tapi sulit bukan berarti hal itu mustahil ya, masih bisa kok mendapatkan pekerjaan sesuai latar belakang yang kita miliki asal kita mau usaha terus, hanya saja kita harus sabar dan tidak mudah menyerah (walaupun susah ya… saya sendiri saja hampir menyerah waktu itu), dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana menjaga mental kita agar tetap waras dan sehat alias tidak jatuh dan hancur karena hal ini sangat penting saat kita sedang wawancara tatap muka. Saya sendiri pernah mengalami mental break alias mental saya jatuh dan hancur berantakan dulu saat pertama kali migrasi kesini karena susah banget dapat kerja plus saya stress dengan keadaan keuangan yang semakin nyusut, dan benar apa yang terjadi justru saya semakin susah mendapatkan pekerjaan profesional saat itu. Pekerjaan pertama selalu yang paling sulit, karena kita masih belum memiliki pengalaman lokal yang parahnya justru menjadi salah satu syarat utama disini. Walaupun kita sudah memiliki pengalaman lokal, tidak lalu serta merta menjadi mudah ya untuk mencari pekerjaan baru apalagi yang permanent, memang menjadi relatif lebih mudah apalagi jika kita sudah memiliki jaringan profesional dan kenal beberapa orang disini, tapi tetap harus berjuang juga.

Nah, sekarang tantangan lain saat sudah dapat kerjaan itu sendiri. Ini saya bicara tentang tantangan kerja di pekerjaan profesional yang normal menurut budaya kerja di Australia ya. Saat pertama kali kerja, jujur saya gugup dan kagok, gimana ga coba… biasa banting tulang lembur-lembur di Jakarta eh… disini kerja ritme nya langsung turun (ini dari sudut pandang kerja di end user ya, bukan di service provider, partner atau principal walaupun banyak sharing juga dari temen-temen yang kerja disana kalau ritme nya mirip-mirip lah…), jadi santai banget menurut saya. Pernah saya sampai rada stress dan bertanya ke diri sendiri ini masa percobaan bakalan lewat ga ya kalau kerja seperti ini? kalau ga lolos kan berabe karena saya single income di tanah asing begini. Setelah beberapa waktu saya mulai bisa mengikuti ritme dan gaya kerja disini yang memang ya santai. Disini orang sangat jarang mau diganggu waktu bersama keluarga, waktu kerja ya kerja beneran dan saat sudah waktu diluar kerja ya sosialisasi sambil nge-beer dengan kawan atau bersama keluarga. Trus gimana kalau harus lembur, ya itu bisa di atur, dan ada pilihan apakah ingin diganti dengan dollar untuk waktu yang digunakan untuk lembur atau diganti dengan waktu libur dihari kerja lain. Loh… bukannya enak kalau begitu? iya saat kita sudah terbiasa ya enak, tapi di awal-awal perubahan ritme ini cukup membuat bingung dan menantang batin karena kadang kita benar-benar bengong ga tau mau ngapain, mau ngobrol sama kawan belum tentu kan ada yang cocok, mau sok kenal sok dekat ya bisa-bisa saja tapi kan mereka belum tentu ga sibuk seperti kita. Jadi ya kagok-kagok juga sih, dan yang paling bikin was-was adalah karena kita tidak tahu seperti apa gaya kerja disini terlebih di tempat kerja baru kita, jadi bertanya-tanya sendiri kan kalau ini bener ga ya…. ini bakalan bikin kita diberhentiin ga ya… ini kalau ga ada kerjaan begini bagus ga ya… dan lain sebagainya yang akhirnya berujung pada asumsi liar hadehh…. sampai ada satu kawan saya sampai bilang “lu jangan kebanyakan asumsi…”. Belum lagi gaya kerja disini yang beda sama di Jakarta, saya beruntungnya punya beberapa kawan yang sudah bekerja cukup lama disini, jadi mereka berbagi juga bagaimana cara kerja sama orang-orang di tanah kangguru ini, contoh misalnya usahakan segala sesuatu menggunakan email agar tertulis, di beberapa tempat ini penting loh… karena disini juga ada yang suka nyari kambing hitam (samalah dimana saja…). Dan yang bikin kaget lagi adalah saat mau cuti, disini saat cuti kita tidak perlu menuliskan nomor yang bisa dihubungi selama cuti, atau akan kemana saat cuti seperti di Jakarta. Dan cuti itu adalah hak, jadi kalau sampai harus ditolak pun harus ada justifikasi yang benar-benar solid, itulah kenapa sangat-sangat jarang yang namanya pengajuan cuti sampai ditolak oleh atasan karena bisa-bisa berbuntut panjang. Trus gimana kalau memang benar-benar butuh membatalkan cuti? biasanya dibicarakan empat mata, tapi tetap atasan tidak berhak membatalkan cuti dan tidak boleh mempersulit dilain waktu jika kita tidak bisa membatalkan cuti kita.

Speed Limit, yup… ini jadi tantangan lainnya, gimana ya… saya kan sudah biasa nyetir di Jakarta yang walaupun macet tapi saat sedang kosong kita asik aja gas-poll sampai secepat apa yang kita mau dan kita berani. Disini… maksimal 100 atau 110 km per jam, dan banyak yang hanya 80 km per jam, untuk jalanan dalam kota bahkan 50 atau 60 km per jam, ngantuk kannn…. jalanan kosong melompong tapi kita ga bisa lari sampai 150 km per jam… ya sisi positifnya kita jadi lebih baik dalam mengendalikan kendaraan kita dan berlatih kesabaran hehehe… saya butuh beberapa saat untuk bisa sampai mengendalikan diri agar ga ngebut saat jalan kosong, walaupun suka gregetan tapi besarnya nominal denda yang harus saya bayar sukses membuat saya milih untuk bersabar di jalan.

Pergaulan, terutama pergaulan untuk anak-anak menjadi tantangan juga bagi saya. Disini anak-anak didorong untuk kreatif dan kritis, nah… gaya mengajar orang asia kan kalian tau sendiri, ya sering bergesekan deh akhirnya. Eh… jangan salah, mereka walaupun masih cilik-cilik sudah bisa berdebat loh kalau ga masuk akal buat mereka dan mereka bisa bertahan di pendapat mereka kalau mereka merasa apa yang mereka inginkan memungkinkan untuk diwujudkan. Itu sudah terjadi di anak-anak kami, apalagi yang gede. Selain itu, disini mengenal bebas bertanggungjawab, yang artinya di semua hal selama bisa di-per-tanggung-jawab-kan dan tidak melanggar hukum dan etika secara umum (menurut Australia) ya mereka dibebaskan untuk melakukannya, termasuk Sex. Disini mereka yang melakukan sex diluar nikah selama bukan pemerkosaan, tidak akan salah dimata hukum walaupun sampai hamil dan punya anak. Disini bahkan ada pilihan untuk suatu hubungan dimana statusnya adalah living together, sebuah status dimana pria dan wanita hidup bersama dan memiliki anak tanpa ada ikatan pernikahan diantara keduanya. Ya gimana lagi, kita tinggal di tanah yang memiliki budaya seperti itu, ya pilihan kita hanya menerima atau berusaha mencegah dengan memberikan pegangan dan pengertian yang salah satunya bisa dilakukan melalui pendekatan agama dan keluarga.

Sendirian ditanah asing juga menjadi tantangan lain, apalagi untuk kalian yang besar dikelilingi keluarga besar. Kalau saya pribadi sih karena sudah terbiasa merantau jadi lebih biasa, itupun saya masih sering merasa sendiri terutama di even-even tertentu seperti Imlek dan Natal hahaha… nah…. kesendirian ini menjadi tantangan karena menjadi awal dari tantangan lain, seperti ngurus anak sendiri, ngurus rumah sendiri, apa-apa sendiri karena jasa pembantu disini sangat-sangat mahal. Itulah kenapa suami-istri harus kompak dan mau berbagi tugas, ga ada tuh istilah suami tabu di dapur atau megang alat pel disini, kalau mau hidup seperti raja ya tinggal lah di Indonesia dan jangan lupa juga harus punya penghasilan yang memadai juga ya agar bisa punya pembantu dll.

Terlepas dari tantangan yang ada, yang tentunya tidak terbatas hanya pada apa yang saya tuliskan disini saja, hidup di Melbourne banyak memberikan nilai positif lainnya kok. Karena menurut saya, kita mau hidup dimana saja tidak akan lepas dari yang namanya tantangan kan… jadi daripada kita memikirkan tantangan yang akan kita hadapi lebih baik kita memikirkan nilai positif apa yang bisa kita dapatkan dan impian apa yang ingin kita kejar, setidaknya hal itu bisa menjadi motivasi kita dalam mengejar apa yang kita impikan. Tentunya tidak lupa harus ada keberanian.