Jadi… ?

Jadi sudah betah nih? sudah ga mau pulang ke Indonesia lagi?

Semenjak migrasi sampai sekarang, kedua pertanyaan diatas beberapa kali dilontarkan kawan-kawan maupun keluarga. Pertanyaan yang sebetulnya sulit-sulit-gampang untuk dijawab. Kenapa? karena mau dibilang sudah betah juga ga tapi dibilang pengen balik juga ga hahaha…

Saya itu sebetulnya tipikal orang termasuk malas pakai banget pindah-pindah seperti kucing beranak, hal itu kelihatan dari 7 tahun berada di kamar kos yang sama (padahal mah karena ga ada duit aja buat pindah ke kos yang agak besar hahaha….), 10 tahun bekerja di perusahaan yang sama, bahkan 17 tahun bersama 1 cewek yang sama yang walaupun nyebelin tapi ngangenin. Itulah kenapa saat saya memutuskan untuk migrasi itu sebetulnya perang batin sangat loh… antara sudah malas karena sudah rada enak hidup di Jakarta dan tabungan kami saat itu juga ga seberapa, akan tetapi di lain pihak saya juga masih penasaran kepengen mengejar cita-cita saya yang rada-rada gila. Apalagi saat itu kehidupan kami di Jakarta bisa dibilang ga jelek juga loh… kami hidup berkecukupan walaupun tidak berlimpah ruah. Itulah kenapa, saat kami gagal saat pertama kali migrasi, finansial kami langsung goyang dangdut ga karuan, yang sebetulnya entah kenapa setahun kemudian kami bisa nabung dan nyoba migrasi lagi yang kedua kali, bener-bener diluar akal sehat saya sih… itu kenapa saya selalu bilang jika perjalanan kehidupan saya itu penuh dengan mukjizat, ga bisa dihitung pakai kalkulator manusia, ya setidaknya kalkulator saya pribadi. 🙂

Seperti yang sudah pernah saya bagikan disini sebelumnya jika kami saat memutuskan migrasi ke Australia itu sebetulnya demi anak terutama pendidikan, karena kami ingin anak-anak kami bisa menikmati ruang terbuka ga harus nge-mall lagi nge-mall lagi, tapi ga harus berkutat dengan keamanan, polusi dan asap rokok, dan juga agar mereka bisa tumbuh besar di daerah yang udara nya masih bersih, terlebih yang lebih penting lagi adalah anak-anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas dan masih banyak hal lainnya yang bagi kami lebih positif dari keadaan di Jakarta. Sekolah disini bagi kami juga jauh lebih baik walaupun tidak 100 persen baik ya… setidaknya disini cara mendidiknya lebih kearah kreatifitas dan attitude, tidak menekankan hafalan terus menerus, dan juga tidak ada materi pelajaran ga terlalu dibutuhkan tapi tetap dipaksakan, kalau ambil contoh disana ya semacam menghafal plat kendaraan seluruh Indonesia, atau membaca peta buta halah…. sekarang apa-apa tinggal googling ternyata.

Selain pendidikan, faktor lain seperti kesehatan juga menjadi salah satu dasar kenapa saya memilih Australia, disini selama kita megang visa Permanent Residence, kita mendapatkan hak yang sama dengan Citizen untuk semua pelayanan baik itu kesehatan, pendidikan, sosial dan keamanan. Ini hanya untuk pemegang visa PR saja ya, bukan yang lain. Sering kali mereka-mereka yang sedang berjuang mendapatkan PR beranggapan biaya berobat disini gratis seluruhnya (sama seperti saya dulu) yang sebetulnya kurang tepat juga. Yang benar-benar digratiskan adalah yang termasuk dalam list PBS Scheme. Apa itu PBS Scheme silahkan baca disini dan disini. Di link kedua kita bisa melihat semua obat yang ditanggung Medicare (sama seperti BPJS kalau di Indonesia) yang bisa kita cari berdasarkan nama obat, penyakit, dsb. Jadi, ini artinya obat-obat umum seperti panadol, flu umum, sakit kepala, mencret dsb yang dikonsumsi umum ya harus bayar, walaupun harus bayar tapi sebagian besar masih di subsidi oleh pemerintah jadi ya lumayan lah, bisa lebih murah dikit.

Hal lainnya adalah keamanan, bagi kami keamanan itu penting. Di Australia kami dilindungi oleh hukum dengan lebih jelas, yang dimaksud dengan lebih jelas disini adalah hukum bekerja melindungi seluruh warganya tanpa pandang bulu, jadi ga hanya mereka yang tajir apalagi sampai tajir melintir saja yang dilindungi atau sengaja dilindungi walaupun salah. Bukan hanya hukum, tapi pelayanan pemerintah lainnya juga sama, contohnya Ambulance dan Pemadam Kebakaran. Disini jika ada yang nelpon 000 nomor emergency disini tanpa menyebutkan membutuhkan layanan polisi, pemadam atau ambulance, maka ketiga instansi tersebut akan datang semua ke lokasi tanpa ba-bi-bu nanya “wani piro” terlebih dahulu dan akan sampai secepat mungkin, rekor yang pernah saya alami tidak sampai 5 menit salah satu dari mereka sudah tiba dilokasi, dan ini tidak terlepas dari mental pengguna jalan yang mau mengalah dan memberi jalan kepada mereka saat sirine sudah menyalak (ga pakai ada yang ngekor dibelakang kaya disana ya….) mau semacet apapun jalanan yang ada. Mental pengguna jalan ini juga menjadi salah satu yang bikin betah karena ga perlu ngurut dada ngeliat rombongan beruk berakrobat di jalanan seperti disana. Yang perlu diingat adalah, untuk pemadam kebakaran dan ambulance akan ada tagihan yang menyusul (alias tidak gratis), itu kenapa penting untuk memiliki asuransi ambulance dan bagi yang sudah ada properti punya asuransi kebakaran. Dan yang lebih penting lagi untuk panggilan palsu akan ada denda juga, itu kenapa hati-hati dengan nomor atau tombol emergency karena disini hal itu ditanggapi sangat-sangat serius. Mengenai denda juga ada bagusnya karena untuk memberi efek jera, jadi kan ga ada yang iseng dan mengakibatkan orang lain yang memang sedang membutuhkan emergency malah jadi ga tertolong atau terlambat tertolong. Yang ingin saya garis bawahi sebetulnya adalah kesigapan mereka datang menolong terlebih dahulu bukan nanya biaya dulu seperti yang biasanya terjadi disana. Walaupun ada biaya yang harus dibayar saat memanggil layanan mereka (selain polisi) tapi untuk kejadian yang terjadi di jalan tidak pakai biaya alias gratis karena semua sudah secara otomatis ditanggung oleh VicRoad melalui biaya memperpanjang registrasi kendaraan yang kita bayarkan setiap tahun (semacam perpanjang BPKB kalau disana). Jadi, tetap diingat ya, kalau sudah dapat PR dan pindah kesini lebih baik setidaknya punya asuransi ambulance karena biaya ambulance tidak ditanggung oleh pemerintah kecuali untuk kecelakaan dijalan. Dan bagi yang sudah punya rumah, lebih baik ambil asuransi rumah yang cover sampai pemadam kebakaran atau setidaknya untuk cover kebakaran buat jaga-jaga saja dan itu pun kalau mau.

Pelayanan masyarakat adalah hal lainnya yang bikin kami betah, disini kalau mau perpanjang surat-surat misalnya SIM atau Visa PR kami, itu sangat mudah, bisa dilakukan sendiri dan tidak berbelit. Informasinya jelas, tidak ada istilah “seikhlasnya”, dan tidak dipersulit padahal kami hanya pemegang Visa PR loh bukan warga negara. Masalah informasi contohnya, pernah ada diskusi cukup hangat di group facebook diaspora Indonesia di Melbourne mengenai informasi perpanjang passport yang berbeda antara yang tertulis di Web KJRI dengan apa yang disyaratkan, hal seperti ini kan nyebelin ya… apalagi untuk orang-orang yang bekerja seperti saya dan harus ambil cuti tapi kemudian jadi sia-sia hanya karena informasi di Web tidak sepenuhnya benar. Tapi kan kalian dapat cuti banyak kalau kerja disana? Ya ga gitu juga keless… inget kalau kami disini sendirian, ga seperti disana yang tinggal telpon keluarga saat butuh sesuatu, disini semua dilakukan sendiri dan saat hal itu dibutuhkan, ya yang namanya cuti akan sangat membantu. Jika dibandingkan dengan warga negara sini yang perpanjang Passport bisa kapan saja bahkan bisa dilakukan di kantor Pos tanpa harus pakai seabrek dokumen, pelayanan negara kita ke masyarakat sih menurut saya masih banyak yang harus dibenahi, termasuk dari mental petugasnya. Contoh lainnya adalah masalah masuk sekolah, disini masuk sekolah sangat mudah dan tidak harus menyiapkan seabrek dokumen seperti di Indonesia, apalagi kalau sudah masalah pindah Negara. Disini cukup fotocopy Passport, Visa, dan list imunisasi dan anak kami pun bisa langsung mulai masuk sekolah walaupun pindahan dari Indonesia dan mulai nya di tengah tahun ajaran, coba kalau dibalik, kami bakalan perlu menyiapkan dokumen pindah sekolah, dokumen dari KJRI, dan lain sebagainya yang entah apa saja, itupun belum tentu bisa langsung sekolah dan harus menunggu pergantian semester atau ajaran baru atau entah apalah itu.

Ga kepo! nahh…. yang ini juga penting nih, kenapa? karena kita jadi lebih bebas untuk menjadi diri sendiri, ga perlu muna atau berusaha caper (cari perhatian) baik dengan kekonyolan, kekepoan atau dikit-dikit pamer hanya untuk menunjukan kepada orang lain kita seperti apa (walaupun kadang bertopeng). Hidup di negara seperti Australia jauh berbeda dengan hidup di Indonesia, disini orang-orang sudah mengerti batas tertentu yang tidak seharusnya mereka langgar terutama kalau sudah berhubungan dengan masalah privasi. Jadi ga ada tuh disini yang asal komentarin orang lain, apalagi ngurusin agama orang lain apa, sudah nikah atau belum, kenapa ga mau punya anak, bahkan sampai LGBT juga ga dikepoin dan dikomentarin, ya ga semua sih ada juga beberapa yang masih seperti itu apalagi yang dari Indonesia hahaha… ga gampang euy ngubah kebiasaan yang sudah mengakar ya. Bahkan disini kalau lagi summer sudah biasa kalau bukan lagi hanya belahan dada yang bertebaran tapi sudah tambah puting njeplak yang bertebaran, ini beneran loh (hayoo… ga perlu mupeng apalagi ngecess… tuh lap dulu sudut bibir nya), dan ga ada yang ngurusin atau kepo ngomongin dan sebagainya, palingan juga adanya saya saja yang matanya cape karena dipaksa jangan sampai berkedip hahaha… (norak ah…), maklum cowok norak… eh normal. Disini saat musim panas cewek-ceweknya untuk segala ukuran dan bentuk payudara sudah terbiasa tidak menggunakan bra saat menggunakan kaos ketat sehingga kedua putingnya sampai terlihat njeplak dan mereka pede saja jalan-jalan tanpa harus kawatir ada yang ngomongin atau bahkan merkosa mereka, kenapa? karena otak nya ga menceng kaya layangan singit seperti orang-orang disana yang lihat paha diatas dengkul dikit saja sudah horny, dan lebih parah lagi abis itu yang disalahin paha si cewek, halah… bagaimana kalau mereka hidup disini yang celana atau rok nya sudah bukan diatas paha lagi tapi sudah dibawah pinggul, kebayang kan tuh paha mulus keliatan 5 centi dari selangkangan sampai dengkul, bisa-bisa ayan kalian kumat disini trus kejang-kejang dijalan hahaha….. Disini orang-orang bebas memilih apa yang mereka inginkan selama masih dalam batas-batas umum dan tidak mengganggu orang lain. Dan batas-batas ini pun bukan ditetapkan oleh segelintir orang atau ormas yang merasa mereka adalah penjaga pintu surga, tapi oleh badan berwenang dari Negara sehingga tetap netral dan sah secara hukum.

Jadi, lu udah ga bakalan balik lagi nih ke Indonesia untuk menetap? saya belum tahu sampai detik ini dan bahkan sampai detik akan datang. Kenapa? karena saya sendiri sampai saat ini belum memiliki rencana pensiun nanti mau seperti apa. Inget, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya jika kami migrasi karena ingin anak-anak kami mendapatkan kesempatan yang lebih baik disini baik untuk pendidikan maupun hal-hal lainnya. Sampai saat ini pun kami masih mempertahankan rumah mungil kami di Jakarta, kami pun masih mempertahankan status warga negara kami walaupun kami pada akhirnya akan memberikan kewenangan secara penuh kepada kedua anak kami untuk memilih ingin menjadi warga negara Australia atau tetap sebagai WNI. Kami tidak tahu apakah kami akan menutup mata di tanah air beta atau di tanah asing beta, sama hal nya kami pun belum tahu akan kembali ke Indonesia lagi atau tidak saat kedua anak kami sudah mandiri dengan kehidupan mereka. Untuk saat ini, kami hanya berusaha dan berjuang untuk bisa bertahan disini selama mungkin sampai kedua anak kami berhasil menyelesaikan pendidikan mereka sampai jenjang tertinggi yang bisa mereka capai.

Sampai sekarang, saya pribadi masih berpikir untuk suatu hari nanti mau pensiun di Indonesia saja, apalagi dollar yang saya tabung disini bisa saja jadi begitu banyak rupiah nantinya jika ditukar, dan tinggal dibawa ke kota kecil dan hidup tenang disana sambil jualan gorengan di depan rumah. Tapi hidup kan ga bisa mikir yang normal-normal dan sehat-sehat saja, coba bayangkan kalau kita saat tua sakit-sakitan, ya iya kalau langsung mati, kalau sakit-sakitan dan ga mati-mati trus gimana? jelas di Australia akan lebih terjamin pelayanan dan biayanya karena ada medicare. Bicara hidup enak, sebetulnya selama kita mau planning dan saving, menurut saya dimana saja akan sama karena biaya di Indonesia pun ga bisa dibilang murah loh… saat ini saya bisa bilang murah karena membandingkan dengan Australia, ya jelas lah lebih murah…. coba nyari duit disana dan hidup disana ya podo wae struggling nya. Di Australia pun saya juga membayangkan nanti saat kami pensiun, berdua dengan istri mau mengembangkan kulineran, bikin makanan-makanan unik terus kita jualan hehehe… tapi itu kan rencana ya, masalah bisa ga nyampe ke titik itu ya kita ga tahu, karena rahasia itu hanya milik Tuhan.

Jadi… ?

Apapun jawaban maupun rencananya, nikmati saja yang kita hadapi saat ini. Bermimpilah dan jangan lupa bangun dan mengejarnya, nikmati prosesnya bukan hasilnya karena sejatinya proses itulah yang mendewasakan kita dan memiliki arti kata bahagia. Hidup tanpa mimpi itu seperti ayam goreng tanpa sambel lalapan, mungkin masih enak tapi kurang lengkap, dan hidup dengan mimpi tapi hanya menjadi impian itu seperti ayam goreng lengkap dengan sambel lalapan tapi yang dimakan cuman timun nya saja, hambar booo…

Pesan Terselubung

Beberapa minggu ini saat saya coba baca-baca ulang lagi semua tulisan yang pernah saya tulis disini, mata saya terpaku pada beberapa artikel yang berisi 1 kalimat tentang pesan dibalik peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu antara kami mulai migrasi yang pertama, lalu kami harus pulang lagi dan kemudian kami bisa mencoba migrasi lagi yang kedua kalinya. Bacaan itu membuat saya kemudian merenung lama dan mencoba menggali lebih dalam kedalam ingatan saya yang pas-pas-an ini untuk mencari tahu dan berusaha merasakan pesan terselubung yang secara tidak sengaja mulai saya lupakan tersebut.

Setelah lama merenung, saya menyadari hal pertama yaitu mengenai kesempatan saya mengenal kawan-kawan baru, memang sih saya mungkin tidak perlu mengalami proses tersebut hanya untuk mengenal kawan-kawan baru, tapi disini saya sulit menjelaskan semua alasan dibalik ini, yang bisa saya rasakan hanyalah jika peristiwa itu tidak terjadi mungkin saya tidak akan beranjak dari tempat saya dan memiliki kesempatan bekerja di salah satu perusahaan system integrator terbaik dan mengenal team luar biasa didalamnya. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan mengenal banyak orang baru lainnya sepanjang proses itu terjadi, dan banyak di antara mereka masih keep contact dengan saya sampai hari ini. Mendapatkan kawan baru itu sebuah anugrah karena menambahkan orang-orang luar biasa dalam kehidupan kita.

Hal kedua yang saya sadari adalah sakramen krisma, jujur saja sih… kalau kemaren itu saya tidak gagal lalu pulang, mungkin sampai sekarang saya masih belum menuntaskan sakramen krisma yang merupakan salah satu janji saya kepada Romo saat akan menerima sakramen nikah di gereja. Kepulangan saya memimpin langkah saya ke perusahaan baru yang saya sebutkan sebelumnya, yang kemudian membuat saya mengenal 1 orang yang kemudian secara tidak sengaja menarik saya ikut persiapan sakramen krisma yang saat itu dilakukan setiap kamis malam di gereja. Tuhan sungguh luar biasa ya saat bekerja dan berkarya atas diri kita, sesuatu yang benar-benar berada diluar pemikiran saya dan sampai saat ini pun tetap membuat saya terkagum-kagum dengan prosesnya.

Hal berikutnya yang saya sadari adalah belajar hal baru, kepulangan saya saat gagal migrasi yang pertama kali memimpin langkah saya menjadi bagian dari perusahaan tersebut diatas, ini juga sebuah proses yang tidak terpikirkan oleh saya karena kesempatan ini selain membuat saya mengenal banyak orang-orang hebat juga membuat saya belajar banyak hal baru termasuk salah satunya ilmu manajerial. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu manajerial justru di perusahaan terakhir di Jakarta sebelum saya mencoba migrasi lagi untuk kedua kalinya, padahal saya hanya 1 tahun 1 bulan loh di posisi manajer, luar biasa ya jika kita berada ditengah-tengah orang hebat maka dengan sendirinya kita pun akan terbawa arus, yang perlu kita lakukan hanyalah menjadi spons dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

Satu hal lain yang juga berada dibalik pesan ini adalah Tuhan mau saya belajar untuk sabar, pasrah dan bersyukur. Ini ga gampang loh… terutama saat saya gagal dan pulang saat itu, pikiran dan hati saya bertanya-tanya untuk waktu yang lama mengenai semua kejadian yang terjadi begitu beruntun dalam kehidupan saya saat itu dan masih tidak menemukan jawaban yang bisa menjawab semuanya. Jawaban yang kemudian datang saat satu per satu peristiwa setelah nya sudah terjadi dan membuat saya sadar. Bagaimana saya tidak mencari-cari jawaban atas semua yang terjadi saat itu, keadaan kami yang hampir mustahil mendapatkan visa PR yang kemudian secara mukjizat bisa kami dapatkan tapi kemudian berakhir dengan gagal migrasi tentunya membuat saya bertanya-tanya ada apa dibalik semua itu. Pada akhirnya kemudian saya menyadari jika saya bukan digagalkan langkahnya, tapi sedang diuji untuk hal lainnya dan sedang diarahkan untuk melakukan hal lainnya terlebih dahulu, hal-hal yang kemudian sangat banyak menolong saya saat migrasi lagi untuk kedua kalinya ke Australia.

Saat ini, keadaan kami terutama saya sudah jauh lebih baik. Anak-anak dan istri sih sudah betah dari lama ya, yang menjadi masalah malahan saya sendiri karena mengalami culture shock yang cukup parah saat itu. Tapi sekarang semua sudah membaik, culture shock saya bisa dibilang sudah hampir 100% sembuh dan hilang. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang yang sudah merantau duluan ke Negara lain ada benarnya, culture shock itu umumnya akan berlangsung selama 2 tahun dan setelah itu akan sembuh dengan sendirinya. Yang setengah mati itu adalah melawan culture shock itu sendiri karena orang-orang sekitar kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu selain memberikan semangat dan pendampingan karena semua harus dilawan dari diri kita sendiri, dan saya berhasil melawannya walaupun hampir gila juga awalnya hahaha….

Selamat memasuki bulan November kawan… bulan yang sudah semakin mendekatkan kita semua ke penghujung tahun….

Tinggal di Australia

Kali ini karena tidak banyak yang bisa dikerjakan hari ini di kantor, dan saya juga sudah menyelesaikan beberapa masalah yang belum selesai selama berbulan-bulan, jadi saya mencoba untuk mengusir bosan dengan menulis.

Saya sudah tinggal di Australia sejak 2017 tadaaa…. baru seumur jagong yaaa… tapi ga papa deh, walaupun hanya seumur jagong begini, sudah banyak loh dapat pertanyaan lucu dari para pembaca setia, kawan dan bahkan sodara hahaha…

Yang pertama, Tinggal di Sydney ya?
Sebetulnya ga ada yang salah sih dengan pertanyaan ini, cuman ya Australia itu bukan hanya Sydney loh…. sama dengan Indonesia bukan hanya Bali, dan Jakarta bukan hanya Kelapa Gading. Saya memang ga tinggal di kota kecil sih, tapi di kota terbesar kedua yang bernama Melbourne. Padahal Melbourne cukup terkenal loh… memang sih ikon Australia selalu dikaitkan dengan Opera House yang ada di Sydney, dan Harbour Bridge yang sayangnya ada di Sydney juga hikss… tapi kami punya West Gate Bridge disini, walaupun macet tapi ini jembatan keren dan cantik juga karena meliuk seperti huruf S, yang kabarnya dibangun untuk menyaingi Harbour Bridge di Sydney hahaha… Dulu saat kami baru akan migrasi bahkan ada pertanyaan lucu ke kami “Why Melbourne? kenapa ga Sydney saja? lebih ga dingin” Ya… ga gitu juga kelesss… kami kan migrasi ga semata-mata nyari panas dingin, kalau tujuannya mau panas dingin mah cubit pantat cewek aja ntar juga panas dingin xixixi….

Yang kedua, Disana kerja apa? kalau nganggur hidup ga?
Biasanya pertanyaan ini salah satu ujung nya adalah “Kok lu mau sih turun derajat?” setelah saya beritahu disini jadi tukang IT karena dulu sudah pernah diposisi manajer saat kerja di Jakarta. Hemm…. susah ya jelasinnya, karena ga semua orang kerja hanya demi uang dan posisi sih., belum lagi kalian kan ga tau gaji tukang IT disini ga jauh gap nya sama posisi manajer, kecuali kalian bandingkan sama direktur ya saya lebih milih jadi tukang IT sih karena less pressure good income hahaha… Salah satu yang harus saya kompromikan saat memutuskan migrasi adalah harus mau mulai dari awal lagi termasuk di pekerjaan, kenapa? karena yang namanya baru datang di tanah orang, kecuali sangat beruntung dan punya skill tidak ada lawannya disini, menurut saya unlikely bisa langsung di posisi manajerial ya, selain belum ngerti medan, budaya kerja, cara kita berinteraksi juga penting. Pertanyaan lainnya adalah “kalau nganggur hidup ga?” sumpah ini pertanyaan pernah saya dapatkan dan itu terjadi di media sosial saya loh… kaget juga sih pas bacanya, karena kok mentalnya mental nyender ya… walaupun disini ada tunjangan pemerintah, tidak lalu serta merta karena kita sudah pegang PR trus bisa akses hal itu dengan mudah loh… semua tetap ada koridor yang harus kita patuhi dan ada assessment segala sebelum diputuskan kita layak mendapatkan tunjangan sosial.

Yang ketiga, “Nanti bakalan pindah warga negara donk?
Yaelah… susah kalau sudah kenal dukun ya… masa dia bisa ramalin saya pasti pindah warga negara, lah wong… tinggal disini aja baru seumur jagong dan nanti kalau sudah seumur engkong juga mana saya tahu bakalan pindah warga negara atau tidak, singkong diragiin tapeeee dehhh… dan pertanyaan ini sering nyambung ke “anak-anak ga mungkin balik lagi kan ke Indonesia, pasti jadi warga negara sana?” Untuk yang satu ini, saya sudah diskusi dengan emak nya mereka, kalau kami akan memberikan kebebasan kepada mereka ingin memilih yang mana, kalau mereka mau tetap ber-passport hijau ya monggoo karena itu hak mereka sudah lahir di Indonesia, tapi kalau mereka akhirnya memutuskan ber-passport biru, ya monggo juga lahh… karena mereka besar disini kan. Jadi, jawabannya adalah “jangan kebanyakan main dukun-dukunan yeee… ga baek…”

Yang keempat, “masih doyan makanan Indonesia?”
Eh… tong, yang namanya lidah sudah dimanja bumbu dari Indonesia lebih dari 30 tahun lu kira bisa dengan gampang lupa dan jadi ga doyan? masakan western ataupun dari negara asia lain seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam memang saya akui itu enak, kami saja sampai ada restoran favorit di Melbourne buat menikmati masakan ketiga negara itu. tapi yang namanya sambel terasi, plecing kangkung, ayam goreng ala Indonesia, nasi goreng kampung, nasi goreng pete, sampai yang model tek-tek, sop kambing, sate kambing, mi ayam, empek-empek, dan handai taulannya tetap ga akan tergeser dari lidah kami, tetap top markotop buat kami disini. Lah wong anak kami saja doyan empek-empek, ayam goreng, ayam penyet, bahkan nasi goreng ala Indonesia apalagi bapak emak nya.

Yang kelima, “Anak-anak masih bisa bahasa Indonesia?”
Tentu donk… kami usahakan terus mereka tetap bisa berbahasa Indonesia karena kami sudah sepakat akan terus menggunakan Bahasa Indonesia di rumah dan saat berkomunikasi dengan mereka. Memang kami akui, lidah mereka saat berbahasa Indonesia ga akan selentur lidah kita sama seperti saat kami berbahasa Inggris juga ga akan selentur mereka bercakap-cakap apalagi sudah pakai aksen Australia. Apa mau dikate yang namanya hidup besar di tanah berbahasa Inggris, tiap hari ketemu bahasa Inggris di sekolah maupun di pergaulan ya ga akan bisa kita lawan pengaruh nya ke anak-anak kami kan. Tapi, kami tetap tidak menyerah hahaha… Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa wajib di rumah kami.

Yang keenam, “Kapan pulang?”
Nah… kami seneng sih pas ditanya pertanyaan ini, karena kami berasumsi kalian kangen kan sama kami hahaha…. (padahal mah kaga ya, namanya juga nanya basa basi doank hahaha….). Kalau ditanya masalah kapan pulang, kami sih pengennya tiap tahun bisa pulang ya, eh… bentar… pulang disini artinya mudik ya bukan for good, oke balik ke topik awal, kami jujur kalau bisa pengen pulang tiap tahun, masalahnya pulang ke Indonesia itu mahal buat kami yang pas-pas-an begini, apalagi tabungan kami baru saja terkuras habis-habisan karena kami nekat membeli rumah disini, ya gimana ya… saya ga betah nyewa-nyewa begitu, jadi begitu ada kesempatan bisa beli ya nekat aja deh biarpun habis-habisan dan harus tinggal jauh dari keramaian kota.

Secara keseluruhan, kami terutama saya sih seneng-seneng aja ditanyain selama disini ya… bahkan sering kali ada yang tanya langkah-langkah urus PR gimana, lah… saya kan bukan agen migrasi hahaha… ya ga papa lah namanya juga orang bingung ya, kita bantuin jawab sebisanya. Pertanyaan diatas itu sering kali hanya karena budaya basa basi dan pengen tahu saja sih… walaupun kami juga ngerti beberapa yang menanyakan juga tulus saat menanyakannya, lebih jauh dari itu kami masih Indonesia banget kok dan tetap bangga sebagai orang Indonesia di tanah orang lain walaupun kadang banyak kejadian-kejadian konyol di tanah air yang bikin kolega saya disini menaikan alis mata sebelah saat baca berita nya hahaha…., saya nulis saja masih pakai bahasa Indonesia kan…

Living Cost Lanjutan

Gegara tulisan saya sebelum ini, beberapa respon atas tulisan saya langsung bertanya ke arah “berapa sih gaji yang memadai untuk bisa hidup layak?” dan lebih menjurus lagi adalah “berapa sih gaji lu sekarang?”

Seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya jika kita tidak bisa mengukur seperti itu karena semua kembali ke gaya hidup kita kan. Mengenai berapa gaji yang layak itu juga susah karena mau gaji berapa pun kalau tidak bisa ngaturnya ya abis-abis juga.

Disini untuk pendapatan total 1 keluarga dengan 2 anak dibawah nominal tertentu masih mendapatkan bantuan dari pemerintah, saya juga pernah menuliskan perihal ini di tulisan sebelumnya.

Jadi, semua pada intinya adalah kembali kepada pengendalian diri masing-masing, karena mau hidup dimana saja sama kalau kita tidak bisa mengendalikan diri kita. Migrasi ke luar negeri itu jangan didasarkan pada ingin mencari penghasilan yang lebih besar, karena yang namanya penghasilan itu menurut saya sudah diatur oleh yang di Atas dan hal itu sangat tergantung pada kemampuan individu masing-masing mengatur pengeluaran dan menjalani kehidupan mereka.

Masih banyak hal lain yang jauh lebih berharga dari sekadar dapat gaji berapa. Contohnya udara yang lebih bersih dari Jakarta, kehidupan yang lebih tenang karena disini ga sebentar-sebentar demo lah… ada isu mau rusuh lah…, belum lagi pendidikan yang jauh lebih baik dengan harga terjangkau (menurut saya ya). Belum lagi hal-hal seperti family time yang lebih berkualitas, macet yang lebih rasional dan masih banyak lagi. Hal-hal seperti itu menurut saya sangat langka di Jakarta, bahkan tidak ada dan seharusnya menjadi motivasi saat kita memutuskan sebuah langkah besar seperti migrasi ke luar negeri kemana pun tujuannya.

Jadi berapa sih sebenernya gaji saya disini? kasih tau ga ya…. 🙂