Afternoon & Night

Salah satu gegar budaya yang saya alami disini adalah salam menggunakan afternoon dan night. Karena saya lahir besar di Indonesia, dan disana jam 19.00 itu sudah bisa dianggap malam, membuat saya terbiasa menggunakan night saat mengucapkan salam atau menggunakan night saat menjelaskan posisi terjadinya sesuatu misalnya “I want to thank you for your support on the migration tonight” untuk migrasi yang terjadi pada jam 7 malam, yang lalu dikoreksi leader saya menjadi “thank you everyone for this afternoon great support” hahaha…

Jujur ya… saya sendiri ga tau kapan posisi kita bisa menggunakan night dalam percakapan. Tapi jika saya analisa sendiri posisi matahari yang rata-rata tenggelam pada jam 20.30 paling cepat selain di musim dingin, jadi saya asumsikan mereka menggunakan night itu jika sudah mau bobo kali, karena masih ada evening yang dipakai diatas 8.30 malam (saat matahari sudah kelelep), jadi selama masih dibawah 8.30 malam tapi diatas jam 3 sore kita menggunakan kata afternoon sebagai salam dan dalam percakapan. Mungkin begitu kali hahaha…

Apapun itu, ini salah satu tantangan yang harus kami hadapi disini dan menjadi salah satu kebiasaan yang harus kami ubah pelan-pelan.

Mudah? Tidak. Tidak ada yang bilang jika hidup itu mudah, tapi ada yang bilang kita bisa membuatnya lebih mudah.

Hal lain yang beda adalah kepo style yang biasa terjadi di Indonesia. Disini orang-orangnya cenderung menghindari topik agama, impian, tujuan hidup dan kadang mereka juga menghindari topik keluarga kecuali benar-benar kawan dekat.

Saya masih sering geli dengan salah satu percakapan yang pernah terjadi antara saya dan kawan saya yang memperdebatkan kenapa saya harus melepaskan semua yang saya miliki di Jakarta untuk pindah ke Melbourne dan memulai semua dari Nol lagi di umur saya yang sudah mendekati paruh baya. Seperti ini kira-kira percakapannya,

Kawan (K) : lu ngapain pindah ke oz jo?

Saya (S) : gw pengen anak gw sekolah diluar bro (nama saya samarkan), dan juga disana gw lihat lebih bersih dan tertib.

K : tapi disana kan susah jadi orang kaya jo, kalau lu disini peluang lu terbuka lebar. Apalagi bentar lagi umur lu 40, mau sampai kapan lu kalau mulai dari nol lagi hahaha…

S : hehehe… iya, kalau menjadi orang kaya adalah tujuan hidup gw, ya gw ga kesana. Tapi tujuan gw bukan jadi orang kaya.

K : lah trus apa donk yang lu kejar?

S : gw pengen hidup bahagia bro, dan hidup bahagia tidak harus jadi orang kaya hahaha…

K : wah… berarti lu ga punya ambisi kalau gitu.

S : iya hehehe… karena ambisi gw bukan di harta benda, tapi di keluarga dan waktu. Duh… susah nih gw jelasinnya. Kesuksesan itu kan ga cuma di ukur dari kekayaan saja.

K : hahaha… dimana-mana yang namanya sukses ya jadi orang kaya dan banyak uang jo, mana ada orang miskin dianggap sukses.

S : betul… kalau tolok ukur lu adalah harta benda. Tapi buat gw sukses itu bisa dibanyak hal, ga semata-mata punya harta atau jadi orang kaya. Sukses itu buat gw adalah mencapai apa yang kita kejar dan impikan, dan proses pengejaran itu yang bisa membuat kita merasakan bahagia. Dan sayang sekali yang gw kejar bukan jadi orang kaya hahaha…

K : ya tetep aja gw bilang lu buang waktu dengan pindah kesana.

S : *senyum pepsodent*

Itulah, entah kenapa banyak yang mengaitkan sukses itu dengan kekayaan, dengan harta benda. Saya tidak mengejar semua itu bukan berarti saya tidak punya ambisi, hanya saja ambisinya saya letakan ditempat lain. Kalau mau jujur apa sih harta terbesar kita selama hidup? Saya hanya bisa menemukan 3 hal, yaitu kesehatan, waktu dan kebahagiaan.

Memang kita butuh uang buat hidup, tapi bukan berarti kita hidup hanya untuk mengejar uang kan. Selama keluarga bisa hidup layak dan anak-anak bisa sekolah sampai lulus sarjana atau menjadi mandiri saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Toh pada akhirnya kita akan meninggalkan semua itu dan apa yang kita wariskan akan menentukan kehidupan anak-anak kita kelak, dan mewariskan kekayaan lebih banyak menimbulkan masalah daripada manfaat menurut pandangan saya.

Apapun itu, saya tetap tidak menolak rejeki yang datang, saya hanya mengatur waktu dan tempo derap saya agar bisa berimbang antara mengejar uang dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Salah satu kalimat yang sering saya gunakan untuk memotivasi adalah – It’s stupid to be afraid of others’ opinions. Fear weakens and paralyzes you. Listen to your inner voice and go with it. Some people may call you crazy, but some may even think you‘re a legend. And maybe I am one of the craziest man in the world, who cares?
Dan, hari ini ada misa di gereja KKI yang sekaligus merayakan hari Kemerdekaan RI yang ke 72. Ada rasa haru saat menyanyikan Indonesia Raya dan Indonesia Pusaka.

Dan kami memutuskan menggunakan kostum Damn I Love Indonesia saat menghadiri misa.

Saat menyanyikan Indonesia Raya, ada rasa bangga karena kami setidaknya sampai detik ini masih bisa menjaga agar nama Indonesia tidak tercoreng di negara lain karena masih belum mampu membuat Indonesia bangga. Dan saat menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, saat menyanyikan bagian reff sempat terlintas dalam benak saya apakah iya nanti akan menutup mata disana… biarlah waktu yang menjawabnya…

Satu hal yang pasti, sampai mana pun kami melangkah, kami tetap INDONESIA!!!

Advertisements