2 Minggu

Tidak terasa hari ini tepat 2 minggu kami berada di Melbourne, Australia.  Saya ingin merangkum apa saja yang terjadi selama 2 minggu ini, seingatnya saya yaaa… ^^

Charger,

Charger handphone, tempo hari saat akan berangkat kami mengalami over baggage nah… hal itu membuat saya akhirnya meninggalkan 1 tas slempang yang berisi semua komponen pendukung mobile kami seperti earphone, USB Cable, dan tentunya charger cadangan untuk kedua smartphone kami.  Masalahnya, setelah sampai disini sekitar 3 hari, tiba-tiba kabel USB istri saya tidak berfungsi, hal itu membuat kabel tinggal 1 dan harus sharing saat ingin mengisi nyawa smartphone kami berdua. Kenapa ga beli aja? Pertanyaan bagus, saya tidak memutuskan untuk beli sekarang karena saya sebetulnya punya banyak kabel USB yang bagus, hanya saja tertinggal di Indonesia, dan juga uang kami terbatas jadi apa yang bisa kami akalin dan hemat akan kami lakukan.

Nahh… karena saya harus bekerja, maka saya suka melakukan charger saat malam hari (maksudnya agar pagi hari sudah beres dan tinggal dibawa jika harus kerja), yang menjadi tantangan disini adalah istri saya pun suka melakukan hal yang sama di malam hari. Jadi sering kali saat malam dan dia sudah terlelap, diam-diam saya tuker smartphone dia dengan punya saya, dan…. pagi-pagi sudah ada yang mendelik sampai memandang saya karena smartphone nya tinggal 5 watt huakakaka… (maap honey… :P).

BAB

Sudah menjadi rutinitas saya selama ini jika pagi harus melaksanakan hajat kehidupan agar sirkulasi makanan diperut saya bisa berotasi se normal normal nya. Nah… disini itu kalau pagi sering kali bermain di suhu kisaran 4 sampai 10 derajat, kebayang donk semua benda jika berada di suhu tersebut akan seperti apa…

Hari-hari pertama, saya dengan polosnya (mungkin karena sudah kebelet 45) saat alarm hajatan sudah datang langsung menyambar baju hangat lengan panjang lalu saya pakai, nah… pede deh… sudah bisa menahan dingin donk.. hahaha… langsung menuju tempat pembebasan rasa kebelet, plorotin penutup bawah lalu duduk diatas nya dannn…. nyesssss…. bagaikan tersengat listrik langsung loncat berdiri dan rasa kebelet pun hilang (untung tidak malah keluar kemana-mana karena kaget setengah modar) damn… (ups sorry…) rasa nya itu loh… coba bayangin aja pagi-pagi mata masih 5 watt lalu dibagian yang agak sensitif ditempelin benda yang dingin nya ampun-ampunan… brrr…. langsung jadi halogen nih mata…

Ini belum cerita tentang pembersihan sesudahnya karena disini tidak ada air semprot-semprot seperti di Indonesia wakakaka…. udah ah… ntar pada jijay bijay…

Tram

Disini yang nama nya tram itu sangat sangat terkenal dan nyaris ada dimana-mana, kabel-kabel listrik untuk menggerakan tram itu udah seperti sarang laba-laba apalagi di city.

Nah… ceritanya kami hari ini akan ke KJRI Melbourne untuk melakukan lapor datang. Setelah dicari rute nya sesuai alamat yang kami dapatkan, mulailah kami berangkat sesuai rute yang kami pilih (disediakan beberapa rute beserta how to nya oleh aplikasi PTV, cari aja di google playstore karena aplikasi ini sangat membantu untuk wisatawan maupun pengunjung pertama seperti kami). Setelah sampai di city, kami pun turun di stasiun Flinder yang terkenal itu, setelah keluar dengan pede nya masuk kedalam tram yang no nya sesuai dengan yang ditunjukan oleh aplikasi PTV, kami naik duduk dengan manis nya sambil lihat sana sini mengagumi kecantikan kota Melbourne.

Setelah beberapa tram stop kami pun mulai saling lihat-lihatan satu dengan lainnya, kok aneh ya… kami ingin ke tram stop no 27 untuk bisa ke KJRI tapi ini stopping nya kok makin ke angka yang mengecil. OMG… kami salah arah wakakakak… akhirnya di next stop kami pun turun dengan bangganya lalu pindah jalur sambil berkata satu dengan lainnya “ga papa… itung-itung belajar naik tram dan menikmatinya” ahh… pembenaran… untung masih keburu buat lapor walaupun nyasar “lagi” ke arah depan KJRI padahal masuknya dari bagian belakang gedung KJRI nya, di web ditulis sih… tapi ya namanya juga wong ndeso mlebu kota hehehe…

image
Akhirnya udah deket KJRI ^^,

Buang sampah

Di artikel sebelumnya saya pernah menyinggung tentang buang sampah disini pun harus mikir. Nah… disini ada 2 jenis tempat sampah, 1 yang warna hijau untuk sampah beneran yang ga bisa di daur ulang, yang kedua yang warna kuning untuk sampah yang bisa di daur ulang. Dan… disini tukang sampah tidak seperti di Indonesia yang tiap hari keliling ngambilin sampah rumah tangga (dan tidak pakai pisah-pisahan antara daur ulang atau tidak). So, kami harus pintar-pintar mengatur banyaknya sampah yang kami produksi agar tidak numpuk di rumah hahaha…

Kok numpuk dirumah? Jadi begini, saat kita ada sampah didalam rumah, maka sampah tersebut harus kita letakan di box di luar rumah kan, yang kemudian kita keluarkan ke tepi jalan pada hari tertentu agar diambil oleh tukang sampah. Nah… jika box sampah diluar rumah sudah penuh, kita tidak boleh menaruh sampah berikutnya di sekeliling box tersebut karena tukang sampah disini ngambil nya pakai truk yang ada lengan otomatis gitu (cenggih yee…). Jika kita nekat, maka ada denda yang menunggu hehehe… sampah lebih dari 24 jam diletakan di tepi jalan maka akan didenda (mungkin beda council beda peraturan). Bisa sih klo kita buang di box orang lain/tetangga, tapi kan malu kalau ketauan, masing-masing sudah ada jatah kok maen serobot, malu-maluin merah putih ntar hehehe… kecuali kita ijin ke orang nya dan diberikan jalannya itu beda cerita.

Jadi, setiap senin sore saya dorong box sampah hijau ke tepi jalan agar selasa pagi bisa diangkut, di senin kedua saya dorong box sampah hijau dan kuning (jika ada sampah daur ulang). Dan setiap selasa paling lambat malam saya dorong balik lagi kedalam halaman. Cape ga tuh? Ga lah ya… kan seminggu sekali saja hehehe… hasilnya kota ini bersih ^^,

Taman

Nah… untuk yang satu ini belum ada lawan deh selama seumur hidup saya berkelana kesana kemari, disini taman nya luar biasa… udah besar, hijau, bersih, ada playground untuk anak-anak, sebelah tempat belanja seperti plaza/ mall, tinggal jalan kaki 10 menit sampai. Apalagi coba kurang nya hahaha…

image

image

image

Akhirnya terwujud juga salah satu hal yang akan saya lakukan saat sudah sampai di Melbourne yang pernah saya tuliskan disini, setelah ada 1 hari yang suhu nya menghangat di angka 25 derajat. 25 derajat itu disini hangat lohh… kalau di Jakarta sudah pada seneng juga kan karena sejuk hahaha…

Hari ini, setelah dari KJRI kami sempatkan untuk jalan-jalan ke sekitar Federation Square. Lihat sungai Yarra yang terkenal itu sambil ambil beberapa foto.

image

image

image

image

Daerah nya benar-benar bersih sekali. Bikin betah berleha-leha lama disana hahaha…

Karena sudah semakin sore, kami bawa anak-anak ke daerah federation square nya, anak pertama kami girang bukan kepalang karena dia bisa mengejar-ngejar burung.

image

image

image

image

Setelah puas mengejar burung, kami pun langsung jelalatan mencari hot choco, serius itu angin nya duingin bener walaupun matahari sedang bersinar dengan gagah nya.

image

Nah… terakhir sebelum pulang, foto lagi ahh… sekarang di depan stasiun yang terkenal itu.

image

O iyaa… kami sempetin juga ke Visitor Center dekat Fed Square, kami telusuri satu per satu tempat-tempat yang akan kami hunting selama disini dengan santai hehehe… dan hasilnya adalah setumpuk brosur yang akan kami baca pelan-pelan sambil memutuskan setiap bulan mau jalan kemana yaaa…!?

image

Oke, saatnya pulang sambil gendong masing-masing 1 anak karena mereka udah pada tidur siang… dan saya kebagian yang lebih berat dari tabung LPG 12 Kg hiks… nih tangan lama-lama kekar deh…

Tapi tetap happy… 🙂

Advertisements

Dan… disini lah kami.

Minggu pertama di Melbourne (eh… belum ya ?!? Hahaha… kurang sehari lagi), sebuah mimpi yang menjadi kenyataan (dan saya pun merasa seperti masih bermimpi). Disinilah kami sekarang, hidup di kota yang cantik dan bersih ini yang membuat saya semakin tidak heran jika kota ini menjadi kota yang paling layak huni sedunia selama 5 tahun berturut-turut sampai tahun 2015 !!! Bisa di cek disini.

Setelah memulai dan melewati hari-hari pertama yang berat dan menyiksa (sekarang juga terasa agak tersiksa sih hahaha… maklum proses penyesuaian), akhirnya proses kehidupan mulai kembali ke jalurnya sedikit demi sedikit.

Mau saya ceritakan hari-hari pertama kami seperti apa?

Oke, kami mendarat di Melbourne dalam keadaan rumah belum ada listrik dan gas dengan cuaca sedang asik bermain di antara suhu 9 ke 12 derajat (wew…), bawa anak 3 tahun dan 1 bayi umur 6 bulan kebayang donk kalang kabut nya saya mengejar itu tukang listrik dan gas. Disini ga seperti di Jakarta yang listrik tinggal telp trus… yaa… gitu deh… langsung tersambung, gas tinggal telpon enci blok sebelah langsung diantar. Disini beda, proses nya lebih rapi dan jelas karena kita di mintain ID dsb nya… jadi… hari pertama disini saya sambil ngurus buka bank account dan no handphone dibumbui kejar-kejaran dengan provider listrik dan gas agar bisa di hidupkan sebelum jam 6 sore (untung ada kawan baik hati yang bisa telp sana sini pakai no Oz dia).

image
Suhu salah satu dini hari saat masih jetlag.

Dann… heater, electric blanket sudah pada sold out karena sudah ganti musim, nah…. masalah baru lagi… beku deh ntar malem ini sekeluarga menikmati 10 derajat yang dengan manja nya membelai-belai kulit kami… syukurnya… akhirnya dapet 1 heater ex display yang harga nya diatas 100 dollar yang kemudian di diskon 50% (syukurlah) yang langsung saya ambil tanpa mikir. Mirip tivi ya? Hehehe… kalau dinyalain mirip perapian karena ada sinar lidah api menari di bebatuan nya (lihat gambar yang di pojokan).

image

Lalu… syukur lagi karena hari kedua ada kawan mengajak ke komplek belanja dekat rumah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki 10 menit (iya komplek karena semua supermarket besar tumplek plek jadi satu di satu tempat) dan setelah jalan sana sini, tanya sini sana… eh ada sisa 4 electric blanket yang kemudian langsung saya borong 3 sambil senyum-senyum ngelus dada (akhirnya malem ini tidur nya bisa enakan…).

Setidaknya di (hampir) minggu pertama ini sedikit demi sedikit kehidupan mulai kembali ke track lagi dan rumah juga sedikit demi sedikit sudah ada beberapa barang seperti tivi untuk hiburan anak-anak.

image

Dan dapur buat masak juga sudah bisa digunakan secara makananwi.

image

Belum yang lain nya yang kalau diceritain bisa jadi novel di artikel ini, seru deh pokoknya hehehe… (dan ngeselin juga), pindah rumah saja repot kan, ini pindah negara dan benua dengan bawa bayi 6 bulan dan balita 3,5 tahun… penyesuaian cuaca nya sih bener-bener tantangan, belum penyesuaian yang lainnya. Misalnya? Buang sampah rumah tangga aja harus mikir! Kaga heran ini kota bersih begini. Cape ga tuh… ups… ga papa kan penyesuaian, nanti juga lama-lama jadi biasa. Tapi, menurut saya pribadi yang paling penting dari semua nya adalah ini sangat layak diperjuangkan jika kalian mencari value of life.

Oke… sekarang saya mau cerita kota nya aja ah… lebih enak dan secara tidak langsung kota ini membuat semangat saya jadi tidak kalah dengan semua keadaan yang menjadi tantangan disini hehehe…

Saya belum pernah mengunjungi Melbourne sebelumnya, mungkin itulah yang membuat saya menjadi terkaget-kaget sekaligus terkagum-kagum tiada henti saat melihat keindahan kota ini. Udara nya… mantap segar nya, udara Puncak sebelum macet seperti sekarang saja belum tentu lebih baik, langitnya bersih biru cerah tidak penuh asap polusi. Air nya… ah… ga usah dikata deh, bisa langsung diminum dari keran dan boleh diadu dengan air terbaik di kota sebelumnya, kalah air galonan di kota sebelumnya yang katanya dari air mata pegunungan itu.

Kota nya sangat cantik dan teratur, apalagi saya dapat tempat tinggal yang tidak jauh dari pusat kota tapi suasana nya seperti pedesaan, sepi banyak pohon dan tenang. Disini setiap pengguna jalan mematuhi aturan yang ada dan saling menghargai satu dengan lainnya, tidak ada saling serobot apalagi petantang petenteng, sangat tertib jika dibandingkan “kota sebelumnya”. Yah… mungkin memang beda mental dan peradabannya kali ya.

Salah satu hal yang membuat saya paling kagum adalah dijunjung tinggi hak pejalan kaki, disini pejalan kaki sangat dihormati dan mereka diperlakukan seperti Raja, pejalan kaki adalah pengguna jalan yang memiliki keistimewaan paling tinggi, semua harus ngalah dengan pejalan kaki jika mereka berada ditempat yang memang diperuntukan oleh mereka. Disini pejalan kaki disediakan tempat yang bersih dan lebar untuk berjalan dan tempat tersebut tidak akan dijadikan ajang perebutan dengan pedagang asongan apalagi biker, walaupun begitu pejalan kaki pun tetap harus ikut mematuhi peraturan yang berlaku terutama saat akan menyebrang jalan, jadi tidak terlihat tuh yang nyebrang suka-suka, atau mau nyebrang di tempatnya tapi masih takut-takut disundul motor atau mobil. Bahkan jika ada perbaikan jalan atau galian apapun yang memotong atau mengganggu jalur pejalan kaki, mereka akan membuatkan jalur sementara agar para pejalan kaki tetap bisa senyaman mungkin melakukan aktivitasnya (gambar pertama dibawah ini). Hal yang sudah pasti tidak akan saya temukan di “kota sebelumnya”.

image

image

image

Selain itu, hal lainnya adalah arsitektur kota ini, entahlah… mungkin karena saya orang yang juga menyukai seni, jadi saat melihat kota ini jadi berasa benar-benar nyeni banget. Gedung-gedung tua nya sangat dirawat, itulah kenapa sampai saat ini pun mereka tetap menjulang mencakar langit dengan gagah dan bangga nya diantara bangunan-bangunan baru yang lebih modern, membuat mereka menjadi sebuah perpaduan kontras yang elok antara sebuah kemegahan angkuh yang klasik di masa lalu dengan kemewahan modern yang baru saat ini, yang sangat memanjakan mata orang-orang yang memandangnya dalam 1 pandangan mata. Luar biasa indah dan cantik.

image

image

image

Kota ini juga penuh dengan taman, tidak heran jika Melbourne disebut juga kota taman, apa yang kalian pikirkan jika semua kota penuh dengan taman? Tentu…. udara yang segar dan ruang terbuka yang nyaman! Udara yang bersih dan segar tanpa penuh dengan asap kendaraan dan rokok, polusi. Selain itu tentu saja ruang terbuka ini membuat kita relax… iya, sangat santai… bisa melihat anak-anak main dengan riang gembira di alam terbuka yang aman dan bersih pun sudah cukup membuat hati dan pikiran kami relax, belum lagi kami bisa sekedar duduk-duduk santai dan bercengkerama sambil memperhatikan kedua anak kami bercanda di rerumputan tanpa kawatir dengan polusi dan keamanan sambil menikmati udara yang segar dan suhu yang dingin-dingin hangat. Dan yang paling membuat saya kagum adalah kebersihan taman nya, tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan bahkan seekor gukguk yang dibawa jalan-jalan oleh majikan nya pun di pungut pup nya saat si gukguk buang air besar. Sungguh luar biasa mental disiplin nya jika dibandingkan tempat saya dulu. Ahhh… mungkin ini zona nyaman berikut nya dalam hidup kami. Amin.

image

Belum lagi sistem transportasi umum yang bersih, tertib, rapi dan yang paling penting jarang telat. Disini saya belum pernah melihat keadaan kereta, bus maupun tram seperti di Jakarta saat jam pergi dan pulang kerja, dimana penumpang nya berdesakan seperti ikan pepes. Masing-masing tahu diri untuk mengalah agar tidak terlalu penuh, mungkin karena servis publik transport nya juga bagus kali ya. Kami benar-benar seperti orang yang dimanja dengan semua fasilitas ini walaupun kami memberikan sumbangsih juga melalui pajak yang kami bayarkan. Akan tetapi, siapa yang bisa komplain lagi jika hasil kelola pajak kami dikembalikan dalam bentuk seperti ini? Entahlah…. kami tidak mampu memberikan komplain, ini terlalu bagus untuk di komplain jika saya bandingkan dengan “kota sebelumnya”. Jalanan yang mulus hampir tanpa lubang, publik transport yang rapi, bersih dan tertib, taman yang terawat, pelayanan kesehatan gratis tapi dilakukan penuh Profesional, dan lain sebagainya. Membuat saya tidak bisa komplain dengan besar nya pajak yang dipotong, karena timbal balik nya sangat setimpal.

image

image

Apalagi setiap pagi jika saya harus berjalan ke stasiun atau halte terdekat untuk naik publik transport, dimana perjalanan saya dihiasi pohon-pohon hijau kanan kiri, dihibur indahnya kicauan burung sana sini, ditemani oleh tupai yang berlarian kesana kemari sekedar bercanda satu dengan lainnya atau mencari makan, dan menghirup udara yang segar dan bersih membuat saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan dan merasa beruntung bisa membawa keluarga dan anak-anak saya kesini.

image
Ini adalah sebagian jalanan yang saya lalui saat jalan kaki berangkat kerja.

Semoga Tuhan memberikan kami kesempatan untuk hidup selama mungkin disini untuk menikmati semua keindahan dan kenyamanan yang tidak terkatakan ini.

Terimakasih Tuhan… Terimakasih…

Sah!

Finally, today we are officially Australia Permanent Resident.

Sah! PR kami sekeluarga akhirnya aktif hari ini seiring dengan first entry kami ke Negeri Kangguru.

image

Saya masih tidak percaya jika hari ini bisa terwujud dalam hidup saya, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa saya bayangkan dan saya rasakan dengan melihat hasil jepretan orang-orang yang berkunjung maupun tinggal disini, membaca blog orang-orang yang sharing mengenai kehidupan disini, menonton video di youtube mengenai kota ini sambil membayangkan dan bertanya dalam hati “akankah suatu hari saya mampu membawa keluarga kecil saya untuk hidup disini dan membawa anak-anak untuk sekolah disini?”, dan hari ini saya benar-benar membawa keluarga kecil saya menginjak dan akan tinggal di kota ini.

Akhirnya, hasil perjuangan bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan kesempatan ini, terbayarkan, dan sekarang perjuangan sesungguh nya baru saja akan kami mulai.

Rasanya itu… tidak terkatakan… tidak terlukiskan…

Dan, kota ini benar-benar cantik ! Tadinya saya kira kecantikan kota ini yang di share orang-orang di tulisan, foto maupun rekaman video mereka hanyalah sebuah kiasan yang dibesar-besarkan a.k.a lebay, dan ternyata mereka benar karena yang terjadi malah saya jadi lebay sendiri karena sedari tadi melotot kesana kesini dan senyum-senyum tanpa henti karena takjub dengan kecantikan, kebersihan dan kerapian kota ini, dan dalam hati ini tidak henti-henti nya memanjatkan syukur

Matur nuwun Gusti, Matur nuwun… Matur nuwun !!!

Melbourne dikenal sebagai kota dengan sebutan 4 musim dalam sehari, dimana dalam 1 hari bisa saja pagi cuaca nya dingin menusuk tulang, lalu siang panas menyengat, lalu sore dingin lagi dan most of the time (katanya) langit kota ini lebih sering berawan. Nah, saat kami menginjakan kaki di kota ini pertama kalinya, udara 9 derajat langsung menyambut kami. Sungguh sebuah penyambutan yang sangat mengejutkan dari kota cantik ini, saya anggap ini sebagai pertanda baik dan ucapan selamat datang, yang membuat semangat ini semakin mengebu-gebu untuk melanjutkan langkah-langkah berikutnya mengejar impian kami.

Sekali lagi matur nuwun Gusti dan saatnya melangkah!

Bersama dengan sudah aktifnya PR kami, maka artikel ini akan menjadi penutup untuk kategori next journey, untuk pembaca yang mengikuti proses kami ini di kategori next journey bisa melanjutkan ke kategori australia dan/atau melbourne untuk sharing yang saya akan lakukan selama tinggal di Melbourne/ Australia.

Air

Sehari setelah pulang dari Tegal, tiba-tiba saya mendapati air di rumah bau dan keruh (lagi). Kejadian ini bukan yang pertama, beberapa tahun belakangan ini setiap kemarau tiba dan sungai yang menjadi sumber air utama pengolahan air yang menyuplai kebutuhan air di perumahan saya kering, terjadilah kualitas air yang seadanya mengalir ke rumah-rumah disini dan salah satu nya rumah saya.

Bukan masalah sudah kekeringan masih untung ada air masih saja ngeluh… bukan… yang menjadi masalah adalah air yang saya gunakan ini tidak gratis dan harganya pun tidak termasuk murah (setidaknya untuk ukuran saya), sudah tentu saya mau air yang setimpal kualitasnya dengan biaya yang saya keluarkan donk…

Tapi ya sudahlah… memang harus siap menerima keadaan ini karena ya memang harus siap kalau ingin tinggal disini. Itulah kenapa saya berusaha membawa anak-anak saya agar mereka bisa mendapatkan tempat dimana airnya dikelola dengan baik dan sesuai, tidak asal-asalan begini. Jangankan dikonsumsi, dipakai untuk bersih-bersih saja saya ragu-ragu.

Walaupun hari ini kondisi air nya sudah mendingan ya… tapi tetap saja tidak sebagus dan sesegar biasanya (dimana kondisi yang saya anggap biasanya itu saja sudah saya anggap ga layak konsumsi, jadi saya hanya pakai untuk bersih-bersih saja). Lalu untuk konsumsi nya bagaimana? Terpaksa saya beli lagi air galonan, apa boleh buat.

Langsung mata ini melirik countdown, eh… ternyata 9 hari lagi… tidak terasa dalam hitungan hari kami akan berada ditempat dimana air bisa langsung diminum dari keran tanpa takut diare dan keracunan limbah.

Semoga semua nya lancar dan dilancarkan.