NS

Berawal dari sebuah kunjungan ke rumah kawan kami disini, anak-anak akhirnya berkenalan dengan sebuah karakter yang sejak dulu terkenal dan menjadi salah satu ikon perusahaan game besutan Jepang, Nintendo, yang sekarang ini sudah ber-evolusi menjadi semakin “cenggih”, Mario Bros beserta handai taulan nya.

Sejak mengetahui karakter itu, si mbarep AL semakin suka dan sering memutar youtube tentang Mario Bros, tidak hanya sampai disana, dia juga semakin fasih menggambar karakter itu beserta kawan-kawan nya dan sering kali juga membuat power point yang berujung minta di print lalu oleh dia digunting dan dijadikan sebuah permaninan racing menggunakan karakter kertas bersama adiknya dengan membuat jalur balapan sendiri entah dari selimut lah, bantal, kardus dan sebagainya berdasarkan imajinasi liar dia yang membuat saya takjub, bisa ya dia begitu??

Setelah sekian lama, mereka akhirnya merasakan sendiri bagaimana bermain Mario Kart Racing di CBD, semua berawal dari kami ingin bertemu kawan saya dari Singapura dan Indonesia yang kebetulan datang di tulisan sebelumnya, dan sembari menunggu kami melewati depan JB-Hifi yang ternyata terdapat stand Nintendo Switch yang dengan sukses menarik perhatian orang-orang yang lewat termasuk anak-anak kami. Mereka pun merasakan bermain Mario Kart Racing disana selama beberapa menit.

Pengalaman beberapa menit itu kemudian membuat mereka semakin kreatif terutama si mbarep AL. Dan setiap akhir pekan membujuk saya untuk ke City lagi karena dia ingin bermain (apa lagi kalau bukan) Mario racing tersebut. Haiyahh… hahaha…

Beberapa kali saya menolak karena memang kami ada urusan lain karena tanah yang kami beli disini akan pindah lama dalam waktu dekat dan banyak sekali hal yang harus kami urus. Lama kelamaan, saya entah kenapa jadi merasa kasian (pembenaran hahaha…) karena dulu saya tidak pernah kesampaian memiliki nintendo, halah… alasan ini sebetulnya ga membuat saya menjadi benar karena membelikan mereka.

Akhirnya saya diskusi dengan istri dan minta ijin dia agar bisa membelikan anak-anak Nintendo Switch. Loh… kok kenapa harus ijin sama istri? Iya donk, kami sudah sepakat apapun yang menyangkut anak-anak harus dibicarakan dulu, sehingga kedua pihak memiliki kesepakatan, terlebih alat permainan ini pada akhirnya akan melibatkan peran istri saya saat sudah menyangkut waktu belajar, rehat dan sekolah kan. Jadi sudah selayaknya kami diskusi terlebih dulu.

Tadinya kami ingin belinya pas rumah sudah jadi, tapi ya dasar bapak nya ga tahan ngelihat ekspresi mereka yang berbinar-binar setiap melewati iklan nintendo switch yang kamfretnya dibarengin poster mario segede atun membuat saya sukses membujuk istri untuk membelikan mereka lebih awal.

Istri awalnya ga setuju, tapi setelah saya hitungkan cash flow yang kami miliki (tentu donk, kami kan bukan horang kayah yang tinggal tepuk tangan duit datang dengan sendirinya) akhirnya dia pun memberikan ijin, yeyy… langsung kami hunting mana tempat yang bisa memberikan harga termurah. Setelah sepakat untuk dimana kami akan membeli NS ini, istri terlebih dahulu mengumpulkan anak-anak, dan diskusi dengan mereka tentang aturan yang harus mereka taati saat sudah memiliki NS termasuk kapan boleh bermain kapan tidak. Setelah sepakat mufakat, saya pun menuju konter untuk membayar dan game pertama yang mereka ambil adalah (apalagi coba?) Mario Kart Racing seharga 79 AUD, OMG!!! Mahal mak….

Ekspresi mereka itu benar-benar tidak ternilai hahaha… senengnya itu benar-benar plain dan tidak dibuat-buat termasuk si emak saat ikutan main dan berhasil juara 1 hahaha… ga percaya? Coba lihat video dibawah.

Video yang sama juga saya upload ke media sosial saya yang lalu di komen salah satu kawan kerja saya di Jakarta dulu, Mas Erry. Dia sukses mendokumentasikan momen saya sedang mengerjakan proyek Bvlgari Bali yang kebetulan saat itu bersama dia di https://erryseptiawan.blogspot.com/2007/06/hardjo.html?m=1 yang merupakan salah satu momen karir terbaik yang pernah saya miliki, dan ikan bakar itu pun menjadi salah satu ikan bakar ter-nikmat yang pernah saya santap, entah karena memang saya sedang lapar dan kecapean, atau memang karena enak, atau memang karena itu salah satu momen dimana saya bisa makan ikan bakar sebesar itu dengan hasil keringat sendiri setelah sekian lama jungkir balik setelah ditinggal mendiang Papa 6 tahun sebelumnya, ah… rasanya itu tidak ternilai dan terlukiskan, ternyata se-sederhana itu untuk menjadi bahagia.

Apapun itu, suwun Mas Erry, momen itu sukses membangkitkan salah satu ingatan paling berkesan dalam hidup saya.

Advertisements

Nah…

Nah… akhirnya kami bertemu setelah panjang kali lebar ngobrol di telepon selama setahun belakangan ini. Yang dibahas? Banyak, saya tukar pikir masalah migrasi dan lain sebagainya plus bagaimana hidup disini agar Albert ga kaget, plus bagaimana mengurus ini dan itu agar dia ada gambaran. Dia, membantu saya dari sisi teknis yang dia jauh lebih bagus dari saya tentunya.

Hari ini, albert ada tugas ke Melbourne dan kami pun janjian kopdar gan hahaha… dan masing-masing kenyang menyantap setengah porsi iga B2 plus 2 pitcher Bir yang lagi promo.

Puas bertukar obrolan dan perut kenyang kami pun pamit satu dengan lainnya.

Tuhan sungguh baik, dan banyak dari rencana Dia yang tidak kita duga ya…

3 asal dalam seteguk Soju

Ahh… akhirnya kami berjumpa setelah sekian lama tidak pernah tatap muka. Hari ini kami kedatangan kawan dari 2 negara, Indonesia dan Singapura.

Sejatinya kami berkawan sudah dari dulu kala, saat masih unyu-unyu sekolah di kota Tegal. Susiane yang setelah lulus SMP melanjutkan petualangan ke Negeri Bambu sehingga kurang lebih 23 tahun tidak bersua (jika tidak menghitung saat saya datang ke pernikahan dia 2,5 tahun lalu di Jakarta, tepat sebelum saya migrasi yang kedua kalinya ke Melbourne) dan ada juga Yani yang pindah ke Singapura setelah lulus kuliah dan menetap disana sampai sekarang.

Yani dan saya masih sempat berjumpa 2 tahun lalu, saat dia datang berkunjung bersama kawan dari Tegal Silvia dan juga kawan yang sudah tinggal di Melbourne Priscil. Hari ini kami bertiga di tambah istri saya, Priscil dan ga ketinggalan 2 unyils yang ga bisa diam, bertemu dalam meja makan menikmati masakan korea yang khas dan saling mengangkat Soju sambil bertukar cerita seru tentang kabar masing-masing. Ahh… rasanya seperti mimpi kami malah berkumpul di Melbourne hari ini.

Setelah selesai makan malam, kami pun memindahkan tongkrongan kami ke sebuah restoran Gelato yang bersembunyi cantik dalam sebuah gang, jujur kalau Priscil ga mengajak kami kesana, kami tidak menyadari kehadiran cafe gelato itu walaupun sudah hampir 2,5 tahun tinggal di Melbourne dan sering luntang lantung di City hahaha… thank you Priscil sudah menunjukan tempat cantik itu.

Setelah puas bercengkarama, dan duo unyils juga sudah berceloteh ga betah minta pulang, dan mereka bertiga pun harus istirahat menyiapkan fisik untuk pertualangan berikutnya besok pagi, kami pun masing-masing berpamitan dan pulang.

Tuhan sungguh baik, semua kejadian yang terjadi dalam kehidupan saya benar-benar diluar dugaan dan mengagetkan. Kenapa saya bisa bilang begitu karena jujur semua ini buat saya masih seperti mimpi. Bisa hidup bersama keluarga kecil saya di kota yang pernah terpilih sebagai kota paling layak huni 7 kali berturut-turut, dan mendapatkan kunjungan dan berkumpul dengan kawan-kawan yang sudah sekian lama tidak berjumpa adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari sebuah intan, momen seperti ini tidak ternilai kawan. Dan semua ini benar-benar seperti mukjizat buat saya… dan saya hanya bisa berkata Terimakasih Tuhan, untuk semua ini.

Kami bisa merasakan kehadiran 3 Negara dalam seteguk Soju yang penuh dengan kehangatan persahabatan. Sesuatu yang langka dan berharga.

Akhirnya Titled

Yeahh…. akhirnya kami mendapatkan berita yang sudah kami tunggu selama 2 tahun, tanah yang kami beli titled!

Dan saya juga sudah ditelpon conveyancer kami dan dipertegas oleh pihak developer sendiri.

Berita ini pun langsung kami teruskan ke builder yang sudah kami pilih 2 tahun lalu agar mereka bisa segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bisa mulai membangun rumah mungil kami.

Semoga semua lancar yaaa… sudah ga sabar kami ingin memiliki tempat tinggal permanen agar ga pusing pindah-pindah alamat setiap masa sewa tidak diperpanjang oleh yang punya.

Dokumen pun langsung minta disiapkan oleh mortgage broker yang kami pilih dan minta di legalisir. Duh, beruntung kami berada di Australia yang sudah lebih tertib dan rapi, kalau di Jakarta di hari sabtu tiba-tiba minta dokumen terlegalisir sih bisa-bisa habis uang menyan banyak secara disana apa-apa dibuat drama serumit mungkin.

Disini, saya hanya perlu membawa dokumen asli ke Officeworks lalu fotocopy, dan bawa keduanya ke kantor pos mana saja dan minta di legalisir dokumen fotocopy dengan menunjukan dokumen asli dan biaya legalisir nya gratis hahaha… ga sampai 30 menit semua beres sudah termasuk waktu perjalanan karena disini kan ga macet juga.

Habis makan siang rencana nya kami ingin menengok tanah kami untuk melihat apakah siap atau tidak untuk dipindah-namakan, dan setelahnya akan menemui kawan di city disaat makan malam yang kebetulan datang dari Indonesia dan Singapura hari ini.