Dorongan sebuah impian

20 tahun lalu (kira-kira), sesaat saat Alm. Papa pulang dan duduk di teras rumah kami di Tegal sana, iseng ku lontarkan sebuah pertanyaan.

Me : “Pa (demikian bagaimana biasa aku memanggil dia), kenapa sih aku harus kuliah?”

Alm. Papa : “Kenapa emangnya? Kamu ga minat kuliah? Minat kamu terus apa?”

Me : “Ga juga sih, pengen tau aja kenapa Papa malah dorong aku untuk kuliah bukan usaha aja”

Alm. Papa : “Hemm… Papa berasal dari pulau kecil di kepulauan riau sana, namanya selatpanjang. Disana kualitas pendidikannya ga sebaik di pulau Jawa, dulu Papa pengen kuliah tapi ga kesampaian, itulah kenapa Papa merantau kesini. Papa punya impian semua anak Papa itu bisa Sarjana”

Me : *terdiam

Saya lalu meneruskan program PMDK yang memang sudah saya tempuh untuk Universitas Tarumanagara Jurusan Teknik Elektro waktu itu, yang kemudian berakhir dengan diterimanya saya di Jurusan itu.

19 tahun lalu (kira-kira), sesaat sebelum Alm. Papa kritis, pesan terakhir dia adalah “sebisa mungkin, jadilah Sarjana dan upayakan leni (adik saya) juga bisa sarjana ya”

Kemudian beliau tidak sadarkan diri ga lama kemudian dan pergi meninggalkan kami selamanya…

Kalimat-kalimat itu, kemudian mendorong saya untuk membuat sebuah impian dikemudian hari. Jika Alm. Papa saya ingin kuliah tapi tidak kesampaian lalu mengambil langkah ekstrim dengan merantau ke pulau Jawa demi melihat (walaupun tidak kesampaian juga) anak-anak dia sarjana (agar tidak bernasip sama seperti dia). Itulah kenapa saya yang ingin merasakan kuliah diluar negeri tidak kesampaian karena Alm. Papa saya sudah keburu pergi ke alam lain, membuat sebuah impian, anak-anak saya harus punya kesempatan itu.

Memang, untuk bisa mendapatkan kesempatan itu bisa dengan banyak cara. Karena saya tidak berasal dari keluarga mampu, dan saya pun tidak suka berandai-andai untuk sesuatu yang tidak konkret. Maka saya set impian saya untuk tidak membuat anak saya bisa kuliah di luar negeri tapi sekolah dari kecil diluar negeri…

Visi yang sangat gila karena saya tidak punya apapun saat mikirin impian itu, lah orang biar bisa makan layak 3 kali sehari aja belepotan kok…

Dan itulah salah satu alasan kenapa saya sekarang ada disini, di Australia, mati-matian mengejar Permanent Resident, dan begitu emosionalnya saat melihat anak-anak saya melenggang ke sekolah disini walaupun masih Kinder (TK) dan Preparation (1 tingkat diantara TK dan SD kelas 1). Sebuah impian yang membuat saya melepaskan segala hal, segalanya… karir, kemapanan, semuanya disana untuk berjuang dari bawah lagi disini…

Saya… tidak akan membebani anak-anak saya dengan apa yang saya kejar. Karena sejatinya saya sudah berhasil membuka jalan bagi mereka (sejauh ini). Jadi saya akan serahkan kepada mereka untuk titik finish nya.

Tentu… tentu… apa yang saya impian saya bagikan kepada mereka juga, maksud saya disini adalah saya menghindari kesan memaksa mereka harus begini begitu atau menjadi sesuatu yang belum tentu diminati mereka hanya karena untuk memuaskan ego saya atas impian saya.

Sejauh saya sudah menyiapkan jalannya, sisanya akan saya serahkan kepada mereka sambil saya bimbing (bukan paksa).

Gila ya… memang semua ini gila, kadang saya memang hampir gila atas semua impian yang saya rancang baik untuk saya maupun untuk keluarga kecil saya. Dan semua kegilaan ini sering kali terasa ekstrim. Itulah kenapa saya sangat bersyukur punya pendamping yang kuat jantung nya mengikuti langkah saya yang kadang sasa kadang tanggo ini dalam mengejar apa yang saya mau.

Jujur… sering saya merasa cape dengan semua visi dan misi yang saya susun. Yang entah kenapa selalu saja ada kepikiran sesuatu yang secara tidak langsung mendorong diri saya untuk lebih lagi dan lebih lagi (sering saya merasa kok saya menjadi manusia yang kering rasa syukurnya, walaupun saya tidak pernah berhenti bersyukur sesering saya terkesan tidak pernah berhenti puas) sampai sering membuat hidup sendiri “susah”.

Apapun itu, sekarang sudah jam 1.40 dini hari, entah kenapa saya terjaga kemudian tidak bisa tidur. Sekarang mau coba tidur lagi karena besok harus berangkat kerja. Kerja untuk sebuah profesi baru, yang menuntut mobilitas dan selalu belajar hal baru. Semoga Tuhan memberkati jalan yang saya tempuh, karena tujuan akhir saya hanya 1 di dunia, untuk mereka (anak dan istri saya).

Advertisements