September Ceria

Entah kenapa suka saja mengucapkan september ceria, terasa cocok antara kata ceria dan september hahaha…

Melbourne sudah masuk ke musim semi, musim yang syukurnya mulai menghangat sedikit, ya setidaknya pakaian tebal seperti jaket rumah sudah bisa diparkirkan dan heater juga sudah bisa diistirahatkan sejenak.

Suhu mulai berada di angka belasan sekarang, mudah-mudahan (bukan sulit-sulitan ya) bisa semakin naik kedepannya dan bertahan di angka kisaran 20 sampai 23 untuk waktu yang cukup lama karena di rentang suhu itulah terasa paling cocok sama kulit tropis saya.

Seperti biasa saya terjaga di tengah malam begini, mungkin karena faktor U kali ya, mungkin juga karena tidur terlalu cepat karena jam 9 malam kemaren saya sudah mulai selonjoran eh ketiduran. Atau…. mungkin juga karena pikiran yang suka jahil di kepala saya terutama progres pembangunan rumah mungil yang kami beli ga maju-maju haiyahh… sekarang lagi nunggu ijin bangun (semacam IMB lah klo disana) di keluarkan oleh instansi terkait. Tanah kosong yang kami beli terpaksa kami perpanjang pagarnya agar bebas dari sampah.

Itu rumah setengah jadi yang di gambar bukan rumah kami ya hahaha… ga sebesar itu, itu tetangga 2 rumah dari kami.

Ya semoga saja bulan ini bisa keluar ijinnya, karena setelah ijin keluar builder masih butuh sampai 3 minggu untuk mulai membangun, yang artinya kalau ijin nya keluar bulan ini, maka bangunnya paling cepat bulan depan, sepertinya belum bisa deh Natalan di rumah sendiri tahun ini. Semoga tahun depan kesampaian ya…

Setidaknya nanti kami ada tempat tinggal permanent, ya… maklumlah kalau jauh rumahnya hehehe… karena di lokasi itu yang sesuai sama kemampuan kami. Terlebih kami datang tidak dengan bantuan modal dari orang tua maupun saudara, juga tidak ada aset disini yang bisa tinggal kami gunakan. Jadi kami harus bisa melakukan kompromi yang lebih lebar dari kalian pada umumnya saat sedang mengejar sesuatu yang kami inginkan. Tidak mengapa kok, kami tidak iri dan kami menikmatinya karena itulah warna hidup kami, dan dari sanalah kami belajar the science of achievements and the art of fulfillment, tentu… tidak lupa bersyuku juga untuk semua mukjizat yang terjadi dalam hidup kami.

Advertisements

September

Agustus sebentar lagi berlalu, besok sudah masuk September yang artinya musim semi dimulai. Musim semi tahun ini (yang ternyata setelah saya sadari) mirip dengan tahun lalu, terasa lebih dingin dari seharusnya karena global warming dan ini sudah menjadi alarm buat kami jika summer tahun ini pun tidak akan jauh beda (bahkan bisa lebih parah) dari tahun lalu.

Apapun itu, musim semi adalah salah satu musim kesukaan saya. Musim dimana bunga-bunga mulai mekar, kupu-kupu dan lebah mulai keluar, dan pohon-pohon botak mulai rimbun lagi mengubah suasana kecoklatan menjadi hijau kembali.

Selamat datang September, semoga segala sesuatu menjadi lebih baik lagi untuk beberapa hal yang sedang kami tunggu. Terutama rumah mungil yang sudah tidak sabar kami tunggu ijin pembangunannya yang seharusnya tidak lama lagi. Walaupun kemungkinan besar tidak akan selesai dibangun saat Natal, ya sudahlah semoga bisa pindah saat Imlek, amin….

Ikhlas

Jumat lalu genap saya bulanan di tempat kerja baru, sebulan yang rada aneh menurut saya karena ada beberapa hal kurang biasa yang belum pernah saya alami baik kerja di Indonesia maupun di Australia. Apapun itu, sebulan pun berhasil saya lalui dengan sedikit “cigukan”, dan… masih berusaha membiasakan diri dengan budaya di tempat baru ini yang karyawan nya berjumlah lebih dari sepuluh ribu kepala.

3 minggu kerja saya, tiba-tiba ada kabar jika manager payroll and benefits meninggal secara mendadak karena serangan jantung, dada saya rasa nya pengen copot karena baru beberapa hari sebelumnya kami baru saja diskusi mengenai superannuation dan benefit bagi karyawan yang bekerja di organisasi ini. Saat itu, sesaat mendengarkan kabar duka yang datang tidak terduga itu, saya merasa sangat tidak nyaman, entah kenapa saya merasa benar-benar kawatir. Kawatir jika hal itu terjadi pada diri saya, mungkin… pengalaman ditinggal papa dulu membuat luka batin saya kembali terusik saat mendengar kabar itu.

Menjelang sore, saya menyendiri di pantry (yang besarnya lebih dari unit yang saya sewa), saya duduk di pojok sambil menikmati secangkir teh hangat saya merenung. Saya merenung kenapa saya merasa begitu tidak nyaman dan kawatir. Di satu titik akhirnya saya mendapatkan jawaban nya, saya belum bisa ikhlas.

Belum bisa ikhlas untuk banyak hal, baik kepergian Papa maupun sesuatu yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.

Ikhlas, ilmu yang sangat sulit dipelajari apalagi diterapkan, ilmu mengenai menerima dan melepaskan, ilmu meletakan Iman diatas segalanya, ilmu berani menyangkal diri sendiri.

Ikhlas, sebuah ilmu yang harus terus dilatih dan dipelajari seumur hidup kita. Ilmu tentang tidak menuntut balik apa yang kita perbuat bagi orang lain. Ilmu yang membuat kita tidak akan merasa sakit hati karena masih menuntut timbal balik atas apa yang kita lakukan bagi orang lain.

Saya… masih harus banyak belajar, bagaimana menerapkan ilmu ini dalam kehidupan, walaupun saya sudah belajar mengikhlaskan beberapa hal, yang dimulai dari hal kecil, ternyata tetap tidak membuat langkah saya menjadi lebih mudah dan ringan, karena ego saya masih dominan dan sisi manusia saya masih terlalu berperan.

Hai Tengah Malam

Seperti biasa saya terjaga lagi di tengah malam. Mau sekeras apa pun saya berusaha tidur, baik tidur lagi setelah terjaga, tidur lebih cepat, atau tidur lebih lambat, tengah malam kurang lebih saya pasti terjaga lagi. Biasa sih dimulai dari kebelet kencing, sesudahnya lanjut kepikiran ini dan itu, dan biasanya berakhir dengan segelas blended scotch and whiskey yang saya campur soda lemon dengan perbandingan 3 : 1, hemm… enak…

Dalam hening nya malam dimana detak jam dinding terdengar begitu jelasnya, saya sering merenung. Terutama saat mendapatkan berita duka seperti hari ini, dimana salah satu rekan kerja tiba-tiba dipanggil Yang Maha Esa karena serangan jantung, membuat saya merasa semakin rapuh.

Kejadian satu dan lainnya membuat saya semakin kuat melihat kehidupan dari sisi lainnya. Tidak lagi gemerlap materi dan tumpukan uang, tapi lebih kepada apa yang bisa saya lakukan agar kehidupan ini tidak sia-sia dan dihabiskan hanya untuk mengejar materi yang tidak akan pernah ada habisnya, karena sejatinya kita sebagai manusia terlalu takut untuk berkata cukup pada diri sendiri.

Dunia sudah semakin tua, cepat, dan tanpa kita sadari memberikan tekanan demi tekanan kepada diri kita. Kehidupan disini yang begitu indah dan damai tidak lalu serta merta membuat kita merasakan firdaus, perjuangan demi perjuangan tetap harus dilakukan.

Dan semua itu menyisakan 1 hal, jika kita tidak boleh lupa dengan kebahagiaan.