Gerah…

Judulnya nyeleneh ya hahaha…. tapi beneran ini saya sedang gerah, bukan gerah karena galau sih… tapi karena suhu panas kemarin siang sampai sore yang sampai 36 derajat, yang sebetulnya terjadi dalam beberapa hari, membuat malam ini udara menjadi panas dan gerah. Saat dingin saja saya sering terbangun dini hari apalagi saat gerah begini (alibi).

Karena ga bisa tidur, akhirnya saya jadi utak atik program excel di laptop tua saya yang sudah berumur diatas 7 tahun ini, memang sih dah mulai lambat tapi sejauh ini sih masih ok lah menurut saya, toh cuman dipakai buat rekam pembukuan dan dipakai anak pertama saya bikin presentasi buat show and share project dia di sekolah.

Nahh… bicara pembukuan ya itu tadi excel yang saya maksud, karena ga bisa tidur saya jadi iseng bikin format baru pembukuan keuangan keluarga saya karena kedepan ada beberapa pos yang harus saya highlight mengingat rumah mungil kami yang jauh disana sudah mulai dibangun bulan ini. Ini excel pembukuan sederhana sih, pakai rumus-rumus sederhana juga, ya setidaknya saya jadi tahu uang yang saya hasilkan keluar kemana saja, sebesar apa, dan proyeksi kedepan akan seperti apa. Cukup membantu apalagi saat saya harus mengadakan penghematan karena sedang ada rencana kedepannya, saya jadi punya gambaran dimana pos yang bisa saya coba tekan pengeluarannya. Maklum, karena kami tidak memiliki latar belakang yang butuh uang tinggal metik, ya ini salah satu cara saya merencanakan keuangan keluarga yang pas-pas-an agar masih bisa diusahakan memenuhi keinginan kami kedepannya hahaha….

Dah ah… saya mau balik lagi ke excel saya, toh bentar lagi jam 5 pagi jadi sudah tanggung buat tidur karena hari ini kami ada rencana mau melihat progres dari pembangunan rumah mungil kami.

Hari yang tidak akan terlupakan (3)

Dulu saya pernah menuliskan sebuah artikel mengenai hari-hari tidak terlupakan dalam hidup saya disini. Yang juga merupakan kelanjutan dari artikel pertama yang bisa kalian dapatkan didalam link tersebut tadi.
Untuk tanggal dari 25 Desember 1980 sampai 7 Mei 2015 bisa kalian baca di link sebelumnya, jadi saya akan melanjutkan tanggalannya dengan tanggal setelah itu 🙂

07 September 2015 – Kami akhirnya berangkat migrasi ke Melbourne.

06 Desember 2015 – Kami, dengan berat hati akhirnya memutuskan jika kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami lebih jauh lagi karena satu dan lain hal. Kami pulang ke Jakarta pada hari ini.

14 Desember 2015 – Saya mulai bekerja di salah satu perusahaan systems integrator terbaik yang pernah saya temui di Jakarta.

15 Oktober 2016 – Saya menerima sakramen Krisma (Penguatan), akhirnya janji yang saya buat saat nikah terpenuhi.

30 Desember 2016 – Saya menerima kontrak kerja dari Melbourne, yeayy… proses mengejar mimpi bisa dilanjutkan lagi.

30 Januari 2017 – Saya pamit kepada team dan semua kawan saya di kantor karena ini adalah hari terakhir saya bekerja di perusahaan hebat ini.

01 February 2017 – Kami berangkat lagi menuju Melbourne 🙂

16 Mei 2017 – Akhirnya saya mendapatkan SIM Australia dan sah bisa mengemudi kendaraan roda empat di Melbourne.

24 Juni 2017 – Di hari ini kami memutuskan untuk melakukan down payment untuk sebidang tanah yang kami inginkan di belahan sebelah barat dari Melbourne.

26 September 2018 – Di hari yang satu ini, akhirnya saya bisa mengenapi salah satu janji yang dulu sempat saya ucapkan pada diri saat melamar istri saya, jika suatu hari saya harus bisa membelikan sebuah cincin tunangan untuk mengganti cincin lamaran yang tidak mampu saya beli saat melamar istri saya.

31 Mei 2019 – Akhirnya setelah penantian panjang, tanah kami titled juga horee…

26 September 2019 – Kami merayakan 10 tahun pernikahan, yeahhh… sudah 10 tahun aja ya… 🙂

23 Oktober 2019 – Rumah kami mulai dibangun, ga sabar pengen cepet-cepet selesai hahaha…

===

Tuhan sungguh baik… kami terutama saya sungguh diberkati oleh-Nya. Memang kejadian di tanggalan yang saya simpen itu ga selalu bagus semua, tapi itulah yang namanya hidup, selalu ada naik dan turun, dan yang paling penting adalah kita mau belajar dari setiap kejadian yang terjadi terlepas dari enak tidak enaknya, maupun bagus tidak bagusnya, karena belajar itu tentang bagaimana kita mengembangkan diri kita, melatih diri kita agar bisa menjadi lebih baik dan saya percaya semua kejadian memiliki artinya sendiri dan bisa membantu kita berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktunya jika kita mau belajar darinya.

Pesan Terselubung

Beberapa minggu ini saat saya coba baca-baca ulang lagi semua tulisan yang pernah saya tulis disini, mata saya terpaku pada beberapa artikel yang berisi 1 kalimat tentang pesan dibalik peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu antara kami mulai migrasi yang pertama, lalu kami harus pulang lagi dan kemudian kami bisa mencoba migrasi lagi yang kedua kalinya. Bacaan itu membuat saya kemudian merenung lama dan mencoba menggali lebih dalam kedalam ingatan saya yang pas-pas-an ini untuk mencari tahu dan berusaha merasakan pesan terselubung yang secara tidak sengaja mulai saya lupakan tersebut.

Setelah lama merenung, saya menyadari hal pertama yaitu mengenai kesempatan saya mengenal kawan-kawan baru, memang sih saya mungkin tidak perlu mengalami proses tersebut hanya untuk mengenal kawan-kawan baru, tapi disini saya sulit menjelaskan semua alasan dibalik ini, yang bisa saya rasakan hanyalah jika peristiwa itu tidak terjadi mungkin saya tidak akan beranjak dari tempat saya dan memiliki kesempatan bekerja di salah satu perusahaan system integrator terbaik dan mengenal team luar biasa didalamnya. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan mengenal banyak orang baru lainnya sepanjang proses itu terjadi, dan banyak di antara mereka masih keep contact dengan saya sampai hari ini. Mendapatkan kawan baru itu sebuah anugrah karena menambahkan orang-orang luar biasa dalam kehidupan kita.

Hal kedua yang saya sadari adalah sakramen krisma, jujur saja sih… kalau kemaren itu saya tidak gagal lalu pulang, mungkin sampai sekarang saya masih belum menuntaskan sakramen krisma yang merupakan salah satu janji saya kepada Romo saat akan menerima sakramen nikah di gereja. Kepulangan saya memimpin langkah saya ke perusahaan baru yang saya sebutkan sebelumnya, yang kemudian membuat saya mengenal 1 orang yang kemudian secara tidak sengaja menarik saya ikut persiapan sakramen krisma yang saat itu dilakukan setiap kamis malam di gereja. Tuhan sungguh luar biasa ya saat bekerja dan berkarya atas diri kita, sesuatu yang benar-benar berada diluar pemikiran saya dan sampai saat ini pun tetap membuat saya terkagum-kagum dengan prosesnya.

Hal berikutnya yang saya sadari adalah belajar hal baru, kepulangan saya saat gagal migrasi yang pertama kali memimpin langkah saya menjadi bagian dari perusahaan tersebut diatas, ini juga sebuah proses yang tidak terpikirkan oleh saya karena kesempatan ini selain membuat saya mengenal banyak orang-orang hebat juga membuat saya belajar banyak hal baru termasuk salah satunya ilmu manajerial. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu manajerial justru di perusahaan terakhir di Jakarta sebelum saya mencoba migrasi lagi untuk kedua kalinya, padahal saya hanya 1 tahun 1 bulan loh di posisi manajer, luar biasa ya jika kita berada ditengah-tengah orang hebat maka dengan sendirinya kita pun akan terbawa arus, yang perlu kita lakukan hanyalah menjadi spons dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

Satu hal lain yang juga berada dibalik pesan ini adalah Tuhan mau saya belajar untuk sabar, pasrah dan bersyukur. Ini ga gampang loh… terutama saat saya gagal dan pulang saat itu, pikiran dan hati saya bertanya-tanya untuk waktu yang lama mengenai semua kejadian yang terjadi begitu beruntun dalam kehidupan saya saat itu dan masih tidak menemukan jawaban yang bisa menjawab semuanya. Jawaban yang kemudian datang saat satu per satu peristiwa setelah nya sudah terjadi dan membuat saya sadar. Bagaimana saya tidak mencari-cari jawaban atas semua yang terjadi saat itu, keadaan kami yang hampir mustahil mendapatkan visa PR yang kemudian secara mukjizat bisa kami dapatkan tapi kemudian berakhir dengan gagal migrasi tentunya membuat saya bertanya-tanya ada apa dibalik semua itu. Pada akhirnya kemudian saya menyadari jika saya bukan digagalkan langkahnya, tapi sedang diuji untuk hal lainnya dan sedang diarahkan untuk melakukan hal lainnya terlebih dahulu, hal-hal yang kemudian sangat banyak menolong saya saat migrasi lagi untuk kedua kalinya ke Australia.

Saat ini, keadaan kami terutama saya sudah jauh lebih baik. Anak-anak dan istri sih sudah betah dari lama ya, yang menjadi masalah malahan saya sendiri karena mengalami culture shock yang cukup parah saat itu. Tapi sekarang semua sudah membaik, culture shock saya bisa dibilang sudah hampir 100% sembuh dan hilang. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang yang sudah merantau duluan ke Negara lain ada benarnya, culture shock itu umumnya akan berlangsung selama 2 tahun dan setelah itu akan sembuh dengan sendirinya. Yang setengah mati itu adalah melawan culture shock itu sendiri karena orang-orang sekitar kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu selain memberikan semangat dan pendampingan karena semua harus dilawan dari diri kita sendiri, dan saya berhasil melawannya walaupun hampir gila juga awalnya hahaha….

Selamat memasuki bulan November kawan… bulan yang sudah semakin mendekatkan kita semua ke penghujung tahun….

Menyongsong November

Hari ini seperti biasa karena sedang memantau 1 kejadian yang tiba-tiba sekarang stabil setelah saya ubah pengaturannya di salah satu perangkat kami, membuat saya menjadi bosan karena tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Kerja kok bisa sesantai itu sih? iya donk, kerja jangan dibawa stres, apalagi menuju akhir tahun begini, selain proyek sudah banyak yang selesai dan sesi planning juga sudah terlewati, sisanya ya kita hanya standby dan monitor service yang kita miliki agar tidak jatuh.

Waktu benar-benar cepat sekali ya… besok sudah akhir Oktober yang artinya sebentar lagi akan masuk ke November. Karena sedang tidak begitu sibuk, saya coba baca-baca lagi tulisan-tulisan saya yang dulu dan terpaku pada tulisan pertama saat kami mencoba migrasi lagi ke Melbourne untuk kedua kalinya. Membaca tulisan itu (klik disini) membuat saya jadi tambah bersyukur karena kami ternyata tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali ke posisi kehidupan kami di Jakarta (yang tadinya sudah kami persiapkan setidaknya 3 sampai 5 tahun pertama bakalan berdarah-darah terlebih dahulu) yang saat ini kami merasakan bahkan sudah diatas tingkat kehidupan yang kami miliki di Jakarta, padahal kami belum genap 3 tahun disini. Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga. Saya sendiri sering kaget sebetulnya jika mengingat lagi semua yang sudah lewat, kesempatan demi kesempatan ditunjukan oleh-Nya dengan cara-Nya yang elegan sembari memaksa saya untuk belajar sabar dan berserah diantara prosesnya, yang kemudian membawa saya tanpa sadar ke sebuah posisi yang bahkan lebih dari yang ingin saya capai. Luar biasa bukan….

 

Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga.

 

Besok, kami akan genap 2 tahun 9 bulan berada di Melbourne. Kehidupan yang kami jalanin disini bisa dibilang luar biasa karena begitu banyak kejadian yang terjadi selama ini yang tidak pernah kami sangka sebelumnya. Anak-anak kami pun sudah mulai seperti orang lokal sini, tahan dingin, si kecil manggil kakak nya langsung nama, semakin kritis, semakin kreatif, dan mulai susah diajak berbahasa Indonesia walaupun kami tetap tidak menyerah dan berusaha terus menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Kami sendiri pun sudah merasa betah, kehidupan yang kami miliki saat ini yang tidak pernah terlintas dipikiran kami sebelumnya membuat kami tidak henti-hentinya bersyukur karena lebih dari cukup. Kami pun sudah membeli sebuah rumah mungil jauh di belahan barat dari Melbourne, dan sudah mulai dibangun saat ini. Kalau memang sesuai jadwal, prediksi kami seharusnya sudah bisa selesai awal tahun depan sekitar bulan April atau Mei 2020, yang artinya kami sudah bisa mulai pindah ke rumah kami sendiri setelah itu. Hal ini secara tidak langsung juga membuat kami berhasil mewujudkan impian kami berikutnya yang tadinya kami prediksi akan sulit tercapai disini mengingat mahalnya rumah disini walaupun untuk ukuran yang mungil plus daerah yang cukup jauh dari CBD (pusat kota) jika melihat latar belakang ekonomi yang kami miliki. Tapi Tuhan berkata lain, kami diberi jalan untuk bisa membeli rumah impian kami, rumah yang tidak terlalu besar (tapi 3 kali lebih besar dari rumah kami di Jakarta yang berukuran 4 x 15 dua lantai) dengan taman di depan dan belakang, yang sebetulnya adalah salah satu tipe rumah yang saya impikan selama di Jakarta (karena rumah kami di Jakarta tidak memiliki taman hahaha…). Sesuatu yang belum tercapai di Jakarta karena harganya yang aduhai ternyata malah kami dapatkan di Melbourne, kurang baik apa coba Tuhan kepada kami.

Jika ingin dibilang, terlepas dari status tempat tinggal yang masih sewa (karena saya lebih suka punya sendiri agar tidak pusing pindahan terus) bisa dibilang jika kehidupan kami sudah mulai stabil dan mapan saat ini, kami sudah bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, di level yang jauh berbeda, dan tentunya kualitas yang jauh lebih baik dari kehidupan kami dulu. Kehidupan yang saya maksud tidak diukur dari banyaknya materi yang kami miliki ya, tabungan kami sih ga banyak apalagi sampai beratus-ratus, aset yang kami miliki pun ga limpah ruah sampai milyaran, tapi kami punya hal yang lebih berharga dari itu semua, kami punya keluarga yang sehat dan baik, kami punya anak-anak yang sehat dan membuat hidup kami tetap sibuk, kami punya kehidupan yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, kami punya kehidupan yang berkualitas, dan kami pun memiliki rasa syukur yang besar. Semua itu, bagi kami…. memiliki nilai yang lebih diatas segala materi yang ada di dunia.

Sebentar lagi kita akan masuk bulan November, bulan dimana kota ini mulai sibuk berhias untuk menyambut Natal yang sudah semakin mendekat. Bulan dimana kami mulai mengeluarkan baju-baju tipis karena mulai masuk ke musim panas yang terkenal dengan suhu ekstrim nya. Bulan dimana sisi pekerjaan pun mulai sepi dan tenang karena setiap orang mulai merencanakan liburan mereka. Bulan dimana kami pun mulai berdiskusi ingin bagaimana melewati Natal tahun ini. Tadinya saya berharap bisa merayakan Natal di rumah sendiri tahun ini, tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, setidaknya tahun depan seharusnya keinginan saya bisa tercapai (mudah-mudahan ya…). Saya punya rencana untuk BBQ an di taman belakang rumah saat Natal bersama istri dan anak-anak, bercengkerama sambil bakar ikan, udang, cumi, yang dibaluri bumbu pedas dan manis plus nasi putih panas tidak ketinggalan sambal terasi dan makan sembari lesehan diatas rumput, sambil minum bir untuk mengimbangi suhu panas bulan Desember, ahhh… nikmat bukan? Di sisi lain, saya pun bisa mewujudkan salah satu impian dari saya masih kecil dulu yang belum terwujud sampai sekarang, yaitu menghias pohon Natal sambil mendengarkan lagu-lagu Natal diputar sekaligus menghias rumah dengan dekorasi Natal sederhana. Ahh…. jadi ga sabar nunggu tahun depan 🙂