Sebuah kedamaian diantara tenang…

Kami mulai masuk dan menjalani kehidupan kami disini di bulan ke sembilan. Semakin kesini saya mulai merasakan perbedaan yang lebih antara kehidupan disini dan di Jakarta.

Hidup dan bekerja disini, membuat saya benar-benar memiliki work live balance. Keadaan kota yang tertib, rapi dan bersih, penduduknya yang banyak mematuhi aturan membuat kehidupan disini memiliki banyak kualitas yang tinggi, hal ini tidak termasuk banyaknya taman dan jalanan yang tidak semacet dan sekacau Jakarta saat peak hours.

Selama saya bekerja disini, walaupun saya harus pulang lebih malam dari biasanya, saya masih sempat mengantar istri saya belanja sesuatu untuk keperluan dapur. Jarak yang harus saya tempuh dari kantor ke rumah tidak dekat loh… 32 Km jauhnya. Dan toko groceris disini sebagian besar sudah tutup jam 9 malam. Saya sering pulang dari kantor jam 6 sore. Sampai rumah saya masih sempat makan malam setelahnya masih bisa mengantar istri belanja dan sampai dirumah lagi sebelum jam 9 malam. Jarak toko yang biasa kami kunjungi untuk belanja berjarak 12 Km dan sering juga kami pindah ke toko lain yang berjarak 5 Km dari toko pertama karena beberapa bahan yang diincar istri tidak ada.

Selain itu, disini kami memiliki perlindungan kesehatan dan pendidikan dari pemerintah yang artinya saat kami sakit apalagi sudah sampai mengancam nyawa pemerintah akan membantu warganya dengan pelayanan kesehatan yang kami sebut medicare dan ini gratis karena dikelola dari pajak warga (jauh lebih bagus dan profesional dari BPJS kita). Untuk sekolah, disini untuk rentang umur sekolah anak-anak diharuskan untuk sekolah dan selama masuk sekolah pemerintah, biayanya sangat sangat minim (jika tidak mau dibilang gratis) dan disini ada aturan hukum yang mengharuskan sekolah pemerintah untuk menerima semua anak yang berada dalam kawasan cakupan mereka. Jadi anak-anak pasti bisa sekolah minimal sampai lulus SMA. Untuk daftar sekolah dan lainnya pun tidak serumit dan seribet disana, administrasi disini benar-benar efisien dan efektif, tidak berbelit (nanti akan saya tulis di artikel tersendiri ya).

Hal lainnya, imunisasi. Disini imunisasi adalah wajib dan gratis. Dan imunisasi menjadi salah satu syarat wajib saat akan daftar masuk sekolah.

Semakin kesini saya semakin menyadari jika memang disini kualitas hidup lebih tinggi dari di Jakarta. Banyaknya pilihan rekreasi untuk anak-anak yang tersedia dan gratis membuat mereka bisa memiliki berbagai macam pengalaman dalam menghabiskan waktu liburan. Disini justru kami tidak selalu bermain ke Mall seperti di Jakarta, kami justru lebih sering bermain ke taman, museum, perpustakaan, dan tempat terbuka lainnya. Udara yang bersih, rapi dan lingkungan yang aman turut mendukung kami untuk lebih memilih tempat terbuka untuk bermain daripada gedung/ mall.

Saya memiliki beberapa impian mustahil yang saya kejar. Salah satunya justru sedang kami jalani, memiliki kehidupan di kota yang terpilih sebagai kota paling layak hidup sedunia sebanyak 7 kali berturut- turut, sebuah impian yang tidak pernah saya sangka sebelumnya bisa saya miliki, kekuatan Tuhan sungguh luar biasa.

Dulu saat kami baru menikah saya pernah mengatakan kepada istri saya jika saya ingin mengejar 4 hal dalam hidup saya. 4 hal yang sebetulnya mustahil bagi saya karena terlalu tinggi dan liar. Saya ingin memberikan kehidupan terbaik yang bisa saya capai bagi keluarga saya dan saya sedang menjalani impian itu. Impian lainnya saya ingin anak-anak kami memiliki kesempatan sekolah diluar setidaknya kuliah karena kami tidak memiliki kesempatan itu, kami pun mulai menjalani impian yang satu ini dan saya selalu berdoa agar kami diberi kesempatan untuk hidup disini sampai mereka lulus sarjana. Impian ketiga saya ingin memiliki rumah idaman, rumah yang saya idamkan bukan rumah besar tapi yang memiliki taman, dan jika semua lancar kami pun bisa menjalaninya nanti. Impian terakhir, saya ingin mengajak istri saya honeymoon (yang tertunda karena saya tidak punya uang saat nikah) ke 5 benua.

Ke 4 impian ini bagi saya sangat liar karena saya tidak berasal dari keluarga mampu dan saat menikah hanya mampu membeli sepasang cincin kawin sederhana. Jika bukan karena Tuhan, mustahil saya bisa mencapainya apalagi sampai bisa menjalaninya… mustahil…

Saat ini…. kami sedang menjalani kehidupan yang lebih damai dalam sebuah ketenangan… hidup di kota yang hijau, tertib, bersih dan tenang, sebuah kehidupan yang dulu hanya berada dalam angan-angan… dan semoga Tuhan memberi kesempatan kepada kami untuk bisa menjalaninya selama mungkin…

Advertisements

Bulan ke 8

Bulan ini, kami sekeluarga masuk bulan ke 8 hidup di Melbourne. Tidak terasa, kesibukan demi kesibukan menarik kami sampai ke titik ini. Dulu… saya pernah mencoba mencari tahu makna yang tersembunyi di balik seluruh proses ini, dari awal kami mendapatkan PR, lalu pindah, lalu harus kembali lagi dan kemudian pindah lagi. Begitu juga dengan seluruh proses yang ada disini selama 8 bulan ini.

Di awal kepindahan kami, saya sempat mendapatkan sebuah penawaran di daerah City sana, di sebuah universitas yang sangat terkenal. Akan tetapi prosesnya justru membawa saya jauh ke utara bergabung dengan salah satu institusi pendidikan lainnya milik pemerintah. Proses ini membuat saya menyadari 1 hal kemudian, Tuhan mengarahkan dan memberikan apa yang saya butuhkan saat ini, bukan apa yang saya inginkan. Dengan bergabung ke utara sana, saya memiliki kesempatan untuk ikut ujian SIM yang kemudian membuat saya mendapatkan SIM Victoria (jika bergabung ke city entah apakah saya bisa mendapatkan SIM karena disini aturan mendapatkan SIM sangat ketat dan saya butuh banyak ijin untuk ikut ujiannya). Sejak mendapatkan SIM Victoria, saya jadi lebih berani untuk membedah kota ini dengan mengendarai mobil, karena secara ijin saya sudah dianggap layak mengendarai kendaraan roda 4, yang kemudian menggiring saya untuk berani membeli sebuah mobil, yang kemudian membuat saya memiliki kesempatan untuk melihat banyak tempat. Semua ini, sadar tidak sadar diarahkan oleh Nya, ditunjukan jalan dan dibantu prosesnya. Dia tahu apa yang saya butuhkan saat ini, dan itu yang disediakan oleh Nya bukan apa yang saya inginkan.

Dengan mendapatkan SIM dan memiliki mobil sangat membantu saya melawan culture shock yang saya alami, karena saya memiliki kesempatan untuk melihat keindahan kota ini yang begitu cantik, tertata rapi, tertib dan bersih. Saya juga bisa membawa keluarga menikmati keindahan alam kota ini setiap pekan karena disini banyak sekali daerah cantik yang bisa kita kunjungi tanpa biaya masuk.

Kemarin, saya mencoba mengajak keluarga saya melihat salju di lake mountain, sebuah gunung yang jauhnya 2 jam dari rumah kami. Sepanjang perjalanan saya tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan semua pemandangan yang ada, kota yang bersih, tertata dengan apik, dengan semua pohon yang ada, taman, dan pengguna jalan yang tertib, tidak macet, dan saat melewati sebuah jalan 2 arah yang membedah hutan, semua tertib dan tidak saling menyalib. Selain itu, pemandangan sepanjang jalan membelah hutan ini juga membuat kami terpana, pemandangan yang begitu indah dan bagus mengiringi perjalanan kami. Setelah itu kami disuguhi pemandangan kebun anggur dan peternakan dikanan dan kiri yang begitu hijau , rapi dan bersih. Pengalaman itu benar-benar membuat saya merasa sangat damai, dan tentunya membuat saya begitu bersyukur karena memiliki kesempatan untuk hidup di negara sekuler dan di kota yang cantik ini bersama keluarga saya. Hal itu, sangat membantu saya melawan culture shock yang terjadi yang saat ini sudah semakin menghilang dan terkendali.

Semalam, saya merekam anak pertama saya diam-diam, dia menggambar di sebuah buku gambar yang kami berikan dengan aktor utama seekor kerbau yang dia beri nama monty. Di buku gambar itu dia menggambar lembar demi lembar yang menceritakan aktifitas dari si kerbau, dari bermain di taman, ke pesta, main musik, naik kapal selam dsb. Setelah dia gambar, dia memanggil adik nya, saya dan istri saya lalu dia buka lembar demi lembar sembari menjelaskan cerita apa yang ada di gambar tersebut. Terus terang saya terpana, anak umur 5.5 tahun bisa menggambar sedetail itu dan mengaitkan gambarnya satu dengan lainnya sampai berbentuk sebuah cerita, entah darimana dia mempelajari hal itu. Hal ini membuat saya semakin bersyukur karena bisa membawa dia bersekolah disini, konsep pendidikan yang lebih memajukan dan mendorong kreatifitas daripada hafalan dan dikte. Dan hal ini sangat sangat membantu perkembangan anak pertama saya yang masuk kategori otak kanan dominan. Sekolah disini anak-anak tidak akan pernah diharuskan untuk menggambar gunung dengan jalan setapak dan matahari di antara 2 gunung lalu gunungnya harus berwarna biru, matahari kuning dsb seperti di Indonesia sana (konsep mendikte dan hafalan) tapi disini anak-anak akan di tunjukan sebuah gambar gunung dan pemandangannya (hanya diperlihatkan) lalu mereka diberikan alat gambar dan silahkan berkreasi sendiri. Apapun hasilnya, guru disini akan tetap mengatakan “Wow, amazing… you are great!” mereka tidak akan mengharuskan gunung harus berwarna biru dsb. Jadi tidak heran anak-anak disini pun jadi lebih berani tampil dan berkreasi.

Hidup disini, memang tidak dapat saya bantah memberikan sebuah kualitas yang lebih. Jalanan yang tidak macet gila-gilaan, kota yang hijau, bersih, tertib, level pendidikan yang lebih baik, dan budaya tidak kepo membuat kehidupan disini menurut istri saya “even better than Jakarta” terlepas dari disini kami masih harus berjuang melunasi rumah (yang jika lancar) yang akan kami bangun tahun depan.

Semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada kami untuk membangun kehidupan sampai anak-anak kami menjadi sarjana disini, karena itulah impian utama kami merantau kesini.

Salju

Dari dulu saya selalu memimpikan bisa memegang salju (norak yak… hahaha…), satu hal karena saya lahir di bulan Desember dimana identik dengan salju yang sayangnya disini justru ga ada white christmas karena Desember jatuh di musim panas, hal lainnya karena emang saya pengen aja hahaha…

Hari ini, setelah diskusi pendek dengan istri dipagi hari (kalau di Jakarta sih boro boro… ga bakalan ada hal begini karena kemacetan yang menggila dari hari ke hari sampai bikin kami males pergi hahaha…) akhirnya kami putuskan ke Lake Mountain. Sebuah kawasan nun jauh di timur Melbourne sana, kurang lebih 110 Km yang ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit, yang masih diselimuti oleh salju setebal kurang lebih 20 cm. Ya mayanlah karena pertama kali jadi kami anggap ini sebagai pengalaman untuk kunjungan selanjutnya agar lebih baik persiapannya.

Perjalanan kesana, yang melewati kota kecil nan klasik, melewati jalan berkelak kelok membelah hutan yang cantik, juga melewati kebun anggur yang luas dan peternakan yang bagus dan cantik pemandangannya.

Setelah sampai disana, suhu 1 derajat langsung menyambut kami. Kami pun langsung menambah perlengkapan seperti jaket, sarung tangan dll sebelum menuju hamparan salju yang sudah menggoda.

Setelah sempat keplarak (keplesetbeberapa kali karena tidak menggunakan sepatu yang sesuai, saya pun mengajak anak-anak membuat manusia salju yang ampun dj susah ternyata hahaha…

Setelah makan siang disana yang ditutup dengan segelas coklat panas, kami pun turun gunung dan menuju satu tempat lagi yang memang sejalur dengan perjalanan kami, Yarra Glen Chocolaterie, sebuah cafe yang menyediakan es krim dan spesialis di coklat. Karena perut mulai gaduh, kami pun menikmati dessert disana, setelah selesai makan kami ajak anak-anak jalan-jalan dan main disekitar yang terdapat peternakan dan kebun.

Hari ini… sekali lagi membuat saya sangat bersyukur untuk apa yang sudah kami lewati, yang jujur saja kadang saya masih ga percaya bisa sampai di titik ini. 

Dan saya selalu berdoa agar kami bisa mewujudkan impian kami untuk kedua anak kami, dan juga impian-impian saya yang lainnya.

Terimakasih Tuhan untuk semuanya.

Hanya sebuah “Rasa”

Hari ini, saya mendapatkan sebuah pesan di WA dari seorang kawan baik yang ternyata dia mendapatkannya dari salah satu pembimbing sakramen krisma kami.

Isi WA ini sangat menyentuh, entahlah… tapi saya secara tidak langsung merasakan getaran kebenaran yang tidak terbantahkan saat membaca isinya bait demi bait.

Hidup manusia, selalu penuh dengan misteri yang (mungkin) tidak akan pernah terpecahkan sampai kapan pun. Terlepas dari apa yang kita cari dan kejar, semua hal yang berbentuk dan berupa benda pada akhirnya akan kita lepaskan juga.

Yang membuat beda hanyalah sebuah “Rasa” yang bisa kita akurkan dengan sebuah kedewasaan yang terus terasah agar semua menjadi lebih bermakna.

Demikian isi pesan nya, yang saya copy penuh dari apa yang saya dapatkan.

“Selamat malam …semoga sehat selalu …
Share sebuah cerita (asli atau fiksi…saya juga kurang paham) , hanya isinya menurut saya sangat ..sangat baik. 
Cerita ini saya dapatkan dari group WA 
Semoga berkenan..πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

TEH PANAS SAK SRUPUTAN 

DI POJOK ALUN-ALUN KIDUL YOGYAKARTA
(Crito kasunyataning urip dari seorang teman, semoga bermanfaat)
Saya melihat simbok penjual sayur menyruput teh… nampak nikmat sekali…,setelah puas ditutupnya kembali cangkir blirik ijo…  
Saya mencoba untuk belajar…. merenung peristiwa ini…
Ternyata pada akhirnya semua rasa itu sama…  
Secangkir teh blirik itu hanyalah seharga Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah), namun simbok itu begitu menikmatinya.. tidak beda dengan  nikmatnya teh yang dibeli  di cafe atau resto dengan tarif harga mahal…
Seberapa lama teh itu nikmat…? 
Hanyalah sepanjang perjalanan sampai di tenggorokan… setelah itu rasanya lenyap.
Tidak berbeda dengan minuman semahal apapun.
Begitu pula nikmat-nikmat yang lainnya, ketika tidur di kasur yang empuk ataupun tikar, ketika mata terpejam, kita tak bisa membedakan saat ini tidur di mana.. nikmatnya kasur empuk hanyalah terasa sampai mata ini terpejam…
Begitu pula tentang sebuah penderitaan… Sewaktu nglaju dari Jogja- solo saya sering tidak mendapat tempat duduk di bis… pegel2 deh kaki ini, apalagi bawa bawaan… dan baru dapat tempat duduk, 10 menit menjelang turun…
Rasanya penderitaan 2 jam sebelumnya tidak terasa lagi, nikmaaatt sekali…. yang 10 menit ini. Namun senikmat apapun, saat kondektur bilang “solo terakhir.. Solo terakhir…” maka tanpa pikir panjang atau berat hati saya berdiri.. kursi saya tinggalkan…
Tak terpikir untuk membawa kursi bus… 
Entah esok akan dapat kursi lagi atau tidak… pokoknya kursi saya tinggalkan…
Begitu pula dengan kursi jabatan.. saatnya selesai, tinggalkan kursi dengan senang hati… 
Begitu pula dengan umur… ada saatnya lahir.. ada saat waktu untuk kembali.. namun Tuhan tidak memberitahukan kapan saatnya.. agar manusia senantiasa mempersiapkan bekal untuk kembali…
Ternyata kehidupan itu hanyalah tentang rasa… dan segala rasa hanyalah sebentar dan akan berganti rasa yang lain…
Apapun rasa yang hadir padamu saat ini… nikmati sajalah.. karena semua hanya sementara…
Simbok maturnuwun… sudah mengajarkan ilmu panguripan … mugi slamet lan sehat nggih … benjang sadean malih…
Selamat menikmati rasa .. dan kehidupan..”