Mei K’labu

Sebentar lagi Mei akan berlalu dan Juni sudah mengintip nakal di depan pintu. Bulan Mei tahun ini menjadi salah satu bulan yang penuh dengan update-update yang mendebarkan dan sangat menguras baik tenaga dan pikiran, terutama saya ahh… selalu… drama ah…

Tapi ini bener, dimulai dari tawaran pekerjaan dari salah satu perusahaan yang sudah ditangan dan sangat ingin saya ambil, tapi akhirnya terpaksa saya lepas dengan berat hati karena pertimbangan tanah yang kami beli sudah sangat dekat dengan settlement dan mereka tidak mau menunggu lebih dari 2 minggu untuk notice period nya. Hiks… benar-benar nyesek, tapiii… saya percaya Tuhan tahu apa yang terbaik bagi saya dan keluarga.

Kejadian yang satu ini benar-benar menguras energi saya karena satu sisi saya sangat menginginkannya melihat apa yang akan saya kerjakan dan teknologi yang mereka usung tapi disisi lainnya saya juga tidak mau tanah yang kami sudah beli 2 tahun lalu jadi berantakan dan berakhir dengan dibatalkannya proses pembelian kami (yang bisa membuat kami kehilangan seluruh DP yang sudah kami bayar) karena Bank tidak bisa mengeluarkan dana tepat waktu karena saya ganti pekerjaan di detik terakhir saat settlement akan terjadi yang membuat saya harus mengulang seluruh proses KPR ke Bank dengan menyiapkan lagi semua dokumen yang dibutuhkan satu per satu dari awal, dan akan berakhir jadi drama telenovela yang lebih heboh bagi kami. Agak susah sebenernya jelasin bagian yang satu ini karena satu dengan lainnya berhubungan dan ruwet duwet mak…. itulah kenapa sangat menguras energi dan pikiran.

Kejadian lainnya adalah proses dari settlement itu sendiri, setelah semua dipersiapkan baik dokumen maupun dana yang harus kami miliki, kami pun akhirnya mendapatkan tanggal title kami yang kemudian berlanjut ke tanggal settlement kami, lalu entah kenapa seminggu sebelum settlement, kami harus mengulang tanda tangan beberapa dokumen karena saya saat tanda tangan seminggu sebelumnya ternyata mengisi tanggal tanda tangan dengan tanggal lahir saya haiyahh… jeng… jeng… jeng…. akhirnya semua beres. Laluuuu… 3 hari kemudian, kami mendapatkan email dari conveyancer kami jika settlement akan segera terjadi pada tanggal 31 Mei tapiii…. jumlah dana yang harus kami siapkan ternyata kok jauh lebih banyak dari apa yang sudah tertera di dokumen KPR ya??? alamak… panik mode on, mau cari kemana duit tambahan nya secara kami aja sudah pas-pasan sekarang, langsung kami koordinasi dengan mortgage broker kami agar dia bisa dorong pihak bank agar segera meng-update system mereka sesuai dokumen yang sudah ditanda-tangan. Setelah panik reda, akhirnya saya telp dan diskusi dengan mortgage broker kami dan bilang lebih baik settlement nya di tunda kalau harus menyiapkan dana lebih (karena seharusnya ga perlu) akibat pihak bank nya yang masalah. Puji Tuhan, akhirnya semua lancar dan tanah kami pun per hari ini sudah settle yang artinya sudah menjadi milik kami. Hore…. joget-joget dangdut….

Lalu drama berikutnya, karena sudah menjadi milik kami, itu tanah musti kami kerangkeng atawa pagarin kaya perawan. Kenapa? karena di Australia rada beda aturannya (bukan rada tapi emang beda), saat tanah sudah jadi milik kami, builder (yang akan membangun rumah kami) baru bisa mulai mengajukan building permit dll ke council dan instansi terkait, semacam IMB lah kalau di Indonesia. Nahh… hal itu ternyata bisa makan waktu sampai berbulan-bulan lamanya, paling tidak 1 sampai 2 bulan. Nahhh…. (lagi) selama mereka belum mendapatkan building permit, kebersihan tanah itu menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya, yang artinya saat mereka sudah dapat permit dan akan membangun, keadaan tanah harus bersih, bersih dari sampah, batu, celana dalem, rumput dll. karena mereka ga mau bantu buang sampah yang ada diatas tanah kami. Ihh.. rese ya… bikin sakit kepala saja, ya sebetulnya mereka ga salah juga sih karena buang sampah itu ga murah disini. Dan masalahnya disini banyak juga builder yang nakal, mereka daripada buang tuh sampah jauh dan mahal, dan dideket mereka eh… ada tanah kosong nganggur ya mereka buang aja disana (selama ga ketangkep basah karena dendanya mahal kalau ketangkep), karena rumah kami berada di komplek perumahan baru yang artinya dikelilingi tanah kosong semua dan semua berakhir dengan bangun membangun, jadi bisa saja ada builder yang nakal dan buang sampah ditanah kami kan, baik itu batu-batu gede yang tergali dari bawah tanah, sampah bangunan, dll. dan itu akan butuh dana sampai ribuan untuk menyewa pihak ketiga membuang semua sampah tersebut ke tempat yang seharusnya agar builder kami bisa memulai pembangunan, akhirnya sukses membuat kami memutuskan untuk menyewa pagar sementara untuk menjaga agar tanah kami tidak disusupin pihak-pihak tidak bertanggung jawab seperti demo 22 Mei kemaren di Jakarta, ups…. Setelah melalui pertimbangan bersama, langsung sewa 3 bulan saja deh…

Drama banget ya… dan ini ga nyambung sama judul sebetulnya hahaha… oke, sudah selesai curhatnya sekarang saya mau nulis blog yang sebenarnya.

Bulan ini, diawali dengan suhu yang sejuk-sejuk berangsur menjadi semakin dingin diakhir bulan. Mungkin karena sudah mulai masuk ke musim dingin kali ya. Yang membuat lebih galau itu sebetulnya cuaca yang mendung dan basah karena suka hujan, bikin bener-bener males gerak. Bahkan beberapa kali saya sampai menghidupkan heater karena entah kenapa suhu menunjukan angka 7 tapi feels like 3 derajat dan ujung-ujung jari rasanya kok kebas-kebas kaya kelamaan megang es batu gitu.

Perubahan-perubahan suhu seperti ini, terlebih saat sedang ekstrim-ekstrim nya, sering membuat saya nyengir kuda terlebih saat ada yang komen “enak ya hidup di luar negeri” hahaha…

Hidup diluar negeri juga ada ga enak nya (walaupun buat kami/ saya lebih banyak enaknya). Seperti hidup manusia, mana ada yang hidup tanpa ada masalah dan enak semua? semua sama saja, selalu seperti dua mata koin, kalau ada enaknya pasti ada ga enaknya juga karena itulah kehidupan.

Yang membedakan hanya batas kompromi yang bisa kita bentangkan selebar apa untuk menerima segala sesuatu yang bagi kita tidak mengenakan itu dan membuat nya menjadi sesuatu yang enak, ahh… bagian paling susah ini.

Hidup di luar negeri, terutama di Australia, bagi saya banyak enaknya dan layak diperjuangkan. Tapi itu buat saya ya, orang yang suka dengan tempat yang tidak terlalu ramai, suka dengan yang tertib dan tenang, suka dengan udara dan air yang bersih, suka dengan yang hijau-hijau, suka dengan pendidikan yang bagus, dan suka dengan pelayanan kesehatan yang profesional walaupun itu dilakukan secara gratis. Apalagi disini ga macet gila seperti di Jakarta, kerja juga family time sangat dijaga, ga heboh saat pemilu seperti beberapa waktu lalu, lebih aman, ga ada ormas jagoan dan yang pasti agama menjadi ranah pribadi masing-masing individu. Sejauh ini, kami merasakan disini kami jadi lebih bisa membuat rencana kedepan, lebih leluasa mengatur finansial kami, merasa kualitas kehidupan kami pun meningkat jauh dibandingkan saat tinggal di Jakarta, walaupun saya hanya seorang tukang pekerjaannya. Tukang IT.

Terlepas dari itu, jauh dari keluarga menjadi tantangan tersendiri terutama saat salah satu dari kita sedang sakit, kangen dengan makanan lokal juga menjadi tantangan lidah walaupun bisa dijembatani dengan masak sendiri atau restoran-restoran Indonesia walaupun rasanya ga se-identik dengan apa yang kita miliki disana. Bahasa dan budaya juga menjadi tantangan lain, mungkin tidak bagi anak-anak kami karena mereka akan besar disini dan pada akhirnya akan kami beri kebebasan jika mereka ingin menjadi warga negara Australia. Belum bentang jarak dan waktu yang sedikit banyak bisa diobati dengan kemajuan teknologi seperti video call dll.

Jadi, enak ga hidup di luar negeri? Jawabannya enak-enak saja hahaha….

Advertisements

Nah…

Nah… akhirnya kami bertemu setelah panjang kali lebar ngobrol di telepon selama setahun belakangan ini. Yang dibahas? Banyak, saya tukar pikir masalah migrasi dan lain sebagainya plus bagaimana hidup disini agar Albert ga kaget, plus bagaimana mengurus ini dan itu agar dia ada gambaran. Dia, membantu saya dari sisi teknis yang dia jauh lebih bagus dari saya tentunya.

Hari ini, albert ada tugas ke Melbourne dan kami pun janjian kopdar gan hahaha… dan masing-masing kenyang menyantap setengah porsi iga B2 plus 2 pitcher Bir yang lagi promo.

Puas bertukar obrolan dan perut kenyang kami pun pamit satu dengan lainnya.

Tuhan sungguh baik, dan banyak dari rencana Dia yang tidak kita duga ya…

Akhirnya Titled

Yeahh…. akhirnya kami mendapatkan berita yang sudah kami tunggu selama 2 tahun, tanah yang kami beli titled!

Dan saya juga sudah ditelpon conveyancer kami dan dipertegas oleh pihak developer sendiri.

Berita ini pun langsung kami teruskan ke builder yang sudah kami pilih 2 tahun lalu agar mereka bisa segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bisa mulai membangun rumah mungil kami.

Semoga semua lancar yaaa… sudah ga sabar kami ingin memiliki tempat tinggal permanen agar ga pusing pindah-pindah alamat setiap masa sewa tidak diperpanjang oleh yang punya.

Dokumen pun langsung minta disiapkan oleh mortgage broker yang kami pilih dan minta di legalisir. Duh, beruntung kami berada di Australia yang sudah lebih tertib dan rapi, kalau di Jakarta di hari sabtu tiba-tiba minta dokumen terlegalisir sih bisa-bisa habis uang menyan banyak secara disana apa-apa dibuat drama serumit mungkin.

Disini, saya hanya perlu membawa dokumen asli ke Officeworks lalu fotocopy, dan bawa keduanya ke kantor pos mana saja dan minta di legalisir dokumen fotocopy dengan menunjukan dokumen asli dan biaya legalisir nya gratis hahaha… ga sampai 30 menit semua beres sudah termasuk waktu perjalanan karena disini kan ga macet juga.

Habis makan siang rencana nya kami ingin menengok tanah kami untuk melihat apakah siap atau tidak untuk dipindah-namakan, dan setelahnya akan menemui kawan di city disaat makan malam yang kebetulan datang dari Indonesia dan Singapura hari ini.

Sukses?

Oii… wah… sudah sukses ya lu sekarang!

Well, kalimat itu sering saya jumpai jika sedang terlibat chat “seru” dengan beberapa handai taulan.

Ga aneh sebenarnya, karena typical manusia yang sering kali melihat sebuah kesuksesan itu hanya dari kacamata yang ingin mereka lihat (termasuk saya hahaha…)

Apa sih sebenarnya ukuran sebuah kesuksesan?

Nah, ini adalah pertanyaan yang sulit sekali dijawab atau dicari jawabannya. Kenapa? karena ukuran sukses setiap orang itu beda-beda bro… ada yang menganggap kalau punya bisnis besar itu bisa disebut sukses, ada yang menganggap kalau anaknya bisa lulus dari Harvard adalah sukses, ada juga yang sekadar bisa beramal itu sudah sukses.

Jadi, apa itu sukses sebenarnya?

Oke, jika menurut saya, sukses adalah saat kamu berani keluar dari zona nyaman dan mengejar impian kamu dan kamu berhasil meraih nya. Nah, itu sukses menurut saya.

Hasilnya? bisa macam-macam, tergantung apa yang jadi ukuran impian kamu? materi kah, kualitas hidup kah (ini saja masih banyak cabang nya hahaha…), atau yang lain kah.

Jadi lu sudah mencapai impian?

Mencapai impian? hemm… ini sudah dijawab, jika dibilang sudah atau belum, jawabannya ya pasti sudah, toh impian saya banyak walaupun saya kere ya hahaha… tapi kalau dibilang sudah tercapai semua, ya belum sih… karena ga nyeni banget kalau sudah tercapai semua, trus sisa hidup nya buat apa donk? jalanin saja gitu? waduh… saya cepat bosan kalau harus begitu, jadi saya sering bikin impian baru (halah…. sombong nya keluar… hahaha….), eh tapi bener… impian kan ga perlu wah… seperti misalnya pengen bangun menara eipel…. halah…. cukup bisa menjaga kehidupan cinta kamu se-romantis menara eipel itu sudah lebih dari cukup hahaha… walaupun itu ga mudah…

Atau, belajarlah bersyukur, bersyukur masih sehat, nah…. itu penting loh… karena kesehatan ga bisa dibeli pakai apapun! tapi bisa kita jaga. Dan…. lebih jauh lagi jangan lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, karena pada dasar nya bukan kuantitas yang kita miliki yang membuat kita bahagia tapi kuantitas bersyukur kita yang bikin kita bahagia kan.

Eh… bener ga sih nulis kuantitas nya???

Ah… sudahlah, syukuri saja masih bisa nge-blog walaupun dilakukan mendekati jam 1 malam hahaha….

Yuk kita tidur….