Hari yang tidak akan terlupakan (3)

Dulu saya pernah menuliskan sebuah artikel mengenai hari-hari tidak terlupakan dalam hidup saya disini. Yang juga merupakan kelanjutan dari artikel pertama yang bisa kalian dapatkan didalam link tersebut tadi.
Untuk tanggal dari 25 Desember 1980 sampai 7 Mei 2015 bisa kalian baca di link sebelumnya, jadi saya akan melanjutkan tanggalannya dengan tanggal setelah itu 🙂

07 September 2015 – Kami akhirnya berangkat migrasi ke Melbourne.

06 Desember 2015 – Kami, dengan berat hati akhirnya memutuskan jika kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami lebih jauh lagi karena satu dan lain hal. Kami pulang ke Jakarta pada hari ini.

14 Desember 2015 – Saya mulai bekerja di salah satu perusahaan systems integrator terbaik yang pernah saya temui di Jakarta.

15 Oktober 2016 – Saya menerima sakramen Krisma (Penguatan), akhirnya janji yang saya buat saat nikah terpenuhi.

30 Desember 2016 – Saya menerima kontrak kerja dari Melbourne, yeayy… proses mengejar mimpi bisa dilanjutkan lagi.

30 Januari 2017 – Saya pamit kepada team dan semua kawan saya di kantor karena ini adalah hari terakhir saya bekerja di perusahaan hebat ini.

01 February 2017 – Kami berangkat lagi menuju Melbourne 🙂

16 Mei 2017 – Akhirnya saya mendapatkan SIM Australia dan sah bisa mengemudi kendaraan roda empat di Melbourne.

24 Juni 2017 – Di hari ini kami memutuskan untuk melakukan down payment untuk sebidang tanah yang kami inginkan di belahan sebelah barat dari Melbourne.

26 September 2018 – Di hari yang satu ini, akhirnya saya bisa mengenapi salah satu janji yang dulu sempat saya ucapkan pada diri saat melamar istri saya, jika suatu hari saya harus bisa membelikan sebuah cincin tunangan untuk mengganti cincin lamaran yang tidak mampu saya beli saat melamar istri saya.

31 Mei 2019 – Akhirnya setelah penantian panjang, tanah kami titled juga horee…

26 September 2019 – Kami merayakan 10 tahun pernikahan, yeahhh… sudah 10 tahun aja ya… 🙂

23 Oktober 2019 – Rumah kami mulai dibangun, ga sabar pengen cepet-cepet selesai hahaha…

===

Tuhan sungguh baik… kami terutama saya sungguh diberkati oleh-Nya. Memang kejadian di tanggalan yang saya simpen itu ga selalu bagus semua, tapi itulah yang namanya hidup, selalu ada naik dan turun, dan yang paling penting adalah kita mau belajar dari setiap kejadian yang terjadi terlepas dari enak tidak enaknya, maupun bagus tidak bagusnya, karena belajar itu tentang bagaimana kita mengembangkan diri kita, melatih diri kita agar bisa menjadi lebih baik dan saya percaya semua kejadian memiliki artinya sendiri dan bisa membantu kita berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktunya jika kita mau belajar darinya.

Menyongsong November

Hari ini seperti biasa karena sedang memantau 1 kejadian yang tiba-tiba sekarang stabil setelah saya ubah pengaturannya di salah satu perangkat kami, membuat saya menjadi bosan karena tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Kerja kok bisa sesantai itu sih? iya donk, kerja jangan dibawa stres, apalagi menuju akhir tahun begini, selain proyek sudah banyak yang selesai dan sesi planning juga sudah terlewati, sisanya ya kita hanya standby dan monitor service yang kita miliki agar tidak jatuh.

Waktu benar-benar cepat sekali ya… besok sudah akhir Oktober yang artinya sebentar lagi akan masuk ke November. Karena sedang tidak begitu sibuk, saya coba baca-baca lagi tulisan-tulisan saya yang dulu dan terpaku pada tulisan pertama saat kami mencoba migrasi lagi ke Melbourne untuk kedua kalinya. Membaca tulisan itu (klik disini) membuat saya jadi tambah bersyukur karena kami ternyata tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali ke posisi kehidupan kami di Jakarta (yang tadinya sudah kami persiapkan setidaknya 3 sampai 5 tahun pertama bakalan berdarah-darah terlebih dahulu) yang saat ini kami merasakan bahkan sudah diatas tingkat kehidupan yang kami miliki di Jakarta, padahal kami belum genap 3 tahun disini. Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga. Saya sendiri sering kaget sebetulnya jika mengingat lagi semua yang sudah lewat, kesempatan demi kesempatan ditunjukan oleh-Nya dengan cara-Nya yang elegan sembari memaksa saya untuk belajar sabar dan berserah diantara prosesnya, yang kemudian membawa saya tanpa sadar ke sebuah posisi yang bahkan lebih dari yang ingin saya capai. Luar biasa bukan….

 

Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga.

 

Besok, kami akan genap 2 tahun 9 bulan berada di Melbourne. Kehidupan yang kami jalanin disini bisa dibilang luar biasa karena begitu banyak kejadian yang terjadi selama ini yang tidak pernah kami sangka sebelumnya. Anak-anak kami pun sudah mulai seperti orang lokal sini, tahan dingin, si kecil manggil kakak nya langsung nama, semakin kritis, semakin kreatif, dan mulai susah diajak berbahasa Indonesia walaupun kami tetap tidak menyerah dan berusaha terus menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Kami sendiri pun sudah merasa betah, kehidupan yang kami miliki saat ini yang tidak pernah terlintas dipikiran kami sebelumnya membuat kami tidak henti-hentinya bersyukur karena lebih dari cukup. Kami pun sudah membeli sebuah rumah mungil jauh di belahan barat dari Melbourne, dan sudah mulai dibangun saat ini. Kalau memang sesuai jadwal, prediksi kami seharusnya sudah bisa selesai awal tahun depan sekitar bulan April atau Mei 2020, yang artinya kami sudah bisa mulai pindah ke rumah kami sendiri setelah itu. Hal ini secara tidak langsung juga membuat kami berhasil mewujudkan impian kami berikutnya yang tadinya kami prediksi akan sulit tercapai disini mengingat mahalnya rumah disini walaupun untuk ukuran yang mungil plus daerah yang cukup jauh dari CBD (pusat kota) jika melihat latar belakang ekonomi yang kami miliki. Tapi Tuhan berkata lain, kami diberi jalan untuk bisa membeli rumah impian kami, rumah yang tidak terlalu besar (tapi 3 kali lebih besar dari rumah kami di Jakarta yang berukuran 4 x 15 dua lantai) dengan taman di depan dan belakang, yang sebetulnya adalah salah satu tipe rumah yang saya impikan selama di Jakarta (karena rumah kami di Jakarta tidak memiliki taman hahaha…). Sesuatu yang belum tercapai di Jakarta karena harganya yang aduhai ternyata malah kami dapatkan di Melbourne, kurang baik apa coba Tuhan kepada kami.

Jika ingin dibilang, terlepas dari status tempat tinggal yang masih sewa (karena saya lebih suka punya sendiri agar tidak pusing pindahan terus) bisa dibilang jika kehidupan kami sudah mulai stabil dan mapan saat ini, kami sudah bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, di level yang jauh berbeda, dan tentunya kualitas yang jauh lebih baik dari kehidupan kami dulu. Kehidupan yang saya maksud tidak diukur dari banyaknya materi yang kami miliki ya, tabungan kami sih ga banyak apalagi sampai beratus-ratus, aset yang kami miliki pun ga limpah ruah sampai milyaran, tapi kami punya hal yang lebih berharga dari itu semua, kami punya keluarga yang sehat dan baik, kami punya anak-anak yang sehat dan membuat hidup kami tetap sibuk, kami punya kehidupan yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, kami punya kehidupan yang berkualitas, dan kami pun memiliki rasa syukur yang besar. Semua itu, bagi kami…. memiliki nilai yang lebih diatas segala materi yang ada di dunia.

Sebentar lagi kita akan masuk bulan November, bulan dimana kota ini mulai sibuk berhias untuk menyambut Natal yang sudah semakin mendekat. Bulan dimana kami mulai mengeluarkan baju-baju tipis karena mulai masuk ke musim panas yang terkenal dengan suhu ekstrim nya. Bulan dimana sisi pekerjaan pun mulai sepi dan tenang karena setiap orang mulai merencanakan liburan mereka. Bulan dimana kami pun mulai berdiskusi ingin bagaimana melewati Natal tahun ini. Tadinya saya berharap bisa merayakan Natal di rumah sendiri tahun ini, tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, setidaknya tahun depan seharusnya keinginan saya bisa tercapai (mudah-mudahan ya…). Saya punya rencana untuk BBQ an di taman belakang rumah saat Natal bersama istri dan anak-anak, bercengkerama sambil bakar ikan, udang, cumi, yang dibaluri bumbu pedas dan manis plus nasi putih panas tidak ketinggalan sambal terasi dan makan sembari lesehan diatas rumput, sambil minum bir untuk mengimbangi suhu panas bulan Desember, ahhh… nikmat bukan? Di sisi lain, saya pun bisa mewujudkan salah satu impian dari saya masih kecil dulu yang belum terwujud sampai sekarang, yaitu menghias pohon Natal sambil mendengarkan lagu-lagu Natal diputar sekaligus menghias rumah dengan dekorasi Natal sederhana. Ahh…. jadi ga sabar nunggu tahun depan 🙂

Berburu pekerjaan di Melbourne

Kali ini saya akan coba menulis ulang sebuah topik yang sudah pernah saya tulis disini beberapa waktu lalu tapi lebih ke pendekatan manusiawi karena setelah saya baca-baca ulang tulisan yang lalu kok rasanya pendekatannya lebih ke keadaan pribadi saya dan lebih menekankan doa untuk mendapatkan pekerjaan di Australia. Saya tidak sedang berusaha mengatakan jika kita tidak perlu berdoa ya… jadi jangan salah paham, kita tetap harus membawa apapun keinginan kita dalam doa selama kita masih orang beriman, itu hal yang saya percaya, jadi yang kali ini ingin saya tuliskan akan lebih kepada tips dan triks nya yang sejauh ini sudah saya dapatkan selama berburu pekerjaan disini agar lebih real dan mudah-mudahan bisa menjadi panduan bagi kalian yang baru saja mendarat di tanah kangguru dan ingin membangun kehidupan disini. Sharing ini lebih kepada mereka yang memang datang dengan keinginan menetap ya, jadi memang sudah memegang visa PR (Permanent Residence) agar lebih klop dengan keadaan saya yang memang menulis ini dengan latar belakang visa PR. Mencari pekerjaan profesional atau biasa disebut decent job atawa kerja kantoran itu sulit-sulit-mudah, yang paling sulit adalah bagaimana menembus pasar tenaga kerja disini. Setelah kita berhasil mendapatkan pengalaman kerja disini setidaknya minimal 1 tahun, selebihnya relatif lebih mudah saat kita mau pindah kerja ke tempat lain. Nah, kali ini saya coba tuliskan apa saja sih yang biasa kita lakukan disini saat mencari pekerjaan.

Pertama mari kita mulai dengan bagaimana menyusun CV model Australia yang sering membuat kita bingung saat pertama kali menginjakan kaki di benua ini, di Australia cara kita menyusun CV bisa dibilang sangat berbeda dengan di Indonesia. Salah satu yang berbeda adalah CV kita tidak membutuhkan foto 3×4 close up dengan background warna tertentu yang biasa kita sematkan di CV kita saat berburu pekerjaan di Indonesia, CV disini juga tidak membutuhkan tempat/ tanggal lahir, agama kita apa, apalagi sampai status kita kawin atau single. CV model Australia lebih menekankan sisi profesionalisme seperti apa dan kemampuan yang kita miliki sampai dimana, sebanyak apa pengalaman yang kita miliki, sampai apa saja portfolio yang pernah kita kerjakan jika ada, seperti misalnya proyek apa saja sih yang pernah kita kerjakan jika kita bekerja di IT. Lalu contoh bentuk CV nya seperti apa? saya coba bagikan cara saya membangun CV saya ya, tapi ini lebih ke IT karena saya bidangnya IT dan ini adalah salah satu model CV saja karena jika kalian melamar pekerjaan di bidang lain mungkin butuh model yang berbeda karena ingat yang saya tulis diatas tadi? harus menonjolkan kemampuan kita di bidang yang kita lamar 🙂 . Coba klik disini untuk melihat model CV yang saya bangun selama di Australia, saya tidak memberikan semua informasi ya seperti nomor mobile phone saya, alamat rumah dll untuk menghindari hal-hal yang kurang diinginkan.

Menyusun CV ini cukup tricky ya karena kita sebisa mungkin harus bisa menonjolkan pencapaian kita yang tentunya harus bisa kita pertanggung jawabkan juga saat sesi interview baik untuk pekerjaan permanent maupun contract, jadi jangan ngarang tapi ga bisa jelasin ya hahaha… untuk semua interview yang sudah saya lewatkan selama berburu pekerjaan IT disini, 80% dari sesi interview saya selalu berakhir dengan whiteboard interview yang artinya saya diminta menjelaskan salah satu proyek yang sudah pernah saya lakukan sambil coret-coret di papan tulis seperti dosen lagi ngajar sembari dibombardir pertanyaan seputar teknis kenapa begini dan begitu baik dari segi desain, teknis maupun dari sisi strategi yang pernah saya terapkan saat menjalankan proyek tersebut, yang juga berarti jika kita berbohong di CV ya akan ketangkep juga pada akhirnya hahaha… Saat menyusun CV juga masukan semua pengalaman kerja baik yang kita dapatkan di Indonesia maupun yang di Australia. Ya memang sih….pengalaman kerja kita di Indonesia sering kali ga dianggap, tapi biasanya mereka juga mau tau kita ngapain aja sebelum migrate. Nah, yang enaknya disini adalah, jika kita tidak bekerja dalam waktu tertentu karena harus jaga anak, atau ada anggota keluarga yang sakit, atau mencoba merintis usaha, atau misalnya sedang jadi relawan, hal itu juga bisa dimasukan kedalam CV dan tidak akan dianggap point minus untuk pengalaman kerja. Hal lain yang beda di Australia adalah ijazah sering kali tidak menjadi acuan tunggal, mereka selain melihat dari sisi ijazah juga melihat dari sisi pengalaman, sertifikat teknis misalnya CCNA dari Cisco System, atau JNCIA dari Juniper, atau MCSA dari Microsoft, dan juga skills yang kita miliki. Jadi biarpun kita lulusan SMA tanpa sertifikat apapun ditangan, tapi kita mengerti, paham dan bisa mengerjakan hal-hal teknis secara mendalam, kesempatan kita sama besarnya dengan mereka yang punya ijazah dll.

Oke, bagian CV kurang lebih sudah ada bayangan lah ya… sekarang kita bahas tempat nyari nya. Nyari apaan ya? ya nyari lowongan lah… 🙂 di Australia umumnya orang mencari lowongan kerja di sebuah platform online lowongan kerja terbesar dan paling terkenal disini, yaitu http://www.seek.com.au, inget pakai .au belakangnya ya… karena kalau .nz itu list lowongan di New Zealand. Nah… di Seek ini juga kita harus fokus kepada tempat pencariannya di negara bagian mana untuk mempermudah kita dalam mencari lowongan kerja yang memang dibuka di kota atau daerah kita tinggal agar tidak perlu waktu lama dalam menuju tempat kerja. Lucu tapi ini memang terjadi sih, di Australia kalau mereka melihat kita tinggal terlalu jauh sama tempat kerja biasanya tidak akan diprioritaskan, jadi usahakan mencari kerja di tempat yang tidak lebih dari 1 jam waktu tempuh perjalanan menggunakan public transport.

Australia kan ada 8 bagian tuh (NSW (Sydney), ACT (Canberra), VIC (Melbourne), WA (Perth), SA (Adelaide), Tazmania (Hobart), QLD (Brisbane), dan NT (Darwin)). Jadi biar lebih gampang kita pilih dulu kita nyari di negara bagian yang mana, tentunya berdasarkan tempat tinggal  ya… tapi bisa juga kalau kalian willing buat pindah ke negara bagian lain (seperti kawan saya pindah dari Sydney – NSW ke Perth – WA) karena dapat pekerjaannya disana ya silahkan nyarinya global saja, Untuk mencari pekerjaan juga nyari nya based on key word, nah… bicara soal key word itu juga penting, jangan nyari kerjaan IT tapi key word nya kitchen hahaha… Di Seek ini juga kita bisa bangun profile kita secara online, profile ini seperti CV online kita, dan pencari tenaga kerja baik perusahaan maupun agen pencari kerja bisa nyari kandidat yang mereka butuhkan berdasarkan key word juga, misalnya skill tertentu. Itu kenapa saat bangun profile di Seek juga perhatikan cara menuliskan skill yang kita kuasai, misalnya saya pakai kata networking, voice, wireless. Bisa juga memasukan  vendor spesifik yang kita kuasai seperti misalnya Cisco. Hal lainnya adalah disarankan kita bikin profile berdasarkan pengalaman kerja juga karena hal itu juga dijadikan acuan key word saat mereka mencari kandidat, saya sering kok dihubungi langsung karena profile saya di Seek, padahal saya sedang ga nyari kerja. Oh ya… jangan lupa untuk upload CV kalian yang sudah kalian buat dengan susah payah tadi di Seek ya, karena selain profile online di Seek itu biasa untuk screening awal dan mereka akan coba download CV kita dari Seek untuk lebih detail nya sebelum mencoba menghubungi kita.

Selain nyari di Seek, saya beberapa kali juga langsung nyari di web nya company atau organisasi yang bersangkutan, tapi ya untuk yang satu ini kalian harus tahu dulu nama tempat atau organisasinya ya… bisa dari kawan atau bisa dari browsing di internet, pakai cara yang satu ini juga sering kali membantu karena beberapa perusahaan mereka punya tempat buat posting lowongan ditempat mereka sendiri (karena kalau di Seek kan bayar hahaha… tapi tenang itu kalau untuk posting lowongan, kalau seperti kita yang hunting pekerjaan 100% gratis kok…). Selain di web company nya langsung, cara lainnya yaitu membangun hubungan dengan para agen. Bisa dengan beberapa cara, bisa dengan kirim CV melalui web mereka, atau bikin profile di web mereka sama seperti Seek gitu, atau bisa juga dengan kenalan saat mereka menawarkan suatu peluang kepada kita, atau bisa juga dengan menambahkan mereka ke jaringan Linkedin kita yang memang sudah ada profile profesional online kita juga.

Nah… selanjutnya adalah data pendukung, seperti apa itu? salah satunya adalah profile online seperti Linkedin, membangun profile di Linkedin sedikit banyak ikut membantu kita promosi, karena system kerjanya seperti facebook yang bisa menambahkan kawan, hanya saja disini lebih ke tujuan secara profesional walaupun beberapa pengguna mulai posting-posting berita sampah seperti politik lah, curhat lah, bahkan ada yang posting CV segala hadehh… itu profile kalian di linkedin sudah seperti CV ngapain posting CV lagi? contoh profile linkedin mungkin bisa lihat punya saya disini, ya walaupun ga sempurna tapi sejauh ini cukup ok sih… karena saya sering di kirim tawaran kerja lewat inbox di Linkedin sama agen ataupun HRD dari perusahaan yang posting pekerjaan langsung. Profile seperti Linkedin ini juga bisa dibuat di Seek atau website dari agen pencari kerja seperti yang saya tuliskan diatas tadi. Sejauh ini saya sih bikin 2 profile saja dan saat ini kedua profile itu dalam posisi “tidak mencari kerja”. Bingung ya itu apa? oke, di Linkedin dan Seek kita memiliki pilihan untuk mengubah pengaturan di profile kita, kalau di Linkedin namanya “let recruiter know you are looking for job” sedangkan di Seek namanya “make your CV visible to recruiter”, kira-kira begitulah kira-kira…

Kalau semua sudah dilakukan, selanjutnya adalah semangat pantang menyerah, ini penting loh… karena menembus pekerjaan di tanah Kangguru ini ga gampang walaupun bukan berarti susah juga. Jadi semangat pantang menyerah itu penting buat menjaga pikiran kalian tetap jernih saat wawancara. Kalau kita stres atau depresi itu terlihat banget dari bahasa tubuh kita saat di wawancara, dan hal itu membuat peluang mendapatkan pekerjaan menjadi semakin tipis. Setelah pantang menyerah hal satu lagi yang menurut saya tetap harus dilakukan adalah berdoa, percaya deh… berdoa itu membantu banget, selain membuat hati dan pikiran lebih tenang, dengan berdoa juga membuat kita lebih dekat dengan Tuhan kan. Ya kecuali kalian atheis, itu diluar kuasa hahaha… Balik lagi sih, sebetulnya kalau kalian mau kerja apa saja, pasti bisa hidup kok disini, cuman ya itu tadi… pekerjaan nya mungkin ga sesuai dengan latar belakang keahlian kita, dan bisa juga bayarannya kurang memadai. Karena kerja casual itu, apalagi di restoran, haduh-haduh…. lebih baik dihindari jika buat berkeluarga ya, kalau masih mahasiswa atau single sih oke-oke aja, tapi ga rekomen untuk yang sudah berkeluarga.

Terakhir tapi sama pentingnya, kita juga butuh jaringan dan kawan, kenapa? karena disini sering kali diminta referensi, jika kita baru mulai kerja di Australia biasanya referensi dari kawan masih bisa diterima karena mereka masih maklum jika kita baru sampai di Australia, tapi setelah punya pengalaman kerja lebih dari satu atau dua tahun disini, biasanya referensi kerja yang diminta adalah mantan atasan atau kawan kerja di tempat sebelumnya. Jadi ya, lakukan yang terbaik saat bekerja, masalah atasan dan kawan kita bakal baik juga saat memberikan referensi ya itu misteri ya… karena hal itu diluar kuasa kita. Tapi rata-rata disini sih orang-orang nya sangat profesional ya, mereka jarang banget mau mencampur antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Selama kita melakukan yang terbaik saat kerja dan tidak melakukan hal-hal kurang terpuji seperti penggelapan uang misalnya, seharusnya sih tidak masalah hehehe…

Saya sejauh ini sih cukup banyak pindah-pindah kerja, dalam 3 tahun saya sudah pindah 4 kali karena pertama saya mencari pekerjaan yang statusnya permanent tapi disisi lain saya juga ga mau dapat pekerjaan permanent yang tantangannya ga ada karena kan maunya stay agak lama. Yang kedua saya nyari satu level income yang menurut saya sesuai dengan keahlian yang saya miliki dan cukup memadai untuk men-support keluarga saya disini. Terakhir saya mencari yang dekat dengan Public Transport karena nanti kan saya bakalan tinggal rada jauh di Barat sana dan kemungkinan besar saya malas nyetir hahaha…. jadi pilihannya adalah menggunakan kereta listrik (V/line atau Metro). Saat ini saya sudah mendapatkan pekerjaan yang memenuhi apa yang saya inginkan, kita lihat lah sejauh apa langkah nya karena selain apa yang saya inginkan masih ada hal-hal lainnya yang menjadi pertimbangan kan, karena ga semua diukur dari materi saja.

Jadi… selamat berjuang ya… jika masih punya dana memadai jangan mudah menyerah saat mencari kerja kalau sudah sampai di Australia karena migrasi kesini semakin sulit sekarang.

Tinggal di Australia

Kali ini karena tidak banyak yang bisa dikerjakan hari ini di kantor, dan saya juga sudah menyelesaikan beberapa masalah yang belum selesai selama berbulan-bulan, jadi saya mencoba untuk mengusir bosan dengan menulis.

Saya sudah tinggal di Australia sejak 2017 tadaaa…. baru seumur jagong yaaa… tapi ga papa deh, walaupun hanya seumur jagong begini, sudah banyak loh dapat pertanyaan lucu dari para pembaca setia, kawan dan bahkan sodara hahaha…

Yang pertama, Tinggal di Sydney ya?
Sebetulnya ga ada yang salah sih dengan pertanyaan ini, cuman ya Australia itu bukan hanya Sydney loh…. sama dengan Indonesia bukan hanya Bali, dan Jakarta bukan hanya Kelapa Gading. Saya memang ga tinggal di kota kecil sih, tapi di kota terbesar kedua yang bernama Melbourne. Padahal Melbourne cukup terkenal loh… memang sih ikon Australia selalu dikaitkan dengan Opera House yang ada di Sydney, dan Harbour Bridge yang sayangnya ada di Sydney juga hikss… tapi kami punya West Gate Bridge disini, walaupun macet tapi ini jembatan keren dan cantik juga karena meliuk seperti huruf S, yang kabarnya dibangun untuk menyaingi Harbour Bridge di Sydney hahaha… Dulu saat kami baru akan migrasi bahkan ada pertanyaan lucu ke kami “Why Melbourne? kenapa ga Sydney saja? lebih ga dingin” Ya… ga gitu juga kelesss… kami kan migrasi ga semata-mata nyari panas dingin, kalau tujuannya mau panas dingin mah cubit pantat cewek aja ntar juga panas dingin xixixi….

Yang kedua, Disana kerja apa? kalau nganggur hidup ga?
Biasanya pertanyaan ini salah satu ujung nya adalah “Kok lu mau sih turun derajat?” setelah saya beritahu disini jadi tukang IT karena dulu sudah pernah diposisi manajer saat kerja di Jakarta. Hemm…. susah ya jelasinnya, karena ga semua orang kerja hanya demi uang dan posisi sih., belum lagi kalian kan ga tau gaji tukang IT disini ga jauh gap nya sama posisi manajer, kecuali kalian bandingkan sama direktur ya saya lebih milih jadi tukang IT sih karena less pressure good income hahaha… Salah satu yang harus saya kompromikan saat memutuskan migrasi adalah harus mau mulai dari awal lagi termasuk di pekerjaan, kenapa? karena yang namanya baru datang di tanah orang, kecuali sangat beruntung dan punya skill tidak ada lawannya disini, menurut saya unlikely bisa langsung di posisi manajerial ya, selain belum ngerti medan, budaya kerja, cara kita berinteraksi juga penting. Pertanyaan lainnya adalah “kalau nganggur hidup ga?” sumpah ini pertanyaan pernah saya dapatkan dan itu terjadi di media sosial saya loh… kaget juga sih pas bacanya, karena kok mentalnya mental nyender ya… walaupun disini ada tunjangan pemerintah, tidak lalu serta merta karena kita sudah pegang PR trus bisa akses hal itu dengan mudah loh… semua tetap ada koridor yang harus kita patuhi dan ada assessment segala sebelum diputuskan kita layak mendapatkan tunjangan sosial.

Yang ketiga, “Nanti bakalan pindah warga negara donk?
Yaelah… susah kalau sudah kenal dukun ya… masa dia bisa ramalin saya pasti pindah warga negara, lah wong… tinggal disini aja baru seumur jagong dan nanti kalau sudah seumur engkong juga mana saya tahu bakalan pindah warga negara atau tidak, singkong diragiin tapeeee dehhh… dan pertanyaan ini sering nyambung ke “anak-anak ga mungkin balik lagi kan ke Indonesia, pasti jadi warga negara sana?” Untuk yang satu ini, saya sudah diskusi dengan emak nya mereka, kalau kami akan memberikan kebebasan kepada mereka ingin memilih yang mana, kalau mereka mau tetap ber-passport hijau ya monggoo karena itu hak mereka sudah lahir di Indonesia, tapi kalau mereka akhirnya memutuskan ber-passport biru, ya monggo juga lahh… karena mereka besar disini kan. Jadi, jawabannya adalah “jangan kebanyakan main dukun-dukunan yeee… ga baek…”

Yang keempat, “masih doyan makanan Indonesia?”
Eh… tong, yang namanya lidah sudah dimanja bumbu dari Indonesia lebih dari 30 tahun lu kira bisa dengan gampang lupa dan jadi ga doyan? masakan western ataupun dari negara asia lain seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam memang saya akui itu enak, kami saja sampai ada restoran favorit di Melbourne buat menikmati masakan ketiga negara itu. tapi yang namanya sambel terasi, plecing kangkung, ayam goreng ala Indonesia, nasi goreng kampung, nasi goreng pete, sampai yang model tek-tek, sop kambing, sate kambing, mi ayam, empek-empek, dan handai taulannya tetap ga akan tergeser dari lidah kami, tetap top markotop buat kami disini. Lah wong anak kami saja doyan empek-empek, ayam goreng, ayam penyet, bahkan nasi goreng ala Indonesia apalagi bapak emak nya.

Yang kelima, “Anak-anak masih bisa bahasa Indonesia?”
Tentu donk… kami usahakan terus mereka tetap bisa berbahasa Indonesia karena kami sudah sepakat akan terus menggunakan Bahasa Indonesia di rumah dan saat berkomunikasi dengan mereka. Memang kami akui, lidah mereka saat berbahasa Indonesia ga akan selentur lidah kita sama seperti saat kami berbahasa Inggris juga ga akan selentur mereka bercakap-cakap apalagi sudah pakai aksen Australia. Apa mau dikate yang namanya hidup besar di tanah berbahasa Inggris, tiap hari ketemu bahasa Inggris di sekolah maupun di pergaulan ya ga akan bisa kita lawan pengaruh nya ke anak-anak kami kan. Tapi, kami tetap tidak menyerah hahaha… Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa wajib di rumah kami.

Yang keenam, “Kapan pulang?”
Nah… kami seneng sih pas ditanya pertanyaan ini, karena kami berasumsi kalian kangen kan sama kami hahaha…. (padahal mah kaga ya, namanya juga nanya basa basi doank hahaha….). Kalau ditanya masalah kapan pulang, kami sih pengennya tiap tahun bisa pulang ya, eh… bentar… pulang disini artinya mudik ya bukan for good, oke balik ke topik awal, kami jujur kalau bisa pengen pulang tiap tahun, masalahnya pulang ke Indonesia itu mahal buat kami yang pas-pas-an begini, apalagi tabungan kami baru saja terkuras habis-habisan karena kami nekat membeli rumah disini, ya gimana ya… saya ga betah nyewa-nyewa begitu, jadi begitu ada kesempatan bisa beli ya nekat aja deh biarpun habis-habisan dan harus tinggal jauh dari keramaian kota.

Secara keseluruhan, kami terutama saya sih seneng-seneng aja ditanyain selama disini ya… bahkan sering kali ada yang tanya langkah-langkah urus PR gimana, lah… saya kan bukan agen migrasi hahaha… ya ga papa lah namanya juga orang bingung ya, kita bantuin jawab sebisanya. Pertanyaan diatas itu sering kali hanya karena budaya basa basi dan pengen tahu saja sih… walaupun kami juga ngerti beberapa yang menanyakan juga tulus saat menanyakannya, lebih jauh dari itu kami masih Indonesia banget kok dan tetap bangga sebagai orang Indonesia di tanah orang lain walaupun kadang banyak kejadian-kejadian konyol di tanah air yang bikin kolega saya disini menaikan alis mata sebelah saat baca berita nya hahaha…., saya nulis saja masih pakai bahasa Indonesia kan…