Hari pertama (lagi…)

Hahhh… pindah lagi?

Iya senin depan saya mulai bekerja di tempat baru lagi hehehe… keinginan punya pekerjaan permanent on going yang tidak mengharuskan saya menjaga status CCIE saya tetap aktif (tetap dalam emeritus status) tapi juga tetap memberikan tantangan (yang artinya tidak membuat saya berada di posisi under pay) membuat saya tetap membuka profile Seek dan Linkedin saya (yang sekarang sudah saya tutup untuk sementara).

Bulan lalu, tiba-tiba salah satu head hunter menghubungi saya dan menawarkan kesempatan yang satu ini. Setelah dikirim job description nya, saya baca pelan-pelan, dan saya timbang-timbang sambil semedi (ga denk…) saya cukup yakin ini bukan posisi yang mudah dijalanin yang artinya tetap memberikan tantangan yang berarti. Saya iyakan dan semua berlanjut ke sesi wawancara.

Sesi wawancara awalnya di set 2 kali, yang ternyata di babat 1 sesi oleh customer itu sendiri. Head Hunter sendiri kaget waktu saya beri tahu wawancara sudah di borong jadi satu kali wawancara. Singkat cerita saya akhirnya mendapatkan pekerjaan ini. Yang lebih mengagetkan lagi adalah, gaji yang saya minta ternyata tidak diberikan, tapi malah ditambah, seumur-umur saya kerja baru kali ini minta gaji malah ditambah hehehe… jujur saja yang membuat saya senang itu bukan semata-mata gaji saya justru ditambah, tapi dibalik semua itu menandakan mereka menghargai kemampuan yang saya miliki dan tidak aji mumpung ingin eksploitasi saya hanya karena saya sedang butuh, ini yang namanya fairness and respect.

Apapun itu, saya kerja tidak semata-mata mencari gaji sih… buat saya yang paling penting adalah tantangan nya karena saya model yang cepat bosen dan selalu iseng pengen tahu hal baru. Dan, yang lebih penting lagi adalah bisa tenang dan memiliki waktu buat mikirin rumah dan isinya. Hal yang sangat mahal saat ini, dan selama saya masih bekerja sebagai kontraktor, hal itu agak susah dicapai karena otak saya sibuk memikirkan bagaimana memperbaharui kontrak kerja yang akan berakhir agar tidak ada masa dimana saya menjadi nganggur (walaupun Puji Tuhan belum pernah terjadi karena tenaga usang saya masih terus bisa terpakai sampai saat ini), maklum kami single income dan anak-anak makin hari makin mahal kebutuhannya hahaha…

Kali ini, saya benar-benar berharap bisa bekerja untuk jangka waktu yang lama, kalau bisa pensiun disini sekalian (ngarep…) hahaha… karena selain ini dikelola oleh organisasi Katolik dimana seiman dengan saya (halah…. bawa-bawa seiman… penting gitu yang se iman? yang penting bisa kerja ups…), ini juga organisasi non-profit yang artinya membuat saya membayar pajak lebih ringan (halah…). Diluar semua itu, teknologi yang mereka gunakan juga termasuk advance dan menantang, dan posisi saya termasuk di posisi senior yang akan melibatkan proses desain disamping teknis yang sudah akan menjadi makanan sehari-hari, bakalan belajar banyak disini sepertinya karena ini adalah organisasi dengan jumlah karyawan diatas 7500 orang, wow…. Lokasi juga cukup mendukung karena didekat stasiun kereta dan tram stop (aihh.. ini yang bikin renyah…), ya setidaknya saya ada pilihan lain kalau sedang malas bawa mobil hehehe…

Masuk tahun ketiga di Australia membuat saya belajar banyak hal, yang tentunya membuat saya juga berubah di banyak hal. Jadi ga heran kalau dalam beberapa kesempatan ada yang bilang “lu sekarang beda, berubah” Hahaha… Satria Baja Hitam donk pakai berubah. Ada yang bilang perubahannya positif, ada yang justru bilang perubahannya negatif (misalnya saya dibilang sombong sekarang oh nooo…). Saya berubah, itu sudah pasti, hidup di negara lain dengan budaya dan kehidupan yang jauh berbeda dengan Indonesia sedikit banyak menuntut saya untuk menyesuaikan diri.

Beberapa hal yang saya sadari berubah dari diri saya antara lain, sadar tidak sadar saya belajar untuk tidak “kepo”, setidaknya mengurangi lah… dimulai dari mengurangi posting komentar di sosial media mengenai kehidupan pribadi siapa saja, baik itu kawan, publik figure atau politikus. Kenapa? karena saya belajar menghormati garis privasi orang lain dan ber-empati, susah loh…. coba aja kalau ga percaya. Selain itu, saya juga semakin to-the-point, maklum disini orang-orang bule sedikit banget yang suka “drama”, hidup itu sendiri sudah merupakan “drama” jadi ga perlu ditambah “drama” lagi karena kebanyakan jadi pusing, mereka sering straight forward jika sedang diskusi sesuatu atau ingin menegur atau apapun, jadi jangan heran dan kaget kalau saya pun pelan-pelan mulai mengikuti budaya yang satu itu. Perubahan lainnya adalah mental untuk malu, loh… berarti dulu ga punya malu gitu? bukan, maksudnya mental untuk malu disini adalah kesadaran untuk mau antri, tertib dijalan, patuh pada aturan dan lain sebagainya, karena jika kita tidak melakukan hal-hal itu ya paling tidak akan ditegor atau paling parah di denda. Jadi disini rata-rata orang ikut aturan bukan semata-mata takut sama dendanya, tapi mereka lebih kepada kesadaran untuk malu dan sadar jika semua ini untuk kepentingan bersama. Perubahan lainnya yang saya rasakan adalah berusaha untuk memiliki empati, empati? iya empati, saya mulai mengurangi (jika bisa berhenti) posting pencapaian-pencapaian terutama yang berbau materi di sosial media saya, dan mendorong istri saya juga ikut melakukan hal yang sama. Loh emang kenapa? bukan kenapa-kenapa, saya tidak takut dibilang pamer atau sombong, tapi saya percaya tidak semua suka dengan postingan saya karena mereka mungkin saja sedang berjuang dengan kehidupan mereka yang berat, dan saya berusaha untuk tidak memamerkan sesuatu yang bisa membuat mereka berpikir “hidup saya kok tidak seberuntung dia” setidaknya melakukan sesuatu karena tidak bisa menolong banyak, karena pada dasarnya tidak ada yang lebih beruntung dan tidak ada yang lebih tidak beruntung dalam kehidupan, yang ada hanya kita memang berjalan di jalan masing-masing dan apa yang mewah pada kehidupan orang lain mungkin tidak akan terasa mewah jika terjadi pada kehidupan kita. Beda ya sama disana, hayo siapa yang mulai gelisah baca artikel ini hahaha….

Apapun itu, yang paling penting adalah jangan lupa untuk bahagia. Bisa hidup di negara sehebat Australia dan di kota se-cantik dan se-bersih Melbourne merupakan anugrah tersendiri bagi saya dan keluarga. Mengingat latar belakang saya, semua ini benar-benar mukjizat bagi kami terutama saya. Tidak akan terjadi jika tanpa campur tangan Dia. Perjalanan ini juga mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan kepada saya. Saya belajar untuk tidak mengejar kekayaan tapi belajar menikmati kehidupan itu sendiri, karena tidak ada yang tahu sampai kapan perjalanan ini akan berakhir. Saya juga belajar untuk tidak mengejar kebahagiaan karena sejatinya kita sudah hidup didalamnya, hanya saja kadang kita lupa bersyukur sehingga tidak menyadari jika kebahagiaan itu sendiri sudah menjadi bagian dalam hidup kita. Saya belajar untuk tetap bermimpi tapi tidak lupa bangun dan melangkah untuk merajut impian saya. Saya belajar untuk lebih tidak mudah menyerah karena saya belajar untuk tidak menerima hasil tapi menerima proses.

Saya juga belajar untuk mengurangi rasa kawatir, karena sudah terbukti berkali-kali dalam kehidupan saya jika hal-hal yang baik bahkan yang terbaik justru terjadi diluar dugaan dan rencana saya, di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, dan dalam keadaan yang diluar nalar saya, karena semua terjadi di waktu yang Dia tentukan. Saya juga belajar untuk lebih sabar, maklum saya orang yang keras dan tidak sabaran (yang butuh diubah sebisa mungkin dan akan menjadi bagian tanpa akhir dari perjalanan seumur hidup saya), perjalanan ini mengajarkan banyak hal kepada saya tentang arti bersabar dan melunak terutama terhadap keadaan. Hal ini, sedikit banyak membuat saya menjadi lebih baik dalam mengontrol emosi saya. Saya juga belajar untuk bersyukur untuk keluarga kecil saya, saya akui jika istri saya mungkin memang bukan yang tercantik, bukan juga yang terseksi, dan jauh dari kata sempurna, tapi dia adalah pilihan yang terbaik yang saya pilih dan terpilih bagi saya, yang saya pilih dengan sadar dihadapan Tuhan. Begitu juga kedua anak saya yang juga jauh dari kata sempurna, tapi merupakan berkat Tuhan yang bernilai buat saya dan sudah dipercayakan kepada kami. Karena justru di dalam ketidak-sempurnaan mereka, saya belajar tentang arti dari kata mengalah, arti dari kata memahami, arti dari kata tidak egois, arti dari kata setia, arti sebuah tanggung jawab, arti kata berjuang dan arti dari kata kedewasaan.

Jika ada kata-kata yang aneh, harap maklum karena ini ditulis karena kebangunan dini hari dan dengan whisky di tangan untuk mengusir dingin.

Selamat menjalani akhir pekan yang luar biasa kawan, ingat… jangan lupa untuk Bahagia.

Advertisements

Father’s Day

Entah sudah berapa banyak hari Bapak saya lewati tanpa bisa mengucapkan 1 kali pun selamat hari Bapak ke Papa ku. Ya… Papa ku sudah tidak di dunia lagi, dia sudah tenang dan damai disana. Sebentar lagi 19 tahun sudah dia pergi selamanya.

Dulu, saat dia masih hidup, mana ada kepikiran hari Bapak, yang saya ingat saat itu adalah hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember (menurut tanggalan Indonesia ya…), maklum dulu kan jaman internet belum semaju sekarang. Kemajuan dunia IT turut memberi andil adanya penyebaran informasi seperti itu terjadi lebih cepat. Tidak lupa juga andil sifat manusia yang suka gaya dan ikut-ikutan yang sedang nge-trend diluar sana agar dibilang exist (contohnya ya seperti saya ini hahaha….)

Walaupun Papa sudah tidak hidup di dunia, tapi saya tetap akan mengucapkan Selamat hari Bapak ya Pap… terimakasih untuk semua yang sudah Papa berikan semasa hidup dulu, ajaran-ajaran yang berguna dan terbukti berhasil membantu saya sampai sejauh ini, dan memberikan kenangan yang sangat baik sebagai seorang panutan bagi saya terutama bagaimana melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang suami dan bapak, yang akan saya jaga dan turunkan kepada kedua putra saya kelak tentang apa itu arti menjadi seorang Pria, semoga saya bisa hahaha… Damai lah disana Pap, salam buat kakak ya…

Cakrawala

Salah satu tempat yang paling ku sukai adalah pantai. Entah karena dulu terlalu sering bermain disana bersama mendiang Kakak saya, atau karena mendiang Papa dulu mencari nafkah ga jauh-jauh dari daerah pelabuhan.

Satu hal yang saya suka saat berada di pantai adalah memandang garis Cakrawala, garis jauh nan angkuh yang seolah mengingatkan kita akan kuasa Tuhan, dan mengajarkan sebuah arti kehidupan agar kita belajar memasang impian yang akan kita kejar sejauh cakrawala dimana ombak yang susul menyusul tidak akan membuat langkah kita menjadi lebih mudah untuk mencapai nya, karena itulah hidup dan kehidupan.

Cakrawala, garis yang tidak pernah habis saya kagumi karena begitu banyak filosofi yang bisa saya pelajari dalam hening dari nya.

Pagar

Pagar oh pagar…

Akhirnya pagar kami pun terpasang untuk memagari tanah mungil yang kami beli 2 tahun lalu yang kemudian title dan bisa dipindah ke nama kami.

Drama pagar ini yang dibarengi salah pasang plang nomor tanah kami akhirnya selesai, happy ending deh… walaupun sukses bikin saya bolak balik ke Melton selama 2 hari berturut-turut karena pada hari pertama hujan deras sehingga tidak bisa menyelesaikan pemasangan pagar, jadi ya kami tetap kesana karena ingin memastikan jika nomor tanah yang kami komplain karena salah sudah dibenerin, dan…. akhirnya bener, lega deh…

Hari kedua saya kesana lagi untuk melihat status pagar yang dipasang sekalian memasang kunci yang ada kode nya agar builder kami saat ingin akses tanah itu tinggal kami kasih saja kode kuncinya, dan…. akhirnya beres, lega dua kali deh…

Sekarang, kami menunggu kapan builder kami bisa mendapatkan building permit mereka dan bisa memulai pembangunan karena kami memiliki harapan bisa natalan disana tahun ini, semoga ya…

Sambil menunggu perkembangan yang ada, saya mulai baca-baca tentang landscaping karena kami harus menyelesaikan landscaping kami dalam 6 bulan untuk klaim AUD 1000 kami dari developer, dan saya ingin mengerjakan landscaping sendiri hahaha…. sok-sok-an ya, tapi entah kenapa saya bener-bener ini mengerjakan taman kami agar lebih fleksible dalam mendesain dan (semoga) bisa lebih murah juga.

Akhir minggu ini di Australia akan long weekend karena hari senin adalah hari libur ulang tahun ratu Elizabeth (ratu di UK). Kami pun merencakan liburan, sekadar menginap satu dua malam di tempat wisata yang agak jauh ke selatan, sekalian merehatkan otak yang mulai jenuh karena terlalu santai (lohhh….)