Enak ya….

3 tahun belakangan ini, semenjak migrasi ke Australia saya sering banget dengar kalimat “enak ya bisa tinggal di Melbourne, pengen deh kaya lu”, ya sebetulnya ga salah juga sih sama kalimat ini, hanya saja jika latar belakang pengucapannya untuk membandingkan kehidupan kalian dengan saya, ya itu kutang halah…. kok malah kutang, maksudnya mau ngetik kurang hahaha… iya itu kurang bijak ya. Kenapa begitu? gini loh…

Alasan yang paling dasar adalah kalian kan ga tau seperti apa proses yang saya lalui untuk sampai ke titik ini. Kalau kalian tahu, bisa jadi kalian akan lebih bersyukur untuk kehidupan yang kalian miliki ketimbang bermimpi memiliki kehidupan yang saya jalani saat ini hahaha… ini serius loh, proses yang saya lalui itu tidak melalui karpet merah dan hujan dollar. Disamping itu alasan lainnya adalah saya percaya kehidupan setiap manusia itu tidak ada yang lebih baik dibandingkan lainnya dan sebaliknya juga begitu. Karena saya percaya setiap manusia itu hidup menurut kecepatan dan waktunya masing-masing yang unik dan sesuai bagi ya mereka sendiri.

Sering kali kita itu hanya menggunakan segala sesuatu yang terlihat dan silau saja sebagai ukuran, dan melupakan hal lainnya dalam kehidupan yang sebetulnya jauh jauhh jauhhh lebih berharga dari setumpuk uang maupun sekarung berlian, bahkan ada yang tidak terbeli oleh apapun loh… Itu lah kenapa kita kurang bijak ya kalau membandingkan kehidupan yang kita jalani dengan orang lain, karena kehidupan yang mereka jalanin belum tentu pas jika diterapkan di kehidupan kita kan. Selain itu, kita juga tidak tahu apa sebenarnya keadaan di dalam kan, walaupun dari luar terlihat silau dan cetar, tapi siapa yang tahu dalam hati dan pikirannya seperti apa, iya ga… mana ada orang yang mau pamer aib nya ke umum… yang ada juga pamer harta dan pencapaian yang bagus-bagus, ya kan… ya kan… itulah kenapa kita bisa saja melihat jika kehidupan seseorang itu cetar tapi belum tentu didalamnya mereka lebih cetar dan bahagia dari kita.

Saya sering berkata kepada mereka yang suka membandingkan kehidupan mereka dengan saya tanpa mengetahui sejarah dan latar belakang yang sudah atau sedang terjadi di belakang layar kehidupan yang mereka anggap “sudah enak” tadi, dengan satu kalimat tanpa bermaksud menggurui mereka karena saya sendiri pun tidak tahu apa latar belakang mereka melakukan hal itu. Kalimat itu adalah “percayalah jika kehidupan saya tidak lebih enak dari miliki kamu dan sebaliknya, dan percayalah diluar sana banyak yang ingin menukar kehidupan mereka dengan yang kamu miliki”

Disamping itu, hidup di Australia itu ga semua enak tahu… di setiap tempat pasti ada enak dan ga enak nya. Selain jauh dari keluarga, hidup disini juga harus siap dengan cuaca ekstrem. Mau tahu bisa se ekstrem apa? disini itu kalau summer bisa sampai 45 derajat panasnya, walaupun saat winter paling banter -2 derajat sih…. tapi yang jadi masalah bukan summer atau winter nya bro…. tapi naik turun ekstrem nya yang kaya yoyo, pernah terjadi pagi 20 derajat, menjelang siang naik ke 35 derajat, pas siang 43 derajat lalu sore drop lagi ke 32 derajat, pas jam 6 sore turun ke 20an lagi dan malam 9 derajat doenkkk… hahaha… Selain suhu yang naik turun seperti itu (yang sejauh yang saya tahu paling parah di Melbourne) ada juga ancaman bencana bush fire (kebakaran hutan) yang setiap tahun mengintai. Tahun ini malahan ga mengintai lagi tapi sudah terjadi dan menyebabkan banyak sekali kerugian dan korban jiwa baik dari manusia maupun hewan. Yang ga disangka itu adalah saat sedang kebakaran hutan tiba-tiba ada badai hujan es batu, mantap ga tuh…. benar-benar diluar nalar ya, dan semua ini salah satu akibat dari pemanasan global yang mengubah iklim jadi ga karuan. Walaupun ga semua daerah di Australia kena kebakaran hutan, tapi asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan itu nyebar kemana-mana loh, kemaren saja sampai ada warning dari pemerintah jika kualitas udara di kota Melbourne memburuk karena asap dan memang kota ini benar-benar tertutup asap yang bikin sesak napas, sampai di anjurkan menggunakan masker saat harus keluar rumah.

Hidup di Australia memang saya akui lebih enak dari di Indonesia jika berdasarkan sisi keamanan, pelayanan umum, kesehatan, pendidikan, polusi yang rendah, tertib dan sebagainya (untuk saat ini). Tapi kedepannya kan kita tidak tahu akan seperti apa, apalagi dengan banyaknya imigran dari negara lain ikut menyumbang ketidak tertiban yang semakin sering terjadi belakangan ini, dan tingkat keamanan pun semakin turun walaupun belum separah di Indonesia yang bisa sampai orang sedang ibadah dibubarin paksa, atau tawuran antar ormas dll.

Jadi…. ayo belajar menggunakan kehidupan orang lain sebagai motivasi agar kita bisa lebih baik lagi bukan sebagai acuan ukuran perbandingan siapa yang lebih baik, karena ingat setiap manusia itu unik dan memiliki kehidupan nya masing-masing dengan kecepatan dan waktu yang paling sesuai dengan diri mereka masing-masing.

Hari terakhir 2019

Akhirnya kita sampai juga di penghujung tahun 2019, ga afdol rasanya kalau ga nulis ya (padahal mah biasanya juga ga nulis donk hahaha…). Malam ini akan menjadi malam tahun baru kami yang ketiga disini, di kota yang dingin dan terkenal dengan julukan kota 4 musim dalam sehari, dan itu benar adanya. Tahun ini (seperti biasa) banyak sekali yang harus saya syukuri seperti tahun sebelumnya selain tidak kalah banyak juga hal-hal yang menjadi pembelajaran bagi kami, terutama buat saya secara pribadi. Apapun yang terjadi di tahun ini, harus saya akui jika tahun ini menjadi adalah salah satu tahun terbaik dalam kehidupan kami terutama saya.

Dimulai dari awal tahun, dimana saya setengah mati mencari cara agar aplikasi pinjaman kami bisa lebih aman mengingat tanah yang kami beli dengan nekat 2 tahun lalu sudah akan title yang artinya sebentar lagi pindah nama ke kami dan harus memulai proses KPR ke bank. Hal yang kemudian secara tidak langsung membuat saya jadi gelisah karena perubahan arus di tempat kerja yang sebetulnya sudah saya prediksi, yang akhirnya membuat saya tidak memiliki pilihan selain mencari pekerjaan baru, padahal saya merasa sudah klik banget dan enjoy disana. Tidak lama sesudah itu akhirnya saya benar-benar mendapatkan pekerjaan lain dengan posisi yang lebih baik yaitu fixed term untuk mendukung aplikasi KPR kami dan setelah itu tanah kami beneran title dan aplikasi KPR kami pun lolos, ahh… leganya saya saat itu… saya sampai sekarang jujur masih sering kagum dengan waktu yang disusun oleh Dia terhadap hidup kami, semua terasa pas dan terjadi dengan cara yang tidak tertebak oleh kami dan tentu saja dengan cara Dia yang selalu elegan.

Tidak lama berada di pekerjaan baru ini (dan ini terjadi sebelum tanah kami title), saya ditawari lagi pekerjaan lain dengan posisi baru dan kondisi yang tentu lebih baik dari pekerjaan saat itu. Sempat bimbang sebetulnya apakah akan saya ambil atau tidak karena saya membutuhkan sebuah surat keterangan kerja untuk aplikasi mortgage saya yang akan final sebentar lagi. Sempat saya telepon salah satu kawan saya untuk diskusi, hasil diskusi itu akhirnya membuat saya mengurungkan niat saya untuk mengambil kesempatan baru itu karena waktunya benar-benar tidak sesuai dengan keadaan saya saat itu. Saat itu, ada perasaan kecewa sih… jujur saja…. karena itu adalah tawaran yang bagus dan menurut saya bisa membantu saya membangun jalan karir disini, tapi apa boleh dikata jika pada akhirnya harus saya relakan…

Ingat tadi saya bilang Tuhan sering berkarya tanpa bisa tertebak oleh saya? dan hal itu terjadi lagi untuk ke sekian kalinya, luar biasa yaa…. tidak lama setelah saya ditolak tawaran itu karena saya minta waktu lebih untuk resign (saat itu saya mencoba mengulur waktu sampai aplikasi Bank selesai), eh…. ternyata datang tawaran pekerjaan lain yang lebih baik lagi, ini benar-benar lebih baik loh… dan kali ini tidak ada keadaan yang bisa membuat saya harus menolak lagi. Tawaran yang satu ini benar-benar diluar prediksi saya, selain keadaan pekerjaan, posisi, dan lokasi kantor yang jauh lebih baik, ternyata saya juga mendapatkan tawaran salary yang jauh lebih baik juga, mau tahu kenapa saya bilang tawaran salary yang lebih baik? karena apa yang saya minta tidak diberikan tapi malah ditambah (pernah saya tulis disini), ga banyak sih tapi ini pertama kali nya saya minta gaji dikasih lebih selama karir saya, coba bayangkan… kalau bukan karena kuasa Tuhan lalu apalagi coba?

“Pekerjaan yang satu ini dari semua sisi benar-benar jauh jauh jauh lebih baik dari pekerjaan yang harus saya drop sebelumnya yang sempat membuat saya kecewa yang ternyata oh ternyata…. Dia sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik buat saya, percaya tidak percaya ya… tapi hal itu benar-benar terjadi loh….”

Selain itu, kondisi pekerjaan yang juga mulai bisa saya tangani saat ini, terlepas dari apapun, di pekerjaan yang baru ini saya belajar banyak sekali hal terutama tentang bagaimana saya harus bisa cuek untuk hal-hal yang ga begitu penting sampai yang benar-benar ga penting, dan itu benar-benar sangat menolong loh ternyata… maklum masih kebawa gaya kerja di Indonesia yang jauh berbeda. Itulah kenapa saya bisa nge-blog sambil menikmati waktu luang saya yang sedang tidak saya gunakan untuk belajar hal baru. Udah gitu, di pekerjaan yang baru ini juga mendapat atasan yang sangat fleksibel dan cuek yang bahkan terlampau cuek buat saya hahaha…. hal yang juga menjadi hal positif lainnya bagi saya, saya bisa makan siang dirumah karena jarak kantor ke rumah cuma 10 – 15 menit, belum lagi jam kerja yang terbilang nyaman dari jam 9 sampai jam 5 sore (tapi sering kali kalau ga ada pekerjaan urgent jam 4 atau 4.30 sore sudah disuruh balik hahaha….), bahkan selama menjelang Natal kemaren beberapa kali jam 3 sore sudah disuruh balik (walaupun handphone standby tapi kan enak bisa sambil selonjoran di rumah), belum lagi dari tanggal 24 Desember sampai 1 Januari kami 1 team berempat bagi tugas 1 orang masuk 1 hari kerja (karena semua ada 4 hari kerja – 24,27,30,31), trus sisa harinya ngapain? disuruh santai liburan tanpa potong cuti hehehe… disamping itu posisi kantor yang dekat dengan stasiun kereta dan tram stop juga menjadi hal positif lainnya saat kami sudah pindah ke rumah mungil kami nan jauh di barat sana.

Pekerjaan yang satu ini dari semua sisi benar-benar jauh-jauh-jauh lebih baik dari pekerjaan yang harus saya drop sebelumnya yang sempat membuat saya kecewa yang ternyata oh ternyata…. Dia sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik buat saya, percaya tidak percaya ya… tapi hal itu benar-benar terjadi loh…. dan saya merasa untuk kesekian kalinya Iman saya yang tipis ini diuji oleh-Nya. Mungkin kalau Tuhan ada didepan saya Dia akan bilang “hayo ga usah merasa lebih pintar, percaya saja sama saya”. Selain masalah yang berkaitan dengan pekerjaan, saya juga memiliki keluarga yang Puji Tuhan sehat. Selain itu kami sekeluarga juga tidak kekurangan walaupun tidak memiliki harta sampai melintir, dan tahun ini juga ditandai dengan datangnya 3 keluarga besar dari istri saya ke Melbourne, yang ikut meramaikan suasana kami disini yang bisa dibilang rada sepi ya… namanya juga sendirian di rantau hahaha…. rasa damai ini benar-benar tidak terbeli…

“orang yang paling bahagia adalah orang yang berada ditengah dalam kehidupan dia, karena dia tidak perlu pusing akibat kekurangan, tapi dia juga tidak kehilangan rasa syukur karena sudah terlalu kebal akibat berlebihan, dan yang paling penting dia pun tidak akan hanya fokus mengejar untuk lebih karena selalu merasa kurang”

Tahun ini juga, saya merasa bisa merayakan Natal dan Tahun Baru dengan situasi berbeda, saya merasa lebih damai dan tenang, mungkin karena kondisi yang saya miliki, tapi lebih jauh dari hal itu saya entah kenapa benar-benar merasakan kehadiran Tuhan yang untuk sekian kalinya terjadi dalam perjalanan hidup kami. Oh iya satu hal lagi yang patut untuk kami syukuri, tahun ini rumah mungil kami juga sudah mulai dibangun, horee… akhirnya mulai juga dan saya selalu mengambil foto perkembangan pembangunannya karena hampir setiap minggu kami sempatkan untuk menengok kesana dan akan saya posting di artikel terpisah ya.

Jika bicara mengenai apa yang sudah terjadi tentunya selalu ada yang baik dan ada yang buruk. Penghujung tahun seperti ini juga tidak lepas dari kebiasaan saya memikirkan hal-hal kurang baik yang sudah terjadi dan ingin saya jadikan pembelajaran kedepannya, termasuk kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik yang ingin saya ubah sebagai salah satu resolusi untuk tahun depan. Salah satu kebiasaan buruk yang ingin saya ubah adalah mengkonsumsi minuman alkohol, kebiasaan satu ini yang (saya merasa) sudah menjadi kebiasaan buruk sekarang ingin mulai saya kendalikan. Memang sih, saya minum juga tidak di Pub atau Bar (hanya beberapa kali karena ada acara kantor), dan saya tidak pernah sampai berbuat onar walaupun minum sampai mabuk dan tertidur pulas, dan yang paling penting adalah tidak sampai membuat kondisi keuangan kami goyang. Tapi tetap saja untuk kesehatan kurang baik jika terlalu banyak kan, dan juga kalau dipikir-pikir lagi sayang juga uang nya kalau dibuang terlalu banyak untuk beli minuman yang tidak murah itu terutama jenis whisky, walaupun enak dan nikmat apalagi saat musim dingin hehehe…

Tahun ini juga menjadi tahun dimana saya kehilangan seorang kawan karena sakit, sedih rasanya saat mendengar kawan kita yang masih seumuran bahkan lebih muda harus dipanggil secepat ini. Membayangkan keluarga dengan anak yang masih kecil membuat saya semakin gundah, tapi saya percaya Tuhan selalu memiliki rencana terbaik bagi umat-Nya dan akan selalu menyertai mereka melewati tahap demi tahap ujian kehidupan yang berada didepan mereka, apalagi jika mereka percaya dan berserah. Sudah 5 Tahun berturut saya selalu kehilangan kawan setiap tahunnya, hal yang kemudian semakin mengingatkan saya jika hidup di dunia itu layaknya mampir minum saja yang kita tidak tahu kapan dipanggil pulang oleh-Nya. Dan saat hal itu tiba, semua hal duniawi yang kita miliki tidak akan bisa berbuat banyak. Damailah disana kawan-kawan ku, suatu hari nanti kita akan berjumpa lagi.

Dulu saya pernah mendengar satu perkataan mendiang Papa, kurang lebih begini bunyinya “orang yang paling bahagia adalah orang yang berada ditengah dalam kehidupan dia, karena dia tidak perlu pusing akibat kekurangan, tapi dia juga tidak kehilangan rasa syukur karena sudah terlalu kebal akibat berlebihan, dan yang paling penting dia pun tidak akan hanya fokus mengejar untuk lebih karena selalu merasa kurang”. Jujur… saya dulu tidak mengerti apa maksud dari kalimat ini, tapi sekarang saya mulai bisa merasakan apa yang sedang berusaha disampaikan (alm) Papa saya. Yang ingin dia sampaikan sebetulnya adalah agar saya tidak lupa untuk berkata cukup dan bersyukur, karena hanya dengan berani cukup kita bisa merasa bersyukur, dan dengan merasa bersyukur kita bisa menghargai apapun yang sudah terjadi, baik yang sudah berada ditangan kita maupun yang masih berada di depan kita. Dan dengan bisa menghargai apa yang kita miliki dan kita kejar, maka kita bisa merasakan rasa kebahagiaan yang hakiki dalam hidup kita karena kita secara tidak langsung berhasil mengendalikan rasa kawatir kita akan masa depan yang penuh misteri. Bahasa sederhana nya adalah hiduplah di hari ini, ber-bahagia-lah dan nikmatilah prosesnya.

Semenjak hidup di Australia, saya belajar semakin banyak hal dalam kehidupan saya. Salah satunya adalah belajar untuk menikmati setiap langkah yang saya miliki dan lakukan selama disini terlepas dari manis atau pahit, dan mensyukuri apapun keadaan yang kami hadapi dan alami, baik itu yang membuat kami tersenyum maupun membuat kami menghela napas panjang. Saya sangat bersyukur untuk keadaan kami sekarang terlepas dari proses nya yang kadang terasa perih dan tidak nyaman, yang jujur sebelumnya saya prediksi tidak akan terjadi secepat ini. Melihat anak-anak tumbuh besar, sehat dan bersekolah disini menjadi hal yang tidak dapat saya ungkapkan dalam kata-kata, yang bisa menggambarkan sebesar apa rasa syukur kami. Bahkan sampai saat ini pun saya masih sering terkejut dengan apa yang sudah kami lakukan dan raih… sebuah langkah nekat yang dulu saya ambil dengan (kelihatannya) berani, yang jujur saat itu saya sendiri pun tidak tahu akan menjadi dan berakhir seperti apa sesudahnya keadaan kami setelah migrasi, yang ternyata sekarang memberikan hasil yang diluar dugaan kami bahkan lebih dari apa yang pernah saya bayangkan…. Tuhan sungguh baik…

Lagu-lagu khas natal yang selalu saya putar selama saya mengendarai mobil baik ke tempat kerja maupun sedang liburan dengan keluarga selama bulan Desember, menambah kesyaduhan yang saya rasakan akan kebesaran Tuhan dalam hidup kami (kalau memakai istilah jaman now – ambyarrr hati ku…), dan menambah besarnya rasa syukur yang kami rasakan di penghujung tahun ini sekaligus keberanian untuk menatap tahun berikutnya yang akan masuk sebentar lagi.

Terimakasih Tuhan… Terimakasih untuk tahun yang penuh berkat ini… Terimakasih telah menjaga kami… Terimakasih untuk kehidupan yang luar biasa ini… Terimakasih sudah beserta kami di tahun ini dan masih memberi kami kesempatan menyambut tahun berikutnya yang kami yakin akan penuh dengan tantangan lain yang mungkin saja lebih berat dari apa yang sudah kami lalui, tapi kami percaya Kau akan selalu menyertai langkah kami, melindungi kami dan memberikan yang terbaik kepada kehidupan kami…

Selamat tinggal tahun 2019…. dan Selamat datang tahun baru 2020 🙂

Summer (again)

Setelah beberapa minggu terakhir berjibaku dengan suhu yang naik turun dengan ekstrim dan badai asthma (yang ternyata juga terjadi 3 tahun lalu) yang membuat penderita atau carrier asthma seperti kami sekeluarga setengah mati karena harus berhadapan dengan alergi yang tidak terduga yang disini dikenal dengan istilah hay fever, benua ini pun mulai masuk ke musim panas di hari ini. Suhu “seksi” yang menyengat kulit pun mulai kembali mengawali musim Desember ini dan menjadi bagian dalam proses persiapan menyambut hari Natal dimana suhu nya beranjak naik sedikit demi sedikit sampai pada puncaknya yang biasa terjadi di bulan Januari nanti.

Musim panas tahun ini akan menjadi musim panas ketiga kami, musim yang 3 tahun lalu kami tunggu-tunggu apalagi saat musim dingin yang sekarang tidak kami tunggu lagi setelah merasakan sengatan panas nya yang aduhai itu. Suhu panas yang tahun ini bertahan cukup lama sampai bulan April membuat kami semakin merindukan musim dingin hahaha… manusia memang tidak ada puasnya ya… semoga musim panas kali ini tidak bertahan terlalu lama, walaupun kalau saya lihat pergerakan naik turun suhu yang ada kok rasa-rasanya bakalan lama lagi panas nya sekarang, entahlah…

Desember juga identik dengan sibuk tidaknya sebuah pekerjaan, ga tau juga sih kalau kerjanya di partner atau service provider ya, tapi kerja di end user most or less kesibukan juga benar-benar menurun jauh… orang-orang disini cenderung santai kalau sudah masuk ke bulan di akhir tahun, dan mereka cuek-cuek saja browsing berita bahkan bermain sosial media, toh ga banyak yang dikerjain juga kan… gaya kerja yang kemudian mempengaruhi gaya kerja saya juga secara tidak langsung. Gaya kerja yang awal-awal membuat saya cukup nervous karena tidak terbiasa mengingat dulu di Jakarta kan lembur-lembur ga karuan hahaha… tapi sekarang mulai saya nikmati. Ya moga-moga tidak membuat penilaian saya menjadi jelek ya… mustinya ga sih…

Saya memindahkan ambisius saya ke tempat lain saat ini, dan itu yang menjadi landasan impian-impian saya berikutnya

Masuk ke bulan Desember juga berarti waktu bagi kami untuk melakukan medical check up, kami (selalu) berusaha rutin medical check up paling tidak setahun sekali, toh gratis ini kan… malah kami sebetulnya dihimbau oleh dokter umum sini untuk melakukan medical check up paling tidak setahun dua kali, tapi masih belum kami lakukan karena malas hehehe…. (padahal mah saya sebenernya takut ma jarum… abis atit…). Di bulan ini juga biasanya saya melakukan instropeksi diri untuk apa saja yang sudah lewat dalam setahun, hal yang baik-baik saya pertahankan dan yang kurang-kurang saya coba perbaiki atau setidaknya tidak diulang, begitu juga dibulan ini biasanya saya membuat rencana atau impian baru yang ingin saya kejar di tahun berikutnya, baik buat saya sendiri maupun buat keluarga kecil saya.

Saya sekarang mulai belajar mengejar hal-hal yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang, hal-hal yang hanya bisa di mengerti oleh mereka yang mampu bersyukur dengan mengatakan cukup dan juga sudah selesai dengan dirinya sendiri

Sempat tergelitik beberapa saat lalu mengenai enak tidak nya menjadi orang kaya. Saya secara pribadi tidak menolak jika diberi berkat menjadi orang yang berkelimpahan oleh-Nya, tapi jauh diatas hal itu saya tidak ingin menghabiskan hidup dan waktu saya untuk fokus mengejar uang dan menjadi budak uang hanya untuk mengejar status dan kekayaan materi belaka. Saya sudah pernah berada di titik terbawah dan melewati fase jungkir balik dalam kehidupan saya, dari semua pengalaman itu saya belajar banyak hal tentang kehidupan begitu juga cara saya memandang hidup itu sendiri. Bisa memiliki kehidupan yang berkecukupan dan sehat sudah menjadi berkat luar biasa bagi saya dan keluarga, tidak perlu harus mati-matian dikejar sampai harta yang kami miliki sisa-berlimpah-ruah yang bisa digunakan untuk menghidupi anak cucu kami sampai tujuh turunan.

Bukan karena saya tidak ambisius ya…, tapi saya merasa sudah selesai dengan diri saya sendiri dan ingin mengejar hal lain dalam sisa waktu hidup saya yang mungkin saja lebih singkat dari yang saya bayangkan. Saya memindahkan ambisius saya ke tempat lain saat ini, dan itu yang menjadi landasan impian-impian saya berikutnya. Saya sekarang mulai belajar mengejar hal-hal yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang, hal-hal yang hanya bisa dimengerti dan dirasakan oleh mereka yang sudah mampu bersyukur dengan mengatakan cukup dan juga sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sudahlah… membahas tentang hal yang satu ini memang tidak pernah ada habisnya karena semua kembali kepada tujuan hidup yang ingin dicapai oleh setiap manusia yang saya percaya pasti berbeda-beda dan selalu berubah seiring waktu dan menua 🙂 .

Bulan ini juga identik dengan bulan persiapan penyambutan Natal, hiasan-hiasan khas Natal sudah mulai bertebaran saling bersaing mempercantik kota ini, duh adem sekali lihatnya… disini ada rasa damai yang tidak terungkap saat merayakan Natal. Terlepas dari Kristiani adalah mayoritas disini, semua agama dan keyakinan di Australia dilindungi hukum yang sama dan adil, dan saling menghormati satu dengan lainnya tanpa memandang siapa mayoritas dan siapa minoritas. Selain itu Negara sendiri pun hadir ditengah-tengah mereka sebagai penyeimbang, jadi tidak ada tuh disini lembaga/ kelompok tertentu yang bisa mengatur surga neraka sesuka mereka apalagi sampai memaksakan aturan surga neraka mereka ke kelompok lain atau melangkahi kedaulatan Negara itu sendiri, mungkin hal itu yang justru membuat damai ya… Seandainya hukum di negara kita bisa lebih tegas dan benar-benar bisa hadir, saya percaya semua yang radikal itu terlepas dari latar belakang agama dan kepercayaan yang ada, pasti dapat diberantas habis dan Indonesia bisa lebih tenang dari semua kegaduhan yang ada selama ini karena sebagian kelompok yang bukan hanya merasa paling suci tapi juga memaksakan kesucian mereka diterima oleh lainnya.

Black Friday

Jujur kacang mete seumur hidup saya baru kali ini dengar yang namanya Black Friday dan tau apa itu Black Friday. Bahkan semenjak pindah ke Australia 3 tahun lalu, saya tahunya hanya Boxing Day ndeso ya sayah hahaha… ternyata selain Boxing Day disini dikenal juga yang namanya Black Friday yang juga memberikan diskon guede-guedean buat beberapa barang, surga belanja deh dua hari itu tapi ya musti mau cape-cape antri.

Karena saya menjadi anggota dari Dan Murphy’s yang khusus menjual aneka macam minuman beralkohol (ups…) dan bisa dibilang sangat lengkap karena kita bisa menemukan hampir seluruh koleksi minuman dari seluruh dunia, saya jadi tau jika di Black Friday mereka juga memiliki banyak sekali diskon buat koleksi mereka. Duh… jadi gatel saya hahaha… iseng-iseng yang berakhir dengan beli whisky single malt lagi hiks… abis rasanya ngangenin sihh kaya si dia….

Saya pun tidak melewatkan kesempatan ini dan mengambil 2 botol single malt whisky yang bernama Singleton, entah kenapa saya terpikat oleh minuman yang satu ini selain Glenfiddich dan Glengoyne, rasanya benar-benar halus terlepas dari tahunnya. Dan semakin tua tahunnya rasanya pun semakin joss…

Tidak lupa juga saya ambil 1 slap (isi 24 botol) Peroni yang adalah bir italy yang juga ikutan promo di hari itu. Ya sebenernya ini cuman alasan sih… tapi bener deh yang namanya musim panas disini enak banget kalau minum bir dingin hehehe… bukan sebuah hal yang patut ditiru ya… apalagi buat kalian yang masih berada di tempat dimana dapat kecupan cap kafir.