Winter yang hangat

Judul yang aneh kan? Winter kok hangat… tapi itu memang terjadi hari ini karena matahari tampil memukau di langit nan biru berusaha menghangatkan kota yang dingin nan cantik yang semakin dingin di musim dingin ini setelah banyak hari berlalu dengan mendung kelabu.

Karena hari ini cerah meriah dan cukup menghangat karena seharian langit bersih dari awan kelabu, saya mengajak istri dan anak-anak pergi agak jauh ke arah timur sana mengunjungi sebuah taman yang bernama Alowyn di daerah Yarra Glen sana.

Sebelum kesana, kebetulan anak pertama saya ada janji dengan GP (Dokter Umum) sebagai kelanjutan pemeriksaan tangan dia yang sempat tertusuk duri dan cukup membengkak walaupun sudah dicabut durinya, dan saat kami membawanya ke GP untuk diperiksa beberapa waktu lalu ternyata oleh GP diminta melakukan USG untuk melihat apakah masih ada yang tertinggal dibawah kulit dia. Nah… hari ini kami harus kembali lagi setelah hasilnya dikirimkan ke GP tersebut dan hasilnya melegakan, tidak ada yang tertinggal. Proses dari ke GP lalu USG lalu ke GP lagi semuanya terstruktur dan Gratis tis tis… Walaupun gratis, pelayanan nya itu loh… luar biasa, benar-benar profesional.

Setelah anak saya selesai dengan GP, saya menuju salah satu tempat pembuatan kacamata yang ada optometrist nya, itu loh… dokter mata. Setelah ngobrol sejenak disimpulkan kacamata saya yang patah tidak bisa dibetulin dan saya harus bikin kacamata baru. Nah… untuk bikin kacamata baru maka mata saya harus di cek dulu. Proses cek nya benar-benar detail, mata saya di cek minus atau silinder nya sedalam apa, lalu di foto bola matanya, lalu di tes tekanan di bola mata dan semua itu berakhir di meja dokter mata dan dijelasin panjang lebar mengenai hasilnya. Saya sampai melongo, untuk buat kacamata saja sampai sedetail itu cek nya? (Walaupun ga semua toko kacamata sama proses cek nya, karena ada beberapa yang tanpa foto bola mata) Perasaan dulu di Jakarta cuma butuh ngobrol sama mas-mas atau mba-mba penjaga konter trus di suruh baca sesuatu sambil di ganti-ganti kaca di kacamata pengetesan, disini saya sampai menggunakan 4 sampai 5 alat yang canggih dan akurat, dan masih di jelaskan secara kedokteran mata. Selesai dengan dokter mata lalu saya beranjak ke pemilihan frame dan seterusnya.

Setelah semua proses dengan dokter mata selesai, iseng saya menanyakan kenapa di cek sampai sedetail itu. Ternyata itu untuk mencari tahu apakah di mata saya ada masalah kesehatan atau tidak, dan jika sampai ada maka akan di reference langsung ke rumah sakit agar ditangani lebih lanjut agar tidak semakin parah. Wadalah… sampai terkagum-kagum saya… apalagi biayanya semua gratis kecuali pembuatan kacamata itu sendiri. Gratis lagii….??? Iya gratis hehehe… dan tetap profesional loh… tapi bikin kacamata nya ya bayar kecuali ada asuransi kesehatan pribadi bisa di reimburse.

Ini beneran gratis Jo? Sebetulnya mau dibilang gratis juga ga sepenuhnya gratis karena semua dibiayai pajak yang kita bayar saat memiliki penghasilan di limit tertentu. Walaupun pajak yang dipotong lebih besar dari saat saya di Jakarta, setidaknya ada hasilnya kan. Dan saya masih bisa klaim balik pajak saya loh di akhir tahun finansial, jadi kurang lebih pajak yang saya bayar ya sama aja besarnya seperti saat di Jakarta tapi income nya jauh beda nya. Nikmat apalagi yang harus saya dustakan coba?

Setelah selesai masalah kacamata dan makan siang, saya ajak mereka ke arah timur kurang lebih 1 jam dari Melbourne. Kami mengunjungi salah satu taman yang pernah menjadi taman terbaik di Melbourne, namanya Alowyn seperti yang sudah saya sebut diatas tadi. Tamannya bagus dan tertata rapi, para pengunjung juga turut menjaga dengan tidak buang sampah sembarangan, atau metik sembarangan apalagi sampai selfie-selfie diatas mawar berduri seperti disana itu dulu yang kemudian memporak-porandakan seantero taman hahaha… semua balik ke mental sih ya…

Selama berada di taman, saya coba upload dan posting beberapa hal di Facebook saya, pengen exist juga donk kaya sampeyan biar kekinian hahaha… norak ya saya… dan karena entah kenapa setelah upload selesai lalu saya ingin menghapus beberapa posting foto yang berakhir dengan menghapus beberapa posting lini masa yang sudah terjadi beberapa waktu lalu. Hadeuhh… faktor U dan gaptek kayanya, hilang deh beberapa status saya karena salah pijit waktu mau edit facebook. Jadi malu ngaku orang IT hahaha…

Puas bermain ditaman, kami melipir ke sebelah taman yang memang sudah cukup sering kami kunjungi, Yarra valley chocolatier, sebuah cafe yang menjual aneka coklat, product coklat, ada resto nya, dan juga ada sedikit perternakan disamping nya. Disana kami bersantai sambil menikmati cemilan sore sebelum pulang. Jika istri saya memilih pancake yang disajikan dengan coklat cair dan es-krim, sedangkan anak-anak memilih milk shake coklat maka cemilan yang kali ini saya pilih adalah quinoa salad, semacam salad yang isinya semacam beras yang diolah seperti risoto, keju, sayuran, dan tomat. Rasanya? Sehat dan Maknyuss..

Selesai mengisi perut, kami meranjak ke sekeliling resto yang ada peternakan nya. Anak-anak girang bukan kepalang karena bisa memberi makan kambing, sapi, babi dsb nya. Dan… sssttt… gratis lagi loh… Setelah puas jalan-jalan santai kami pun beranjak pulang.

Di perjalanan pulang, pikiran saya sempat melayang ke tahun 2015 dimana kami pertama kali berusaha pindah ke kota ini, ada rasa syukur yang berkecamuk dalam dada saya terlebih karena keadaan kami saat ini semakin membaik dan stabil. Pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak kami disini yang berhasil kami capai, kualitas kehidupan dan pekerjaan yang semakin meningkat seiring waktu, udara dan air yang bersih, lingkungan yang tenang dan aman, dan masih banyak hal positif lainnya yang tidak bisa saya jabarkan disini. Rasa syukur yang setiap pagi tidak pernah lupa saya panjatkan dalam doa saya.

Selamat menikmati sisa malam di Sabtu yang luar biasa ini kawan. Hidup kita terlalu singkat untuk diisi dengan hal-hal negatif, nikmatin saja prosesnya.

Tuhan memberkati…

Advertisements

Inverloch

Halah… entah bener atau tidak cara nulis nama tempat itu yang pasti kami ber-16 menghabiskan waktu selama long weekend di salah satu rumah yang kami sewa dari AirBnB. Rumahnya cukup mewah, termasuk besar dengan 5 kamar tidur nya, 3 WC, 2 kamar mandi, double garage dan ada beranda belakang yang bisa digunakan untuk ber-bbq-ria.

Queens Birthday kali ini kami pergi bersama beberapa keluarga kawan-kawan kami disini. Jika tahun lalu, Joe Yohan menemani kami ke Mornington Peninsula yang diakhiri dengan dinner di Fat Oma (yang sekarang sudah tutup), tahun ini kami bersama dia dan beberapa kawan lainnya memutuskan untuk berleha-leha di salah satu sudut timur dari Kota Melbourne, sekitar 179 Km ke arah timur.

Inverloch nama kota nya, kota yang kecil, tenang dan damai. Sangat cocok untuk melepas penat dari kesibukan dan kegilaan yang terjadi selama ini dan kehangatan diantara kami membuat suasana menjadi hidup dan menyenangkan. Apalagi selama 3 hari 2 malam kami bisa menikmati unlimited centralized heater disana saat hari-hari yang semakin dingin mulai mengeluarkan aksinya dipermulaan musim dingin ini.

Hari kedua, salah satu kawan mengajak kami ke arah Venus Bay, pesisir pantai yang bisa ditempuh lewat darat selama kurang lebih 30 menit dari Inverloch yang menyediakan pertualangan untuk memburu pipies (semacam kerang putih yang bisa dimakan), pipies yee… bukan pipis!

Cara buru nya pun unik, kita harus menggali pasir di pesisir pantai yang masih terjangkau ombak sampai menemukan kerang yang sedang sial karena akan berakhir di meja makan kami ahhh… kasian ya….

Yang membuat lebih menarik adalah saat kami sedang mencari kerang suhu sedang berada di angka 2 derajat. Nah… Kebayang donk sedapnya saat 2 derajat lepas jaket turun ke air dan gali-gali sampai dapet tuh kerang. Mending kalau mereka gampang ditangkep, ngumpet nya kadang jauh didalam pasir dan membuat kita harus menggali dan menggali lagi seperti orang niat yang terlalu rajin, dan saat kerang sudah hampir ditangan lalu byurrrr…. datanglah ombak liar yang menyapu segalanya akhh… Kerang nya ga jadi dinner kami (gigit sendallll), tetap semangatt…

Setelah mendapatkan kerang lumayan sedikit, akhir saya memutuskan untuk udahan karena jempol kaki rasanya sudah pulang kampung entah kemana ga terasa lagi. Setelah bersih-bersih, saya langsung menuju mobil menghangatkan badan.

Perjalanan kali ini, benar-benar membantu saya agar bisa lebih santai, baik pikiran maupun badan. Bisa ngobrol panjang lebar bersama kawan-kawan ditengah hidangan makan malam yang masih ngeful-ngepul ataupun ditemani beberapa gelas spirit benar-benar membuat spirit kembali recharge.

Besok, kembali ke rutinitas lagi, minggu terakhir saya bekerja ditempat sekarang karena Senin depannya lagi saya akan memulai pertualangan ditempat baru. Sekarang saya ingin menikmati sebotol bir sambil mensyukuri keluarga yang sehat dan bahagia, kawan-kawan yang seru dan perhatian serta kehidupan yang terasa damai dan tenang ini…. Karena hal ini priceless.

Terimakasih Tuhan, Kau memang tidak pernah kurang baik kepada kami… dan yang perlu saya lakukan adalah jangan seperti orang tidak ber-Tuhan.

Mengenang masa itu

Hari ini, hari terakhir libur panjang merayakan Paskah, saya sempatkan mengajak keluarga saya mengunjungi 1 tempat yang dulu sering kami datangi sekedar untuk melepas penat dan stress.

Tempat itu adalah sebuah taman di dekat rumah yang dulu 2015 kami sewa. Sembari berjalan melewati jalan setapak menuju arena bermain di taman yang terletak disebelah supermarket tempat saya sering membeli kebutuhan sehari-hari dulu, saya mengenang kembali masa-masa itu.

Masa dimana kami sedang mati-matian bertahan dan ngirit setengah mati karena keuangan kami yang semakin menipis dan habis. Masa dimana rasa stress setiap saat mengintai dan menerkam kehidupan kami khusus nya saya karena belum ada pemasukan yang memadai.

Masa dimana kami benar-benar harus mengambil sebuah keputusan yang sangat berat…

Masa yang membuat kami saat ini memiliki rasa syukur yang semakin membesar dan semakin besar.

Begitu banyak cerita dan kejadian yang bisa kami ingat dan menjadikannya sebagai pembelajaran kedepan. Cerita-cerita yang kadang membuat hati ini perih dan mata ini berkaca ria baik karena rasa pedih nya maupun rasa syukur yang begitu dalam saat ini.

Sekarang kami memulai dengan lebih baik, setidaknya lebih baik dari saat itu dan semakin baik setiap harinya. Titik-titik pengingat yang membantu saya saat sedang berada ditengah ketidak stabilan. Titik pengingat jika kami masih memiliki Dia.

Paskah ke 2

Tidak terasa kami merayakan Paskah kedua di Melbourne. Waktu begitu cepat berlalu walaupun jujur… Saat kami melewatinya dulu tidak terasa cepat.

Culture shock yang begitu kuat membuat saya beberapa kali sempat goyang dan sempat memutuskan untuk menyerah. Tidak mudah kawan… Sungguh tidak mudah… Pindah negara itu tidak sekedar pindah rumah, mindahin baju, badan dsb. Banyak sekali hal yang harus kita hadapi dan atasi terlebih dari sisi psikis mau sesiap apapun kita menyiapkan diri kita.

Dan dari pengalaman itulah…saya mengucapkan syukur kepada Dia karena kami masih merayakan Paskah disini. Paskah di Melbourne atau di Australia sedikit berbeda dengan di Indonesia. Disini pada hari Jumat dimana kami merayakan Jumat Agung, 99% pertokoan tutup, bahkan toko besar seperti Aldi, Woli dan Coles pun sebagian besar tutup. Aldi malah tutup semuanya. Hal ini jadi pengalaman buat kami untuk mempersiapkan segala sesuatu tahun berikutnya sesaat sebelum Jumat Agung karena repot juga kalau banyak yang tutup.

Di Australia jika saya perhatikan, selama Natal dan Paskah terutama di tanggal 25 saat Natal dan Jumat Agung saat Paskah cenderung sepi dan tenang. Disini mereka sangat mendorong agar kita melewati hari-hari tersebut bersama keluarga.

Hal lainnya adalah disini libur Paskah itu 4 hari sampai hari Senin. Lumayan lama untuk saya bisa refreshing setelah penat sehari-hari berurusan dengan hal pekerjaan. Saya pun sempatkan untuk membawa keluarga mengunjungi beberapa tempat.

Paskah kali ini, saya memanjatkan Novena lagi untuk sebuah harapan. Dan, selama kami mengikuti misa di Gereja, salah satu doa yang tidak pernah berhenti saya panjatkan adalah penyertaan dari Nya agar kami bisa mewujudkan impian kami untuk kedua anak kami disini.

Saya jadi ingat kalimat salah satu kawan saya, kawan baik yang belum sempat bertatap muka tapi sudah sering membantu saya melewati dan melawan culture shock yang saat ini masih sering mengganggu saya.

“… jangan seperti orang yang tak bertuhan, Jo 🙂 Dia tak pernah kurang baik 🙂 ”

Dan itu benar adanya, karena saya harus banyak berterimakasih dan bersyukur untuk semua yang terjadi sampai titik ini.