Cakrawala

Salah satu tempat yang paling ku sukai adalah pantai. Entah karena dulu terlalu sering bermain disana bersama mendiang Kakak saya, atau karena mendiang Papa dulu mencari nafkah ga jauh-jauh dari daerah pelabuhan.

Satu hal yang saya suka saat berada di pantai adalah memandang garis Cakrawala, garis jauh nan angkuh yang seolah mengingatkan kita akan kuasa Tuhan, dan mengajarkan sebuah arti kehidupan agar kita belajar memasang impian yang akan kita kejar sejauh cakrawala dimana ombak yang susul menyusul tidak akan membuat langkah kita menjadi lebih mudah untuk mencapai nya, karena itulah hidup dan kehidupan.

Cakrawala, garis yang tidak pernah habis saya kagumi karena begitu banyak filosofi yang bisa saya pelajari dalam hening dari nya.

Advertisements

April 2019

Mood untuk menulis entah kenapa ngumpet dimana saat ini, pusing kan bacanya hahaha….

Tapi ini bener, entah kenapa kadang ga denk… sering hahaha… keinginan untuk menulis tiba-tiba hilang padahal di kepala sudah beredar beberapa ide yang bisa dituangkan kedalam tulisan, yang akhirnya malah nguap entah kenapa dan kemana, dan berakhir dengan satu tulisan panjang.

Saya biasanya menuliskan sebuah artikel (biasanya??) saat si mbarep dan si mbontot ultah, tapi entah kenapa kemaren bisa kelupaan karena ditunda lalu ditunda lagi sampai akhirnya bener-bener ga inget dan sudah terlewat jauhhhh sampai sekarang.

Ya sudahlah, setidaknya sekarang saya inget hahaha… saat mikirin tentang duo bocil yang sudah gede sekarang, saya sering merasa waktu terbang cepat sekali. Masih jelas banget di ingatan saya saat-saat saya mengendong mereka pulang dari RS Family Pluit ke rumah mungil kami di Citra satu sana. Eh… sekarang dah sak meter tinggi nya, kaya mimpi hahaha…

Dengan migrasi ke Australia, saya menemukan (banyak) hal-hal positif yang terjadi di masa-masa pertumbuhan anak-anak saya. Gaya pendidikan disini yang begitu saya sukai karena sangat mendukung dan mendorong anak-anak saya untuk bisa lebih berani, percaya diri, menghormati orang lain, mengerti jika antri itu sebuah keharusan, dan masih banyak ajaran etika dan norma kehidupan lainnya yang sejak kecil sering ditanamkan melalui kegiatan belajar mengajar. Jadi ga melulu menghafal, didikte, ngejar angka dan juara ya.
Kehidupan kami disini bisa dibilang baik, waktu yang berkualitas dengan keluarga yang bisa dicapai hampir setiap hari plus sebotol beer dingin halahh…., kualitas kehidupan yang meningkat tajam walaupun kami bukan orang berduit banyak membuat kami sangat bersyukur karena memiliki jalan ini. Kami tidak berasal dari orang-orang dengan latar belakang ekonomi yang kuat, tapi kami benar-benar merasa cukup saat ini, kami bisa hidup layak dan masih bisa nabung dikit buat masa depan.

Ga lama ini kami sekeluarga baru saja merayakan Paskah ketiga kami disini, yang kebetulan kali ini kakek nenek anak-anak sedang berada di Melbourne, yeahh… jadi rame deh… sebuah keadaan yang sering kami rindukan sejak kami migrasi ke Australia 3 tahun lalu. Maklum dulu sering ngumpul dengan keluarga besar istri, dan hal itu menjadi salah satu yang hilang saat kami memutuskan untuk hijrah ke negeri Kangguru mengejar impian kami terutama untuk kedua anak kami, walaupun saya harus bargain dan kompromi dengan banyak hal, tapi semua itu terasa layak, bahkan sangat layak.

Melbourne sudah mulai kembali normal, setidaknya dalam beberapa hari ini. Suhu kota ini sudah mulai kembali ke suhu dimana seharusnya dia berada (yaelahhh… norak ahh… mentang-mentang sudah kuat dingin tapi abis itu kerokan hahaha…), setelah beberapa minggu ini disko dangdut panas dingin panas dingin ga tentu seperti ABG sedang jatuh cinta monyet. Suhu yang enak ini membuat kami bisa jalan kaki dengan jaket ringan tanpa harus berkeringat seperti saat kita jalan di jalan Sudirman di CBD Jakarta di tengah siang bolong. Emang suhu nya berapa seh? Kisaran 15 sampai 19 derajat, ouchh… itu kan dingin?? Iya sih, awalnya kami juga merasa seperti itu, tapi setelah beberapa kali kami dicolek panasnya Negara ini saat musim panas, kami mulai sukak pake banget sama dingin hahaha…

Suhu yang cukup panas sampai bulan April bukan sebuah pertanda yang bagus juga sebenernya, karena pola seperti ini biasanya menjadi pertanda jika musim dingin akan menjadi lebih dingin dari biasanya, brrrr… bisa-bisa minus tahun ini (semoga ga ya…). April sebentar lagi akan menuju peraduan, dan bulan Mei sudah mengintip di perempatan. Bulan dimana seluruh penantian kami selama 2 tahun untuk sebidang lahan mungil yang kami beli waktu itu akan selesai disiapkan oleh developer dan bisa dipindah namakan kepada kami agar builder kami bisa mulai membangun rumah mungil kami diatasnya. Saat ini kami sedang pontang panting dengan pengajuan pinjaman Bank, yang untungnya kami dibantu seorang mortage broker yang kompeten jadi lega deh…. semoga semua proses nya lancar dan Natal tahun ini harapannya kami bisa pindah dan merayakannya dirumah kami sendiri, semoga ya…. Selain itu, beberapa kesempatan di dunia kerja yang belakangan ini tiba-tiba terbuka juga cukup membuat pusing karena hal ini bersangkutan dengan aplikasi mortage kami. Pertimbangan demi pertimbangan mulai coba kami putuskan dan pada akhirnya kami serahkan saja semua kepada Dia karena waktu Dia lah yang akan paling tepat bagi kami sekeluarga.

Minggu ini adalah minggu malas, hahh…. Minggu malas? Iya, hahaha… karena minggu ini efektif hanya 3 hari dengan bolong di hari senin dan kamis, senin libur paskah dan kamis adalah ANZAC day, seperti hari pahlawan kalau di Indonesia. Tadinya mau ambil cuti tapi setelah dipikir-pikir cuti yang belum seberapa itu mendingan saya simpan untuk yang lebih penting. Yang lebih penting itu apa, nanti saya tulis ya setelah benar-benar kejadian, tapi ga sekarang.

Ngomong-ngomong soal libur Paskah, kok bisa hari senin libur Paskah? Di Indonesia kan hanya Jumat sampai Minggu saja? Iya benar, disini pun begitu, libur benerannya mulai dari Jumat dan berakhir di hari minggu, nahh…. ini nih bedanya, libur paskah itu kan sebetulnya Jumat Agung dimana itu hari jumat dan Minggu Paskah dimana itu hari minggu. Karena hari minggu itu adalah hari libur, jadi pemerintah sini mengganti hari itu ke hari senin karena minggu itu memang sudah jatahnya menjadi hari libur, aihh… baiknya… masih bingung? Oke saya jelasin pakai libur natal yak. Natal itu kan tanggal 25 Desember (semua juga tau ya…) dan pasti tanggal merah kan yang artinya libur atau public holiday, jadi kalau tanggal 25 Desember itu jatuh di hari sabtu atau minggu, maka senin berikut nya akan jadi tanggal merah untuk mengganti libur natal yang jatuh di hari sabtu atau minggu yang memang sudah seharusnya libur. Jadi jatah libur (weekend) diganti jika ternyata ada public holiday jatuh di weekend, dan jatah cuti tetap 20 hari setiap tahun tidak berkurang hakhakhakhak… senang nya….

Nah sekarang saya bingung mau nyambung tulisannya gimana hahaha… gini nih kalau ngerjain sesuatu ga pokus, halah… fokus maksudnya. Semua jadi setengah sepatah begini.

Dah deh… nanti kita sambung lagi ya di tulisan berikut hahaha… caoo….

A Gift…

Selamat datang Desember… bulan penuh hikmah bagi kami pengikut Kristus karena di bulan ini dipercaya (bagi kami kaum Kristiani) sebagai hari dimana Yesus dilahirkan ke dunia untuk menebus dosa manusia dengan darah-Nya.

Bulan yang penuh dengan hari libur juga walaupun saya hanya mengambil libur 1 hari ditanggal 24 karena tanggal 25 dan tanggal 26 adalah hari libur nasional, loh kenapa cuma ambil 1 hari? karena…. saya kerja jadi kontraktor hahaha… kerja jadi kontraktor itu kalau ga kerja ya ga dibayar bang… tanggal 25 dan 26 sudah pasti ga dibayar kan karena tanggal merah… jadi kalau saya ambil 3 hari lagi di tanggal 24, 27 dan 28, berarti 1 minggu saya ga gajian sedangkan ada dapur yang musti dibuat ngepul terus…

Sebetulnya ga juga sih, saya bisa saja ambil off 1 minggu kalau mau dan masih bisa mengendalikan keadaan kami, emang dasar saya nya aja yang ga mau rugi karena hour-rate nya sayang kalau dibuang xixixi….

Di bulan ini juga, saya memiliki beribu kenangan, baik bersama (alm) Papa, (alm) Kakak, maupun kenangan-kenangan semasa di Tegal, Kos yang pernah saya tinggali selama 8 tahun lebih selama kuliah dan masa-masa saya pacaran dengan si Dia yang sekarang sudah berdiri disamping saya ikut berjuang mengejar impian kami bagi kedua anak kami di Tanah Selatan yang mulai tidak se-asing dulu lagi.

Di bulan ini juga, saya merayakan hari lahir yang membuat saya banyak merenung karena umur sudah bertambah tua dan jarak pun sudah semakin mendekat dengan Sang Khalik, untuk melakukan banyak instropeksi diri dan merangkum hal-hal baik dan positif yang harus saya pertahankan begitu juga banyak hal kurang baik dan negatif yang harus saya koreksi atau jadikan sebagai pembelajaran agar kehidupan yang saya miliki (semoga) bisa semakin baik kedepannya.

Perayaan kali ini pun akan menjadi yang kedua bagi saya, jika tahun lalu Si Dia membelikan 6 pasang kaos kaki di Target sebagai kejutan, tahun ini agak berbeda. Bermula dari celotehan saya saat kami sedang menghabiskan waktu muter-muter kaya gasing di salah satu pusat pembelanjaan disini tentang keinginan untuk membeli tas kerja baru (setelah gajian) membuat istri saya memilih sebuah tas anti maling sebagai kejutan tahun ini. Anti maling? iya, begitu ditulis di iklannya, anti maling karena ga bisa dipotong atau robek, anti air merembes kalau keujanan dan ada port untuk nge-cas HP kita melalui powerbank yang kita hubungkan dari dalam tas, unik juga ya (atau saya aja kali yang udik karena baru tahu ada tas model begitu hahaha…)

Tas nya bagus, walaupun lebih kecil sedikit dari yang saya pakai saat ini, tapi tidak mengapa karena saya tinggal mengurangi beberapa bawaan saya yang sebetulnya banyak yang tidak begitu berguna juga, maklum mantan engineer yang menjadi engineer lagi membuat saya punya obeng dan tang segala di tas hahaha…

Karena tas ini dibeli online, unik juga cara sampainya. Tadinya kita mengira bakalan dikirim ke rumah langsung kan ya kaya waktu di Jakarta… trus di taro di deket kotak surat unit yang kita sewa seperti biasanya, atau dianter ke depan pintu unit kami dan di taro disana jika sedang tidak ada orang di rumah. Eh, ternyata beda loh… yang dikirim ke kotak surat kami itu hanya sebuah surat yang memberitahu jika paket barang yang kami beli sudah sampai di kantor pos terdekat (diberi tahu di suratnya di kantor pos yang mana) dan kami diminta mengambil sebelum 30 hari (kalau tidak salah) dengan membawa surat tersebut sebagai pengantar. Lah… baru tahu ternyata disini begitu cara belanja online nya jika barang yang kita beli cukup besar ukurannya. Untung tuh kantor pos deket rumah. Unik ya hahaha… (padahal mah saya aja kali yang udik karena di Indonesa beda)

Terimakasih ya sayang… apapun yang kamu belikan selalu berguna untuk menunjang aktifitas saya, jadi ga sia-sia 🙂

Nah… yang lebih menarik lagi adalah, lewat pembelian tas itu, saya mendapat voucher wine A$100, setelah saya login untuk melihat apa saja yang bisa saya dapatkan, ternyata minimal pembelian harus 12 botol, dan bisa semua red wine, atau white wine, atau bisa campur. Saya memilih yang campur 6 red wine dengan review rating tertinggi, dan 6 white wine dengan review rating tertinggi juga. Dari apa yang tertulis sih katanya total itu sekitar A$250-an dan karena ini pembelian pertama saya dapat diskon kurang lebih A$100-an dan ditambah voucher A$100, jadi total saya hanya bayar kisaran A$65 sudah bersama pajak. Saya sendiri sebetulnya tidak ngerti masalah wine-wine-an, tahun nya pun terbilang muda jadi saya ga ngerti deh apakah itu mahal atau murah ya. Saat saya sudah bayar lewat online, langsung dikasih notifikasi jika wine sudah meluncur, dan akan tiba kurang-lebih 3 hari, dan unik nya kita bisa milih wine itu akan ditaro didepan pintu, atau di kantor pos terdekat, atau diumpetin diatas pohon (ga denk….) jika kita sedang tidak ada dirumah. Unik ya, baru tahu ada beginian di Australia hahaha…. cara nya beda lagi untuk belanja online kalau yang dibeli fragile.

Dan, akhirnya wine saya sampai, yipiii… bisa dijadikan pelengkap sajian di hari Natal nanti sembari merayakan rasa syukur yang begitu besar di dalam hati kami karena memiliki kesempatan menjalani petualangan nan seru di Negeri Kanguru ini. Sebuah petualangan yang dulu hanya berada dalam impian kami karena keterbatasan yang kami miliki, yang ternyata dinyatakan oleh-Nya dengan cara yang tidak pernah terlintas dan mampu dihitung oleh kepala fana kami. Itulah yang kemudian membuat kami semakin memahami apa yang disebut dengan percaya dan ikhlas melalui sebuah iman.

Tahun kedua ini, kami pun sudah semakin stabil, saya sendiri sudah mulai kerasan dan tidak sering mengalami gegar budaya lagi (walaupun kadang masih ada sedikit getaran nakal yang mengganggu). Kami pun tetap berharap dan berdoa, dan banyak pasrah juga kepada-Nya, hidup didalam impian yang menjadi kenyataan itu sebuah hal yang harus kita syukuri tanpa henti, karena saya pribadi percaya jika semua ini bukan semata-mata karena kehebatan kami, kemampuan kami, ataupun karena saya tidak mudah menyerah, semua ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Dia.

Terlepas dari kerasnya jalan yang pernah saya jalani dan lewati, semua jatuh bangun yang tidak hanya memberi rasa perih tapi juga pengalaman, dan semua hal yang sudah terlewati dengan sangat tidak mudah, kehidupan dan pertualangan yang kami jalani saat ini adalah – A Gift… Thank God, You always good.

Sing ngangeni

Hampir 19 purnama sudah saya membawa keluarga kecil saya migrasi dan merantau ke Melbourne, Australia.

Selama ini pula saya sering membayangkan hal-hal yang membuat kangen, apalagi kalau ada kawan yang sedang memposting hal tersebut baik yang sedang ada disana atau yang sedang jalan kesana.

Yang pertama, es teh. Yaelah… bikin sendiri aja jo!

Beda bung, entah kenapa minum es teh di warung makan itu beda sama bikin sendiri walaupun saat saya tinggal disana.

Yang kedua, buah salak! Ini adalah buah kesukaan CEO perusahan saya bekerja sebelum saya migrasi kesini. Entah kenapa lah kok kesukaan nya sama hahaha… setiap meeting sama beliau sampai malem, pasti diusahakan ada buah salak. Disini, selama ini saya ubek-ubek semua pasar traditional sampai shopping centre, sampai saya bela-belain ke utara dan barat, tetep tidak ketemu buah satu ini. Kalau rambutan saya masih pernah ketemu, tapi kalau salak haduh-haduh… belum sampai sekarang.

Yang ketiga, ketidak-tertiban. Nah aneh kan… tapi bener loh… saya sering kali kalau sedang terburu-buru suka kangen dengan jalanan disana yang bisa asal terobos. Disini… harus jaga kelakuan kalau ga mau SIM nya di cabut hiks…

Selanjutnya, suasana lebaran lengkap dengan takjil, kolak, dll. Dan juga suasana imlek lengkap dengan makanan manis, angpao, dll. Disini kedua perayaan itu biasa saja, datar-datar saja. Terlebih ga ada keluarga seabrek-abrek seperti imlekan disana membuat perasaan semakin mengharu biru…. halah… hahaha…

Sebetulnya masih banyak sih hal-hal lain yang bikin kangen, misalnya aneka rujak-rujakan, rujak buah, rujak juhi, hadalah… jadi ngeces saya. Trus aneka buah tropis yang belum ada disini atau susahnya minta ampun untuk ditemukan seperti salak itu tadi, trus bangkuang hahaha…

Hidup disini, karena saya sebelumnya menghabiskan 30 tahun lebih disana, kadang membuat rasa kangen ini meledak-ledak. Memang… banyak hal baik yang bisa didapatkan disini, seperti metode mendidik yang buat kami lebih masuk bagi anak kami terutama si mbarep ya. Belum lagi kehidupan disini yang lebih teratur dan menenangkan. Dan kalau dari sisi pekerjaan buat saya lebih baik karena dari sisi family time dan apresiasi nya benar-benar beda sama disana. Tetep saja disana ada hal-hal yang bikin kangen kan…

Keputusan untuk migrasi dan merantau itu bukan hal mudah untuk diambil, sangat sulit loh… terlebih saat kita sudah mulai mapan. Kalau bukan karena saya punya impian mau anak-anak saya sekolah di luar negeri dari kecil, kemungkinan besar sekarang kami masih disana.

Ya… normal sebagai manusia untuk merasa kangen terhadap sesuatu. Terlebih saya menghabiskan lebih dari 30 tahun disana.

Saya tetap bersyukur dan memang sudah seharusnya bersyukur, untuk kehidupan yang kami jalani disini. Sebuah kehidupan yang jauh lebih baik menurut versi kami terlebih untuk kedua anak kami.

05.14 sekarang dan hari ini sebetulnya libur karena Melbourne Cup. Tapi entah kenapa saya justru terjaga dari jam 4 pagi dan ga bisa tidur lagi. Mungkin karena proyek besar yang sebentar lagi mulai dan cukup mengganggu pikiran saya. Mungkin juga karena akhirnya posisi semi permanent yang akhirnya dipublish walaupun saya pun sudah nothing to lose.

Entahlah…

Satu yang pasti, hidup disini ada tantangan-tantangan tersendiri juga. Tapi kami tidak menyesal saat memutuskan untuk migrasi dan meninggalkan semua yang kami miliki disana. Terlebih saat melihat perkembangan anak-anak kami.