Menjadi Saksi

Nah… judulnya mengundang penasaran…

Ada apa gerangan sampai kami dipanggil menjadi saksi??

Kami Sabtu lalu dipanggil menjadi saksi, eit… ntar dulu… ini bukan masalah hukum walaupun ada unsur hukum nya 🙂

Salah satu kawan baik saya menikah secara Katholik sabtu lalu, dan dari jauh hari dia meminta kami untuk menjadi saksi dari salah satu peristiwa suci dan penting dalam lembaran sejarah perjalanan hidup mereka.

Jujur kami merasa berterimakasih, bangga dan terharu karena sudah dipercaya mengemban tanggung jawab sebesar ini. Menjadi saksi pernikahan terutama dalam agama Katholik bukan sebuah tanggung jawab yang mudah, karena kami harus mampu (dimampukan) untuk menjadi panutan, menjadi pembimbing, pendengar, dan penengah (selama diminta) dalam perjalanan pernikahan mereka sampai tua.

Tidak mudah kan? Kami sendiri masih harus banyak belajar dalam kehidupan pernikahan kami, ya… memang tidak ada yang berhenti belajar jika ingin hidup berkembang, begitupun dalam sebuah pernikahan.

Semoga Tuhan selalu membimbing keluarga dan pernikahan kami, selalu memampukan kami dan selalu memberi kami kesempatan untuk terus mengembangkan dan menumbuhkan kehidupan pernikahan kami.

Hal yang membuat saya merasa terharu adalah saat Romo membacakan pemberkatan dan saat kedua mempelai saling mengucapkan janji, rasanya… seperti baru kemarin kami berada di posisi tersebut saling melontarkan janji untuk pertama kalinya (pertama kalinya? iya karena saya sedang merencanakan untuk bisa melakukan pembaharuan janji pernikahan sesering mungkin).

Yang tidak akan kami lupakan adalah saat kami ditanya apakah kami bersedia saat akan menerima sakramen perkawinan, dan jawaban kami jika kami bersedia tersebut sudah menjawab pertanyaan tentang kesiapan kami menerima satu dan lainnya, apapun itu keadaannya, yang kemudian diingatkan dan di-sah-kan dengan 1 kalimat dari ayat Alkitab yang berbunyi “apa yang disatukan oleh Tuhan tidak bisa diceraikan oleh manusia”.

Menikah bukan perkara status, bukan perkara men-sah kan sebuah hubungan seksual, bukan perkara umur, bukan perkara-perkara lainnya. Menikah itu adalah sebuah keputusan untuk menerima pasangan kita secara utuh dan apa adanya. Menikah itu adakah sebuah janji, baik kepada pasangan kita, keluarga maupun Tuhan.

Itulah kenapa, keputusan untuk menikah harus diambil dalam keadaan sadar bukan dengan paksaan.

Selamat menempuh hidup baru kawan ku, BO dan JL. Jadilah keluarga yang lengkap, sehat dan bahagia sampai maut memisahkan kalian 🙂

Advertisements

Dibangunkan…

Sore ini, sangat menggoda untuk tidur siang, bagaimana tidak… keadaan cuaca yang mendung sayu ditambah suhu yang tidak terlampau tinggi seperti biasanya, membuat saya bergerak pasti keatas kasur dengan tangan langsung menyalakan penyejuk ruangan lalu bersembunyi dibawah selimut dengan cepat untuk menikmati bobo siang yang nyaman.

Tiba-tiba… 2 pasang tangan yang kecil menepak-nepak muka saya dilanjutkan dengan ciuman dari 2 pasang bibir kecil bertubi-tubi di muka, dan diakhiri dengan celoteh-celoteh yang berisik “ayo anterin ke tempat main, ke tempat melukis, mau main pasir bla bla bla…” memaksa badan saya yang super malas ini harus beringsut bangun dan keluar dari selimut yang terlampau nyaman itu…

Sambil tersenyum… saya pun bangun sembari berusaha menutupi muka agar tidak terlanjur basah oleh liur mereka “iyuhhh….” yang bersorak riang karena “sang supir dan ATM berjalan – Joking” sudah bangun yang berarti misi mereka berhasil. Bergerak malas ke gantungan baju untuk ganti baju pergi kemudian bergerak ke wastafel untuk bilas muka agar tidak “terlalu” terlihat muka bantal nya hahaha…

Tiba-tiba (lagi) sebuah suara dan intonasi yang khas bergema dibelakang “bagus ya… kalau dulu aja saya yang minta di anterin trus bangunin langsung ngedumel, sekarang aja klo unyil-unyil yang bangunin ga kaya gitu, dasar…”

D-O-E-N-K-K…. nah… kali ini langsung sadar dari setengah tidur… sambil bilas muka saya mencoba mengingat, iya juga ya… kenapa dulu saya suka ngedumel kalau istri yang membangunkan tidur siang saya dan minta dianterin ke suatu tempat?!?

Nikah itu, awal. Bukan akhir

Kejadian ini, menyadarkan saya akan 1 hal. Pernikahan itu bukan sekadar mengesahkan sebuah hubungan seksual belaka, atau sekadar menunjukan ke orang-orang “hey.. gw udah nikah neh” atau sekadar “biar ga basi karena udah kelamaan pacaran nya” atau sekadar – sekadar lainnya!!!.

Nikah itu, awal. Bukan akhir. Awal dari kita mulai melihat hal-hal yang tidak terlihat saat pacaran (selama apapun itu) yang kadang cukup “menakutkan” hahaha… dan “mengagetkan” fiuhh…

Awal dimana kita akan melihat orang itu 1 x 24 jam seumur hidup. Awal dari penyesuaian-penyesuaian lanjutan yang berkali kali lipat lebih sulit dan menantang dari masa-masa pacaran, tidak percaya?

Tapi… disanalah keseruannya, dan disanalah kedewasaan kita diuji. Sejauh mana kita bisa menerima pasangan kita seutuhnya. Disanalah kita belajar untuk koreksi diri, belajar tetap menjaga rasa sayang agar (minimal) tidak berkurang dari level saat kita pacaran, dan sangat diharapkan lebih dan lebih terus donkk… dan itu tidak mudah loh…

Jika dulu saat pacaran saja bisa siap 1 x 24 jam buat anter pacar, kenapa setelah menikah tidak bisa buat anter istri? nah kan…

Ya… semua kembali kepada sikon masing-masing ya. Disini saya hanya ingin share saja jika saat kita (dalam hal ini kami) yang menikah secara Katolik, kita disumpah dibawah sakramen perkawinan untuk tetap memelihara dan menumbuhkan keluarga yang sudah kita janjikan dihadapan Allah jika kita akan menerima pasangan kita apa adanya, baik dalam suka maupun duka, melewati kesulitan-kesulitan bersama-sama (ingat… kesulitan itu tidak harus berhubungan dengan materi lohh…) selamanya sampai maut memisahkan. Jika hal itu sudah kita ucapkan, dan memang tidak mudah untuk di wujudkan, tapi sangat mungkin untuk dihasilkan, jika kita masing-masing bisa menekan ego kita sampai ke batas yang tanpa batas saat berhadapan dengan pasangan kita. Karena, kita tidak sedang menikahi seorang malaikat kan, kita menikahi seorang manusia yang sama seperti kita, penuh kekurangan.

Setidaknya, kejadian hari ini… membuat saya sadar, wadalah… ternyata saya berubah setelah menikah, yang menjadi masalah berubah nya ke arah yang minus bukan plus… dari yang siap menjadi cowok yang anterin doi nya kemana-mana menjadi suami yang marah jika diganggu saat sedang bermalas-malas ria (padahal dulu pas pacaran malah nunggu-nunggu kapan yaaa… diminta anterin lagi buahahaha…) ga baik itu… ga baik…

Buktinya saya dengan anak-anak bisa, kenapa dengan istri yang sudah saya kenal lebih dulu dan pernah saya perlakukan sama saat dulu tidak bisa?

Saatnya intropeksi dan koreksi diri.

Ya… kami sering ribut, dari hal kecil sampai hal… (kayanya belum pernah ada hal besar) diatas kecil sedikit, dari hal ga penting sampai hal (yang kelihatannya) penting. Kami tidak pernah benar-benar membenci satu sama lain, setidaknya sampai saat ini belum (ya iyalah… kalau sudah masa iya saya masih bisa tidur di kamar tidur xixixi….) dan semoga selama nya jangan sampai terjadi.

Sebuah pertengkaran itu, kadang bagus karena bisa berfungsi sebagai pengkoreksi, asal… emosi dan arah pertengkaran dikontrol, yang dibahas juga dikontrol, dan yang kontrol harus berdua.

Kami masih terus berusaha, agar bisa makin saling memahami, saling mengalah, saling mengoreksi, dan saling menumbuhkan rasa sayang. Masih dalam proses dan belum sempurna, belum sampai ke tahap dimana bisa menjadi contoh. Masih banyak penyesuaian, tapi setidaknya kejadian gara-gara 2 unyil ini menyadarkan saya 1 hal lagi, jika saya tidak boleh mengurangi tindakan yang bisa mencerminkan rasa sayang saya ke istri, karena apa yang terucap tidak ada gunanya jika tidak dilakukan kan….

Semoga kami bisa tetap bersama sampai tua nanti, dan tetap saling koreksi (bahasa keren nya bertengkar) agar semakin hidup dan baik satu dengan lainnya hahaha…

Luv u always mom 🙂

Sejarak TSI, SW, ODS & TMII

Beberapa pekan lalu, tepatnya 2 minggu yang lalu kami membawa anak-anak mengunjungi SW (Sea World) di Ancol sana. Anak-anak girang bukan kepalang karena mereka melihat aneka satwa laut baik yang masih hidup maupun yang sudah diawet kan.

Setelah puas, mereka kami ajak ke ODS (Ocean Dream Samudra) melihat aneka pertunjukan dimana salah satunya adalah atraksi ikan lumba-lumba. Sebetulnya beberapa pekan sebelumnya mereka juga sempat kami ajak ke TSI (Taman Safari Indonesia) dan ada atraksi lumba-lumba juga disana.

Hari ini, 1 hari menjelang idul fitri, mereka kami bawa mengunjungi TMII (Taman Mini Indonesia Indah) yang konon menurut berita nya adalah hasil karya Ibu Tien Soeharto, Ibu Negara kedua NKRI.

Kami tidak pergi sendiri, tapi bersama mama saya dan keluarga istri saya. Momen-momen seperti ini adalah momen yang tidak akan bisa dibeli dengan uang, apalagi kita sebagai manusia bukan lah mama koreng eh…, loreng eh…, ya pokok nya itulah yang punya indera ke delapan sembilan sepuluh yang bisa meramalkan masa depan kapan kita masih bisa memiliki momen ini atau tidak.

Reaksi di wajah mereka saat kami ajak ke Taman Legenda Keong Mas dan tempat-tempat rekreasi lainnya benar-benar keluar dengan polos nya. Percayalah kawan, tidak ada yang bisa menggantikan ekspresi wajah nan jujur seorang anak kecil yang takjub saat melihat sesuatu sambil menggumamkan “WOW…” 🙂

Apakah saya bahagia? Tentu… saya bahagia, sangat bahagia, nikmat apa lagi yang harus saya dustakan? Ini adalah salah satu blessing tertinggi yang turun dari yang Maha Tinggi.

Ada beberapa kawan yang bertanya iseng kepada saya karena melihat update-update yang mengalir lancar di laman social media buku-muka (facebook) saya saat sedang membawa keluarga saya refreshing menikmati suasana diluar sana.

Menurut hemat mereka, saya termasuk cepat memulihkan keadaan terutama sisi finansial setelah mengalami ombak nan kuat dan tinggi di Australia sana yang kemudian memulangkan kami dengan keadaan finansial  hampir luluh lantak ke Indonesia.

Tidak… tidak… bukan begitu kawan keadaan nya, finansial saya belum sekuat dulu sebelum ke Australia, saya hanya sudah stabil tapi belum pulih benar.

Lalu? Apakah saya sedang berusaha pamer dan menutupi sesuatu dengan menampilkan kesenangan dll? Tidak… tidak… kawan, saya tidak sedang bersembunyi dari kekecewaan dan kesedihan saya dari kejadian 6 bulan lalu, tidak kawan… bukan itu. Apalagi untuk pamer… tidak ada yang bisa saya pamerkan apalagi harta.

Saya hanya ingin keluarga saya senang dan bahagia dengan batas-batas tertentu yang tidak ke-bablas-an, setidak menurut apa yang menjadi aturan saya untuk batasan nya karena saya tidak ingin anak-anak saya merasa dimudahkan dalam hidup.

Dan selama saya merasa mampu membuat mereka bisa menikmati hal itu, akan saya lakukan tanpa menunggu saya punya tabungan ber ember ember yang cukup buat hari tua (karena bagi saya hari tua hanya milik Tuhan), atau punya rumah selosin, atau punya mobil keren nan beken dulu.

Tidak, itu bisa menyusul tapi momen seperti ini tidak bisa menunggu karena saya tidak tahu detik berikut nya akan terjadi apa.

Banyak hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diperoleh dengan uang dan harta, percayalah kawan… bahkan banyak diantara hal itu yang benar-benar lebih berharga dari tumpukan uang dan emas maupun berlian.

Hal-hal yang selalu saya jaga, bukan saya tidak berambisi untuk mencari penghasilan sebesar mungkin, bukan… saya hanya percaya jika semua sudah diatur dan disiapkan oleh-Nya. Kita boleh berambisi, harus malah… tapi, jangan sampai ambisi kita tersebut menutup mata kita terhadap hal-hal lain yang justru hanya bisa dipuaskan oleh waktu yang terus berjalan tanpa bisa kembali.

Semua ini juga yang membuat pertimbangan demi pertimbangan saya menjadi semakin kontras dan adu tarik. Hal yang membuat saya berfikir keras sampai merasa lelah lalu memutuskan untuk pasrah saja pada doa novena yang akan saya lanjutkan setelah menulis tulisan ini. Sebuah doa yang selalu menolong kami selama ini, yang kali ini saya harapkan bisa membantu lagi untuk menunjukan kepada saya jalan mana yang harus saya ambil.

Tidak lupa, di malam takbiran yang membuat ingatan nan kenangan akan masa kecil sampai remaja saya, akan (alm) Papa dan (alm) Kakak saya tergali kembali karena dulu rumah saya di Tegal tepat dibelakang nya ada tempat ibadah kawan-kawan muslim yang biasa disebut langgar (jawa -red),

Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, Mohon maaf lahir dan bathin.

247 KM

Jadi ceritanya saya ingin liburan long weekend ini setidaknya diisi dengan 1 hari mengajak anak-anak dan istri jalan-jalan. Rencana nya sih mau menikmati Jakarta yang sedang banyak ditinggal penduduk nya pergi keluar kota maupun keluar negeri menikmati liburan.

Dimulai dengan ide istri untuk jalan ke D Breeze di kawasan serpong sana, sekalian makan siang disana. Makan siang yang menyenangkan karena konsep dan suasana rumah makan nya terbilang baru (atau jangan-jangan kami saja yang udiq hahaha…). Dalam makan tersebut sempat terbesit sebuah rasa syukur, karena dengan hidup disini ternyata kami memang benar-benar di cukupi oleh Nya, seperti yang pernah saya sharing kan jika kami memiliki kehidupan yang cukup dan baik.

image

Sehabis makan siang, kami jalan-jalan sebentar di taman dan kompleks tersebut sambil menikmati cuaca yang hangat panas khas wilayah khatulistiwa. Setelah keringat sebesar jagung berguguran membasahi jidat dan punggung (jiahh… so puitis loe jo!!) kami pun (eh maksudnya saya hehehe…) tiba-tiba melontarkan ide untuk ke daerah yang lebih dingin dimana harapan nya sudah tidak terlalu macet karena sudah ditengah-tengah liburan, keluarlah ide untuk ke Cimory Riverside di deket Puncak sana, yang kemudian berakhir dengan bengong dimobil karena jalanan ke arah Puncak ditutup 10 menit sebelum kami sampai di pintu tol ciawi huu..uuu…uuu…

Lalu, karena pantat kami sudah mulai pegel duduk di mobil, akhirnya saya pun mengubah arah ke sukabumi dan puter balik ke arah Jakarta lagi. Eh… di tengah jalan tol yang ramai lancar itu keluar ide selanjutnya untuk ke MKG (hayo singkatan apa ini…. kalau penduduk jabodetabek pasti tau hehehe….) saat dinner yang kemudian dilanjutkan dengan menikmati dessert di salah satu penjual cake yang ternyata rasa nya cukup maknyusss….

image

image

Momen-momen melihat kebahagiaan di wajah istri dan anak-anak yang tidak bisa ditukar dengan apapun membuat saya akhirnya bertanya pada istri saya lagi “masih mau mencoba? Menukar semua ini?”

Yang kemudian dijawab “Mungkin kita memang harus mencoba lagi dad”

“Baiklah, sampai saat nya nanti saya akan lihat dan timbang ya, jika saat itu keputusannya bulat, mari kita coba lagi”

Nah… apakah yang akan kami coba? Kalau kalian mengikuti blog ini, pasti tau jawaban nya.

Oke… hari ini saya habiskan berleha-leha di rumah kami yang kecil tapi sangat homy ini menikmati saat-saat santai malas sekedar untuk melemaskan otot-otot yang pegal setelah sehari sebelumnya menghabiskan waktu sejauh yang tertulis di judul tulisan ini seharian.

Yang pasti…. nikmat apa lagi dari Nya yang bisa saya bantah.