Kembali

Iseng karena tidak banyak yang dikerjakan hari ini di kantor membuat saya menata ulang posisi meja kerja saya (yang tidak berubah banyak ternyata hahaha….) dan membaca-baca kembali beberapa artikel lama yang pernah saya tuliskan disini. Salah satu artikel yang saya baca adalah sebuah tulisan bulan Desember 2015 lalu (tepat sehari sebelum kami pulang ke Jakarta saat itu) yang entah kenapa membuat saya termenung. Artikel itu bisa dibaca disini.

Saya masih bisa merasakan apa yang terjadi saat itu, walaupun sudah berlalu 3 tahun. Debar di dada saya masih begitu kuat saat menelusuri baris demi baris kalimat yang saya tulis malam itu, yang saat menuliskannya (jujur) saya susah payah menahan air mata saya agar tidak tumpah ruah sambil berulang kali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak dalam dada saya. Saya secara pribadi masih sering melamun dan merenung tidak percaya jika kami sekarang sudah berada di Melbourne lagi dan sebentar lagi akan genap tiga tahun. Semua ini masih seperti mimpi buat saya. Perasaan pasrah yang saya miliki saat itu, yang bercampur dengan perasaan putus asa, kecewa dan syukur, hari ini ternyata membuahkan hasil yang lain dan diluar dugaan saya, benar-benar diluar dugaan saya.

Culture shock yang memukul saya dengan kuat diawal kepindahan kami kesini yang kedua kalinya, pelan tapi pasti sudah berlalu dan saat ini benar-benar sudah berlalu. Kami juga sudah mulai menjadi lokal disini dan mulai bisa mengikuti derap irama kehidupan disini disamping saya yang sudah mulai kerasan di pekerjaan karena mendapatkan pekerjaan permanen dengan posisi dan gaji di level yang saya inginkan belum lagi gaya bekerjanya yang serius santai membuat kami mulai menganggap Melbourne adalah rumah kami, terlebih lagi karena kami sudah memiliki rumah mungil yang sedang dalam proses pembangunan (tapi ini masih utang ya haha…), yang semoga lancar dan bisa selesai awal tahun depan. Kami mulai kerasan dengan kehidupan disini dan sangat bersyukur untuk semua proses yang sudah kami lalui sampai hari ini, dan tetap bersiap untuk kejutan-kejutan di masa depan.

Kami jujur tidak pernah bermimpi bisa kembali lagi sebetulnya, karena kami saat itu berusaha realitis terhadap kenyataan dan realita, belum lagi keuangan kami yang porak-poranda tidak karuan karena kegagalan kami saat itu. Tapi sekali lagi Tuhan itu memang luar biasa, terlepas dari kalian percaya atau tidak, tapi semua yang kami miliki hari ini tidak akan terjadi jika tanpa kuasa Tuhan terlepas dari senekat apa kami saat itu dan sekarang.

Kami kembali lagi saat ini, dan kembali merajut impian kami untuk keluarga kecil kami dan kedua anak kami. Satu hal yang bisa saya bagikan dari perjalanan kami ini adalah “jangan pernah menyerah mengejar impian kalian, dan bersandarlah pada Tuhan bukan lainnya”. Selamat berakhir pekan kawan.

Datang Telanjang

Oktober sudah tersenyum didepan pintu, dan bulan pertama musim semi pun sebentar lagi lewat. Waktu kok rasanya benar-benar cepat berlalu ya… seperti baru kemaren kami merayakan Natal dan Tahun Baru kedua kami di Melbourne, disambung dengan mengikuti pertandingan tenis dunia – Australian Open, eh… sebentar lagi masuk bulan 10, dan itu pun berarti 2 bulan menuju 2020 wow… cepat yaa…. (sambil megang pipi biar norak dikit…)

Bulan ini, ada beberapa hal menarik yang terjadi dalam perjalanan kami disini. Yang pertama adalah saya akhirnya memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa dan income protection untuk melindungi keluarga kecil saya jika ada hal buruk terjadi terhadap diri saya sebagai single income. Rencana ini sebetulnya sudah saya rencanakan jauh hari, dan baru bisa terwujud bulan ini setelah melalui perhitungan panjang karena ini adalah komitmen jangka panjang yang harus saya lakukan dan jaga agar ada benefitnya. Ini pun pada akhirnya berani saya ambil karena mendapatkan beberapa masukan dari financial adviser yang membantu saya menyusun besarnya klaim yang harus saya lindungi untuk keluarga kecil saya agar bisa meng-cover mortgage kami, sekolah anak, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya, dan juga berapa premi yang harus saya bayar.

Lalu yang kedua adalah, di bulan ini kami merayakan hari jadi pernikahan kami yang ke sepuluh, dimana tahun ini agak unik perayaannya karena kami kedatangan beberapa keluarga kemari tepat di hari jadi kami. Kami pun merayakannya dengan jamuan sederhana di salah satu restoran korea pilihan istri saya dan berlangsung meriah. Di hari jadi yang ke 10 tahun ini pula, saya membelikan sesuatu untuk istri saya sebagai penanda yang sudah saya tuliskan di artikel sebelum ini, dan sedikit kejutan di malam saat kami mengadakan jamuan sederhana itu tadi, apa itu kejutannya? rahasia ahh… hahaha…

Ketiga, kami akhirnya mendapat kabar jika ijin bangunan kami sudah keluar, jadi sekarang kami tinggal menunggu builder kami menyiapkan dokumen yang harus kami tanda tangan agar mereka bisa memulai pekerjaan mereka. Waktu yang kami prediksi akan selesai awal tahun depan seperti nya akan meleset cukup jauh, hal itu akhirnya membuat kami mendaftarkan kembali kedua anak kami di sekolah yang sekarang agar mereka tidak libur terlalu lama jika kami sampai harus pindah pertengahan tahun depan. Resikonya, kami jadi harus bayar dobel untuk uang sekolahnya hehehe… Kejadian yang satu ini juga membuat kami agak repot karena tanah yang kami beli ternyata mulai berumput dan pada akhirnya harus saya cangkul dan bersihkan (setelah minggu sebelumnya kami coba semprot pakai weed killer ternyata ga mempan karena tuh rumput bukannya kering malah tambah tinggi bugar…) agar builder bisa langsung memulai pekerjaan mereka saat semua dokumen sudah siap, nyebelin ya….

Keempat, ada beberapa “riak-riak” yang terjadi selama beberapa minggu belakangan ini yang cukup membuat perut geli. Kenapa? karena menurut saya pribadi, semua itu terlalu banyak drama, entah karena saya sudah berubah menjadi lebih straight forward karena kelamaan gaul disini atau gimana, tapi entah kenapa saya tetap ga habis pikir kenapa harus membuat lembar demi lembar sinetron seperti itu hanya untuk hal-hal sepele yang sebetulnya masih bisa teratasi. Ah… kalian pasti bingung baca nya karena memang saya samarkan cerita satu ini agar kalian penasaran (ga denk…), ga elok saja jadi untuk paragraf yang satu ini diperuntukan hanya kepada mereka yang mendengar cerita ini sebelumnya.

Manusia itu, pada dasarnya datang telanjang dan pergi tanpa apapun. Itulah kenapa saya sering tidak mengerti kenapa banyak diantara mereka yang masih berpatokan pada materi untuk menilai seseorang. Saya secara pribadi tidak masalah jika ada yang tidak ingin akrab dengan saya karena saya bukan orang yang punya hal-hal yang bling-bling dengan berlebihan itu, kenapa? karena saya tidak mau menghabiskan waktu saya untuk membuat orang lain mau akrab sama saya hanya karena saya bermateri, pertama itu adalah palsu dan kedua hidup terlalu singkat dan eman-eman kalau hanya dihabiskan untuk hal seperti itu. Saya selalu percaya satu hal, kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, itulah kenapa saya berusaha keras untuk menempatkan diri saya sebaik mungkin (yang entah sudah baik atau masih jauh dari kata baik) dan tidak terlalu perhitungan untuk hal-hal yang tidak abadi dan masih bisa dicari seperti contohnya uang dan materi, terlebih jika sudah berhubungan dengan keluarga dekat atau inti ya, tapi itu kalau saya yang suka  terlalu banyak gaya padahal ga punya apapun hahaha… Saya pribadi selalu percaya jika setiap manusia memiliki nilainya masing-masing terlepas dari apa yang mereka miliki dan gunakan, dan menurut saya nilai itu jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa mereka beli dan gunakan. Nilai seperti itu yang sering kali kita lupakan karena terlalu fokus terhadap materi yang berupa “titipan” yang akhirnya membuat kita kehilangan sisi manusia kita yang sebetulnya justru menjadi hal yang diingat orang lain saat kita sudah tidak menjadi musafir lagi. Eits… hati-hati bacanya, saya tulis “terlalu fokus” ya, jadi jangan disalah artikan jika kita tidak harus berusaha 🙂

Ga nyambung lagi kan… diawali dengan waktu dan bulan, disambung kejadian, dan diakhiri dengan masalah “telanjang” halahh…. hahaha… saya sendiri juga bingung sih kenapa akhir-akhir ini kalau nulis suka ga jelas juntrungannya. Ya, apapun itu, saya tidak begitu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang saya karena hal itu hanya akan membuang waktu saya dengan percuma. Saya lebih suka menjadi apa adanya saja. Kan yang terpenting itu adalah bagaimana kita tetap berusaha menjadi lebih baik di setiap langkah kita.

Sak-Dasawarsa

Waktu kok rasanya cepat sekali ya datang dan pergi. Sepuluh tahun itu seperti sekejap lewat begitu saja.

Ya, sebenernya sih kalau di rasa-rasa ga cepet juga, terasa cepet karena sudah di ujung sepuluh tahun itu sendiri. Karena kalau di ingat-ingat lagi semua memori yang ada, dalam sepuluh tahun ini banyak loh kejadian-kejadian “penanda” yang membuat kita jatuh bangun dalam membangun keluarga kecil kita, beberapa yang tidak terlupakan adalah perjuangan kehamilan si AL yang penuh perjuangan, cemas, dan rasa syukur, rasa nya campur aduk ga karuan selama 9 bulan. Lalu ada lagi saat kita sepakat untuk mengejar impian hidup di tempat yang lebih bersih, tertib, dan aman, yang akhirnya membuat kita mengambil keputusan ekstrim 2 kali untuk migrasi ke Australia yang dalam proses nya dilengkapi dengan jatuh bangun mengejar Visa Permanent Resident. Tidak berhenti disana ada juga jatuh bangun saat berusaha bertahan di Australia, di iringi kejadian culture shock yang cukup menohok dan hampir membuat saya menyerah dan tumbang. Lanjut lagi saat-saat kita harus memutar otak, mengatur cash flow sambil dag dig dug karena ingin memiliki rumah sendiri walaupun harus jauh disana dan tidak terlalu besar, yang sekarang tetap bikin was-was-dong karena masih menunggu rumah mungil nya selesai dibangun. Dan tentunya tidak akan berhenti sampai disini karena akan datang lagi kejutan-kejutan lainnya yang sudah menunggu di tikungan didepan sana.

Sak-Dasawarsa (biar keren dikit hehehe…) ini kita saling rangkul, dukung dan dorong, tidak sedikit kita juga saling teriak satu dan lainnya, adu mulut, marah-marahan, adu makan indomie sampai adu panco (ga denk….) karena ya begitulah kehidupan berkeluarga bukan, apa ada nya bukan ada apa nya (maksudnya jujur wae…), berpendapat dan berekspresi tapi tetap berusaha mencari jalan keluar bersama (ga cuman ribut doank setelah itu tidak ada solusi), setidaknya dari hal itulah kita bisa menyadari jika kita berdua menyuarakan apa yang kita pikirkan walaupun kadang dengan cara yang tidak disukai pasangan kita, yang menandakan jika kita menjaga komunikasi masih dan tetap ada, dan tentunya menjaga agar (semoga) jangan ada dusta diantara kami berdua la… la… la… ciieee… jadi nyanyi deh….

Orang bilang kita tidak perlu berterimakasih sama pasangan kita, dan juga tidak perlu minta maaf dan memaafkan karena toh sudah menjadi suami istri kan?? Ahaa… itu SALAH! justru karena kita sudah menjadi suami istri maka kedua kata itu harus sering diucapkan loh… sesering mengucapkan kata sayang atau kata-kata unik lainnya yang hanya di mengerti kita berdua seperti my*******t hahaha…, kenapa? karena itu menjadi penanda jika kita menghargai pasangan kita dan kita juga menghormati posisinya terutama saat kita berbuat salah. Ingat, menjaga tungku tetap panas lebih sulit dari menyalakan api di tungku itu sendiri. Dan lebih jauh lagi, semua komunikasi itu secara tidak langsung membantu membentuk mental untuk tidak egois, haizz… eogis… sifat yang lebih menghancurkan dari perang itu sendiri, karena manusia-manusia egois itu sudah pasti jauh dari kata simpati apalagi empati.

Terimakasih ya separuh jiwaku (halah… macam abege aja) yang tetap bawel dan semakin mengasah kemampuan masaknya. Terimakasih tidak lelah untuk tetap mendukung apalagi mendorong (jago dah yang satu ini… asal jangan didorong ke kolam buaya yee…) saya agar tidak menyerah walaupun sudah encok-encok dalam mengejar impian kita disini. Terimakasih sudah mau menjadi kuping yang baik selama saya stress dan butuh curhat, dan sudah menjadi mulut yang baik dengan tidak hentinya ngomel-ngomel melulu untuk hal-hal yang kurang baik xixixi…

Dan, maafkan juga ya semua kesalahan yang sudah saya buat baik sengaja maupun memang sengaja hahaha… jangan cape ya jadi istri saya karena saya sadar kok ga gampang berjalan disamping saya yang terlalu banyak keinginan gila ini. Percayalah semua keinginan itu semata-mata untuk menjaga agar hidup kita tetap berwarna, walaupun kadang yang didapat malah warna gelap kelabu karena salah langkah, dan biasanya jadi nge-les dengan bilang “kita diberi kesempatan untuk belajar bangkit” halahh… tapi bener deh… kita bisa ada di titik ini karena kamu juga 🙂

Mau pamer dulu ahh… boleh donk… eh… cocok ga? itu yang 12 mata saya beli buat penanda 10 tahun kami menikah, kenapa 12 mata? karena angka 12 itu banyak filosofinya buat saya, dari 12 bulan dalam tahun masehi, 12 shio dalam putaran penanggalan bulan orang Chinese, 12 Zodiak yang digunakan dalam Astrologi, 12 tahun sekolah dari dasar sampai atas sebagai penanda seseorang siap masuk ke Universitas, sampai istilah angka 12 dalam bahasa hokkian yang sering dikaitkan dengan kelancaran, bahkan… pesen wine secara online saja harus 12 botol minimal baru dikasih free delivery!!! ga penting banget ya hahaha…. Semoga ya… kita bisa tetap bersama selama mungkin.

Apapun itu, selamat hari jadi ya sayang. Saya kagum loh… kamu bisa bertahan sepuluh tahun sama saya, apalagi saya sendiri lebih kagum lagi dengan diri saya karena bisa bertahan sama lamanya sama kamu bruaakakakak…. jangan ge-er dulu yee… hahaha…. yuk… kita menatap sak-dasawarsa kedua, Muachh…. 🙂

Polusi oh… Polusi

Beberapa minggu ini di berita dan sosial media sedang heboh mengenai polusi udara di Jakarta yang kian menggila. Pengukuran yang dilakukan AirVisual ini memberikan sebuah penilaian mengenai buruk tidaknya tingkat polusi sebuah daerah maupun kota, yang kemudian mendorong keisengan saya mengukur tingkat polusi di kota yang kami tinggali saat ini, Melbourne.

Hasilnya cukup membuat shock loh… ternyata bedanya jomplang banget antara Jakarta dan Melbourne. Mau dibilang kota besar, keduanya saya yakin sama dalam hal kota besar itu, yang saya malah sempet berpikir Melbourne kayanya lebih besar deh… tapi balik lagi ke tingkat polusi udara nya yang menurut saya seharusnya selisih ga jauh donk ya…

Ternyata selisihnya parah hahaha… diatas seratus angka, Melbourne saya rasa bisa diangka itu karena banyaknya taman dan area terbuka hijau, kota yang dijuluki kota seribu taman ini memang hijau banget, taman ada dimana-mana, jadi udara nya juga segar. Di sisi lain, sebagian besar penduduk kota ini juga aktif menggunakan public transport yang sebagian besar sudah menggunakan listrik, jadi mengurangi asap juga kan, ditambah public transport yang sangat memadai membuat kenyaman perjalanan pun meningkat.

Nah…. gambar ketiga diatas memang sengaja saya fokuskan di kota Melbourne saja, ternyata di wilayah yang akan kami tinggali kelak polusinya justru lebih rendah lagi, syukurlah… setidaknya impian saya membawa keluarga saya hidup di kota yang lebih rendah polusinya baik udara maupun air tercapai.

Melihat hal seperti ini membuat saya semakin bersyukur, kenapa? karena saya datang dari tempat dimana semua kemewahan ini tidak ada. Mungkin ada beberapa orang yang mulai mengeluh beberapa kota di Australia mulai macet, ini dan itu, tapi bagi saya yang pernah mengalami hal yang jauh lebih tidak nyaman, semua yang ada disini (walaupun memang semakin macet dan padat) masih jauh lebih nyaman dibandingkan apa yang saya alami di Jakarta dulu. Bersyukur itu ternyata obat bahagia loh… dan untuk bersyukur kita harus mampu untuk tidak mengeluh, dan untuk mampu untuk tidak mengeluh cara paling ampuh adalah melihat kebawah bukan keatas. Dengan melihat kebawah tidak lalu membuat kita jadi tidak termotivasi untuk menjadi lebih baik ya… tapi sebaliknya, seharusnya membuat kita menjadi semakin terpacu menjadi lebih baik tanpa menyalahkan keadaan, kalau cukup dewasa.

Bisa hidup di Melbourne menjadi mukjizat sendiri bagi saya, setidaknya keinginan saya untuk membawa keluarga kecil saya agar bisa hidup di kota yang lebih tertib, aman, bersih dan nyaman tercapai, disamping taraf hidup yang juga turut meningkat terlepas dari beberapa hal yang memang harus kami lepaskan di Jakarta, dan diatas semua itu adalah mereka menikmati nya, karena itu penting loh…

Entah kenapa seminggu belakangan ini saya sering terjaga subuh dini hari, mungkin faktor U ya hahaha… tapi aneh juga sih, setiap sudah 5 jam tidur badan saya terjaga sendiri. Itulah kenapa jam segini saya nge-blog, karena bingung mau ngapain. Nonton netflix saya ga hoby sebetulnya, karena saya langganan netflix buat istri saya agar ada hiburan, dan kebetulan anak kedua saya juga suka nonton seperti mama nya. Mau baca-baca artikel teknis mata saya malas, akhirnya ya sudahlah saya nge-blog saja sambil nge-cider.

Eh…. mungkin juga karena saya sedang senang kali ya… lah senang kok malah ga bisa tidur, aneh… tapi bener deh, saya ga bisa tidur tapi merasa rilex, di pekerjaan yang baru ini so far saya enjoy, waktu yang cepat berlalu menjadi salah satu tanda kalau saya menikmati pekerjaan ini walaupun ada beberapa catatan. Terus, tax return saya juga sudah balik dengan angka diluar perkiraan saya, lumayan bisa ditabung hehehe… trus yang paling penting adalah keluarga saya merasa bahagia sejauh ini dengan tinggal di Melbourne dan itu membuat kebahagiaan yang saya rasakan juga semakin tinggi.