Polusi oh… Polusi

Beberapa minggu ini di berita dan sosial media sedang heboh mengenai polusi udara di Jakarta yang kian menggila. Pengukuran yang dilakukan AirVisual ini memberikan sebuah penilaian mengenai buruk tidaknya tingkat polusi sebuah daerah maupun kota, yang kemudian mendorong keisengan saya mengukur tingkat polusi di kota yang kami tinggali saat ini, Melbourne.

Hasilnya cukup membuat shock loh… ternyata bedanya jomplang banget antara Jakarta dan Melbourne. Mau dibilang kota besar, keduanya saya yakin sama dalam hal kota besar itu, yang saya malah sempet berpikir Melbourne kayanya lebih besar deh… tapi balik lagi ke tingkat polusi udara nya yang menurut saya seharusnya selisih ga jauh donk ya…

Ternyata selisihnya parah hahaha… diatas seratus angka, Melbourne saya rasa bisa diangka itu karena banyaknya taman dan area terbuka hijau, kota yang dijuluki kota seribu taman ini memang hijau banget, taman ada dimana-mana, jadi udara nya juga segar. Di sisi lain, sebagian besar penduduk kota ini juga aktif menggunakan public transport yang sebagian besar sudah menggunakan listrik, jadi mengurangi asap juga kan, ditambah public transport yang sangat memadai membuat kenyaman perjalanan pun meningkat.

Nah…. gambar ketiga diatas memang sengaja saya fokuskan di kota Melbourne saja, ternyata di wilayah yang akan kami tinggali kelak polusinya justru lebih rendah lagi, syukurlah… setidaknya impian saya membawa keluarga saya hidup di kota yang lebih rendah polusinya baik udara maupun air tercapai.

Melihat hal seperti ini membuat saya semakin bersyukur, kenapa? karena saya datang dari tempat dimana semua kemewahan ini tidak ada. Mungkin ada beberapa orang yang mulai mengeluh beberapa kota di Australia mulai macet, ini dan itu, tapi bagi saya yang pernah mengalami hal yang jauh lebih tidak nyaman, semua yang ada disini (walaupun memang semakin macet dan padat) masih jauh lebih nyaman dibandingkan apa yang saya alami di Jakarta dulu. Bersyukur itu ternyata obat bahagia loh… dan untuk bersyukur kita harus mampu untuk tidak mengeluh, dan untuk mampu untuk tidak mengeluh cara paling ampuh adalah melihat kebawah bukan keatas. Dengan melihat kebawah tidak lalu membuat kita jadi tidak termotivasi untuk menjadi lebih baik ya… tapi sebaliknya, seharusnya membuat kita menjadi semakin terpacu menjadi lebih baik tanpa menyalahkan keadaan, kalau cukup dewasa.

Bisa hidup di Melbourne menjadi mukjizat sendiri bagi saya, setidaknya keinginan saya untuk membawa keluarga kecil saya agar bisa hidup di kota yang lebih tertib, aman, bersih dan nyaman tercapai, disamping taraf hidup yang juga turut meningkat terlepas dari beberapa hal yang memang harus kami lepaskan di Jakarta, dan diatas semua itu adalah mereka menikmati nya, karena itu penting loh…

Entah kenapa seminggu belakangan ini saya sering terjaga subuh dini hari, mungkin faktor U ya hahaha… tapi aneh juga sih, setiap sudah 5 jam tidur badan saya terjaga sendiri. Itulah kenapa jam segini saya nge-blog, karena bingung mau ngapain. Nonton netflix saya ga hoby sebetulnya, karena saya langganan netflix buat istri saya agar ada hiburan, dan kebetulan anak kedua saya juga suka nonton seperti mama nya. Mau baca-baca artikel teknis mata saya malas, akhirnya ya sudahlah saya nge-blog saja sambil nge-cider.

Eh…. mungkin juga karena saya sedang senang kali ya… lah senang kok malah ga bisa tidur, aneh… tapi bener deh, saya ga bisa tidur tapi merasa rilex, di pekerjaan yang baru ini so far saya enjoy, waktu yang cepat berlalu menjadi salah satu tanda kalau saya menikmati pekerjaan ini walaupun ada beberapa catatan. Terus, tax return saya juga sudah balik dengan angka diluar perkiraan saya, lumayan bisa ditabung hehehe… trus yang paling penting adalah keluarga saya merasa bahagia sejauh ini dengan tinggal di Melbourne dan itu membuat kebahagiaan yang saya rasakan juga semakin tinggi.

Advertisements

Hari pertama (lagi…)

Hahhh… pindah lagi?

Iya senin depan saya mulai bekerja di tempat baru lagi hehehe… keinginan punya pekerjaan permanent on going yang tidak mengharuskan saya menjaga status CCIE saya tetap aktif (tetap dalam emeritus status) tapi juga tetap memberikan tantangan (yang artinya tidak membuat saya berada di posisi under pay) membuat saya tetap membuka profile Seek dan Linkedin saya (yang sekarang sudah saya tutup untuk sementara).

Bulan lalu, tiba-tiba salah satu head hunter menghubungi saya dan menawarkan kesempatan yang satu ini. Setelah dikirim job description nya, saya baca pelan-pelan, dan saya timbang-timbang sambil semedi (ga denk…) saya cukup yakin ini bukan posisi yang mudah dijalanin yang artinya tetap memberikan tantangan yang berarti. Saya iyakan dan semua berlanjut ke sesi wawancara.

Sesi wawancara awalnya di set 2 kali, yang ternyata di babat 1 sesi oleh customer itu sendiri. Head Hunter sendiri kaget waktu saya beri tahu wawancara sudah di borong jadi satu kali wawancara. Singkat cerita saya akhirnya mendapatkan pekerjaan ini. Yang lebih mengagetkan lagi adalah, gaji yang saya minta ternyata tidak diberikan, tapi malah ditambah, seumur-umur saya kerja baru kali ini minta gaji malah ditambah hehehe… jujur saja yang membuat saya senang itu bukan semata-mata gaji saya justru ditambah, tapi dibalik semua itu menandakan mereka menghargai kemampuan yang saya miliki dan tidak aji mumpung ingin eksploitasi saya hanya karena saya sedang butuh, ini yang namanya fairness and respect.

Apapun itu, saya kerja tidak semata-mata mencari gaji sih… buat saya yang paling penting adalah tantangan nya karena saya model yang cepat bosen dan selalu iseng pengen tahu hal baru. Dan, yang lebih penting lagi adalah bisa tenang dan memiliki waktu buat mikirin rumah dan isinya. Hal yang sangat mahal saat ini, dan selama saya masih bekerja sebagai kontraktor, hal itu agak susah dicapai karena otak saya sibuk memikirkan bagaimana memperbaharui kontrak kerja yang akan berakhir agar tidak ada masa dimana saya menjadi nganggur (walaupun Puji Tuhan belum pernah terjadi karena tenaga usang saya masih terus bisa terpakai sampai saat ini), maklum kami single income dan anak-anak makin hari makin mahal kebutuhannya hahaha…

Kali ini, saya benar-benar berharap bisa bekerja untuk jangka waktu yang lama, kalau bisa pensiun disini sekalian (ngarep…) hahaha… karena selain ini dikelola oleh organisasi Katolik dimana seiman dengan saya (halah…. bawa-bawa seiman… penting gitu yang se iman? yang penting bisa kerja ups…), ini juga organisasi non-profit yang artinya membuat saya membayar pajak lebih ringan (halah…). Diluar semua itu, teknologi yang mereka gunakan juga termasuk advance dan menantang, dan posisi saya termasuk di posisi senior yang akan melibatkan proses desain disamping teknis yang sudah akan menjadi makanan sehari-hari, bakalan belajar banyak disini sepertinya karena ini adalah organisasi dengan jumlah karyawan diatas 7500 orang, wow…. Lokasi juga cukup mendukung karena didekat stasiun kereta dan tram stop (aihh.. ini yang bikin renyah…), ya setidaknya saya ada pilihan lain kalau sedang malas bawa mobil hehehe…

Masuk tahun ketiga di Australia membuat saya belajar banyak hal, yang tentunya membuat saya juga berubah di banyak hal. Jadi ga heran kalau dalam beberapa kesempatan ada yang bilang “lu sekarang beda, berubah” Hahaha… Satria Baja Hitam donk pakai berubah. Ada yang bilang perubahannya positif, ada yang justru bilang perubahannya negatif (misalnya saya dibilang sombong sekarang oh nooo…). Saya berubah, itu sudah pasti, hidup di negara lain dengan budaya dan kehidupan yang jauh berbeda dengan Indonesia sedikit banyak menuntut saya untuk menyesuaikan diri.

Beberapa hal yang saya sadari berubah dari diri saya antara lain, sadar tidak sadar saya belajar untuk tidak “kepo”, setidaknya mengurangi lah… dimulai dari mengurangi posting komentar di sosial media mengenai kehidupan pribadi siapa saja, baik itu kawan, publik figure atau politikus. Kenapa? karena saya belajar menghormati garis privasi orang lain dan ber-empati, susah loh…. coba aja kalau ga percaya. Selain itu, saya juga semakin to-the-point, maklum disini orang-orang bule sedikit banget yang suka “drama”, hidup itu sendiri sudah merupakan “drama” jadi ga perlu ditambah “drama” lagi karena kebanyakan jadi pusing, mereka sering straight forward jika sedang diskusi sesuatu atau ingin menegur atau apapun, jadi jangan heran dan kaget kalau saya pun pelan-pelan mulai mengikuti budaya yang satu itu. Perubahan lainnya adalah mental untuk malu, loh… berarti dulu ga punya malu gitu? bukan, maksudnya mental untuk malu disini adalah kesadaran untuk mau antri, tertib dijalan, patuh pada aturan dan lain sebagainya, karena jika kita tidak melakukan hal-hal itu ya paling tidak akan ditegor atau paling parah di denda. Jadi disini rata-rata orang ikut aturan bukan semata-mata takut sama dendanya, tapi mereka lebih kepada kesadaran untuk malu dan sadar jika semua ini untuk kepentingan bersama. Perubahan lainnya yang saya rasakan adalah berusaha untuk memiliki empati, empati? iya empati, saya mulai mengurangi (jika bisa berhenti) posting pencapaian-pencapaian terutama yang berbau materi di sosial media saya, dan mendorong istri saya juga ikut melakukan hal yang sama. Loh emang kenapa? bukan kenapa-kenapa, saya tidak takut dibilang pamer atau sombong, tapi saya percaya tidak semua suka dengan postingan saya karena mereka mungkin saja sedang berjuang dengan kehidupan mereka yang berat, dan saya berusaha untuk tidak memamerkan sesuatu yang bisa membuat mereka berpikir “hidup saya kok tidak seberuntung dia” setidaknya melakukan sesuatu karena tidak bisa menolong banyak, karena pada dasarnya tidak ada yang lebih beruntung dan tidak ada yang lebih tidak beruntung dalam kehidupan, yang ada hanya kita memang berjalan di jalan masing-masing dan apa yang mewah pada kehidupan orang lain mungkin tidak akan terasa mewah jika terjadi pada kehidupan kita. Beda ya sama disana, hayo siapa yang mulai gelisah baca artikel ini hahaha….

Apapun itu, yang paling penting adalah jangan lupa untuk bahagia. Bisa hidup di negara sehebat Australia dan di kota se-cantik dan se-bersih Melbourne merupakan anugrah tersendiri bagi saya dan keluarga. Mengingat latar belakang saya, semua ini benar-benar mukjizat bagi kami terutama saya. Tidak akan terjadi jika tanpa campur tangan Dia. Perjalanan ini juga mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan kepada saya. Saya belajar untuk tidak mengejar kekayaan tapi belajar menikmati kehidupan itu sendiri, karena tidak ada yang tahu sampai kapan perjalanan ini akan berakhir. Saya juga belajar untuk tidak mengejar kebahagiaan karena sejatinya kita sudah hidup didalamnya, hanya saja kadang kita lupa bersyukur sehingga tidak menyadari jika kebahagiaan itu sendiri sudah menjadi bagian dalam hidup kita. Saya belajar untuk tetap bermimpi tapi tidak lupa bangun dan melangkah untuk merajut impian saya. Saya belajar untuk lebih tidak mudah menyerah karena saya belajar untuk tidak menerima hasil tapi menerima proses.

Saya juga belajar untuk mengurangi rasa kawatir, karena sudah terbukti berkali-kali dalam kehidupan saya jika hal-hal yang baik bahkan yang terbaik justru terjadi diluar dugaan dan rencana saya, di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, dan dalam keadaan yang diluar nalar saya, karena semua terjadi di waktu yang Dia tentukan. Saya juga belajar untuk lebih sabar, maklum saya orang yang keras dan tidak sabaran (yang butuh diubah sebisa mungkin dan akan menjadi bagian tanpa akhir dari perjalanan seumur hidup saya), perjalanan ini mengajarkan banyak hal kepada saya tentang arti bersabar dan melunak terutama terhadap keadaan. Hal ini, sedikit banyak membuat saya menjadi lebih baik dalam mengontrol emosi saya. Saya juga belajar untuk bersyukur untuk keluarga kecil saya, saya akui jika istri saya mungkin memang bukan yang tercantik, bukan juga yang terseksi, dan jauh dari kata sempurna, tapi dia adalah pilihan yang terbaik yang saya pilih dan terpilih bagi saya, yang saya pilih dengan sadar dihadapan Tuhan. Begitu juga kedua anak saya yang juga jauh dari kata sempurna, tapi merupakan berkat Tuhan yang bernilai buat saya dan sudah dipercayakan kepada kami. Karena justru di dalam ketidak-sempurnaan mereka, saya belajar tentang arti dari kata mengalah, arti dari kata memahami, arti dari kata tidak egois, arti dari kata setia, arti sebuah tanggung jawab, arti kata berjuang dan arti dari kata kedewasaan.

Jika ada kata-kata yang aneh, harap maklum karena ini ditulis karena kebangunan dini hari dan dengan whisky di tangan untuk mengusir dingin.

Selamat menjalani akhir pekan yang luar biasa kawan, ingat… jangan lupa untuk Bahagia.

Mei K’labu

Sebentar lagi Mei akan berlalu dan Juni sudah mengintip nakal di depan pintu. Bulan Mei tahun ini menjadi salah satu bulan yang penuh dengan update-update yang mendebarkan dan sangat menguras baik tenaga dan pikiran, terutama saya ahh… selalu… drama ah…

Tapi ini bener, dimulai dari tawaran pekerjaan dari salah satu perusahaan yang sudah ditangan dan sangat ingin saya ambil, tapi akhirnya terpaksa saya lepas dengan berat hati karena pertimbangan tanah yang kami beli sudah sangat dekat dengan settlement dan mereka tidak mau menunggu lebih dari 2 minggu untuk notice period nya. Hiks… benar-benar nyesek, tapiii… saya percaya Tuhan tahu apa yang terbaik bagi saya dan keluarga.

Kejadian yang satu ini benar-benar menguras energi saya karena satu sisi saya sangat menginginkannya melihat apa yang akan saya kerjakan dan teknologi yang mereka usung tapi disisi lainnya saya juga tidak mau tanah yang kami sudah beli 2 tahun lalu jadi berantakan dan berakhir dengan dibatalkannya proses pembelian kami (yang bisa membuat kami kehilangan seluruh DP yang sudah kami bayar) karena Bank tidak bisa mengeluarkan dana tepat waktu karena saya ganti pekerjaan di detik terakhir saat settlement akan terjadi yang membuat saya harus mengulang seluruh proses KPR ke Bank dengan menyiapkan lagi semua dokumen yang dibutuhkan satu per satu dari awal, dan akan berakhir jadi drama telenovela yang lebih heboh bagi kami. Agak susah sebenernya jelasin bagian yang satu ini karena satu dengan lainnya berhubungan dan ruwet duwet mak…. itulah kenapa sangat menguras energi dan pikiran.

Kejadian lainnya adalah proses dari settlement itu sendiri, setelah semua dipersiapkan baik dokumen maupun dana yang harus kami miliki, kami pun akhirnya mendapatkan tanggal title kami yang kemudian berlanjut ke tanggal settlement kami, lalu entah kenapa seminggu sebelum settlement, kami harus mengulang tanda tangan beberapa dokumen karena saya saat tanda tangan seminggu sebelumnya ternyata mengisi tanggal tanda tangan dengan tanggal lahir saya haiyahh… jeng… jeng… jeng…. akhirnya semua beres. Laluuuu… 3 hari kemudian, kami mendapatkan email dari conveyancer kami jika settlement akan segera terjadi pada tanggal 31 Mei tapiii…. jumlah dana yang harus kami siapkan ternyata kok jauh lebih banyak dari apa yang sudah tertera di dokumen KPR ya??? alamak… panik mode on, mau cari kemana duit tambahan nya secara kami aja sudah pas-pasan sekarang, langsung kami koordinasi dengan mortgage broker kami agar dia bisa dorong pihak bank agar segera meng-update system mereka sesuai dokumen yang sudah ditanda-tangan. Setelah panik reda, akhirnya saya telp dan diskusi dengan mortgage broker kami dan bilang lebih baik settlement nya di tunda kalau harus menyiapkan dana lebih (karena seharusnya ga perlu) akibat pihak bank nya yang masalah. Puji Tuhan, akhirnya semua lancar dan tanah kami pun per hari ini sudah settle yang artinya sudah menjadi milik kami. Hore…. joget-joget dangdut….

Lalu drama berikutnya, karena sudah menjadi milik kami, itu tanah musti kami kerangkeng atawa pagarin kaya perawan. Kenapa? karena di Australia rada beda aturannya (bukan rada tapi emang beda), saat tanah sudah jadi milik kami, builder (yang akan membangun rumah kami) baru bisa mulai mengajukan building permit dll ke council dan instansi terkait, semacam IMB lah kalau di Indonesia. Nahh… hal itu ternyata bisa makan waktu sampai berbulan-bulan lamanya, paling tidak 1 sampai 2 bulan. Nahhh…. (lagi) selama mereka belum mendapatkan building permit, kebersihan tanah itu menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya, yang artinya saat mereka sudah dapat permit dan akan membangun, keadaan tanah harus bersih, bersih dari sampah, batu, celana dalem, rumput dll. karena mereka ga mau bantu buang sampah yang ada diatas tanah kami. Ihh.. rese ya… bikin sakit kepala saja, ya sebetulnya mereka ga salah juga sih karena buang sampah itu ga murah disini. Dan masalahnya disini banyak juga builder yang nakal, mereka daripada buang tuh sampah jauh dan mahal, dan dideket mereka eh… ada tanah kosong nganggur ya mereka buang aja disana (selama ga ketangkep basah karena dendanya mahal kalau ketangkep), karena rumah kami berada di komplek perumahan baru yang artinya dikelilingi tanah kosong semua dan semua berakhir dengan bangun membangun, jadi bisa saja ada builder yang nakal dan buang sampah ditanah kami kan, baik itu batu-batu gede yang tergali dari bawah tanah, sampah bangunan, dll. dan itu akan butuh dana sampai ribuan untuk menyewa pihak ketiga membuang semua sampah tersebut ke tempat yang seharusnya agar builder kami bisa memulai pembangunan, akhirnya sukses membuat kami memutuskan untuk menyewa pagar sementara untuk menjaga agar tanah kami tidak disusupin pihak-pihak tidak bertanggung jawab seperti demo 22 Mei kemaren di Jakarta, ups…. Setelah melalui pertimbangan bersama, langsung sewa 3 bulan saja deh…

Drama banget ya… dan ini ga nyambung sama judul sebetulnya hahaha… oke, sudah selesai curhatnya sekarang saya mau nulis blog yang sebenarnya.

Bulan ini, diawali dengan suhu yang sejuk-sejuk berangsur menjadi semakin dingin diakhir bulan. Mungkin karena sudah mulai masuk ke musim dingin kali ya. Yang membuat lebih galau itu sebetulnya cuaca yang mendung dan basah karena suka hujan, bikin bener-bener males gerak. Bahkan beberapa kali saya sampai menghidupkan heater karena entah kenapa suhu menunjukan angka 7 tapi feels like 3 derajat dan ujung-ujung jari rasanya kok kebas-kebas kaya kelamaan megang es batu gitu.

Perubahan-perubahan suhu seperti ini, terlebih saat sedang ekstrim-ekstrim nya, sering membuat saya nyengir kuda terlebih saat ada yang komen “enak ya hidup di luar negeri” hahaha…

Hidup diluar negeri juga ada ga enak nya (walaupun buat kami/ saya lebih banyak enaknya). Seperti hidup manusia, mana ada yang hidup tanpa ada masalah dan enak semua? semua sama saja, selalu seperti dua mata koin, kalau ada enaknya pasti ada ga enaknya juga karena itulah kehidupan.

Yang membedakan hanya batas kompromi yang bisa kita bentangkan selebar apa untuk menerima segala sesuatu yang bagi kita tidak mengenakan itu dan membuat nya menjadi sesuatu yang enak, ahh… bagian paling susah ini.

Hidup di luar negeri, terutama di Australia, bagi saya banyak enaknya dan layak diperjuangkan. Tapi itu buat saya ya, orang yang suka dengan tempat yang tidak terlalu ramai, suka dengan yang tertib dan tenang, suka dengan udara dan air yang bersih, suka dengan yang hijau-hijau, suka dengan pendidikan yang bagus, dan suka dengan pelayanan kesehatan yang profesional walaupun itu dilakukan secara gratis. Apalagi disini ga macet gila seperti di Jakarta, kerja juga family time sangat dijaga, ga heboh saat pemilu seperti beberapa waktu lalu, lebih aman, ga ada ormas jagoan dan yang pasti agama menjadi ranah pribadi masing-masing individu. Sejauh ini, kami merasakan disini kami jadi lebih bisa membuat rencana kedepan, lebih leluasa mengatur finansial kami, merasa kualitas kehidupan kami pun meningkat jauh dibandingkan saat tinggal di Jakarta, walaupun saya hanya seorang tukang pekerjaannya. Tukang IT.

Terlepas dari itu, jauh dari keluarga menjadi tantangan tersendiri terutama saat salah satu dari kita sedang sakit, kangen dengan makanan lokal juga menjadi tantangan lidah walaupun bisa dijembatani dengan masak sendiri atau restoran-restoran Indonesia walaupun rasanya ga se-identik dengan apa yang kita miliki disana. Bahasa dan budaya juga menjadi tantangan lain, mungkin tidak bagi anak-anak kami karena mereka akan besar disini dan pada akhirnya akan kami beri kebebasan jika mereka ingin menjadi warga negara Australia. Belum bentang jarak dan waktu yang sedikit banyak bisa diobati dengan kemajuan teknologi seperti video call dll.

Jadi, enak ga hidup di luar negeri? Jawabannya enak-enak saja hahaha….

NS

Berawal dari sebuah kunjungan ke rumah kawan kami disini, anak-anak akhirnya berkenalan dengan sebuah karakter yang sejak dulu terkenal dan menjadi salah satu ikon perusahaan game besutan Jepang, Nintendo, yang sekarang ini sudah ber-evolusi menjadi semakin “cenggih”, Mario Bros beserta handai taulan nya.

Sejak mengetahui karakter itu, si mbarep AL semakin suka dan sering memutar youtube tentang Mario Bros, tidak hanya sampai disana, dia juga semakin fasih menggambar karakter itu beserta kawan-kawan nya dan sering kali juga membuat power point yang berujung minta di print lalu oleh dia digunting dan dijadikan sebuah permaninan racing menggunakan karakter kertas bersama adiknya dengan membuat jalur balapan sendiri entah dari selimut lah, bantal, kardus dan sebagainya berdasarkan imajinasi liar dia yang membuat saya takjub, bisa ya dia begitu??

Setelah sekian lama, mereka akhirnya merasakan sendiri bagaimana bermain Mario Kart Racing di CBD, semua berawal dari kami ingin bertemu kawan saya dari Singapura dan Indonesia yang kebetulan datang di tulisan sebelumnya, dan sembari menunggu kami melewati depan JB-Hifi yang ternyata terdapat stand Nintendo Switch yang dengan sukses menarik perhatian orang-orang yang lewat termasuk anak-anak kami. Mereka pun merasakan bermain Mario Kart Racing disana selama beberapa menit.

Pengalaman beberapa menit itu kemudian membuat mereka semakin kreatif terutama si mbarep AL. Dan setiap akhir pekan membujuk saya untuk ke City lagi karena dia ingin bermain (apa lagi kalau bukan) Mario racing tersebut. Haiyahh… hahaha…

Beberapa kali saya menolak karena memang kami ada urusan lain karena tanah yang kami beli disini akan pindah lama dalam waktu dekat dan banyak sekali hal yang harus kami urus. Lama kelamaan, saya entah kenapa jadi merasa kasian (pembenaran hahaha…) karena dulu saya tidak pernah kesampaian memiliki nintendo, halah… alasan ini sebetulnya ga membuat saya menjadi benar karena membelikan mereka.

Akhirnya saya diskusi dengan istri dan minta ijin dia agar bisa membelikan anak-anak Nintendo Switch. Loh… kok kenapa harus ijin sama istri? Iya donk, kami sudah sepakat apapun yang menyangkut anak-anak harus dibicarakan dulu, sehingga kedua pihak memiliki kesepakatan, terlebih alat permainan ini pada akhirnya akan melibatkan peran istri saya saat sudah menyangkut waktu belajar, rehat dan sekolah kan. Jadi sudah selayaknya kami diskusi terlebih dulu.

Tadinya kami ingin belinya pas rumah sudah jadi, tapi ya dasar bapak nya ga tahan ngelihat ekspresi mereka yang berbinar-binar setiap melewati iklan nintendo switch yang kamfretnya dibarengin poster mario segede atun membuat saya sukses membujuk istri untuk membelikan mereka lebih awal.

Istri awalnya ga setuju, tapi setelah saya hitungkan cash flow yang kami miliki (tentu donk, kami kan bukan horang kayah yang tinggal tepuk tangan duit datang dengan sendirinya) akhirnya dia pun memberikan ijin, yeyy… langsung kami hunting mana tempat yang bisa memberikan harga termurah. Setelah sepakat untuk dimana kami akan membeli NS ini, istri terlebih dahulu mengumpulkan anak-anak, dan diskusi dengan mereka tentang aturan yang harus mereka taati saat sudah memiliki NS termasuk kapan boleh bermain kapan tidak. Setelah sepakat mufakat, saya pun menuju konter untuk membayar dan game pertama yang mereka ambil adalah (apalagi coba?) Mario Kart Racing seharga 79 AUD, OMG!!! Mahal mak….

Ekspresi mereka itu benar-benar tidak ternilai hahaha… senengnya itu benar-benar plain dan tidak dibuat-buat termasuk si emak saat ikutan main dan berhasil juara 1 hahaha… ga percaya? Coba lihat video dibawah.

Video yang sama juga saya upload ke media sosial saya yang lalu di komen salah satu kawan kerja saya di Jakarta dulu, Mas Erry. Dia sukses mendokumentasikan momen saya sedang mengerjakan proyek Bvlgari Bali yang kebetulan saat itu bersama dia di https://erryseptiawan.blogspot.com/2007/06/hardjo.html?m=1 yang merupakan salah satu momen karir terbaik yang pernah saya miliki, dan ikan bakar itu pun menjadi salah satu ikan bakar ter-nikmat yang pernah saya santap, entah karena memang saya sedang lapar dan kecapean, atau memang karena enak, atau memang karena itu salah satu momen dimana saya bisa makan ikan bakar sebesar itu dengan hasil keringat sendiri setelah sekian lama jungkir balik setelah ditinggal mendiang Papa 6 tahun sebelumnya, ah… rasanya itu tidak ternilai dan terlukiskan, ternyata se-sederhana itu untuk menjadi bahagia.

Apapun itu, suwun Mas Erry, momen itu sukses membangkitkan salah satu ingatan paling berkesan dalam hidup saya.