Dibangunkan…

Sore ini, sangat menggoda untuk tidur siang, bagaimana tidak… keadaan cuaca yang mendung sayu ditambah suhu yang tidak terlampau tinggi seperti biasanya, membuat saya bergerak pasti keatas kasur dengan tangan langsung menyalakan penyejuk ruangan lalu bersembunyi dibawah selimut dengan cepat untuk menikmati bobo siang yang nyaman.

Tiba-tiba… 2 pasang tangan yang kecil menepak-nepak muka saya dilanjutkan dengan ciuman dari 2 pasang bibir kecil bertubi-tubi di muka, dan diakhiri dengan celoteh-celoteh yang berisik “ayo anterin ke tempat main, ke tempat melukis, mau main pasir bla bla bla…” memaksa badan saya yang super malas ini harus beringsut bangun dan keluar dari selimut yang terlampau nyaman itu…

Sambil tersenyum… saya pun bangun sembari berusaha menutupi muka agar tidak terlanjur basah oleh liur mereka “iyuhhh….” yang bersorak riang karena “sang supir dan ATM berjalan – Joking” sudah bangun yang berarti misi mereka berhasil. Bergerak malas ke gantungan baju untuk ganti baju pergi kemudian bergerak ke wastafel untuk bilas muka agar tidak “terlalu” terlihat muka bantal nya hahaha…

Tiba-tiba (lagi) sebuah suara dan intonasi yang khas bergema dibelakang “bagus ya… kalau dulu aja saya yang minta di anterin trus bangunin langsung ngedumel, sekarang aja klo unyil-unyil yang bangunin ga kaya gitu, dasar…”

D-O-E-N-K-K…. nah… kali ini langsung sadar dari setengah tidur… sambil bilas muka saya mencoba mengingat, iya juga ya… kenapa dulu saya suka ngedumel kalau istri yang membangunkan tidur siang saya dan minta dianterin ke suatu tempat?!?

Nikah itu, awal. Bukan akhir

Kejadian ini, menyadarkan saya akan 1 hal. Pernikahan itu bukan sekadar mengesahkan sebuah hubungan seksual belaka, atau sekadar menunjukan ke orang-orang “hey.. gw udah nikah neh” atau sekadar “biar ga basi karena udah kelamaan pacaran nya” atau sekadar – sekadar lainnya!!!.

Nikah itu, awal. Bukan akhir. Awal dari kita mulai melihat hal-hal yang tidak terlihat saat pacaran (selama apapun itu) yang kadang cukup “menakutkan” hahaha… dan “mengagetkan” fiuhh…

Awal dimana kita akan melihat orang itu 1 x 24 jam seumur hidup. Awal dari penyesuaian-penyesuaian lanjutan yang berkali kali lipat lebih sulit dan menantang dari masa-masa pacaran, tidak percaya?

Tapi… disanalah keseruannya, dan disanalah kedewasaan kita diuji. Sejauh mana kita bisa menerima pasangan kita seutuhnya. Disanalah kita belajar untuk koreksi diri, belajar tetap menjaga rasa sayang agar (minimal) tidak berkurang dari level saat kita pacaran, dan sangat diharapkan lebih dan lebih terus donkk… dan itu tidak mudah loh…

Jika dulu saat pacaran saja bisa siap 1 x 24 jam buat anter pacar, kenapa setelah menikah tidak bisa buat anter istri? nah kan…

Ya… semua kembali kepada sikon masing-masing ya. Disini saya hanya ingin share saja jika saat kita (dalam hal ini kami) yang menikah secara Katolik, kita disumpah dibawah sakramen perkawinan untuk tetap memelihara dan menumbuhkan keluarga yang sudah kita janjikan dihadapan Allah jika kita akan menerima pasangan kita apa adanya, baik dalam suka maupun duka, melewati kesulitan-kesulitan bersama-sama (ingat… kesulitan itu tidak harus berhubungan dengan materi lohh…) selamanya sampai maut memisahkan. Jika hal itu sudah kita ucapkan, dan memang tidak mudah untuk di wujudkan, tapi sangat mungkin untuk dihasilkan, jika kita masing-masing bisa menekan ego kita sampai ke batas yang tanpa batas saat berhadapan dengan pasangan kita. Karena, kita tidak sedang menikahi seorang malaikat kan, kita menikahi seorang manusia yang sama seperti kita, penuh kekurangan.

Setidaknya, kejadian hari ini… membuat saya sadar, wadalah… ternyata saya berubah setelah menikah, yang menjadi masalah berubah nya ke arah yang minus bukan plus… dari yang siap menjadi cowok yang anterin doi nya kemana-mana menjadi suami yang marah jika diganggu saat sedang bermalas-malas ria (padahal dulu pas pacaran malah nunggu-nunggu kapan yaaa… diminta anterin lagi buahahaha…) ga baik itu… ga baik…

Buktinya saya dengan anak-anak bisa, kenapa dengan istri yang sudah saya kenal lebih dulu dan pernah saya perlakukan sama saat dulu tidak bisa?

Saatnya intropeksi dan koreksi diri.

Ya… kami sering ribut, dari hal kecil sampai hal… (kayanya belum pernah ada hal besar) diatas kecil sedikit, dari hal ga penting sampai hal (yang kelihatannya) penting. Kami tidak pernah benar-benar membenci satu sama lain, setidaknya sampai saat ini belum (ya iyalah… kalau sudah masa iya saya masih bisa tidur di kamar tidur xixixi….) dan semoga selama nya jangan sampai terjadi.

Sebuah pertengkaran itu, kadang bagus karena bisa berfungsi sebagai pengkoreksi, asal… emosi dan arah pertengkaran dikontrol, yang dibahas juga dikontrol, dan yang kontrol harus berdua.

Kami masih terus berusaha, agar bisa makin saling memahami, saling mengalah, saling mengoreksi, dan saling menumbuhkan rasa sayang. Masih dalam proses dan belum sempurna, belum sampai ke tahap dimana bisa menjadi contoh. Masih banyak penyesuaian, tapi setidaknya kejadian gara-gara 2 unyil ini menyadarkan saya 1 hal lagi, jika saya tidak boleh mengurangi tindakan yang bisa mencerminkan rasa sayang saya ke istri, karena apa yang terucap tidak ada gunanya jika tidak dilakukan kan….

Semoga kami bisa tetap bersama sampai tua nanti, dan tetap saling koreksi (bahasa keren nya bertengkar) agar semakin hidup dan baik satu dengan lainnya hahaha…

Luv u always mom 🙂

Advertisements

Tiba-tiba…

Sabtu lalu, setelah imunisasi anak kedua dan periksa anak pertama karena sedang batuk pilek, tiba-tiba istri mau ke kuntum nurseris.Sebetulnya, sudah sejak dulu kami ingin kesana. Bahkan jauh sebelum kami mencoba migrasi ke Australia. Tapi belum kesampaian.

Nah… ceritanya kemaren itu istri tiba-tiba jadi kreative minta kesana jam 12 siang. Kebayang donk apa yang ada di pikiran saya hahaha… macet!

Tapi, setelah saya timbang-timbang, kenapa tidak dicoba… toh kita kan mau ajak anak-anak lebih mengenal alam dan hewan nya. Dan kebetulan di kuntum nurseris itu kita bisa kasih makan hewan ternak, ada kebun nya dll.
Memang macet sih hahaha… tapi itu karena ada jambore di cibubur, jadi mendekati pintu tol cibubur kemacetan makin mohai… ditengah kemacetan saya mulai berpikir, seandainya nyampe sana sudah mau tutup ya sudah kita akan bablas terus ke puncak sekalian dinner di cimory riverside.

Eh… ternyata setelah cibubur jalanan nya lancar jaya. Akhirnya kesampaian juga bertandang ke kuntum hahaha… secara over all disana cukup oke. Kami pernah mengunjungi tempat dengan model yang sama saat di Melbourne (namanya lupa), tempat nya lebih kecil, lebih mahal, lebih ga enak hahaha… jauh lebih komplit dan bagus kuntum.

Setelah itu kami pun mengarah ke cimory (tetep donk) karena sudah nanggung juga kan… Kami dinner disana dan mengajak anak-anak bermain lagi. Melihat ekspresi bahagia mereka itu benar-benar tidak tergantikan.

Dalam perjalanan pulang, saya mengucap syukur… karena sudah bisa mengajak keluarga untuk rekreasi dan bermain… dan selintas saya berfikir, apalagi sebetulnya yang ingin saya cari…
Tuhan sudah sangat baik dengan memberikan semua ini.

Melukis…

Anak pertama saya, sangat suka melukis dan menggambar.

Setiap hari selalu menggambar dan rata-rata bisa menghasilkan 2 sampai 5 gambar. Otak kanan banget ya…

Khusus untuk melukis, kami sering membawa dia melampiaskan bakat alaminya di tempat yang memang bisa disewa untuk sekadar melukis. Lumayan mahal sih, tapi setidaknya kami tidak perlu pontang panting menyiapkan peralatan nya apalagi rumah kami termasuk ukuran mini.

Nah… di hari libur ini, kami coba memberikan AL kesempatan untuk melukis. Setelah memilih gambar yang dia suka, seekor ikan buntel, dia pun mulai memainkan kuas sesuka dia hahaha…

Ada hal-hal mendasar yang tidak bisa saya jelaskan disini….

Hal-hal sederhana seperti melihat ekspresi bahagia di wajah polos anak kita saat bisa melakukan apa yang dia inginkan, sampai ke hal-hal sederhana seperti bisa melihat wajah imut anak-anak kita yang tertidur pulas tanpa harus khawatir tentang mengenyangkan perut mereka esok hari nya.

Hal yang kemudian membuat saya semakin berat dalam menimbang langkah yang harus ditentukan, karena kami memiliki hidup yang baik sebenarnya disini setidaknya sampai saat ini.

O ya… sementara anak pertama kami sedang melukis dan saya temani, istri saya membawa anak kedua kami bermain mobil-mobilan dan semacamnya yang menggunakan koin. Beda anak beda ketertarikan hahaha…

Dan saya, tentu memilih menemani anak pertama kami karena tinggal duduk sambil ngetik blog ketimbang berlari-lari mengejar anak kedua kami.

Ahh… iya, kebetulan AL minta boneka shark waktu makan fish & co, ekspresinya itu loh saat dapet boneka nya hahaha…

Makin banyak deh boneka dia, paling banyak koleksi boneka gajah, entah kenapa AL suka banget sama Gajah 🙂

AL juga suka sekali membuat bentuk-bentuk dari play doh, salah satunya kuda laut, yang paling sering ya apalagi kalau bukan gajah hahaha…

Mengenai gambar sendiri, udah setumpuk dan akan terus bertambah. Gambar-gambar nya semakin lama semakin bagus dan rapi. Semoga bakat ini bisa semakin diasah dan diasah, yang pasti saya sudah sepakat dengan istri saya jika juara tidak juara di sekolah bukanlah tujuan kami, tapi lebih kepada apa yang menjadi kekuatan anak kami, kami hanya memberi target 1 saja yaitu naik kelas, berapa pun peringkatnya kami tidak peduli.

Hidup ini singkat, kepergian beberapa kawan seumuran saya semakin mengingatkan saya akan waktu yang terbatas. Banyak hal yang tidak bisa diganti dengan sekadar “kami hidup di luar negeri sekarang”, terlihat keren sih… tapi semua ada harga nya.

Jika mengutip kata-kata dari salah satu kawan saya disana, “hidup dimana saja sama jo, yang paling penting adalah keluarga” and that’s true.

Damai yang kucari…

Artikel ini adalah salah satu artikel terlama yang pernah saya susun. Selain judulnya yang menurut saya cukup berat, memuat isinya pun tidak mudah.

Damai yang kucari…

Lama saya merenung… Mengenai damai yang kucari ini.

Kehidupan setelah kepergian (alm) Papa yang begitu berliku tajam dan memberikan banyak tikungan, membuat saya lama mencari… dan mencari… arti kata sebuah kedamaian (dalam arti duniawi).

Semasa hidup… (alm) Papa pernah bercerita, salah satu momen damai itu adalah saat kita sebagai kepala keluarga berhasil membuat anak istri kita bisa memiliki atap untuk berteduh, memiliki pakaian yang layak, dan bisa tidur nyenyak dengan perut yang kenyang. Itulah damai… karena itu tandanya kita sudah menuaikan 3 tugas utama kita saat kita memutuskan untuk berkeluarga.

3 hal yang terkesan mudah… tapi tidak mudah… apalagi saat hal tersebut diraih dari dasar… melalui tangan sendiri…

Lalu apakah hal itu sudah cukup? Ternyata belum… damai… akan lebih terasa lagi jika kita memiliki dana cadangan untuk keadaan emergency. Dan ternyata hal itu pun belum cukup juga… damai… lebih terasa lagi jika kita memiliki juga sedikit investasi atau apapun yang bisa digunakan untuk kebutuhan masa depan.

Cukup? Ternyata belum… damai pun akan lebih nyata saat kita dalam keadaan sehat dan bahagia… ahh… sungguh rumit ya… damai itu ternyata mahal… mahal sekali…

Jika kita seorang relijius, jawaban sederhananya sebetulnya adalah “pasrah dan percaya saja kepada Nya”. Walaupun itu pun tidak sesederhana kelihatannya.

Karena yang sedang saya bahas tidak dijalan berbau relijius, jadi saya akan menggunakan sudut pandang duniawi dan tentu saja sisi manusiawi…

Sebetulnya apa damai yang kucari…

Setiap pagi… ucapan syukur selalu saya lantunkan kepada Nya, untuk semua hal baik yang terjadi, untuk semua berkat yang kami terima.

Untuk kesehatan, berkecukupan, rumah yang nyaman walau kecil, perlindungan, hidup yang baik, pekerjaan yang bagus dan…. kedamaian… ya… kedamaian…

Kedamaian yang sebelumnya tidak saya rasakan… atau mungkin belum mampu merasakan karena rasa peka tertutup antusias yang berlebih saat merasa jalan ke selatan sana adalah yang terbaik bagi masa depan kami. (Ya… nanti akan saya ulas di artikel tersendiri mengenai pandangan pribadi saya mengenai hal-hal tersebut termasuk tingkah laku diaspora yang tajam ke negara kelahiran tapi tumpul ke negara dia numpang “maaf” berak, padahal saya yakin mereka pun seharusnya sadar jika Sempurna itu hanya milik Tuhan)

Saya sudah merasakan sebuah damai yang dikondisikan oleh kondisi yang ada… namun… masih timbul 1 pertanyaan… Damai seperti apa yang kucari??

Mungkinkah… saya yang kurang bersyukur…

Mungkinkah… saya yang masih kurang peka terhadap bimbingan-Nya karena tidak peka terhadap sentuhan pesan Roh Kudus…

Mungkinkah… damai yang kucari sudah diletakan dalam kehidupan kami tanpa saya sadari…

Yang pasti… saya masih berusaha mencari… damai yang kucari itu…