Damai yang kucari…

Artikel ini adalah salah satu artikel terlama yang pernah saya susun. Selain judulnya yang menurut saya cukup berat, memuat isinya pun tidak mudah.

Damai yang kucari…

Lama saya merenung… Mengenai damai yang kucari ini.

Kehidupan setelah kepergian (alm) Papa yang begitu berliku tajam dan memberikan banyak tikungan, membuat saya lama mencari… dan mencari… arti kata sebuah kedamaian (dalam arti duniawi).

Semasa hidup… (alm) Papa pernah bercerita, salah satu momen damai itu adalah saat kita sebagai kepala keluarga berhasil membuat anak istri kita bisa memiliki atap untuk berteduh, memiliki pakaian yang layak, dan bisa tidur nyenyak dengan perut yang kenyang. Itulah damai… karena itu tandanya kita sudah menuaikan 3 tugas utama kita saat kita memutuskan untuk berkeluarga.

3 hal yang terkesan mudah… tapi tidak mudah… apalagi saat hal tersebut diraih dari dasar… melalui tangan sendiri…

Lalu apakah hal itu sudah cukup? Ternyata belum… damai… akan lebih terasa lagi jika kita memiliki dana cadangan untuk keadaan emergency. Dan ternyata hal itu pun belum cukup juga… damai… lebih terasa lagi jika kita memiliki juga sedikit investasi atau apapun yang bisa digunakan untuk kebutuhan masa depan.

Cukup? Ternyata belum… damai pun akan lebih nyata saat kita dalam keadaan sehat dan bahagia… ahh… sungguh rumit ya… damai itu ternyata mahal… mahal sekali…

Jika kita seorang relijius, jawaban sederhananya sebetulnya adalah “pasrah dan percaya saja kepada Nya”. Walaupun itu pun tidak sesederhana kelihatannya.

Karena yang sedang saya bahas tidak dijalan berbau relijius, jadi saya akan menggunakan sudut pandang duniawi dan tentu saja sisi manusiawi…

Sebetulnya apa damai yang kucari…

Setiap pagi… ucapan syukur selalu saya lantunkan kepada Nya, untuk semua hal baik yang terjadi, untuk semua berkat yang kami terima.

Untuk kesehatan, berkecukupan, rumah yang nyaman walau kecil, perlindungan, hidup yang baik, pekerjaan yang bagus dan…. kedamaian… ya… kedamaian…

Kedamaian yang sebelumnya tidak saya rasakan… atau mungkin belum mampu merasakan karena rasa peka tertutup antusias yang berlebih saat merasa jalan ke selatan sana adalah yang terbaik bagi masa depan kami. (Ya… nanti akan saya ulas di artikel tersendiri mengenai pandangan pribadi saya mengenai hal-hal tersebut termasuk tingkah laku diaspora yang tajam ke negara kelahiran tapi tumpul ke negara dia numpang “maaf” berak, padahal saya yakin mereka pun seharusnya sadar jika Sempurna itu hanya milik Tuhan)

Saya sudah merasakan sebuah damai yang dikondisikan oleh kondisi yang ada… namun… masih timbul 1 pertanyaan… Damai seperti apa yang kucari??

Mungkinkah… saya yang kurang bersyukur…

Mungkinkah… saya yang masih kurang peka terhadap bimbingan-Nya karena tidak peka terhadap sentuhan pesan Roh Kudus…

Mungkinkah… damai yang kucari sudah diletakan dalam kehidupan kami tanpa saya sadari…

Yang pasti… saya masih berusaha mencari… damai yang kucari itu…

Advertisements

16

16 tahun… sudah lama ya… tidak, justru terasa cepat. Seperti baru kemarin saya melepas kepergian (alm) Papa di ranjang nya di rumah sakit mitra kemayoran setelah hampir 11 bulan berjuang melawan kanker paru-paru stadium 3A yang di deritanya. 11 bulan penuh dengan kegelisahan, pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, ketidakpastian, dan yang pasti lelah fisik dan mental…

Jujur… saya mengagumi semangat berjuang dan pantang menyerah Papa yang begitu gigih berusaha mempertahankan napas nya agar bisa melihat anak-anak dia menjadi sarjana, karena dia merantau ke tanah jawa untuk hal itu, impian tertinggi dia.

Walaupun… apa yang dia lakukan kemudian membuat kami yang ditinggal setengah mati karena biaya yang dihabiskan benar-benar menghabiskan…

Ya…. tetap ada hal positif dibalik semua itu, saya menjadi terlatih dengan sangat keras dalam menjalani sekolah kehidupan yang ternyata sangat terjal dan tidak mudah ini, baik secara mental, sikap, maupun semangat.

16 tahun Pap… 16 tahun yang lalu, hari ini Pap pergi selamanya. Hari ini juga saya mengantar jenazah untuk kedua kalinya pulang ke Tegal (setelah mengantar jenazah kakak 1 bulan sebelumnya). Dan, 2 hari setelah ini saya pun mengangkat jenazah untuk kedua kalinya masuk kedalam peti (setelah mengangkat jenazah kakak 1 bulan sebelumnya). Dan, tentu berlanjut sampai ke peristirahatan terakhir untuk kedua kali nya juga…

Lelah… stress… bingung… sedih… berusaha tegar… pasrah… semua bercampur menjadi satu dan tidak jelas. Yang ternyata… setelah semua prosesi ini selesai, meninggalkan sebuah perjalanan untuk seorang remaja 20 tahun dengan berkali-kali lipat lebih cape, stress dan tidak jelas… sampai terkadang saya bergetar sendiri saat membayangkan jalan yang sudah saya lalui sampai hari ini… Tuhan sungguh luar biasa. Saya mampu seperti sekarang ini, itu karena Tuhan… Dia telah mengelilingi saya dengan malaikat-malaikat tidak bersayap Nya. Yang mengembalikan jalan saya ke jalur yang benar saat melenceng, yang mengingatkan saya saat saya mulai tidak benar, yang membantu saya saat saya harus merangkak, yang menyemangati saya saat saya sedang hilang harapan dan jatuh.

Perjalanan yang keras dan terjal, penuh ketidakpastian, penuh dengan penderitaan… walaupun akhirnya Tuhan memberi jalan untuk saya membenahi hampir seluruhnya.

Apa kabar mu disana Pap 16 tahun ini? Cucu mu sudah ada 5 loh…

Saya suka membayangkan Pap sedang duduk sambil membaca koran kompas atau koran bola, sambil sesekali menyeruput kopi kapal api pahit kesukaan mu, dengan rambut dan kumis yang sudah mulai berhias uban, dan garis-garis keriput dimuka mu yang setiap garisnya mewakili kerasnya jalan kehidupan yang sudah kau lalui demi pendidikan anak-anak mu ini. Yang saat ditanya dan diajak diskusi selalu memasang gaya dan tampang santai serius, yang kemudian akan memberikan kalimat wejangan halus lewat suara mu yang berat dan nge-bass, dan gaya bicara mu yang khas…. hahh… Pap… Pap… selalu bikin kangen…

Salah satu kalimat mu Pap saat diakhir, “Papa tidak takut jika harus mati, Papa lebih takut bagaimana kalian setelah Papa tidak ada, Papa tidak meninggalkan apapun untuk kalian”

Ada… Pap meninggalkan sebuah semangat, cara berpikir, dan yang pasti kesempatan belajar kepada Guru Kehidupan, sesuatu yang jauh lebih berharga dari segunung emas, atau setumpuk uang.

Tenang dan bahagialah Pap disana… kami baik-baik saja dan akan semakin baik kedepannya. Kami berhasil bertahan dan melewati semuanya, dan kami pun mulai berhasil bangkit sedikit demi sedikit walaupun sangat tidak mudah dan harus berjuang setengah mati, salam untuk kakak ya…

Kami selalu merindukan mu Pap… sampai kapan pun… sampai kapan pun…

Menunggu sebuah jawaban

Dalam doa novena yang saya panjatkan minggu lalu selama 9 hari selama liburan panjang, hanya 1 hal yang saya minta yaitu berikan sebuah sinyal atau pertanda agar saya bisa mengambil keputusan dengan hati yang mantap apakah tetap disini saja atau mencoba lagi memuaskan rasa penasaran saya dengan kesana.

Doa tersebut membuat saya akhirnya mendapatkan sebuah turning point yang memang pernah disarankan salah satu kawan baik saya beberapa waktu lalu. Turning point ini, tidak mudah dibuat saat itu karena didalam hati saya masih beriak tidak tenang, saat ini hal itu sudah lebih tenang setelah saya novena.

Sekarang saya meminta agar diberikan jalan jika memang jalan saya harus kesana. Setidaknya jawaban ini akan menjawab turning point yang saya tentukan yang kemudian (diharapkan) bisa menjadi trigger saya mengambil keputusan dengan hati yang lebih mantap dan legowo apapun hasilnya. Turning point ini tidak serta merta keluar begitu saja, ini adalah rangkuman dari masukan-masukan yang saya minta ke banyak pihak yang tentunya salah satu pihak itu adalah istri saya. Masukan dan pandangan dia lah yang saya bobot paling besar karena dia suka tidak suka akan ikut merasakan pahit manis nya berjuang bersama saya disana saat turning point ini terwujud.

Saya pun menghubungi salah satu kawan baik saya di selatan sana yang kebetulan istri nya adalah seorang job seeker consultant untuk membantu saya memoles CV dan CL (Cover Letter) yang lebih sesuai jika ingin melakukan apply job disana dari overseas. Saya beruntung memiliki bantuan-bantuan di dalam kebingungan saya ini, karena tidak banyak orang yang benar-benar ingin membantu dengan hati walaupun sesama perantau dan merasakan kesulitan dasar yang sama.

Saya tentu masih menyimpan sebuah harapan agar turning point yang saya buat ini bisa terwujud karena saya masih merasa jika apa yang saya tetapkan ini masih masuk akal. Sebetulnya ada 2 turning point yang saya buat, 1 sebagai primary dan 1 sebagai secondary, halah… IT Minded banget ya hahaha… turning point kedua saya buat dan jika tercapai dan yang pertama masih belum terwujud, maka saya akan mengambil jalan kedua dengan resiko yang lebih besar. Semoga tidak perlu sampai saya ambil yang kedua.

Jalan hidup setiap manusia dan keluarga itu berbeda. Hal yang sesuai disatu keluarga dan pribadi belum tentu sama dan sesuai jika diterapkan dilainnya. Itu kenapa kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari perbandingan apple to apple untuk hal seperti migrasi ini. Ada hal-hal mendasar dan principal yang tidak bisa saya bargain begitu saja menyangkut kehidupan keluarga dan anak-anak saya. Hal itu yang kemudian membuat saya sulit menetapkan arah hati saya untuk case yang satu ini.

…kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari perbandingan apple to apple untuk hal seperti migrasi ini

Setidaknya, saya belajar banyak pelajaran kehidupan dari apa yang sudah terjadi, terutama sekali adalah saya belajar dewasa.

Mungkin juga saya diberi kesempatan untuk menuaikan salah satu janji saya saat menikah dulu, yaitu menerima sakramen krisma setelah menikah. Siapa tahu?

Mungkin juga saya diberi kesempatan untuk mengamankan beberapa investasi saya terlebih dahulu sebelum benar-benar kesana agar saya bisa lebih konsentrasi disana. Siapa tahu?

Atau, mungkin saja saya didorong untuk keluar dari zona nyaman saya dengan cara yang tidak biasa agar kehidupan saya dan keluarga bisa berlipat lebih baik lagi di masa depan terlepas dari disini atau disana. Siapa tahu?

Semua ini masih menjadi misteri untuk saya, walaupun beberapa jawaban yang saya temui seakan-akan menjawab misteri tersebut tapi hati kecil saya belum merasa jika ini jawaban dari-Nya.

Semoga, apa yang sudah dipanjatkan bisa memiliki sebuah jawaban.

Sejarak TSI, SW, ODS & TMII

Beberapa pekan lalu, tepatnya 2 minggu yang lalu kami membawa anak-anak mengunjungi SW (Sea World) di Ancol sana. Anak-anak girang bukan kepalang karena mereka melihat aneka satwa laut baik yang masih hidup maupun yang sudah diawet kan.

Setelah puas, mereka kami ajak ke ODS (Ocean Dream Samudra) melihat aneka pertunjukan dimana salah satunya adalah atraksi ikan lumba-lumba. Sebetulnya beberapa pekan sebelumnya mereka juga sempat kami ajak ke TSI (Taman Safari Indonesia) dan ada atraksi lumba-lumba juga disana.

Hari ini, 1 hari menjelang idul fitri, mereka kami bawa mengunjungi TMII (Taman Mini Indonesia Indah) yang konon menurut berita nya adalah hasil karya Ibu Tien Soeharto, Ibu Negara kedua NKRI.

Kami tidak pergi sendiri, tapi bersama mama saya dan keluarga istri saya. Momen-momen seperti ini adalah momen yang tidak akan bisa dibeli dengan uang, apalagi kita sebagai manusia bukan lah mama koreng eh…, loreng eh…, ya pokok nya itulah yang punya indera ke delapan sembilan sepuluh yang bisa meramalkan masa depan kapan kita masih bisa memiliki momen ini atau tidak.

Reaksi di wajah mereka saat kami ajak ke Taman Legenda Keong Mas dan tempat-tempat rekreasi lainnya benar-benar keluar dengan polos nya. Percayalah kawan, tidak ada yang bisa menggantikan ekspresi wajah nan jujur seorang anak kecil yang takjub saat melihat sesuatu sambil menggumamkan “WOW…” 🙂

Apakah saya bahagia? Tentu… saya bahagia, sangat bahagia, nikmat apa lagi yang harus saya dustakan? Ini adalah salah satu blessing tertinggi yang turun dari yang Maha Tinggi.

Ada beberapa kawan yang bertanya iseng kepada saya karena melihat update-update yang mengalir lancar di laman social media buku-muka (facebook) saya saat sedang membawa keluarga saya refreshing menikmati suasana diluar sana.

Menurut hemat mereka, saya termasuk cepat memulihkan keadaan terutama sisi finansial setelah mengalami ombak nan kuat dan tinggi di Australia sana yang kemudian memulangkan kami dengan keadaan finansial  hampir luluh lantak ke Indonesia.

Tidak… tidak… bukan begitu kawan keadaan nya, finansial saya belum sekuat dulu sebelum ke Australia, saya hanya sudah stabil tapi belum pulih benar.

Lalu? Apakah saya sedang berusaha pamer dan menutupi sesuatu dengan menampilkan kesenangan dll? Tidak… tidak… kawan, saya tidak sedang bersembunyi dari kekecewaan dan kesedihan saya dari kejadian 6 bulan lalu, tidak kawan… bukan itu. Apalagi untuk pamer… tidak ada yang bisa saya pamerkan apalagi harta.

Saya hanya ingin keluarga saya senang dan bahagia dengan batas-batas tertentu yang tidak ke-bablas-an, setidak menurut apa yang menjadi aturan saya untuk batasan nya karena saya tidak ingin anak-anak saya merasa dimudahkan dalam hidup.

Dan selama saya merasa mampu membuat mereka bisa menikmati hal itu, akan saya lakukan tanpa menunggu saya punya tabungan ber ember ember yang cukup buat hari tua (karena bagi saya hari tua hanya milik Tuhan), atau punya rumah selosin, atau punya mobil keren nan beken dulu.

Tidak, itu bisa menyusul tapi momen seperti ini tidak bisa menunggu karena saya tidak tahu detik berikut nya akan terjadi apa.

Banyak hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diperoleh dengan uang dan harta, percayalah kawan… bahkan banyak diantara hal itu yang benar-benar lebih berharga dari tumpukan uang dan emas maupun berlian.

Hal-hal yang selalu saya jaga, bukan saya tidak berambisi untuk mencari penghasilan sebesar mungkin, bukan… saya hanya percaya jika semua sudah diatur dan disiapkan oleh-Nya. Kita boleh berambisi, harus malah… tapi, jangan sampai ambisi kita tersebut menutup mata kita terhadap hal-hal lain yang justru hanya bisa dipuaskan oleh waktu yang terus berjalan tanpa bisa kembali.

Semua ini juga yang membuat pertimbangan demi pertimbangan saya menjadi semakin kontras dan adu tarik. Hal yang membuat saya berfikir keras sampai merasa lelah lalu memutuskan untuk pasrah saja pada doa novena yang akan saya lanjutkan setelah menulis tulisan ini. Sebuah doa yang selalu menolong kami selama ini, yang kali ini saya harapkan bisa membantu lagi untuk menunjukan kepada saya jalan mana yang harus saya ambil.

Tidak lupa, di malam takbiran yang membuat ingatan nan kenangan akan masa kecil sampai remaja saya, akan (alm) Papa dan (alm) Kakak saya tergali kembali karena dulu rumah saya di Tegal tepat dibelakang nya ada tempat ibadah kawan-kawan muslim yang biasa disebut langgar (jawa -red),

Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, Mohon maaf lahir dan bathin.