Datang Telanjang

Oktober sudah tersenyum didepan pintu, dan bulan pertama musim semi pun sebentar lagi lewat. Waktu kok rasanya benar-benar cepat berlalu ya… seperti baru kemaren kami merayakan Natal dan Tahun Baru kedua kami di Melbourne, disambung dengan mengikuti pertandingan tenis dunia – Australian Open, eh… sebentar lagi masuk bulan 10, dan itu pun berarti 2 bulan menuju 2020 wow… cepat yaa…. (sambil megang pipi biar norak dikit…)

Bulan ini, ada beberapa hal menarik yang terjadi dalam perjalanan kami disini. Yang pertama adalah saya akhirnya memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa dan income protection untuk melindungi keluarga kecil saya jika ada hal buruk terjadi terhadap diri saya sebagai single income. Rencana ini sebetulnya sudah saya rencanakan jauh hari, dan baru bisa terwujud bulan ini setelah melalui perhitungan panjang karena ini adalah komitmen jangka panjang yang harus saya lakukan dan jaga agar ada benefitnya. Ini pun pada akhirnya berani saya ambil karena mendapatkan beberapa masukan dari financial adviser yang membantu saya menyusun besarnya klaim yang harus saya lindungi untuk keluarga kecil saya agar bisa meng-cover mortgage kami, sekolah anak, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya, dan juga berapa premi yang harus saya bayar.

Lalu yang kedua adalah, di bulan ini kami merayakan hari jadi pernikahan kami yang ke sepuluh, dimana tahun ini agak unik perayaannya karena kami kedatangan beberapa keluarga kemari tepat di hari jadi kami. Kami pun merayakannya dengan jamuan sederhana di salah satu restoran korea pilihan istri saya dan berlangsung meriah. Di hari jadi yang ke 10 tahun ini pula, saya membelikan sesuatu untuk istri saya sebagai penanda yang sudah saya tuliskan di artikel sebelum ini, dan sedikit kejutan di malam saat kami mengadakan jamuan sederhana itu tadi, apa itu kejutannya? rahasia ahh… hahaha…

Ketiga, kami akhirnya mendapat kabar jika ijin bangunan kami sudah keluar, jadi sekarang kami tinggal menunggu builder kami menyiapkan dokumen yang harus kami tanda tangan agar mereka bisa memulai pekerjaan mereka. Waktu yang kami prediksi akan selesai awal tahun depan seperti nya akan meleset cukup jauh, hal itu akhirnya membuat kami mendaftarkan kembali kedua anak kami di sekolah yang sekarang agar mereka tidak libur terlalu lama jika kami sampai harus pindah pertengahan tahun depan. Resikonya, kami jadi harus bayar dobel untuk uang sekolahnya hehehe… Kejadian yang satu ini juga membuat kami agak repot karena tanah yang kami beli ternyata mulai berumput dan pada akhirnya harus saya cangkul dan bersihkan (setelah minggu sebelumnya kami coba semprot pakai weed killer ternyata ga mempan karena tuh rumput bukannya kering malah tambah tinggi bugar…) agar builder bisa langsung memulai pekerjaan mereka saat semua dokumen sudah siap, nyebelin ya….

Keempat, ada beberapa “riak-riak” yang terjadi selama beberapa minggu belakangan ini yang cukup membuat perut geli. Kenapa? karena menurut saya pribadi, semua itu terlalu banyak drama, entah karena saya sudah berubah menjadi lebih straight forward karena kelamaan gaul disini atau gimana, tapi entah kenapa saya tetap ga habis pikir kenapa harus membuat lembar demi lembar sinetron seperti itu hanya untuk hal-hal sepele yang sebetulnya masih bisa teratasi. Ah… kalian pasti bingung baca nya karena memang saya samarkan cerita satu ini agar kalian penasaran (ga denk…), ga elok saja jadi untuk paragraf yang satu ini diperuntukan hanya kepada mereka yang mendengar cerita ini sebelumnya.

Manusia itu, pada dasarnya datang telanjang dan pergi tanpa apapun. Itulah kenapa saya sering tidak mengerti kenapa banyak diantara mereka yang masih berpatokan pada materi untuk menilai seseorang. Saya secara pribadi tidak masalah jika ada yang tidak ingin akrab dengan saya karena saya bukan orang yang punya hal-hal yang bling-bling dengan berlebihan itu, kenapa? karena saya tidak mau menghabiskan waktu saya untuk membuat orang lain mau akrab sama saya hanya karena saya bermateri, pertama itu adalah palsu dan kedua hidup terlalu singkat dan eman-eman kalau hanya dihabiskan untuk hal seperti itu. Saya selalu percaya satu hal, kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, itulah kenapa saya berusaha keras untuk menempatkan diri saya sebaik mungkin (yang entah sudah baik atau masih jauh dari kata baik) dan tidak terlalu perhitungan untuk hal-hal yang tidak abadi dan masih bisa dicari seperti contohnya uang dan materi, terlebih jika sudah berhubungan dengan keluarga dekat atau inti ya, tapi itu kalau saya yang suka  terlalu banyak gaya padahal ga punya apapun hahaha… Saya pribadi selalu percaya jika setiap manusia memiliki nilainya masing-masing terlepas dari apa yang mereka miliki dan gunakan, dan menurut saya nilai itu jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa mereka beli dan gunakan. Nilai seperti itu yang sering kali kita lupakan karena terlalu fokus terhadap materi yang berupa “titipan” yang akhirnya membuat kita kehilangan sisi manusia kita yang sebetulnya justru menjadi hal yang diingat orang lain saat kita sudah tidak menjadi musafir lagi. Eits… hati-hati bacanya, saya tulis “terlalu fokus” ya, jadi jangan disalah artikan jika kita tidak harus berusaha 🙂

Ga nyambung lagi kan… diawali dengan waktu dan bulan, disambung kejadian, dan diakhiri dengan masalah “telanjang” halahh…. hahaha… saya sendiri juga bingung sih kenapa akhir-akhir ini kalau nulis suka ga jelas juntrungannya. Ya, apapun itu, saya tidak begitu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang saya karena hal itu hanya akan membuang waktu saya dengan percuma. Saya lebih suka menjadi apa adanya saja. Kan yang terpenting itu adalah bagaimana kita tetap berusaha menjadi lebih baik di setiap langkah kita.

Sak-Dasawarsa

Waktu kok rasanya cepat sekali ya datang dan pergi. Sepuluh tahun itu seperti sekejap lewat begitu saja.

Ya, sebenernya sih kalau di rasa-rasa ga cepet juga, terasa cepet karena sudah di ujung sepuluh tahun itu sendiri. Karena kalau di ingat-ingat lagi semua memori yang ada, dalam sepuluh tahun ini banyak loh kejadian-kejadian “penanda” yang membuat kita jatuh bangun dalam membangun keluarga kecil kita, beberapa yang tidak terlupakan adalah perjuangan kehamilan si AL yang penuh perjuangan, cemas, dan rasa syukur, rasa nya campur aduk ga karuan selama 9 bulan. Lalu ada lagi saat kita sepakat untuk mengejar impian hidup di tempat yang lebih bersih, tertib, dan aman, yang akhirnya membuat kita mengambil keputusan ekstrim 2 kali untuk migrasi ke Australia yang dalam proses nya dilengkapi dengan jatuh bangun mengejar Visa Permanent Resident. Tidak berhenti disana ada juga jatuh bangun saat berusaha bertahan di Australia, di iringi kejadian culture shock yang cukup menohok dan hampir membuat saya menyerah dan tumbang. Lanjut lagi saat-saat kita harus memutar otak, mengatur cash flow sambil dag dig dug karena ingin memiliki rumah sendiri walaupun harus jauh disana dan tidak terlalu besar, yang sekarang tetap bikin was-was-dong karena masih menunggu rumah mungil nya selesai dibangun. Dan tentunya tidak akan berhenti sampai disini karena akan datang lagi kejutan-kejutan lainnya yang sudah menunggu di tikungan didepan sana.

Sak-Dasawarsa (biar keren dikit hehehe…) ini kita saling rangkul, dukung dan dorong, tidak sedikit kita juga saling teriak satu dan lainnya, adu mulut, marah-marahan, adu makan indomie sampai adu panco (ga denk….) karena ya begitulah kehidupan berkeluarga bukan, apa ada nya bukan ada apa nya (maksudnya jujur wae…), berpendapat dan berekspresi tapi tetap berusaha mencari jalan keluar bersama (ga cuman ribut doank setelah itu tidak ada solusi), setidaknya dari hal itulah kita bisa menyadari jika kita berdua menyuarakan apa yang kita pikirkan walaupun kadang dengan cara yang tidak disukai pasangan kita, yang menandakan jika kita menjaga komunikasi masih dan tetap ada, dan tentunya menjaga agar (semoga) jangan ada dusta diantara kami berdua la… la… la… ciieee… jadi nyanyi deh….

Orang bilang kita tidak perlu berterimakasih sama pasangan kita, dan juga tidak perlu minta maaf dan memaafkan karena toh sudah menjadi suami istri kan?? Ahaa… itu SALAH! justru karena kita sudah menjadi suami istri maka kedua kata itu harus sering diucapkan loh… sesering mengucapkan kata sayang atau kata-kata unik lainnya yang hanya di mengerti kita berdua seperti my*******t hahaha…, kenapa? karena itu menjadi penanda jika kita menghargai pasangan kita dan kita juga menghormati posisinya terutama saat kita berbuat salah. Ingat, menjaga tungku tetap panas lebih sulit dari menyalakan api di tungku itu sendiri. Dan lebih jauh lagi, semua komunikasi itu secara tidak langsung membantu membentuk mental untuk tidak egois, haizz… eogis… sifat yang lebih menghancurkan dari perang itu sendiri, karena manusia-manusia egois itu sudah pasti jauh dari kata simpati apalagi empati.

Terimakasih ya separuh jiwaku (halah… macam abege aja) yang tetap bawel dan semakin mengasah kemampuan masaknya. Terimakasih tidak lelah untuk tetap mendukung apalagi mendorong (jago dah yang satu ini… asal jangan didorong ke kolam buaya yee…) saya agar tidak menyerah walaupun sudah encok-encok dalam mengejar impian kita disini. Terimakasih sudah mau menjadi kuping yang baik selama saya stress dan butuh curhat, dan sudah menjadi mulut yang baik dengan tidak hentinya ngomel-ngomel melulu untuk hal-hal yang kurang baik xixixi…

Dan, maafkan juga ya semua kesalahan yang sudah saya buat baik sengaja maupun memang sengaja hahaha… jangan cape ya jadi istri saya karena saya sadar kok ga gampang berjalan disamping saya yang terlalu banyak keinginan gila ini. Percayalah semua keinginan itu semata-mata untuk menjaga agar hidup kita tetap berwarna, walaupun kadang yang didapat malah warna gelap kelabu karena salah langkah, dan biasanya jadi nge-les dengan bilang “kita diberi kesempatan untuk belajar bangkit” halahh… tapi bener deh… kita bisa ada di titik ini karena kamu juga 🙂

Mau pamer dulu ahh… boleh donk… eh… cocok ga? itu yang 12 mata saya beli buat penanda 10 tahun kami menikah, kenapa 12 mata? karena angka 12 itu banyak filosofinya buat saya, dari 12 bulan dalam tahun masehi, 12 shio dalam putaran penanggalan bulan orang Chinese, 12 Zodiak yang digunakan dalam Astrologi, 12 tahun sekolah dari dasar sampai atas sebagai penanda seseorang siap masuk ke Universitas, sampai istilah angka 12 dalam bahasa hokkian yang sering dikaitkan dengan kelancaran, bahkan… pesen wine secara online saja harus 12 botol minimal baru dikasih free delivery!!! ga penting banget ya hahaha…. Semoga ya… kita bisa tetap bersama selama mungkin.

Apapun itu, selamat hari jadi ya sayang. Saya kagum loh… kamu bisa bertahan sepuluh tahun sama saya, apalagi saya sendiri lebih kagum lagi dengan diri saya karena bisa bertahan sama lamanya sama kamu bruaakakakak…. jangan ge-er dulu yee… hahaha…. yuk… kita menatap sak-dasawarsa kedua, Muachh…. 🙂

September Ceria

Entah kenapa suka saja mengucapkan september ceria, terasa cocok antara kata ceria dan september hahaha…

Melbourne sudah masuk ke musim semi, musim yang syukurnya mulai menghangat sedikit, ya setidaknya pakaian tebal seperti jaket rumah sudah bisa diparkirkan dan heater juga sudah bisa diistirahatkan sejenak.

Suhu mulai berada di angka belasan sekarang, mudah-mudahan (bukan sulit-sulitan ya) bisa semakin naik kedepannya dan bertahan di angka kisaran 20 sampai 23 untuk waktu yang cukup lama karena di rentang suhu itulah terasa paling cocok sama kulit tropis saya.

Seperti biasa saya terjaga di tengah malam begini, mungkin karena faktor U kali ya, mungkin juga karena tidur terlalu cepat karena jam 9 malam kemaren saya sudah mulai selonjoran eh ketiduran. Atau…. mungkin juga karena pikiran yang suka jahil di kepala saya terutama progres pembangunan rumah mungil yang kami beli ga maju-maju haiyahh… sekarang lagi nunggu ijin bangun (semacam IMB lah klo disana) di keluarkan oleh instansi terkait. Tanah kosong yang kami beli terpaksa kami perpanjang pagarnya agar bebas dari sampah.

Itu rumah setengah jadi yang di gambar bukan rumah kami ya hahaha… ga sebesar itu, itu tetangga 2 rumah dari kami.

Ya semoga saja bulan ini bisa keluar ijinnya, karena setelah ijin keluar builder masih butuh sampai 3 minggu untuk mulai membangun, yang artinya kalau ijin nya keluar bulan ini, maka bangunnya paling cepat bulan depan, sepertinya belum bisa deh Natalan di rumah sendiri tahun ini. Semoga tahun depan kesampaian ya…

Setidaknya nanti kami ada tempat tinggal permanent, ya… maklumlah kalau jauh rumahnya hehehe… karena di lokasi itu yang sesuai sama kemampuan kami. Terlebih kami datang tidak dengan bantuan modal dari orang tua maupun saudara, juga tidak ada aset disini yang bisa tinggal kami gunakan. Jadi kami harus bisa melakukan kompromi yang lebih lebar dari kalian pada umumnya saat sedang mengejar sesuatu yang kami inginkan. Tidak mengapa kok, kami tidak iri dan kami menikmatinya karena itulah warna hidup kami, dan dari sanalah kami belajar the science of achievements and the art of fulfillment, tentu… tidak lupa bersyuku juga untuk semua mukjizat yang terjadi dalam hidup kami.

Ikhlas

Jumat lalu genap saya bulanan di tempat kerja baru, sebulan yang rada aneh menurut saya karena ada beberapa hal kurang biasa yang belum pernah saya alami baik kerja di Indonesia maupun di Australia. Apapun itu, sebulan pun berhasil saya lalui dengan sedikit “cigukan”, dan… masih berusaha membiasakan diri dengan budaya di tempat baru ini yang karyawan nya berjumlah lebih dari sepuluh ribu kepala.

3 minggu kerja saya, tiba-tiba ada kabar jika manager payroll and benefits meninggal secara mendadak karena serangan jantung, dada saya rasa nya pengen copot karena baru beberapa hari sebelumnya kami baru saja diskusi mengenai superannuation dan benefit bagi karyawan yang bekerja di organisasi ini. Saat itu, sesaat mendengarkan kabar duka yang datang tidak terduga itu, saya merasa sangat tidak nyaman, entah kenapa saya merasa benar-benar kawatir. Kawatir jika hal itu terjadi pada diri saya, mungkin… pengalaman ditinggal papa dulu membuat luka batin saya kembali terusik saat mendengar kabar itu.

Menjelang sore, saya menyendiri di pantry (yang besarnya lebih dari unit yang saya sewa), saya duduk di pojok sambil menikmati secangkir teh hangat saya merenung. Saya merenung kenapa saya merasa begitu tidak nyaman dan kawatir. Di satu titik akhirnya saya mendapatkan jawaban nya, saya belum bisa ikhlas.

Belum bisa ikhlas untuk banyak hal, baik kepergian Papa maupun sesuatu yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.

Ikhlas, ilmu yang sangat sulit dipelajari apalagi diterapkan, ilmu mengenai menerima dan melepaskan, ilmu meletakan Iman diatas segalanya, ilmu berani menyangkal diri sendiri.

Ikhlas, sebuah ilmu yang harus terus dilatih dan dipelajari seumur hidup kita. Ilmu tentang tidak menuntut balik apa yang kita perbuat bagi orang lain. Ilmu yang membuat kita tidak akan merasa sakit hati karena masih menuntut timbal balik atas apa yang kita lakukan bagi orang lain.

Saya… masih harus banyak belajar, bagaimana menerapkan ilmu ini dalam kehidupan, walaupun saya sudah belajar mengikhlaskan beberapa hal, yang dimulai dari hal kecil, ternyata tetap tidak membuat langkah saya menjadi lebih mudah dan ringan, karena ego saya masih dominan dan sisi manusia saya masih terlalu berperan.