Imlek

Ouchh…. sabtu ini sudah Imlek lagiii… seperti hari raya lainnya imlek kali ini akan menjadi yang ketiga bagi kami sekeluarga di Melbourne.

Semenjak pindah kesini, setiap imlek saya selalu merasa sepiiii…. gimana ga sepi coba, dulu di Jakarta setiap imlek ga kurang dari 10 keluarga pasti ngumpul, bahkan pernah 1 imlek saya hitung lebih dari 50 keluarga datang berkumpul dalam 1 rumah, sampai pusing-pusing saya hafalin panggilan setiap orang yang berkunjung, maklum semua dari pihak istri jadi saya ga terbiasa dengan panggilannya hahaha….

Walaupun sepi, biasanya kami video call ke Jakarta di hari imlek itu sendiri. Lumayan lah masih bisa tatap muka dan ngobrol dikit walaupun tidak bertemu secara fisik. Dan, saat video call itu berlangsung kami pun tidak berhenti mengucapkan….

Gong Xi Gong Xi…..

Hari terakhir 2019

Akhirnya kita sampai juga di penghujung tahun 2019, ga afdol rasanya kalau ga nulis ya (padahal mah biasanya juga ga nulis donk hahaha…). Malam ini akan menjadi malam tahun baru kami yang ketiga disini, di kota yang dingin dan terkenal dengan julukan kota 4 musim dalam sehari, dan itu benar adanya. Tahun ini (seperti biasa) banyak sekali yang harus saya syukuri seperti tahun sebelumnya selain tidak kalah banyak juga hal-hal yang menjadi pembelajaran bagi kami, terutama buat saya secara pribadi. Apapun yang terjadi di tahun ini, harus saya akui jika tahun ini menjadi adalah salah satu tahun terbaik dalam kehidupan kami terutama saya.

Dimulai dari awal tahun, dimana saya setengah mati mencari cara agar aplikasi pinjaman kami bisa lebih aman mengingat tanah yang kami beli dengan nekat 2 tahun lalu sudah akan title yang artinya sebentar lagi pindah nama ke kami dan harus memulai proses KPR ke bank. Hal yang kemudian secara tidak langsung membuat saya jadi gelisah karena perubahan arus di tempat kerja yang sebetulnya sudah saya prediksi, yang akhirnya membuat saya tidak memiliki pilihan selain mencari pekerjaan baru, padahal saya merasa sudah klik banget dan enjoy disana. Tidak lama sesudah itu akhirnya saya benar-benar mendapatkan pekerjaan lain dengan posisi yang lebih baik yaitu fixed term untuk mendukung aplikasi KPR kami dan setelah itu tanah kami beneran title dan aplikasi KPR kami pun lolos, ahh… leganya saya saat itu… saya sampai sekarang jujur masih sering kagum dengan waktu yang disusun oleh Dia terhadap hidup kami, semua terasa pas dan terjadi dengan cara yang tidak tertebak oleh kami dan tentu saja dengan cara Dia yang selalu elegan.

Tidak lama berada di pekerjaan baru ini (dan ini terjadi sebelum tanah kami title), saya ditawari lagi pekerjaan lain dengan posisi baru dan kondisi yang tentu lebih baik dari pekerjaan saat itu. Sempat bimbang sebetulnya apakah akan saya ambil atau tidak karena saya membutuhkan sebuah surat keterangan kerja untuk aplikasi mortgage saya yang akan final sebentar lagi. Sempat saya telepon salah satu kawan saya untuk diskusi, hasil diskusi itu akhirnya membuat saya mengurungkan niat saya untuk mengambil kesempatan baru itu karena waktunya benar-benar tidak sesuai dengan keadaan saya saat itu. Saat itu, ada perasaan kecewa sih… jujur saja…. karena itu adalah tawaran yang bagus dan menurut saya bisa membantu saya membangun jalan karir disini, tapi apa boleh dikata jika pada akhirnya harus saya relakan…

Ingat tadi saya bilang Tuhan sering berkarya tanpa bisa tertebak oleh saya? dan hal itu terjadi lagi untuk ke sekian kalinya, luar biasa yaa…. tidak lama setelah saya ditolak tawaran itu karena saya minta waktu lebih untuk resign (saat itu saya mencoba mengulur waktu sampai aplikasi Bank selesai), eh…. ternyata datang tawaran pekerjaan lain yang lebih baik lagi, ini benar-benar lebih baik loh… dan kali ini tidak ada keadaan yang bisa membuat saya harus menolak lagi. Tawaran yang satu ini benar-benar diluar prediksi saya, selain keadaan pekerjaan, posisi, dan lokasi kantor yang jauh lebih baik, ternyata saya juga mendapatkan tawaran salary yang jauh lebih baik juga, mau tahu kenapa saya bilang tawaran salary yang lebih baik? karena apa yang saya minta tidak diberikan tapi malah ditambah (pernah saya tulis disini), ga banyak sih tapi ini pertama kali nya saya minta gaji dikasih lebih selama karir saya, coba bayangkan… kalau bukan karena kuasa Tuhan lalu apalagi coba?

“Pekerjaan yang satu ini dari semua sisi benar-benar jauh jauh jauh lebih baik dari pekerjaan yang harus saya drop sebelumnya yang sempat membuat saya kecewa yang ternyata oh ternyata…. Dia sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik buat saya, percaya tidak percaya ya… tapi hal itu benar-benar terjadi loh….”

Selain itu, kondisi pekerjaan yang juga mulai bisa saya tangani saat ini, terlepas dari apapun, di pekerjaan yang baru ini saya belajar banyak sekali hal terutama tentang bagaimana saya harus bisa cuek untuk hal-hal yang ga begitu penting sampai yang benar-benar ga penting, dan itu benar-benar sangat menolong loh ternyata… maklum masih kebawa gaya kerja di Indonesia yang jauh berbeda. Itulah kenapa saya bisa nge-blog sambil menikmati waktu luang saya yang sedang tidak saya gunakan untuk belajar hal baru. Udah gitu, di pekerjaan yang baru ini juga mendapat atasan yang sangat fleksibel dan cuek yang bahkan terlampau cuek buat saya hahaha…. hal yang juga menjadi hal positif lainnya bagi saya, saya bisa makan siang dirumah karena jarak kantor ke rumah cuma 10 – 15 menit, belum lagi jam kerja yang terbilang nyaman dari jam 9 sampai jam 5 sore (tapi sering kali kalau ga ada pekerjaan urgent jam 4 atau 4.30 sore sudah disuruh balik hahaha….), bahkan selama menjelang Natal kemaren beberapa kali jam 3 sore sudah disuruh balik (walaupun handphone standby tapi kan enak bisa sambil selonjoran di rumah), belum lagi dari tanggal 24 Desember sampai 1 Januari kami 1 team berempat bagi tugas 1 orang masuk 1 hari kerja (karena semua ada 4 hari kerja – 24,27,30,31), trus sisa harinya ngapain? disuruh santai liburan tanpa potong cuti hehehe… disamping itu posisi kantor yang dekat dengan stasiun kereta dan tram stop juga menjadi hal positif lainnya saat kami sudah pindah ke rumah mungil kami nan jauh di barat sana.

Pekerjaan yang satu ini dari semua sisi benar-benar jauh-jauh-jauh lebih baik dari pekerjaan yang harus saya drop sebelumnya yang sempat membuat saya kecewa yang ternyata oh ternyata…. Dia sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik buat saya, percaya tidak percaya ya… tapi hal itu benar-benar terjadi loh…. dan saya merasa untuk kesekian kalinya Iman saya yang tipis ini diuji oleh-Nya. Mungkin kalau Tuhan ada didepan saya Dia akan bilang “hayo ga usah merasa lebih pintar, percaya saja sama saya”. Selain masalah yang berkaitan dengan pekerjaan, saya juga memiliki keluarga yang Puji Tuhan sehat. Selain itu kami sekeluarga juga tidak kekurangan walaupun tidak memiliki harta sampai melintir, dan tahun ini juga ditandai dengan datangnya 3 keluarga besar dari istri saya ke Melbourne, yang ikut meramaikan suasana kami disini yang bisa dibilang rada sepi ya… namanya juga sendirian di rantau hahaha…. rasa damai ini benar-benar tidak terbeli…

“orang yang paling bahagia adalah orang yang berada ditengah dalam kehidupan dia, karena dia tidak perlu pusing akibat kekurangan, tapi dia juga tidak kehilangan rasa syukur karena sudah terlalu kebal akibat berlebihan, dan yang paling penting dia pun tidak akan hanya fokus mengejar untuk lebih karena selalu merasa kurang”

Tahun ini juga, saya merasa bisa merayakan Natal dan Tahun Baru dengan situasi berbeda, saya merasa lebih damai dan tenang, mungkin karena kondisi yang saya miliki, tapi lebih jauh dari hal itu saya entah kenapa benar-benar merasakan kehadiran Tuhan yang untuk sekian kalinya terjadi dalam perjalanan hidup kami. Oh iya satu hal lagi yang patut untuk kami syukuri, tahun ini rumah mungil kami juga sudah mulai dibangun, horee… akhirnya mulai juga dan saya selalu mengambil foto perkembangan pembangunannya karena hampir setiap minggu kami sempatkan untuk menengok kesana dan akan saya posting di artikel terpisah ya.

Jika bicara mengenai apa yang sudah terjadi tentunya selalu ada yang baik dan ada yang buruk. Penghujung tahun seperti ini juga tidak lepas dari kebiasaan saya memikirkan hal-hal kurang baik yang sudah terjadi dan ingin saya jadikan pembelajaran kedepannya, termasuk kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik yang ingin saya ubah sebagai salah satu resolusi untuk tahun depan. Salah satu kebiasaan buruk yang ingin saya ubah adalah mengkonsumsi minuman alkohol, kebiasaan satu ini yang (saya merasa) sudah menjadi kebiasaan buruk sekarang ingin mulai saya kendalikan. Memang sih, saya minum juga tidak di Pub atau Bar (hanya beberapa kali karena ada acara kantor), dan saya tidak pernah sampai berbuat onar walaupun minum sampai mabuk dan tertidur pulas, dan yang paling penting adalah tidak sampai membuat kondisi keuangan kami goyang. Tapi tetap saja untuk kesehatan kurang baik jika terlalu banyak kan, dan juga kalau dipikir-pikir lagi sayang juga uang nya kalau dibuang terlalu banyak untuk beli minuman yang tidak murah itu terutama jenis whisky, walaupun enak dan nikmat apalagi saat musim dingin hehehe…

Tahun ini juga menjadi tahun dimana saya kehilangan seorang kawan karena sakit, sedih rasanya saat mendengar kawan kita yang masih seumuran bahkan lebih muda harus dipanggil secepat ini. Membayangkan keluarga dengan anak yang masih kecil membuat saya semakin gundah, tapi saya percaya Tuhan selalu memiliki rencana terbaik bagi umat-Nya dan akan selalu menyertai mereka melewati tahap demi tahap ujian kehidupan yang berada didepan mereka, apalagi jika mereka percaya dan berserah. Sudah 5 Tahun berturut saya selalu kehilangan kawan setiap tahunnya, hal yang kemudian semakin mengingatkan saya jika hidup di dunia itu layaknya mampir minum saja yang kita tidak tahu kapan dipanggil pulang oleh-Nya. Dan saat hal itu tiba, semua hal duniawi yang kita miliki tidak akan bisa berbuat banyak. Damailah disana kawan-kawan ku, suatu hari nanti kita akan berjumpa lagi.

Dulu saya pernah mendengar satu perkataan mendiang Papa, kurang lebih begini bunyinya “orang yang paling bahagia adalah orang yang berada ditengah dalam kehidupan dia, karena dia tidak perlu pusing akibat kekurangan, tapi dia juga tidak kehilangan rasa syukur karena sudah terlalu kebal akibat berlebihan, dan yang paling penting dia pun tidak akan hanya fokus mengejar untuk lebih karena selalu merasa kurang”. Jujur… saya dulu tidak mengerti apa maksud dari kalimat ini, tapi sekarang saya mulai bisa merasakan apa yang sedang berusaha disampaikan (alm) Papa saya. Yang ingin dia sampaikan sebetulnya adalah agar saya tidak lupa untuk berkata cukup dan bersyukur, karena hanya dengan berani cukup kita bisa merasa bersyukur, dan dengan merasa bersyukur kita bisa menghargai apapun yang sudah terjadi, baik yang sudah berada ditangan kita maupun yang masih berada di depan kita. Dan dengan bisa menghargai apa yang kita miliki dan kita kejar, maka kita bisa merasakan rasa kebahagiaan yang hakiki dalam hidup kita karena kita secara tidak langsung berhasil mengendalikan rasa kawatir kita akan masa depan yang penuh misteri. Bahasa sederhana nya adalah hiduplah di hari ini, ber-bahagia-lah dan nikmatilah prosesnya.

Semenjak hidup di Australia, saya belajar semakin banyak hal dalam kehidupan saya. Salah satunya adalah belajar untuk menikmati setiap langkah yang saya miliki dan lakukan selama disini terlepas dari manis atau pahit, dan mensyukuri apapun keadaan yang kami hadapi dan alami, baik itu yang membuat kami tersenyum maupun membuat kami menghela napas panjang. Saya sangat bersyukur untuk keadaan kami sekarang terlepas dari proses nya yang kadang terasa perih dan tidak nyaman, yang jujur sebelumnya saya prediksi tidak akan terjadi secepat ini. Melihat anak-anak tumbuh besar, sehat dan bersekolah disini menjadi hal yang tidak dapat saya ungkapkan dalam kata-kata, yang bisa menggambarkan sebesar apa rasa syukur kami. Bahkan sampai saat ini pun saya masih sering terkejut dengan apa yang sudah kami lakukan dan raih… sebuah langkah nekat yang dulu saya ambil dengan (kelihatannya) berani, yang jujur saat itu saya sendiri pun tidak tahu akan menjadi dan berakhir seperti apa sesudahnya keadaan kami setelah migrasi, yang ternyata sekarang memberikan hasil yang diluar dugaan kami bahkan lebih dari apa yang pernah saya bayangkan…. Tuhan sungguh baik…

Lagu-lagu khas natal yang selalu saya putar selama saya mengendarai mobil baik ke tempat kerja maupun sedang liburan dengan keluarga selama bulan Desember, menambah kesyaduhan yang saya rasakan akan kebesaran Tuhan dalam hidup kami (kalau memakai istilah jaman now – ambyarrr hati ku…), dan menambah besarnya rasa syukur yang kami rasakan di penghujung tahun ini sekaligus keberanian untuk menatap tahun berikutnya yang akan masuk sebentar lagi.

Terimakasih Tuhan… Terimakasih untuk tahun yang penuh berkat ini… Terimakasih telah menjaga kami… Terimakasih untuk kehidupan yang luar biasa ini… Terimakasih sudah beserta kami di tahun ini dan masih memberi kami kesempatan menyambut tahun berikutnya yang kami yakin akan penuh dengan tantangan lain yang mungkin saja lebih berat dari apa yang sudah kami lalui, tapi kami percaya Kau akan selalu menyertai langkah kami, melindungi kami dan memberikan yang terbaik kepada kehidupan kami…

Selamat tinggal tahun 2019…. dan Selamat datang tahun baru 2020 🙂

Menyongsong November

Hari ini seperti biasa karena sedang memantau 1 kejadian yang tiba-tiba sekarang stabil setelah saya ubah pengaturannya di salah satu perangkat kami, membuat saya menjadi bosan karena tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Kerja kok bisa sesantai itu sih? iya donk, kerja jangan dibawa stres, apalagi menuju akhir tahun begini, selain proyek sudah banyak yang selesai dan sesi planning juga sudah terlewati, sisanya ya kita hanya standby dan monitor service yang kita miliki agar tidak jatuh.

Waktu benar-benar cepat sekali ya… besok sudah akhir Oktober yang artinya sebentar lagi akan masuk ke November. Karena sedang tidak begitu sibuk, saya coba baca-baca lagi tulisan-tulisan saya yang dulu dan terpaku pada tulisan pertama saat kami mencoba migrasi lagi ke Melbourne untuk kedua kalinya. Membaca tulisan itu (klik disini) membuat saya jadi tambah bersyukur karena kami ternyata tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali ke posisi kehidupan kami di Jakarta (yang tadinya sudah kami persiapkan setidaknya 3 sampai 5 tahun pertama bakalan berdarah-darah terlebih dahulu) yang saat ini kami merasakan bahkan sudah diatas tingkat kehidupan yang kami miliki di Jakarta, padahal kami belum genap 3 tahun disini. Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga. Saya sendiri sering kaget sebetulnya jika mengingat lagi semua yang sudah lewat, kesempatan demi kesempatan ditunjukan oleh-Nya dengan cara-Nya yang elegan sembari memaksa saya untuk belajar sabar dan berserah diantara prosesnya, yang kemudian membawa saya tanpa sadar ke sebuah posisi yang bahkan lebih dari yang ingin saya capai. Luar biasa bukan….

 

Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga.

 

Besok, kami akan genap 2 tahun 9 bulan berada di Melbourne. Kehidupan yang kami jalanin disini bisa dibilang luar biasa karena begitu banyak kejadian yang terjadi selama ini yang tidak pernah kami sangka sebelumnya. Anak-anak kami pun sudah mulai seperti orang lokal sini, tahan dingin, si kecil manggil kakak nya langsung nama, semakin kritis, semakin kreatif, dan mulai susah diajak berbahasa Indonesia walaupun kami tetap tidak menyerah dan berusaha terus menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Kami sendiri pun sudah merasa betah, kehidupan yang kami miliki saat ini yang tidak pernah terlintas dipikiran kami sebelumnya membuat kami tidak henti-hentinya bersyukur karena lebih dari cukup. Kami pun sudah membeli sebuah rumah mungil jauh di belahan barat dari Melbourne, dan sudah mulai dibangun saat ini. Kalau memang sesuai jadwal, prediksi kami seharusnya sudah bisa selesai awal tahun depan sekitar bulan April atau Mei 2020, yang artinya kami sudah bisa mulai pindah ke rumah kami sendiri setelah itu. Hal ini secara tidak langsung juga membuat kami berhasil mewujudkan impian kami berikutnya yang tadinya kami prediksi akan sulit tercapai disini mengingat mahalnya rumah disini walaupun untuk ukuran yang mungil plus daerah yang cukup jauh dari CBD (pusat kota) jika melihat latar belakang ekonomi yang kami miliki. Tapi Tuhan berkata lain, kami diberi jalan untuk bisa membeli rumah impian kami, rumah yang tidak terlalu besar (tapi 3 kali lebih besar dari rumah kami di Jakarta yang berukuran 4 x 15 dua lantai) dengan taman di depan dan belakang, yang sebetulnya adalah salah satu tipe rumah yang saya impikan selama di Jakarta (karena rumah kami di Jakarta tidak memiliki taman hahaha…). Sesuatu yang belum tercapai di Jakarta karena harganya yang aduhai ternyata malah kami dapatkan di Melbourne, kurang baik apa coba Tuhan kepada kami.

Jika ingin dibilang, terlepas dari status tempat tinggal yang masih sewa (karena saya lebih suka punya sendiri agar tidak pusing pindahan terus) bisa dibilang jika kehidupan kami sudah mulai stabil dan mapan saat ini, kami sudah bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, di level yang jauh berbeda, dan tentunya kualitas yang jauh lebih baik dari kehidupan kami dulu. Kehidupan yang saya maksud tidak diukur dari banyaknya materi yang kami miliki ya, tabungan kami sih ga banyak apalagi sampai beratus-ratus, aset yang kami miliki pun ga limpah ruah sampai milyaran, tapi kami punya hal yang lebih berharga dari itu semua, kami punya keluarga yang sehat dan baik, kami punya anak-anak yang sehat dan membuat hidup kami tetap sibuk, kami punya kehidupan yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, kami punya kehidupan yang berkualitas, dan kami pun memiliki rasa syukur yang besar. Semua itu, bagi kami…. memiliki nilai yang lebih diatas segala materi yang ada di dunia.

Sebentar lagi kita akan masuk bulan November, bulan dimana kota ini mulai sibuk berhias untuk menyambut Natal yang sudah semakin mendekat. Bulan dimana kami mulai mengeluarkan baju-baju tipis karena mulai masuk ke musim panas yang terkenal dengan suhu ekstrim nya. Bulan dimana sisi pekerjaan pun mulai sepi dan tenang karena setiap orang mulai merencanakan liburan mereka. Bulan dimana kami pun mulai berdiskusi ingin bagaimana melewati Natal tahun ini. Tadinya saya berharap bisa merayakan Natal di rumah sendiri tahun ini, tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, setidaknya tahun depan seharusnya keinginan saya bisa tercapai (mudah-mudahan ya…). Saya punya rencana untuk BBQ an di taman belakang rumah saat Natal bersama istri dan anak-anak, bercengkerama sambil bakar ikan, udang, cumi, yang dibaluri bumbu pedas dan manis plus nasi putih panas tidak ketinggalan sambal terasi dan makan sembari lesehan diatas rumput, sambil minum bir untuk mengimbangi suhu panas bulan Desember, ahhh… nikmat bukan? Di sisi lain, saya pun bisa mewujudkan salah satu impian dari saya masih kecil dulu yang belum terwujud sampai sekarang, yaitu menghias pohon Natal sambil mendengarkan lagu-lagu Natal diputar sekaligus menghias rumah dengan dekorasi Natal sederhana. Ahh…. jadi ga sabar nunggu tahun depan 🙂

Sudah mau Natal (lagi)

Tidak terasa Oktober sebentar lagi berakhir dan November pun sudah ngintip di tikungan. Tidak lama dari situ, Desember pun datang dan kita pun semakin dekat dengan Natal. Natal kali ini akan menjadi Natal ke 3 kami di Melbourne. Tadinya kami mengira bisa merayakan Natal di rumah mungil kami tahun ini yang ternyata belum kesampaian karena pembangunan rumah kami mengalami penundaan karena satu dan lain hal. Natal, adalah hari dimana perasaan saya sering ga menentu, terlalu banyak hal dan kenangan yang bercampur aduk menjadi satu sehingga menyarukan perasaan sebenarnya yang saya rasakan.

Natal itu selain identik dengan penambahan umur saya, juga tidak terlepas dari kenangan akan (alm) Papa dan (alm) Kakak saya, juga tidak terlepas dari perasaan syukur dan damai karena suasana Natal yang saya dapatkan saat di Gereja maupun di tempat-tempat keramaian yang berhiaskan ornamen-ornamen Natal diiringi lagu-lagu khas Natal. Hemm… benar-benar menentramkan walaupun kadang perasaan saya berputar tidak menentu antara menahan rindu kepada kedua almarhum maupun rasa syukur mendalam untuk apa yang sudah terjadi dalam hidup kami sampai hari ini.

Natalan di Melbourne sedikit berbeda dengan Natalan saat di Jakarta. Saat kami masih di Jakarta, sering kali kami berkumpul dengan keluarga besar istri saat malam Natal, tentunya mama saya juga diajak agar bisa merasakan kebersamaan dan keramaian dalam menyambut Natal. Biasanya ada BBQ an segala yang semakin menambah semarak malam Natal. Pada hari Natal kami biasanya beribadah ke Gereja Kathedral, dan setelah selesai ibadah kami biasanya melanjutkan kegiatan kami ke makan malam bersama. Saat di Jakarta, selama Natal biasanya saya akan mengambil cuti cukup panjang karena setelah hari Natal saya selalu menyempatkan diri mengunjungi makam (alm) Kakak saya di Tegal sekaligus membersihkan makam dia. Perjalanan ke Tegal yang biasanya diisi juga dengan kuliner khas kota Tegal yang selalu bikin kangen, dan bertemu beberapa kawan dekat jika ada waktu.

Disini, pas hari Natal itu sepi, saat Natal biasanya kami hanya beribadah ke Gereja lalu pulang ke rumah, disini Natal tidak seramai di Jakarta loh… walaupun negara yang mayoritas penduduknya adalah kristiani, ternyata di hari Natal justru toko dan pusat pembelanjaan banyak yang tutup dan sebagian besar orang justru berada di rumah bersama keluarga atau sahabat mereka. Memang sepanjang hari menuju hari Natal hampir disetiap pojok kota Melbourne mulai berhias dan sangat meriah dengan semua ornamen Natal yang khas, begitu juga ada beberapa event yang digelar di minggu-minggu menuju Natal, khususnya di Melbourne, ada winter night market yang terkenal itu, dan ada juga hiasan-hiasan mengenai Natal yang dibuat cerita dan berupa atraksi yang disusun sebegitu rupa di dinding pajangan (di dalam ruang kaca) yang berada diluar toko Myer di CBD sana. Ada juga event-event kecil yang biasanya hanya diadakan di setiap suburb yang juga bertemakan Natal dan setelah Natal pun kota menjadi ramai kembali karena hari itu dikenal dengan Boxing Day (bukan tinju ya) yaitu hari dimana banyak sekali toko mengadakan diskon besar-besaran sehingga banyak orang yang antri untuk membeli barang-barang kebutuhan mereka terlepas dari itu barang elektronik, rumah tangga, sandang, maupun hal-hal kecil lainnya. Itulah kenapa kami ga sabar menunggu rumah mungil kami jadi, setidaknya pas Natal kami bisa membuat acara kecil-kecilan, menghias rumah kami, dan menikmati salah satu hari paling berkesan dalam hidup kami dirumah yang lebih nyaman dan tenang.

Apapun itu Natal tetap hari yang penuh dengan arti bagi kami, hari dimana rasa syukur dipanjatkan untuk banyak hal, hari dimana kami sudah seharusnya bersuka cita untuk semua hal yang sudah terjadi dalam perjalanan hidup kami. Natal tahun ini akan menjadi salah satu Natal yang penuh dengan cerita, yang kemudian akan menjadi salah satu bagian dari lembaran sejarah kehidupan kami di masa datang.