Akhirnya Titled

Yeahh…. akhirnya kami mendapatkan berita yang sudah kami tunggu selama 2 tahun, tanah yang kami beli titled!

Dan saya juga sudah ditelpon conveyancer kami dan dipertegas oleh pihak developer sendiri.

Berita ini pun langsung kami teruskan ke builder yang sudah kami pilih 2 tahun lalu agar mereka bisa segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bisa mulai membangun rumah mungil kami.

Semoga semua lancar yaaa… sudah ga sabar kami ingin memiliki tempat tinggal permanen agar ga pusing pindah-pindah alamat setiap masa sewa tidak diperpanjang oleh yang punya.

Dokumen pun langsung minta disiapkan oleh mortgage broker yang kami pilih dan minta di legalisir. Duh, beruntung kami berada di Australia yang sudah lebih tertib dan rapi, kalau di Jakarta di hari sabtu tiba-tiba minta dokumen terlegalisir sih bisa-bisa habis uang menyan banyak secara disana apa-apa dibuat drama serumit mungkin.

Disini, saya hanya perlu membawa dokumen asli ke Officeworks lalu fotocopy, dan bawa keduanya ke kantor pos mana saja dan minta di legalisir dokumen fotocopy dengan menunjukan dokumen asli dan biaya legalisir nya gratis hahaha… ga sampai 30 menit semua beres sudah termasuk waktu perjalanan karena disini kan ga macet juga.

Habis makan siang rencana nya kami ingin menengok tanah kami untuk melihat apakah siap atau tidak untuk dipindah-namakan, dan setelahnya akan menemui kawan di city disaat makan malam yang kebetulan datang dari Indonesia dan Singapura hari ini.

Advertisements

Sukses?

Oii… wah… sudah sukses ya lu sekarang!

Well, kalimat itu sering saya jumpai jika sedang terlibat chat “seru” dengan beberapa handai taulan.

Ga aneh sebenarnya, karena typical manusia yang sering kali melihat sebuah kesuksesan itu hanya dari kacamata yang ingin mereka lihat (termasuk saya hahaha…)

Apa sih sebenarnya ukuran sebuah kesuksesan?

Nah, ini adalah pertanyaan yang sulit sekali dijawab atau dicari jawabannya. Kenapa? karena ukuran sukses setiap orang itu beda-beda bro… ada yang menganggap kalau punya bisnis besar itu bisa disebut sukses, ada yang menganggap kalau anaknya bisa lulus dari Harvard adalah sukses, ada juga yang sekadar bisa beramal itu sudah sukses.

Jadi, apa itu sukses sebenarnya?

Oke, jika menurut saya, sukses adalah saat kamu berani keluar dari zona nyaman dan mengejar impian kamu dan kamu berhasil meraih nya. Nah, itu sukses menurut saya.

Hasilnya? bisa macam-macam, tergantung apa yang jadi ukuran impian kamu? materi kah, kualitas hidup kah (ini saja masih banyak cabang nya hahaha…), atau yang lain kah.

Jadi lu sudah mencapai impian?

Mencapai impian? hemm… ini sudah dijawab, jika dibilang sudah atau belum, jawabannya ya pasti sudah, toh impian saya banyak walaupun saya kere ya hahaha… tapi kalau dibilang sudah tercapai semua, ya belum sih… karena ga nyeni banget kalau sudah tercapai semua, trus sisa hidup nya buat apa donk? jalanin saja gitu? waduh… saya cepat bosan kalau harus begitu, jadi saya sering bikin impian baru (halah…. sombong nya keluar… hahaha….), eh tapi bener… impian kan ga perlu wah… seperti misalnya pengen bangun menara eipel…. halah…. cukup bisa menjaga kehidupan cinta kamu se-romantis menara eipel itu sudah lebih dari cukup hahaha… walaupun itu ga mudah…

Atau, belajarlah bersyukur, bersyukur masih sehat, nah…. itu penting loh… karena kesehatan ga bisa dibeli pakai apapun! tapi bisa kita jaga. Dan…. lebih jauh lagi jangan lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, karena pada dasar nya bukan kuantitas yang kita miliki yang membuat kita bahagia tapi kuantitas bersyukur kita yang bikin kita bahagia kan.

Eh… bener ga sih nulis kuantitas nya???

Ah… sudahlah, syukuri saja masih bisa nge-blog walaupun dilakukan mendekati jam 1 malam hahaha….

Yuk kita tidur….

Bentar lagi

Hore… bentar lagi tanah kami title, yang artinya sudah bisa settlement dan dipindah namakan ke kami dan rumah mungilnya bisa mulai dibangun.

Hari ini juga baru dapet kabar dari mortgage broker kami kalau evaluasi Bank terhadap tanah kami bagus, dan kemungkinan aplikasi pinjaman kami disetujui cukup bagus juga.

Lega deh dengernya karena kalau sampai kami gagal mendapatkan pinjaman Bank artinya kami bisa saja kehilangan seluruh down payment kami hikss… (amit-amit jangan sampai ya…)

Entah kenapa saya belakangan ini sering banget terjaga di jam 2 pagi. Jam biologis saya kayanya mulai ngaco lagi deh… biasanya sih karena saya sedang ada yang dipikirin, mungkin iya juga sih, soalnya beberapa hari atau minggu lalu sempat ada drama yang cukup menguras tenaga karena saya dihadapkan pada keputusan akan mengambil tawaran pekerjaan yang menggiurkan atau mengutamakan rumah yang sebentar lagi harus masuk proses Bank untuk pinjaman sehingga tawaran itu harus di drop.

Dua hal ini datang hampir bersamaan dan ingin saya dapatkan keduanya jika bisa, terus terang sangat menguras tenaga dan pikiran saya karena kawatir dengan aplikasi Bank kami. Karena begitu saya pindah kerjaan, semua harus di submit ulang lagi dengan kondisi kerjaan baru dan butuh waktu proses nya, sedangkan tanah bentar lagi title kan, kalau sampai delay aplikasi Bank nya bisa-bisa kami masuk kategori gagal bayar dan pembelian kami di batalkan yang artinya down payment bisa saja melayang.

Akhirnya setelah ditimbang cukup keras, saya merelakan tawaran itu melambaikan tangan kepada saya hiks…. kecewa sih karena entah kenapa saya merasa tawaran yang satu ini cukup nge-klik sama apa yang mau saya kejar. Jarang-jarang loh saya bisa punya intuisi seperti ini selama di Australia.

Ya sudahlah, toh semua ada waktunya. Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat dan kita hanya perlu percaya dan berserah. Pekerjaan yang sekarang sebetulnya enak, posisi senior, jam kerja 7 jam perhari sudah termasuk jam istirahat 1 jam. Sistemnya memang acak kadut tapi cukup reliable yang artinya kerja di weekend dan after hours hampir tidak pernah terjadi. Hanya saja untuk jangka panjang sepertinya kok kurang gimana gitu hehehe…

Ga terasa ketik punya ketik jam sudah mau jam 4 pagi. Suhu juga sedang turun karena sudah mendekati musim dingin, dan ini mata ga ngantuk-ngantuk juga, haduhh… mana wine sudah abis hahaha… udah ah… mau coba rebahan lagi sambil ngebayangin itu taman kalau rumahnya sudah beres ntar mau diapain soalnya mau coba saya kerjakan sendiri (itung-itung belajar jadi garderner hehehe…), siapa tau jadi ngantuk kan ya.

April 2019

Mood untuk menulis entah kenapa ngumpet dimana saat ini, pusing kan bacanya hahaha….

Tapi ini bener, entah kenapa kadang ga denk… sering hahaha… keinginan untuk menulis tiba-tiba hilang padahal di kepala sudah beredar beberapa ide yang bisa dituangkan kedalam tulisan, yang akhirnya malah nguap entah kenapa dan kemana, dan berakhir dengan satu tulisan panjang.

Saya biasanya menuliskan sebuah artikel (biasanya??) saat si mbarep dan si mbontot ultah, tapi entah kenapa kemaren bisa kelupaan karena ditunda lalu ditunda lagi sampai akhirnya bener-bener ga inget dan sudah terlewat jauhhhh sampai sekarang.

Ya sudahlah, setidaknya sekarang saya inget hahaha… saat mikirin tentang duo bocil yang sudah gede sekarang, saya sering merasa waktu terbang cepat sekali. Masih jelas banget di ingatan saya saat-saat saya mengendong mereka pulang dari RS Family Pluit ke rumah mungil kami di Citra satu sana. Eh… sekarang dah sak meter tinggi nya, kaya mimpi hahaha…

Dengan migrasi ke Australia, saya menemukan (banyak) hal-hal positif yang terjadi di masa-masa pertumbuhan anak-anak saya. Gaya pendidikan disini yang begitu saya sukai karena sangat mendukung dan mendorong anak-anak saya untuk bisa lebih berani, percaya diri, menghormati orang lain, mengerti jika antri itu sebuah keharusan, dan masih banyak ajaran etika dan norma kehidupan lainnya yang sejak kecil sering ditanamkan melalui kegiatan belajar mengajar. Jadi ga melulu menghafal, didikte, ngejar angka dan juara ya.
Kehidupan kami disini bisa dibilang baik, waktu yang berkualitas dengan keluarga yang bisa dicapai hampir setiap hari plus sebotol beer dingin halahh…., kualitas kehidupan yang meningkat tajam walaupun kami bukan orang berduit banyak membuat kami sangat bersyukur karena memiliki jalan ini. Kami tidak berasal dari orang-orang dengan latar belakang ekonomi yang kuat, tapi kami benar-benar merasa cukup saat ini, kami bisa hidup layak dan masih bisa nabung dikit buat masa depan.

Ga lama ini kami sekeluarga baru saja merayakan Paskah ketiga kami disini, yang kebetulan kali ini kakek nenek anak-anak sedang berada di Melbourne, yeahh… jadi rame deh… sebuah keadaan yang sering kami rindukan sejak kami migrasi ke Australia 3 tahun lalu. Maklum dulu sering ngumpul dengan keluarga besar istri, dan hal itu menjadi salah satu yang hilang saat kami memutuskan untuk hijrah ke negeri Kangguru mengejar impian kami terutama untuk kedua anak kami, walaupun saya harus bargain dan kompromi dengan banyak hal, tapi semua itu terasa layak, bahkan sangat layak.

Melbourne sudah mulai kembali normal, setidaknya dalam beberapa hari ini. Suhu kota ini sudah mulai kembali ke suhu dimana seharusnya dia berada (yaelahhh… norak ahh… mentang-mentang sudah kuat dingin tapi abis itu kerokan hahaha…), setelah beberapa minggu ini disko dangdut panas dingin panas dingin ga tentu seperti ABG sedang jatuh cinta monyet. Suhu yang enak ini membuat kami bisa jalan kaki dengan jaket ringan tanpa harus berkeringat seperti saat kita jalan di jalan Sudirman di CBD Jakarta di tengah siang bolong. Emang suhu nya berapa seh? Kisaran 15 sampai 19 derajat, ouchh… itu kan dingin?? Iya sih, awalnya kami juga merasa seperti itu, tapi setelah beberapa kali kami dicolek panasnya Negara ini saat musim panas, kami mulai sukak pake banget sama dingin hahaha…

Suhu yang cukup panas sampai bulan April bukan sebuah pertanda yang bagus juga sebenernya, karena pola seperti ini biasanya menjadi pertanda jika musim dingin akan menjadi lebih dingin dari biasanya, brrrr… bisa-bisa minus tahun ini (semoga ga ya…). April sebentar lagi akan menuju peraduan, dan bulan Mei sudah mengintip di perempatan. Bulan dimana seluruh penantian kami selama 2 tahun untuk sebidang lahan mungil yang kami beli waktu itu akan selesai disiapkan oleh developer dan bisa dipindah namakan kepada kami agar builder kami bisa mulai membangun rumah mungil kami diatasnya. Saat ini kami sedang pontang panting dengan pengajuan pinjaman Bank, yang untungnya kami dibantu seorang mortage broker yang kompeten jadi lega deh…. semoga semua proses nya lancar dan Natal tahun ini harapannya kami bisa pindah dan merayakannya dirumah kami sendiri, semoga ya…. Selain itu, beberapa kesempatan di dunia kerja yang belakangan ini tiba-tiba terbuka juga cukup membuat pusing karena hal ini bersangkutan dengan aplikasi mortage kami. Pertimbangan demi pertimbangan mulai coba kami putuskan dan pada akhirnya kami serahkan saja semua kepada Dia karena waktu Dia lah yang akan paling tepat bagi kami sekeluarga.

Minggu ini adalah minggu malas, hahh…. Minggu malas? Iya, hahaha… karena minggu ini efektif hanya 3 hari dengan bolong di hari senin dan kamis, senin libur paskah dan kamis adalah ANZAC day, seperti hari pahlawan kalau di Indonesia. Tadinya mau ambil cuti tapi setelah dipikir-pikir cuti yang belum seberapa itu mendingan saya simpan untuk yang lebih penting. Yang lebih penting itu apa, nanti saya tulis ya setelah benar-benar kejadian, tapi ga sekarang.

Ngomong-ngomong soal libur Paskah, kok bisa hari senin libur Paskah? Di Indonesia kan hanya Jumat sampai Minggu saja? Iya benar, disini pun begitu, libur benerannya mulai dari Jumat dan berakhir di hari minggu, nahh…. ini nih bedanya, libur paskah itu kan sebetulnya Jumat Agung dimana itu hari jumat dan Minggu Paskah dimana itu hari minggu. Karena hari minggu itu adalah hari libur, jadi pemerintah sini mengganti hari itu ke hari senin karena minggu itu memang sudah jatahnya menjadi hari libur, aihh… baiknya… masih bingung? Oke saya jelasin pakai libur natal yak. Natal itu kan tanggal 25 Desember (semua juga tau ya…) dan pasti tanggal merah kan yang artinya libur atau public holiday, jadi kalau tanggal 25 Desember itu jatuh di hari sabtu atau minggu, maka senin berikut nya akan jadi tanggal merah untuk mengganti libur natal yang jatuh di hari sabtu atau minggu yang memang sudah seharusnya libur. Jadi jatah libur (weekend) diganti jika ternyata ada public holiday jatuh di weekend, dan jatah cuti tetap 20 hari setiap tahun tidak berkurang hakhakhakhak… senang nya….

Nah sekarang saya bingung mau nyambung tulisannya gimana hahaha… gini nih kalau ngerjain sesuatu ga pokus, halah… fokus maksudnya. Semua jadi setengah sepatah begini.

Dah deh… nanti kita sambung lagi ya di tulisan berikut hahaha… caoo….