Pesisir

Sehari yang lalu (maksudnya kemaren hahaha….) kami mengunjungi sebuah pantai yang terkenal sampai ke ujung sana, namanya Brighton Beach. Pantai ini bisa dipastikan menjadi salah satu ikon yang akan dipamerkan di setiap pamflet wisata yang dibuat travel agen untuk tujuan Melbourne, Australia.

Pantai ini sebetulnya ga ada bedanya dengan pantai lainnya kecuali deretan rumah warna warni dengan corak beraneka ragam yang menjadi pembeda. Maklum, kreatifitas orang-orang disini membungkusnya dengan hal-hal marketing sehingga melambungkan nama pantai ini menjadi salah satu ikon yang wajib dikunjungi jika berlabuh di kota Melbourne karena, konon katanya kalau belum kesini kalian belum ke Melbourne hahaha… semua tempat wisata perasaan menggunakan jargon yang sama deh…

Pantai sendiri, sering kali mengingatkan saya akan (alm) Papa. Karena dulu Papa bekerja tidak jauh dari air laut membuat pantai menjadi begitu dekat dengan masa pertumbuhan saya sewaktu di Kota Tegal yang memiliki julukan Kota Bahari dengan salah satu ikon Pahlawan yang diusung yaitu Kom. Yos Sudarso yang dikenal dari perang perebutan Irian Barat dan tewas di laut aru (semoga benar ya hahaha…).

Saya paling suka menyisir pesisir pantai, entahlah, dengan menyisir pesisir pantai yang sering saya lakukan bersama mendiang kakak saya dengan kaki telanjang membuat saya mengingat mereka sekaligus bersentuhan dengan alam melalui telapak dan jari-jari kaki yang terbenam manja kedalam butiran pasir pantai yang halus.

Hidup kita, sering kali harus berada di pesisir, sebuah garis yang memisahkan kita dari air laut yang asin dengan daratan yang berat karena beralaskan pasir yang tidak stabil, layak nya hidup manusia. Kita bisa memilih untuk berbasah air laut nan asin sekaligus mendinginkan kulit kita yang terbakar matahari, atau kita bisa memilih untuk lebih menuju daratan yang lebih aman tapi tidak mengurangi perjuangan kita agar bisa tetap melangkah maju walaupun tidak seberat melangkah di dalam air yang berombak, atau kita bisa memilih jalur aman dengan tetap berada di pesisir walaupun kadang ada kulit kerang yang siap merobek telapak kaki kita jika kita lengah.

….atau, kita juga bisa memilih untuk tidak berada di pesisir dengan tidak mengejar impian ataupun mengambil resiko.

Hidup hanya sekali, saya pribadi tidak mau menyesali hal-hal yang tidak atau terlambat saya coba saat akan menutup mata. Karena saat itu tiba, pesisir akan menjadi perjalanan terakhir kita dengan semua telapak kaki kita dibelakang yang akan menjadi kenangan indah jika tidak terhapus oleh ombak yang kadang bisa begitu ganasnya menerjang setiap saat.

Terimakasih Tuhan, untuk selalu berserta saya di pesisir hidup saya saat berusaha mengejar apa yang ingin saya capai bagi keluarga saya dalam kehidupan saya yang singkat ini.

Selamat berhari minggu kawan…

Advertisements