Rembulan….

Semalam…. tanpa disengaja mata saya menatap rembulan saat akan menutup tirai pintu geser di belakang rumah. Rembulan bulat sempurna yang begitu indah membuat saya (tanpa sadar) menghela napas panjang, bukan karena sedang sesak napas karena corona tapi karena rembulan penuh mengingatkan saya pada awal kami berada disini. Tanpa terasa sudah lebih dari 30 purnama kami berada di kota cantik ini, keadaan yang semakin membaik setiap waktu nya membuat kami memanjatkan syukur yang tiada tara, karena semua ini tidak akan ada tanpa Dia yang membimbing langkah kami walaupun sering kali kami dibimbing dengan cara-Nya yang khas dan elegan, yang terasa getir di awal tapi menghasilkan madu di akhir.

Keadaan disini secara umum pun sebetulnya tidak bisa dibilang baik atau lebih baik dari disana (plus enam dua) dalam hal keadaan ekonomi negara nya, karena Australia resmi masuk kedalam resesi ekonomi sekarang akibat kebakaran hutan ditambah pandemic yang sukses membuat negara yang sebetulnya memiliki ekonomi yang termasuk kuat ini akhirnya goyah. Saya masih termasuk beruntung (setidaknya untuk sampai saat ini) karena bekerja di organisasi sektor kesehatan dan pelayanan non-profit, setidaknya bisnis yang digeluti oleh organisasi tempat saya bekerja tidak terkena imbas terlalu kuat oleh pandemik ini, dan posisi saya di team IT termasuk salah satu team yang tidak berada di urutan awal jika harus terjadi pengurangan karyawan, apalagi dengan hampir 80% karyawan bekerja dari rumah yang tentunya membuat support yang dibutuhkan dari team IT justru akan lebih instens dari sebelumnya, membuat saya bisa lebih rileks dalam menghadapi resesi ini, walaupun sebetulnya saya pun khawatir.

Apapun itu… cara negara ini menangani pandemik termasuk manuver pemerintah sini mendorong atau mempertahankan keadaan ekonomi bisa dikatakan luar biasa. Kucuran dana yang dikeluarkan untuk membantu bisnis dan warga (baik warga negara maupun pemegang visa penduduk tetap) Australia (mungkin) termasuk 5 besar yang terjadi di Dunia dalam keadaan pandemik ini. Hal yang kemudian secara tidak langsung membantu ekonomi negara ini secara umum tidak terperosok kedalam resesi yang lebih dalam. Kita semua hanya bisa berdoa, berdoa agar vaksin bisa segera ditemukan dan semua ini bisa cepat berlalu. Terus terang saya pribadi sudah kangen jalan-jalan melihat pemandangan di belahan lain negara bagian Victoria, bahkan ada rencana ingin road trip ke negara bagian lain. Belum lagi ada keinginan buat mudik sebentar bersama keluarga, sekedar menegok rumah mungil kami di Jakarta, menjenguk orang tua dan saudara sampai melepas kangen terhadap hal-hal yang tidak ada disini seperti makan sate ayam atau bakso di pinggir jalan contohnya… semoga perut kami masih kuat ya….

Gloomy…

Cuaca di Greater Melbourne sedang mendung kelam, keadaan cuaca untuk beberapa hari ini benar-benar tidak bersahabat karena selain hujan terus menerus, angin juga bertiup cukup kencang akibat gelombang yang datang dari antartika yang sukses membuat kota yang cantik nan dingin ini menjadi semakin dingin.

Keadaan cuaca yang seperti ini membuat pekerjaan landscaping saya harus terhenti sementara karena kan ga mungkin kerja dibawah hujan plus suhu dibawah 10 derajat. Setidaknya, tanah belakang rumah yang kemaren membuat saya menemukan beberapa “harta karun” seperti balok kayu, genteng, dan terakhir pasak besi sepanjang 75 cm, sudah berhasil saya ratakan dan padatkan dengan road base. Saya mengambil beberapa gambar selama proses nya yang bisa dilihat dibawah ini.

 

 

Begitu juga tanah di samping rumah disebelah retaining wall yang saya buat pakai papan kayu setebal 5 cm. Retaining wall yang kemudian saya bongkar dan pasang ulang di beberapa bagiannya agar bisa agak lurus, yang cukup memakan waktu dan tenaga akhirnya terlihat rada mendingan lurus sekarang. Ini keadaan yang lama,

dan ini setelah saya bongkar pasang beberapa bagian sekaligus memadatkan tanahnya pakai road base.

 

Selain tanah belakang dan samping, saya sempat membersihkan tanah depan kami dari rumput liar. Setidaknya sekarang kelihatan rada rapian karena saya belum ada waktu buat mengerjakan taman depan walaupun sudah ada beberapa gambaran mau dibuat seperti apa. Dari yang tadinya seperti dibawah ini, bahkan lebih parah karena saya lupa ambil gambar sebelum dibersihkan jadi pakai gambar lama pas serah terima 2 bulan lalu.

Jadi seperti dibawah ini, rumput liar nya yang sudah tergali masih saya kumpulkan dan tumpuk di beberapa titik karena sudah terlalu lelah untuk buang ke tempat sampah, jiahh… norak nya hahaha….

Sekarang tinggal nunggu keadaan cukup bersahabat untuk dilanjutkan dengan kerjaan berikutnya.

Walaupun… keadaan mendung kelam seperti ini, sehingga membuat proyek kecil saya untuk taman sekitar rumah mungil kami jadi terhenti sementara, tapi percayalah jika semua selalu ada hikmah dan syukur dibaliknya. Hikmah yang pertama saya rasakan adalah setidaknya saya bisa istirahat sebentar hahaha… norak ya, tapi bener loh… saya kalau bukan karena cuaca susah berhentinya karena mau cepet-cepet selesaiin kerjaan ini. Hikmah kedua, perputaran keuangan kami juga jadi lebih longgar dan lega karena punya waktu untuk nunggu gaji masuk dan melakukan budgeting lagi, ya maklum lah kami kan bukan berasal dari kalangan berada jadi semua harus kami hitung dan atur agar cukup.

Ada beberapa kawan yang bertanya ke saya kenapa kok mengerjakan landscaping sendiri. Sebetulnya awal dari semua ini karena saya ga rela membayar jasa landscaper professional yang menurut saya terlalu mahal (yang setelah saya lakukan sendiri ternyata memang ga gampang hahaha….). Setelah saya mulai mengerjakan dan mulai menyadari jika memang jasa landscaper professional wajar jika mahal (asal tidak terlalu mahal…) saya sudah terlanjur basah dan sayang kalau berhenti jadi saya lanjutin saja terus kerjaannya. Melakukan pekerjaan landscaping sendiri ternyata membuat saya belajar banyak hal loh… setidaknya 1 pelajaran yang saya dapat adalah perencanaan dan itu naik level terus selama prosesnya.

Level pertama adalah saya belajar merencanakan ingin dibuat seperti apa tanah itu, saya mulai gambar-gambar, drafting, cek barang sana sini, dan yang paling utama belajar cara membuatnya menjadi kenyataan lewat youtube, tulisan dan lain sebagainya. Setelah kebayang ingin bikin seperti apa saya harus mulai merencakan keuangan saya untuk membeli semua bahan dan alat yang saya butuhkan, dan itu ga gampang loh ternyata… karena saya ga mungkin donk beli alat mahal dan besar karena tidak berprofesi sebagai landscaper yang artinya setelah semua selesai alat-alat itu terus mau diapakan? jadi saya harus agak tricky mencari alat pengganti, cara mengerjakan, sampai arus keuangan memadai atau tidak untuk mendapatkan semua itu, naik lah ilmu saya ke level 2 dimana saya harus menghubungkan apa yang sudah saya rencanakan di awal tadi dengan yang sekarang.

Setelah semua sudah terbagi dan menjadi sebuah daftar kerja beserta kapan beli ini dan kerjain apa. Timbul masalah berikut nya, yaitu cara membawa bahan-bahan itu ke rumah. Tadinya mau pakai jasa kirim saja tapi balik lagi, saya kan masih baru jadi kalau kira-kira nya pas ga masalah, tapi kalau kurang? saya jadi harus keluar dana lebih, kalau kelebihan? jadi ga kepake kan. Jadi mau ga mau saya pergi sendiri ambil sebagian demi sebagian (itu saja masih kelebihan walaupun ga parah…) yang artinya harus bolak balik ke toko dan secara finansial harus di susun ulang karena ada beberapa bahan yang terlalu panjang atau berat sehingga harus saya ganti dengan yang lebih terjangkau untuk dimasukan kedalam mobil. Naik lagi level saya ke level 3 hahaha…. duh pusing deh…. beneran memusingkan walaupun menyenangkan ya…

Yah… apapun itu, kita sudah sewajibnya bersyukur kan ya… karena Tuhan menyediakan ikan berlimpah untuk kita makan tapi Dia pun menyediakan pancingan untuk kita gunakan, yang artinya kita juga harus berusaha kan… dan saat kita berusaha tentu tidak bisa berharap matahari bersinar terang dan sejuk sepanjang proses nya kan… tapi balik lagi, Dia juga tidak mengajarkan kita bagaimana harus menghindari hujan kan, tapi lebih kepada bagaimana menari dibawah hujan dan hadiahnya adalah sebuah pelangi yang indah setelah itu.

Apapun yang terjadi selama proses kehidupan saya yang akan mendekati paruh baya ini, baik itu pahit maupun manisnya, saya akan selalu ingat untuk mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Karena tanpa kedua hal itu secangkir kopi tidak akan terasa nikmat, begitupun kehidupan manusia. Sebuah perjalanan hidup itu menurut saya bukan diukur dari apa yang kita capai dan bagaimana kita meninggal, tapi lebih kepada bagaimana kita berproses sepanjang perjalanan hidup kita dan didalamnya. Jangan lupa bahagia ya…. 🙂

Our new home

Horee… setelah penantian seakan tak berujung, akhirnya ijin membangun keluar dan rumah kami sudah mulai dibangun (joget-joget kaya orang kesurupan…. halahh…), dan setiap minggu kami jadi punya kesibukan tambahan deh… yaitu datang ke lokasi buat mengecek perkembangan pembangunannya (rajin amat kaya ga ada kerjaan ya hahahaha….), terlebih saat pembangunan sudah masuk ke interior. Sebetulnya kita memang harus ngecek loh, karena saat serah terima nanti jika semua kita iyain ya ga bisa protes kalau ternyata ada salah kan… dan kalau kita kasih tau salahnya pas serah terima, jiahhh… tertundanya bisa panjang nanti dan kami ga pindah-pindah. Kalau ditanya kenapa kok ngotot banget mau pindah, ya sebetulnya diantara ngotot dan ga juga sih, ngotot karena tentu mempercepat selesainya bayar dobel, dan jadi lebih tenang karena ga perlu deg-deg-an rumah sewa mau dipake atau di jual dan harus pindah. Disini pindah rumah itu cape tau… karena semua data-data kita harus di update dengan alamat baru dan itu beneran harus dilakukan termasuk SIM kita. Ga ngotot nya ya karena apalagi kalau bukan karena jarak, tinggal dirumah sewa sekarang kemana-mana deket, sekolah anak-anak juga bagus, lingkungan juga enak, walaupun bayar sewanya kaga enak karena termasuk mahal hahaha…Karena kami hampir tiap hari eh…. hampir tiap minggu liatin tuh rumah dibangunnya sudah sampai mana, tidak lupa juga saya coba mendokumentasikan proses pembangunan rumah kami. Semacam saya poto-poto gitu lah… Ga terjadi setiap minggu sih sebenernya karena ada masa libur lumayan panjang seperti Natal, kadang berhenti juga karena cuaca tidak mendukung, dan masih banyak lah tetek bengek nya yang bikin ke tunda hahaha…, jadi sebisanya saya urutin ya foto nya hehehe….

==

November 2019 – Minggu ke-2

Pertama, akhirnya pagar kami dibongkar dan diganti pagar builder karena alasan asuransi. Bagus lah jadi kami tidak perlu keluar duit buat sewa pager lagi hehehe…. Tanah ini tadinya memang kami pagarin setelah serah terima (kurang lebih dari Mei sampai Oktober) untuk menjaga agar tidak ada orang yang buang sampah di tanah kami, apalagi sampah pembangunan. Disini kalau tanahnya tidak bersih builder ga mau mulai bangun, bahkan rumput rada tinggi aja musti kita potong dulu.

==

November 2019 – Minggu ke-4

Setelah itu, beberapa minggu kemudian tanah kami mulai dibuat rata sebagai persiapan untuk membuat pondasi rumah atau disini disebut slab, macam cor-coran gitulah kalau di Indonesia sana, alhasil tanah rumah kami jadi naik lumayan tinggi (kurang lebih 60 CM).

==

Desember 2019 – Minggu ke-2

Setelah semua siap pondasinya pun mulai dibuat dan tinggal menunggu kering (tuh yang warna abu-abu). Proses pembuatan pondasi ini cuma butuh waktu sebentar sebetulnya, tapi karena direntang waktu yang direncanakan malah terjadi hujan di beberapa hari, jadi molor deh… karena toh percuma ngecor kalau akhirnya basah dan anyut kan… (jiahhh anyut wakakaka…. bahasa mana lagi itu…)

Akhirnya pondasinya kering horee… (kenapa saya bisa seneng gini ya hahaha…) selanjutnya adalah tahap pembangunan rangka rumah/ frame. Disini kebanyakan rumah dibangun dari kayu atau besi, jadi ga seperti disana yang pakai cor-cor-an. Mungkin karena disini ga se-lembab disana ya… dan menurut orang-orang sini menggunakan kayu katanya lebih awet dan justru lebih kuat karena lebih flexible, walaupun kalau kena api ya runyam karena lebih mudah terbakar, entahlah… karena menurut saya pakai kayu justru lebih mahal perawatannya dan tidak ramah lingkungan karena harus nebang banyak puun kann… apalagi kemaren abis bush fire atawa kebakaran hutan, abis banyak tuh hutan di Australia jadi botak item tandus.

==

Desember 2019 – Minggu ke-4

Kerangka rumah kami pun mulai dibangun dan dipasang. Lumayanlah sudah keliatan seperti rumah sekarang hahaha…. dan… tidak lupa saya abadikan juga, sekalian jadi tanda pengecekan terakhir tahun 2019 karena builder pun akan liburan Natal dan Tahun Baru dulu 4 sampai 5 minggu.

==

Januari 2020 – Minggu ke-3

Liburan pun usai, pembangunan pun mulai lagi. Nah… sekarang atapnya rumah mungil kami sudah tertutup, dan tembok pun sudah mulai dipasang. Di tahap yang satu ini saya rada bingung sebetulnya, karena mereka masang pipa nya ternyata melintang di dinding, dan bukan cuma 1 pipa loh, ada ungu, kuning, tembaga, dll. Lah… kalau saya mau ngebor ngebor gimana? duhh… bikin pusing aja, saya males soalnya kalau mau pasang apa-apa musti panggil tukang, males bayar nya hahaha… disini panggil tukang mahal. Tapi tenang… disini ada alat yang pakai sensor dan bisa mendeteksi apapun yang ada di dalam dinding baik itu pipa, kabel ataupun kayu. Jadi harus beli aja alat nya sekalian beli alat lainnya buat jadi tukang-tukangan.

Nahh… di Australia rumah dinding luarnya ternyata ada yang pakai bata tempelan gitu, jadi sudah berupa lembaran dinding bata trus ditempel gitu di kusen kayu, entahlah saya juga bingung gimana pasangnya sampai itu dinding awet bener ga rubuh. Nah rumah kami ternyata ga pakai bata lembaran begitu, tapi pakai bata beneran yang di semen dan disusun satu per satu, foto dibawah ini ga banyak berubah sebenernya, karena cuma nambah beberapa tumpuk batu bata saja hahaha… tapi ga papa deh, karena kami hampir setiap minggu kesana buat cek-ri-cek, jadi taro sini saja deh foto nya buat kenang-kenangan.

==

Februari 2020 – Minggu ke-2

Nah…. yang satu di bawah ini setelah bata mulai dipasang, beberapa minggu kemudian dari gambar diatas ternyata dinding bata sudah berdiri walaupun baru dikit hahaha…, dan rumah kami pun sudah mulai terlihat dinding batanya terutama di bagian garasi hehehe…. kenapa beberapa minggu kemudian, karena disini bangun rumah lihat cuaca, kalau cuaca sedang ekstrim ya ga bisa lanjut dulu alias libur.

==

Februari 2020 – Minggu ke-3

Seminggu kemudian setelah itu akhirnya dinding nya sudah berdiri beneran. Walaupun rada bingung-bingung juga sama cara orang sini membangun dinding tapi ya sudahlah yang penting asal ga roboh.

==

Maret 2020 – Minggu ke-1

Setidaknya sekarang dah berbentuk dan pembangunan lanjut ke bagian dalam. Rumah kami memang kecil, lokasi di barat dari Melbourne yang bagi beberapa orang sini langsung “gatel-gatel alergi” begitu mendengar lokasi daerah barat, dan biasa deh langsung bandingin ini lah itu lah dah macam investor kelas kakap aja, norak juga berbatas kalee… jangan sampai kelewatan, kalau kelewatan puter balik di pengkolan… Dan jangan lupa juga kalau saya beli rumah tujuannya buat ditinggalin bukan buat investasi apalagi buat diadu sama orang lain. Rumah yang kami beli, walaupun kecil dan sederhana yang penting rumah sendiri, dan biarpun sederhana tetap level rasa puasnya beda karena kami benar-benar beli sendiri loh…. (nyombong dikit boleh donk… ) ga pakai minjem duit ortu apalagi dikasih modal. Jadi ya beli yang kami mampu saja deh… abis gimana, kan yang penting punya rumah sendiri tujuannya.

==

Maret 2020 – Minggu ke-2

Tadaaa… sebagian sudah di plester sodara-sodara hahaha… dan bagian dalam juga sudah mulai di tutup temboknya. Tadi sempet lirik-lirik ke dalem ternyata cukup okelah baik ukuran maupun tampaknya, tapi mending tunggu sampe selese ya baru bener-bener keliatan seperti apa hahaha… Tadinya mau ambil video jalur pipa dan lain-lain, tapi dah keburu ditutup dindingnya. Ya sudahlah, ntar coba beli alat deteksi kehamilan eh… maksudnya alat deteksi pipa di dalam dinding yang ada dijual di Bunning Warehouse kalau mau maku-maku macam tukang ahli hehehe….Nah… beberapa minggu ini builder mulai beresin bagian dalam, mereka mulai pasang alat-alat di dalam rumah seperti lampu, stop kontak, wastafel dan lain sebagainya sesuai list dalam kontrak yang sudah disepakati bersama diawal.

Masih kotor dan berantakan… dan ternyata mereka rada ngebut juga karena sabtu yang biasanya sepi eh… sekarang ada yang kerja loh… kami jadi ga bisa masuk buat cek dan ri-cek deh karena kan belum serah terima kunci secara resmi yang artinya kami harus ijin kalau mau masuk ke area proyek. Maklum disini ketat sekali masalah gitu-gituan karena berhubungan dengan keselamatan kerja.Selain itu, wabah virus corona juga membuat deg-deg-an, karena kalau sampai diminta lockdown ya artinya bakalan mundur lagi kan beresnya, mungkin hal itu juga yang membuat mereka sekarang sabtu minggu ngebut agar beres dan bisa terima bayaran dan serah terima kunci.

biarpun sederhana tetap level rasa puasnya beda karena kami benar-benar beli sendiri

==

April 2020 – Minggu ke-4

Dannn… Wabah Covid-19 pun melanda Australia hix… dan Negara Bagian Victoria mulai menetapkan status gawat darurat yang kemudian naik menjadi level 3 shutdown dalam 4 minggu. Keadaan ini membuat kami jadi ga bisa keluyuran deh… termasuk melihat perkembangan rumah mungil kami. Untungnya Mas Marco, si Supervisor yang membangun rumah kami bisa kami hubungi handphone nya, dan mau foto-foto in kemajuan dari pembangunan rumah kami, lumayan dapet 3 foto untuk bagian dalam yang sudah selesai dikerjakan.

Kami sejauh ini suka sama hasilnya walaupun baru berupa foto, termasuk rapi dan sesuai keinginan kami. Dan menurut Mas Marco, dalam 3 sampai 4 minggu semua harusnya sudah selesai dan bisa lanjut ke serah terima. Horee… berarti kami bisa mulai mempersiapkan pindahan dan mulai sibuk menata rumah baru kami yang mungil.

==

Mei 2020 – Minggu ke-2

Dua minggu kemudian kami mendapatkan email yang mengatakan rumah kami sudah 90% selesai, bahkan pagar nya saja sudah berdiri dan akan di inspeksi terlebih dahulu secara resmi untuk mendapatkan sertifikat layak huni. Artinya, saat di serah terima rumah itu memang sudah dalam keadaan layak huni sesuai standard yang dimiliki oleh Negara Australia, dan nanti pihak Bank pun akan inspeksi juga sebelum melunasi pembayaran terakhir ke Builder. Kalau dihitung-hitung dalam sebulan kurang lebih seharusnya semua sudah siap di pindah tangan dan kami pun bisa mulai bersiap untuk pindahan.Nah… minggu kedua Mei kami coba mengunjungi rumah mungil kami buat kami intip-intip dari jendela dan tentunya tidak lupa kami foto juga hasilnya. Rada deg-deg-an sih nyetir kesana nya karena kan masih level 3 shutdown disini, tapi ternyata aman pergi dan pulang, matur nuwun Gusti. Kami pun sempatkan mengunjungi IKEA untuk mulai lihat-lihat apa yang ingin dan mampu kami beli agar bisa dikirim sekaligus ke rumah kami saat sudah terima kunci, maklum lagi coba ngirit karena ongkos kirimnya mahal disini. Seru loh… debat dan diskusi sama istri hahaha… ya ga papa kan prosesnya sehat dan untuk tujuan yang lebih baik.

Selain itu, saya juga mulai lihat-lihat asuransi rumah, alat-alat buat main tukang-tukang-an yang ingin saya beli nanti, sampai sistem keamanan rumah seperti kamera dan alarm. Selain itu juga mulai menentukan di titik mana ingin dipasang kamera nya karena rencana nya ingin dipasang sendiri semuanya kalau bisa. Dan ini belum selesai karena saya masih harus susun list semua akun kami yang harus diubah alamat nya dll…

==

Mei 2020 – Minggu ke-3

Certificate of Occupancy atau sertifikat layak huni pun keluar, itu artinya kami akan segera melakukan tur mengelilingi rumah mungil kami bersama supervisor yang membangun rumah kami sekalian melakukan pengecekan terhadap semua hal yang seharusnya kami dapatkan sesuai kontrak. Dan kami pun sudah mendapatkan jadwal melakukan hal itu di hari kamis minggu ke-3 Mei ini. Dan dari tour itu pun kami tidak melihat banyak hal yang harus dibetulkan karena sejauh ini kami cukup puas dengan pekerjaan builder yang kami pilih ini. Dan tentunya tidak lupa foto kami sertakan untuk kenang-kenangan keadaan sebelum di handover.


==

Juni 2020 – Minggu ke-1

Akhirnya, dapat kabar jika rumah kami akan di inspeksi oleh pihak Bank yang memberikan kami KPR dan pembayaran terakhir sudah dilakukan setelah inspeksi. Itu artinya dalam waktu 1 minggu kedepan serah terima kunci sudah bisa dilakukan, dan dalam 4 minggu paling cepat kami sudah bisa pindah ke rumah mungil kami. Proses panjang ini akhirnya menuju ke titik akhir, walaupun kami jujur saja deg-deg-an juga ya… karena covid-19 yang memukul dengan keras ekonomi Australia setelah sebelumnya dihantam dengan keras oleh kebakaran hutan, membuat Australia di ambang resesi. Duh… semoga semua dalam keadaan aman terkendali dan ekonomi bisa selamat ya.

Karena sudah mendapatkan update jika dalam 1 minggu sudah bisa serah terima, saya pun menelpon mama angkat saya (karena Beliau mengerti bagaimana mencari hari baik) untuk mencarikan sebuah hari baik, setidaknya jika di hari baik itu kami belum bisa pindah, kami pakai syarat dulu biar semua baik dan lancar menurut kepercayaan kami. Hari baik pun sudah didapat, dan hari itu adalah… ssttt…. itu rahasia hahaha…

==

Juni 2020 – Minggu ke-2

Yeyyy…. akhirnya dapat kabar dari mas Marco kalau Jumat minggu kedua Juni sudah bisa di serah terimakan rumah nya, saya pun langsung menghubungi atasan saya karena harus ijin meninggalkan pekerjaan lebih cepat yang langsung di-iya-kan plus di-selamatin, ya walaupun kerja dari rumah ya… kalau saya ngilang apalagi di Jumat sore sih biasa ga dicariin, tapi kan kita harus bisa punya etika juga donk ya, masa sudah di percaya kerja di rumah masih berusaha madol tanpa alasan.

Saya pun mulai memasukan semua peralatan yang dibutuhkan buat pasang gorden (yang sudah kami siapkan hahaha….), jadi rencananya di hari Jumat itu setelah serah terima saya mau pasang gorden dulu buat jendela depan, biar ga keliatan gitu, kan mayuu… dan hari sabtu nya kami rencana balik lagi dengan sebagian barang yang sudah kami kemas dan packing sambil melanjutkan pasang gorden buat jendela yang lainnya.

==

12 juni 2020

Inilah hari dimana kami serah terima rumah mungil kami, bersyukur banget karena kami berjuang sangat keras untuk bisa membeli rumah mungil ini dan itupun masih pakai minjem Bank. Apapun ukuran dan jauhnya dari pusat kota, setidaknya kami memiliki rumah sendiri sekarang. Sudah selayaknya kami bersyukur karena dulu untuk punya impian beli rumah di Melbourne pun kami tidak berani, maklum kami bukan dari latar belakang keluarga berada dan berlimpah yang bisa dapat kucuran dari atas, dan sekarang bisa punya beneran di lokasi yang kami suka karena agak jauh dari kebisingan dan lokasi nya di antara 2 lampu jalan yang terang banget, jadi merasa aman hahaha…. Dari hal ini, sekali lagi Tuhan menunjukan jalan-Nya dengan cara yang tidak terduga dan elegan dalam hidup kami.

Kesibukan pun dimulai, semua gorden akhirnya berhasil kami pasang kemaren sore setelah serah terima selesai dan seperti nya tulisan ini sudah kepanjangan deh… hahaha…. Sudah dulu ya, nanti saya lanjut nulis lagi saat ada waktu karena kemungkinan besar saya akan sibuk dengan semua perpindahan ini, belum lagi harus ngurusin taman depan dan belakang yang masih belum ada bayangan mau diapakan dan juga merancang kamar tidur anak-anak dan yang lainnya.

Mendekati 4

Suhu sedang berada di angka 4 saat tulisan ini ku rawi, brrr… dingin ya. Entah kenapa pagi ini saya terjaga dan tidak bisa tidur lagi, mungkin karena perasaan excited karena sore nanti rumah mungil kami sudah akan di serah terima kan kepada kami yang artinya kami bisa mulai merencanakan pindahan (akhirnya) ke rumah sendiri.

Sekilas ada sebuah pikiran melintas di kepala saya, akhir tahun ini ternyata saya sudah akan masuk dekade ke-4, yang artinya 4 dasawarsa sudah saya lalui. Ada sebuah perasaan gundah sebetulnya yang mengganggu saya, kehidupan saat pensiun seperti apa yang ingin saya miliki. Sebetulnya pikiran ini sudah ada dari 9 tahun lalu saat saya sedang rajin-rajin nya berusaha mendapatkan PR Australia agar bisa migrasi kesini. Saat itu, saya berada dalam dilemma yang cukup kuat, antara memulai semua dari Nol lagi yang artinya persiapan masa tua yang sudah saya lakukan kemungkinan besar harus di ulang lagi atau tetap di Indonesia saja sampai memupuk apa yang sudah saya tanam. Keputusan yang saya ambil saat itu adalah migrasi jika memungkinkan. Gila sih, saya meletakan semua jerih payah selama 10 tahun (dengan hanya meninggalkan rumah mungil pertama kami di Jakarta sebagai aset investasi) untuk memulai lagi semuanya dari awal disini. Dan disinilah kami sekarang, berjuang kembali membangun kehidupan kami.

Saat ini, perasaan yang sama menghantui saya lagi, otak saya berputar dan tidak bisa berhenti memikirkan apa yang ingin saya capai untuk masa pensiun nanti (yang jika diijinkan Tuhan kami masih hidup dan sehat) yang oleh pemerintah Australia di patok di angka 67 tahun saat ini untuk semua kelahiran setelah 1 Juli 1957. Ada sih beberapa rencana masa depan yang sedang saya bangun bersama istri saya untuk persiapan pensiun kami ditengah semua utang yang harus kami lunasi termasuk rumah mungil kami ini yang saat ini berusaha saya target kan selesai dalam 15 tahun dari masa pinjaman 30 tahun (semoga bisa), walaupun pensiun itu sendiri terjadinya masih 27-30 tahun lagi jika semua sehat dan lancar.

Entahlah, saya mungkin termasuk dalam golongan manusia yang bisa disebut aneh ya, lah wong masih lama kok sudah dipikirkan dari sekarang. Ya itulah kalau kita harus benar-benar berdiri di kaki sendiri, tentu tidak bisa instant dan tiba-tiba saat menginginkan sesuatu kan. Itulah kenapa harus di rencanakan dari jauh-jauh hari. Mungkin saja suatu hari saya dapat jack-pot lotere, ya siapa tau kan…. tapi ya masa mau ngandalin sesuatu yang masih mungkin terjadi itu tadi. Kita tetap harus planning donk ya… apalagi posisi kita sebagai kepala keluarga ya tentu saja harus bertanggung jawab kan, karena kan semua yang sudah pasti sudah ada di depan mata nih, seperti pendidikan anak-anak, biaya perawatan rumah, melunasi pinjaman ke Bank dan lain sebagainya.

Walaupun saat ini sebetulnya sudah ada beberapa rencana, termasuk salah satunya kembali ke Indonesia saat pensiun sambil membawa semua pundi-pundi yang kami kumpulkan disini (karena mata uang sini lebih kuat untuk saat ini) jika diperlukan, kami tetap mau berusaha dan ingin membangun sesuatu yang bisa membuat kami bisa menikmati masa pensiun di Australia selain karena kami lihat dan rasa lebih manusiawi, juga biar bisa lebih dekat dengan anak-anak dan tidak menyusahkan mereka. Beberapa rencana sudah cukup matang sih bagusnya, dan istri juga sudah setuju dengan beberapa strategi yang saya jelaskan kepada dia untuk 25-30 tahun mendatang tentang apa yang ingin saya capai untuk kami berdua. Dan kami pun sudah sepakat untuk menjalankan strategi pertama kami. Semoga saja kami masih memiliki cukup energi dan kuat untuk menjalani rencana gila kami berikutnya ya, harus bisa donk ya… kan kekuatan impian itu salah satu bensin agar kita tidak menyerah.