Paskah 2020

Paskah keempat kami di Melbourne ditandai dengan adanya virus yang dikenal dengan nama corona yang sedang menjadi wabah di seluruh dunia. Wabah yang akhirnya membuat banyak orang kehilangan pekerjaan mereka, kehilangan orang yang mereka sayang bahkan sampai kehilangan nyawa mereka. Wabah yang memaksa banyak kota harus melakukan pembatasan dan membuat banyak industri merana terutama industri perhotelan, penerbangan, dan pabrik-pabrik.

Wabah yang juga membuat cara manusia beribadah berubah total dari kehadiran fisik menjadi virtual, begitu juga sebagian besar perusahaan yang masih beroperasi mulai menerapkan cara bekerja yang dilakukan dari rumah secara remote. Saya secara pribadi sebetulnya masih sangat sangat sangat bersyukur. Selain karena masih memiliki pekerjaan sampai artikel ini saya ketik, kami sekeluarga dan keluarga kami di Jakarta dan daerah lainnya dalam keadaan sehat sampai saat ini. Tidak hentinya saya memanjatkan rasa syukur kepada Dia atas semua berkat ini, setidaknya kami masih bisa menyambung kehidupan kami dengan sedikit agak normal, hanya perlu diam di rumah yang sebetulnya bikin kaki gatel karena terbiasa keluyuran.

Selain itu, saya juga merasa sedih karena beberapa kawan saya kehilangan pekerjaan mereka baik di Australia maupun di Indonesia akibat dari wabah ini. Terlepas dari kekuatan finansial mereka, kehilangan pekerjaan itu adalah hal yang cukup membuat kita tertekan secara psikis, dan sudah pasti tidak mudah untuk dihadapi terlebih jika kita dalam keadaan kesulitan secara finansial. Semoga wabah ini cepat teratasi dan ekonomi semakin cepat pulih agar kita semua bisa beraktifitas kembali secara normal.

Karena saya masih bisa memiliki pekerjaan dan masih bisa menerima pemasukan bulanan, saya melakukan beberapa hal yang bisa saya lakukan agar ekonomi bisa sedikit berjalan. Salah satunya, saya sempatkan sekali atau dua kali beli makanan jadi take away di restoran. Bukan karena malas masak dan mungkin tidak seberapa, tapi saya berharap dengan melakukan hal ini, setidaknya saya bisa ikut membuat restoran bertahan, dan jika mereka bertahan efek domino nya yang saya harapkan bisa mengurangi pengangguran karena pekerja restoran, uber eat dll semoga ikut terjaga bisa tetap bekerja.

Hari ini Jumat Agung, sembari ditemani segelas whisky dan lagu-lagu mendiang Glenn Fredly yang akan selalu menjadi kenangan bagi seluruh penggemar nya termasuk saya, yang saya streaming secara online dari Youtube dengan menggunakan internet kantor tapi laptop ada di rumah, saya mencoba untuk menuliskan sesuatu yang semoga bisa menjadi pengingat saya dan keluarga tentang ganas nya salah satu wabah yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia. Wabah yang membuat kita semua tersadar tentang betapa tidak berdayanya kita sebagai manusia terlepas dari apapun yang kita miliki. Wabah yang membuat kita semua sadar jika kita hanyalah debu dihadapan Dia yang Maha Kuasa. Wabah yang semoga mengajarkan kita tentang arti sebuah kehidupan yang sudah seharusnya kembali kepada keluarga dan Tuhan bukan kepada harta benda dan segala gemerlap nya yang fana dan sementara.

Selamat menikmati liburan panjang kawan, selamat Paskah 2020 dan semoga Tuhan memberkati dan menjaga kita semua sampai akhir jaman.

April 2019

Mood untuk menulis entah kenapa ngumpet dimana saat ini, pusing kan bacanya hahaha….

Tapi ini bener, entah kenapa kadang ga denk… sering hahaha… keinginan untuk menulis tiba-tiba hilang padahal di kepala sudah beredar beberapa ide yang bisa dituangkan kedalam tulisan, yang akhirnya malah nguap entah kenapa dan kemana, dan berakhir dengan satu tulisan panjang.

Saya biasanya menuliskan sebuah artikel (biasanya??) saat si mbarep dan si mbontot ultah, tapi entah kenapa kemaren bisa kelupaan karena ditunda lalu ditunda lagi sampai akhirnya bener-bener ga inget dan sudah terlewat jauhhhh sampai sekarang.

Ya sudahlah, setidaknya sekarang saya inget hahaha… saat mikirin tentang duo bocil yang sudah gede sekarang, saya sering merasa waktu terbang cepat sekali. Masih jelas banget di ingatan saya saat-saat saya mengendong mereka pulang dari RS Family Pluit ke rumah mungil kami di Citra satu sana. Eh… sekarang dah sak meter tinggi nya, kaya mimpi hahaha…

Dengan migrasi ke Australia, saya menemukan (banyak) hal-hal positif yang terjadi di masa-masa pertumbuhan anak-anak saya. Gaya pendidikan disini yang begitu saya sukai karena sangat mendukung dan mendorong anak-anak saya untuk bisa lebih berani, percaya diri, menghormati orang lain, mengerti jika antri itu sebuah keharusan, dan masih banyak ajaran etika dan norma kehidupan lainnya yang sejak kecil sering ditanamkan melalui kegiatan belajar mengajar. Jadi ga melulu menghafal, didikte, ngejar angka dan juara ya.
Kehidupan kami disini bisa dibilang baik, waktu yang berkualitas dengan keluarga yang bisa dicapai hampir setiap hari plus sebotol beer dingin halahh…., kualitas kehidupan yang meningkat tajam walaupun kami bukan orang berduit banyak membuat kami sangat bersyukur karena memiliki jalan ini. Kami tidak berasal dari orang-orang dengan latar belakang ekonomi yang kuat, tapi kami benar-benar merasa cukup saat ini, kami bisa hidup layak dan masih bisa nabung dikit buat masa depan.

Ga lama ini kami sekeluarga baru saja merayakan Paskah ketiga kami disini, yang kebetulan kali ini kakek nenek anak-anak sedang berada di Melbourne, yeahh… jadi rame deh… sebuah keadaan yang sering kami rindukan sejak kami migrasi ke Australia 3 tahun lalu. Maklum dulu sering ngumpul dengan keluarga besar istri, dan hal itu menjadi salah satu yang hilang saat kami memutuskan untuk hijrah ke negeri Kangguru mengejar impian kami terutama untuk kedua anak kami, walaupun saya harus bargain dan kompromi dengan banyak hal, tapi semua itu terasa layak, bahkan sangat layak.

Melbourne sudah mulai kembali normal, setidaknya dalam beberapa hari ini. Suhu kota ini sudah mulai kembali ke suhu dimana seharusnya dia berada (yaelahhh… norak ahh… mentang-mentang sudah kuat dingin tapi abis itu kerokan hahaha…), setelah beberapa minggu ini disko dangdut panas dingin panas dingin ga tentu seperti ABG sedang jatuh cinta monyet. Suhu yang enak ini membuat kami bisa jalan kaki dengan jaket ringan tanpa harus berkeringat seperti saat kita jalan di jalan Sudirman di CBD Jakarta di tengah siang bolong. Emang suhu nya berapa seh? Kisaran 15 sampai 19 derajat, ouchh… itu kan dingin?? Iya sih, awalnya kami juga merasa seperti itu, tapi setelah beberapa kali kami dicolek panasnya Negara ini saat musim panas, kami mulai sukak pake banget sama dingin hahaha…

Suhu yang cukup panas sampai bulan April bukan sebuah pertanda yang bagus juga sebenernya, karena pola seperti ini biasanya menjadi pertanda jika musim dingin akan menjadi lebih dingin dari biasanya, brrrr… bisa-bisa minus tahun ini (semoga ga ya…). April sebentar lagi akan menuju peraduan, dan bulan Mei sudah mengintip di perempatan. Bulan dimana seluruh penantian kami selama 2 tahun untuk sebidang lahan mungil yang kami beli waktu itu akan selesai disiapkan oleh developer dan bisa dipindah namakan kepada kami agar builder kami bisa mulai membangun rumah mungil kami diatasnya. Saat ini kami sedang pontang panting dengan pengajuan pinjaman Bank, yang untungnya kami dibantu seorang mortage broker yang kompeten jadi lega deh…. semoga semua proses nya lancar dan Natal tahun ini harapannya kami bisa pindah dan merayakannya dirumah kami sendiri, semoga ya…. Selain itu, beberapa kesempatan di dunia kerja yang belakangan ini tiba-tiba terbuka juga cukup membuat pusing karena hal ini bersangkutan dengan aplikasi mortage kami. Pertimbangan demi pertimbangan mulai coba kami putuskan dan pada akhirnya kami serahkan saja semua kepada Dia karena waktu Dia lah yang akan paling tepat bagi kami sekeluarga.

Minggu ini adalah minggu malas, hahh…. Minggu malas? Iya, hahaha… karena minggu ini efektif hanya 3 hari dengan bolong di hari senin dan kamis, senin libur paskah dan kamis adalah ANZAC day, seperti hari pahlawan kalau di Indonesia. Tadinya mau ambil cuti tapi setelah dipikir-pikir cuti yang belum seberapa itu mendingan saya simpan untuk yang lebih penting. Yang lebih penting itu apa, nanti saya tulis ya setelah benar-benar kejadian, tapi ga sekarang.

Ngomong-ngomong soal libur Paskah, kok bisa hari senin libur Paskah? Di Indonesia kan hanya Jumat sampai Minggu saja? Iya benar, disini pun begitu, libur benerannya mulai dari Jumat dan berakhir di hari minggu, nahh…. ini nih bedanya, libur paskah itu kan sebetulnya Jumat Agung dimana itu hari jumat dan Minggu Paskah dimana itu hari minggu. Karena hari minggu itu adalah hari libur, jadi pemerintah sini mengganti hari itu ke hari senin karena minggu itu memang sudah jatahnya menjadi hari libur, aihh… baiknya… masih bingung? Oke saya jelasin pakai libur natal yak. Natal itu kan tanggal 25 Desember (semua juga tau ya…) dan pasti tanggal merah kan yang artinya libur atau public holiday, jadi kalau tanggal 25 Desember itu jatuh di hari sabtu atau minggu, maka senin berikut nya akan jadi tanggal merah untuk mengganti libur natal yang jatuh di hari sabtu atau minggu yang memang sudah seharusnya libur. Jadi jatah libur (weekend) diganti jika ternyata ada public holiday jatuh di weekend, dan jatah cuti tetap 20 hari setiap tahun tidak berkurang hakhakhakhak… senang nya….

Nah sekarang saya bingung mau nyambung tulisannya gimana hahaha… gini nih kalau ngerjain sesuatu ga pokus, halah… fokus maksudnya. Semua jadi setengah sepatah begini.

Dah deh… nanti kita sambung lagi ya di tulisan berikut hahaha… caoo….

Paskah ke 2

Tidak terasa kami merayakan Paskah kedua di Melbourne. Waktu begitu cepat berlalu walaupun jujur… Saat kami melewatinya dulu tidak terasa cepat.

Culture shock yang begitu kuat membuat saya beberapa kali sempat goyang dan sempat memutuskan untuk menyerah. Tidak mudah kawan… Sungguh tidak mudah… Pindah negara itu tidak sekedar pindah rumah, mindahin baju, badan dsb. Banyak sekali hal yang harus kita hadapi dan atasi terlebih dari sisi psikis mau sesiap apapun kita menyiapkan diri kita.

Dan dari pengalaman itulah…saya mengucapkan syukur kepada Dia karena kami masih merayakan Paskah disini. Paskah di Melbourne atau di Australia sedikit berbeda dengan di Indonesia. Disini pada hari Jumat dimana kami merayakan Jumat Agung, 99% pertokoan tutup, bahkan toko besar seperti Aldi, Woli dan Coles pun sebagian besar tutup. Aldi malah tutup semuanya. Hal ini jadi pengalaman buat kami untuk mempersiapkan segala sesuatu tahun berikutnya sesaat sebelum Jumat Agung karena repot juga kalau banyak yang tutup.

Di Australia jika saya perhatikan, selama Natal dan Paskah terutama di tanggal 25 saat Natal dan Jumat Agung saat Paskah cenderung sepi dan tenang. Disini mereka sangat mendorong agar kita melewati hari-hari tersebut bersama keluarga.

Hal lainnya adalah disini libur Paskah itu 4 hari sampai hari Senin. Lumayan lama untuk saya bisa refreshing setelah penat sehari-hari berurusan dengan hal pekerjaan. Saya pun sempatkan untuk membawa keluarga mengunjungi beberapa tempat.

Paskah kali ini, saya memanjatkan Novena lagi untuk sebuah harapan. Dan, selama kami mengikuti misa di Gereja, salah satu doa yang tidak pernah berhenti saya panjatkan adalah penyertaan dari Nya agar kami bisa mewujudkan impian kami untuk kedua anak kami disini.

Saya jadi ingat kalimat salah satu kawan saya, kawan baik yang belum sempat bertatap muka tapi sudah sering membantu saya melewati dan melawan culture shock yang saat ini masih sering mengganggu saya.

“… jangan seperti orang yang tak bertuhan, Jo 🙂 Dia tak pernah kurang baik 🙂 ”

Dan itu benar adanya, karena saya harus banyak berterimakasih dan bersyukur untuk semua yang terjadi sampai titik ini.

1 minggu menuju Paskah

Tidak terasa sebentar lagi Paskah. Dan lebih tidak saya sadari lagi ternyata sudah cukup lama saya tidak menulis.

Kesibukan migrasi system yang terakhir benar-benar menyedot energi saya. Ditambah beberapa manuver yang tidak terduga sebelumnya membuat saya jadi sedikit merasa stress.

Beruntungnya adalah kedua mertua saya datang disaat yang bersamaan dan kawan yang juga datang karena ada seorang kawan baik kami yang menikah membuat saya bisa rilex sembari melupakan kerjaan sebentar (yaelah… Lagak lu jo mikirin kerjaan…).

Entahlah… Tapi perasaan yang sama datang dan pergi seperti tahun lalu, terjadi lagi. Dan seperti biasanya, saya pun bersandar pada Doa Novena yang selalu menjadi penolong, terlebih di 1 minggu menuju Paskah.

Dan semoga… Ada sebuah jawaban untuk pertanyaan saya…

Kadang saya merasa teramat sangat malu kepada-Nya karena terkesan tidak mampu bersyukur. Bukan… Bukan itu… Saya bersyukur dan sangat bersyukur… Tapi apa yang datang dan pergi mengganggu saya ini sulit dikendalikan walaupun sudah berusaha agar bisa dikendalikan.

Semoga semua bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya… Apapun itu yang terjadi… Saya percaya jika hal itu adalah yang terbaik dan tepat bagi kami… Karena Dia adalah Sang Maha Tahu.