April 2019

Mood untuk menulis entah kenapa ngumpet dimana saat ini, pusing kan bacanya hahaha….

Tapi ini bener, entah kenapa kadang ga denk… sering hahaha… keinginan untuk menulis tiba-tiba hilang padahal di kepala sudah beredar beberapa ide yang bisa dituangkan kedalam tulisan, yang akhirnya malah nguap entah kenapa dan kemana, dan berakhir dengan satu tulisan panjang.

Saya biasanya menuliskan sebuah artikel (biasanya??) saat si mbarep dan si mbontot ultah, tapi entah kenapa kemaren bisa kelupaan karena ditunda lalu ditunda lagi sampai akhirnya bener-bener ga inget dan sudah terlewat jauhhhh sampai sekarang.

Ya sudahlah, setidaknya sekarang saya inget hahaha… saat mikirin tentang duo bocil yang sudah gede sekarang, saya sering merasa waktu terbang cepat sekali. Masih jelas banget di ingatan saya saat-saat saya mengendong mereka pulang dari RS Family Pluit ke rumah mungil kami di Citra satu sana. Eh… sekarang dah sak meter tinggi nya, kaya mimpi hahaha…

Dengan migrasi ke Australia, saya menemukan (banyak) hal-hal positif yang terjadi di masa-masa pertumbuhan anak-anak saya. Gaya pendidikan disini yang begitu saya sukai karena sangat mendukung dan mendorong anak-anak saya untuk bisa lebih berani, percaya diri, menghormati orang lain, mengerti jika antri itu sebuah keharusan, dan masih banyak ajaran etika dan norma kehidupan lainnya yang sejak kecil sering ditanamkan melalui kegiatan belajar mengajar. Jadi ga melulu menghafal, didikte, ngejar angka dan juara ya.
Kehidupan kami disini bisa dibilang baik, waktu yang berkualitas dengan keluarga yang bisa dicapai hampir setiap hari plus sebotol beer dingin halahh…., kualitas kehidupan yang meningkat tajam walaupun kami bukan orang berduit banyak membuat kami sangat bersyukur karena memiliki jalan ini. Kami tidak berasal dari orang-orang dengan latar belakang ekonomi yang kuat, tapi kami benar-benar merasa cukup saat ini, kami bisa hidup layak dan masih bisa nabung dikit buat masa depan.

Ga lama ini kami sekeluarga baru saja merayakan Paskah ketiga kami disini, yang kebetulan kali ini kakek nenek anak-anak sedang berada di Melbourne, yeahh… jadi rame deh… sebuah keadaan yang sering kami rindukan sejak kami migrasi ke Australia 3 tahun lalu. Maklum dulu sering ngumpul dengan keluarga besar istri, dan hal itu menjadi salah satu yang hilang saat kami memutuskan untuk hijrah ke negeri Kangguru mengejar impian kami terutama untuk kedua anak kami, walaupun saya harus bargain dan kompromi dengan banyak hal, tapi semua itu terasa layak, bahkan sangat layak.

Melbourne sudah mulai kembali normal, setidaknya dalam beberapa hari ini. Suhu kota ini sudah mulai kembali ke suhu dimana seharusnya dia berada (yaelahhh… norak ahh… mentang-mentang sudah kuat dingin tapi abis itu kerokan hahaha…), setelah beberapa minggu ini disko dangdut panas dingin panas dingin ga tentu seperti ABG sedang jatuh cinta monyet. Suhu yang enak ini membuat kami bisa jalan kaki dengan jaket ringan tanpa harus berkeringat seperti saat kita jalan di jalan Sudirman di CBD Jakarta di tengah siang bolong. Emang suhu nya berapa seh? Kisaran 15 sampai 19 derajat, ouchh… itu kan dingin?? Iya sih, awalnya kami juga merasa seperti itu, tapi setelah beberapa kali kami dicolek panasnya Negara ini saat musim panas, kami mulai sukak pake banget sama dingin hahaha…

Suhu yang cukup panas sampai bulan April bukan sebuah pertanda yang bagus juga sebenernya, karena pola seperti ini biasanya menjadi pertanda jika musim dingin akan menjadi lebih dingin dari biasanya, brrrr… bisa-bisa minus tahun ini (semoga ga ya…). April sebentar lagi akan menuju peraduan, dan bulan Mei sudah mengintip di perempatan. Bulan dimana seluruh penantian kami selama 2 tahun untuk sebidang lahan mungil yang kami beli waktu itu akan selesai disiapkan oleh developer dan bisa dipindah namakan kepada kami agar builder kami bisa mulai membangun rumah mungil kami diatasnya. Saat ini kami sedang pontang panting dengan pengajuan pinjaman Bank, yang untungnya kami dibantu seorang mortage broker yang kompeten jadi lega deh…. semoga semua proses nya lancar dan Natal tahun ini harapannya kami bisa pindah dan merayakannya dirumah kami sendiri, semoga ya…. Selain itu, beberapa kesempatan di dunia kerja yang belakangan ini tiba-tiba terbuka juga cukup membuat pusing karena hal ini bersangkutan dengan aplikasi mortage kami. Pertimbangan demi pertimbangan mulai coba kami putuskan dan pada akhirnya kami serahkan saja semua kepada Dia karena waktu Dia lah yang akan paling tepat bagi kami sekeluarga.

Minggu ini adalah minggu malas, hahh…. Minggu malas? Iya, hahaha… karena minggu ini efektif hanya 3 hari dengan bolong di hari senin dan kamis, senin libur paskah dan kamis adalah ANZAC day, seperti hari pahlawan kalau di Indonesia. Tadinya mau ambil cuti tapi setelah dipikir-pikir cuti yang belum seberapa itu mendingan saya simpan untuk yang lebih penting. Yang lebih penting itu apa, nanti saya tulis ya setelah benar-benar kejadian, tapi ga sekarang.

Ngomong-ngomong soal libur Paskah, kok bisa hari senin libur Paskah? Di Indonesia kan hanya Jumat sampai Minggu saja? Iya benar, disini pun begitu, libur benerannya mulai dari Jumat dan berakhir di hari minggu, nahh…. ini nih bedanya, libur paskah itu kan sebetulnya Jumat Agung dimana itu hari jumat dan Minggu Paskah dimana itu hari minggu. Karena hari minggu itu adalah hari libur, jadi pemerintah sini mengganti hari itu ke hari senin karena minggu itu memang sudah jatahnya menjadi hari libur, aihh… baiknya… masih bingung? Oke saya jelasin pakai libur natal yak. Natal itu kan tanggal 25 Desember (semua juga tau ya…) dan pasti tanggal merah kan yang artinya libur atau public holiday, jadi kalau tanggal 25 Desember itu jatuh di hari sabtu atau minggu, maka senin berikut nya akan jadi tanggal merah untuk mengganti libur natal yang jatuh di hari sabtu atau minggu yang memang sudah seharusnya libur. Jadi jatah libur (weekend) diganti jika ternyata ada public holiday jatuh di weekend, dan jatah cuti tetap 20 hari setiap tahun tidak berkurang hakhakhakhak… senang nya….

Nah sekarang saya bingung mau nyambung tulisannya gimana hahaha… gini nih kalau ngerjain sesuatu ga pokus, halah… fokus maksudnya. Semua jadi setengah sepatah begini.

Dah deh… nanti kita sambung lagi ya di tulisan berikut hahaha… caoo….

Paskah ke 2

Tidak terasa kami merayakan Paskah kedua di Melbourne. Waktu begitu cepat berlalu walaupun jujur… Saat kami melewatinya dulu tidak terasa cepat.

Culture shock yang begitu kuat membuat saya beberapa kali sempat goyang dan sempat memutuskan untuk menyerah. Tidak mudah kawan… Sungguh tidak mudah… Pindah negara itu tidak sekedar pindah rumah, mindahin baju, badan dsb. Banyak sekali hal yang harus kita hadapi dan atasi terlebih dari sisi psikis mau sesiap apapun kita menyiapkan diri kita.

Dan dari pengalaman itulah…saya mengucapkan syukur kepada Dia karena kami masih merayakan Paskah disini. Paskah di Melbourne atau di Australia sedikit berbeda dengan di Indonesia. Disini pada hari Jumat dimana kami merayakan Jumat Agung, 99% pertokoan tutup, bahkan toko besar seperti Aldi, Woli dan Coles pun sebagian besar tutup. Aldi malah tutup semuanya. Hal ini jadi pengalaman buat kami untuk mempersiapkan segala sesuatu tahun berikutnya sesaat sebelum Jumat Agung karena repot juga kalau banyak yang tutup.

Di Australia jika saya perhatikan, selama Natal dan Paskah terutama di tanggal 25 saat Natal dan Jumat Agung saat Paskah cenderung sepi dan tenang. Disini mereka sangat mendorong agar kita melewati hari-hari tersebut bersama keluarga.

Hal lainnya adalah disini libur Paskah itu 4 hari sampai hari Senin. Lumayan lama untuk saya bisa refreshing setelah penat sehari-hari berurusan dengan hal pekerjaan. Saya pun sempatkan untuk membawa keluarga mengunjungi beberapa tempat.

Paskah kali ini, saya memanjatkan Novena lagi untuk sebuah harapan. Dan, selama kami mengikuti misa di Gereja, salah satu doa yang tidak pernah berhenti saya panjatkan adalah penyertaan dari Nya agar kami bisa mewujudkan impian kami untuk kedua anak kami disini.

Saya jadi ingat kalimat salah satu kawan saya, kawan baik yang belum sempat bertatap muka tapi sudah sering membantu saya melewati dan melawan culture shock yang saat ini masih sering mengganggu saya.

“… jangan seperti orang yang tak bertuhan, Jo 🙂 Dia tak pernah kurang baik 🙂 ”

Dan itu benar adanya, karena saya harus banyak berterimakasih dan bersyukur untuk semua yang terjadi sampai titik ini.

1 minggu menuju Paskah

Tidak terasa sebentar lagi Paskah. Dan lebih tidak saya sadari lagi ternyata sudah cukup lama saya tidak menulis.

Kesibukan migrasi system yang terakhir benar-benar menyedot energi saya. Ditambah beberapa manuver yang tidak terduga sebelumnya membuat saya jadi sedikit merasa stress.

Beruntungnya adalah kedua mertua saya datang disaat yang bersamaan dan kawan yang juga datang karena ada seorang kawan baik kami yang menikah membuat saya bisa rilex sembari melupakan kerjaan sebentar (yaelah… Lagak lu jo mikirin kerjaan…).

Entahlah… Tapi perasaan yang sama datang dan pergi seperti tahun lalu, terjadi lagi. Dan seperti biasanya, saya pun bersandar pada Doa Novena yang selalu menjadi penolong, terlebih di 1 minggu menuju Paskah.

Dan semoga… Ada sebuah jawaban untuk pertanyaan saya…

Kadang saya merasa teramat sangat malu kepada-Nya karena terkesan tidak mampu bersyukur. Bukan… Bukan itu… Saya bersyukur dan sangat bersyukur… Tapi apa yang datang dan pergi mengganggu saya ini sulit dikendalikan walaupun sudah berusaha agar bisa dikendalikan.

Semoga semua bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya… Apapun itu yang terjadi… Saya percaya jika hal itu adalah yang terbaik dan tepat bagi kami… Karena Dia adalah Sang Maha Tahu.

Tuhan itu nyata…

Tuhan itu nyata…

Saya jatuh entah sudah berapa kali, tidak terhitung… sakitnya? Tidak terkatakan…

Saya berjuang berusaha bangkit pun sudah berkali-kali, tidak terhitung… capenya? Tidak terlukiskan…

Saya termasuk manusia beruntung, setiap saya terjatuh selalu ada seseorang yang menopang semangat saya untuk bangkit, yaitu pacar saya yang kemudian menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya… Seorang wanita yang kuat dan tegar… mau susah, mau berusaha dan mau bersabar…

Selain teman-teman saya, yang juga begitu sabar mau membantu mencarikan jalan keluar, mendengarkan, menjelaskan, dan memberikan semangat…

Dan… saya juga beruntung, setiap saya berada dalam kesulitan, doa saya selalu didengar oleh-Nya, sebagian besar novena saya selalu terkabul, walaupun tidak terkabul dengan cepat, tapi pada akhirnya sebuah jalan bisa saya temukan…

Terkadang, saya merasa malu, sering terjatuh dan sering berusaha bangun, dan sering juga merasakan kehadiran Tuhan ditengah jalan keluar yang saya temukan, tapi saya masih sering merasa kawatir dan mempertanyakan keberadaan Nya.

Hari ini, saya menyadari… Yesus sudah terjatuh berulang kali dibawah salib Nya, tapi Dia tidak menyerah, walaupun akhirnya Dia harus melalui penderitaan yang teramat sangat tidak manusiawi, tapi Dia melewatinya dan Dia menang. Dia membuktikan jika Dia tidak pernah menyerah untuk orang-orang berdosa seperti saya, orang yang masih dan selalu mempertanyakan penyertaan Nya.

Novena saya selama pra paskah, tepatnya saat minggu palma, terkabul untuk kesekian kalinya. Saya mendapatkan jalan, dan tidak lama lagi akan menjalani pekerjaan baru dengan tugas yang lebih jelas dan sesuai dengan keahlian yang saya miliki, walaupun semua itu tetap tidak menjamin hasil akhirnya akan seperti apa, tapi setidaknya saya diberikan jalan untuk mencoba dan berusaha. Dan, mungkin saya ditolong untuk suatu hal yang mungkin kurang baik untuk saya, siapa yang tahu… hanya Dia.

Dengan mendapatkan pekerjaan baru yang saya rasakan bisa lebih baik ini, walaupun harus menempuh perjalanan yang tidak singkat, saya mulai merasa bisa melalui culture shock yang selama ini saya rasakan. Entahlah… rasa percaya diri untuk menatap masa depan untuk kedua putra saya agar bisa tumbuh besar disini mulai muncul lagi, dan semoga bisa semakin besar dan besar…

Tuhan itu nyata…

Selamat menyambut paskah, semoga semangat dan berkah paskah menyertai kita semua seperti menyertai kami saat ini…