No Caption

Autum yang panas, iya… entah kenapa tahun ini walaupun sudah masuk ke bulan Maret bahkan bentar lagi April, suhu tidak kunjung menjadi dingin seperti tahun sebelumnya. Sempet sih awal Maret kemaren seminggu bermain diantara belasan sampai maksimal 23, tapi tidak bertahan lama karena sudah dua minggu ini suhu bermain diatas 25 terus dan matahari seakan tidak lelah memanggang bumi kangguru ini. Terik nya itu loh… secara benua ini ada di selatan dan condong ke arah matahari.

Tidak lama lagi daylight saving akan berakhir dan benua ini akan masuk ke waktu normal lagi. Daylight saving itu apaan ya? googling saja ya hahaha… yang pasti setelah daylight saving berakhir kami-kami disini akan ketambahan waktu tidur 1 jam karena yang tadinya jam 7 pagi mundur ke jam 6 pagi, dan otomatis merubah perbedaan waktu antara negara bagian Victoria di Australia ini dari 4 jam menjadi 3 jam dengan Jakarta.

Beberapa waktu lalu, istri sempat bercerita mengenai pengalaman dia konsultasi dengan speech therapy anak pertama kami. Loh… si AL dapat speech therapy? iya, tapi tenang ini bukan hal berbahaya, dia mendapatkan terapi ini karena lafal pengucapan beberapa huruf yang kurang tepat sehingga disarankan untuk menemui speech therapy yang mahal nya ampun di-je-mak… untung dibantu hampir 50% sama centrelink (pemerintah). Lumayan jadi berkurang hampir separo biaya nya hahaha… ok balik ke topik, jadi ceritanya istri habis sesi terapy berakhir ngobrol-ngobrol dengan profesional yang menerapi si AL, singkat cerita obrolan mengarah kepada sekolah dan belajar. Yang membuat kaget adalah saat istri ditanya setiap hari si AL yang sebentar lagi umur 7 tahun belajar nya gimana, dan dengan bangga pede empat lima karena mikirnya dah jadi Ibu yang baik hati dan tidak sombong, istri menjawab dengan mantap setiap malam belajar 2 mata pelajaran dan setiap mata pelajaran 15 menit saja! cieee…. keren ga tuh… cuman 15 menit ! kurang baek apa coba??? bandingkan dengan jaman kite dulu yang ditemenin sabetan dan minimal bisa-bisa 1 jam !

Si profesional itu dengan tenang berkata, itu kelamaan. Tanpa dosa tanpa rasa bersalah karena sudah membanting istri kebawah dengan pandangan datar sedatar-datarnya. Akhhhh…. yang bener ajaaaa??? jadi berapa menit harusnya? setiap hari 2 mata pelajaran sudah benar, tapi cukup 10 menit saja setiap mata pelajarannya. Haaa… saya sampai bengong pas di ceritain. 10 Menit belajar apaannnn???

Ya, mungkin karena saya yang udik kali ya, terbiasa di gembleng dengan cara yang beda hahaha… tapi singkat cerita, kami ikut apa yang disarankan, ya itung-itung biar si AL ga stress dan cape kan (kurang baek apa coba ortunya hahaha…) dan juga yang membuat kami tidak kawatir adalah, kurikulum belajar negara ini juga mendukung sehingga pihak sekolah pun tidak mempersulit dengan “kalau mau masuk kelas 1 harus sudah bisa ca-lis-tung” buset dah… disini mah yang dicek bukan ca-lis-tung nya, tapi anak ente pake celana ga karena kan ga mungkin kan anak ente jadi tarzan saat di kelas kan ya…

Saya sendiri minggu ini bulanan di tempat kerja baru, ya… secara garis besar pekerjaan yang ini cukup santai sih, saya diminta mendokumentasikan jaringan IT mereka yang amburadul, dan diminta membuat blue print untuk meningkatkan kemampuan jaringan IT mereka untuk 5 tahun kedepan. Selain itu juga pekerjaan harian yang jarang ada seperti ada yang rusak dibenerin, ada yang minta diubah ya diubah… kerjaan-kerjaan maintenance seperti biasa. Yang bagusnya dari apa yang saya kerjakan saat ini adalah memiliki ruang untuk bisa memberikan ide-ide untuk merancang jaringan ini untuk beberapa tahun ke depan, ya… hitung-hitung sekalian latihan jadi perancang lagi seperti waktu kerja di Jakarta dulu sekalian latihan bahasa inggris hehehe…

Hal lainnya mengenai sertifikasi yang saya pegang, tahun ini saya putuskan untuk menonaktifkan sertifikat expert saya setelah dijaga aktif selama 10 tahun. Kebetulan Cisco sendiri menyediakan jalan untuk menonaktifkan sertifikat level expert setelah 10 tahun agar tidak suspend dan bisa diaktifkan kapan saja dengan mengambil dan lulus ujian written yang disebut program emeritus. Sebetulnya saya agak sedih sih waktu login ke sertifikasi tracking saya, semua level associate dan professional masuk masa expired karena program emeritus tidak mencakup sampai level dibawah expert. Hikss… semua nya expired sekarang dan saya harus mengambil dan lulus semua module nya kalau mau certified lagi, dan itu mahal sekali. Saya mengambil program emeritus yang lebih murah jauh walaupun tidak gratis ini lantaran untuk menjaga agar semua sertifikat tetap aktif, saat ini semakin mahal biayanya, disamping itu karena saya bekerja lebih banyak di end user jadi ga bisa klaim biaya ujian ke kantor, ya berat buat saya kalau harus bayar 10 jutaan setiap tahun untuk ujian saja. Sebetulnya point nya bukan di berat keluar uang nya, tapi lebih ke relevan tidaknya hal itu bagi saya, karena teknologi saat ini menurut saya sudah tidak relevan lagi dengan sertifikat yang saya pegang itu. Entahlah, saya tidak begitu tertarik lagi belajar hal-hal itu karena lebih menarik belajar teknologi yang sedang hit saat ini seperti cloud misalnya. Dan belajar hal seperti itu juga ga murah loh… maklum saya bukan dari keluarga berada, jadi uang segitu berarti banget buat saya hehehe… itulah kenapa setelah saya timbang-timbang akhirnya saya putuskan untuk menggunakan uang tersebut ke teknologi lain, jadi sekalian update keahlian baru juga belajar hal baru, ya mudah-mudahan langkah ini tidak salah.

Sesuai judul, tulisan ini sebetulnya tidak ada topik khusus, entahlah… tiba-tiba saya ingin saja menulis lepas tanpa harus di kerangka dan menentukan topik. Lebih seperti orang lagi curhat ga jelas yang cerita ini dan itu tanpa arah hehehe… ya mungkin lantaran saya sedang kangen kali dengan kampung halaman atau masih agak culture shock walaupun sudah ga seheboh dulu ya…

Migrasi itu ternyata ga semudah yang saya bayangkan, ya mungkin bagi beberapa orang gampang ya, tinggal pindah tempat, tapi bagi saya perjuangan banget. Banyak sekali yang harus saya kompromikan dan saya relakan untuk bisa mencapai titik ini. Kalau bukan karena ingin memberikan yang terbaik yang mampu saya raih ke keluarga saya terutama anak-anak, saya sih males ambil jalan seperti ini, cape lahir batin nya itu yang ga tahan… bahkan sampai sekarang saja saya sering ngelamun ngebayangin jika seandainya saya tidak segila ini sekarang seperti apa ya… tapi terlepas dari semua itu, saya bersyukur bangett.. bisa migrasi dengan semua keterbatasan yang kami miliki. Karena ga semua orang bisa seperti ini, bahkan yang bisa dan mampu pun belum tentu bisa mendapatkan jalan ini.

Tuhan benar-benar baik banget sama kami, masuk tahun ketiga kami disini banyak banget kejadian-kejadian yang tidak kami sangka sebelumnya akan terjadi. Contohnya saya bisa menuaikan janji saya ke diri saya sendiri yang dulu saya bikin saat melamar istri saya dengan lamaran seadanya. Akhirnya tahun lalu janji itu terpenuhi, saya bisa membelikan sebuah cincin tunangan yang lebih layak buat dia dengan uang saya sendiri. Terus, ada lagi yang lain seperti tanah plus rumah yang sudah kami beli mulai masuk ke proses title sebentar lagi, jadi rumah kami pun sudah bisa mulai dibangun dan kalau lancar awal tahun depan kami sudah bisa pindah ke rumah sendiri, duh… ini benar-benar ga terbayangkan sebelumnya, boro-boro beli rumah di Melbourne ya… bisa beli rumah di Jakarta saja sudah senang bukan kepalang walaupun kecil rumahnya. Hal lainnya lagi, saya dapat kerjaan yang lebih mapan dalam segi status karyawan juga hal lain yang patut di syukuri, karena saya butuh status ini untuk memproses pinjaman ke Bank untuk rumah kami. Maksudnya KPR? iyalah, belum sanggup kami beli kontan hahaha… Harapan kami, tentu saja bisa membangun rumah kami dengan lancar dan juga unit yang kami sewa ini tidak mempersulit saat kami harus mengubah metode sewa kami dari tahunan ke bulanan, semogaa…

Eh… balik lagi ke sertifikasi yang saya bahas diatas, hari senin tanggal 20 Maret 2019 kemaren saya baru dapet email dari Cisco, isi nya mengatakan kalau saya akan mendapatkan plakat atas 10 tahun memegang CCIE, yeyy… dan saya juga berhak menggunakan 2 logo baru, yaitu 10 Years CCIE dan CCIE Emeritus, kira-kira seperti ini logo nya,

Wuihh… keren juga loh hahaha…. bangga juga bisa megang sertifikat langka ini 10 tahun, ga gampang dan melelahkan yang pasti hahaha…

Artikel ini sebenernya diketik di sela-sela kebosanan saya saat di kantor, karena lama-lama begah juga bikin dokumentasi yang tidak sedikit itu, apalagi cara mereka konfigurasi barang-barang mereka berada di titik dimana ketidak-umuman terjadi sangat dominan, duh… pusing… Masalahnya, kalau saya tidak membuat dokumentasi itu, nanti nya saya juga yang akan repot saat sedang merencanakan upgrade jaringan mereka agar mumpuni untuk menyongsong tantangan IT 5 sampai 10 tahun kedepan, ya elahh… bahasanya ketinggian yaa…

Hal lainnya yang terjadi adalah….. saya memasang modem dengan kapasitas 500 Giga wahahaha… sebenernya tadinya saya mau ambil yang 300 Giga saja, tapi masalahnya harga yang harus dibayar beda AUD 15, ya elah… tanggung amat ya… ya udah saya ambil saja yang paling gede kapasitasnya. Sebulan ini saya tes udah anak-anak hampir setiap hari streaming reading eggs, mathlatic dan youtube, belum lagi bini netflix-an ditambah saya main game onlen ehh… ternyata baru kepake ga sampe 100 Giga huuu…uuuu…uuu…. sisa banyak bangettt…

Betewe ngomong-ngomong soal Netflix, tadinya sih iseng karena istri perjuangan banget nyari-nyari drakor di youtube, belum lagi kalau kepotong-potong kan ya, mana seru coba, baru air mata mau berlinang ehhh…. ga ada lanjutan nya, jiahhh… ga jadi mewek deh… abis itu bilang kesaya “nyebelin nih, lagi seru-seru nya ga ada lanjutan video nya!” Nah,…. KODE KERAS INI!!! 🙂

Ya sudah, saya langganin Netflix biar puas nonton drakor nya, walaupun awalnya bilang “ga” terus setiap ditanyain “mau langganan netflix ga?”, eh ternyata oh ternyata… begitu Netflix dapet langsung serius belajar cara nonton nya, jiahhh…. dasar wanita…. suka bener ditebak-tebak isi kepala dan hati nya, emang nya ane dukun neng!!

Dann…. Netflix sukses membuat bulu kuduk beberapa kali berdiri, bukan karena nonton film horor, tapi keadaan suka tiba-tiba horor, gimana ga horor coba, malem-malem lagi enak-enak molor tiba-tiba ada yang nangis sesengukan atawa ngakak sendirian haduh… haduhh… bisa copot ini jantung abang neng….. Ga apa lah, happy wife happy live, iya ga? istri yang bahagia membuat hidup menjadi lebih mudah hahaha… norak ya…

Hari ini saya pulang cepat, eitss… ntar dulu, ini pulang cepet gegara ada yang lupa bawa kunci pas anter anak-anak ke sekolah. Bikin repot saja, faktor “U” kayanya, masa bisa lupa bawa kunci orang tiap hari anter anak sekolah ck…ck…ck… saya jadi harus ijin pulang lebih awal deh karena ga tega anak-anak ntar ga bisa masuk rumah setelah pulang sekolah karena bisa sejam lebih nunggu diluar nungguin saya sampai rumah. Kalau si mamak e mah saya ga worry, ga bisa masuk rumah dia malah ke Mall jalan-jalan seharian sama temen nya wakakakak…. emang dasar garis hidup harus rilex yeee…

Apapun yang terjadi selama ini, saya tetap bisa merasakan kehadiran Tuhan ditengah-tengah kami, apapun itu… baik itu sesuatu yang baik, sesuatu yang mengajar, maupun sesuatu yang menyedihkan, Dia selalu ada buat kami. Kami bisa sampai sejauh ini hari ini, tidak semata-mata karena kehebatan kami, sama sekali tidak… tapi lebih kepada Dia yang membimbing kami. Jatuh bangun kami disini, dan selama mengejar impian kami ini tidak akan pernah terlupakan dalam hidup kami dimasa mendatang, semua ini adalah berkat.

Advertisements

2 tahun di Melbourne

Tidak terasa sudah 2 tahun kami disini, sebuah perjalanan yang berawal dari sebuah impian yang cukup liar saat itu. Ga pernah nyangka sebenernya bisa sampai sejauh ini, terlebih kalau melihat background kami saat itu.

Keputusan ini terlalu berani sebetulnya (kalau ga mau dibilang terlalu nekat, nekat by default). Menjadi diaspora dengan kemampuan Bahasa Inggris dibawah pas-pasan itu tidak pernah terlintas dalam benak saya, dan hal itu kemudian menjadi salah satu hal yang harus saya hadapi dan atasi saat berusaha migrasi kesini karena ingin mengejar impian saya yang kadang ga masuk akal sehat. Loh… dibawah pas-pas-an? iya dibawah, Bahasa Inggris saya saat itu hancur lebur deh… baru belakangan ini saja rada mendingan. Itu saja masih sangat sering lawan bicara dahi nya berkerut saat dengar saya bicara hahaha… Selain itu, adaptasi budaya, cuaca dan sosial juga sangat menantang. Tapi, karena ada tekat (yang entah datang dari mana) ingin melihat anak-anak bisa sekolah disini, akhirnya membuat saya memberanikan diri yang sebetulnya ga pede-pede amat ini untuk nekat dan berani bergerak.

Sedikit demi sedikit tantangan yang ada coba saya coba tutup dengan belajar dan berlatih, semua itu mutlak diperlukan jika masih ingin bersaing di dunia kerja jaman sekarang, terlebih ditengah ketatnya dunia kerja disini. Puji Tuhan, sejauh ini kemampuan yang tidak seberapa ini masih bisa digunakan buat mencari sesuap nasi asal kita mau mengesampingkan ego dan gengsi. Loh… maksudnya? Disini, kerja menjadi tukang itu tidak lebih buruk dari kita menjadi seorang manajer. Tukang?? iya tukang, engineer itu kan terjemahan di Bahasa Indonesia ya tukang. Tinggal profesi tukangnya saja yang beda kan, ada tukang ngutang, tukang nagih, tukang IT, tukang kayu dll halah….

Semua rasa lelah itu terbayarkan saat melihat anak-anak bisa sekolah disini, perkembangannya benar-benar diluar dugaan dan melebihi ekspektasi yang sebelumnya ada di kepala saya. Ada rasa syukur yang begitu kuat dalam dada saya saat melihat semua itu, Tuhan sungguh baik. Setidaknya, saya berhasil memberikan jalan buat mereka agar bisa mencicipi bagaimana rasanya sekolah di luar negeri dan membangun jalan mereka agar bisa memiliki masa depan yang lebih baik dari kami (masa depan yang lebih baik di mata kami tidak serta merta berkaitan dengan materi ya), sebuah kemewahan yang dulu kami berdua tidak bisa mengalaminya (untuk bagian sekolah di luar negeri), walaupun akhirnya menjalaninya (untuk bagian merantau di luar negeri).

Kehidupan disini adalah kehidupan yang damai dan menenangkan walaupun tetap harus berjuang ya. Sempat beberapa kali mendapatkan sentilan sentilun jika saya masih memiliki niat untuk kembali ke Indonesia, bukan saya tidak mau, tapi saya belum menemukan alasan untuk itu yang lebih kuat dari alasan saya kemari. Terlepas dari jargon membangun Negeri yang pada kenyataannya untuk bikin KTP saja masih “di-anu-anu-in”, dan saya disini tidak lalu serta merta lupa dengan jati diri saya sesungguhnya, semua rekan kerja tahu darimana saya berasal, dan saya tidak pernah tidak bangga dengan hal itu.

Disini kami sekarang, where we called it our “second” home. Kota yang cantik nan dingin, yang identik dengan suhu nya yang rollercoaster ga jelas. Hidup di Melbourne itu tidak serta merta lalu indah dan keren semua loh… ada hal-hal yang tidak enak juga hahaha… beberapa sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya, jadi saya tidak akan kupas tuntas lagi (halah, lagaknya macam bisa kupas tuntas saja ya…). Hal yang pernah saya singgung tentang enaknya hidup disini adalah tidak bising mengenai Agama. Disini itu tidak ada tuh yang teriak-teriak agama dia paling benar, masing-masing mengerti batasnya masing-masing dan budaya malu yang sangat kental. Lucu ya… di Negara seperti ini yang dianggap sekular, haram dan terlalu terbuka terutama dalam hal berbusana, justru memiliki budaya malu saat melanggar sesuatu yang sudah menjadi aturan.

Selain itu, ranah politik pun bukan hal yang menjadi ladang pertempuran seperti di Indonesia. Disini saat ada pemilihan tidak seperti apa yang terjadi di Indonesia sampai ada team khusus buat bikin hoaks dan penangkal hoaks, hadeuh… disini Valak ga laku bro…. mungkin karena itu dia migrate kesana kali ya… soalnya disini jualan agama kaga laku sih… manusia nya dah lebih cerdas sedikit apalagi di provokasi pakai video editan, yaelah disini dah ga mempan…

Selain itu, disini enaknya lagi saya bisa minum Bir, Wine, atau Cider tanpa takut di demo hahaha… eitss… jangan salah ya…. biarpun kita bebas minum asal bertanggung jawab, hal itu tidak serta merta membuat kita mudah membeli minuman beralkohol loh… jualannya itu dijaga ketat, ga main-main denda nya kalau sampai ketauan berani menjual ke anak dibawah umur, dan ini adalah aturan dari pemerintah, ga kaya disana yang diatur sama salah satu ormas dengan pemaksaan. Jadi setiap hari saat pulang kerja kadang dijalan sudah terbayang “ahh… enak nih panas-panas bisa minum Bir dingin sesampai dirumah” halah… hahaha….

Trus ga enak nya apaan donk? Banyak juga sebetulnya, salah satu nya adalah Negara ini diwajibkan PBB untuk nerima pengungsi. Nah, hal ini lama kelamaan menjadi masalah sosial disini dan yang lebih parah nya lagi para pengungsi itu kadang ga tau terima kasih, sudah ditolong eh… beberapa dari mereka meneror dengan nabrakin mobil ke para pejalan kaki di pusat perbelanjaan lah, bakar mobil lah, dan mulai ada geng peranakan dari Afrika sana yang suka brutal dan merusak. Bagusnya, para petugas disini sangat responsif jadi ketolong dikit lah pengendalian situasi nya.

Terlepas dari itu tidak dapat saya pungkiri jika migrasi ke Australia adalah salah satu hal terbaik yang terjadi atas keluarga kami terutama saya, ada rasa syukur yang begitu mendalam yang membuat kami tidak menemukan jawaban bagaimana Dia bisa membuat ini terjadi jika dihitung dengan kalkulator kami, ini benar-benar ajaib kalau ga mau dibilang ajib ya… Dia benar-benar luar biasa, sangat luar biasa, terlepas dari kekuatan impian yang saya genggam dan jaga seperti orang kesurupan.

Dan, kami pun menatap dengan pasti ke tahun ketiga.

2019

Akhirnya kita masuk ke tahun baru, tahun 2019, tahun yang tentunya sama-sama kita harapkan bisa menjadi tahun yang baik, penuh sukacita dan menjadi tahun dimana harapan-harapan kita terwujud.

Ada beberapa harapan yang saya susun untuk tahun ini, selain harapan agar bisa mendapatkan posisi dan status (bukan semata-mata dollar ya…) pekerjaan yang semakin baik lagi, harapan agar rumah pertama yang kami beli 1,5 tahun lalu bisa mulai dibangun tahun ini, jadi itung-itung tahun depan sudah bisa tinggal di rumah sendiri, kan lebih nyaman ya daripada nyewa… dan diatas segalanya tentu harapan agar keluarga kecil ini tetap berada dalam lindungan dan bimbingan Nya.

Untuk pekerjaan sejauh ini ada 4 opsi ditangan saya yang merupakan kelanjutan dari tahun lalu yang masih terbuka untuk tahun ini, hal ini karena mereka melakukan initial interview di akhir tahun dan sudah mendekati libutan, diluar dugaan sebetulnya bisa mendapatkan panggilan wawancara di bulan sepi seperti ini, nanti akan saya lihat mana yang lebih baik dan cocok dengan keadaan saya dan keluarga saya. Semoga Dia menuntun saya ke arah terbaik (pasti donk… kita harus percaya…)

Selamat Tahun baru 2019 ya… semoga di tahun ini kita semua semakin baik, selalu sehat dan bisa mencapai harapan-harapan kita, tetap semangat dalam berjuang ya… jangan kasih kendor, apalagi berjuang untuk impian kita. Hidup tanpa impian itu layaknya makan nasi putih ga pakai lauk, hambar…

Terimakasih 2018, terlepas dari jatuh bangun yang terjadi, 2018 sudah memberikan banyak sekali pelajaran dan bekal bagi kami sekeluarga terutama bagi saya untuk bisa melangkah kedepan dengan lebih mantap. Semoga, semua ini bisa membantu saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa berkarya lebih baik lagi.

Menghabiskan waktu di rumah sambil menikmati pesta kembang api di televisi tetap menjadi pilihan kami karena anak-anak masih kecil. Dengan ditemani wine dan beer (halah….), dan tentu mereka yang selalu menyemangati saya agar tidak menyerah, kami berkumpul dan bercanda ria menjelang kepergian 2018 dan kedatangan 2019. Apapun itu, rasa syukur untuk apa yang sudah lewat, yang sekarang ada di tangan kami dan untuk apa yang sudah didepan mata tetap kami panjatkan kepada Dia yang sudah begitu baik menjaga dan melindungi kami disini.

Perjalanan hidup ini, benar-benar luar biasa, tidak terlupakan dan akan tertoreh dalam lembaran-lembaran perjalanan kehidupan saya yang pernah menukik tajam dan penuh kejutan, yang suatu hari nanti saat saya sedang iseng melihat kebelakang… saya bisa berkata kepada diri saya sendiri “You were walking on your dream, and you made it”

Sehingga saat waktu nya tiba nanti, saya bisa duduk bersama (alm) Papa menceritakan pengalaman hidup yang sudah saya jalanin ini sambil menyeruput kopi bersama dia.

A Gift…

Selamat datang Desember… bulan penuh hikmah bagi kami pengikut Kristus karena di bulan ini dipercaya (bagi kami kaum Kristiani) sebagai hari dimana Yesus dilahirkan ke dunia untuk menebus dosa manusia dengan darah-Nya.

Bulan yang penuh dengan hari libur juga walaupun saya hanya mengambil libur 1 hari ditanggal 24 karena tanggal 25 dan tanggal 26 adalah hari libur nasional, loh kenapa cuma ambil 1 hari? karena…. saya kerja jadi kontraktor hahaha… kerja jadi kontraktor itu kalau ga kerja ya ga dibayar bang… tanggal 25 dan 26 sudah pasti ga dibayar kan karena tanggal merah… jadi kalau saya ambil 3 hari lagi di tanggal 24, 27 dan 28, berarti 1 minggu saya ga gajian sedangkan ada dapur yang musti dibuat ngepul terus…

Sebetulnya ga juga sih, saya bisa saja ambil off 1 minggu kalau mau dan masih bisa mengendalikan keadaan kami, emang dasar saya nya aja yang ga mau rugi karena hour-rate nya sayang kalau dibuang xixixi….

Di bulan ini juga, saya memiliki beribu kenangan, baik bersama (alm) Papa, (alm) Kakak, maupun kenangan-kenangan semasa di Tegal, Kos yang pernah saya tinggali selama 8 tahun lebih selama kuliah dan masa-masa saya pacaran dengan si Dia yang sekarang sudah berdiri disamping saya ikut berjuang mengejar impian kami bagi kedua anak kami di Tanah Selatan yang mulai tidak se-asing dulu lagi.

Di bulan ini juga, saya merayakan hari lahir yang membuat saya banyak merenung karena umur sudah bertambah tua dan jarak pun sudah semakin mendekat dengan Sang Khalik, untuk melakukan banyak instropeksi diri dan merangkum hal-hal baik dan positif yang harus saya pertahankan begitu juga banyak hal kurang baik dan negatif yang harus saya koreksi atau jadikan sebagai pembelajaran agar kehidupan yang saya miliki (semoga) bisa semakin baik kedepannya.

Perayaan kali ini pun akan menjadi yang kedua bagi saya, jika tahun lalu Si Dia membelikan 6 pasang kaos kaki di Target sebagai kejutan, tahun ini agak berbeda. Bermula dari celotehan saya saat kami sedang menghabiskan waktu muter-muter kaya gasing di salah satu pusat pembelanjaan disini tentang keinginan untuk membeli tas kerja baru (setelah gajian) membuat istri saya memilih sebuah tas anti maling sebagai kejutan tahun ini. Anti maling? iya, begitu ditulis di iklannya, anti maling karena ga bisa dipotong atau robek, anti air merembes kalau keujanan dan ada port untuk nge-cas HP kita melalui powerbank yang kita hubungkan dari dalam tas, unik juga ya (atau saya aja kali yang udik karena baru tahu ada tas model begitu hahaha…)

Tas nya bagus, walaupun lebih kecil sedikit dari yang saya pakai saat ini, tapi tidak mengapa karena saya tinggal mengurangi beberapa bawaan saya yang sebetulnya banyak yang tidak begitu berguna juga, maklum mantan engineer yang menjadi engineer lagi membuat saya punya obeng dan tang segala di tas hahaha…

Karena tas ini dibeli online, unik juga cara sampainya. Tadinya kita mengira bakalan dikirim ke rumah langsung kan ya kaya waktu di Jakarta… trus di taro di deket kotak surat unit yang kita sewa seperti biasanya, atau dianter ke depan pintu unit kami dan di taro disana jika sedang tidak ada orang di rumah. Eh, ternyata beda loh… yang dikirim ke kotak surat kami itu hanya sebuah surat yang memberitahu jika paket barang yang kami beli sudah sampai di kantor pos terdekat (diberi tahu di suratnya di kantor pos yang mana) dan kami diminta mengambil sebelum 30 hari (kalau tidak salah) dengan membawa surat tersebut sebagai pengantar. Lah… baru tahu ternyata disini begitu cara belanja online nya jika barang yang kita beli cukup besar ukurannya. Untung tuh kantor pos deket rumah. Unik ya hahaha… (padahal mah saya aja kali yang udik karena di Indonesa beda)

Terimakasih ya sayang… apapun yang kamu belikan selalu berguna untuk menunjang aktifitas saya, jadi ga sia-sia 🙂

Nah… yang lebih menarik lagi adalah, lewat pembelian tas itu, saya mendapat voucher wine A$100, setelah saya login untuk melihat apa saja yang bisa saya dapatkan, ternyata minimal pembelian harus 12 botol, dan bisa semua red wine, atau white wine, atau bisa campur. Saya memilih yang campur 6 red wine dengan review rating tertinggi, dan 6 white wine dengan review rating tertinggi juga. Dari apa yang tertulis sih katanya total itu sekitar A$250-an dan karena ini pembelian pertama saya dapat diskon kurang lebih A$100-an dan ditambah voucher A$100, jadi total saya hanya bayar kisaran A$65 sudah bersama pajak. Saya sendiri sebetulnya tidak ngerti masalah wine-wine-an, tahun nya pun terbilang muda jadi saya ga ngerti deh apakah itu mahal atau murah ya. Saat saya sudah bayar lewat online, langsung dikasih notifikasi jika wine sudah meluncur, dan akan tiba kurang-lebih 3 hari, dan unik nya kita bisa milih wine itu akan ditaro didepan pintu, atau di kantor pos terdekat, atau diumpetin diatas pohon (ga denk….) jika kita sedang tidak ada dirumah. Unik ya, baru tahu ada beginian di Australia hahaha…. cara nya beda lagi untuk belanja online kalau yang dibeli fragile.

Dan, akhirnya wine saya sampai, yipiii… bisa dijadikan pelengkap sajian di hari Natal nanti sembari merayakan rasa syukur yang begitu besar di dalam hati kami karena memiliki kesempatan menjalani petualangan nan seru di Negeri Kanguru ini. Sebuah petualangan yang dulu hanya berada dalam impian kami karena keterbatasan yang kami miliki, yang ternyata dinyatakan oleh-Nya dengan cara yang tidak pernah terlintas dan mampu dihitung oleh kepala fana kami. Itulah yang kemudian membuat kami semakin memahami apa yang disebut dengan percaya dan ikhlas melalui sebuah iman.

Tahun kedua ini, kami pun sudah semakin stabil, saya sendiri sudah mulai kerasan dan tidak sering mengalami gegar budaya lagi (walaupun kadang masih ada sedikit getaran nakal yang mengganggu). Kami pun tetap berharap dan berdoa, dan banyak pasrah juga kepada-Nya, hidup didalam impian yang menjadi kenyataan itu sebuah hal yang harus kita syukuri tanpa henti, karena saya pribadi percaya jika semua ini bukan semata-mata karena kehebatan kami, kemampuan kami, ataupun karena saya tidak mudah menyerah, semua ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Dia.

Terlepas dari kerasnya jalan yang pernah saya jalani dan lewati, semua jatuh bangun yang tidak hanya memberi rasa perih tapi juga pengalaman, dan semua hal yang sudah terlewati dengan sangat tidak mudah, kehidupan dan pertualangan yang kami jalani saat ini adalah – A Gift… Thank God, You always good.