Mendekati 4

Suhu sedang berada di angka 4 saat tulisan ini ku rawi, brrr… dingin ya. Entah kenapa pagi ini saya terjaga dan tidak bisa tidur lagi, mungkin karena perasaan excited karena sore nanti rumah mungil kami sudah akan di serah terima kan kepada kami yang artinya kami bisa mulai merencanakan pindahan (akhirnya) ke rumah sendiri.

Sekilas ada sebuah pikiran melintas di kepala saya, akhir tahun ini ternyata saya sudah akan masuk dekade ke-4, yang artinya 4 dasawarsa sudah saya lalui. Ada sebuah perasaan gundah sebetulnya yang mengganggu saya, kehidupan saat pensiun seperti apa yang ingin saya miliki. Sebetulnya pikiran ini sudah ada dari 9 tahun lalu saat saya sedang rajin-rajin nya berusaha mendapatkan PR Australia agar bisa migrasi kesini. Saat itu, saya berada dalam dilemma yang cukup kuat, antara memulai semua dari Nol lagi yang artinya persiapan masa tua yang sudah saya lakukan kemungkinan besar harus di ulang lagi atau tetap di Indonesia saja sampai memupuk apa yang sudah saya tanam. Keputusan yang saya ambil saat itu adalah migrasi jika memungkinkan. Gila sih, saya meletakan semua jerih payah selama 10 tahun (dengan hanya meninggalkan rumah mungil pertama kami di Jakarta sebagai aset investasi) untuk memulai lagi semuanya dari awal disini. Dan disinilah kami sekarang, berjuang kembali membangun kehidupan kami.

Saat ini, perasaan yang sama menghantui saya lagi, otak saya berputar dan tidak bisa berhenti memikirkan apa yang ingin saya capai untuk masa pensiun nanti (yang jika diijinkan Tuhan kami masih hidup dan sehat) yang oleh pemerintah Australia di patok di angka 67 tahun saat ini untuk semua kelahiran setelah 1 Juli 1957. Ada sih beberapa rencana masa depan yang sedang saya bangun bersama istri saya untuk persiapan pensiun kami ditengah semua utang yang harus kami lunasi termasuk rumah mungil kami ini yang saat ini berusaha saya target kan selesai dalam 15 tahun dari masa pinjaman 30 tahun (semoga bisa), walaupun pensiun itu sendiri terjadinya masih 27-30 tahun lagi jika semua sehat dan lancar.

Entahlah, saya mungkin termasuk dalam golongan manusia yang bisa disebut aneh ya, lah wong masih lama kok sudah dipikirkan dari sekarang. Ya itulah kalau kita harus benar-benar berdiri di kaki sendiri, tentu tidak bisa instant dan tiba-tiba saat menginginkan sesuatu kan. Itulah kenapa harus di rencanakan dari jauh-jauh hari. Mungkin saja suatu hari saya dapat jack-pot lotere, ya siapa tau kan…. tapi ya masa mau ngandalin sesuatu yang masih mungkin terjadi itu tadi. Kita tetap harus planning donk ya… apalagi posisi kita sebagai kepala keluarga ya tentu saja harus bertanggung jawab kan, karena kan semua yang sudah pasti sudah ada di depan mata nih, seperti pendidikan anak-anak, biaya perawatan rumah, melunasi pinjaman ke Bank dan lain sebagainya.

Walaupun saat ini sebetulnya sudah ada beberapa rencana, termasuk salah satunya kembali ke Indonesia saat pensiun sambil membawa semua pundi-pundi yang kami kumpulkan disini (karena mata uang sini lebih kuat untuk saat ini) jika diperlukan, kami tetap mau berusaha dan ingin membangun sesuatu yang bisa membuat kami bisa menikmati masa pensiun di Australia selain karena kami lihat dan rasa lebih manusiawi, juga biar bisa lebih dekat dengan anak-anak dan tidak menyusahkan mereka. Beberapa rencana sudah cukup matang sih bagusnya, dan istri juga sudah setuju dengan beberapa strategi yang saya jelaskan kepada dia untuk 25-30 tahun mendatang tentang apa yang ingin saya capai untuk kami berdua. Dan kami pun sudah sepakat untuk menjalankan strategi pertama kami. Semoga saja kami masih memiliki cukup energi dan kuat untuk menjalani rencana gila kami berikutnya ya, harus bisa donk ya… kan kekuatan impian itu salah satu bensin agar kita tidak menyerah.

Musim dingin ke 4 kami

Hari ini Benua Selatan bernama Australia masuk ke musim dingin, musim dingin yang akan berlangsung selama 3 bulan sampai akhir Agustus dan memiliki puncak dingin biasanya di minggu ke 3 atau 4 bulan Juli ini diawali dengan hujan seharian dan kabut, yang tentu saja suhu ikut turun membuat rasa dingin yang sudah cukup menyiksa semakin menjadi-jadi.

Awal musim dingin ini ditandai dengan mengirimkan kembali anak-anak untuk masuk sekolah. Kami akhirnya legowo sambil doa untuk memasukan anak-anak ke sekolah lagi, setelah kami tahan selama seminggu sejak pemerintah mengumumkan jika sekolah bisa mulai dibuka lagi. Keputusan ini juga lantaran adanya telepon dari Kepala Sekolah anak-anak ke Istri yang berusaha menjelaskan jika prosedur keamanan dan kesehatan yang khusus dibuat dan diterapkan karena Covid-19 sudah diterapkan secara khusus di sekolah untuk melindungi anak-anak, selain menanyakan jika kami ingin menahan anak-anak sampai kapan hahaha… walaupun pada akhirnya Kepsek mengembalikan semuanya kepada keputusan kami sih… Unbelievable ya what Covid-19 has been done in our life.

Selain itu, rumah kami akhirnya di inspeksi lagi oleh pihak Bank sebagai prosedur yang harus dilakukan sebelum pembayaran terakhir dilakukan. Jika dalam satu atau dua hari Bank sudah melakukan pembayaran, mungkin minggu kedua Juni kami sudah bisa handover dan mulai menyusun kepindahan kami ke daerah barat sana. Pindah ke daerah barat nan jauh disana berarti kami harus menyesuaikan diri lagi karena semua berubah. Terutama saya harus bangun 1.5 jam lebih pagi karena harus mengejar kereta yang lewatnya di jam tertentu saja untuk pergi bekerja jika anjuran bekerja dari rumah sudah dicabut oleh pemerintah. Kami sangat excited sebetulnya, apalagi anak-anak karena mereka akan memiliki kamar sendiri yang sudah kami rencanakan akan dibuat seperti apa untuk mengakali ruangan yang lumayan kecil jika harus ditinggali berdua. Seru deh…. jadi banyak mikir harus bagaimana sambil berusaha se-kreatif mungkin untuk ngakali semua yang serba terbatas itu.

Saya sendiri juga cukup bersemangat, karena ada banyak hal yang harus saya lakukan setelah pindah kesana. Dimulai dari beresin landscaping (taman) yang belum terurus, mikirin gimana bikin pagar lebih tinggi jika memungkinkan, dan masih banyak lagi. Nanti ya saya tulis disini (semoga ingat hahaha….) before after nya setiap saya coba mengerjakan sesuatu. Jadi bisa buat dokumentasi kedepannya pas baca-baca lagi sambil nostalgia mengingat saat-saat ini.

Rumah mungil ini, walaupun jauh dan kecil, tapi sejauh ini kami cukup puas dengan apa yang kami dapat, terlebih kami menabung dengan keras agar bisa membeli rumah mungil ini. Semoga pas tinggal disana semua lancar dan aman ya…. lingkungan nya juga semoga baik dan tenang.

Tidak seindah foto di SosMed

Entahlah, tiba-tiba jadi ingin menulis. Sebetulnya karena lagi butek (bahasa jawanya keruh) aja sih, selain lagi ga banyak yang harus dilakukan, persiapan untuk beberapa proyek kecil juga sudah selesai dan tinggal nunggu eksekusi. Dan untuk eksekusinya seperti biasa kalau kerja di IT ya harus nunggu orang lagi tidur nyenyak atau ga kerja alias kerja tengah malam atau setelah pada pulang. Bicara tentang kerja, banyak sih yang bertanya ke saya mengenai dunia kerja disini terutama bagaimana mencari pekerjaan hahaha… macam saya agen pencari bakat saja ya… padahal mah saya sendiri juga setengah hidup waktu nerobos pasar tenaga kerja disini. Sampai stres-stres-jungkir-balik awal-awal, tapi sekarang sudah mendingan sih, sudah mulai dicariin hahaha… ups….

Hidup di Australia itu memang terlihat menyenangkan, bukan terlihat sih tapi memang menyenangkan hahaha… tapi, jangan terkecoh dengan apa yang kalian lihat di lini masa karena pada kenyataannya tidak sesempurna yang kalian bayangkan kok… saya sendiri sudah pernah menuliskan enak tidak enak nya tinggal disini bahkan sampai beberapa kali karena topik yang dibahas rada-rada beda. Biarpun hidup disini memang enak tapi tetap ada beberapa hal yang saya rindukan di tanah air semenjak saya berada disini. Merantau itu lebih mengenai pilihan dan keberanian, karena tidak banyak orang yang berani memilih jalan ini. Apalagi cara merantau nekat ala saya ini yang bikin jantung hampir copot karena memang kadang kalau saya ingat-ingat lagi entah sedang kerasukan apa saya waktu itu sampai seberani itu melangkah membawa keluarga kecil saya, syukurlah akhirnya ternyata bisa stabil dan settled down juga dengan bantuan Tuhan. Merantau itu berarti kalian akan jauh dari semua yang kalian suka walaupun kalian akan jauh juga dengan semua yang kalian ga suka. Merantau itu tidak serta merta menjamin akan mendapatkan hal yang lebih enak di tempat tujuan, dan harus selalu ingat jika enak tidak enak itu sendiri ukurannya luas sekali dan tergantung apa yang kalian cari.

Secara general saya berani bilang sih kalau hidup disini memang lebih enak walaupun kadang terlalu enak sampai membosankan. Gimana ga coba, disini apa-apa disediain pemerintah, memang sih semua itu berasal dari pajak yang kami bayar sebagai pekerja maupun pebisnis, dan pemerintah disini menyalurkan nya dengan baik bahkan dengan sangat baik sehingga kami-kami juga merasa ga sia-sia bayar pajak nya. Misalnya, dalam keadaan Covid-19 begini, pemerintah sini bergerak membantu masyarakat Australia yang terkena dampak akibat melambatnya ekonomi karena wabah. Bantuannya berupa macam-macam, ada bantuan ke perusahaan berupa dana buat bayar gaji karyawan selama 6 bulan kedepan, ada bantuan sekali bayar ke keluarga yang masih menerima bantuan centrelink (dalam bentuk Family Tax Benefit), ada juga bantuan untuk para pesiunan dan veteran perang selama 6 bulan kedepan. Dan terakhir ada bantuan juga buat para mahasiswa yang sedang belajar disini dan tidak bisa pulang, karena rata-rata mahasiswa disini harus kerja paruh waktu dengan waktu maksimal 20 jam buat menyambung kehidupan. Sekarang karena wabah dan banyak bisnis tutup ya secara tidak langsung kan memberikan dampak secara tidak langsung kepada mereka juga. Kami sendiri menerima paket yang bantuan ke keluarga karena kami masih menerima Family Tax Benefit walaupun dikit ya. Kurang baik apa coba pemerintah sini, kami jadi merasa pajak yang kami bayarkan itu memang diolah sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.

Belum lagi lingkungan tempat tinggalnya yang multi bangsa, membuat kami jadi bisa berpetualang mencari makanan-makanan dari bangsa lain dengan harga yang tidak terlalu mahal untuk ukuran kami yang sudah menetap disini. Ya kalau dibandingkan sama Jakarta apalagi yang emperan ya kebanting remuk jeroan atuh kang… harus apel sama apel bandingin nya. Disini karena menjadi melting point, dimana semua bangsa tumplek plek plek membaur jadi satu, makanan khas mereka sering kali masih otentik karena dimasak memang oleh orang dari negara atau bangsa mereka. Ga kaya di Jakarta, restoran korea chef nya rasa lokal. Memang sih tetep enak, tapi beda rasa nya kalau yang masak orang korea sendiri, sentuhannya beda hahaha… Semua itu membuat kami jadi suka ketawa sendiri kalau mengingat dulu saat akan migrasi kesini sudah membayangkan kalau disini bakalan makan makanan bule hahaha… ternyata tidak juga seperti itu, kami tetap bisa menikmati makanan asia bahkan Indonesia kok… untuk rasa, bagi kami makanan asia sih dah ada beberapa langganan ya, dan untuk makanan Indonesia termasuk oke lah… sudah deket banget sama makanan di Indonesia sana.

Udah gitu disini juga lingkungan buat hidup sudah lebih stabil dan bagus, contohnya taman nya, jalanan nya, bahkan jaringan internet nya saja kuenceng dan tidak gila-gila an harga nya seperti di Jakarta yang sudah mahal masih saja suka byar pret, naik turun ga jelas jaringannya sampai kemaren-kemaren ada salah satu provider internet terganggu service nya tapi setiap di telp sama customer respon yang diberikan ya seperti yang sudah saya kira sih, main tai chi tanpa solusi (ini menurut cerita kawan loh… makanya nama saya sembunyi kan hahaha….). Kualitas nya benar-benar jauh beda, itu kenapa saya selalu bilang ke istri saya jika hidup disini itu kualitas hidup nya beda, jauh berbeda… karena memang jauh lebih berkualitas. Belum lagi sisi pekerjaan, ya memang sih yang namanya pekerjaan kan cocok-cocokan ya, dan tergantung selera masing-masing. Saya ga bisa bilang yang mana lebih baik atau tidak, tapi yang bisa saya ambil kesimpulannya dari apa yang sudah saya jalanin, disini kerja itu sebagian besar sangat mengutamakan keluarga loh… jadi waktu untuk bersama keluarga itu sangat berharga dan ga akan diganggu kalau tidak sangat terpaksa. Ya memang sih, semua tergantung kita kerja dimana dan kerja sama siapa. Tapi sejauh ini pengalaman saya bekerja hanya 1 kali bertemu perusahaan yang menurut saya kurang profesional dalam memperlakukan karyawan, sisanya sih saya cukup puas dengan keadaan kerjanya, bahkan ada yang membuat saya sampai males pindah hahaha…

Nah…. itu kan yang indah-indah nya ya… yang underground nya atau bahasa jaman now suka disebut dengan istilah efek gunung es, itu ternyata perih loh… proses yang saya lalui selama 2 tahun pertama itu bukan hanya membuat saya sempat depresi dan stress tapi juga sampai menangis, ini serius… saya tidak malu mengakui saya memang sempat menangis seperti anak kecil saat awal-awal disini, karena apa kalau bukan karena sudah stress tapi menolak nyerah… rasanya itu benar-benar nyiksa hahaha… untunglah belum sempet gila sudah terlewati masa kritis nya. Itulah kenapa apa yang kalian lihat di hal yang saya sudah bagikan di sosmed saya itu dibalik semua yang kalian anggap “indah” itu ternyata tidak seindah proses mendapatkannya. Walaupun begitu, saya setiap kali melihat kebelakang dan mengingat awal-awal kami disini, sering saya tersenyum sendiri. Bukan karena gila ya hahaha… tapi karena saya tidak percaya berhasil melewati semua itu dan sekarang bisa menikmatinya. Hidup itu sering kali memaksa kita untuk jatuh pada lutut kita, kalau kita menolak untuk bangkit dan melangkah lagi ya kita akan selama nya berada dititik itu kecuali kita mau ngesot… jiah… masa ngesot sih…

Kembali

Iseng karena tidak banyak yang dikerjakan hari ini di kantor membuat saya menata ulang posisi meja kerja saya (yang tidak berubah banyak ternyata hahaha….) dan membaca-baca kembali beberapa artikel lama yang pernah saya tuliskan disini. Salah satu artikel yang saya baca adalah sebuah tulisan bulan Desember 2015 lalu (tepat sehari sebelum kami pulang ke Jakarta saat itu) yang entah kenapa membuat saya termenung. Artikel itu bisa dibaca disini.

Saya masih bisa merasakan apa yang terjadi saat itu, walaupun sudah berlalu 3 tahun. Debar di dada saya masih begitu kuat saat menelusuri baris demi baris kalimat yang saya tulis malam itu, yang saat menuliskannya (jujur) saya susah payah menahan air mata saya agar tidak tumpah ruah sambil berulang kali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak dalam dada saya. Saya secara pribadi masih sering melamun dan merenung tidak percaya jika kami sekarang sudah berada di Melbourne lagi dan sebentar lagi akan genap tiga tahun. Semua ini masih seperti mimpi buat saya. Perasaan pasrah yang saya miliki saat itu, yang bercampur dengan perasaan putus asa, kecewa dan syukur, hari ini ternyata membuahkan hasil yang lain dan diluar dugaan saya, benar-benar diluar dugaan saya.

Culture shock yang memukul saya dengan kuat diawal kepindahan kami kesini yang kedua kalinya, pelan tapi pasti sudah berlalu dan saat ini benar-benar sudah berlalu. Kami juga sudah mulai menjadi lokal disini dan mulai bisa mengikuti derap irama kehidupan disini disamping saya yang sudah mulai kerasan di pekerjaan karena mendapatkan pekerjaan permanen dengan posisi dan gaji di level yang saya inginkan belum lagi gaya bekerjanya yang serius santai membuat kami mulai menganggap Melbourne adalah rumah kami, terlebih lagi karena kami sudah memiliki rumah mungil yang sedang dalam proses pembangunan (tapi ini masih utang ya haha…), yang semoga lancar dan bisa selesai awal tahun depan. Kami mulai kerasan dengan kehidupan disini dan sangat bersyukur untuk semua proses yang sudah kami lalui sampai hari ini, dan tetap bersiap untuk kejutan-kejutan di masa depan.

Kami jujur tidak pernah bermimpi bisa kembali lagi sebetulnya, karena kami saat itu berusaha realitis terhadap kenyataan dan realita, belum lagi keuangan kami yang porak-poranda tidak karuan karena kegagalan kami saat itu. Tapi sekali lagi Tuhan itu memang luar biasa, terlepas dari kalian percaya atau tidak, tapi semua yang kami miliki hari ini tidak akan terjadi jika tanpa kuasa Tuhan terlepas dari senekat apa kami saat itu dan sekarang.

Kami kembali lagi saat ini, dan kembali merajut impian kami untuk keluarga kecil kami dan kedua anak kami. Satu hal yang bisa saya bagikan dari perjalanan kami ini adalah “jangan pernah menyerah mengejar impian kalian, dan bersandarlah pada Tuhan bukan lainnya”. Selamat berakhir pekan kawan.