Hari pertama (lagi…)

Hahhh… pindah lagi?

Iya senin depan saya mulai bekerja di tempat baru lagi hehehe… keinginan punya pekerjaan permanent on going yang tidak mengharuskan saya menjaga status CCIE saya tetap aktif (tetap dalam emeritus status) tapi juga tetap memberikan tantangan (yang artinya tidak membuat saya berada di posisi under pay) membuat saya tetap membuka profile Seek dan Linkedin saya (yang sekarang sudah saya tutup untuk sementara).

Bulan lalu, tiba-tiba salah satu head hunter menghubungi saya dan menawarkan kesempatan yang satu ini. Setelah dikirim job description nya, saya baca pelan-pelan, dan saya timbang-timbang sambil semedi (ga denk…) saya cukup yakin ini bukan posisi yang mudah dijalanin yang artinya tetap memberikan tantangan yang berarti. Saya iyakan dan semua berlanjut ke sesi wawancara.

Sesi wawancara awalnya di set 2 kali, yang ternyata di babat 1 sesi oleh customer itu sendiri. Head Hunter sendiri kaget waktu saya beri tahu wawancara sudah di borong jadi satu kali wawancara. Singkat cerita saya akhirnya mendapatkan pekerjaan ini. Yang lebih mengagetkan lagi adalah, gaji yang saya minta ternyata tidak diberikan, tapi malah ditambah, seumur-umur saya kerja baru kali ini minta gaji malah ditambah hehehe… jujur saja yang membuat saya senang itu bukan semata-mata gaji saya justru ditambah, tapi dibalik semua itu menandakan mereka menghargai kemampuan yang saya miliki dan tidak aji mumpung ingin eksploitasi saya hanya karena saya sedang butuh, ini yang namanya fairness and respect.

Apapun itu, saya kerja tidak semata-mata mencari gaji sih… buat saya yang paling penting adalah tantangan nya karena saya model yang cepat bosen dan selalu iseng pengen tahu hal baru. Dan, yang lebih penting lagi adalah bisa tenang dan memiliki waktu buat mikirin rumah dan isinya. Hal yang sangat mahal saat ini, dan selama saya masih bekerja sebagai kontraktor, hal itu agak susah dicapai karena otak saya sibuk memikirkan bagaimana memperbaharui kontrak kerja yang akan berakhir agar tidak ada masa dimana saya menjadi nganggur (walaupun Puji Tuhan belum pernah terjadi karena tenaga usang saya masih terus bisa terpakai sampai saat ini), maklum kami single income dan anak-anak makin hari makin mahal kebutuhannya hahaha…

Kali ini, saya benar-benar berharap bisa bekerja untuk jangka waktu yang lama, kalau bisa pensiun disini sekalian (ngarep…) hahaha… karena selain ini dikelola oleh organisasi Katolik dimana seiman dengan saya (halah…. bawa-bawa seiman… penting gitu yang se iman? yang penting bisa kerja ups…), ini juga organisasi non-profit yang artinya membuat saya membayar pajak lebih ringan (halah…). Diluar semua itu, teknologi yang mereka gunakan juga termasuk advance dan menantang, dan posisi saya termasuk di posisi senior yang akan melibatkan proses desain disamping teknis yang sudah akan menjadi makanan sehari-hari, bakalan belajar banyak disini sepertinya karena ini adalah organisasi dengan jumlah karyawan diatas 7500 orang, wow…. Lokasi juga cukup mendukung karena didekat stasiun kereta dan tram stop (aihh.. ini yang bikin renyah…), ya setidaknya saya ada pilihan lain kalau sedang malas bawa mobil hehehe…

Masuk tahun ketiga di Australia membuat saya belajar banyak hal, yang tentunya membuat saya juga berubah di banyak hal. Jadi ga heran kalau dalam beberapa kesempatan ada yang bilang “lu sekarang beda, berubah” Hahaha… Satria Baja Hitam donk pakai berubah. Ada yang bilang perubahannya positif, ada yang justru bilang perubahannya negatif (misalnya saya dibilang sombong sekarang oh nooo…). Saya berubah, itu sudah pasti, hidup di negara lain dengan budaya dan kehidupan yang jauh berbeda dengan Indonesia sedikit banyak menuntut saya untuk menyesuaikan diri.

Beberapa hal yang saya sadari berubah dari diri saya antara lain, sadar tidak sadar saya belajar untuk tidak “kepo”, setidaknya mengurangi lah… dimulai dari mengurangi posting komentar di sosial media mengenai kehidupan pribadi siapa saja, baik itu kawan, publik figure atau politikus. Kenapa? karena saya belajar menghormati garis privasi orang lain dan ber-empati, susah loh…. coba aja kalau ga percaya. Selain itu, saya juga semakin to-the-point, maklum disini orang-orang bule sedikit banget yang suka “drama”, hidup itu sendiri sudah merupakan “drama” jadi ga perlu ditambah “drama” lagi karena kebanyakan jadi pusing, mereka sering straight forward jika sedang diskusi sesuatu atau ingin menegur atau apapun, jadi jangan heran dan kaget kalau saya pun pelan-pelan mulai mengikuti budaya yang satu itu. Perubahan lainnya adalah mental untuk malu, loh… berarti dulu ga punya malu gitu? bukan, maksudnya mental untuk malu disini adalah kesadaran untuk mau antri, tertib dijalan, patuh pada aturan dan lain sebagainya, karena jika kita tidak melakukan hal-hal itu ya paling tidak akan ditegor atau paling parah di denda. Jadi disini rata-rata orang ikut aturan bukan semata-mata takut sama dendanya, tapi mereka lebih kepada kesadaran untuk malu dan sadar jika semua ini untuk kepentingan bersama. Perubahan lainnya yang saya rasakan adalah berusaha untuk memiliki empati, empati? iya empati, saya mulai mengurangi (jika bisa berhenti) posting pencapaian-pencapaian terutama yang berbau materi di sosial media saya, dan mendorong istri saya juga ikut melakukan hal yang sama. Loh emang kenapa? bukan kenapa-kenapa, saya tidak takut dibilang pamer atau sombong, tapi saya percaya tidak semua suka dengan postingan saya karena mereka mungkin saja sedang berjuang dengan kehidupan mereka yang berat, dan saya berusaha untuk tidak memamerkan sesuatu yang bisa membuat mereka berpikir “hidup saya kok tidak seberuntung dia” setidaknya melakukan sesuatu karena tidak bisa menolong banyak, karena pada dasarnya tidak ada yang lebih beruntung dan tidak ada yang lebih tidak beruntung dalam kehidupan, yang ada hanya kita memang berjalan di jalan masing-masing dan apa yang mewah pada kehidupan orang lain mungkin tidak akan terasa mewah jika terjadi pada kehidupan kita. Beda ya sama disana, hayo siapa yang mulai gelisah baca artikel ini hahaha….

Apapun itu, yang paling penting adalah jangan lupa untuk bahagia. Bisa hidup di negara sehebat Australia dan di kota se-cantik dan se-bersih Melbourne merupakan anugrah tersendiri bagi saya dan keluarga. Mengingat latar belakang saya, semua ini benar-benar mukjizat bagi kami terutama saya. Tidak akan terjadi jika tanpa campur tangan Dia. Perjalanan ini juga mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan kepada saya. Saya belajar untuk tidak mengejar kekayaan tapi belajar menikmati kehidupan itu sendiri, karena tidak ada yang tahu sampai kapan perjalanan ini akan berakhir. Saya juga belajar untuk tidak mengejar kebahagiaan karena sejatinya kita sudah hidup didalamnya, hanya saja kadang kita lupa bersyukur sehingga tidak menyadari jika kebahagiaan itu sendiri sudah menjadi bagian dalam hidup kita. Saya belajar untuk tetap bermimpi tapi tidak lupa bangun dan melangkah untuk merajut impian saya. Saya belajar untuk lebih tidak mudah menyerah karena saya belajar untuk tidak menerima hasil tapi menerima proses.

Saya juga belajar untuk mengurangi rasa kawatir, karena sudah terbukti berkali-kali dalam kehidupan saya jika hal-hal yang baik bahkan yang terbaik justru terjadi diluar dugaan dan rencana saya, di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, dan dalam keadaan yang diluar nalar saya, karena semua terjadi di waktu yang Dia tentukan. Saya juga belajar untuk lebih sabar, maklum saya orang yang keras dan tidak sabaran (yang butuh diubah sebisa mungkin dan akan menjadi bagian tanpa akhir dari perjalanan seumur hidup saya), perjalanan ini mengajarkan banyak hal kepada saya tentang arti bersabar dan melunak terutama terhadap keadaan. Hal ini, sedikit banyak membuat saya menjadi lebih baik dalam mengontrol emosi saya. Saya juga belajar untuk bersyukur untuk keluarga kecil saya, saya akui jika istri saya mungkin memang bukan yang tercantik, bukan juga yang terseksi, dan jauh dari kata sempurna, tapi dia adalah pilihan yang terbaik yang saya pilih dan terpilih bagi saya, yang saya pilih dengan sadar dihadapan Tuhan. Begitu juga kedua anak saya yang juga jauh dari kata sempurna, tapi merupakan berkat Tuhan yang bernilai buat saya dan sudah dipercayakan kepada kami. Karena justru di dalam ketidak-sempurnaan mereka, saya belajar tentang arti dari kata mengalah, arti dari kata memahami, arti dari kata tidak egois, arti dari kata setia, arti sebuah tanggung jawab, arti kata berjuang dan arti dari kata kedewasaan.

Jika ada kata-kata yang aneh, harap maklum karena ini ditulis karena kebangunan dini hari dan dengan whisky di tangan untuk mengusir dingin.

Selamat menjalani akhir pekan yang luar biasa kawan, ingat… jangan lupa untuk Bahagia.

Advertisements

Akhirnya Titled

Yeahh…. akhirnya kami mendapatkan berita yang sudah kami tunggu selama 2 tahun, tanah yang kami beli titled!

Dan saya juga sudah ditelpon conveyancer kami dan dipertegas oleh pihak developer sendiri.

Berita ini pun langsung kami teruskan ke builder yang sudah kami pilih 2 tahun lalu agar mereka bisa segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bisa mulai membangun rumah mungil kami.

Semoga semua lancar yaaa… sudah ga sabar kami ingin memiliki tempat tinggal permanen agar ga pusing pindah-pindah alamat setiap masa sewa tidak diperpanjang oleh yang punya.

Dokumen pun langsung minta disiapkan oleh mortgage broker yang kami pilih dan minta di legalisir. Duh, beruntung kami berada di Australia yang sudah lebih tertib dan rapi, kalau di Jakarta di hari sabtu tiba-tiba minta dokumen terlegalisir sih bisa-bisa habis uang menyan banyak secara disana apa-apa dibuat drama serumit mungkin.

Disini, saya hanya perlu membawa dokumen asli ke Officeworks lalu fotocopy, dan bawa keduanya ke kantor pos mana saja dan minta di legalisir dokumen fotocopy dengan menunjukan dokumen asli dan biaya legalisir nya gratis hahaha… ga sampai 30 menit semua beres sudah termasuk waktu perjalanan karena disini kan ga macet juga.

Habis makan siang rencana nya kami ingin menengok tanah kami untuk melihat apakah siap atau tidak untuk dipindah-namakan, dan setelahnya akan menemui kawan di city disaat makan malam yang kebetulan datang dari Indonesia dan Singapura hari ini.

Sukses?

Oii… wah… sudah sukses ya lu sekarang!

Well, kalimat itu sering saya jumpai jika sedang terlibat chat “seru” dengan beberapa handai taulan.

Ga aneh sebenarnya, karena typical manusia yang sering kali melihat sebuah kesuksesan itu hanya dari kacamata yang ingin mereka lihat (termasuk saya hahaha…)

Apa sih sebenarnya ukuran sebuah kesuksesan?

Nah, ini adalah pertanyaan yang sulit sekali dijawab atau dicari jawabannya. Kenapa? karena ukuran sukses setiap orang itu beda-beda bro… ada yang menganggap kalau punya bisnis besar itu bisa disebut sukses, ada yang menganggap kalau anaknya bisa lulus dari Harvard adalah sukses, ada juga yang sekadar bisa beramal itu sudah sukses.

Jadi, apa itu sukses sebenarnya?

Oke, jika menurut saya, sukses adalah saat kamu berani keluar dari zona nyaman dan mengejar impian kamu dan kamu berhasil meraih nya. Nah, itu sukses menurut saya.

Hasilnya? bisa macam-macam, tergantung apa yang jadi ukuran impian kamu? materi kah, kualitas hidup kah (ini saja masih banyak cabang nya hahaha…), atau yang lain kah.

Jadi lu sudah mencapai impian?

Mencapai impian? hemm… ini sudah dijawab, jika dibilang sudah atau belum, jawabannya ya pasti sudah, toh impian saya banyak walaupun saya kere ya hahaha… tapi kalau dibilang sudah tercapai semua, ya belum sih… karena ga nyeni banget kalau sudah tercapai semua, trus sisa hidup nya buat apa donk? jalanin saja gitu? waduh… saya cepat bosan kalau harus begitu, jadi saya sering bikin impian baru (halah…. sombong nya keluar… hahaha….), eh tapi bener… impian kan ga perlu wah… seperti misalnya pengen bangun menara eipel…. halah…. cukup bisa menjaga kehidupan cinta kamu se-romantis menara eipel itu sudah lebih dari cukup hahaha… walaupun itu ga mudah…

Atau, belajarlah bersyukur, bersyukur masih sehat, nah…. itu penting loh… karena kesehatan ga bisa dibeli pakai apapun! tapi bisa kita jaga. Dan…. lebih jauh lagi jangan lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, karena pada dasar nya bukan kuantitas yang kita miliki yang membuat kita bahagia tapi kuantitas bersyukur kita yang bikin kita bahagia kan.

Eh… bener ga sih nulis kuantitas nya???

Ah… sudahlah, syukuri saja masih bisa nge-blog walaupun dilakukan mendekati jam 1 malam hahaha….

Yuk kita tidur….

Kenapa saya migrasi ke Australia

Yaelah… ini lagi ini lagi topiknya, basi ga sih judulnya ??? hayo bilang ga basi…. batal nulis nih… hahaha…. pasti iyalah basi karena saya sudah beberapa kali menuliskan alasan kenapa saya migrasi dalam artikel yang terpisah-pisah dan waktu yang terbeda-beda halah… berbeda-beda maksudnya. Duluuu…. jauh sebelum saya mendapatkan PR, banyak yang bertanya sebetulnya baik dari kawan, handai taulan sampai keluarga, kenapa sih saya ngotot sekali mengejar PR ???

Pertanyaan yang satu itu sulit saya jawab sebetulnya karena saat itu saya pun ga tahu kenapa bisa se-ngotot itu., karena meninggalkan zona nyaman itu jujur kacang ijo buerattt sekali lohh…. Yang saya ingat saat itu hanya membayangkan jika saya ingin sesuatu yang lebih baik buat keluarga kecil saya, dan pengennn pakai banget anak-anak saya bisa sekolah di luar negeri. Begitulah kira-kira jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan sebelum saya migrasi waktu itu lebih mengarah ke kenapa sih saya mau meninggalkan semua yang sudah saya raih dan pindah ke negara baru untuk mengulang lagi semua dari Nol? padahal sebagian dari mereka yang bertanya tahu kalau apa yang sudah saya raih saat itu tidak didapatkan dengan mudah, lah kok sekarang mau dilepasin…. ga waras ini orang (mungkin begitu kali ya dalam hati mereka hahaha…) sudah gitu pindahnya ke negara yang belum pernah kami kunjungin lebih dari 1 minggu dan ke kota yang bahkan belum pernah kami kunjungi sama sekali, huahh… hororrr….

Saya memilih Australia di list pertama saat mengejar PR, karena sistem pendidikannya adalah salah satu yang terbaik di dunia. Ya bukan berarti yang lain ga bagus yaaaa… karena baik New Zealand di urutan kedua list saya dan Canada di urutan ketiga juga pasti bagus, dan saya bisa sampai memilih 3 negara ini sebagai top list saya ya karena alasan sistem pendidikan itu tadi dan itu menurut hemat saya loh yaa… kalau situ mau boros-boros ya monggo…. Selain pendidikan ada faktor lainnya juga seperti adanya jaminan pendidikan dan kesehatan dari pemerintah. Jadi anak-anak saya pasti bisa sekolah dan bisa di sekolah yang cukup bagus seandainya bapaknya ini ga sanggup nyekolahin, dan tetap akan tertolong saat butuh pelayanan kesehatan disaat bapaknya ga sanggup bayar, duh… duh…. amit-amit mata ijo jangan sampe ya…. ketok aspal 3 kali sambil mulut komat kamit kaya dukun kolor ijo….

Alasan lainnya yang sebetulnya tidak penting-penting amat adalah karena disini Negara 4 musim walaupun tidak bersalju hahaha… norak ga sih, ya ga papa deh norak dikit… dulu saat saya kecil setiap bermain hujan selalu berangan-angan untuk mencoba kehidupan negara 4 musim karena penasaran sama perubahan-perubahannya yang ternyata cukup menyengat saya di awal-awal kepindahan kami kesini dulu, sampai kaget ini badan apalagi pindahnya kan langsung ke Melbourne yang terkenal suka berubah-berubah cuacanya dalam satu hari, satu hari booo… bukan satu bulan atau setiap 3 bulan. Sudah gitu negara ini kan juga bisa dibilang negara 4 musim yang termasuk dekat sama Indonesia secara jarak, jadi kalau lagi kangen bombay bisa lebih mudah untuk cap cus dan balik lagi walaupun sampai sekarang belum kejadian karena berat ongkos nya hikss…. ga kukuh deh buat saya (hayo yang tau istilah ini ketauan angkatan berapa hahaha…).

Nah sedangkan pertanyaan sesudah migrasi justru lebih banyak yang mengarah ke kenapa sih Melbourne? kenapa bukan Sydney yang lebih ramai atau Perth atau bahkan Darwin yang lebih deket sama Indonesia? Apalagi kan kami belum pernah ke Melbourne sebelumnya, dan ini serius… kami migrasi ke kota yang sama sekali belum pernah kami kunjungi seumur hidup kami (ya sebenernya sih semua kota di Australia belum pernah sih hahaha…. ga papa deh drama dikit) dan tanpa clue sama sekali. Bingung juga sebetulnya kenapa dulu bisa berani ya ha ha ha… (garuk-garuk kepala). Dulu saat kami sudah mendapatkan PR, kami mulai menimbang kota mana yang akan menjadi tujuan kami, setelah browsing-browsing ke om gugle, pada akhirnya pilihan kami jatuh kepada kota ini dan sepakat mufakat untuk memilih Melbourne sebagai pelabuhan kami selanjutnya. Kami memilih Melbourne karena kota ini disebut juga kota sejuta taman, karena memang banyak banget tamannya, dan ini sesuai dengan keinginan kami untuk bisa hidup di kota yang lebih hijau secara susah ya di jakarta nyari tempat tinggal nyaman yang hijau. Kota ini juga tidak terlalu metropolitan dengan banyak gedung tinggi dimana-mana, gedung tinggi tetap ada tapi ter-konsentrasi di pusat kota atawa bahasa keren nya CBD (bacanya si-bi-di yee… bukan ce-be-deh…). Selain itu kota ini juga merupakan kota kedua terbesar di Australia yang artinya kesempatan untuk mencari pekerjaan di bidang IT termasuk cukup banyak, walaupun untuk nembus pasarnya itu haduh jubilee susahnya. Diatas semua itu, kota ini juga pernah terpilih sebagai kota paling layak huni sedunia sebanyak 7 kali berturut-turut, keren ga tuh… hal yang membuat saya sering ngelamun “duhh… kalau bisa membawa keluarga saya hidup di kota yang katanya paling layak huni selama 7 kali berturut-turut rasanya seperti apa ya…”, ternyata rasanya seperti ini… 🙂

Selain apa yang saya tulis diatas, ada beberapa alasan lain yang turut mendorong saya si penakut ini untuk belajar berani. Pertamax, (ngulang dikit yak) seperti yang sudah saya tulis diatas tadi yaitu pendidikan, alasan satu ini menjadi top of the list saat saya memutuskan untuk hijrah. Pendidikan di Indonesia emangnya jelek? ga juga, cuma buat saya kurang cocok saja. Gaya mendidik yang meng-dikte, meng-hafal, dan menitik beratkan pada akademis dari awal sehingga melupakan dasar-dasar ajaran hidup seperti misalnya etika dan budaya malu saat ga antri, membuat saya berusaha membawa anak-anak agar bisa bersekolah ditempat lain. Apalagi anak saya anak otak kanan dominan yang mana sangat sangat klik sama sistem pendidikan yang ada disini, suerr… deh. Loh kan di Jakarta juga ada sekolah model begitu ?!? bener, tapi… ada tapi nya nihh…. biayanya murah ga? hayoo… saya kan bukan orang berduit hehehe… belum lagi perjuangan anter jemput dan menembus macet, haduh… ga deh hahaha…

Lingkungan juga menjadi pertimbangan, tingginya tingkat polusi di Jakarta karena kepadatannya yang sudah makin akut ditambah kebiasaan buang sampah sembarangan membuat udara dan air menjadi kurang sehat, hal itu turut membuat saya mencari jalan ke daerah yang udaranya lebih bersih dan airnya bisa diminum tanpa rasa kawatir yang berlebihan. Lah… kenapa ga ke kota lain? saya tidak berusaha pindah ke kota lain karena keahlian yang saya miliki membuat saya harus bertahan di Jakarta karena semua terpusat disana dan terjebak ditengah kemacetan yang semakin menggila setiap hari nya. Belum lagi melihat tingkah laku para pengguna jalan yang sering kali merasa hanya mereka lah pengguna jalanan sedangkan yang lainnya hanya ngontrak.

Jaminan kesehatan juga menjadi salah satu faktor yang mendorong saya ke Australia, maklum pengalaman setengah mati saat ditinggal (alm) Papa membuat saya secara otomatis mencari jalan terbaik agar keluarga saya sebisa mungkin tidak perlu pusing pala barbie saat harus berhadapan dengan yang namanya penyakit (semoga tidak….), di Australia kami sebagai pemegang visa PR mendapatkan pelayanan yang sama dengan Citizen, dan kami pun berhak mendapatkan kartu Medicare. Dengan kartu ini 99% kami akan dicover walaupun harus antri kalau tidak sampai mengancam nyawa sakitnya. Medicare itu seperti BPJS kalau di Indonesia, bedanya disini semua pemegang visa PR dan Warga Negara berhak dapat layanan Medicare tapi tidak wajib bayar jika tidak memiliki penghasilan diatas batas bawah penghasilan kena pajak, kenapa harus diatas batas bawah penghasilan kena pajak karena iuran Medicare itu diambil dari sebagian pajak yang kita bayar, eitss… bukan berarti kita bisa main kucing-tikusan seperti disana ya, disini semua sudah online dan akan ketahuan jika punya penghasilan memadai tapi tidak bayar Pajak, dan siap-siap kena denda saat tertangkap basah.

Ketenangan (apalagi kalau sedang pilpres atau pilkada, haduehh…) juga menjadi salah satu bensin saya selain ketertiban dan tidak adanya pungli, pengalaman hidup sebagai minoritas (pakai ganda) membuat saya sudah kenyang dengan yang namanya “uang rokok” setiap butuh sesuatu yang berhubungan dengan surat-surat yang sebetulnya sudah menjadi hak saya sebagai warga negara. Disini, saat kita butuh surat atau apapun, tidak berbelit seperti disana, semua jelas dan transparan. Dan tidak gaduh seperti disana walaupun sedang pemilu. Dan disini, setiap calon saling adu program kerja ga saling lempar hoaks, ditambah lagi warga negara nya juga sudah lebih beradab ya, jadi ga gampang dikomporin hahaha… Hal seperti ini selain membuat pikiran tenang juga membuat hati tentram.

Seperti apa sih kehidupan kami di Melbourne selama ini? nah ini nih yang sepertinya belum pernah saya tulis hehehe… bener ga sih? saya sendiri lupa-lupa ga inget juga pernah ga nulis yang satu ini. Hidup di Melbourne ya ga jauh beda sama hidup di Jakarta, jiahh… ga seru amat ya…, oke-oke tadi kan yang ga jauh beda, sekarang kita bahas yang dekat beda (bingung kan bacanya…). Kita mulai dari kerja dan family time, kenapa dua hal ini penting buat saya? karena saya harus bekerja untuk menuaikan kewajiban saya sebagai kepala keluarga, dan saya juga ingin bisa memiliki waktu yang berkualitas untuk keluarga saya. Yang sering kali menjadi masalah adalah bagaimana membuatnya seimbang, ya kan. Kalau bicara bikin kedua hal itu benar-benar seimbang impossible lah ya… namanya juga manusia kan, mana ada sih yang perfecto. Tapi setidaknya, kita bikin beti lah (beda-beda tipis), dan kenyataannya jika tetap tinggal di Jakarta hal itu sulit diwujudkan kecuali saya horang kayah yang bisa ongkang-ongkang kaki dirumah tau-tau duit jatuh seperti daun di musim gugur karena ga perlu ber-jibaku dengan macet atau saya punya rumah deket sama kantor yang mana lebih mustahil bin mustajab lagi untuk terwujud kan. Nahh… kalau disini, saya bisa membuat kedua hal itu menjadi dekat selisih nya karena saya tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam sampai bego di jalan karena kemacetan yang selalu bertambah parah karena tingkah laku blo-on pengguna jalannya termasuk saya sendiri, dan disini dunia kerja juga sangat mendukung family time sampai-sampai yang namanya lembur itu sebisa mungkin dihindari. Gaya kerja yang bisa dibilang bikin shock saya awal-awal kepindahan kesini sekarang sudah makin saya nikmati hehehe… gimana ga dinikmati coba, kalau public holiday jatuh di sabtu atau minggu diganti hari kerja terdekat berikutnya jadi libur, cuti 20 hari setahun, belum minimal 10 hari care dan sick leave, dan beberapa perusahaan bahkan baik hati memberikan 10 hari tambahan sebagai care leave. Itu semua belum termasuk bisa bekerja dari rumah jika dibutuhkan untuk beberapa perusahaan, cuti khusus kalau anggota keluarga ada yang meninggal, dsb. Keadaan jalanan yang tingkat kemacetan nya rendah secara tidak langsung membuat saya menikmati sekali nyetir di Melbourne karena selain tidak macet gila seperti Jakarta, pengguna jalanan disini juga tertib dan saling ngalah sehingga kalau pun sampai macet tetap cepat terurainya, sehingga jarak kerja yang kadang jauh kalau saya pindah kantor terasa lebih ringan untuk dijalanin. Ada sih beberapa yang brengsek juga ngelanggar seenak jidat mereka, tapi jarang banget lah… apalagi kalau dibandingkan disana, kecil hampir ga ada jumlahnya.

Nahhh…. karena waktu tidak banyak terbuang dijalanan, saya kan jadi lebih cepat sampai rumah, biasanya setiap hari kamis setelah pulang kerja kami masih bisa menyempatkan untuk belanja barang-barang kebutuhan dapur seperti sayur, daging, makanan kecil, susu, roti dll di pusat jualanan groceries, disini ada COLES, Woolworth atau ALDI. Kadang kalau kami sedang kangen ikan laut segar, atau istri sedang mau beli daging sapi khusus seperti has dalem atau buntut, atau bahkan lemak babi dan jeroan ayam atau sayuran segar tertentu, kami belanjanya hari sabtu atau minggu di pasar traditional (pasar traditional sini bersih lohh… mirip supermarket hehehe…). Selain itu kami juga sering belanja di toko Asia, apalagi kalau lagi cari-cari bumbu atau krupuk hahaha… kegiatan ini biasanya dilakukan setiap 2 mingguan, atau kadang kalau lagi kalap belanjanya jadi belanja bulanan, kerasa deh bayarnya dan gotong-gotong belanjaan apalagi dulu waktu awal-awal disini dan belum ada mobil, sudah bawa belanjaan beratnya minta ampun sambil ngeteng kendaraan umum, belum kalau duo unyils kecapean dan minta di gendong nahhh…. bingung kan gimana caranya. Pengalaman seperti itu yang sering bikin kami senyum-senyum sendiri kalau mengingat saat-saat itu terjadi sambil garuk-garuk kepala ga percaya kok bisa ya kami lewati hahaha….

Bermain di alam terbuka juga menjadi salah satu kegiatan kami disini, sebuah kemewahan yang jarang kami dapatkan di Jakarta karena nge-mol mulu kan. Disini banyak taman yang ramah anak-anak, ada tempat bermainnya, ada tempat BBQ nya, bahkan ada keran air minum. Selain ke taman, kami juga sering ke Perpustakaan, anak-anak kami senang sekali kalau ke Perpustakaan, aneh bin ajaib ya… perasaan Bapaknya sampai setua ini belum pernah segirang itu kalau ke Perpustakaan hahaha… dan kalau sedang bosen biasanya kami sekadar keluar mencari makan, atau pergi ke tempat-tempat yang agak jauh untuk menikmati alam Melbourne yang masih asri sambil mengisi paru-paru dengan oksigen yang segar dan bersih sembari mendengarkan kicau burung yang hidup bebas di Negara ini, yang tentunya sebisa mungkin tetep kami cari tempat yang gratisan hahaha…. karena disini banyak tempat wisata yang tidak memungut biaya masuk.

Kegiatan kami lainnya adalah ramah-tamah dan acara lingkungan, kebetulan di Melbourne ada KKI (Keluarga Katolik Indonesia), dan KKI punya lingkungan juga seperti paroki di Indonesia. Walaupun kami tidak terlalu aktif dan turut bergabung dalam struktur organisasi mereka, beberapa kali kami ikut acara mereka sambil ramah tamah dan bersosialisasi dengan orang-orang Indonesia yang sudah berada disini terlebih dahulu maupun yang baru pindah seperti kami. Acara-acara seperti ini juga sangat membantu culture shock yang saya derita di awal-awal kepindahan kami ke Melbourne yang pernah saya tuliskan di beberapa artikel sebelumnya.

Kalau masih ada waktu luang, biasanya saya mengajak istri diskusi tentang apa yang mau kami raih kedepannya, merencanakan masa depan bersama itu asik loh… selain itu juga memupuk ikatan agar makin erat dan kuat karena memiliki tujuan yang sama dan direncanakan bersama. Ga semua sih kami sepakat seiya sekata, kadang kami debat juga mengenai apa yang mau kami lakukan, dari hal kecil seperti mau beli perabot apa dulu pas sudah bisa punya rumah sampai nanti tua mau kemping dimana hahaha… ga denk… istri saya ga suka kemping, dia mah sukanya se-pa sambil nonton drakor (halah….).

Sering juga saya memantau keadaan tanah air lewat berita-berita online yang sepertinya bisa dipercaya (kok sepertinya? iya donk, kan ane ga tau ada apa dan siapa dibalik berita itu turun, kalau pesenen gimana? emangnya martabak aja yang bisa dipesen), saya termasuk orang yang jarang cek lini masa saya di facebook, kenapa? karena isi nya banyakan sampah, apalagi postingan-postingan manusia “haus perhatian” yang teriak hidup nya susah ga lama kemudian pamer beli tas Hermes atau jalan-jalan ke luar negeri hahaha… basi!!! Sekali-sekali saya komen juga sih, terutama kalau ada postingan temen yang keluar di paling atas (karena saya males turun kebawah) yang isinya dia sedang jalan-jalan bersama keluarga (tapi ga pakai drama “saya orang susah” sebelumnya) ya saya kasih jempol dan komen hahaha… biar ga dibilang sombong, padahal mah dah banyak yang bilang saya sombong apalagi setelah migrasi, ga papa deh karena saya mah memang gitu orang nya…. xixixi… berteman ga sebatas tukeran jempol di facebook mas bro dan mba sis….

Bersyukur, nahh… ini nih aktifitas berikutnya yang selalu kami lakukan. Kami bersyukur banget bisa punya jalan ke titik kami sekarang, sesuatu yang sebetulnya mustahil bisa kami dapatkan jika melihat latar belakang kami. Tapi karena saat itu kami sudah bertekad untuk berhasil atau mati !!! huaahhh… ga kok, kami ga se-ekstrim itu hahaha…. walaupun awalnya berdarah-darah tapi kami tetap berusaha bertahan dan Tuhan selalu menyertai langkah kami baik saat naik apalagi sedang turun. Setiap pagi saya selalu berdoa mengucap syukur, syukur atas semua yang sudah terjadi dalam hidup kami, untuk yang baik maupun pembelajaran.

Saya secara pribadi tidak memiliki impian yang muluk seperti misalnya mau punya rumah yang ada kolamnya 3 (kolam renang, kolam ikan dan kolam susu) atau punya ferarri sepuluh (miniatur semua hahaha…), tapi cukup sebuah tempat tinggal permanent walaupun kecil ga papa karena toh sanggup nya beli sekecil itu saat ini. Saya juga memiliki impian ingin melihat anak-anak lulus kuliah disini, ingin melihat mereka mengenakan Toga dan lulus dari Universitas disini, duh rasanya semua jerih payah saya lunas tuntas saat hal ini terjadi walaupun saya juga tidak akan memaksakan kehendak itu kepada mereka tapi lebih kepada menuntun mereka agar mau menuju ke titik tersebut, maksa-maksa dikit nuntunnya hahaha… itu mah sama ajaa !!!

Ada satu impian yang ingin saya wujudkan sebetulnya, hanya saja saya tidak tahu apakah bisa kesampaian atau tidak, saya ingin merasakan white christmas bersama istri saya sebelum napas ini berhenti, entahlah… mungkin karena saya lahir di hari Natal sehingga moment seperti itu lekat sekali di benak saya, rasa nya gimana gitu berdiri diatas salju dibawah rintikan salju dan dikelilingi salju di dekat pohon natal sambil mendengar lagu natal sambil memeluk istri saya aihhh….. Impian yang satu ini saya simpan dulu saja setelah rumah sudah jadi milik sendiri, anak-anak sudah selesai sekolahnya dan mandiri semua, dan utang janji saya ke istri saya sudah terwujud hahaha… entah kapan…. tapi lebih baik berharap daripada hanya berimpi kan, emang bedanya berharap dan bermimpi itu apaan sih?