Pantai Brighton

Akhirnya, beberapa minggu lalu kesampaian juga kami mengunjungi salah satu ikon yang terkenal dari kota Melbourne, Australia. Pantai Brighton, pantai dimana terdapat sederetan rumah aneka warna yang konon katanya milik para pemain selancar yang menggunakan rumah-rumah kecil itu sebagai tempat untuk ganti baju, menyimpan selancar dan pelengkapan mereka (entah bener ga hahaha…) dan rumah-rumah kecil itu bisa kita sewa.

Pantai yang jauh nya kurang lebih 17 Km dari rumah kami di Balwyn dan bisa ditempuh dalam waktu 35 menit dengan kecepatan rata-rata 50 Km/Jam. Jalan yang tidak begitu macet dan bisa menikmati suasana khas kota ini saat menjelang musim semi dimana pohon-pohon kanan kiri yang sudah botak mulai berusaha menumbuhkan kembali daun-daun nya sedikit demi sedikit.

Saya termasuk orang yang menyukai pantai, entah lah… saat berada dipantai saya merasa sangat damai, memandang garis cakrawala yang angkuh yang jauh disana sambil menikmati suara debur riak ombak yang sayup-sayup dimainkan angin yang bertiup sedang ditambah hangatnya sinar matahari yang hampir tidak terasa karena masih kalah dengan dinginnya angin yang bermain di angka 14 derajat membuat saya begitu bersyukur untuk semua yang sudah lewat dan terjadi, untuk hari ini.

Dulu saya selalu mengucapkan kalimat “jangan pernah menyerah untuk impian lu!” saat memotivasi kawan-kawan baik saya, yang kemudian kalimat itupun kembali kepada saya oleh beberapa kawan saat saya sedang berada dititik jenuh dan ragu saat mengejar impian saya ini.

Saat saya sedang berada dititik yang sangat sulit, dan ingin meminang pacar saya (yang saat ini adalah istri saya dan ibu dari anak-anak saya), saya pernah bermimpi untuk 4 hal yang akan saya kejar dalam hidup saya kedepan, yang jujur saja saat itu saya tidak berpikir jika saya akan memiliki kemungkinan untuk memulainya (jangankan mencapainya) yang ternyata salah satu impian itu sekarang berada dalam kehidupan saya.

Impian-impian itu terlampau liar, dan terlampau ambisius mengingat keadaan saya dulu seperti apa, tapi impian-impian itu secara tidak langsung membuat saya menjadi lebih hidup karena saya tahu ada yang harus saya kejar dan capai (walaupun dibayangi oleh ketidak-mungkinan).

Advertisements