Bahasa

Hampir 6 bulan saya di Melbourne, saya masih belepotan soal bahasa. 

“Ah, lu baru bentar jo, ntar lama-lama juga bisa ikutin”

Begitu tanggapan salah satu kawan saya yang sudah lama menyandang gelar diaspora saat saya menyampaikan tantangan saya. Lama-lama nya sampai kapan pak…

Besar di negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Belum lagi selama di Indonesia kita lebih banyak bersinggungan dengan Bahasa Inggris gaya Amerika ketimbang Bristish. Belum lagi, Bahasa Inggris nya juga masih seperempat pakainya saat di Indonesia.

6 bulan ini, saya benar-benar harus usaha extra keras untuk menangkap arah pembicaraan yang ada di sekitar lingkungan kerja saya. Aksen british yang kental ditambah keterbatasan vocabulary serta cara pengucapan yang asing ditelinga, lalu ditambah lagi dengan bahasa slang Australia, belum lagi kalau dicampur gaya bicara orang dari India sana yang lebih terdengar kumur-kumur karena terlalu banyak huruf R nya, menambah rasa pengen pergi saja ke sudut ruang lalu menjadi arca disana hahaha…

Rasa percaya diri untuk berani speak up juga menjadi faktor, karena merasa Bahasa Inggris belum begitu lancar dan bagus, akibatnya jadi males ngobrol dan kumpul-kumpul menjadi salah satu gegar budaya juga disini.

Walaupun saat ini saya sudah mulai cuek, saat menyampaikan sesuatu langsung nyerocos saja kaya knalpot bajaj, bagusnya disini mereka selalu minta diulang kalau ga nangkep dengan bilang “sorry, I didn’t get you” atau “pardon, please” jadi setidaknya kita tau either kita salah ucap atau pakai vocabulary yang salah atau memang kecepetan atau memang aksen kita ga umum hahaha…

Malah ada yang dengan baik hati membenarkan kosakata yang kita gunakan dengan yang lebih umum digunakan.

Ditempat kerja saya kebetulan gabungan dari beberapa negara, kami 1 team terdiri dari 16 orang yang terbagi menjadi 3 team kecil merupakan gabungan dari negara Australia, Fiji, Turki, Srilanka, Vietnam, India, Rusia, Filipina, Malaysia, dan saya satu-satu nya dari Indonesia hehehe…

Jadi… mereka juga tau-sama-tau jika saya rada-rada kesulitan berkomunikasi dengan benar hahaha…

Lalu bagaimana cara melatihnya? Ada beberapa saran seperti menggunakan Bahasa Inggris di rumah, the big no karena saya keukeh harus menggunakan bahasa Indonesia di rumah, sekarang saja saya suka ga ngerti anak saya yang besar kalau lagi ngomong karena gaya bahasa Inggris nya sudah gaya Australia, apalagi kalau saya ga paksakan bahasa Indonesia ke mereka. Jadi, kalimat “pakai bahasa Indonesia” sering keluar deh…

Saran lain adalah nonton berita di TV, bisa sih… masalahnya TV dikuasai anak-anak sampai jam 7 malam, dan setelah itu mereka becanda satu dengan lainnya sehingga saya ga begitu nangkep berita yang sedang disampaikan (dalam suasana tenang saja belum tentu nangkep hahaha…)

Ada lagi cara lain, yaitu dengerin radio saat di mobil, nah… yang ini bisa dilakukan, tapi saat jalanan ga rame hahaha… maklum kan saya masih newbie nyetir disini, musti konsentrasi penuh karena disini ga seperti Indonesia, aturannya benar-benar dipatuhi jadi salah benar lebih jelas dan melanggar itu bisa berakibat fatal.

Nah… cara terakhir adalah banyak-banyak bersosialisasi, hemm… yang satu ini butuh semangat lebih, keberanian lebih dan pribadi yang lebih kearah suka kongkow kongkow… ga tau deh saya bisa ga…

Ya… apapun caranya, saya tetep percaya sih lambat laun pasti bisa membaur dan bahasa akan bisa menyesuaikan.

Udah ah… mau sarapan dulu, disini sedang winter jadi suhunya sedang drop ke angka 2 brrr….