3 asal dalam seteguk Soju

Ahh… akhirnya kami berjumpa setelah sekian lama tidak pernah tatap muka. Hari ini kami kedatangan kawan dari 2 negara, Indonesia dan Singapura.

Sejatinya kami berkawan sudah dari dulu kala, saat masih unyu-unyu sekolah di kota Tegal. Susiane yang setelah lulus SMP melanjutkan petualangan ke Negeri Bambu sehingga kurang lebih 23 tahun tidak bersua (jika tidak menghitung saat saya datang ke pernikahan dia 2,5 tahun lalu di Jakarta, tepat sebelum saya migrasi yang kedua kalinya ke Melbourne) dan ada juga Yani yang pindah ke Singapura setelah lulus kuliah dan menetap disana sampai sekarang.

Yani dan saya masih sempat berjumpa 2 tahun lalu, saat dia datang berkunjung bersama kawan dari Tegal Silvia dan juga kawan yang sudah tinggal di Melbourne Priscil. Hari ini kami bertiga di tambah istri saya, Priscil dan ga ketinggalan 2 unyils yang ga bisa diam, bertemu dalam meja makan menikmati masakan korea yang khas dan saling mengangkat Soju sambil bertukar cerita seru tentang kabar masing-masing. Ahh… rasanya seperti mimpi kami malah berkumpul di Melbourne hari ini.

Setelah selesai makan malam, kami pun memindahkan tongkrongan kami ke sebuah restoran Gelato yang bersembunyi cantik dalam sebuah gang, jujur kalau Priscil ga mengajak kami kesana, kami tidak menyadari kehadiran cafe gelato itu walaupun sudah hampir 2,5 tahun tinggal di Melbourne dan sering luntang lantung di City hahaha… thank you Priscil sudah menunjukan tempat cantik itu.

Setelah puas bercengkarama, dan duo unyils juga sudah berceloteh ga betah minta pulang, dan mereka bertiga pun harus istirahat menyiapkan fisik untuk pertualangan berikutnya besok pagi, kami pun masing-masing berpamitan dan pulang.

Tuhan sungguh baik, semua kejadian yang terjadi dalam kehidupan saya benar-benar diluar dugaan dan mengagetkan. Kenapa saya bisa bilang begitu karena jujur semua ini buat saya masih seperti mimpi. Bisa hidup bersama keluarga kecil saya di kota yang pernah terpilih sebagai kota paling layak huni 7 kali berturut-turut, dan mendapatkan kunjungan dan berkumpul dengan kawan-kawan yang sudah sekian lama tidak berjumpa adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari sebuah intan, momen seperti ini tidak ternilai kawan. Dan semua ini benar-benar seperti mukjizat buat saya… dan saya hanya bisa berkata Terimakasih Tuhan, untuk semua ini.

Kami bisa merasakan kehadiran 3 Negara dalam seteguk Soju yang penuh dengan kehangatan persahabatan. Sesuatu yang langka dan berharga.

Advertisements

(Another) Autum

Negara yang berada di benua sendirian di belahan selatan bumi ini sudah mulai masuk ke musim gugur lagi. Musim gugur kali ini akan menjadi yang ketiga bagi kami !!!

Tidak terasa sudah sejauh ini langkah kami disini. Badan yang dulu sreng-sreng-jess saat memasuki musim gugur dimana suhu mulai turun apalagi mendekati dan berada di musim dingin sudah mulai bisa mengikuti perubahan ekstrem suhu kota 4 musim dalam sehari ini. Pagi belasan, siang tiga puluhan yang kadang nyaris empat puluhan bahkan lebih yang kemudian kembali ke belasan saat memasuki kegelapan malam sudah bukan hal asing lagi bagi badan kami. Ga setiap hari sih begitu hahaha… seringnya terjadi di masa transisi musim semi ke musim panas dan musim panas ke musim gugur.

Kami sekeluarga sudah mulai masuk ke tahun ketiga, sudah lama juga ya… walaupun sampai saat ini masih setengah percaya bisa sampai di titik ini. Kami tidak meraihnya dengan mudah, dan hal ini membuat saya secara pribadi salut pada orang-orang yang berani meninggalkan zona nyaman demi meraih impian mereka dan beberapa diantara mereka melakukannya benar-benar dengan kedua tangan dan kaki mereka, itulah kenapa saya salut dan respek sekali dengan mereka-mereka yang bisa berhasil tanpa harus menunggu suntikan dari orang tua.

Tidak hanya disini, di Indonesia pun saya tahu ada beberapa kawan yang mampu merangkak naik dari nol. Walaupun hanya pas-pas-an, rumah tidak terlalu besar, mobil juga standard saja, tapi semua itu jika diletakan di bahu mereka yang mengandalkan suntikan modal dari orang tua belum tentu mampu terjadi loh… karena untuk mencapai titik tersebut tidak semata-mata modal berbicara tapi mental pejuang dan tahan banting juga mengambil peran.

Apapun itu, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing, kadang saya memang suka nyinyir sama mereka-mereka yang berlagak susah tapi pamer di facebook tas Hermes yang harganya bikin geleng-geleng kepala manusia pas-pas-an seperti saya. Apalagi mereka yang suka memamerkan materi yang dicapai karena suntikan dana, haduh haduh… haus sensasi amat sih kamu itu, butuh perhatian atau mau jadi pusat perhatian? apa adanya saja bro… no drama, apa sih yang musti kita banggakan sebagai manusia yang pada akhirnya akan pergi tanpa apapun.

Down to earth and being humble itu mudah diucapkan tapi susah dilakukan karena jari suka gatel update ini itu di sosial media kan…

Baiklah… saya jadi ngelantur ini nulis nya, mau makan malam dulu ya… laper…. tulisan diatas jangan diambil hati apalagi bikin baperan. Pertemanan itu tidak sebatas say hi di facebook, ping di WA atau ucapan selamat ulang tahun setiap tahunnya kok… tapi lebih jauh dari itu misalnya membawa nama mu dalam doa ku setiap hari karena kamu kawan ku, lebih bermakna kan…

Dah ah… mau makan dulu saya…

Akan ada saat itu tiba

Minggu ini, minggu yang penuh dengan kegiatan. Dimulai dari kepindahan saya kembali ke organisasi semula, perayaan hari jadi kami sampai ke kedatangan kakek dan nenek anak-anak yang sudah begitu ditunggu-tunggu oleh mereka.

Untuk kepindahan saya sudah pernah saya tuliskan di blog sebelumnya. Jadi saya akan menuliskan tentang hal lain.

Kami merayakan hari jadi tahun ini dengan cara agak berbeda, pertama saya ajak keluarga makan malam di daerah city saat pulang kerja karena hari itu tepat tanggal 26 dan istri kebetulan sedang mengajak anak-anak main ke daerah Port Melbourne yang kemudian mampir ke State Libray di seberang Melbourne Central. Karena hari itu saya juga menggunakan public transport jadi saat pulang saya mampir ke city untuk menemui mereka. Dan kami berakhir di sebuah restoran Thailand untuk mengenyangkan perut kami.

Yang kedua, kami merayakan nya di daerah Yarra dan hanya berdua saja. Maksudnya biar mesra dan romantis gitu hahaha… karena kebetulan mertua saya sedang datang jadi anak-anak bisa kami tinggal bersama mereka. Istri memesan tempat melalui groupon dan makanan yang dipesan luar biasa banyak, dan sudah paket jadi ga bisa di pilah-pilah lagi.

Dengan ditemanin segelas Cider untuk istri dan segelas Carlton Draught untuk saya, kami berjuang keras menghabiskan seafood platter yummy yang sudah menunggu dengan sabar di meja kami, huffhh… sampai susah jalan saya saat selesai makan…

Malamnya, sebelum tidur saya iseng memperhatikan lini masa sosial media saya, mata saya tertuju pada sebuah postingan yang cukup menggelitik karena melihat seseorang yang saya cukup kenal tersenyum bahagia karena sebuah promosi yang baru saya diterimanya. Saya mengenal pribadi itu cukup dekat dulu dan saya tahu dengan sangat bagaimana dia menyebar kata dan kalimat untuk menghadang orang-orang yang ingin kembali karena mungkin dia merasa hal itu akan menjadi ancaman buat dia. Dan saya tahu jika itu pun salah satu yang terjadi pada saya juga pada akhirnya. Dan mungkin juga hal itu juga yang membuat dia berada diposisi dia saat ini kan, bersama sekumpulan manusia-manusia setipe lainnya yang saya tahu memang cukup banyak disana.

Ga heran sih, dan apakah saya kemudian menjadi dendam? Tidak sama sekali. Tidak, saya malah memaafkan. Bukan karena saya mengenal mereka, dan bukan juga karena saya tidak suka sama mereka. Saya memilih untuk tidak mengubris hal seperti itu karena saya sadar jika menjadi orang yang terbukti kompeten sudah tentu akan dihadang orang yang tidak kompeten agar tidak terjadi persaingan (lagi mau nyombong dikit boleh donk hahaha…) dan hal itu harus disyukuri, karena secara tidak langsung kita diakui kehebatannya walaupun dengan cara tidak terpuji.

Lalu apakah hal itu membuat hidup saya jadi lebih suram, oh tidak… tidak sama sekali hahaha… justru sebaliknya saya malah mendapatkan jalan yang lebih baik, jauh lebih baik, belajar lebih banyak, mengenal leboh banyak orang hebat lainnya dan tentunya jadi tahu lebih banyak (salah satunya ya tahu seperti apa mereka itu).

Saya percaya jika semua di tangan Tuhan, dan saya juga percaya jika apa yang kita tabur akan kita tuai kemudian hari karena saya percaya karma. Kerja atau pekerjaan bagi saya (apalagi setelah hidup di negara seperti Australia) hanyalah sebuah alat. Kita bisa menggunakan alat itu agar menjadi berkat maupun tidak hal itu kembali kepada kita sendiri. Orang-orang yang sadar mereka tidak memiliki kemampuan hakiki tentu akan menggunakannya sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain karena hanya itu cara mereka mempertahankan pekerjaan mereka dan mendapatkan promosi.

Kerja itu bagi saya seperti orang pacaran saja. Kalau memang cocok ya diteruskan, kalau sudah tidak cocok ya toh masih bisa jadi teman kan. Ga perlu drama, ga perlu lebay, ga perlu jilat sana sini, ga perlu jatuhin orang lain. Tapi itu saya loh ya… karena saya percaya pada kemampuan saya dan saya percaya tidak akan jatuh miskin jika kalian memperlakukan saya seperti itu.

Dan tentu hal lainnya, saya selalu berusaha agar bisa selurusnya dalam bekerja. Karena saya tahu jika hasil yang saya dapatkan dari jilat menjilat, atau karena saya dekat dengan atasan tidak akan pernah membuat saya lebih bangga dari mendapatkan apa yang saya dapatkan karena memang murni kemampuan kerja saya. Dan hal itu juga secara tidak langsung mendorong saya untuk bisa lebih baik lagi setiap hari nya agar bisa tetap bertahan di dunia persilatan kan.

Dan saya percaya jika apa yang kita lakukan suatu hari akan ada saat itu tiba dan terjadi pada kita sendiri.

Ya tapi itu kalau saya loh…

1 minggu menuju Paskah

Tidak terasa sebentar lagi Paskah. Dan lebih tidak saya sadari lagi ternyata sudah cukup lama saya tidak menulis.

Kesibukan migrasi system yang terakhir benar-benar menyedot energi saya. Ditambah beberapa manuver yang tidak terduga sebelumnya membuat saya jadi sedikit merasa stress.

Beruntungnya adalah kedua mertua saya datang disaat yang bersamaan dan kawan yang juga datang karena ada seorang kawan baik kami yang menikah membuat saya bisa rilex sembari melupakan kerjaan sebentar (yaelah… Lagak lu jo mikirin kerjaan…).

Entahlah… Tapi perasaan yang sama datang dan pergi seperti tahun lalu, terjadi lagi. Dan seperti biasanya, saya pun bersandar pada Doa Novena yang selalu menjadi penolong, terlebih di 1 minggu menuju Paskah.

Dan semoga… Ada sebuah jawaban untuk pertanyaan saya…

Kadang saya merasa teramat sangat malu kepada-Nya karena terkesan tidak mampu bersyukur. Bukan… Bukan itu… Saya bersyukur dan sangat bersyukur… Tapi apa yang datang dan pergi mengganggu saya ini sulit dikendalikan walaupun sudah berusaha agar bisa dikendalikan.

Semoga semua bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya… Apapun itu yang terjadi… Saya percaya jika hal itu adalah yang terbaik dan tepat bagi kami… Karena Dia adalah Sang Maha Tahu.