Rencana Kesekian

Akhirnya gue mengakui, IELTS 7 itu susah, 8 itu hampir mustahil. Gue mulai memikirkan cara lain sekarang, antara menjadikan istri gue sebagai main applicant karena IELTS dia lebih bagus dari gue atau banting setir untuk mencoba CANADA.

Yang terakhir ini terlalu jauh sebenarnya, akan tetapi demi cita-cita yang ingin gue raih, demi pendidikan anak-anak gue, demi kesehatan yang terjangkau dan baik, demi masa depan, demi hari tua, gue tidak boleh gentar.

Jika tetap tidak bisa juga…, ya…, itu berarti gue mulai membidik tetangga yang paling dekat, SINGAPURA, walaupun itu bukan pilihan yang terbaik juga. Dan saat semua tertutup, tentu gue akan mengambil jalan terakhir dan tersisa, my helpless country, my poor country, hemmm… no choice at all, I tried and did the best but I am unlucky to get the prize.

Semua rencana yang sudah gue susun hanya bisa didoakan sekarang, agar tetap menjadi rencana jangan sampai menjadi rencana kesekian, karena rencana kesekian bagi gue sama saja dengan masuk kotak.

Rgds

SWD

Advertisements

Sebanyak apa MIMPI mu?

Yup, ini adalah pertanyaan yang tiba-tiba ditanyakan kepada gue oleh seseorang.

Mau gue jujur? BANYAK!!! ya, gue punya banyak impian yang terus beranak pinak dan berkembang biak dari waktu ke waktu. Terkadang gue sampai kewalahan mengejar semua mimpi gue.

Akan tetapi, walaupun impian gue banyak, gue hanya konsentrasi ke beberapa impian utama saja, mungkin “beberapa” dalam hal ini buat orang lain banyak, tapi buat gue cukup ­čÖé

Impian gue selalu gue rakit menjadi sebuah “BIG PLAN” atau biasanya orang networking/IT menyebut “BLUE PRINT”. Oleh sebab itu, semua impian gue selalu bermuara pada 1 tujuan utama gue buat keluarga.

Ada beberapa langkah yang sudah gue raih dan ada juga beberapa langkah yang sedang gue bangun sekarang. Di tulisan terdahulu gue sudah menulis sebagian besar impian yang ingin gue raih, sejauh yang gue ingat antara lain : mengambil gelar master atau track lain di level CCIE, bergabung kedalam perahu utama yaitu CISCO SYSTEM, mengejar status PR di negara yang sudah maju dimana hal ini sebetulnya untuk mendukung plan gue untuk ambil gelar master di luar negeri,  membuat anak-anak gue bisa sekolah dengan baik dan berkualitas tanpa harus sakit kepala dengan biaya yang harus gue siapkan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sebagian sudah berhasil, sebagian masih diusahakan dan sebagian masih terhalang, gue cuma bisa berharap banyak mukjizat terjadi agar gue bisa meraih gambar besar gue dalam waktu dekat. Tidak tahun ini, maka tahun depan gue kejar dan akan gue kejar terus, jika tidak berhasil juga setidaknya gue sudah berusaha.

Hidup cuma sekali, jangan membuat waktu menjadi sia-sia dengan mengeluh dan hanya berharap. Akan tetapi, isi lah waktu yang terbatas ini dengan impian-impian dan kejarlah dengan tenaga-tenaga tanpa batas.

 

Regards

SWD

Kembali Menunggu

Ya, beberapa hari ini gue akhir nya menyadari jika apa yang gue rencanakan harus menunggu lagi.

Gue harus menunggu karena adanya perubahan di peraturan imigrasi Australia tentang PR. Perubahan itu membuat gue menjadi sulit untuk assessment, hal ini lebih dikarenakan tidak relevan nya ijazah gue dengan bidang yang gue kerjakan 5 tahun ini.

Gue tadinya mau secepatnya assessment ke Engineering Australia saja karena kalau ke ACS (Australia Computer Society) gue belum memenuhi syarat (dimana harus punya pengalaman kerja 6 tahun). Akan tetapi jika dalam 3 bulan hasil assessment gue ga keluar maka gue tetep ga bisa mengajukan aplikasi PR, dan artinya gue harus ikut peraturan baru setelah 1 July 2011.

Gue sudah pasrah sekarang, jika memang di ijinkan Tuhan gue bisa migrasi kesana maka hal itu akan terjadi. Akan tetapi jika tidak, maka hal itu tidak akan pernah terjadi. Kenapa gue pasrah? ya, karena setelah 1 July 2011, ada kemungkinan dimana beberapa point tidak bisa gue dapatkan. Jadi sekarang gue cuma bisa berdoa saja agar universitas tempat gue kuliah menjadi salah satu list di recognized overseas university di Australia Government.

Yang bisa gue kejar sekarang ini adalah IELTS, apalagi Australia Gov menuntut IELTS minimal 7 untuk bisa apply PR. IELTS 7 itu sangat sulit, benar-benar sangat sulit. Nilai tertinggi 9, dan kita dituntut dapat 8 dengan minimal 7. Jujur… gue disuruh ujian Bahasa Indonesia yang sehari-hari gue pakai saja belum tentu bisa dapat 9 dari 10, apalagi ujian bahasa orang lain?

Tapi terlepas dari semua itu, sekali lagi gue cuma bisa pasrah dan berusaha yang terbaik. Sisanya? gue serahkan kepada yang Maha kuasa.

Regards
SWD

Langkah menuju sebuah impian baru

Setelah gue baca sana dan sini, tanya di forum-forum, tanya temen-temen yang baik hati mau menjelaskan, gue berakhir pada 1 kesimpulan.

Ya, kesimpulan yang akhir nya gue jadikan sebagai dasar gue melangkah, dari semua yang harus gue lakukan ada 2 hal yang harus selesai terlebih dahulu, hal itu yaitu assessment ke organisasi yang berkepentingan, dan yang kedua lulus IELTS di atas 7.

Ternyata memang migrasi ke Australia itu tidak mudah, karena gue ga ada duit lebih buat bayar agen, maka gue belajar untuk mengerti apa saja yang harus gue lakukan untuk bisa mendapatkan PR dari negara Australia.

Gue membagi rencana gue menjadi beberapa step, dimana step pertama adalah mencari sworn translator untuk menerjamahkan document-document gue agar bisa dijadikan lampiran saat mengajukan aplikasi PR, dan mencari notaris untuk melegalisir fotocopy dari document asli (bahasa indonesia) gue saat akan di lampirkan bersama document hasil terjemah (harus asli).

Step kedua tentu maju assessment, dimana organisasi yang ditunjuk untuk melakukan assessment terhadap skill gue bisa ditemukan di web http://www.immi.gov.au. Untuk assessment ini mengikuti skill yang akan kita tunjukan ke pemerintah sana agar kita dianggap layak mendapatkan PR dan boleh migrasi kesana. Misalnya gue, gue karena skill nya memiliki latar belakang IT maka gue assessment ke ACS (Australia Computer Society), untuk yang latar belakang nya arsitek bisa ke Organisasi arsitek disana, atau akunting ke organisasi akunting disana, dst. Dan untuk mengajukan assessment gue juga harus meminta surat rekomendasi dari atasan gue atau direktur tempat gue bekerja.

Step ketiga gue harus lulus IELTS diatas 7, disini gue mulai mencari kursus IELTS dan tempat ujiannya, dan tentunya dana yang mendukung.

Step keempat, menyiapkan surat keterangan kerja yang menyatakan gue kerja full time dengan posisi permanent dan sudah bekerja diatas 3 tahun untuk 1 keahlian yang sama.

Step kelima, menyiapkan dan check list ulang semua document yang diminta sebagai lampiran dan mulai mengajukan aplikasi untuk PR, dan tentunya dengan dukungan dana juga.

Step keenam, gue siap-siap untuk meminta surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian dan chek kesehatan saat diminta oleh imigrasi Australia. Dan saat PR gue diterima, gue juga harus menghadiri sesi interview.

Sekarang gue baru memulai step yang pertama, gue tetap berharap agar langkah gue selanjutnya di permudah dan pengajuan PR gue di setujui.

 

Regards

SWD