Cakrawala

Salah satu tempat yang paling ku sukai adalah pantai. Entah karena dulu terlalu sering bermain disana bersama mendiang Kakak saya, atau karena mendiang Papa dulu mencari nafkah ga jauh-jauh dari daerah pelabuhan.

Satu hal yang saya suka saat berada di pantai adalah memandang garis Cakrawala, garis jauh nan angkuh yang seolah mengingatkan kita akan kuasa Tuhan, dan mengajarkan sebuah arti kehidupan agar kita belajar memasang impian yang akan kita kejar sejauh cakrawala dimana ombak yang susul menyusul tidak akan membuat langkah kita menjadi lebih mudah untuk mencapai nya, karena itulah hidup dan kehidupan.

Cakrawala, garis yang tidak pernah habis saya kagumi karena begitu banyak filosofi yang bisa saya pelajari dalam hening dari nya.

Advertisements

Kakak ku

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya mengantar jenazah Kakak saya dari Jakarta ke Tegal.

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya menemani tubuh kakak ku yang telah terbujur kaku di rumah duka cembengan di Tegal, dengan semua letih lesu yang sudah tidak bisa kurasakan lagi, selain rasa kehilangan yang amat sangat karena dia salah satu panutan ku dalam hidup, ternyata telah berpulang lebih cepat dari yang ku duga.

Yohanes Karyono Djais, itulah nama kakak ku, nama yang tidak akan pernah saya lupa dalam sisa hidup ku, karena begitu banyak kenangan yang ada dalam pikiran ku.

Berbaring diatas rumput ditepi pantai di Tegal saat liburan tiba adalah salah satu kegiatan yang sering kami lakukan saat dia pulang ke Tegal, sembari berbaring, sering kali kami berkhayal tentang masa depan yang ingin kami capai dan banyak hal lainnya sembari menikmati mentari yang pelan tapi pasti turun ke peraduan nya yang setelahnya kami baru beranjak pulang.

Hemmm… masih hangat tersimpan dibenak ku, kesukaan dia saat mencium aroma padi dari sawah di tepi kanan dan kiri jalan dua antara Tegal – Banjaran, yang sering kami lewatin saat malam karena saya tahu dia suka menikmati aroma itu yang menurut dia tidak bisa ditemui di Jakarta.

Pondok sate ayam di pokanjari Tegal, lesehan pisang bakar di alun-alun Tegal (yang entah masih ada tidak sekarang) dan warung soto Pak Madi saat masih di jalan teri Tegal menjadi tempat kenangan yang tidak akan pernah hilang dari benak saya saat mengenang dia.

Belum sawah-sawah di dekat perumahan Nanas yang saya yakin saat ini sudah tergusur oleh bangunan baru, juga menjadi kenangan lain karena kami dulu sering memancing belut sawah yang kemudian kami bakar di kebun-kebun dekat sana dengan perapian seadanya, menyantap belut bakar (yang sudah pasti dianggap masih kotor oleh kalian yang tinggal dikota) sambil bercengkerama tentang cita-cita yang ingin kami kejar kelak. Ahhh… indah nya saat-saat itu… tidak lupa motor yamaha F1ZR yang selalu setia menemani kami kemana saja.

Apa kabar Kak? Doa ku selalu dan akan selalu bersama mu Kak, damai lah disana Kak, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, salah satu impian yang pernah saya katakan dulu sudah berhasil saya raih, nanti ya saya ceritakan saat kita sudah bersua, dan seperti biasa… kita bisa memilih sambil berbaring diatas rumput sambil memandang jauh ke arah cakrawala melewati gulungan ombak yang tiada hentinya mendebur tepi pantai, seperti yang sering kita lakukan dulu, atau… sembari menghirup kopi kapal api kesukaan kita sembari menyantap pisang bakar coklat hahaha… what a great memory Kak.

Salam untuk Papa ya….

Pagar

Pagar oh pagar…

Akhirnya pagar kami pun terpasang untuk memagari tanah mungil yang kami beli 2 tahun lalu yang kemudian title dan bisa dipindah ke nama kami.

Drama pagar ini yang dibarengi salah pasang plang nomor tanah kami akhirnya selesai, happy ending deh… walaupun sukses bikin saya bolak balik ke Melton selama 2 hari berturut-turut karena pada hari pertama hujan deras sehingga tidak bisa menyelesaikan pemasangan pagar, jadi ya kami tetap kesana karena ingin memastikan jika nomor tanah yang kami komplain karena salah sudah dibenerin, dan…. akhirnya bener, lega deh…

Hari kedua saya kesana lagi untuk melihat status pagar yang dipasang sekalian memasang kunci yang ada kode nya agar builder kami saat ingin akses tanah itu tinggal kami kasih saja kode kuncinya, dan…. akhirnya beres, lega dua kali deh…

Sekarang, kami menunggu kapan builder kami bisa mendapatkan building permit mereka dan bisa memulai pembangunan karena kami memiliki harapan bisa natalan disana tahun ini, semoga ya…

Sambil menunggu perkembangan yang ada, saya mulai baca-baca tentang landscaping karena kami harus menyelesaikan landscaping kami dalam 6 bulan untuk klaim AUD 1000 kami dari developer, dan saya ingin mengerjakan landscaping sendiri hahaha…. sok-sok-an ya, tapi entah kenapa saya bener-bener ini mengerjakan taman kami agar lebih fleksible dalam mendesain dan (semoga) bisa lebih murah juga.

Akhir minggu ini di Australia akan long weekend karena hari senin adalah hari libur ulang tahun ratu Elizabeth (ratu di UK). Kami pun merencakan liburan, sekadar menginap satu dua malam di tempat wisata yang agak jauh ke selatan, sekalian merehatkan otak yang mulai jenuh karena terlalu santai (lohhh….)

Winter

Yeah… June already and winter kicking again. Bulan-bulan penuh perjuangan dimulai lagi secara saya masih tergolong manusia tropis yang ga begitu tahan dengan suhu dingin.

Bulan ini, diawali dengan tag lahan kami yang tertukar dengan lahan lain dan bener-bener bikin sebel karena mendapatkan drama tambahan. Lahan kami yang seharusnya 1301 entah kenapa malah dipasang nomor 1302, masalahnya kami sudah koordinasi pagar sementara untuk dipasang di tanah kami agar tidak ada yang buang sampah di tanah kami sembari menunggu builder kami mendapatkan building permit mereka sehingga bisa mulai membangun rumah mungil kami (yang sukses menghabiskan tabungan kami) disana. Koordinasi nya kami tentu menggunakan nomor lahan donk… dan cakep banget begitu tahu nomornya beda, haiyahhh… jadi musti koordinasi ulang secara team yang memasang nomor lahan dari pihak developer tidak bekerja di sabtu dan minggu, sedangkan besok senin team yang akan memasang pagar sementara akan mulai masuk, pening pala barbie…

Kejadian rutin selama musim dingin lainnya adalah smoke detector di unit yang kami sewa suka bunyi ditengah malam. Semalam saja bunyi 3 kali diwaktu yang berbeda, bikin saya jungkir balik beberapa kali karena mengira ada yang terbakar. Entah kenapa setiap musim dingin selalu terjadi hal unik seperti ini, sementara sih saya duga karena kabut ya, jadi smoke detector nya yang memang sensitif abis jadi suka sensi dan teriak-teriak seenak jidat bikin orang ga bisa tidur.

Setelah itu, TV kami bermasalah, entah karena dingin, lembab atau apapun itu tiba-tiba channel nya goyang dangdut pindah-pindah sesuka dia seperti ada yang sedang mencet remote dan nahan tombol ganti channel. Remote nya sudah sampai saya matikan dan cabut baterainya, TV nya pun saya reset beberapa kali, tetep saja seperti itu, hemm… kode minta diganti tampak nya, karena yang tersisa hanya HDMI buat main Nintendo Switch, ga bisa buat nonton lagi. Ya sudahlah, TV nya tetap saya simpan karena ada rencana mau dijadikan layar buat CCTV di rumah kami nanti.

Kejadian ini akhirnya membuat saya jadi mendadak bikin jadwal survey TV ke beberapa toko elektronik disini. Karena dari dulu sudah mupeng mau beli smart TV, kejadian ini sukses saya pakai sebagai alasan hahaha… dan sudah tentu saya menjanjikan sebuah kenyamanan ke Istri agar dia setuju untuk beli smart TV, apalagi kalau bukan bisa nonton Netflix dengan lebih nyaman hahaha… Akhirnya sebuah produk lokal yang punya review mumpuni kami pilih, karena selain murah ternyata featurenya juga ga kalah sama produk import.

Setelah selesai memasang dan setup TV baru ke internet dll, saya pun melanjutkan install ulang hampir semua aplikasi di HP saya yang semalam minta di factory default karena aplikasi google play nya crash, annoying to the max kan… banyak bener kejadian ga terduga yang nyebelin di awal bulan, semoga menjadi pertanda baik untuk selanjutnya dan bulan-bulan berikutnya.

Entahlah… ada beberapa kejadian lagi sebetulnya yang kemudian membuat saya merasa Tuhan sedang bekerja dalam sunyi, ada beberapa pertanda yang sulit saya gambarkan disini tapi bisa saya rasakan, jika Dia sedang menuntun kami terutama saya kearah yang lebih baik kedepannya, terutama dalam hal pekerjaan.

Apapun itu, berserah adalah pilihan terbaik, sembari tidak berhenti berusaha.