Migrasi Core Network Finished

Ya, seperti yang gue bilang di blog sebelum nya, saat ini gue sedang me-migrasi core network customer yang ada di balikpapan dan jakarta, sampai saat ini sudah selesai migrasi nya, cape juga ngerjain nya hehehe… soalnya gue bisa mulai kerja saat orang lain sudah pulang, dengan kata lain hanya malam sampai pagi dan hari libur waktu ngerjain nya.

Sekarang customer minta gue untuk membuat commissioning report dan teknikal report, soalnya ada beberapa problem yang muncul saat migrasi dan gue yakin penyebabnya bukan di network yang gue migrasi.

Oleh karena itu customer minta gue membuat sebuah document yang menjelaskan jika problem tersebut tidak disebabkan oleh network konfigurasi yang gue terapkan, masalahnya gue ga tau perkembangan chase ini dimulai dari mana, kapan terjadi, history nya sampai hari ini, dan lain lain, karena dari awal gue ga dapat report apa apa dari team yang mengerjakan hal ini, tapi ya mau gimana lagi, gue nya aja kali yang lagi apes ada di posisi ini lagi untuk kesekian kali nya hehehe…

Sebenarnya ada bagus nya juga, jadi gue bisa sekalian mengasah kemampuan menjelaskan base on teknologi yang gue gunakan di network customer selain mengasah kemampuan dalam menghandle customer dan menghadapi customer seperti di DRM dan kickoff meeting.

regards

swd

Advertisements

Saat saat pengerjaan Proyek (Cont)

Besok untuk core network di jakarta akan gue migrasi, sama seperti core network di balikpapan yang udah di migrasi 2 minggu yang lalu.

Untuk network di jakarta tidak se kompleks yang ada di balikpapan, soalnya di jakarta sendiri tidak terlalu signifikan perubahan configurasi nya, untuk migrasi nya lebih condong ke zero downtime jika memungkinkan (walaupun sebenarnya tidak memungkinkan)

Akan tetapi gue sendiri tetep akan maksimal agar customer bisa tenang dengan migrasi ini, dan tidak timbul masalah-masalah seperti yang terjadi di balikpapan.

regards

SWD

Saat saat pengerjaan Proyek

Ya, gue akan sedikit cerita saat saat gue mengerjakan proyek pertama gue.

Saat mengerjakan proyek ini, gue awal nya tidak memprediksikan jika akan terjadi beberapa problem yang ada di luar network configuration, problem seperti user mendapatkan koneksi tetapi tidak mendapatkan IP dari DHCP, CRC problem, kabel UTP yang di split, sampai FO yang harus di flashing.

Problem semacam itu benar2 missed dari antipasi gue sebagai teknikal leader, dan lebih parah nya, gue justru mengetahui problem2 ini dari customer duluan, mengapa bisa? karena kita split 2 team, kita split 2 team karena ada 2 core network yang harus gue migrasi, yaitu yang di balikpapan dan di jakarta.

Gue sendiri pegang yang di jakarta, sedangkan di balikpapan ada PIC sendiri sebagai perpanjangan tangan gue ke customer, akan tetapi gue tidak mendapatkan report apa2 dari PIC gue hehehe…

Anyway the show must go on, semua masalah koordinasi seperti itu yang seharusnya tidak terjadi tapi justru terjadi gue kesampingkan, customer gue mulai teriak sampai akhir nya mereka minta justifikasi dari team gue kalau di core network tidak terjadi looping sehingga menyebabkan beberapa aplikasi mengalami kelambatan saat di akses.

Gue sebagai teknikal leader hanya bisa berusaha agar customer bisa adem lagi, dengan informasi yang seadanya dan sudah tidak valid (karena gue tidak mengikuti progress perkembangan problem dari awal) gue berusaha untuk menjelaskan jika di network tidak ada masalah.

Dari proyek ini gue melihat jika untuk bisa bekerja dalam teamwork itu tidak gampang, karena kita harus benar2 mengerti apa itu yang dinamakan teamwork bukan one man power, dan hal itu yang tidak ada di team yang gue pimpin ini.

Gue sekarang cuma bisa berusaha untuk sabar dan membuat customer tidak semakin marah karena problem2 yang muncul setelah migrasi walaupun semua itu tidak ada hubungan nya dengan network yang di migrasi ini.

regards

SWD

Membeli kebahagiaan dengan "segepok uang", cukupkah ????

“Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya”
Membeli kebahagiaan dengan “segepok uang”, cukupkah ????

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta  terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.

Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga  ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah  menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.

Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew.

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.

Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,-  tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata . Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

“Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya”

Untuk yang sudah pernah terima, Sekedar untuk mengingatkan kembali……..

Best Regards

Source : From Unknown author