Belajar dari sebuah Pandemik

Saya… mungkin bisa dibilang bagian dari generasi yang “beruntung” karena mengalami banyak hal dalam perjalanan kehidupan saya sampai saat ini. Generasi saya merupakan salah satu generasi yang merasakan pergeseran teknologi yang luar biasa, selain merupakan bagian dari generasi yang masih merasakan jaman jadul baik itu mainan, hiburan, dan masih banyak hal lainnya. Selain itu, tidak disangka saya ternyata menjadi bagian dari generasi yang menyaksikan sebuah pandemik memukul kehidupan di dunia ini. Pandemik yang akhirnya memaksa bumi untuk rehat sebentar dari semua kegaduhan dan kesibukan tanpa henti yang selama ini terus berlangsung seakan tidak ada hari esok.

Dari pandemik yang terjadi ini, ternyata banyak juga yang bisa kita petik dan pelajari untuk kehidupan kita selain hal-hal mendasar tentang kebersihan dan bagaimana memerangi pandemik agar tidak semakin parah. Ada beberapa hal yang saya rangkum selama semua hal ini berlangsung, antara lain,

Ternyata tidak mudah mendidik anak loh… selama pandemik ini berlangsung sekolah anak saya memberlakukan sekolah dari rumah, sekolah dari rumah itu arti nya salah satu dari ortu harus bisa melakukan sebagian tugas guru, dan ternyata…. hal itu ga gampang loh…. ortu sendiri aja naik darah hahaha… ga kebayang gimana sabar nya seorang guru coba. Makanya jangan sedikit-sedikit nyalahin guru, nuntut guru, penjarain guru dll. Coba didik dulu sana sendiri anaknya, kalau lu bisa sabar baru bikin perhitungan sama guru. Ente kira gampang didik anak, anak nurut aja sumbu pendek martabak abis 6 potong apalagi yang mbedut.

Lalu kerja dirumah, dulu… saya sering membayangkan kerja dirumah itu enak, dan ternyata setelah lebih dari 2 minggu kerja dirumah saya baru menyadari kalau kerja di kantor lebih enak hahaha… serius ini… Saya kalau kerja dirumah sekali-sekali okelah… tapi kalau terus-terusan begini kamsiah deh… saya milih ke kantor. Karena selain ganti suasana, level stress nya ternyata beda loh. Belum lagi kita bisa ketemu orang yang berbeda dan diskusi hal yang berbeda kan… ya gimana lagi manusia itu kan kebutuhan sosialnya cukup tinggi.

Hal lainnya adalah… adalah… adalah….

saya jadi bingung mau nulis apa…. dah ah…. hahaha….

Ketenangan

Dalam kehidupan yang kita jalani, ada bermacam-macam tipe manusia. Ada bermacam-macam pula tujuan hidup yang kita kejar, dan ada bermacam-macam pula cara berpikir yang kita miliki. Diantara semua hal yang bermacam-macam itu, saya punya 1 keyakinan pasti ada tersemat 1 hal yang secara langsung maupun tidak langsung kita kejar, yaitu sebuah ketenangan.

Ketenangan itu sendiri pun bermacam-macam bentuknya, dan bermacam-macam pula cara mendapatkan nya. Ada yang berpikir jika mereka bisa mendapatkan ketenangan saat sudah memiliki passive income, itu tidak salah. Ada yang berpikir mereka bisa mendapatkan ketenangan saat anak-anak sudah mandiri, itu pun tidak salah. Ada yang berpikir jika mendapatkan ketenangan itu adalah saat kita dalam keadaan sehat, dan hal itu juga tidak salah. Ketenangan yang kita kejar, biasanya secara tidak langsung akan menjadi cermin dari kehidupan yang sudah kita lalui. Ketenangan dalam sebuah kehidupan itu adalah sebuah hal yang sangat mahal, karena untuk bisa mencapainya terkadang membutuhkan banyak sekali pengorbanan dan kompromi. Apapun bentuk ketenangan itu sendiri, saya percaya jika setiap manusia memiliki situasi dan kehidupan mereka sendiri yang tidak mungkin bisa ditiru atau diterapkan di kehidupan manusia lainnya.

Lalu, apa sebetulnya ketenangan yang saya cari? secara garis besar saya mencari ketenangan yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang kebanyakan orang lain cari. Ketenangan yang saya cari jauh dari banyaknya harta duniawi yang harus saya miliki, karena bagi saya terlalu banyak harta duniawi justru memusingkan. Ketenangan yang saya cari lebih kepada hidup normal dan biasa, dalam keadaan sehat sehingga saya bersama istri tidak perlu merepotkan kedua anak kami nanti, masih bisa membiayai diri sendiri walaupun sudah pensiun yang saya coba usahakan melalui dana pensiun yang sedang saya rencanakan sekarang (yang tidak berarti saya lalu menghabiskan waktu untuk mengejar tabungan segunung ya), memiliki tempat tinggal permanent milik sendiri walaupun tidak terlalu besar, dan melihat anak-anak kami meraih cita-cita mereka.

…jika suatu hal akan menjadi milik kita ya pasti akan menjadi milik kita apapun jalannya, tapi jika suatu hal bukan milik kita ya suatu saat akan diambil kembali dari kita apapun caranya…

Tapi untuk bisa meraih semua itu kan butuh uang? betul sekali, tapi apakah butuh memiliki uang yang sangat banyak? belum tentu. Hidup itu berputar dan sering kali memiliki kejutan yang sering datang secara tiba-tiba. Perjalanan hidup yang sudah saya lalui mengajarkan kepada saya jika tidak ada yang abadi di dunia ini karena semua akan memiliki waktu dan akhir nya masing-masing. Kehidupan juga mengajarkan kepada saya tentang milik atau memiliki, yang kemudian membuat saya percaya jika suatu hal akan menjadi milik kita ya pasti akan menjadi milik kita apapun jalannya, tapi jika suatu hal bukan milik kita ya suatu saat akan diambil kembali dari kita apapun caranya. Tapi, hal ini bukan kemudian membuat kita jadi punya cara berpikir untuk malas-malas an ya… tidak ada makan siang gratis kawan, kalian rajin (yang normal ya) saja belum tentu tercapai keinginan kalian apalagi malas? Maksud dari pemikiran tentang milik atau memiliki itu tadi lebih kepada rasa legowo atau ikhlas saat kita harus merelakan sesuatu padahal sudah berusaha mengejar dan meraihnya. Dan juga kemampuan untuk berani berkata cukup untuk hal-hal duniawi, karena masih banyak hal-hal lain yang jauh lebih berharga dari sekedar setumpuk harta dan uang dalam kehidupan manusia yang tidak bisa diukur nilai nya dan jika sudah terlewati tidak akan bisa kembali lagi.

Pemikiran saya itu membuat saya memiliki versi ketenangan saya sendiri yang sekarang saya kejar. Terlepas dari apapun hasil akhirnya, saya hanya bisa berusaha dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Dia yang maha kuasa. Dari semua manis dan perih jalan kehidupan yang sudah saya lalui, membuat saya melihat kehidupan ini dari sisi yang berbeda dan lebih menghargai hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena bagi saya, ketenangan itu sendiri adalah sebuah hal yang tidak memiliki harga tetapi memiliki sebuah nilai, nilai yang memiliki caranya sendiri untuk bisa diraih karena tidak akan bisa dibeli dengan apapun dalam kehidupan manusia.

Pesan Terselubung

Beberapa minggu ini saat saya coba baca-baca ulang lagi semua tulisan yang pernah saya tulis disini, mata saya terpaku pada beberapa artikel yang berisi 1 kalimat tentang pesan dibalik peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu antara kami mulai migrasi yang pertama, lalu kami harus pulang lagi dan kemudian kami bisa mencoba migrasi lagi yang kedua kalinya. Bacaan itu membuat saya kemudian merenung lama dan mencoba menggali lebih dalam kedalam ingatan saya yang pas-pas-an ini untuk mencari tahu dan berusaha merasakan pesan terselubung yang secara tidak sengaja mulai saya lupakan tersebut.

Setelah lama merenung, saya menyadari hal pertama yaitu mengenai kesempatan saya mengenal kawan-kawan baru, memang sih saya mungkin tidak perlu mengalami proses tersebut hanya untuk mengenal kawan-kawan baru, tapi disini saya sulit menjelaskan semua alasan dibalik ini, yang bisa saya rasakan hanyalah jika peristiwa itu tidak terjadi mungkin saya tidak akan beranjak dari tempat saya dan memiliki kesempatan bekerja di salah satu perusahaan system integrator terbaik dan mengenal team luar biasa didalamnya. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan mengenal banyak orang baru lainnya sepanjang proses itu terjadi, dan banyak di antara mereka masih keep contact dengan saya sampai hari ini. Mendapatkan kawan baru itu sebuah anugrah karena menambahkan orang-orang luar biasa dalam kehidupan kita.

Hal kedua yang saya sadari adalah sakramen krisma, jujur saja sih… kalau kemaren itu saya tidak gagal lalu pulang, mungkin sampai sekarang saya masih belum menuntaskan sakramen krisma yang merupakan salah satu janji saya kepada Romo saat akan menerima sakramen nikah di gereja. Kepulangan saya memimpin langkah saya ke perusahaan baru yang saya sebutkan sebelumnya, yang kemudian membuat saya mengenal 1 orang yang kemudian secara tidak sengaja menarik saya ikut persiapan sakramen krisma yang saat itu dilakukan setiap kamis malam di gereja. Tuhan sungguh luar biasa ya saat bekerja dan berkarya atas diri kita, sesuatu yang benar-benar berada diluar pemikiran saya dan sampai saat ini pun tetap membuat saya terkagum-kagum dengan prosesnya.

Hal berikutnya yang saya sadari adalah belajar hal baru, kepulangan saya saat gagal migrasi yang pertama kali memimpin langkah saya menjadi bagian dari perusahaan tersebut diatas, ini juga sebuah proses yang tidak terpikirkan oleh saya karena kesempatan ini selain membuat saya mengenal banyak orang-orang hebat juga membuat saya belajar banyak hal baru termasuk salah satunya ilmu manajerial. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu manajerial justru di perusahaan terakhir di Jakarta sebelum saya mencoba migrasi lagi untuk kedua kalinya, padahal saya hanya 1 tahun 1 bulan loh di posisi manajer, luar biasa ya jika kita berada ditengah-tengah orang hebat maka dengan sendirinya kita pun akan terbawa arus, yang perlu kita lakukan hanyalah menjadi spons dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

Satu hal lain yang juga berada dibalik pesan ini adalah Tuhan mau saya belajar untuk sabar, pasrah dan bersyukur. Ini ga gampang loh… terutama saat saya gagal dan pulang saat itu, pikiran dan hati saya bertanya-tanya untuk waktu yang lama mengenai semua kejadian yang terjadi begitu beruntun dalam kehidupan saya saat itu dan masih tidak menemukan jawaban yang bisa menjawab semuanya. Jawaban yang kemudian datang saat satu per satu peristiwa setelah nya sudah terjadi dan membuat saya sadar. Bagaimana saya tidak mencari-cari jawaban atas semua yang terjadi saat itu, keadaan kami yang hampir mustahil mendapatkan visa PR yang kemudian secara mukjizat bisa kami dapatkan tapi kemudian berakhir dengan gagal migrasi tentunya membuat saya bertanya-tanya ada apa dibalik semua itu. Pada akhirnya kemudian saya menyadari jika saya bukan digagalkan langkahnya, tapi sedang diuji untuk hal lainnya dan sedang diarahkan untuk melakukan hal lainnya terlebih dahulu, hal-hal yang kemudian sangat banyak menolong saya saat migrasi lagi untuk kedua kalinya ke Australia.

Saat ini, keadaan kami terutama saya sudah jauh lebih baik. Anak-anak dan istri sih sudah betah dari lama ya, yang menjadi masalah malahan saya sendiri karena mengalami culture shock yang cukup parah saat itu. Tapi sekarang semua sudah membaik, culture shock saya bisa dibilang sudah hampir 100% sembuh dan hilang. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang yang sudah merantau duluan ke Negara lain ada benarnya, culture shock itu umumnya akan berlangsung selama 2 tahun dan setelah itu akan sembuh dengan sendirinya. Yang setengah mati itu adalah melawan culture shock itu sendiri karena orang-orang sekitar kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu selain memberikan semangat dan pendampingan karena semua harus dilawan dari diri kita sendiri, dan saya berhasil melawannya walaupun hampir gila juga awalnya hahaha….

Selamat memasuki bulan November kawan… bulan yang sudah semakin mendekatkan kita semua ke penghujung tahun….

Menyongsong November

Hari ini seperti biasa karena sedang memantau 1 kejadian yang tiba-tiba sekarang stabil setelah saya ubah pengaturannya di salah satu perangkat kami, membuat saya menjadi bosan karena tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Kerja kok bisa sesantai itu sih? iya donk, kerja jangan dibawa stres, apalagi menuju akhir tahun begini, selain proyek sudah banyak yang selesai dan sesi planning juga sudah terlewati, sisanya ya kita hanya standby dan monitor service yang kita miliki agar tidak jatuh.

Waktu benar-benar cepat sekali ya… besok sudah akhir Oktober yang artinya sebentar lagi akan masuk ke November. Karena sedang tidak begitu sibuk, saya coba baca-baca lagi tulisan-tulisan saya yang dulu dan terpaku pada tulisan pertama saat kami mencoba migrasi lagi ke Melbourne untuk kedua kalinya. Membaca tulisan itu (klik disini) membuat saya jadi tambah bersyukur karena kami ternyata tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali ke posisi kehidupan kami di Jakarta (yang tadinya sudah kami persiapkan setidaknya 3 sampai 5 tahun pertama bakalan berdarah-darah terlebih dahulu) yang saat ini kami merasakan bahkan sudah diatas tingkat kehidupan yang kami miliki di Jakarta, padahal kami belum genap 3 tahun disini. Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga. Saya sendiri sering kaget sebetulnya jika mengingat lagi semua yang sudah lewat, kesempatan demi kesempatan ditunjukan oleh-Nya dengan cara-Nya yang elegan sembari memaksa saya untuk belajar sabar dan berserah diantara prosesnya, yang kemudian membawa saya tanpa sadar ke sebuah posisi yang bahkan lebih dari yang ingin saya capai. Luar biasa bukan….

 

Hal ini tolong jangan dianggap sedang pamer karena saya sedang ingin berbagi dengan kalian tentang besarnya kuasa Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kami selama ini dan tolong keadaan yang kami miliki jangan dijadikan acuan juga buat kalian yang ingin migrasi ya, karena semua ini terjadi atas kuasa-Nya yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata dan saya percaya tidak akan berlaku sama untuk setiap orang/ keluarga.

 

Besok, kami akan genap 2 tahun 9 bulan berada di Melbourne. Kehidupan yang kami jalanin disini bisa dibilang luar biasa karena begitu banyak kejadian yang terjadi selama ini yang tidak pernah kami sangka sebelumnya. Anak-anak kami pun sudah mulai seperti orang lokal sini, tahan dingin, si kecil manggil kakak nya langsung nama, semakin kritis, semakin kreatif, dan mulai susah diajak berbahasa Indonesia walaupun kami tetap tidak menyerah dan berusaha terus menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Kami sendiri pun sudah merasa betah, kehidupan yang kami miliki saat ini yang tidak pernah terlintas dipikiran kami sebelumnya membuat kami tidak henti-hentinya bersyukur karena lebih dari cukup. Kami pun sudah membeli sebuah rumah mungil jauh di belahan barat dari Melbourne, dan sudah mulai dibangun saat ini. Kalau memang sesuai jadwal, prediksi kami seharusnya sudah bisa selesai awal tahun depan sekitar bulan April atau Mei 2020, yang artinya kami sudah bisa mulai pindah ke rumah kami sendiri setelah itu. Hal ini secara tidak langsung juga membuat kami berhasil mewujudkan impian kami berikutnya yang tadinya kami prediksi akan sulit tercapai disini mengingat mahalnya rumah disini walaupun untuk ukuran yang mungil plus daerah yang cukup jauh dari CBD (pusat kota) jika melihat latar belakang ekonomi yang kami miliki. Tapi Tuhan berkata lain, kami diberi jalan untuk bisa membeli rumah impian kami, rumah yang tidak terlalu besar (tapi 3 kali lebih besar dari rumah kami di Jakarta yang berukuran 4 x 15 dua lantai) dengan taman di depan dan belakang, yang sebetulnya adalah salah satu tipe rumah yang saya impikan selama di Jakarta (karena rumah kami di Jakarta tidak memiliki taman hahaha…). Sesuatu yang belum tercapai di Jakarta karena harganya yang aduhai ternyata malah kami dapatkan di Melbourne, kurang baik apa coba Tuhan kepada kami.

Jika ingin dibilang, terlepas dari status tempat tinggal yang masih sewa (karena saya lebih suka punya sendiri agar tidak pusing pindahan terus) bisa dibilang jika kehidupan kami sudah mulai stabil dan mapan saat ini, kami sudah bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, di level yang jauh berbeda, dan tentunya kualitas yang jauh lebih baik dari kehidupan kami dulu. Kehidupan yang saya maksud tidak diukur dari banyaknya materi yang kami miliki ya, tabungan kami sih ga banyak apalagi sampai beratus-ratus, aset yang kami miliki pun ga limpah ruah sampai milyaran, tapi kami punya hal yang lebih berharga dari itu semua, kami punya keluarga yang sehat dan baik, kami punya anak-anak yang sehat dan membuat hidup kami tetap sibuk, kami punya kehidupan yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, kami punya kehidupan yang berkualitas, dan kami pun memiliki rasa syukur yang besar. Semua itu, bagi kami…. memiliki nilai yang lebih diatas segala materi yang ada di dunia.

Sebentar lagi kita akan masuk bulan November, bulan dimana kota ini mulai sibuk berhias untuk menyambut Natal yang sudah semakin mendekat. Bulan dimana kami mulai mengeluarkan baju-baju tipis karena mulai masuk ke musim panas yang terkenal dengan suhu ekstrim nya. Bulan dimana sisi pekerjaan pun mulai sepi dan tenang karena setiap orang mulai merencanakan liburan mereka. Bulan dimana kami pun mulai berdiskusi ingin bagaimana melewati Natal tahun ini. Tadinya saya berharap bisa merayakan Natal di rumah sendiri tahun ini, tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, setidaknya tahun depan seharusnya keinginan saya bisa tercapai (mudah-mudahan ya…). Saya punya rencana untuk BBQ an di taman belakang rumah saat Natal bersama istri dan anak-anak, bercengkerama sambil bakar ikan, udang, cumi, yang dibaluri bumbu pedas dan manis plus nasi putih panas tidak ketinggalan sambal terasi dan makan sembari lesehan diatas rumput, sambil minum bir untuk mengimbangi suhu panas bulan Desember, ahhh… nikmat bukan? Di sisi lain, saya pun bisa mewujudkan salah satu impian dari saya masih kecil dulu yang belum terwujud sampai sekarang, yaitu menghias pohon Natal sambil mendengarkan lagu-lagu Natal diputar sekaligus menghias rumah dengan dekorasi Natal sederhana. Ahh…. jadi ga sabar nunggu tahun depan 🙂