Ijazah

Belakangan ini dunia maya sedang hebring (ga heboh-heboh amat sih…) video tentang penting atau tidak nya selembar Ijazah yang dibawakan salah satu pesulap terkenal Indonesia Bang Deddy C, yang beredar luas di Facebook.

Dalam video itu sampai dikatakan oleh dia jika perusahaan sekelas Google dan Facebook saja ga nanyain ijazah atau lulusan mana saat menerima pegawai. Yang pada akhirnya keseluruhan isi video itu jadi kontroversi (menurut saya) karena cara orang menanggapi isi video itu jadi berbeda-beda (termasuk saya).

Saya secara pribadi tidak melihat isi video itu secara substansi karena memang tidak bisa dilihat dari satu bagian saja tapi harus keseluruhan, dan saya berusaha menangkap apa yang sedang ingin disampaikan oleh pembicara di video itu (yang semoga tidak melenceng terlalu jauh) secara keseluruhan.

Apakah saya termasuk yang pro anak tidak perlu sekolah tinggi? tidak juga, karena hal itu adalah motivasi saya migrasi ke Australia, yaitu ingin anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang lebih baik (menurut saya).

Lalu apakah saya termasuk orang yang pro jika anak tidak perlu menguasai semua mata pelajaran? iya juga, itu juga yang menjadi motvasi saya migrasi ke Australia, karena kurikulum disini tidak mengenal rangking untuk naik kelas.

Apa yang saya tangkap dari video itu adalah kita sebagai orang tua tidak perlu memaksakan anak kita harus bisa menguasai semua mata pelajaran di sekolah apalagi sampai untuk mengejar nilai terbaik, juara dan sebagainya. Hal ini yang juga sering salah kaprah dan membuat si anak stress (yang belajar si anak yang kompetisi orang tuanya), seperti yang dikatakan dalam video itu jika guru masing-masing mata pelajaran saja berbeda kenapa si anak harus menguasai semuanya. Isi video itu sedang berusaha memberitahu kita jika setiap individu memiliki kekuatannya masing-masing, dan daripada kita berusaha meningkatkan apa yang menjadi kekurangannya, sebaiknya kita meningkatkan kekuatan si anak itu sendiri karena akan lebih berguna untuk masa depan dan psikologis si anak, dan itu juga tidak salah.

Masalah Ijazah itu sendiri, saya secara pribadi ga mendengar pembicara sedang melakukan doktrin jika kita tidak perlu mengkuliahkan anak kita atau tidak perlu memiliki Ijazah. Yang sedang dia sampai kan adalah, kita tidak perlu memaksakan anak kita untuk bisa lulus dengan IPK luar biasa dan dari Universitas Unggulan hanya karena kita ingin merasa bangga punya anak pintar secara akademis, karena kembali lagi ke masing-masing individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Saya termasuk orang yang ingin anak-anak saya sekolah setinggi mungkin, kalau bisa sampai S3, 4, 5, 6 dan seterusnya hehehe… tapi saya juga tidak setuju jika ijazah yang kita dapatkan di dunia pendidikan itu dijadikan alat untuk menyaring saat kita mencari pekerjaan, kenapa? karena ijazah hanya menunjukan jika kita sudah sampai ke tahap tertentu dalam berfikir, hanya itu. Dan membentuk kerangka berfikir tidak serta merta hanya bisa didapatkan di bangku sekolah atau kuliah loh…, tapi bisa didapatkan dari banyak hal terutama pengalaman hidup itu sendiri.

Seperti yang kemudian saya bagikan kembali ke lini masa saya sekaligus saya komentar jika selama saya mencari pekerjaan di Australia tidak pernah ditanya Ijazah saya apa, dan saya tidak sedang bercanda karena itu yang terjadi. Sangat berbeda dengan di Indonesia, selama saya mencari pekerjaan jangankan ditanya lulusan mana dan ijazahnya apa, bahkan fotocopy ijazah itu sendiri harus dilampirkan sebagai bukti saat melamar pekerjaan. Hal ini yang menurut saya menjadi bola salju yang kemudian menggerakan para orang tua untuk mendorong anak-anak mereka agar bisa mencapai pendidikan tertinggi agar mereka mudah mencari pekerjaan (yang nyatanya tidak mudah juga kan…). Dan konsep itu juga akhirnya membuat semua yang hidup di Indonesia memiliki pola pikir jika kita tidak memiliki ijazah maka kita akan sulit mendapatkan pekerjaan. Salahkah itu? ga tuh… karena yang kalau mau hidup di Indonesia dan tidak ingin menjadi pengusaha, ya harus punya ijazah agar lebih mudah saat mencari pekerjaan, karena itu lah apa adanya di Negara kita.

Lulusan universitas terkenal apalagi dari luar negeri dan dengan IPK tinggi bukan hal yang tabu untuk dikejar, karena hal itu membantu kita membangun cara pandang kita, mengenal hal lain, dan memiliki kerangka berfikir yang lebih baik selain membuat kita menjadi lebih jeli dan bijak (semoga) dalam melihat sebuah masalah. Tapi, semua itu bukan sesuatu yang konsepnya hidup-mati dimana kalau tidak tercapai maka hidup akan suram dan sebagainya. Kita boleh bangga jika anak-anak kita mampu sampai ke tahap itu dan bisa membuat mereka membangun kehidupan mereka sendiri sampai ke level yang mereka inginkan, tapi jangan membuat hal itu menjadi beban untuk mereka karena jalan itu bukan satu-satunya jalan untuk mencapai impian mereka dan berbahagia dalam kehidupan mereka.

Karena bangga itu sifatnya sementara dan bukan syarat untuk menjadi bahagia…

Salam……………..

Jadi… ?

Jadi sudah betah nih? sudah ga mau pulang ke Indonesia lagi?

Semenjak migrasi sampai sekarang, kedua pertanyaan diatas beberapa kali dilontarkan kawan-kawan maupun keluarga. Pertanyaan yang sebetulnya sulit-sulit-gampang untuk dijawab. Kenapa? karena mau dibilang sudah betah juga ga tapi dibilang pengen balik juga ga hahaha…

Saya itu sebetulnya tipikal orang termasuk malas pakai banget pindah-pindah seperti kucing beranak, hal itu kelihatan dari 7 tahun berada di kamar kos yang sama (padahal mah karena ga ada duit aja buat pindah ke kos yang agak besar hahaha….), 10 tahun bekerja di perusahaan yang sama, bahkan 17 tahun bersama 1 cewek yang sama yang walaupun nyebelin tapi ngangenin. Itulah kenapa saat saya memutuskan untuk migrasi itu sebetulnya perang batin sangat loh… antara sudah malas karena sudah rada enak hidup di Jakarta dan tabungan kami saat itu juga ga seberapa, akan tetapi di lain pihak saya juga masih penasaran kepengen mengejar cita-cita saya yang rada-rada gila. Apalagi saat itu kehidupan kami di Jakarta bisa dibilang ga jelek juga loh… kami hidup berkecukupan walaupun tidak berlimpah ruah. Itulah kenapa, saat kami gagal saat pertama kali migrasi, finansial kami langsung goyang dangdut ga karuan, yang sebetulnya entah kenapa setahun kemudian kami bisa nabung dan nyoba migrasi lagi yang kedua kali, bener-bener diluar akal sehat saya sih… itu kenapa saya selalu bilang jika perjalanan kehidupan saya itu penuh dengan mukjizat, ga bisa dihitung pakai kalkulator manusia, ya setidaknya kalkulator saya pribadi. 🙂

Seperti yang sudah pernah saya bagikan disini sebelumnya jika kami saat memutuskan migrasi ke Australia itu sebetulnya demi anak terutama pendidikan, karena kami ingin anak-anak kami bisa menikmati ruang terbuka ga harus nge-mall lagi nge-mall lagi, tapi ga harus berkutat dengan keamanan, polusi dan asap rokok, dan juga agar mereka bisa tumbuh besar di daerah yang udara nya masih bersih, terlebih yang lebih penting lagi adalah anak-anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas dan masih banyak hal lainnya yang bagi kami lebih positif dari keadaan di Jakarta. Sekolah disini bagi kami juga jauh lebih baik walaupun tidak 100 persen baik ya… setidaknya disini cara mendidiknya lebih kearah kreatifitas dan attitude, tidak menekankan hafalan terus menerus, dan juga tidak ada materi pelajaran ga terlalu dibutuhkan tapi tetap dipaksakan, kalau ambil contoh disana ya semacam menghafal plat kendaraan seluruh Indonesia, atau membaca peta buta halah…. sekarang apa-apa tinggal googling ternyata.

Selain pendidikan, faktor lain seperti kesehatan juga menjadi salah satu dasar kenapa saya memilih Australia, disini selama kita megang visa Permanent Residence, kita mendapatkan hak yang sama dengan Citizen untuk semua pelayanan baik itu kesehatan, pendidikan, sosial dan keamanan. Ini hanya untuk pemegang visa PR saja ya, bukan yang lain. Sering kali mereka-mereka yang sedang berjuang mendapatkan PR beranggapan biaya berobat disini gratis seluruhnya (sama seperti saya dulu) yang sebetulnya kurang tepat juga. Yang benar-benar digratiskan adalah yang termasuk dalam list PBS Scheme. Apa itu PBS Scheme silahkan baca disini dan disini. Di link kedua kita bisa melihat semua obat yang ditanggung Medicare (sama seperti BPJS kalau di Indonesia) yang bisa kita cari berdasarkan nama obat, penyakit, dsb. Jadi, ini artinya obat-obat umum seperti panadol, flu umum, sakit kepala, mencret dsb yang dikonsumsi umum ya harus bayar, walaupun harus bayar tapi sebagian besar masih di subsidi oleh pemerintah jadi ya lumayan lah, bisa lebih murah dikit.

Hal lainnya adalah keamanan, bagi kami keamanan itu penting. Di Australia kami dilindungi oleh hukum dengan lebih jelas, yang dimaksud dengan lebih jelas disini adalah hukum bekerja melindungi seluruh warganya tanpa pandang bulu, jadi ga hanya mereka yang tajir apalagi sampai tajir melintir saja yang dilindungi atau sengaja dilindungi walaupun salah. Bukan hanya hukum, tapi pelayanan pemerintah lainnya juga sama, contohnya Ambulance dan Pemadam Kebakaran. Disini jika ada yang nelpon 000 nomor emergency disini tanpa menyebutkan membutuhkan layanan polisi, pemadam atau ambulance, maka ketiga instansi tersebut akan datang semua ke lokasi tanpa ba-bi-bu nanya “wani piro” terlebih dahulu dan akan sampai secepat mungkin, rekor yang pernah saya alami tidak sampai 5 menit salah satu dari mereka sudah tiba dilokasi, dan ini tidak terlepas dari mental pengguna jalan yang mau mengalah dan memberi jalan kepada mereka saat sirine sudah menyalak (ga pakai ada yang ngekor dibelakang kaya disana ya….) mau semacet apapun jalanan yang ada. Mental pengguna jalan ini juga menjadi salah satu yang bikin betah karena ga perlu ngurut dada ngeliat rombongan beruk berakrobat di jalanan seperti disana. Yang perlu diingat adalah, untuk pemadam kebakaran dan ambulance akan ada tagihan yang menyusul (alias tidak gratis), itu kenapa penting untuk memiliki asuransi ambulance dan bagi yang sudah ada properti punya asuransi kebakaran. Dan yang lebih penting lagi untuk panggilan palsu akan ada denda juga, itu kenapa hati-hati dengan nomor atau tombol emergency karena disini hal itu ditanggapi sangat-sangat serius. Mengenai denda juga ada bagusnya karena untuk memberi efek jera, jadi kan ga ada yang iseng dan mengakibatkan orang lain yang memang sedang membutuhkan emergency malah jadi ga tertolong atau terlambat tertolong. Yang ingin saya garis bawahi sebetulnya adalah kesigapan mereka datang menolong terlebih dahulu bukan nanya biaya dulu seperti yang biasanya terjadi disana. Walaupun ada biaya yang harus dibayar saat memanggil layanan mereka (selain polisi) tapi untuk kejadian yang terjadi di jalan tidak pakai biaya alias gratis karena semua sudah secara otomatis ditanggung oleh VicRoad melalui biaya memperpanjang registrasi kendaraan yang kita bayarkan setiap tahun (semacam perpanjang BPKB kalau disana). Jadi, tetap diingat ya, kalau sudah dapat PR dan pindah kesini lebih baik setidaknya punya asuransi ambulance karena biaya ambulance tidak ditanggung oleh pemerintah kecuali untuk kecelakaan dijalan. Dan bagi yang sudah punya rumah, lebih baik ambil asuransi rumah yang cover sampai pemadam kebakaran atau setidaknya untuk cover kebakaran buat jaga-jaga saja dan itu pun kalau mau.

Pelayanan masyarakat adalah hal lainnya yang bikin kami betah, disini kalau mau perpanjang surat-surat misalnya SIM atau Visa PR kami, itu sangat mudah, bisa dilakukan sendiri dan tidak berbelit. Informasinya jelas, tidak ada istilah “seikhlasnya”, dan tidak dipersulit padahal kami hanya pemegang Visa PR loh bukan warga negara. Masalah informasi contohnya, pernah ada diskusi cukup hangat di group facebook diaspora Indonesia di Melbourne mengenai informasi perpanjang passport yang berbeda antara yang tertulis di Web KJRI dengan apa yang disyaratkan, hal seperti ini kan nyebelin ya… apalagi untuk orang-orang yang bekerja seperti saya dan harus ambil cuti tapi kemudian jadi sia-sia hanya karena informasi di Web tidak sepenuhnya benar. Tapi kan kalian dapat cuti banyak kalau kerja disana? Ya ga gitu juga keless… inget kalau kami disini sendirian, ga seperti disana yang tinggal telpon keluarga saat butuh sesuatu, disini semua dilakukan sendiri dan saat hal itu dibutuhkan, ya yang namanya cuti akan sangat membantu. Jika dibandingkan dengan warga negara sini yang perpanjang Passport bisa kapan saja bahkan bisa dilakukan di kantor Pos tanpa harus pakai seabrek dokumen, pelayanan negara kita ke masyarakat sih menurut saya masih banyak yang harus dibenahi, termasuk dari mental petugasnya. Contoh lainnya adalah masalah masuk sekolah, disini masuk sekolah sangat mudah dan tidak harus menyiapkan seabrek dokumen seperti di Indonesia, apalagi kalau sudah masalah pindah Negara. Disini cukup fotocopy Passport, Visa, dan list imunisasi dan anak kami pun bisa langsung mulai masuk sekolah walaupun pindahan dari Indonesia dan mulai nya di tengah tahun ajaran, coba kalau dibalik, kami bakalan perlu menyiapkan dokumen pindah sekolah, dokumen dari KJRI, dan lain sebagainya yang entah apa saja, itupun belum tentu bisa langsung sekolah dan harus menunggu pergantian semester atau ajaran baru atau entah apalah itu.

Ga kepo! nahh…. yang ini juga penting nih, kenapa? karena kita jadi lebih bebas untuk menjadi diri sendiri, ga perlu muna atau berusaha caper (cari perhatian) baik dengan kekonyolan, kekepoan atau dikit-dikit pamer hanya untuk menunjukan kepada orang lain kita seperti apa (walaupun kadang bertopeng). Hidup di negara seperti Australia jauh berbeda dengan hidup di Indonesia, disini orang-orang sudah mengerti batas tertentu yang tidak seharusnya mereka langgar terutama kalau sudah berhubungan dengan masalah privasi. Jadi ga ada tuh disini yang asal komentarin orang lain, apalagi ngurusin agama orang lain apa, sudah nikah atau belum, kenapa ga mau punya anak, bahkan sampai LGBT juga ga dikepoin dan dikomentarin, ya ga semua sih ada juga beberapa yang masih seperti itu apalagi yang dari Indonesia hahaha… ga gampang euy ngubah kebiasaan yang sudah mengakar ya. Bahkan disini kalau lagi summer sudah biasa kalau bukan lagi hanya belahan dada yang bertebaran tapi sudah tambah puting njeplak yang bertebaran, ini beneran loh (hayoo… ga perlu mupeng apalagi ngecess… tuh lap dulu sudut bibir nya), dan ga ada yang ngurusin atau kepo ngomongin dan sebagainya, palingan juga adanya saya saja yang matanya cape karena dipaksa jangan sampai berkedip hahaha… (norak ah…), maklum cowok norak… eh normal. Disini saat musim panas cewek-ceweknya untuk segala ukuran dan bentuk payudara sudah terbiasa tidak menggunakan bra saat menggunakan kaos ketat sehingga kedua putingnya sampai terlihat njeplak dan mereka pede saja jalan-jalan tanpa harus kawatir ada yang ngomongin atau bahkan merkosa mereka, kenapa? karena otak nya ga menceng kaya layangan singit seperti orang-orang disana yang lihat paha diatas dengkul dikit saja sudah horny, dan lebih parah lagi abis itu yang disalahin paha si cewek, halah… bagaimana kalau mereka hidup disini yang celana atau rok nya sudah bukan diatas paha lagi tapi sudah dibawah pinggul, kebayang kan tuh paha mulus keliatan 5 centi dari selangkangan sampai dengkul, bisa-bisa ayan kalian kumat disini trus kejang-kejang dijalan hahaha….. Disini orang-orang bebas memilih apa yang mereka inginkan selama masih dalam batas-batas umum dan tidak mengganggu orang lain. Dan batas-batas ini pun bukan ditetapkan oleh segelintir orang atau ormas yang merasa mereka adalah penjaga pintu surga, tapi oleh badan berwenang dari Negara sehingga tetap netral dan sah secara hukum.

Jadi, lu udah ga bakalan balik lagi nih ke Indonesia untuk menetap? saya belum tahu sampai detik ini dan bahkan sampai detik akan datang. Kenapa? karena saya sendiri sampai saat ini belum memiliki rencana pensiun nanti mau seperti apa. Inget, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya jika kami migrasi karena ingin anak-anak kami mendapatkan kesempatan yang lebih baik disini baik untuk pendidikan maupun hal-hal lainnya. Sampai saat ini pun kami masih mempertahankan rumah mungil kami di Jakarta, kami pun masih mempertahankan status warga negara kami walaupun kami pada akhirnya akan memberikan kewenangan secara penuh kepada kedua anak kami untuk memilih ingin menjadi warga negara Australia atau tetap sebagai WNI. Kami tidak tahu apakah kami akan menutup mata di tanah air beta atau di tanah asing beta, sama hal nya kami pun belum tahu akan kembali ke Indonesia lagi atau tidak saat kedua anak kami sudah mandiri dengan kehidupan mereka. Untuk saat ini, kami hanya berusaha dan berjuang untuk bisa bertahan disini selama mungkin sampai kedua anak kami berhasil menyelesaikan pendidikan mereka sampai jenjang tertinggi yang bisa mereka capai.

Sampai sekarang, saya pribadi masih berpikir untuk suatu hari nanti mau pensiun di Indonesia saja, apalagi dollar yang saya tabung disini bisa saja jadi begitu banyak rupiah nantinya jika ditukar, dan tinggal dibawa ke kota kecil dan hidup tenang disana sambil jualan gorengan di depan rumah. Tapi hidup kan ga bisa mikir yang normal-normal dan sehat-sehat saja, coba bayangkan kalau kita saat tua sakit-sakitan, ya iya kalau langsung mati, kalau sakit-sakitan dan ga mati-mati trus gimana? jelas di Australia akan lebih terjamin pelayanan dan biayanya karena ada medicare. Bicara hidup enak, sebetulnya selama kita mau planning dan saving, menurut saya dimana saja akan sama karena biaya di Indonesia pun ga bisa dibilang murah loh… saat ini saya bisa bilang murah karena membandingkan dengan Australia, ya jelas lah lebih murah…. coba nyari duit disana dan hidup disana ya podo wae struggling nya. Di Australia pun saya juga membayangkan nanti saat kami pensiun, berdua dengan istri mau mengembangkan kulineran, bikin makanan-makanan unik terus kita jualan hehehe… tapi itu kan rencana ya, masalah bisa ga nyampe ke titik itu ya kita ga tahu, karena rahasia itu hanya milik Tuhan.

Jadi… ?

Apapun jawaban maupun rencananya, nikmati saja yang kita hadapi saat ini. Bermimpilah dan jangan lupa bangun dan mengejarnya, nikmati prosesnya bukan hasilnya karena sejatinya proses itulah yang mendewasakan kita dan memiliki arti kata bahagia. Hidup tanpa mimpi itu seperti ayam goreng tanpa sambel lalapan, mungkin masih enak tapi kurang lengkap, dan hidup dengan mimpi tapi hanya menjadi impian itu seperti ayam goreng lengkap dengan sambel lalapan tapi yang dimakan cuman timun nya saja, hambar booo…

Oktober

Ahh… sudah masuk Oktober, cepat amat ya waktu berlalu. Masih ingat dengan tulisan saya sebelumnya tentang perjuangan mematikan rumput tetangga eh… rumput di tanah yang kita beli dengan weed killer? Nah… hasilnya adalahhh… rumputnya tambah subur wakakakak…. haiyahh… dan kami juga baru saja mendapat kabar jika ijin membangun rumah kami sudah final yeyy… dan mereka akan bisa memulai proses nya akhir bulan ini. Seneng donkk… abis joget-joget karena seneng kami pun sadar… oh my God… itu rumput bijimane? akhirnya kami pun meminjam cangkul yang seperti garpu ke salah satu kawan istri disini dan mulai merencanakan menjadi petani di hari minggu ini. Yahh… daripada nanti pembangunan terhambat lagi kan ya, toh mumpung ada ortu istri disini jadi bisa lebih konsen kan nyangkul nya karena anak-anak ada yang liatin kalau mereka dah bosen bantuin kita cabutin rumput karena kebetulan rumah yang kami bangun ini hanya 10 meter boo dari taman yang cukup besar disana.

Bulan ini juga entah kenapa pas iseng-iseng browsing karena kerjaan lagi santai abis eh… tiba-tiba berakhir di sebuah iklan mobil dijual yang cukup murah karena baru 1 tahun masa pakai, kondisi oke, dan kilometer cukup rendah. Jadilah keisengan itu berakhir menjadi sebuah excel hitungan agar saya bisa mendapatkan gambaran akan seperti apa cash flow kami jika saya ingin mengambil mobil tersebut, maklum saya memang dah gatel banget pengen punya mobil yang lebih besar dari dulu agar mudah mobilisasinya apalagi saat ada keluarga yang datang dan ada rencana untuk road trip juga, norak ya saya… ga papa deh ya norak dikit biar ada cerita, toh saya selalu mengambil used car atawa second kalau istilah disana, kok ambil second? iyalah… saya tipe orang yang malas invest ke barang-barang yang harga nya turun, rugi hahaha… itu kenapa untuk mobil yang saya incar ini setelah saya hitung untuk cicilan plus bunganya, ternyata total yang saya bayarkan dibawah harga baru sedikit, ya itung-itung saya dapat baru dengan keringanan cicilan sampai 7 tahun dan kondisi masih oke hehehe… entahlah cara berpikir saya bener ga. Yang pasti sih sampai sekarang belum mendapatkan keputusan apapun dari pengajuan cicilan saya, mungkin karena mereka melihat saya sedang ada cicilan rumah, ga tau juga sih.

Oktober itu buat saya bulan yang enak, karena suhu rata-rata bermain ditingkat yang nyaman buat badan manusia tropis seperti saya. Yang ga enaknya itu serbuk bunga nya, karena sedang musim semi jadi bunga pada bermekaran dan mulai deh yang namanya hayfever merajalele eh merajalela. Selain serbuk bunga hal lain yang tidak enak juga daylight saving dimulai, kalau mau tahu apa itu daylight saving baca disini ya. Kenapa ga enak, karena mulai oktober sampai april nanti waktu tidur kami berkurang 1 jam hiks… ya ga papa juga sih karena secara general sebetulnya ga ada yang berkurang karena semua kan kembali lagi ke penyesuaian hahaha…. saya norak dikit biar lebih hidup 🙂

Nah… kan…. saya bingung nutup tulisan ini, entah kenapa saya sering bingung bagaimana menutup tulisan saya agar bisa lebih keren gitu, tapi sering gagal menemukan caranya. Mungkin itu yang orang bilang melakukan sesuatu tanpa rencana, padahal sudah saya rencanakan loh… ya sudahlah.

Bulan Oktober itu kan artinya semakin mendekat ke akhir tahun, ya sebetulnya baik November maupun Desember podo wae toh deket juga ke akhir tahun malah lebih deket hahaha… dan setiap mendekati akhir tahun biasanya saya sudah mulai merenungi apa saja yang sudah lewat dalam kehidupan saya selama setahun belakangan, apa yang sudah tercapai, apa yang belum, apa yang mau direncanakan, apa yang mau diraih, dan apa yang harus diperbaiki. Sementara ini saya cuma berharap agar rumah kami dibangun tanpa drama dan ga ada biaya-biaya kejutan yang keluar dalam prosesnya seperti yang kemaren terjadi selama persiapan meminta ijin bangunan.

Datang Telanjang

Oktober sudah tersenyum didepan pintu, dan bulan pertama musim semi pun sebentar lagi lewat. Waktu kok rasanya benar-benar cepat berlalu ya… seperti baru kemaren kami merayakan Natal dan Tahun Baru kedua kami di Melbourne, disambung dengan mengikuti pertandingan tenis dunia – Australian Open, eh… sebentar lagi masuk bulan 10, dan itu pun berarti 2 bulan menuju 2020 wow… cepat yaa…. (sambil megang pipi biar norak dikit…)

Bulan ini, ada beberapa hal menarik yang terjadi dalam perjalanan kami disini. Yang pertama adalah saya akhirnya memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa dan income protection untuk melindungi keluarga kecil saya jika ada hal buruk terjadi terhadap diri saya sebagai single income. Rencana ini sebetulnya sudah saya rencanakan jauh hari, dan baru bisa terwujud bulan ini setelah melalui perhitungan panjang karena ini adalah komitmen jangka panjang yang harus saya lakukan dan jaga agar ada benefitnya. Ini pun pada akhirnya berani saya ambil karena mendapatkan beberapa masukan dari financial adviser yang membantu saya menyusun besarnya klaim yang harus saya lindungi untuk keluarga kecil saya agar bisa meng-cover mortgage kami, sekolah anak, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya, dan juga berapa premi yang harus saya bayar.

Lalu yang kedua adalah, di bulan ini kami merayakan hari jadi pernikahan kami yang ke sepuluh, dimana tahun ini agak unik perayaannya karena kami kedatangan beberapa keluarga kemari tepat di hari jadi kami. Kami pun merayakannya dengan jamuan sederhana di salah satu restoran korea pilihan istri saya dan berlangsung meriah. Di hari jadi yang ke 10 tahun ini pula, saya membelikan sesuatu untuk istri saya sebagai penanda yang sudah saya tuliskan di artikel sebelum ini, dan sedikit kejutan di malam saat kami mengadakan jamuan sederhana itu tadi, apa itu kejutannya? rahasia ahh… hahaha…

Ketiga, kami akhirnya mendapat kabar jika ijin bangunan kami sudah keluar, jadi sekarang kami tinggal menunggu builder kami menyiapkan dokumen yang harus kami tanda tangan agar mereka bisa memulai pekerjaan mereka. Waktu yang kami prediksi akan selesai awal tahun depan seperti nya akan meleset cukup jauh, hal itu akhirnya membuat kami mendaftarkan kembali kedua anak kami di sekolah yang sekarang agar mereka tidak libur terlalu lama jika kami sampai harus pindah pertengahan tahun depan. Resikonya, kami jadi harus bayar dobel untuk uang sekolahnya hehehe… Kejadian yang satu ini juga membuat kami agak repot karena tanah yang kami beli ternyata mulai berumput dan pada akhirnya harus saya cangkul dan bersihkan (setelah minggu sebelumnya kami coba semprot pakai weed killer ternyata ga mempan karena tuh rumput bukannya kering malah tambah tinggi bugar…) agar builder bisa langsung memulai pekerjaan mereka saat semua dokumen sudah siap, nyebelin ya….

Keempat, ada beberapa “riak-riak” yang terjadi selama beberapa minggu belakangan ini yang cukup membuat perut geli. Kenapa? karena menurut saya pribadi, semua itu terlalu banyak drama, entah karena saya sudah berubah menjadi lebih straight forward karena kelamaan gaul disini atau gimana, tapi entah kenapa saya tetap ga habis pikir kenapa harus membuat lembar demi lembar sinetron seperti itu hanya untuk hal-hal sepele yang sebetulnya masih bisa teratasi. Ah… kalian pasti bingung baca nya karena memang saya samarkan cerita satu ini agar kalian penasaran (ga denk…), ga elok saja jadi untuk paragraf yang satu ini diperuntukan hanya kepada mereka yang mendengar cerita ini sebelumnya.

Manusia itu, pada dasarnya datang telanjang dan pergi tanpa apapun. Itulah kenapa saya sering tidak mengerti kenapa banyak diantara mereka yang masih berpatokan pada materi untuk menilai seseorang. Saya secara pribadi tidak masalah jika ada yang tidak ingin akrab dengan saya karena saya bukan orang yang punya hal-hal yang bling-bling dengan berlebihan itu, kenapa? karena saya tidak mau menghabiskan waktu saya untuk membuat orang lain mau akrab sama saya hanya karena saya bermateri, pertama itu adalah palsu dan kedua hidup terlalu singkat dan eman-eman kalau hanya dihabiskan untuk hal seperti itu. Saya selalu percaya satu hal, kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, itulah kenapa saya berusaha keras untuk menempatkan diri saya sebaik mungkin (yang entah sudah baik atau masih jauh dari kata baik) dan tidak terlalu perhitungan untuk hal-hal yang tidak abadi dan masih bisa dicari seperti contohnya uang dan materi, terlebih jika sudah berhubungan dengan keluarga dekat atau inti ya, tapi itu kalau saya yang suka  terlalu banyak gaya padahal ga punya apapun hahaha… Saya pribadi selalu percaya jika setiap manusia memiliki nilainya masing-masing terlepas dari apa yang mereka miliki dan gunakan, dan menurut saya nilai itu jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa mereka beli dan gunakan. Nilai seperti itu yang sering kali kita lupakan karena terlalu fokus terhadap materi yang berupa “titipan” yang akhirnya membuat kita kehilangan sisi manusia kita yang sebetulnya justru menjadi hal yang diingat orang lain saat kita sudah tidak menjadi musafir lagi. Eits… hati-hati bacanya, saya tulis “terlalu fokus” ya, jadi jangan disalah artikan jika kita tidak harus berusaha 🙂

Ga nyambung lagi kan… diawali dengan waktu dan bulan, disambung kejadian, dan diakhiri dengan masalah “telanjang” halahh…. hahaha… saya sendiri juga bingung sih kenapa akhir-akhir ini kalau nulis suka ga jelas juntrungannya. Ya, apapun itu, saya tidak begitu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang saya karena hal itu hanya akan membuang waktu saya dengan percuma. Saya lebih suka menjadi apa adanya saja. Kan yang terpenting itu adalah bagaimana kita tetap berusaha menjadi lebih baik di setiap langkah kita.