New Normal?

Belakangan ini banyak sekali postingan dan percakapan tentang “new normal” yang akan diterapkan di Indonesia. Bingung sebetulnya dengan apa yang mereka perdebatkan tentang new normal itu sendiri karena kita bukannya memang sudah berada di new normal ya?

Di Australia sendiri, new normal itu perlahan tapi pasti sudah mulai dilakukan tanpa harus digaungkan seheboh itu seperti disana, jaga jarak aman, pakai masker jika diperlukan (karena disini ga ada aturan harus menggunakan masker), bersin dan batuk di siku (bukan dengkul yee… susah juga kan hahaha…), kerja dari rumah selama hal itu memungkinkan, dan yang terakhir anak-anak kecil (yang asumsi saya kelas 6 kebawah) diperbolehkan tetap belajar sendiri di rumah sampai orang tua yang bersangkutan sudah lebih yakin mau kirim mereka ke sekolah.

Nah, bicara sekolah di rumah hal itu menjadi drama sendiri lagi. Disaat banyak emak-emak komplain disana tentang harus menghadapi sekolah dari rumah, ga ada pembantu, suster, tukang kebon, abang ojek, abang gerobak, semua aja disebut hahaha…. cobalah kalian belajar untuk bersyukur, karena setidaknya kalian pernah sekolah disana dan masih bisa pakai Bahasa Indonesia pas ngajarinnya, walaupun tetap jadi guru-guru-an ya. Disini, kami menghadapi hal yang lebih kompleks, sudah ga pernah sekolah di Australia, ga ngerti kurikulum nya secara keseluruhan, ditambah pakai bahasa Inggris pas ngajarin nya. Dimana anak-anak sudah fasih pakai aksen Australia yang nyebelin karena banyak pakai ending ah, e, dan es yang sukses bikin bingung kuping seperti saya yang lebih kental Inggris Ngapak (aksen Tegalan booo… hahaha….), kita masih harus berusaha jelasin ke mereka tentang materi yang diberikan oleh sekolah secara online yang boro-boro pakai bahasa pengajar dalam bahasa Inggris, yang ada asal tarik mangg….. Jadi, sebelum komplain tentang sulitnya berbahasa pengajar ke anak-anak kalian yang notabene sekolahnya satu asal dan satu bahasa dengan kalian dan masih bisa menggunakan bahasa Indonesia yang bisa cas cis cus tanpa harus muter-muter dulu di kepala, berpikirlah kalau kalian itu sebetulnya lebih beruntung dibandingkan akyuu ini… (ahh… imut ga?)

Memang sih, semua kan gara-gara saya sendiri ya, kenapa migrasi kesini, ya kan? ya itulah point nya, karena saya sudah memutuskan migrasi ke negara lain, dan tiba-tiba harus menghadapi new normal, ya kompromi lah…. jangan komplain terus, diluar sana masih banyak yang tidak seberuntung kita loh. Sama seperti kalian, kalau ga mau pusing anak-anak dirumah dan jadi guru-guruan ya kirim saja anak nya keluar, tapi inget… kalau terjadi sesuatu jangan salahin siapa-siapa karena itu egois namanya. Pemerintah mau masukin sekolah pada ribut, disuruh belajar dirumah juga pada ribut, mau nya apa sih? hidup dah terlalu enak ya sampai ga bisa kompromi lagi sama kesulitan yang bahkan keputusannya diambil sendiri?

Oke… oke… setiap manusia beda-beda, ngerti kok…. ngertiii… yang mau digaris bawahi disini adalah jadi manusia itu jangan hanya bisa komplain dan mencari alasan saat gagal kompromi dengan masalah. Sekarang gini deh, daripada komplain ini itu, situ coba kasih ide enak nya gimana buat hadapin masalah covid ini, dah gitu aja. Bingung kan? Nah… makanya, biar ga ruwet semua kiblat ke pemerintah saja, ga usah kebanyakan komplain, kalau sudah ga percaya sama pemerintah nya ya migrasi saja ke tempat yang situ lebih percaya, ga mau juga? ya susah lah… Malaikat juga pusing ngadepin manusia model begitu, ya kan….

Belajarlah kompromi dengan keadaan sampai keadaan menjadi lebih baik, emang siapa sih yang mau seperti ini? komplain toh ga selesaikan masalah, mending pakai tenaga nya buat mikir kreatif agar semua ini bisa lebih enakan, ibarat kata nasi kan sudah menjadi bubur nih… daripada komplain bubur  rasa nya beda sama nasi (ya karena memang sudah ga sama), ya lebih baik kita mikir gimana bikin bubur nya jadi lebih enak.

Eitss… jangan marah-marah pas baca ini, kan ini cuman masukan dan nasihat saja biar sampeyan ga larut dalam stress ga perlu. Kalau ga suka nasihat, ya sudah sana bikin nasigoreng…

Ketenangan

Dalam kehidupan yang kita jalani, ada bermacam-macam tipe manusia. Ada bermacam-macam pula tujuan hidup yang kita kejar, dan ada bermacam-macam pula cara berpikir yang kita miliki. Diantara semua hal yang bermacam-macam itu, saya punya 1 keyakinan pasti ada tersemat 1 hal yang secara langsung maupun tidak langsung kita kejar, yaitu sebuah ketenangan.

Ketenangan itu sendiri pun bermacam-macam bentuknya, dan bermacam-macam pula cara mendapatkan nya. Ada yang berpikir jika mereka bisa mendapatkan ketenangan saat sudah memiliki passive income, itu tidak salah. Ada yang berpikir mereka bisa mendapatkan ketenangan saat anak-anak sudah mandiri, itu pun tidak salah. Ada yang berpikir jika mendapatkan ketenangan itu adalah saat kita dalam keadaan sehat, dan hal itu juga tidak salah. Ketenangan yang kita kejar, biasanya secara tidak langsung akan menjadi cermin dari kehidupan yang sudah kita lalui. Ketenangan dalam sebuah kehidupan itu adalah sebuah hal yang sangat mahal, karena untuk bisa mencapainya terkadang membutuhkan banyak sekali pengorbanan dan kompromi. Apapun bentuk ketenangan itu sendiri, saya percaya jika setiap manusia memiliki situasi dan kehidupan mereka sendiri yang tidak mungkin bisa ditiru atau diterapkan di kehidupan manusia lainnya.

Lalu, apa sebetulnya ketenangan yang saya cari? secara garis besar saya mencari ketenangan yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang kebanyakan orang lain cari. Ketenangan yang saya cari jauh dari banyaknya harta duniawi yang harus saya miliki, karena bagi saya terlalu banyak harta duniawi justru memusingkan. Ketenangan yang saya cari lebih kepada hidup normal dan biasa, dalam keadaan sehat sehingga saya bersama istri tidak perlu merepotkan kedua anak kami nanti, masih bisa membiayai diri sendiri walaupun sudah pensiun yang saya coba usahakan melalui dana pensiun yang sedang saya rencanakan sekarang (yang tidak berarti saya lalu menghabiskan waktu untuk mengejar tabungan segunung ya), memiliki tempat tinggal permanent milik sendiri walaupun tidak terlalu besar, dan melihat anak-anak kami meraih cita-cita mereka.

…jika suatu hal akan menjadi milik kita ya pasti akan menjadi milik kita apapun jalannya, tapi jika suatu hal bukan milik kita ya suatu saat akan diambil kembali dari kita apapun caranya…

Tapi untuk bisa meraih semua itu kan butuh uang? betul sekali, tapi apakah butuh memiliki uang yang sangat banyak? belum tentu. Hidup itu berputar dan sering kali memiliki kejutan yang sering datang secara tiba-tiba. Perjalanan hidup yang sudah saya lalui mengajarkan kepada saya jika tidak ada yang abadi di dunia ini karena semua akan memiliki waktu dan akhir nya masing-masing. Kehidupan juga mengajarkan kepada saya tentang milik atau memiliki, yang kemudian membuat saya percaya jika suatu hal akan menjadi milik kita ya pasti akan menjadi milik kita apapun jalannya, tapi jika suatu hal bukan milik kita ya suatu saat akan diambil kembali dari kita apapun caranya. Tapi, hal ini bukan kemudian membuat kita jadi punya cara berpikir untuk malas-malas an ya… tidak ada makan siang gratis kawan, kalian rajin (yang normal ya) saja belum tentu tercapai keinginan kalian apalagi malas? Maksud dari pemikiran tentang milik atau memiliki itu tadi lebih kepada rasa legowo atau ikhlas saat kita harus merelakan sesuatu padahal sudah berusaha mengejar dan meraihnya. Dan juga kemampuan untuk berani berkata cukup untuk hal-hal duniawi, karena masih banyak hal-hal lain yang jauh lebih berharga dari sekedar setumpuk harta dan uang dalam kehidupan manusia yang tidak bisa diukur nilai nya dan jika sudah terlewati tidak akan bisa kembali lagi.

Pemikiran saya itu membuat saya memiliki versi ketenangan saya sendiri yang sekarang saya kejar. Terlepas dari apapun hasil akhirnya, saya hanya bisa berusaha dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Dia yang maha kuasa. Dari semua manis dan perih jalan kehidupan yang sudah saya lalui, membuat saya melihat kehidupan ini dari sisi yang berbeda dan lebih menghargai hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena bagi saya, ketenangan itu sendiri adalah sebuah hal yang tidak memiliki harga tetapi memiliki sebuah nilai, nilai yang memiliki caranya sendiri untuk bisa diraih karena tidak akan bisa dibeli dengan apapun dalam kehidupan manusia.

Ijazah

Belakangan ini dunia maya sedang hebring (ga heboh-heboh amat sih…) video tentang penting atau tidak nya selembar Ijazah yang dibawakan salah satu pesulap terkenal Indonesia Bang Deddy C, yang beredar luas di Facebook.

Dalam video itu sampai dikatakan oleh dia jika perusahaan sekelas Google dan Facebook saja ga nanyain ijazah atau lulusan mana saat menerima pegawai. Yang pada akhirnya keseluruhan isi video itu jadi kontroversi (menurut saya) karena cara orang menanggapi isi video itu jadi berbeda-beda (termasuk saya).

Saya secara pribadi tidak melihat isi video itu secara substansi karena memang tidak bisa dilihat dari satu bagian saja tapi harus keseluruhan, dan saya berusaha menangkap apa yang sedang ingin disampaikan oleh pembicara di video itu (yang semoga tidak melenceng terlalu jauh) secara keseluruhan.

Apakah saya termasuk yang pro anak tidak perlu sekolah tinggi? tidak juga, karena hal itu adalah motivasi saya migrasi ke Australia, yaitu ingin anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang lebih baik (menurut saya).

Lalu apakah saya termasuk orang yang pro jika anak tidak perlu menguasai semua mata pelajaran? iya juga, itu juga yang menjadi motvasi saya migrasi ke Australia, karena kurikulum disini tidak mengenal rangking untuk naik kelas.

Apa yang saya tangkap dari video itu adalah kita sebagai orang tua tidak perlu memaksakan anak kita harus bisa menguasai semua mata pelajaran di sekolah apalagi sampai untuk mengejar nilai terbaik, juara dan sebagainya. Hal ini yang juga sering salah kaprah dan membuat si anak stress (yang belajar si anak yang kompetisi orang tuanya), seperti yang dikatakan dalam video itu jika guru masing-masing mata pelajaran saja berbeda kenapa si anak harus menguasai semuanya. Isi video itu sedang berusaha memberitahu kita jika setiap individu memiliki kekuatannya masing-masing, dan daripada kita berusaha meningkatkan apa yang menjadi kekurangannya, sebaiknya kita meningkatkan kekuatan si anak itu sendiri karena akan lebih berguna untuk masa depan dan psikologis si anak, dan itu juga tidak salah.

Masalah Ijazah itu sendiri, saya secara pribadi ga mendengar pembicara sedang melakukan doktrin jika kita tidak perlu mengkuliahkan anak kita atau tidak perlu memiliki Ijazah. Yang sedang dia sampai kan adalah, kita tidak perlu memaksakan anak kita untuk bisa lulus dengan IPK luar biasa dan dari Universitas Unggulan hanya karena kita ingin merasa bangga punya anak pintar secara akademis, karena kembali lagi ke masing-masing individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Saya termasuk orang yang ingin anak-anak saya sekolah setinggi mungkin, kalau bisa sampai S3, 4, 5, 6 dan seterusnya hehehe… tapi saya juga tidak setuju jika ijazah yang kita dapatkan di dunia pendidikan itu dijadikan alat untuk menyaring saat kita mencari pekerjaan, kenapa? karena ijazah hanya menunjukan jika kita sudah sampai ke tahap tertentu dalam berfikir, hanya itu. Dan membentuk kerangka berfikir tidak serta merta hanya bisa didapatkan di bangku sekolah atau kuliah loh…, tapi bisa didapatkan dari banyak hal terutama pengalaman hidup itu sendiri.

Seperti yang kemudian saya bagikan kembali ke lini masa saya sekaligus saya komentar jika selama saya mencari pekerjaan di Australia tidak pernah ditanya Ijazah saya apa, dan saya tidak sedang bercanda karena itu yang terjadi. Sangat berbeda dengan di Indonesia, selama saya mencari pekerjaan jangankan ditanya lulusan mana dan ijazahnya apa, bahkan fotocopy ijazah itu sendiri harus dilampirkan sebagai bukti saat melamar pekerjaan. Hal ini yang menurut saya menjadi bola salju yang kemudian menggerakan para orang tua untuk mendorong anak-anak mereka agar bisa mencapai pendidikan tertinggi agar mereka mudah mencari pekerjaan (yang nyatanya tidak mudah juga kan…). Dan konsep itu juga akhirnya membuat semua yang hidup di Indonesia memiliki pola pikir jika kita tidak memiliki ijazah maka kita akan sulit mendapatkan pekerjaan. Salahkah itu? ga tuh… karena yang kalau mau hidup di Indonesia dan tidak ingin menjadi pengusaha, ya harus punya ijazah agar lebih mudah saat mencari pekerjaan, karena itu lah apa adanya di Negara kita.

Lulusan universitas terkenal apalagi dari luar negeri dan dengan IPK tinggi bukan hal yang tabu untuk dikejar, karena hal itu membantu kita membangun cara pandang kita, mengenal hal lain, dan memiliki kerangka berfikir yang lebih baik selain membuat kita menjadi lebih jeli dan bijak (semoga) dalam melihat sebuah masalah. Tapi, semua itu bukan sesuatu yang konsepnya hidup-mati dimana kalau tidak tercapai maka hidup akan suram dan sebagainya. Kita boleh bangga jika anak-anak kita mampu sampai ke tahap itu dan bisa membuat mereka membangun kehidupan mereka sendiri sampai ke level yang mereka inginkan, tapi jangan membuat hal itu menjadi beban untuk mereka karena jalan itu bukan satu-satunya jalan untuk mencapai impian mereka dan berbahagia dalam kehidupan mereka.

Karena bangga itu sifatnya sementara dan bukan syarat untuk menjadi bahagia…

Salam……………..

Jadi… ?

Jadi sudah betah nih? sudah ga mau pulang ke Indonesia lagi?

Semenjak migrasi sampai sekarang, kedua pertanyaan diatas beberapa kali dilontarkan kawan-kawan maupun keluarga. Pertanyaan yang sebetulnya sulit-sulit-gampang untuk dijawab. Kenapa? karena mau dibilang sudah betah juga ga tapi dibilang pengen balik juga ga hahaha…

Saya itu sebetulnya tipikal orang termasuk malas pakai banget pindah-pindah seperti kucing beranak, hal itu kelihatan dari 7 tahun berada di kamar kos yang sama (padahal mah karena ga ada duit aja buat pindah ke kos yang agak besar hahaha….), 10 tahun bekerja di perusahaan yang sama, bahkan 17 tahun bersama 1 cewek yang sama yang walaupun nyebelin tapi ngangenin. Itulah kenapa saat saya memutuskan untuk migrasi itu sebetulnya perang batin sangat loh… antara sudah malas karena sudah rada enak hidup di Jakarta dan tabungan kami saat itu juga ga seberapa, akan tetapi di lain pihak saya juga masih penasaran kepengen mengejar cita-cita saya yang rada-rada gila. Apalagi saat itu kehidupan kami di Jakarta bisa dibilang ga jelek juga loh… kami hidup berkecukupan walaupun tidak berlimpah ruah. Itulah kenapa, saat kami gagal saat pertama kali migrasi, finansial kami langsung goyang dangdut ga karuan, yang sebetulnya entah kenapa setahun kemudian kami bisa nabung dan nyoba migrasi lagi yang kedua kali, bener-bener diluar akal sehat saya sih… itu kenapa saya selalu bilang jika perjalanan kehidupan saya itu penuh dengan mukjizat, ga bisa dihitung pakai kalkulator manusia, ya setidaknya kalkulator saya pribadi. 🙂

Seperti yang sudah pernah saya bagikan disini sebelumnya jika kami saat memutuskan migrasi ke Australia itu sebetulnya demi anak terutama pendidikan, karena kami ingin anak-anak kami bisa menikmati ruang terbuka ga harus nge-mall lagi nge-mall lagi, tapi ga harus berkutat dengan keamanan, polusi dan asap rokok, dan juga agar mereka bisa tumbuh besar di daerah yang udara nya masih bersih, terlebih yang lebih penting lagi adalah anak-anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas dan masih banyak hal lainnya yang bagi kami lebih positif dari keadaan di Jakarta. Sekolah disini bagi kami juga jauh lebih baik walaupun tidak 100 persen baik ya… setidaknya disini cara mendidiknya lebih kearah kreatifitas dan attitude, tidak menekankan hafalan terus menerus, dan juga tidak ada materi pelajaran ga terlalu dibutuhkan tapi tetap dipaksakan, kalau ambil contoh disana ya semacam menghafal plat kendaraan seluruh Indonesia, atau membaca peta buta halah…. sekarang apa-apa tinggal googling ternyata.

Selain pendidikan, faktor lain seperti kesehatan juga menjadi salah satu dasar kenapa saya memilih Australia, disini selama kita megang visa Permanent Residence, kita mendapatkan hak yang sama dengan Citizen untuk semua pelayanan baik itu kesehatan, pendidikan, sosial dan keamanan. Ini hanya untuk pemegang visa PR saja ya, bukan yang lain. Sering kali mereka-mereka yang sedang berjuang mendapatkan PR beranggapan biaya berobat disini gratis seluruhnya (sama seperti saya dulu) yang sebetulnya kurang tepat juga. Yang benar-benar digratiskan adalah yang termasuk dalam list PBS Scheme. Apa itu PBS Scheme silahkan baca disini dan disini. Di link kedua kita bisa melihat semua obat yang ditanggung Medicare (sama seperti BPJS kalau di Indonesia) yang bisa kita cari berdasarkan nama obat, penyakit, dsb. Jadi, ini artinya obat-obat umum seperti panadol, flu umum, sakit kepala, mencret dsb yang dikonsumsi umum ya harus bayar, walaupun harus bayar tapi sebagian besar masih di subsidi oleh pemerintah jadi ya lumayan lah, bisa lebih murah dikit.

Hal lainnya adalah keamanan, bagi kami keamanan itu penting. Di Australia kami dilindungi oleh hukum dengan lebih jelas, yang dimaksud dengan lebih jelas disini adalah hukum bekerja melindungi seluruh warganya tanpa pandang bulu, jadi ga hanya mereka yang tajir apalagi sampai tajir melintir saja yang dilindungi atau sengaja dilindungi walaupun salah. Bukan hanya hukum, tapi pelayanan pemerintah lainnya juga sama, contohnya Ambulance dan Pemadam Kebakaran. Disini jika ada yang nelpon 000 nomor emergency disini tanpa menyebutkan membutuhkan layanan polisi, pemadam atau ambulance, maka ketiga instansi tersebut akan datang semua ke lokasi tanpa ba-bi-bu nanya “wani piro” terlebih dahulu dan akan sampai secepat mungkin, rekor yang pernah saya alami tidak sampai 5 menit salah satu dari mereka sudah tiba dilokasi, dan ini tidak terlepas dari mental pengguna jalan yang mau mengalah dan memberi jalan kepada mereka saat sirine sudah menyalak (ga pakai ada yang ngekor dibelakang kaya disana ya….) mau semacet apapun jalanan yang ada. Mental pengguna jalan ini juga menjadi salah satu yang bikin betah karena ga perlu ngurut dada ngeliat rombongan beruk berakrobat di jalanan seperti disana. Yang perlu diingat adalah, untuk pemadam kebakaran dan ambulance akan ada tagihan yang menyusul (alias tidak gratis), itu kenapa penting untuk memiliki asuransi ambulance dan bagi yang sudah ada properti punya asuransi kebakaran. Dan yang lebih penting lagi untuk panggilan palsu akan ada denda juga, itu kenapa hati-hati dengan nomor atau tombol emergency karena disini hal itu ditanggapi sangat-sangat serius. Mengenai denda juga ada bagusnya karena untuk memberi efek jera, jadi kan ga ada yang iseng dan mengakibatkan orang lain yang memang sedang membutuhkan emergency malah jadi ga tertolong atau terlambat tertolong. Yang ingin saya garis bawahi sebetulnya adalah kesigapan mereka datang menolong terlebih dahulu bukan nanya biaya dulu seperti yang biasanya terjadi disana. Walaupun ada biaya yang harus dibayar saat memanggil layanan mereka (selain polisi) tapi untuk kejadian yang terjadi di jalan tidak pakai biaya alias gratis karena semua sudah secara otomatis ditanggung oleh VicRoad melalui biaya memperpanjang registrasi kendaraan yang kita bayarkan setiap tahun (semacam perpanjang BPKB kalau disana). Jadi, tetap diingat ya, kalau sudah dapat PR dan pindah kesini lebih baik setidaknya punya asuransi ambulance karena biaya ambulance tidak ditanggung oleh pemerintah kecuali untuk kecelakaan dijalan. Dan bagi yang sudah punya rumah, lebih baik ambil asuransi rumah yang cover sampai pemadam kebakaran atau setidaknya untuk cover kebakaran buat jaga-jaga saja dan itu pun kalau mau.

Pelayanan masyarakat adalah hal lainnya yang bikin kami betah, disini kalau mau perpanjang surat-surat misalnya SIM atau Visa PR kami, itu sangat mudah, bisa dilakukan sendiri dan tidak berbelit. Informasinya jelas, tidak ada istilah “seikhlasnya”, dan tidak dipersulit padahal kami hanya pemegang Visa PR loh bukan warga negara. Masalah informasi contohnya, pernah ada diskusi cukup hangat di group facebook diaspora Indonesia di Melbourne mengenai informasi perpanjang passport yang berbeda antara yang tertulis di Web KJRI dengan apa yang disyaratkan, hal seperti ini kan nyebelin ya… apalagi untuk orang-orang yang bekerja seperti saya dan harus ambil cuti tapi kemudian jadi sia-sia hanya karena informasi di Web tidak sepenuhnya benar. Tapi kan kalian dapat cuti banyak kalau kerja disana? Ya ga gitu juga keless… inget kalau kami disini sendirian, ga seperti disana yang tinggal telpon keluarga saat butuh sesuatu, disini semua dilakukan sendiri dan saat hal itu dibutuhkan, ya yang namanya cuti akan sangat membantu. Jika dibandingkan dengan warga negara sini yang perpanjang Passport bisa kapan saja bahkan bisa dilakukan di kantor Pos tanpa harus pakai seabrek dokumen, pelayanan negara kita ke masyarakat sih menurut saya masih banyak yang harus dibenahi, termasuk dari mental petugasnya. Contoh lainnya adalah masalah masuk sekolah, disini masuk sekolah sangat mudah dan tidak harus menyiapkan seabrek dokumen seperti di Indonesia, apalagi kalau sudah masalah pindah Negara. Disini cukup fotocopy Passport, Visa, dan list imunisasi dan anak kami pun bisa langsung mulai masuk sekolah walaupun pindahan dari Indonesia dan mulai nya di tengah tahun ajaran, coba kalau dibalik, kami bakalan perlu menyiapkan dokumen pindah sekolah, dokumen dari KJRI, dan lain sebagainya yang entah apa saja, itupun belum tentu bisa langsung sekolah dan harus menunggu pergantian semester atau ajaran baru atau entah apalah itu.

Ga kepo! nahh…. yang ini juga penting nih, kenapa? karena kita jadi lebih bebas untuk menjadi diri sendiri, ga perlu muna atau berusaha caper (cari perhatian) baik dengan kekonyolan, kekepoan atau dikit-dikit pamer hanya untuk menunjukan kepada orang lain kita seperti apa (walaupun kadang bertopeng). Hidup di negara seperti Australia jauh berbeda dengan hidup di Indonesia, disini orang-orang sudah mengerti batas tertentu yang tidak seharusnya mereka langgar terutama kalau sudah berhubungan dengan masalah privasi. Jadi ga ada tuh disini yang asal komentarin orang lain, apalagi ngurusin agama orang lain apa, sudah nikah atau belum, kenapa ga mau punya anak, bahkan sampai LGBT juga ga dikepoin dan dikomentarin, ya ga semua sih ada juga beberapa yang masih seperti itu apalagi yang dari Indonesia hahaha… ga gampang euy ngubah kebiasaan yang sudah mengakar ya. Bahkan disini kalau lagi summer sudah biasa kalau bukan lagi hanya belahan dada yang bertebaran tapi sudah tambah puting njeplak yang bertebaran, ini beneran loh (hayoo… ga perlu mupeng apalagi ngecess… tuh lap dulu sudut bibir nya), dan ga ada yang ngurusin atau kepo ngomongin dan sebagainya, palingan juga adanya saya saja yang matanya cape karena dipaksa jangan sampai berkedip hahaha… (norak ah…), maklum cowok norak… eh normal. Disini saat musim panas cewek-ceweknya untuk segala ukuran dan bentuk payudara sudah terbiasa tidak menggunakan bra saat menggunakan kaos ketat sehingga kedua putingnya sampai terlihat njeplak dan mereka pede saja jalan-jalan tanpa harus kawatir ada yang ngomongin atau bahkan merkosa mereka, kenapa? karena otak nya ga menceng kaya layangan singit seperti orang-orang disana yang lihat paha diatas dengkul dikit saja sudah horny, dan lebih parah lagi abis itu yang disalahin paha si cewek, halah… bagaimana kalau mereka hidup disini yang celana atau rok nya sudah bukan diatas paha lagi tapi sudah dibawah pinggul, kebayang kan tuh paha mulus keliatan 5 centi dari selangkangan sampai dengkul, bisa-bisa ayan kalian kumat disini trus kejang-kejang dijalan hahaha….. Disini orang-orang bebas memilih apa yang mereka inginkan selama masih dalam batas-batas umum dan tidak mengganggu orang lain. Dan batas-batas ini pun bukan ditetapkan oleh segelintir orang atau ormas yang merasa mereka adalah penjaga pintu surga, tapi oleh badan berwenang dari Negara sehingga tetap netral dan sah secara hukum.

Jadi, lu udah ga bakalan balik lagi nih ke Indonesia untuk menetap? saya belum tahu sampai detik ini dan bahkan sampai detik akan datang. Kenapa? karena saya sendiri sampai saat ini belum memiliki rencana pensiun nanti mau seperti apa. Inget, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya jika kami migrasi karena ingin anak-anak kami mendapatkan kesempatan yang lebih baik disini baik untuk pendidikan maupun hal-hal lainnya. Sampai saat ini pun kami masih mempertahankan rumah mungil kami di Jakarta, kami pun masih mempertahankan status warga negara kami walaupun kami pada akhirnya akan memberikan kewenangan secara penuh kepada kedua anak kami untuk memilih ingin menjadi warga negara Australia atau tetap sebagai WNI. Kami tidak tahu apakah kami akan menutup mata di tanah air beta atau di tanah asing beta, sama hal nya kami pun belum tahu akan kembali ke Indonesia lagi atau tidak saat kedua anak kami sudah mandiri dengan kehidupan mereka. Untuk saat ini, kami hanya berusaha dan berjuang untuk bisa bertahan disini selama mungkin sampai kedua anak kami berhasil menyelesaikan pendidikan mereka sampai jenjang tertinggi yang bisa mereka capai.

Sampai sekarang, saya pribadi masih berpikir untuk suatu hari nanti mau pensiun di Indonesia saja, apalagi dollar yang saya tabung disini bisa saja jadi begitu banyak rupiah nantinya jika ditukar, dan tinggal dibawa ke kota kecil dan hidup tenang disana sambil jualan gorengan di depan rumah. Tapi hidup kan ga bisa mikir yang normal-normal dan sehat-sehat saja, coba bayangkan kalau kita saat tua sakit-sakitan, ya iya kalau langsung mati, kalau sakit-sakitan dan ga mati-mati trus gimana? jelas di Australia akan lebih terjamin pelayanan dan biayanya karena ada medicare. Bicara hidup enak, sebetulnya selama kita mau planning dan saving, menurut saya dimana saja akan sama karena biaya di Indonesia pun ga bisa dibilang murah loh… saat ini saya bisa bilang murah karena membandingkan dengan Australia, ya jelas lah lebih murah…. coba nyari duit disana dan hidup disana ya podo wae struggling nya. Di Australia pun saya juga membayangkan nanti saat kami pensiun, berdua dengan istri mau mengembangkan kulineran, bikin makanan-makanan unik terus kita jualan hehehe… tapi itu kan rencana ya, masalah bisa ga nyampe ke titik itu ya kita ga tahu, karena rahasia itu hanya milik Tuhan.

Jadi… ?

Apapun jawaban maupun rencananya, nikmati saja yang kita hadapi saat ini. Bermimpilah dan jangan lupa bangun dan mengejarnya, nikmati prosesnya bukan hasilnya karena sejatinya proses itulah yang mendewasakan kita dan memiliki arti kata bahagia. Hidup tanpa mimpi itu seperti ayam goreng tanpa sambel lalapan, mungkin masih enak tapi kurang lengkap, dan hidup dengan mimpi tapi hanya menjadi impian itu seperti ayam goreng lengkap dengan sambel lalapan tapi yang dimakan cuman timun nya saja, hambar booo…