7 kali

Tahun ini kota Melbourne sekali lagi terpilih menjadi kota paling layak huni sedunia menurut sebuah lembaga survey. Dengan terpilihnya Melbourne kali ini membuat kota ini 7 kali berturut-turut terpilih sebagai kota paling layak huni  sejak 2011 seperti yang diberitakan di link ini.

Rasanya seperti mimpi sih bisa benar-benar merasakan hidup di kota yang dulu hanya bisa dibayangkan lewat baca berita seperti ini atau melihatnya di tv atau youtube saat streaming. Apalagi sampai bisa tinggal disini bersama istri dan kedua anak saya, dulu ini hanya angan-angan saja.

Tuhan sungguh baik, kami diberi kesempatan untuk merasakan hidup disini, walaupun saya beberapa kali hampir menyerah, apa yang dikatakan diartikel itu memang benar adanya menurut pandangan saya selama disini. Tidak terbantahkan disini memang lebih baik untuk pertumbuhan anak-anak dari segi lingkungan yang bersih, tertib dan lebih aman. Selain itu kualitas hidup juga memang lebih baik dan keseimbangan antara hidup dan bekerja juga lebih terjaga.

Sampai saat ini pun saya masih tidak percaya kalau sudah berada di kota yang cantik dan dingin ini. Impian ini terlalu liar buat saya, mengingat latar belakang saya yang tidak memiliki apapun saat itu semenjak kepergian (alm) Papa. Yang saya lakukan hanya bermimpi, berusaha, berdoa dan pasrah.

Begitu inginnya saya membawa keluarga saya ke kota ini saat itu, walaupun saya belum pernah menginjakan kaki dikota ini sebelumnya, membuat saya sampai membaca web imigrasi Australia sampai detail dan hafal, gimana ga hafal kalau itu web saya baca selama 5 tahun hahaha… Kenapa saya selalu membaca web itu karena setiap juli selalu ada perubahan baik besar maupun kecil untuk aturan-aturan mengajukan visa permanent resident. Karena saya udah kebelet pengennya jadi saya mencoba mencari tahu aturan-aturan itu ketimbang hanya bertanya kepada agen atau orang lain.

Sekarang, kami sudah berada disini. Belum lama sih, belum ulang tahun kedatangan. Tapi setidaknya kami sudah mulai menata kehidupan kami sedikit demi sedikit. Harapan kami yang selalu kami sampaikan dalam doa adalah ingin diberi kesempatan hidup disini setidaknya sampai anak-anak kami lulus sarjana disini. Semoga dikabulkan ya…

Yang kurang sesuai

Beberapa waktu lalu saya sempat mengulas beberapa kelebihan dan kekurangan di Australia (berdasarkan analisa saya ya…), jadi sekarang saya coba memaparkan apa saja yang menurut saya kurang sesuai disini. Lah…. apa bedanya kekurangan dan kurang sesuai? ehm… ya ga tau juga sih, tiba-tiba pengen nulis sesuatu yang menurut saya kurang sesuai disini, jadi dikasih judul itu deh hehehe….

Oke, yang pertama, suka tidak suka, disini tidak ada pelajaran Agama. Jadi untuk bisa membuat anak-anak mengerti tentang adanya Tuhan, kita sebagai orang tua harus extra mengajarkan hal itu di rumah. Terlepas dari baik dan tidaknya pelajaran Agama di sekolah, dengan tidak adanya pelajaran itu secara otomatis anak-anak akan lebih kepada scientist daripada ke creation dimana hal itu berpontensi membuat si anak kehilangan arah mengenai Tuhan. Ujung-ujungnya ya si anak berpotensi jadi atheis walaupun mengenal agama dari kecil juga tidak menjamin seseorang tidak menjadi atheis dan jadi orang lempeng sih hehehe….

Yang kedua, budaya. Disini karena sangking banyaknya budaya, bisa dibilang jadi tidak ada budaya. Nah… jadi effort ortu deh untuk menjaga agar budaya terutama budaya keluarga agar bisa tetap dijaga dan dikenalkan sekuat tenaga dan semaksimalnya agar si anak tidak lupa dengan akarnya. Dan hal itu tidak mudah loh… apalagi kami kan berasal dari Indonesia dan masih menganut budaya tionghoa (beberapa sih tapi tetep aja musti dikenalkan kan…) berhadapan dengan pergaulan si anak diluar rumah yang bukan kebarat-baratan lagi tapi barat bueneran… tapi, budaya barat ada beberapa positif juga, salah satunya adalah budaya mengatakan 3 hal : please saat meminta, thank you saat menerima, and sorry saat bersalah.

Yang ketiga, LGBT. Huahh… ini beneran, disini apalagi di Melbourne ya yang namanya LGBT itu didukung oleh parlemen, sampai-sampai (denger-denger) di sekolah-sekolah (khususnya pemerintah punya) mau digalakan untuk tidak diskriminatif terhadap kaum LGBT itu. Saya sendiri sebetulnya tidak peduli dan tidak masalah dengan LGBT ya, selama mereka tidak ganggu kita dan asik sendiri saja dengan kelompok mereka, tapi yang bikin saya ga suka itu mereka pakai adopsi anak coba… kan kasian anaknya ntar masa ortunya bapak semua atau emak semua (walaupun satu dianggap bapak satu dianggap emak tapi kan tetep aja bentuknya sama), kalau yang diangkat anak yatim piatu ya mau gimana lagi kan… atas nama kemanusiaan juga. Tapi tetep saja saya ga setuju kalau sampai adopsi anak, itu sudah kejauhan menurut saya. (ups… jangan bully saya ya hahaha….)

Yang keempat, sepiii…. hiks…. sepi disini bukan berarti di Melbourne sepi (ya memang lebih sepi jauh dibanding Jakarta yang ga pernah tidur ya) tapi sepi disini dalam lingkup keluarga, disini kami punya beberapa kawan sih… dan ada sodara juga, tapi tetep aja yang namanya keluarga besar, kumpul ketawa ketiwi walaupun penuh kekepoan tingkat wahid semua itu bikin kangen loh… sampai-sampai saya pernah dalam posisi berpikir “aduh… ntar kalau sudah tua, anak-anak sudah mandiri semua, trus salah satu dari kami sudah pergi duluan, trus gimana ya…” hasilnya pala hampir benjut karena diketok bini gegara mikir yang ga jelas begitu hahaha…. Ya, suka tidak suka, kalau sudah memutuskan migrasi ke negara lain harus siap dengan hal 1 ini, kesepian. Kadang rasa kesepian nya bener-bener mengganggu dan membuat sedih, jadi bawaan nya pengen pulkam saja hahaha…

Yang kelima, budaya kerja, iya bener budaya kerja, disini orang-orang yang benar-benar lahir, tumbuh, besar di Australia gayanya sudah bener-bener Bule banget walaupun tuh mata segaris kaya lobang celengan ayam. Salah satu gaya yang bikin saya masih suka kaget dan kesel adalah straight forward nya itu loh… istilah kita di Indonesia “ngomong ga pake saringan” asal njeplak. Kadang ngeselin dengernya, tapi ya… berdasarkan saran dari beberapa kawan yang harus kita lakukan ya cuekin aja, yang penting kita jangan menunda kerjaan atau tidak mengerjakan tugas kita. Sisanya, kerja ya memang cuma buat cari uang ga seperti di Jakarta yang pakai ngumpul-ngumpul cantik or ganteng sama temen kerja dll, ada juga yang begitu sebagian kecil, hari jumat pulang ngumpul di bar, tapi 95% balik ke rumah menemui bos yang sebenarnya.

Yang keenam, bahasa nya anak-anak, sekarang saya dan istri mulai dag dig dug hahaha… anak pertama kami mulai ditanya pakai bahasa Indonesia jawabnya pakai bahasa Inggris, haduh… haduh… dan dia komunikasi dengan adek nya yang umur 2 taonan juga pakai bahasa Inggris haduh… haduh… dannn…. logat nya ausie bangettt… haduh.. haduh… saya sekuat tenaga untuk tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali di rumah, tidak 1 kata pun agar anak-anak bisa tetap mengenal bahasa Ibu nya. Sampai saya pernah bertanya kepada istri “gimana ya caranya agar mereka tau dan ngerti Pancasila, UUD45, dan lagu kebangsaan kita”, dan sepertinya sulit ya….

Ya sudahlah, sudah menjadi resiko yang harus kami hadapi saat memutuskan untuk pindah kesini, kami hanya bisa berusaha maksimal dan berharap hasil yang maksimal juga. Jika nantinya mereka memilih untuk ganti passport gimana? ya itu juga jadi salah satu resiko yang harus kami tanggung, yang pasti sampai saat ini kami berdua tidak terpikir sama sekali untuk mengganti passport kami. Saya terutama, masih menyimpan impian untuk menghabiskan masa tua di Indonesia kelak, kalau masih kesampaian hehehe… ga tau deh pada masa itu apakah masih bisa tidak.

Kami sudah melewati 6 bulan pertama yang paling berat dan krusial, tapi bukan berarti semua sudah stabil loh… saya sendiri masih suka swing mood, kadang suka kangen sama rumah kami di Jakarta dan pengen pulang, entahlah… saya pengen banget semua ini lewat dan jadi kenangan karena lama-lama cape juga hahaha… ya semoga di 6 bulan kedua semua semakin baik dan mudah ya… dan saya bisa semakin stabil mood nya.

Jadi ga betah tinggal di Melbourne? betah donk… tapi wajar kok kalau masih suka pengen pulang hahaha… menurut orang-orang yang sudah melewati tahap ini, biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 2 tahun untuk bisa benar-benar settle down, mengakar disini berasimilasi menjadi orang lokal.

1 hal yang pasti kalau ada orang bertanya dari mana asal saya, jawabannya INDONESIA ! 🙂 🙂

Menatap 6 kedua

Selamat datang Agustus… akhirnya nyampe ke Agustus juga perjalanan kami di Melbourne. Kami resmi melewati 6 bulan pertama yang menurut orang-orang adalah masa-masa paling berat karena banyaknya penyesuaian yang harus kami lakukan baik dari budaya, bahasa, makanan (ah… kalau yang satu ini ga begitu issue hehehe…), jam (apalagi kalau sedang daylight saving, bobonya jadi berkurang sejam hahaha….), di tempat kerja (buat saya, dan ini ga gampang loh…) dan cuaca.

Untuk cuaca sendiri, tadinya sudah senang karena bulan Juli sudah lewat yang saya asumsikan seharusnya masa dingin-dinginnya mustinya dah lewat donk ya, secara musim dingin kan Juni ke Agustus so puncak nya mustinya di Juli kan, dan ternyata salah… hiks… masuk Agustus suhu memang tidak drop gila-gilaan seperti di Juli apalagi kalau pagi hari, tapi dingin nya beda loh… yang Agustus lebih dingin brrrr…..

Bicara pekerjaan, saya akhirnya lolos percobaan (seharusnya gitu sih soalnya tanggal 24 Juli kemaren bulan ke 3 berakhir dan sampai sekarang ga ada berita apa-apa, disini no news is a good news hahaha… ) agak lega sekarang walaupun makin mabok karena yang dipelajari ditambah terus, belum lagi proyek-proyek sudah pada ngantri kaya mau beli sembako. Ditambah pula ada rencana mengganti dan merombak network yang sekarang dengan yang baru dengan teknologi baru juga, bagus sih… saya jadi belajar banyak banget sampai mau muntah.

1 hal yang membuat saya rada bangga (ciehhh…. pakai rasa bangga plus pakai rada segala ya, norak deh…) adalah saya orang Indonesia satu-satunya didalam team hahaha… kalau yang lain pasti ada minimal 2 orang, tapi yang dari Indonesia hanya 1 dan skill nya bisa dikatakan mampu bersaing dengan mereka (jiahh… muji diri sendiri… ). Iya donk, kita harus menunjukan jati diri kita terlepas dari stigma dan anggapan orang kita sendiri yang menempatkan saya seperti orang asing di negara sendiri karena saya double minoritas (sudah keturunan cina, kristiani pula), kita harus bisa menunjukan jika orang Indonesia juga bisa bersaing diluar kandang hehehe… (tambah norak deh saya… moga-moga ga kejedot…)

Kami sangat bersyukur untuk semua ini, baik dan buruk, apapun itu, semua menjadi pembelajaran bagi kami, jalan hidup yang sedang kami jalani ini tidak pernah sekalipun terbersit dan saya pun sampai sekarang masih ga nyangka loh bisa melangkah sejauh ini.

Ada kawan yang mengatakan jika saya hebat bisa sampai sejauh ini, tidak kawan… bukan saya yang hebat, saya bukan siapa-siapa, yang hebat itu Tuhan, karena tanpa Dia, kita mau sehebat apapun hasilnya akan nihil.

Sekarang kami sedang masuk ke semester kedua dan menatap 6 bulan kedua. Harapan kami, semoga semakin baik kedepannya, dan semakin bisa menyesuaikan diri terutama dengan apa yang ada disini apapun itu. Anak-anak sih saya lihat sudah pada betah ya, mereka sejauh ini happy banget. Mamanya juga happy, dan itu penting buat saya.

Mengapa? karena….

Happy Wife, Happy Life.

Selamat menjelang akhir pekan kawan 🙂

Perpustakaan

Kali ini saya akan coba menulis tentang perpustakaan disini. Di Australia khususnya Melbourne sedang digalakan membaca 1000 buku sebelum anak-anak mulai pertama kali masuk sekolah. Jadi ceritanya disini pemerintah ingin anak-anak dikenalkan tentang buku dan dibangkitkan minat bacanya sejak dari mereka balita. Sebuah program yang sangat bagus menurut saya ketimbang anak-anak dikasih gadget yang cenderung memberikan efek kurang baik.

Perpustakaan di Melbourne (dan saya rasa sama di seluruh Australia) sangat terawat dan teratur. Sistem yang digunakan pun tergolong canggih dan sudah terintegrasi sehingga memudahkan kami para penikmat buku. Mulai dari cara pengembalian buku secara mandiri, scan otomatis saat pinjam, pengajuan perpanjangan masa pinjam secara online sampai memberikan sebuah lokasi khusus untuk anak-anak yang dibuat senyaman mungkin, ya disini anak-anak memang sangat disupport dan dijaga oleh pemerintah. Dan yang paling penting lagi semua dibuat semudah mungkin, semandiri mungkin dan tetap gratis.

Kami paling sering ke perpustakaan kew dan camberwell, dan karena mereka (total ada 5 perpustakaan) berada dibawah pengasuhan council boroondara (semacam kecamatan/ kelurahan kalau di Indonesia) maka semua terintegrasi, artinya kami bisa meminjam di kew lalu mengembalikan di camberwell. Memudahkan bukan? Karena kadang mungkin kita sedang ada kegiatan di sebelah mana bisa sekalian mengembalikan buku dan meminjam buku baru. Gambar dibawah adalah anak kedua saya yang berumur 2.5 tahun sedang membaca buku (terlepas dari dia ngerti atau tidak) sambil bersantai. Bayangkan…. 2.5 tahun booo… saya sendiri umur segitu entah sedang ngapain boro-boro baca buku hahaha….

Nah kalau gambar dibawah ini adalah anak pertama saya yang berumur 5.5 tahun dengan buku-buku yang sudah dan sedang dibaca.

Nahhh… kalau gambar dibawah ini adalah bapak nya yang di foto sama maknyak nya anak-anak hahaha… lagi nyantai di kursi malas sambil liatin dan nungguin anak-anak di perpustakaan.

Hal-hal seperti ini yang saya rasa sulit didapatkan di Negara kita. Selain perpustakaan yang kurang terawat (sejauh penglihatan saya) belum lagi kurang child friendly terutama untuk balita. Tapi ini dari pengamatan pribadi saya ya… dan mudah-mudahan dengan saya membagikan seperti apa perpustakaan yang ada di Negara seperti Australia bisa membangkitkan semangat untuk menjadi lebih baik lagi agar masyarakat kita juga bisa semakin pintar.

Mengunjungi perpustakaan adalah salah satu acara yang bahkan tidak kami susun dalam acara rutin tapi justru selalu diminta oleh anak-anak dengan sendirinya. Dari hal ini saja sudah terlihat kan bagaimana mereka sangat menikmati dan antusia dengan kegiataan membaca.