Bulan ke 8

Bulan ini, kami sekeluarga masuk bulan ke 8 hidup di Melbourne. Tidak terasa, kesibukan demi kesibukan menarik kami sampai ke titik ini. Dulu… saya pernah mencoba mencari tahu makna yang tersembunyi di balik seluruh proses ini, dari awal kami mendapatkan PR, lalu pindah, lalu harus kembali lagi dan kemudian pindah lagi. Begitu juga dengan seluruh proses yang ada disini selama 8 bulan ini.

Di awal kepindahan kami, saya sempat mendapatkan sebuah penawaran di daerah City sana, di sebuah universitas yang sangat terkenal. Akan tetapi prosesnya justru membawa saya jauh ke utara bergabung dengan salah satu institusi pendidikan lainnya milik pemerintah. Proses ini membuat saya menyadari 1 hal kemudian, Tuhan mengarahkan dan memberikan apa yang saya butuhkan saat ini, bukan apa yang saya inginkan. Dengan bergabung ke utara sana, saya memiliki kesempatan untuk ikut ujian SIM yang kemudian membuat saya mendapatkan SIM Victoria (jika bergabung ke city entah apakah saya bisa mendapatkan SIM karena disini aturan mendapatkan SIM sangat ketat dan saya butuh banyak ijin untuk ikut ujiannya). Sejak mendapatkan SIM Victoria, saya jadi lebih berani untuk membedah kota ini dengan mengendarai mobil, karena secara ijin saya sudah dianggap layak mengendarai kendaraan roda 4, yang kemudian menggiring saya untuk berani membeli sebuah mobil, yang kemudian membuat saya memiliki kesempatan untuk melihat banyak tempat. Semua ini, sadar tidak sadar diarahkan oleh Nya, ditunjukan jalan dan dibantu prosesnya. Dia tahu apa yang saya butuhkan saat ini, dan itu yang disediakan oleh Nya bukan apa yang saya inginkan.

Dengan mendapatkan SIM dan memiliki mobil sangat membantu saya melawan culture shock yang saya alami, karena saya memiliki kesempatan untuk melihat keindahan kota ini yang begitu cantik, tertata rapi, tertib dan bersih. Saya juga bisa membawa keluarga menikmati keindahan alam kota ini setiap pekan karena disini banyak sekali daerah cantik yang bisa kita kunjungi tanpa biaya masuk.

Kemarin, saya mencoba mengajak keluarga saya melihat salju di lake mountain, sebuah gunung yang jauhnya 2 jam dari rumah kami. Sepanjang perjalanan saya tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan semua pemandangan yang ada, kota yang bersih, tertata dengan apik, dengan semua pohon yang ada, taman, dan pengguna jalan yang tertib, tidak macet, dan saat melewati sebuah jalan 2 arah yang membedah hutan, semua tertib dan tidak saling menyalib. Selain itu, pemandangan sepanjang jalan membelah hutan ini juga membuat kami terpana, pemandangan yang begitu indah dan bagus mengiringi perjalanan kami. Setelah itu kami disuguhi pemandangan kebun anggur dan peternakan dikanan dan kiri yang begitu hijau , rapi dan bersih. Pengalaman itu benar-benar membuat saya merasa sangat damai, dan tentunya membuat saya begitu bersyukur karena memiliki kesempatan untuk hidup di negara sekuler dan di kota yang cantik ini bersama keluarga saya. Hal itu, sangat membantu saya melawan culture shock yang terjadi yang saat ini sudah semakin menghilang dan terkendali.

Semalam, saya merekam anak pertama saya diam-diam, dia menggambar di sebuah buku gambar yang kami berikan dengan aktor utama seekor kerbau yang dia beri nama monty. Di buku gambar itu dia menggambar lembar demi lembar yang menceritakan aktifitas dari si kerbau, dari bermain di taman, ke pesta, main musik, naik kapal selam dsb. Setelah dia gambar, dia memanggil adik nya, saya dan istri saya lalu dia buka lembar demi lembar sembari menjelaskan cerita apa yang ada di gambar tersebut. Terus terang saya terpana, anak umur 5.5 tahun bisa menggambar sedetail itu dan mengaitkan gambarnya satu dengan lainnya sampai berbentuk sebuah cerita, entah darimana dia mempelajari hal itu. Hal ini membuat saya semakin bersyukur karena bisa membawa dia bersekolah disini, konsep pendidikan yang lebih memajukan dan mendorong kreatifitas daripada hafalan dan dikte. Dan hal ini sangat sangat membantu perkembangan anak pertama saya yang masuk kategori otak kanan dominan. Sekolah disini anak-anak tidak akan pernah diharuskan untuk menggambar gunung dengan jalan setapak dan matahari di antara 2 gunung lalu gunungnya harus berwarna biru, matahari kuning dsb seperti di Indonesia sana (konsep mendikte dan hafalan) tapi disini anak-anak akan di tunjukan sebuah gambar gunung dan pemandangannya (hanya diperlihatkan) lalu mereka diberikan alat gambar dan silahkan berkreasi sendiri. Apapun hasilnya, guru disini akan tetap mengatakan “Wow, amazing… you are great!” mereka tidak akan mengharuskan gunung harus berwarna biru dsb. Jadi tidak heran anak-anak disini pun jadi lebih berani tampil dan berkreasi.

Hidup disini, memang tidak dapat saya bantah memberikan sebuah kualitas yang lebih. Jalanan yang tidak macet gila-gilaan, kota yang hijau, bersih, tertib, level pendidikan yang lebih baik, dan budaya tidak kepo membuat kehidupan disini menurut istri saya “even better than Jakarta” terlepas dari disini kami masih harus berjuang melunasi rumah (yang jika lancar) yang akan kami bangun tahun depan.

Semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada kami untuk membangun kehidupan sampai anak-anak kami menjadi sarjana disini, karena itulah impian utama kami merantau kesini.

Advertisements