Dua Setengah

Bulan ini, kami menginjak dua setengah tahun pindah ke Melbourne dari Jakarta. Masih seumur jagung, tapi sudah cukup membuat kami jungkir balik beberapa kali. Hidup di rantau seperti ini, sudah pasti suka tidak suka ikut mengubah diri saya. Saya berubah dari minder menjadi lebih percaya diri sekarang, saya minder bukan karena kemampuan teknis saya jelek, tapi lebih karena bahasa inggris saya berantakan. Sekarang bukan berarti saya sudah lancar berbahasa inggris ya… tapi setidaknya sudah lebih mendingan jauh dibandingkan dulu pertama kali menginjakan kaki disini.

Semakin kesini, entah kenapa saya semakin sering terjaga di tengah malam. Saya masih selalu mencari tahu apa sebetulnya yang mengganggu pikiran saya. Memang, saya ada beberapa hal di tempat kerja yang cukup mengganggu yang tidak bisa saya ceritakan disini karena kurang etis. Dan, ada satu pikiran juga yang mengganggu karena ijin mendirikan bangunan kami tidak kunjung diberikan sehingga kami tertahan untuk memulai membangun rumah mungil kami nan jauh di barat sana.

Banyak orang bertanya kepada saya kenapa begitu cepat memutuskan untuk membeli rumah di daerah yang cukup jauh dari Melbourne City, entahlah…. mungkin karena saya orang yang malas pindah-pindah, tapi lebih jauh lagi saya hanya ingin memiliki tempat tinggal permanen, itu saja. Karena saya tidak memiliki apapun selain apa yang saya hasilkan dari kedua tangan saya, yang tidak seberapa itu, ya salah satu pilihan nya harus mau kompromi dengan keadaan dan jarak. Saya sendiri nekat beli tanah bersama bangunan rumah diatasnya walaupun kecil bukan karena sedang berusaha menimbun harta, tidak sama sekali, ya…. memang saya masih punya rumah mungil di Jakarta sana, tapi ini murni karena saya ingin punya tempat tinggal permanen saja, tidak lebih tidak kurang, dan ini bukan juga karena saya kuat secara finansial loh ya…. karena hal ini menguras hampir seluruh tabungan saya.

Walaupun tabungan saya hampir habis, setidaknya saya bisa lebih tenang sedikit (saat rumahnya sudah jadi) karena istri dan anak-anak saya sudah punya atap yang hanya perlu mereka jaga jika terjadi sesuatu pada saya (seperti pada Papa saya dulu). Membawa mereka melintasi samudra ke benua lain mengikuti kegilaan yang ingin saya capai secara tidak langsung membuat saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Harapan saya sebetulnya sederhana, saya hanya ingin hidup tenang dan tidak merasa terlalu banyak kawatir (walaupun itu sulit karena iman saya masih rendah). Saya pun belajar ilmu ikhlas yang susah nya minta ampun, disamping ilmu pasrah yang tidak kalah sulitnya.

Dua setengah tahun…. perkembangan kami disini cukup baik, dan sangat baik malah dibeberapa kesempatan. Pekerjaan yang lebih baik dari waktu ke waktu pun turut memberikan andil, pekerjaannya ya yang lebih baik bukan lingkungannya hahaha… (yang ini hanya saya dan istri saya yang tahu, semoga istri saya tidak mudah menceritakan hal ini ke orang lain, karena saya berharap ini tidak dikonsumsi umum…..). Apapun itu, terutama perkembangan anak-anak cukup membuat saya lega. Si AL anak saya yang besar sudah memliki beberapa kawan dekat, si JD yang kecil malah punya banyak teman. Ya… setidaknya mereka sudah mulai “lokal” dibandingkan kedua ortunya. Saya menatap dua setengah tahun berikutnya, yang entah kapan kami bisa mudik bersama.

Advertisements

Hai Tengah Malam

Seperti biasa saya terjaga lagi di tengah malam. Mau sekeras apa pun saya berusaha tidur, baik tidur lagi setelah terjaga, tidur lebih cepat, atau tidur lebih lambat, tengah malam kurang lebih saya pasti terjaga lagi. Biasa sih dimulai dari kebelet kencing, sesudahnya lanjut kepikiran ini dan itu, dan biasanya berakhir dengan segelas blended scotch and whiskey yang saya campur soda lemon dengan perbandingan 3 : 1, hemm… enak…

Dalam hening nya malam dimana detak jam dinding terdengar begitu jelasnya, saya sering merenung. Terutama saat mendapatkan berita duka seperti hari ini, dimana salah satu rekan kerja tiba-tiba dipanggil Yang Maha Esa karena serangan jantung, membuat saya merasa semakin rapuh.

Kejadian satu dan lainnya membuat saya semakin kuat melihat kehidupan dari sisi lainnya. Tidak lagi gemerlap materi dan tumpukan uang, tapi lebih kepada apa yang bisa saya lakukan agar kehidupan ini tidak sia-sia dan dihabiskan hanya untuk mengejar materi yang tidak akan pernah ada habisnya, karena sejatinya kita sebagai manusia terlalu takut untuk berkata cukup pada diri sendiri.

Dunia sudah semakin tua, cepat, dan tanpa kita sadari memberikan tekanan demi tekanan kepada diri kita. Kehidupan disini yang begitu indah dan damai tidak lalu serta merta membuat kita merasakan firdaus, perjuangan demi perjuangan tetap harus dilakukan.

Dan semua itu menyisakan 1 hal, jika kita tidak boleh lupa dengan kebahagiaan.

19 tahun sudah…

Hari ini, 19 tahun lalu, di rumah sakit mitra kemayoran Jakarta, Papa pergi meninggalkan kami semua selamanya, setelah berjuang habis-habisan melawan kanker paru yang menggerogoti dia dari hari ke hari.

19 tahun sudah, masih jelas di ingatan saya masa-masa menantang itu, dimana dunia serasa jungkir balik dan hidup terasa berada diatas perahu tanpa layar ditengah lautan yang dikelilingi ombak ganas yang ga kenal ampun bertamu ke keluarga kami silih berganti. Kadang saya suka takjub sih bisa bertahan dan melewatinya. Terutama Mama yang harus pintang panting jualan susu kacang kemana-mana untuk memenuhi biaya hidup yang… ah… sudahlah…. biarkan hal itu menjadi kenangan yang indah saja bagi saya, mama dan adik saya.

Hari itu, setelah sampai sesaat di Tegal mengantar jenasah Papa ke rumah abu cembengan, sekitar jam 5 pagi tiba-tiba sebuah mobil van berhenti di depan gerbang rumah abu dan turun sesosok yang tidak asing buat saya, ya… dialah FI, kawan baik saya yang kuliah di Yogyakarta yang langsung datang saat mendengar berita duka untuk memberikan dukungan moral, ahh… kamu ga akan pernah saya lupakan feb, kehadiran kamu di titik terendah saya cukup membuktikan sejatinya pertemanan kita. FI tidak menginap karena sorenya dia langsung naik travel lagi pulang ke Yogyakarta karena keesokannya dia ada jadwal kuliah.

Selagi FI sedang menemani saya, sekitar jam 9 pagi hari itu, sosok kedua datang dan yang ini juga tidak asing buat saya, dia AW. Mereka berdua nyaris menemani hari pertama saya di cembengan memberikan support moril dan menghibur, juga pada akhir nya mereka berdua juga turut andil dan membantu di masa-masa saya kuliah setelah nya. Siangnya, 2 orang lagi datang sambil berboncengan motor, ya… mereka adalah PS dan YN. Kalian berempat, tidak akan pernah tergantikan di hati saya, tidak akan pernah. Kawan sejati itu adalah mereka yang tetap hadir saat kita berada dititik terendah hidup kita. Walaupun kita jarang bertukar kabar saat ini karena kesibukan masing-masing dan jarak, percayalah nama kalian tetap akan saya bawa dalam setiap doa saya. Terimakasih kawan.

Tenang dan bahagialah disana Pap, kami disini baik-baik saja dan akan selalu baik karena Tuhan selalu bersama kami, menjalani kehidupan yang keras lebih dari sukses mengubah saya menjadi seperti sekarang ini. Terimakasih karena sudah menanamkan sifat tidak mudah menyerah kepada saya, karena sedikit banyak hal itu turut mengantar langkah saya sampai di hari ini. Salam dari kami bertiga yang masih menjadi musafir ini, dan salam untuk Kakak ya…

Pada saatnya nanti, kita bertiga akan bisa duduk bersama lagi, bertukar cerita sembari menghirup kopi kapal api kesukaan kita.

Minggu Pertama

1 minggu pun terlewati (dengan cepat) di tempat baru.

Walaupun rada-rada cegukan saat mulai karena laptop belum ada, login belum diminta, kartu akses belum siap apalagi kartu ID, tapi perlahan semua mulai terkendali walaupun masih menggunakan laptop sementara sambil menunggu laptop baru datang, kartu akses dan login setidaknya sudah ada jadi ga bosen-bosen amat lah… bisa browsing dan ubek-ubek dokumen mereka, login ke perangkat-perangkat mereka sambil membuat dahi merengut karena satu sisi saya rada kaget dengan network mereka tapi di sisi lain manggut-manggut juga sambil berkata dalam hati “ga salah juga sih cara deploy nya, tapi…”. Udahlah kalian ga akan nangkep apa maksud saya hahaha….

Suhu di Melbourne masih suka drop ke level dibawah 10 derajat, ya iyalahh… kan masih winter. Dan, minggu ini saya mendapatkan beberapa kabar baik yang menggembirakan, disamping tempat kerja yang bisa dibilang nyaman ternyata kerja di organisasi non-profit memberikan benefit tersendiri yang berhubungan dengan pajak.

Untuk mengusir dingin, seperti biasa tingkah norak saya kambuh, masuk ke toko minuman dan dengan sukses keluar dengan 1 scotch whisky dan 1 whisky ditangan.

Ihh… lu ga takut digosipin umbar-umbar hal beginian jo? Halah… emang klo ga ada jaminan ga digosipin? Sudah kodratnya kalau jadi orang terkenal pasti ada haters nya lah… ups… kita jadi orang apa adanya saja lah, toh hidup juga ga abadi ngapain munafik dan mending minum dirumah daripada diluar kan? ntar ga jelas lagi “botol” nya masuk kemana hahaha…

Dah ah… jadi ngelantur lama-lama, eh… ini pas ngetik belum buka apapun ya, jadi masih lempeng. Selamat menyambut akhir minggu kawan, jangan lupa untuk bahagia.