Kembali

Iseng karena tidak banyak yang dikerjakan hari ini di kantor membuat saya menata ulang posisi meja kerja saya (yang tidak berubah banyak ternyata hahaha….) dan membaca-baca kembali beberapa artikel lama yang pernah saya tuliskan disini. Salah satu artikel yang saya baca adalah sebuah tulisan bulan Desember 2015 lalu (tepat sehari sebelum kami pulang ke Jakarta saat itu) yang entah kenapa membuat saya termenung. Artikel itu bisa dibaca disini.

Saya masih bisa merasakan apa yang terjadi saat itu, walaupun sudah berlalu 3 tahun. Debar di dada saya masih begitu kuat saat menelusuri baris demi baris kalimat yang saya tulis malam itu, yang saat menuliskannya (jujur) saya susah payah menahan air mata saya agar tidak tumpah ruah sambil berulang kali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak dalam dada saya. Saya secara pribadi masih sering melamun dan merenung tidak percaya jika kami sekarang sudah berada di Melbourne lagi dan sebentar lagi akan genap tiga tahun. Semua ini masih seperti mimpi buat saya. Perasaan pasrah yang saya miliki saat itu, yang bercampur dengan perasaan putus asa, kecewa dan syukur, hari ini ternyata membuahkan hasil yang lain dan diluar dugaan saya, benar-benar diluar dugaan saya.

Culture shock yang memukul saya dengan kuat diawal kepindahan kami kesini yang kedua kalinya, pelan tapi pasti sudah berlalu dan saat ini benar-benar sudah berlalu. Kami juga sudah mulai menjadi lokal disini dan mulai bisa mengikuti derap irama kehidupan disini disamping saya yang sudah mulai kerasan di pekerjaan karena mendapatkan pekerjaan permanen dengan posisi dan gaji di level yang saya inginkan belum lagi gaya bekerjanya yang serius santai membuat kami mulai menganggap Melbourne adalah rumah kami, terlebih lagi karena kami sudah memiliki rumah mungil yang sedang dalam proses pembangunan (tapi ini masih utang ya haha…), yang semoga lancar dan bisa selesai awal tahun depan. Kami mulai kerasan dengan kehidupan disini dan sangat bersyukur untuk semua proses yang sudah kami lalui sampai hari ini, dan tetap bersiap untuk kejutan-kejutan di masa depan.

Kami jujur tidak pernah bermimpi bisa kembali lagi sebetulnya, karena kami saat itu berusaha realitis terhadap kenyataan dan realita, belum lagi keuangan kami yang porak-poranda tidak karuan karena kegagalan kami saat itu. Tapi sekali lagi Tuhan itu memang luar biasa, terlepas dari kalian percaya atau tidak, tapi semua yang kami miliki hari ini tidak akan terjadi jika tanpa kuasa Tuhan terlepas dari senekat apa kami saat itu dan sekarang.

Kami kembali lagi saat ini, dan kembali merajut impian kami untuk keluarga kecil kami dan kedua anak kami. Satu hal yang bisa saya bagikan dari perjalanan kami ini adalah “jangan pernah menyerah mengejar impian kalian, dan bersandarlah pada Tuhan bukan lainnya”. Selamat berakhir pekan kawan.

Advertisements

Living Cost Lanjutan

Gegara tulisan saya sebelum ini, beberapa respon atas tulisan saya langsung bertanya ke arah “berapa sih gaji yang memadai untuk bisa hidup layak?” dan lebih menjurus lagi adalah “berapa sih gaji lu sekarang?”

Seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya jika kita tidak bisa mengukur seperti itu karena semua kembali ke gaya hidup kita kan. Mengenai berapa gaji yang layak itu juga susah karena mau gaji berapa pun kalau tidak bisa ngaturnya ya abis-abis juga.

Disini untuk pendapatan total 1 keluarga dengan 2 anak dibawah nominal tertentu masih mendapatkan bantuan dari pemerintah, saya juga pernah menuliskan perihal ini di tulisan sebelumnya.

Jadi, semua pada intinya adalah kembali kepada pengendalian diri masing-masing, karena mau hidup dimana saja sama kalau kita tidak bisa mengendalikan diri kita. Migrasi ke luar negeri itu jangan didasarkan pada ingin mencari penghasilan yang lebih besar, karena yang namanya penghasilan itu menurut saya sudah diatur oleh yang di Atas dan hal itu sangat tergantung pada kemampuan individu masing-masing mengatur pengeluaran dan menjalani kehidupan mereka.

Masih banyak hal lain yang jauh lebih berharga dari sekadar dapat gaji berapa. Contohnya udara yang lebih bersih dari Jakarta, kehidupan yang lebih tenang karena disini ga sebentar-sebentar demo lah… ada isu mau rusuh lah…, belum lagi pendidikan yang jauh lebih baik dengan harga terjangkau (menurut saya ya). Belum lagi hal-hal seperti family time yang lebih berkualitas, macet yang lebih rasional dan masih banyak lagi. Hal-hal seperti itu menurut saya sangat langka di Jakarta, bahkan tidak ada dan seharusnya menjadi motivasi saat kita memutuskan sebuah langkah besar seperti migrasi ke luar negeri kemana pun tujuannya.

Jadi berapa sih sebenernya gaji saya disini? kasih tau ga ya…. 🙂

Living Cost di Melbourne

Artikel saya sebelumnya ternyata menghasilkan beberapa pertanyaan yang ditanyakan pembaca, baiklah sekarang saya coba bahas living cost di Melbourne ya. Tapi, ini ilustrasi yang saya gambarkan berdasarkan sudut pandang saya selama hampir 3 tahun tinggal disini.

Bicara living cost, tentunya tidak terlepas dari gaya hidup kita. Jadi, agar tidak melebar kemana-mana, saya akan bahas living cost standard menurut saya ya, tanpa membahas dengan detail misalnya sekarung beras berapa dollar karena itu pun tergantung beli karung beras yang mana dan apakah saat itu ada diskon atau tidak kan.

Disini, setiap kami makan diluar kurang lebih menghabiskan 35 – 50 dollar Australia terlepas dari kami makan di foodcourt atau restorant biasa (bukan fine dining ya). Jadi bisa dibilang kita mau makan dimana saja, harga yang harus dibayar itu kurang lebih hampir sama. Saya kurang tahu sekarang di Jakarta bisa menghabiskan berapa rupiah untuk makan di tempat yang sama (jangan dibandingin sama makan dipinggiran pakai gerobak), tapi kalau saya bandingkan dengan sebelum kami migrasi, ga beda jauh sama Jakarta 3 tahun lalu.

Untuk baju, sepatu, tas, dll kita punya banyak pilihan, disini ada 3 toko besar yang umum kami kunjungi saat membutuhkan hal yang berhubungan dengan sandang. Ketiga toko itu jika diurutkan dari yang paling mahal ke paling murah adalah, Target – BigW – KMart. Tentunya lebih mahal ya lebih bagus bahannya. Rata-rata harga pakaian disini untuk T-Shirt kisaran 5 – 25 dollar, tergantung model dan ukuran dan apakah ada diskon tidak, ya kalau ga bawel dan banyak milih kita masih bisa kok dapet baju 10 dollar di Target atau sepatu 15 dollar di BigW. Bahkan sangat mungkin dapat baju dengan harga 2 dollar kalau sedang diskon besar yang umunnya terjadi setiap 6 bulan sekali. Tadi saya sempat menyinggung masalah kualitas bahan, jelek nya ga parah-parah amat kok, kalau dipakai terus dan dicuci berulang kali, masih mampu lah bertahan kurang lebih 7 sampai 10 bulan sebelum robek. Saya sendiri suka memakai 1 sepatu warna biru yang saya beli saat pertama kali sampai di Melbourne hampir 3 tahun lalu sampai sekarang masih asik-asik saja dipakai.

Untuk belanja lainnya seperti jajanan dan lauk pauk, kita bisa ke Coles, Woolworths, Aldi, ataupun pasar segar yang memang khusus menjual daging dan sayuran. Khusus untuk belanjaan seperti jajanan, roti, susu, biskuit dll kita bisa pergi ke 3 tempat yang pertama disebut itu tadi. Cara trick nya gimana agar murah, ya tunggu diskon, setiap minggu selalu ada diskonan untuk barang-barang tertentu dan berubah-rubah. Jadi kalau bisa menahan diri dan menyusun strategi, banyak dollar yang bisa dihemat saat belanja di 3 tempat itu tadi.

Lalu yang mahal itu dimana? ya tentunya ga semua murah ya… maksud dari sudut pandang living cost disini adalah kita masih bisa hidup layak walaupun tidak memiliki uang berlimpah ruah sampai tumpah (alias tajir melintir), banyak tempat yang bisa membuat kita mendapatkan barang berkualitas dengan harga bersahabat bahkan miring kalau kita ke Salvos (toko barang bekas yang didapatkan dari sumbangan orang-orang, lalu di daur ulang sehingga bersih dan masih layak pakai saat dijual kembali) yang hasil penjualannya digunakan untuk menolong mereka yang kurang mampu secara finansial.

Oke balik lagi ke pertanyaan tadi “lalu yang mahal itu dimana?”, disini menurut saya yang mahal itu saat kita berurusan dengan 3 hal, listrik-air-gas. Disini, dua dari ketiga hal itu dikendalikan oleh perusahaan swasta kecuali Air. Jadi ga ada tuh harga subsidi seperti di Jakarta. Nah, untuk yang 3 hal ini sebetulnya kan kembali ke cara kita menggunakan mereka, kalau kita mau sebetulnya masih bisa kok hidup enak tanpa harus menghambur-hamburkan dollar untuk sumber daya yang terbuang percuma. Contoh: saat cuci tangan buka kran ga sampai full, kebiasaan yang satu ini akan membantu kita hemat banyak saat tagihan datang. Bahkan ada yang lebih ekstrim air mandi ditampung untuk siram tanaman. Ya kembali ke diri masing-masing mau hemat dengan cara apa, yang susah itu kalau udah kebiasan di Indonesia asal pakai, coba kalau disuruh bayar ketiga sumber daya itu 3 bulan saja di Australia, mungkin akan berubah karena berasa mahal nya. Untuk kami sendiri pemakaian air per 3 bulan biasanya kisaran 160 – 200 dollar, dan listrik antara 420 – 750 dollar karena kami tidak ada koneksi gas di unit yang kami sewa saat ini sehingga memasak pun menggunakan listrik. Itu kalau kami berempat, kalau sedang ada tamu biasa nya melonjak 15% – 20%.

Lalu pengeluaran yang lainnya adalah mobil, kalau punya mobil setidaknya kita punya 3 pengeluaran tambahan, yang pertama tentu asuransi, ini penting loh… karena disini tidak ada bengkel pinggiran yang bisa ketok magic dengan harga bersahabat, apalagi kalau sudah nyundul mobil mewah. Yang kedua service dan ganti ban, service berkala itu juga butuh biaya, dan terakhir bensin, nah untuk yang satu ini beda banget sama di Indonesia, disini ga ada premium yang harga nya stabil dari waktu ke waktu (yang baru dinaikin dikit saja sudah menghasilkan demo berjilid-jilid), disini bensin itu harga nya naik turun ngikutin harga minyak dunia. Jadi jangan heran kalau di jam tertentu 1 liternya $ 1.54 tau-tau dua jam kemudian berubah jadi $1.78 atau bahkan lebih murah di angka $ 1.28. Nah… untuk pos yang satu ini juga kan sebetulnya bisa diakali agar ga boros, caranya gimana? salah satunya ya jalan kaki untuk jarak tempuh yang masih bisa dijangkau dalam 10 – 15 menit, sambil berhemat sekalian olah raga.

Ada satu lagi sebetulnya pos yang cukup menohok. yaitu punya rumah sendiri. Disini punya rumah sendiri itu ternyata cukup mahal loh… ada biaya-biaya tahunan yang harus kita bayar (yang biasanya tidak dalam kewajiban kita jika sewa rumah). Itu kenapa saya agak kaget juga begitu rumah kami sudah mau mulai dibangun, karena semua biaya abodemen itu sudah mulai ditagih ke kami. Contohnya biaya council rate, biaya ini mirip dengan PBB kalau di Indonesia, bedanya biaya ini sudah satu paket dengan kebersihan, perawatan taman, perpustakaan dsb. Jadi yang katanya kita BBQ ditaman gratis itu sebetulnya ada biayanya yang diambil secara tidak langsung dari council rate yang dibayar pemilik rumah, ga seberapa sih, paling 10 dollar alokasinya setiap tahun, tapi kan tetap ga benar-benar gratis judulnya hihihi… Setahun kurang lebih kisaran $ 900 – $2500 tergantung kita tinggal di daerah mana dan rumah kita sebesar apa, dan mungkin bisa lebih mahal lagi kalau tinggal di high profile suburb seperti Kew atau Balwyn (daerah horang kayah).

Selain council rate, masih ada water rate, electrical and gas rate. Rate ini diluar pemakaian sehari-hari ya, biaya abodemen yang harus kami bayar untuk rumah mungil kami untuk sementara $900 an per tahun untuk air, dan belum tahu untuk listrik dan gas. Kalau saya perkirakan, mungkin setiap tahun kami harus menyiapkan kurang lebih $3500 untuk membayar itu semua. Mahal ga tuh? hahaha… ya memang sih terlihat mahal, tapi kalau kita bisa nyicil nabung $300 perbulan sebetulnya sudah ketutup ya. Dan lebih jauh lagi, rumah jadi milik sendiri kan pada akhirnya hehehe…

Biaya lainnya yang mahal adalah, biaya maintenance rumah. Nah… untuk yang satu ini akan sangat tertolong kalau kita bisa mengerjakan sebagian besar perbaikan sendiri, misalnya benerin pintu, nambal tembok yang bolong, benerin pipa pembuangan air dari atap, ganti keran, bahkan sampai mengerjakan kebun sendiri. Yang agak sulit dilakukan sendiri itu kalau sudah berurusan sama plumber dan electricity utama. Itu butuh orang yang ahli agar kerusakan tidak meluas, dan harganya juga lumayan mahal karena dihitung jam-jam-an.

Trus bagaimana dengan bahan makanan? Baiklah saya coba kupas dikit ya, di Australia kalau belinya daging sapi, ayam, dan telor itu murah, bahkan bisa dibilang lebih murah dari di Jakarta. Kenapa? karena dengan harga yang ga beda jauh kita dapat yang kualitasnya jauh lebih bagus. Disini harga daging sapi sekilo itu kisaran $17 – $20 (ini ga bicara wagyu yeee…) tergantung kita beli daging bagian mana. Lalu yang mahal apa disini? Ikan dan segala jenis sea food (kecuali udang galah atau yang ukuran besar karena harganya ga beda jauh sama Jakarta, bahkan disini bisa lebih murah), disini ikan biasa saja bisa sampai $17.5 per kilo. Selain ikan, yang mahal juga adalah cabai, cabai rawit disini itu bisa sampai $50 perkilo (Rp. 500.000.-), sedap kan tuh…. Untuk sayuran dan buah bagaimana? untuk kedua hal itu tergantung dari mana asalnya, jika kita beli sayuran dan buah yang berasal dari Australia (yang saya yakin ga banyak pilihan buat orang Indonesia seperti kita yang berlimpah ruah model sayuran dan buah di Tanah Air) ya murah, tapi kalau yang import seperti contohnya cabai rawit tadi, atau kangkung deh… itu mahal boo… kangkung disini yang adanya musiman 3 iket (paling jadi sepiring sedang kalau di cah…) bisa $5 harganya.

Hidup di Australia jika ditarik garis secara umum, memang lebih mahal dari hidup di Jakarta. Walaupun income yang kita dapat pun berlipat dari di Jakarta ya, tapi intinya adalah kembali ke gaya hidup. Kalau mau hidup yang normal-normal saja (normal bagi sebagian besar orang ya… bukan normal yang menurut pemikiran sendiri) sebetulnya disini sangat-sangat mungkin hidup layak walaupun kita bukan orang berada. Dan dengan hidup layak dalam kategori normal secara umum itu tadi kita masih bisa nabung dan merencanakan masa depan. Itulah kenapa saya pernah menuliskan jika hidup di Australia yang dilihat dengan kaca mata Rupiah, ya mahal boo… tapi kalau dilihat dari kaca mata AUD, ya sebetulnya tidak beda jauh dengan living cost di Jakarta dari kaca mata Rupiah.

Tapi itu menurut saya loh ya… jangan baper hahaha….

Berani ambil resiko?

“Enak ya… lu bisa hidup di luar negeri… pengen deh seperti lu”

Semenjak pindah dan menetap di Melbourne, saya kerap kali mendapatkan komentar seperti diatas dari mereka yang menghubungi saya baik keluarga, kawan maupun yang baru kenal. Tidak ada yang salah sih… dengan kalimat itu, hanya saja apakah mereka mengetahui semua hal yang terjadi dibalik “enak karena bisa tinggal di luar negeri” itu sendiri? Dan apakah mereka bisa menerima semua hal yang harus dikompromikan saat kita sudah memutuskan untuk pindah dan menetap di Negara lain? Dan lebih jauh lagi apakah mereka sadar dan tahu apa itu arti menjadi seorang perantau? untuk sampai ke titik dimana mereka lihat dan anggap “enak” itu tadi yang pada dasarnya tentu saja sangat relatif seperti saat mereka melihat kami disini.

Jalan yang kami tempuh ini, terlebih karena kami bukan berasal dari keluarga dengan latar belakang berlimpah yang siap mendukung dan menampung jika terjadi sesuatu dalam setiap langkah perjalanan kami atas apa yang kami putuskan, membuat apa yang kami lakukan ini benar-benar penuh dengan resiko dan banyak sekali kompromi yang harus kami terima dengan pilihan yang benar-benar sangat terbatas, hal itulah yang kemudian membuat kami mengambil jalan ini dengan modal nekat, nekat untuk sesuatu yang kami percaya bisa lebih baik bagi kami sekeluarga. Hidup di luar negeri itu, terutama di Melbourne, Australia itu memang enak, saya tidak membantah hal itu, tapi… ada banyak cerita yang (mungkin) tidak enak buat kalian untuk sesuatu yang dianggap enak itu tadi. Terutama jika kalian berada di posisi seperti kami ya.

Pernah juga ada yang nyeplos ke saya dengan kalimat “lu mah dah enak lah… gaji lu aja dah berapa disana”, haduh…. haduh… hidup di luar negeri itu, tidak semata-mata hanya karena mengenai materi, gaji lebih besar memang tidak akan saya bantah walaupun living cost disini untuk beberapa pos juga tidak murah ya terutama untuk sewa rumah, bayar air, listrik, bensin, dan beberapa hal lainnya yang tidak bisa saya jabarkan satu persatu dan tentunya sangat bisa dikurangi atau diakali agar bisa lebih hemat dengan mengubah gaya hidup. Tapi balik lagi ke point utama tadi jika jangan menilai hidup dan bekerja di luar negeri itu hanya dari segi materi, walaupun benar disini kita tidak perlu menjadi orang kaya baru bisa menikmati hidup layak, walaupun kembali lagi seperti “enak” itu sendiri, hidup layak itu sendiri pun tentu saja juga sangat relatif. Banyak hal yang tidak bisa diukur dengan materi disini yang tidak bisa kita dapatkan di Jakarta (menurut saya), karena entah kenapa saya percaya jika hanya ukuran materi di Jakarta pun kita masih ada kesempatan untuk mendapatkan nilai segitu. Hal-hal seperti kualitas hidup, waktu bersama keluarga, udara yang bersih, air yang layak pakai (sampai bisa diminum langsung dari keran), keamanan yang lebih terjamin, tertib, ketenangan, situasi politik yang juga lebih stabil, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas yang tidak hanya menjadi milik mereka yang berkecukupan, dan masih banyak lagi hal lainnya justru adalah barang mewah yang sulit kami dapatkan saat hidup di Jakarta dan bisa kami dapatkan disini setiap hari. Dan hal itulah yang kemudian mengubah salah satu cara pandang saya mengenai sebuah pencapaian dalam kehidupan yang tidak semata-mata hanya diukur dari segi materi saja, karena masih banyak yang lebih berharga dari materi itu sendiri. Memnag betul hidup membutuhkan uang, tapi uang bukan segalanya agar kita benar-benar bisa menjalani kehidupan kita.

Disamping itu, hidup diluar negeri juga secara tidak langsung membuat wawasan kita menjadi lebih terbuka karena mau tidak mau kita harus berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan negara yang berbeda-beda juga. Apalagi di kota seperti Melbourne yang sudah dikenal sebagai meeting point hampir seluruh ras/ bangsa dari seluruh dunia. Hal itu, secara tidak langsung pun mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan itu sendiri dan tentunya mengubah cara saya menjalani kehidupan itu sendiri pula. Hal seperti ini, yang tentunya (saya percaya) tidak mungkin bisa kita dapatkan jika kita tidak beranjak dari tempat kita dan mencoba merantau atau minimal mencoba mengunjungi tempat-tempat yang berbeda dan berinteraksi dengan berbagai masyarakat dari belahan dunia lainnya selain pengalaman hidup yang pernah kita lalui dalam kehidupan kita.

Perjalanan kami dalam mengejar impian kami di Australia ini tidak terjadi begitu saja karena seperti yang saya bilang diatas tadi, banyak sekali kompromi yang harus kami terima dalam prosesnya yang akan saya coba kupas sedikit disini walaupun tidak semuanya karena akan menjadi buku kalau saya tuliskan semuanya.

Kompromi pertama yang harus kami terima adalah, melakukan segala sesuatu/ semua sendiri. Semenjak kami sudah sepakat untuk mengejar impian kami hidup di negara maju seperti Australia, saat itu juga kami belajar melakukan semuanya sendiri. Saya salut sama istri saya, dia mau belajar mengurus anak dan rumah tanpa bantuan baby sitter dan pembantu, dan mau belajar masak karena membayangkan kami akan sangat membutuhkan hal itu di masa-masa awal (yang bahkan bisa selamanya yang puji Tuhan ternyata tidak benar-benar terjadi karena saat ini kami cukup berkecukupan untuk bisa makan diluar sekeluarga sekali-sekali sambil menikmati ketenangan kota cantik ini) saat berhasil pindah nanti untuk menghemat pengeluaran karena makan di luar tentu butuh biaya lebih dan yang namanya punya pembantu atau baby sitter jauh dari jangkauan kami karena mahal sekali untuk negara maju seperti Australia, jadi kalau kalian ga mampu handle semua sendiri entah karena males atau memang ga kredibel ya lebih baik jangan jauh-jauh dari Indonesia karena kemewahan itu sulit kalian dapatkan disini. Kompromi hal seperti ini tidak mudah loh… ga percaya? coba tes sendiri… terutama untuk istri ya, ngurus rumah masih bisa istirahat sebentar, tapi ngurus 2 anak sendiri itu cerita lain. Hal ini sudah kami lakukan jauh hari sebelum kami berhasil mendapatkan visa Permanent Resident kami, yang artinya kami sudah berusaha menyiapkan diri sedini mungkin agar tidak kaget saat sudah bisa migrasi ke Australia walaupun visa kami masih dalam impian dan tidak ada jaminan akan kami dapatkan, yang tentunya kompromi pertama ini tidak akan berhasil bagi orang yang malas dan terlalu banyak alasan (ga usah merah kupingnya hehehe…).

Kompromi kedua yang harus kami lakukan adalah, jauh dari keluarga. Ini serius, tidak semua orang mampu melakukan hal ini karena ini adalah salah satu hal terberat yang harus kalian hadapi walaupun kalian sering perang puputan selama bersama disana. Kami di Australia bisa dibilang hampir sendirian (jika tidak menghitung segelintir kawan di awal kepindahan kami, 1 keluarga saudara jauh dan komunitas yang kami ikuti). Yang artinya, kami harus siap bahu membahu dan kerjasama menghadapi segala macam tantangan didepan kami yang entah apa dan bagaiman, dengan tetap berusaha untuk saling mengerti, mengalah, membantu, mau mengatur strategi bersama, dan banyak hal lainnya agar anak-anak dan rumah tetap bisa terurus tanpa ada bantuan siapapun terlebih saat salah satu dari kami sakit atau harus kerja atau sedang ada masalah atau lainnya, menjadi team yang solid adalah sebuah syarat mutlak dan keharusan bersama pasangan kita agar kita tidak menjadi gila. Hal seperti ini yang di Jakarta bisa diakali dengan memiliki baby sitter, pembantu bahkan handai taulan yang bisa diminta datang membantu jika kita sedang sakit atau sibuk dengan hal lainnya, menjadi hal yang sangat mahal disini. Tapi dibalik semua itu, kemampuan untuk mengatasi “kesendirian” ini pelan tapi pasti dan tanpa kami sadari sudah mengasah kemampuan, daya tahan dan daya juang kami juga yang sebetulnya sangat berguna untuk menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Kompromi ketiga yang harus kami lakukan adalah, memulai segalanya dari awal lagi. Kepindahan kami ke Australia membuat kami harus mau menerima jika kami mundur ke 10 tahun yang lalu (mungkin tidak benar-benar 10 tahun ya, tapi kami tetap harus membangun segala sesuatunya dari awal lagi) dan meninggalkan semua kenyamanan yang sudah kami bangun dan raih selama di Jakarta. Sulitkah hal itu? bukan sulit lagi… tapi perihh… perjuangan kami membangun kembali apa yang sudah ada selama 10 tahun untuk saat ini tidak semudah kami memulai 10 tahun lalu walaupun waktu yang dibutuhkan mungkin tidak sampai 10 tahun kemudian. Tapi prosesnya itu sangat-sangat tidak mudah, apalagi yang harus kami ulang tidak semata-mata kehidupan yang kami jalani tapi juga disisi pekerjaan yang harus saya hadapi dimulai dari beratnya menembus dunia kerja IT disini sampai mendapatkan pengakuan jika saya ini mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Walaupun kompromi untuk hal yang satu ini sudah mulai stabil tapi pada awal prosesnya sukses membuat saya mengalami culture shock parah diawal kepindahan kami kesini dan membuat saya hampir menyerah.

Kompromi keempat yang harus kami lakukan adalah, belajar beradaptasi (lagi) dengan semua hal baru. Kompromi yang satu ini mungkin yang paling menyenangkan bagi kami, menghadapi hal-hal baru dan menantang juga membuat penasaran membuat kami menjelajahi satu-per-satu kebiasaan yang ada disini dan berusaha mengerti dan menyaring mana yang memang baik bagi kami dan mana yang bisa kami hindari atau akali karena kurang sesuai. Hal ini juga sukses mengubah cara kami menjalani hidup, menghadapi hidup dan memandang kehidupan itu sendiri. Itulah kenapa jika ada yang bilang kami sekarang berubah, ya tentu saja itu terjadi, karena kami harus beradaptasi dengan apa yang kami hadapi disini agar bisa bertahan. Walaupun hal ini adalah salah satu kompromi yang menyenangkan, bukan berarti tidak ada yang kami tidak suka tapi tetap harus belajar untuk menerima. Contohnya cara anak-anak di didik agar mandiri dan kritis disini, kami suka dengan kurikulum dan cara sekolah disini mendidik anak-anak dalam hal edukasi formal, tapi tentunya kita tidak bisa memilah mana yang kita ingin mana yang tidak donk… disamping cara mendidik yang kami suka terselip juga efek samping yang kurang cocok bagi kami tapi kami harus belajar dewasa karena sudah ingin membesarkan anak disini. Contohnya tentang diajar untuk kritis itu tadi, disini anak kami yang berusia 3 tahun saja sudah bisa nego dengan kami loh… untuk hal yang dia inginkan, dan kadang apa yang kami minta agar dia lakukan dicuekin sama dia karena dianggap ga make sense yang membuat kami harus mengubah strategi kami jika sedang menjelaskan sesuatu kepada dia. Hal yang jika di Jakarta sana tinggal ambil sabetan disini tidak bisa benar-benar diterapkan, masih bisa sih… asal ga ketahuan ya… karena konsekuensinya panjang dan rumit jika tertangkap kita main fisik ke anak kecil, bisa masuk ke ranah child abuse.

Kompromi kelima yang harus kami lakukan adalah, berdamai dengan cuaca. Seriusan disini cuaca nya itu naik turun dan berubah-ubah ga karuan sampai lekat dengan sebutan kota dengan 4 musim sehari. Untuk badan tropis seperti kami yang besar disana, tantangan yang satu ini cukup menohok dan meluluh lantakan badan kami (biar hiperbola dikit hahaha….) di awal kami tinggal disini. Belum lagi saat itu kami belum memiliki mobil dan harus jalan kaki plus public transport kemana-mana. Pernah satu kali kami salah kostum karena menggunakan jaket musim dingin, ternyata setelah keluar rumah matahari bersinar ngeledek dari atas dan sukses membuat kami merasa konyol dan kepanasan dengan yang kami kenakan, beruntung disini ga suka nyinyir seperti disana jadi ga ada yang peduli juga. Lalu yang lebih konyol lagi adalah tiba-tiba beberapa jam kemudian udara berubah dingin dan hujan guede pake buanget. Kami untungnya membawa payung tapi ya apa mau dikata ya… istilah kalau bukan payung Melbourne ga akan bisa menahan angin di kota ini terbukti benar dan sukses menghancurkan kedua payung yang kami bawa dari Jakarta. Kami saat itu sampai berteduh di pagar tembok salah satu rumah sambil berusaha mempertahankan payung sebisanya agar anak-anak tidak basah karena kehujanan, kebayang donk kena air hujan klebes ditengah suhu yang tiba-tiba bertengger di 12 derajat dengan imutnya dari suhu 34 derajat secara tiba-tiba tanpa rasa bersalah dan rumah masih sejauh 20 menit jalan kaki. Tinggal di negara 4 musim itu tidak seindah bayangan kita yang sedang menjadi turis, yang lucunya selama saya menjadi turis ke negara 4 musim dan pada musim dingin justru malah ga betah dan mau cepet-cepet balik ke Jakarta, eh… sekarang malah tinggal di negara 4 musim.

Kompromi keenam yang harus kami lakukan adalah, mau berdarah-darah dulu. Ini kompromi paling menyebalkan buat saya kalau mau jujur kacang ijo yang paling ijo. Gimana ga coba, salah satunya adalah dari yang dulu di Jakarta kemana-mana pakai mobil, mau belanja tinggal belanja dan tinggal di angkut pakai mobil. Nah begitu sampai sini kan dana terbatas ya, rumah juga di isi seadanya boro-boro punya mobil, hal yang paling “menyenangkan” adalah saat kami belanja kebutuhan rumah tangga. Sudah kami pakai public transport, jalan kaki, sambil gendong si kecil karena saat itu anak kedua kami belum genap 2 tahun, anak yang paling besar juga belum terbiasa jalan jauh, belanjaan banyak karena kami mau menghemat biaya transport yang bagi kami masih mahal saat itu, sukses membuat punggung kami berdua bonyok pegal-pegal karena sambil gendong anak, nenteng belanjaan yang bisa 1 koper gede plus jalan kaki dan naik turun public transport, dan itu berlangsung cukup lama loh… kalau ga gimana cara istri bisa masak dan saya bisa makan sampe naek 10 kilo hehehe…. nah…. enak kan tuh prosesnya… bahkan saat ini saja setiap saya membayangkan apa yang sudah kami lalui di awal kepindahan kami kesini masih suka merasa ngilu gimana gitu ini punggung. Kami bukannya mau manja ya, tapi apa yang kami lalui itu sempat kami remehkan sebelumnya saat di Jakarta (yang dengan semangat 45 berkata kepada diri sendiri – Pasti bisa!!!) ternyata setelah sampai disini dan kami benar-benar menjalaninya baru kami sadar kalau kami itu sangat kurang olah raga alias hidup terlalu nyaman selama di Jakarta (makanya jadi manusia jangan kepedean – kalau kata orang bener). Selain itu, kami juga datang kesini tidak dengan segala sesuatu sudah tersedia seperti kebanyakan orang yang sudah ada tempat tinggal nyaman beserta isinya, atau minimal punya dana cukup yang bisa dipakai untuk membuat hidup lebih nyaman. Tidak loh… kami datang dengan dukungan dana pas-pas-an (bukan pas mau belanja pas ada duit ye…) sampai mau beli sofa saja kami mikir dua tiga kali. Awal-awal kami disini rumah yang kami tempati hanya ada kasur queen dua buah, meja makan dan 4 kursi, 1 vacum cleaner, plus kulkas dan 4 koper baju plus sprei seadanya yang kami bawa dari Jakarta, dah itu saja karena kami harus menjaga dana cash yang tidak seberapa itu untuk hal-hal tidak terduga yang membutuhkan dana segar dengan segera, contohnya butuh beli obat turun panas untuk anak. Ga mahal juga sih obat nya, tapi kalau duitnya mepet ga mahal juga bikin deg-deg-an. Dan semua hal ini hanya sebagian kecil dari proses berdarah-darah itu tadi yang tidak bisa saya jabarkan satu per-satu disini.

Keadaan kami di awal kepindahan kami kesini benar-benar bagaikan bumi dan puncak gunung himalaya, kenapa bukan langit karena tidak 180 derajat berbeda tapi cukup berbeda sampai membuat kami benar-benar harus ber-perih-perih dahulu. Separah itukah keadaan kami saat itu? yup… itu kenapa we ran through a hard time. Lalu kenapa masih mau melakukannya? karena kami tidak ingin menyerah pada keadaan dan merelakan impian kami terbang yang hasilnya kemudian membuat kami (terutama saya) dibilang orang gila dan nekat oleh hampir semua kawan yang mengetahui langkah yang saya ambil ini. Entah kenapa saat itu, yang ada dipikiran saya hanya satu, Tuhan tidak akan meninggalkan kami. Disamping itu, saya juga tidak mau menyesal di kemudian hari, seperti yang pernah saya katakan kepada istri saya “berhasil atau gagal urusan nanti, yang penting kita coba dulu agar nanti saya ga mati penasaran”, bikin was-was juga sih kalau sampai gagal kami bakalan jatuh lebih dalam lagi karena 2 kali gagal migrasi, dan hal itu juga yang membuat kami berusaha bertahan dan maju terus sebisanya, stress ga? pakai banget hahaha… Cape ga? tentunya walaupun exciting juga ya…

Semua cerita diatas hanya mengenai beberapa kompromi yang harus kami hadapi dan terima, belum termasuk cerita jatuh bangunnya saya saat mengejar visa itu sendiri yang juga menjadi salah satu cerita menarik dalam kehidupan saya karena semua proses itu pun sama tidak mudahnya. Saya selama proses mengejar visa sendiri saat itu sebetulnya hampir menyerah, walaupun pada akhirnya saya berusaha bangkit lagi dan melangkah lagi karena penasaran dengan impian yang ingin saya kejar ini, bandel ya saya hahaha…

Lalu apakah saya menyesal sekarang? absolutely not, apa yang kami capai dan jalani sampai saat ini, pada akhirnya benar-benar setimpal bahkan lebih dari yang kami inginkan dan bayangkan. Kami benar-benar bersyukur diberi jalan ini walaupun harus berdarah-darah dan terseok-seok saat memulai karena jalan ini jika dilihat dari latar belakang ekonomi kami memang tidak gampang dan penuh dengan duri ya… tapi apa yang kami dapatkan benar-benar menjawab semua perih dan tantangan yang kami lalui dulu.

Percayalah cerita seperti ini tidak akan (sulit) kalian temukan di cerita orang lain karena pada umumnya mereka hanya membagikan hal-hal menyenangkan saja. Kenapa saya berani menuliskan semua pengalaman saya ini karena saya ingin kalian (terutama yang hanya melihat bagian enak nya saja) tahu jika proses yang saya lalui itu ga mulus seperti paha kambing. Jadi, terlepas dari latar belakang ekonomi kalian, masih berani untuk migrasi?