Dan Yeahh…

Akhirnya, kontrak itu pun dikirim dan diterima.

Masih ingat beberapa waktu lalu saya update sesuatu tentang kegalauan saya karena melepas satu kesempatan dalam pekerjaan yang menurut saya bagus? ternyata inilah jawabannya.

Kita, sebagai manusia sering kali merasa lebih mengerti dari Tuhan terlebih jika berurusan dengan diri kita sendiri. Lah wong saya lebih ngerti kebutuhan saya kan…. iya ga?? tidak ada yang salah sih dengan hal itu, tapi sesungguhnya pengalaman yang saya alami justru sering kali mengajarkan kepada saya jika apa yang saya pikir baik dan cocok itu belum tentu baik, apalagi yang terbaik.

Kejadian yang ini salah satu contohnya. Setelah bergalau ria karena terpaksa melepas satu kesempatan emas demi tanah yang kami beli 2 tahun lalu yang sedang masuk ke tahap serah terima karena akan beresiko terhadap aplikasi pinjaman kami ke Bank, ternyata tidak sampai satu bulan Tuhan memberikan sebuah jawaban yang mendekati sempurna, ahh… indah nya…

Saya mendapatkan kesempatan lain setelah itu, di organisasi non-profit yang artinya gaji tidak kena pajak lebih besar dari organisasi profit yang ujung-ujung nya bermuara pada uang yang dibawa pulang tentu lebih besar, lalu lokasi yang dekat dengan stasiun kereta dan tram stop kurang lebih 10 meter, mengingat jika kami pindah ke barat sana tentu mempermudah dibandingkan tempat sebelumnya yang saya drop karena yang terdekat dengan kantornya hanya ada halte bus, dan itu pun termasuk jauh, belum lagi bus yang suka PHP in orang kalau disini, belum lagi jarak yang sekarang ini hampir setengah lebih dekat dari yang saya tolak dulu yang artinya kalau saya bawa mobil waktu dan jarak tempuh langsung berkurang setengah hahaha… apalagi kalau pakai public transport lebih berasa lagi lebih dekatnya. Lalu bekerjanya di end-user yang artinya saya tetap bisa mempensiunkan sertifikasi saya dan mulai menggunakan waktu yang ada untuk belajar hal lain, dan di tempat ini juga mengaplikasikan cloud computing yang mana juga mendukung rencana upgrade skill saya. Nah… ada lagi nih yang indahnya, pekerjaan ini permanent on going, jadi ga ada batas waktunya sampai antara saya pensiun, diberhentikan atau resign. Sudah begitu, gaji yang saya minta ternyata di upgrade sama mereka hahaha… kurang nikmat apalagi coba?

Saya terus terang saat menerima kontrak kerja mereka, sempat berpikir dan merenung mengenai apa yang sudah terjadi sebelumnya. Semakin saya merenung saya semakin bergidik karena Dia ternyata lebih tahu apa yang cocok dan bagus bagi saya, terutama untuk keadaan sekarang dan akan datang.

Luar biasa bukan? itulah kenapa saya sering merasa malu karena iman saya ternyata masih tipis dan rapuh sehingga mudah terkoyak oleh rasa superior ego-manusia saya. Sekarang saya sudah masuk masa resign dari tempat saat ini, tinggal seminggu lagi, lalu libur dulu kurang lebih seminggu, dan mulai ditempat baru yang semoga bisa awet sampai lama karena saya sudah cape sebenarnya pindah-pindah terus seperti kucing beranak.

Satu hal yang pasti, Dia paling mengetahui apa yang paling pas buat kita dan kapan saat yang tepat untuk hal itu terjadi atas kehidupan kita.

Advertisements

Father’s Day

Entah sudah berapa banyak hari Bapak saya lewati tanpa bisa mengucapkan 1 kali pun selamat hari Bapak ke Papa ku. Ya… Papa ku sudah tidak di dunia lagi, dia sudah tenang dan damai disana. Sebentar lagi 19 tahun sudah dia pergi selamanya.

Dulu, saat dia masih hidup, mana ada kepikiran hari Bapak, yang saya ingat saat itu adalah hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember (menurut tanggalan Indonesia ya…), maklum dulu kan jaman internet belum semaju sekarang. Kemajuan dunia IT turut memberi andil adanya penyebaran informasi seperti itu terjadi lebih cepat. Tidak lupa juga andil sifat manusia yang suka gaya dan ikut-ikutan yang sedang nge-trend diluar sana agar dibilang exist (contohnya ya seperti saya ini hahaha….)

Walaupun Papa sudah tidak hidup di dunia, tapi saya tetap akan mengucapkan Selamat hari Bapak ya Pap… terimakasih untuk semua yang sudah Papa berikan semasa hidup dulu, ajaran-ajaran yang berguna dan terbukti berhasil membantu saya sampai sejauh ini, dan memberikan kenangan yang sangat baik sebagai seorang panutan bagi saya terutama bagaimana melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang suami dan bapak, yang akan saya jaga dan turunkan kepada kedua putra saya kelak tentang apa itu arti menjadi seorang Pria, semoga saya bisa hahaha… Damai lah disana Pap, salam buat kakak ya…

Cakrawala

Salah satu tempat yang paling ku sukai adalah pantai. Entah karena dulu terlalu sering bermain disana bersama mendiang Kakak saya, atau karena mendiang Papa dulu mencari nafkah ga jauh-jauh dari daerah pelabuhan.

Satu hal yang saya suka saat berada di pantai adalah memandang garis Cakrawala, garis jauh nan angkuh yang seolah mengingatkan kita akan kuasa Tuhan, dan mengajarkan sebuah arti kehidupan agar kita belajar memasang impian yang akan kita kejar sejauh cakrawala dimana ombak yang susul menyusul tidak akan membuat langkah kita menjadi lebih mudah untuk mencapai nya, karena itulah hidup dan kehidupan.

Cakrawala, garis yang tidak pernah habis saya kagumi karena begitu banyak filosofi yang bisa saya pelajari dalam hening dari nya.

Kakak ku

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya mengantar jenazah Kakak saya dari Jakarta ke Tegal.

Hari ini, tepat 19 tahun lalu, saya menemani tubuh kakak ku yang telah terbujur kaku di rumah duka cembengan di Tegal, dengan semua letih lesu yang sudah tidak bisa kurasakan lagi, selain rasa kehilangan yang amat sangat karena dia salah satu panutan ku dalam hidup, ternyata telah berpulang lebih cepat dari yang ku duga.

Yohanes Karyono Djais, itulah nama kakak ku, nama yang tidak akan pernah saya lupa dalam sisa hidup ku, karena begitu banyak kenangan yang ada dalam pikiran ku.

Berbaring diatas rumput ditepi pantai di Tegal saat liburan tiba adalah salah satu kegiatan yang sering kami lakukan saat dia pulang ke Tegal, sembari berbaring, sering kali kami berkhayal tentang masa depan yang ingin kami capai dan banyak hal lainnya sembari menikmati mentari yang pelan tapi pasti turun ke peraduan nya yang setelahnya kami baru beranjak pulang.

Hemmm… masih hangat tersimpan dibenak ku, kesukaan dia saat mencium aroma padi dari sawah di tepi kanan dan kiri jalan dua antara Tegal – Banjaran, yang sering kami lewatin saat malam karena saya tahu dia suka menikmati aroma itu yang menurut dia tidak bisa ditemui di Jakarta.

Pondok sate ayam di pokanjari Tegal, lesehan pisang bakar di alun-alun Tegal (yang entah masih ada tidak sekarang) dan warung soto Pak Madi saat masih di jalan teri Tegal menjadi tempat kenangan yang tidak akan pernah hilang dari benak saya saat mengenang dia.

Belum sawah-sawah di dekat perumahan Nanas yang saya yakin saat ini sudah tergusur oleh bangunan baru, juga menjadi kenangan lain karena kami dulu sering memancing belut sawah yang kemudian kami bakar di kebun-kebun dekat sana dengan perapian seadanya, menyantap belut bakar (yang sudah pasti dianggap masih kotor oleh kalian yang tinggal dikota) sambil bercengkerama tentang cita-cita yang ingin kami kejar kelak. Ahhh… indah nya saat-saat itu… tidak lupa motor yamaha F1ZR yang selalu setia menemani kami kemana saja.

Apa kabar Kak? Doa ku selalu dan akan selalu bersama mu Kak, damai lah disana Kak, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, salah satu impian yang pernah saya katakan dulu sudah berhasil saya raih, nanti ya saya ceritakan saat kita sudah bersua, dan seperti biasa… kita bisa memilih sambil berbaring diatas rumput sambil memandang jauh ke arah cakrawala melewati gulungan ombak yang tiada hentinya mendebur tepi pantai, seperti yang sering kita lakukan dulu, atau… sembari menghirup kopi kapal api kesukaan kita sembari menyantap pisang bakar coklat hahaha… what a great memory Kak.

Salam untuk Papa ya….