2 tahun di Melbourne

Tidak terasa sudah 2 tahun kami disini, sebuah perjalanan yang berawal dari sebuah impian yang cukup liar saat itu. Ga pernah nyangka sebenernya bisa sampai sejauh ini, terlebih kalau melihat background kami saat itu.

Keputusan ini terlalu berani sebetulnya (kalau ga mau dibilang terlalu nekat, nekat by default). Menjadi diaspora dengan kemampuan Bahasa Inggris dibawah pas-pasan itu tidak pernah terlintas dalam benak saya, dan hal itu kemudian menjadi salah satu hal yang harus saya hadapi dan atasi saat berusaha migrasi kesini karena ingin mengejar impian saya yang kadang ga masuk akal sehat. Loh… dibawah pas-pas-an? iya dibawah, Bahasa Inggris saya saat itu hancur lebur deh… baru belakangan ini saja rada mendingan. Itu saja masih sangat sering lawan bicara dahi nya berkerut saat dengar saya bicara hahaha… Selain itu, adaptasi budaya, cuaca dan sosial juga sangat menantang. Tapi, karena ada tekat (yang entah datang dari mana) ingin melihat anak-anak bisa sekolah disini, akhirnya membuat saya memberanikan diri yang sebetulnya ga pede-pede amat ini untuk nekat dan berani bergerak.

Sedikit demi sedikit tantangan yang ada coba saya coba tutup dengan belajar dan berlatih, semua itu mutlak diperlukan jika masih ingin bersaing di dunia kerja jaman sekarang, terlebih ditengah ketatnya dunia kerja disini. Puji Tuhan, sejauh ini kemampuan yang tidak seberapa ini masih bisa digunakan buat mencari sesuap nasi asal kita mau mengesampingkan ego dan gengsi. Loh… maksudnya? Disini, kerja menjadi tukang itu tidak lebih buruk dari kita menjadi seorang manajer. Tukang?? iya tukang, engineer itu kan terjemahan di Bahasa Indonesia ya tukang. Tinggal profesi tukangnya saja yang beda kan, ada tukang ngutang, tukang nagih, tukang IT, tukang kayu dll halah….

Semua rasa lelah itu terbayarkan saat melihat anak-anak bisa sekolah disini, perkembangannya benar-benar diluar dugaan dan melebihi ekspektasi yang sebelumnya ada di kepala saya. Ada rasa syukur yang begitu kuat dalam dada saya saat melihat semua itu, Tuhan sungguh baik. Setidaknya, saya berhasil memberikan jalan buat mereka agar bisa mencicipi bagaimana rasanya sekolah di luar negeri dan membangun jalan mereka agar bisa memiliki masa depan yang lebih baik dari kami (masa depan yang lebih baik di mata kami tidak serta merta berkaitan dengan materi ya), sebuah kemewahan yang dulu kami berdua tidak bisa mengalaminya (untuk bagian sekolah di luar negeri), walaupun akhirnya menjalaninya (untuk bagian merantau di luar negeri).

Kehidupan disini adalah kehidupan yang damai dan menenangkan walaupun tetap harus berjuang ya. Sempat beberapa kali mendapatkan sentilan sentilun jika saya masih memiliki niat untuk kembali ke Indonesia, bukan saya tidak mau, tapi saya belum menemukan alasan untuk itu yang lebih kuat dari alasan saya kemari. Terlepas dari jargon membangun Negeri yang pada kenyataannya untuk bikin KTP saja masih “di-anu-anu-in”, dan saya disini tidak lalu serta merta lupa dengan jati diri saya sesungguhnya, semua rekan kerja tahu darimana saya berasal, dan saya tidak pernah tidak bangga dengan hal itu.

Disini kami sekarang, where we called it our “second” home. Kota yang cantik nan dingin, yang identik dengan suhu nya yang rollercoaster ga jelas. Hidup di Melbourne itu tidak serta merta lalu indah dan keren semua loh… ada hal-hal yang tidak enak juga hahaha… beberapa sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya, jadi saya tidak akan kupas tuntas lagi (halah, lagaknya macam bisa kupas tuntas saja ya…). Hal yang pernah saya singgung tentang enaknya hidup disini adalah tidak bising mengenai Agama. Disini itu tidak ada tuh yang teriak-teriak agama dia paling benar, masing-masing mengerti batasnya masing-masing dan budaya malu yang sangat kental. Lucu ya… di Negara seperti ini yang dianggap sekular, haram dan terlalu terbuka terutama dalam hal berbusana, justru memiliki budaya malu saat melanggar sesuatu yang sudah menjadi aturan.

Selain itu, ranah politik pun bukan hal yang menjadi ladang pertempuran seperti di Indonesia. Disini saat ada pemilihan tidak seperti apa yang terjadi di Indonesia sampai ada team khusus buat bikin hoaks dan penangkal hoaks, hadeuh… disini Valak ga laku bro…. mungkin karena itu dia migrate kesana kali ya… soalnya disini jualan agama kaga laku sih… manusia nya dah lebih cerdas sedikit apalagi di provokasi pakai video editan, yaelah disini dah ga mempan…

Selain itu, disini enaknya lagi saya bisa minum Bir, Wine, atau Cider tanpa takut di demo hahaha… eitss… jangan salah ya…. biarpun kita bebas minum asal bertanggung jawab, hal itu tidak serta merta membuat kita mudah membeli minuman beralkohol loh… jualannya itu dijaga ketat, ga main-main denda nya kalau sampai ketauan berani menjual ke anak dibawah umur, dan ini adalah aturan dari pemerintah, ga kaya disana yang diatur sama salah satu ormas dengan pemaksaan. Jadi setiap hari saat pulang kerja kadang dijalan sudah terbayang “ahh… enak nih panas-panas bisa minum Bir dingin sesampai dirumah” halah… hahaha….

Trus ga enak nya apaan donk? Banyak juga sebetulnya, salah satu nya adalah Negara ini diwajibkan PBB untuk nerima pengungsi. Nah, hal ini lama kelamaan menjadi masalah sosial disini dan yang lebih parah nya lagi para pengungsi itu kadang ga tau terima kasih, sudah ditolong eh… beberapa dari mereka meneror dengan nabrakin mobil ke para pejalan kaki di pusat perbelanjaan lah, bakar mobil lah, dan mulai ada geng peranakan dari Afrika sana yang suka brutal dan merusak. Bagusnya, para petugas disini sangat responsif jadi ketolong dikit lah pengendalian situasi nya.

Terlepas dari itu tidak dapat saya pungkiri jika migrasi ke Australia adalah salah satu hal terbaik yang terjadi atas keluarga kami terutama saya, ada rasa syukur yang begitu mendalam yang membuat kami tidak menemukan jawaban bagaimana Dia bisa membuat ini terjadi jika dihitung dengan kalkulator kami, ini benar-benar ajaib kalau ga mau dibilang ajib ya… Dia benar-benar luar biasa, sangat luar biasa, terlepas dari kekuatan impian yang saya genggam dan jaga seperti orang kesurupan.

Dan, kami pun menatap dengan pasti ke tahun ketiga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.