September (ceri[t]a)

September pun masuk ke pertengahan, suhu yang sedari beberapa bulan lalu tidak mau kalah sama kulkas pun sedikit demi sedikit sangking irit nya mulai naik ke angka dua-puluhan, ahh… suhu yang nyaman buat kami yang masih terbilang manusia tropis ini.

Bulan ini ditandai beberapa hal yang sudah berlalu dan akan datang, loh akan datang? Kok kamu sudah tahu? Iya, karena memang sudah direncanakan dan sudah berulang terjadinya, yaitu kakek dan nenek (orang tua dari istri saya) dari anak-anak yang akan datang berkunjung akhir bulan ini, yang sudah selalu ditanyakan anak-anak kami “kok grandma/ grandpa belum datang, mom?”, hari jadi kami untuk secara sah dan sadar berkontribusi atas datangnya kedua unyils ke dunia ini, dan rencana kami lainnya yang tidak akan saya ulas ditulisan kali ini.

Yang akan saya sadur disini adalah yang sudah berlalu. Yang pertama adalah pindahnya saya ke pekerjaan baru (lagi) karena beberapa hal yang sudah saya tulis disini, terwujudnya salah satu janji tidak terucap saya 10 tahun lalu yang akan ditulis secara terpisah dibulan ini juga tapi tidak disini dan hari ini, sampai terakhir adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri untuk hari ini.

Malam ini, saya memutuskan mengajak istri dan anak-anak saya ke sebuah mall yang cukup jauh di daerah Knox sana, jarak yang harus ditempuh kurang lebih 25 Km dari tempat tinggal kami. Sebetulnya saya tidak ada rencana untuk kesana sebelumnya, sampai istri saya nyeletuk “kata Adel, di Westfield Knox sana ada outdoor resto bagus-bagus”. Kalimat itu membuat saya langsung berpikir untuk melihat seperti apa sih suasananya disana.

Kami pun sampai disana, muter-muter nyari posisi restonya, pindah dari satu resto ke resto lain sambil mengamati menu mereka dan akhirnya memilih sebuah restoran bergaya Thai, setelah jari puas menelusuri baris demi baris di menu mereka dari atas ke bawah lalu pindah halaman lalu ulang lagi dari awal sampai 10 kali (ga denk… hehehe…), pilihan saya jatuh pada seporsi Pork Ribs bakar yang rasanya enak banget sampai bikin orang lupa kolestrol dan Sebotol Crown Lager yang membuat orang yang makan lupa ingatan sesaat secara tiba-tiba (awhh.. double-haram deh daku…). Makanannya termasuk ok (ga pake oc) buat saya, yang pasti suasananya yang bikin kepincut. Gaya makan diluar ruangan ditemani pemanas buatan yang disebar di beberapa titik karena suhu yang mulai menurun saat mentari masuk ke peraduannya sambil berbincang ringan bersama istri ditengah keramaian celoteh pengunjung lainnya adalah sebuah hal yang dulu hanya ada di impian saya setiap melihat hal itu di televisi ataupun film-film drama ala barat.

Tidak pernah sekalipun saya berani memimpikan hal itu, bener deh… kuliah saja dulu hampir putus ditengah jalan karena biaya mana berani mimpi bisa menikmati makan malam bersama keluarga di suasana seperti itu dan apalagi di luar negeri. Haduh… jauh itu… jauh…, bahkan saat pindah kesini pun kami sudah siap untuk 2 sampai 5 tahun pertama tidak menikmati hal-hal seperti itu yang cukup menyita isi tabungan.

Tapi, Tuhan berkata lain. Pelan tapi pasti saya mulai dibantu masuk ke dunia kerja disini dengan lumayan cepat. Tawaran-tawaran kerja mulai berdatangan sampai saya kewalahan menjawabnya. Tanpa bermaksud sombong tapi beberapa minggu ini saja hampir setiap hari ada yang menghubungi saya menawarkan peluang kerja baru dengan gaji yang tidak rendah. Apa boleh dikata saya ga mungkin langsung pindah lagi kan saat baru masuk. Jadi lebih banyak saya belokan ke temen-temen yang memang sedang mencari peluang baru. Dengan masuknya saya kedalam dunia kerja disini, secara tidak langsung juga mengangkat pendapatan saya, dan hal itulah yang kemudian membuat kami bisa lebih banyak mencoba banyak hal disini, salah satunya ya itu tadi, jadi kebanyakan gaya pakai makan di luar ruangan kaya bule, ga papalah sekali-kali ya… kapan lagi menimati hidup bersama orang-orang yang kita sayang…

Dalam perjalanan pulang, saya mengucapkan syukur mendalam kepada Dia. Karena semua ini mustahil tanpa Dia, mustahil… jika saya hitung secara logika pakai kalkulator, angkanya ga ketemu, ga akan pernah ketemu. Saya tidak bisa berkata apapun selain mengucap syukur untuk semua ini, bener-bener ga percaya tapi terjadi.

Terimakasih Tuhan, untuk semua yang sudah terjadi, untuk September ceria yang penuh dengan cerita ini, yang masih akan berlanjut untuk setengah jalan lagi, yang saya percaya akan penuh dengan berkat lainnya bagi keluarga saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.